Archive for September, 2012

Menggugat Nilai-Nilai Sendiri

Pertama saya sadar bahwa banyak sekali nilai-nilai hidup saya yang berubah. Penyesalan mulanya ada, tetapi ketika menimbang kembali saya baru tergugah bahwa nilai-nilai hidup adalah sesuatu yang dinamis, terus berubah seiring interaksi sosial dan pengetahuan yang diserap.

Bukan berarti saya orang yang tidak prinsipal, tidak memiliki sikap, tidak memiliki pendirian dan berubah-ubah sekehendak hati, nihilisme nilai. Namun saya paham bahwa kebenaran yang saya anggap benar (yang kemudian disebut nilai-nilai) adalah benar menurut saya saja atau benar menurut beberapa gelintir orang dari milyaran manusia di dunia ini, bisa jadi salah bisa jadi benar, apalagi sebagai orang beragama saya yakin bahwa kebenaran itu hanya berasal dari Tuhan.

Pertanyaannya adalah, apakah kebenaran dari Tuhan itu dapat kita ketahui dengan tepat padahal Tuhan bersemayam entah dimana, berbeda-beda bentuk sesuai persepsi kebudayaan masing-masing? Beberapa dari agama-agama di dunia memiliki klaim kebenaran masing-masing melalui kitab yang mereka pegang teguh, disebarkan dari mulut ke mulut atau budaya tulisan, dari para Nabi, Resi atau orang suci . Para umat agama didoktrin sedemikian rupa, dengan prosesi selama berabad-abad atau bertahun-tahun sehingga mereka –pada umumnya- kehilangan daya kritis terhadap apa yang mereka terima. Ini prinsip, beragama tidak bisa dibandingkan dengan rasio! Menurut beberapa orang yang mengaku agamawan.

Sayang beribu sayang, kebenaran-kebenaran ini jika tidak dikritisi akan menjadikan kita sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai tertutup, nilai-nilai yang egositik, tertutup bagi pintu diskusi untuk mencapai konklusi yang lebih mendekati kebenaran. Dengan mudah kita label-melabeli, membawa nama Tuhan, tetapi budi pekerti tidak lebih jauh dari binatang buas.

***

Negara kita memiliki iklim demokrasi yang cukup baik. Dalam sebuah bingkai demokrasi kebebasan berpikir adalah hal yang harus dijamin oleh negara, selama tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain atau dalam kata sederhana kebebasan yang bertanggung jawab.

Kebebasan yang bertanggung jawab berarti nilai-nilai yang kita pegang seyogyanya dibandingkan dengan prinsip oposisi untuk mencapai kebenaran sejati. Yang diharapkan dari praktik ini adalah kita, umat manusia, menjadi makhluk yang tidak terikat otoritas apapun dari luar dirinya, takhayul, adat yang mengekang, otoritas pemerintah, ketakutan akan kesialan dan lain sebagainya. Manusia menjadi pemikir-pemikir yang secara sadar memilih jalan yang mereka tempuh, bukan manusia-manusia yang dikuasai jalan-jalan yang sudah ditentukan manusia lain tanpa mengetahui kenapa harus memilih jalan tersebut.

Kemerdekaan sudah kita genggam, lantas mengapa masih saja kita abai untuk memanfaatkannya. Duduk  santai dalam lamunan masa kolonialisme-keterkekangan, perbudakan, penghambaan.

Ferry Fadilah
25 Oktober 2012

, , , , , , ,

Leave a comment

Senin, Passion, Rutinitas dan Bosan

Minggu ke-4 Bulan September, beberapa hal berubah dalam hidup ini, sebagian merupakan prediksi masa lalu, sebagian lagi merupakan kejutan Tuhan yang tak disangka-sangka. Begitulah hidup akan selalu bergulir, antara yang kita harapkan dengan yang Tuhan putuskan, namun demikian tidak menjadikan kita gagap untuk bermimpi. Karena mimpi itu nafas bagi jiwa yang besar.

Senin akan segera datang, ketika waktu melewati pukul 00.00 WITA, namun hari itu tidak ada bedanya dengan hari-hari sebelumnya. Yang beda hanyalah perasaan-perasaan yang dibangun dari asumsi-asumsi masyarakat, orang kebanyakan. Sehingga momok hari senin selalu menghantui, merusak hubungan harmonis kita dengan pekerjaan.

Hal lain yang membuat galau kehidupan kita yang sebentar ini adalah passion. Menyebar sudah pertanyaan sederhana tapi menohok : Apakah pekerjaan kita sesuai dengan passion kita? Banyak orang yang melirik kembali visi kehidupannya, cita-cita semasa kecil atau hobi yang belakangan ini terbengkalai. Langkah moderat sampai ekstrim dilakukan. Bergabung dengan organisasi sosial bahkan keluar dari pekerjaan!

Hari senin dan passion. Entah daya apa yang mereka punya, tapi kita bisa lihat dampak yang mereka timbulkan, bukan?

Rutinitas, kebiasaan yang kita kerjakan. Diluluh lantahkan oleh sebuah pernyataan, “Rutinitas membuat anda tidak berpikir kreatif”. Benarkah? Lantas berbuat beda bisa menjadikan manusia berpikir kreatif? Jika makan dengan tangan kanan menurut konvensi umum kita ubah menjadi makan menggunakan tangan kiri menurut teori kreativitas apa bisa membuat kita menjadi kreatif? Tentu contohnya tidak se-ekstrim itu!

