Archive for June, 2012

Sahabat

Setiap hari mustahil kita tidak berkomunikasi dengan beranekaragam individu. Perbincangan ringan hingga serius terus saja bergulir, dari senin sampai minggu, dari minggu sampai senin lagi. Dari berbagai macam bentuk komunikasi, kita dapat memahami orang dengan penilaian-penilaian kita sendiri, dari sana dapat dibedakan mana rekan kerja, mana teman main, mana sahabat dan mana kekasih.

Saya ambil ‘sahabat’ sebagai pokok bahasan berikutnya. Mengapa ? karena kata sahabat selalu menjadi rujukan kisah-kisah klasik SMA, bentuknya belum jelas, absurb, selalu saja disesuaikan dengan nilai yang dianut tiap-tiap individu. Namun demikian, saya akan membahas sisi lain dari persahabatan.

Bagi sebagian besar orang, sahabat adalah seorang kawan yang diposisikan lebih. Ia tempat berbagi segala sesuatu, menumpahkan rasa, asa, suka dan duka. Tempat menampung segala aspirasi, ide dan argumen. Dengan keberadaannya kita menganggap diri kita exist/ada. Karena hukum keterikatan yang kita buat sendiri. Ia senang, kita senang. Ia sedih, kita sedih, Satu asa, satu jiwa.

Dalam angan-angan kekanakan mungkin saja kita membayangkan sahabat kita akan selalu berada dalam kehidupan kita. Sesudah atau sebelum menikah. Lantas, apa iya semua itu ada, sahabat sejati itu ada?

Sahabat adalah manusia yang memiliki alam berpikirnya sendiri. Sesenang bagaimana pun kita menyamakan diri kita dengan sahabat. Pasti ada banyak alam berpikir yang berbeda. Belum lagi alam berpikir merupakan sesuatu yang dinamis, terus berubah mengikuti stasiun sosial dan tingkat kesadaran. Dalam beberapa bulan atau tahun kedepan, sahabat yang kita kenal saat ini, pahitnya, bisa jadi berubah derastis, menjadi benci bahkan musuh bagi kita.

Semua pasti berlalu, kata yang sering saya dengan ketika Ajahn Brahm bercerita dalam buku ‘Cacing dan Kotoran Kesayangannya’. Intinya semua tidak ada yang abadi. Ya jelas, harapan kita sebagai manusia adalah kita memiliki persahabatan abadi yang tidak lekang oleh waktu. Namun jika hukum alam sudah berkata lain maka apa daya kita manusia yang penuh keterbatasan ini.

Bagaimana menyiasati hal ini?  adalah benar konsep kemelekatan diapresiasi sebagai solusi bagi dinamika persahabatan. Ketika kita bersahabat jangan sampai kita terlalu melekat kepada sahabat kita. Kita harus menjadi individu independen yang suasana hati, pikiran dan kebahagiaannya tidak melekat terhadap suatu hal apapun. Kasarnya, ada atau tidak ada sahabat, kita harus tetap bahagia.

Namun hal ini jangan disalah artikan, jangan sampai kita menjadi apatis terhadap pintu persahabatan. Bukalah pintu persahabatan, bukalah. Nikmatilah suasana berbagi, susah senang bersama, tertawa bersama, namun hanya pada saat ini, untuk saat ini. Karena masa depan hubungan dengan sahabat kita masih diselimuti kabut misteri.

Jika usaha kita untuk membuka pintu persahabatan yang tulus telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Biarlah Tuhan yang menjalankan tugasnya, untuk merekatkan kita atau merenggangkan kita. Yang pasti niat yang baik akan berbuah hidup yang baik, niat yang buruk akan berbuah hidup yang buruk. Berbaik sikaplah kepada sahabat kita saat ini, anggap ia saudara kita, berbagi lah, dan Let God do the rest for us.

Kabupaten Badung, 30 Juni 2012
Ferry Fadillah
Advertisements

, , ,

2 Comments

Damainya Lovina

Pembaca yang terhormat, bukan maksud saya untuk berangkuh ria memamerkan segala tujuan wisata, namun saya ingin mengajak anda melihat keindahan alam Indonesia ini walaupun belum pernah mengunjunginya. Terutama Bali, sebuah destinasi wisata dengan segala potensi daerah yang tidak ada habisnya. Pesisir Pantai yang indah, pegunungan yang serasi dan kebudayaan yang unik. Beruntung waktu itu saya memiliki kesempatan untuk mejelajahi utara bali (jalur denpasar-bedugul-singaraja) bersama seorang kawan. Dengan persiapan seadanya kami bermalam di Kota Singaraja yang sepi. Esoknya, dini hari, kami mencari pemilik jukung untuk mengantar kami melihat lumba-lumba. Dan ternyata, wow, semua keindahan ini hanya bisa saya haturkan dalam tiga buah gambar. Selamat menikmati

“Wisatawan asing dan lokal, dengan menggunakan jukung, mencari sekumpulan lumba-lumba di lepas laut Bali, Lovina, Buleleng, Bali”

 

, , , , ,

Leave a comment

Terasering di Ceking

Sawah ? Untuk apa saya upload foto sawah di blog ini. Pemandangan biasa di Pulau Jawa dan  pulau-pulau lain di nusantara bukan ? Namun saat itu entah mengapa saya terisnpirasi salah seorang senior yang mendeskripsikan sawah sebagai ‘keindahan yang tidak bisa dipresentasikan melalui kata-kata’. Sejak itu saya tersihir, dan mencoba mengunjungi terasering di Ceking, Tegalalang, Gianyar.

Di sebuah cafe sederhana, dengan pondok-pondok bambu ber-design bali saya terdiam. Terkadang menyeruput kopi dan memamah biak pisang goreng. Pandangan saya tujukan ke hamparan hijau pesawahan, petani yang bekerja keras dan para turis asing yang riang gembira melihat keajaiban yang sulit ditemukan di negaranya.

