Archive for December, 2013

Awal Tahun

Sebentar, sebentar..
Beberapa jam lagi tahun baru akan menjadi, kawan
hura-hura akan membahana
seolah besok adalah awal
dan mereka melupakan sebelum itu
 
Tunggu! Kenapa engkau menangis, kawan
dipojok kubur-kubur tua
adakah kematian di sana, apakah kematian di sana?
“Ya, kita semua akan di sana, dipeluk bumi dalam gelap”
“Lalu, mengapa masih saja kita meniup terompet
dan tertawa ketika tengah malam menjelang”
 
Terdiam
Kau terlau muda untuk memikirkan  itu, kawan
 
“Apakah bumi akan memilih siapa yang akan ia peluk?”
“Tua, Muda, Kaya, Miskin, Pejabat, Pelaksana
semua akan tidur dalam buaian bumi”
“Saat itu tidak ada tawa dan hura, kawan”
“kita akan berkumpul dengan tanah dan cacing”
 
Ferry Fadillah. Desember, 2013

,

Leave a comment

Pasopati

Ketika itu kau tiada, kemudian muncul dan menjadi
Ruh mu adalah harapan : warga kota yang ingin keteraturan
Tubuh mu adalah kebanggaan : ikon pariwisata bumi priyangan
Namun, ketika gelap datang, kau tidak bisa berbuat apa
 
Kau tahu penusukan tadi pagi?
Seorang Taruna Angkatan Udara Muda
Dipunggungnya ada harapan
Dikepalanya ada penghormatan,
tapi ia mati pagi tadi
 
Kau tahu perasaan ibunya?
Yang ingin melihat dia besar dan tegap,
melintas langit-langit katulistiwa
 
Nahas, harapan itu hilang
Tubuh itu lenyap
Jiwa itu kembali
di pasopati, pagi tadi

Ferry Fadillah. Bandung, 27 Desember 2013

, , , , ,

Leave a comment

Kesalehan Tidak Berbanding Lurus dengan Kecerdasan

Kesimpulanku mulai keliru. Suatu saat aku pernah berkata, “ternyata kecerdasan itu tidak berbanding lurus dengan kesalehan”. Pernyataan ini terlontar setelah pengumuman kelulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Prodip Diploma III Khusus Tahun 2013.

Memang, kesimpulan ini terlalu subjektif dan terburu-buru. Namun aku mengambil logika seperti ini : dari 53 peserta yang lolos, aku coba ingat, siapa saja yang saleh dan siapa saja yang kurang saleh. Ternyata semua berkumpul dalam satu daftar. Jadi, saya pikir kesimpulan saya di awal tidak terlalu keliru.

Sejarah peradaban dunia pun berbicara hal yang sama. Zaman keemasan Islam dipenuhi tokoh bermental ilmu pengetahuan dan saleh sekaliber Ibnu Haitham, Ibnu Rush dan Ibnu Musa Al-Khawarizmi. Zaman keemasan eropa dipenuhi tokoh bermental relijius semisal Albert Eisntein, Ishaac Newton, Alexander Grahambel. Belum lagi ilmuwan-ilmuwan ateis, agnostik, gila seks dan psikopat di seantero dunia timur dan barat. Mereka semua mewarnai dunia ini dengan kecerdasan mereka, namun dengan ideologi yang berbeda.

Sehingga aku berpikir, apakah kecerdasan merupakan prioritas yang harus dikejar di dunia?

Banyak orang cerdas di negeri ini yang membuat sistem hukum sangat tajam ke bawah namun sangat tumpul ke atas. Banyak orang cerdas di negeri ini yang baru haji sekali saja sudah menganggap diri paling suci. Banyak orang cerdas di negeri ini yang sembunyi-sembunyi nyambi jadi tikus kantor di pemerintahan.

Banyak bangsa cerdas terdahulu yang dibenamkan oleh Allah ke tanah, disambar dengan petir, ditenggelamkan dengan air bah, dilipat di tengah laut merah bahkan diubah menjadi kera.

Lagi-lagi aku dipusingkan dengan fakta-fakta yang seolah-olah terpisah ini. Padahal satu padu dan menjalin sebuah hikmah. Apa itu?

Hikmah itu adalah Allah. Bagaimana kita menjadikan segala aktivitas kita di dunia berporoskan kepada Allah. Menjadikan tujuan pekerjaan kita hanya Allah. Sehingga kita selalu ingat Allah dalam keadaan miskin maupun kaya, sakit maupun sehat, susah maupun senang.

Bukankah cita-cita kita (muslim) adalah kematian? Bukankah yang kita bawa setelah kematian hanya tiga hal. Adakah yang kita bawa selain yang tiga itu :  ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya ?

Selain ketiga hal itu hanyalah debu yang bertebaran. Hilang begitu saja ketika angin dan hujan datang.

Ferry Fadillah
Badung, 5 Desember 2013

, , , , ,

Leave a comment