Hal ini biasa, tetapi kalau kita mau memendam rasa angkuh kita, dan melihat sesuatu dari sudut pandang lain, kebahagiaan akan menghampiri dan menghiasi perjalanan wisata kita sampai tiba esensi dari setiap kepariwisataan : kesan.

Selamat Mencari Kesan di Bali 🙂

“bukan promosi loh :)”

Ferry Fadillah
Bali, 9 Juni 2012

, , , , , , , ,

Leave a comment

Sacred Monkey Forest

Mungkin bukan tugas saya untuk menceritakan ulang sebuah lokasi wisata religius di jantung para seniman dan seniwati ini (Ubud, Bali), karena saya bukan seorang jurnalis apalagi penulis legendaris. Saya tidak mau merepresentasikan sesuatu keluar dari jalur realita, terlalu berlebihan atau kekurangan. Sehingga biarlah Hutan Kera Sakral di Desa Pekraman Padangtegal, Ubud, Gianyar ini tetap sebagai hutan sebagaimana adanya, dan biarlah para pengunjung menikmatinya secara niskala maupun sekala sehingga diperoleh pengetahuan menyeluruh mengenai lokasi wisata ini.

Alasan saya sederhana ketika mengunjungi tempat ini. Saya mencari kedamaian. Hiruk pikuk Bali selatan telah menutup mata hati saya untuk berpikir mengenai keseimbangan hidup. Pencarian abadi akan kebahagiaan. Jenuh, berangkatlah saya ke utara bali. Mencari pencerahan dari kekeruhan jiwa akibat hiruk pikuk manusia.

Sebuah hutan sakral. Dimana konsep luhur ‘Tri Hita Kirana’ diterapkan dengan benar dan sungguh telah menyihir setiap pengunjung untuk menghargai Tuhan, alam dan makluk hidup. We’re never walk alone. Ada kehidupan di sekitar kita, tampak maupun tidak tampak yang perlu diseimbangkan dan itulah salah satu fungsi hutan sakral ini.

Saya lupa bahwa ada makhluk kecil yang telah kita gusur kekuasaannya dengan rumah megah dan hutan beton. Padahal apa hak kita untuk memarginalkan mereka. Karena pun seperti kita, mereka butuh tempat untuk hidup. Bersosialisasi, mencari makan, bermain dan berpolitik.

Macaca fascicuiaris, Kera Ekor Panjang, warga binatang yang mendominasi tempat ini. Terkadang mereka liar, tetapi terkadang mereka begitu menggemaskan. Dari wajahnya kita bisa melihat asa, harapan sebuah keinginan untuk damai.

Karena itu, tidak ada salahnya jika konsepsi ‘Tri Hita Kirana’. Penghormatan terhadap alam, pelestarian terhadap lingkungan, kita terapkan dimana saja. Agar damai dan sejahtera mengurung kita dalam pencerahan.

Ferry Fadillah
Bali, 9 Juni 2012

, , , , , , , ,

Leave a comment

Setelah kaya lalu apa ?

Banyak orang berkata, ‘dengan harta maka kita akan menduduki strata sosial yang lebih tinggi’.  Saya balik bertanya,  ‘Setelah itu kita dapat apa ?’

Terpujilah mereka yang membagikan harta mereka untuk kesejahteraan sesama. Jiwa mereka subur dan bercahaya. Tetapi bagi mereka yang menganggap bahwa harta itu sebagai syarat utama kebahagiaan, bahkan beranggapan dapat dibawa sampai ke liang lahat, angkuh dan kikir, maka keringlah jiwa mereka, dari persaudaraan, persahabatan dan butiran kearifan hidup.

Persaingan ? Ya perlu untuk memotivasi kita menuju manusia yang lebih baik. Menjadi manusia unggul yang saling beriringan dengan manusia lain membentuk beradaban tinggi yang kelak menghapus segala air mata kesulitan di muka bumi. Namun kini persaingan menuju titiknya yang ekstrim. Manusia tidak lebih macan yang haus daerah kekuasaan, saling terkam kawan bahkan saudara sendiri. Apa yang sebenarnya  mereka cari dari persaingan bentuk ini ? Luluh hancur menjadi debu, kala kita kalah atau dikalahkan, bukan ?

Kemana bentuk asah asih asuh yang ideal itu ? Dimana manusia yang saling menghormati satu sama lain, saling mencerdaskan, saling menyayangi dan saling menjaga.

Duh, manusia. Kekayaan kita, persaingan kita, mari direkonstruksi dengan semangat persaudaraan tanpa memandang strata sosial dan menghilangkan keuntungan finansial sebagai pucuk visi kehidupan.

Sejahtera dan damai bagi manusia semua.

Ferry Fadillah
Bali, 5 Mei 2012

, , , , ,

Leave a comment

Pura Goa Gajah

“Arca Bidadari di depan Goa Gajah. Terdapat tiga arca di utara dan selatan, sehingga seluruhnya berjumlah enam. Dari arca ini keluar air (simbol kesuburan) menuju pemandian sakral”

“Pintu Masuk Goa Gajah. Gua berbentuk ‘T’ ini terdapat Arca Ganesa di sebelah barat dan Lingga Siwa di sebelah Timur”

“Arca Ganesa di sebelah Timur Goa”

“Lingga di sebelah Timur Goa Gajah. LIngga ini merupakan peninggalan sekte Hindu Siwa Pasupata. Ke-3 lingga ini sebagai sarana pemujaan Tuhan dalam manifestasi Sang Hyang Tri Pusura”

Ferry Fadillah
Badung, 1 Juni 2012

, , , , , , , ,

Leave a comment