Coba tanya diri sendiri, kontemplasi mendalam, apa yang timbul dari rutinitas? Ya, Bosan! Rasa bosan adalah buah dari rutinitas. Manusia pada dasarnya membutuhkan sesuatu yang berbeda setiap harinya, itulah yang menjadikan hari-hari mereka hidup, segar dan riang. Seolah ingin menghindari masalah dari hidupnya, manusia sebenarnya ingin hidup dirubung masalah, tetapi dengan catatan mereka bisa menyelesaikan itu semua. Kebahagiaan ada ketika masalah terselesaikan. Tanpa masalah, tanpa penyelesaian, dimana letak kebahagiaan?

Senin, passion¸Rutinitas dan Bosan.

Setiap hari jika ini yang menjadi masalah kita atau bibit dari keglauan kita maka celakalah!

Apa ia hidup hanya dirubung masalah ini-ini saja.

Percayalah ini semua timbul karena kita terlalu egois, memikirkan diri sendiri agar begini dan begitu tanpa mempedulikan orang lain. Bagi seorang optimis yang jiwa dan raganya didedikasikan bagi kesejahteraan orang banyak, maka tidak peduli hari senin atau rutinias asalkan hal-hal tersebut mendekatkan dirinya kepada tujuan kemanusiaan maka ia akan bahagia!

Saya tahu itu karena saya membaca buah pikiran para pahlawan (sastrawan pun pahlawan) dari buku-buku mereka. Saya merasakan bahwa mereka hidup melalui buku, dan menceritakan hal tersebut kepada saya. Sayang seribu sayang, pendidikan kita telah menjauhkan kita dari buah pikir para pahlawan. Yang harus kita kuasai untuk lulus pelajaran bahasa Indonesia adalah nama pahlawan berikut nama judul hasil karangannya. Apa gunanya!

Tidak salah jika saya memiliki dugaan buruk, bahwa hasil pendidikan kita telah memproduksi angkatan muda yang selalu galau akan Hari Senin, passion, Rutinitas dan Rasa Bosan.

Maka dari itu, marilah kita belajar banyak dari para visoner kemanusiaan, para pahawan, atau orang-orang terdekat kita yang memiliki prinsip hidup : melupakan diri untuk mempedulikan orang lain

Ferry Fadillah
16 September 2012

, , , ,

1 Comment

Perjalanan Menakjubkan : Nusa Penida, Nusa Lembongan

Perkenankanlah saya bercerita sedikit tentang sebuah perjalanan wisata yang tak terlupakan.

Bosan setelah mengitari Pulau Bali secara rutin (sabtu, minggu, atau hari besar lainnya) saya mulai tertarik untuk mengunjungi sebuah pulau kecil di tenggara pulau Bali yakni Nusa Penida. Pulau yang secara administrasi masuk ke dalam wilayah Kabupaten Klungkung ini sangat berbeda dengan daerah Bali pada umumnya. Di sini lah saya menemukan suasana Bali yang lain daripada yang lain.

***

“Deretan Perahu Nelayan di Nusa Penida, Klungkung, Bali”

Lebih kurang dua jam perjalanan dari Tuban, Badung menuju Pelabuhan Padangbay menggunakan motor, saya dan teman-teman harus rela antre membeli tiket penyebrangan ke Nusa Penida. Maklum pada saat itu banyak sekali masyarakat Bali yang akan ke sana. Dilihat dari pakaian dan barang bawaan, mereka sepertinya akan sembahyang bersama keluarga.

Entah mengapa, kapal ferry yang kami tumpangi sangat penuh sesak. Orang-orang duduk dimana-mana, bahkan ada yang tidur di depan kamar kecil, namun tetap hal ini tidak menyurutkan niat kami untuk mengorek lebih lanjut pulau di hadapan kami. Solusi dari permasalahan ini hanya satu, tidur pulas tidak mempedulikan sekitar.

Satu setengah jam sudah kami terombang-ambing di selat Bali yang indah dan tenang. Sesampainya di Nusa Penida kami terheran-heran. Sepi sekali Pulau ini. Dimana penginapan? Dimana pusat perbelanjaan? Tidak mau terbelit pertanyaan anak kota, kita langsung tancap gas menuju ke arah utara.

Berdasarkan peta Provinsi Bali yang selalu saya tempel di kamar tidur, Nusa Penida memiliki tiga potensi wisata, pantai yang masih perawan, tebing ekstrim yang mengagumkan dan air terjun yang indah. Akhirnya, kami sepakat untuk mencari air terjun terdekat dengan modal : bertanya kepada penduduk sekitar.

Mata Air Guyangan

Sudah kurang lebih setengah jam kita berjalan menuju arah yang sama sekali tidak kita ketahui. Bertanya dari satu desa ke desa lain dan pada akhirnya tibalah kami pada jalan buntu dengan gapura kecil yang menantang untuk dimasuki.

“Pemandangan dari pintu masuk Mata Air Guyangan, Nusa Penida”

Herannya, tidak ada sepanduk tempat wisata di sini, tidak ada pedagang souvenir, tidak ada petugas penjaga. Kami dekati lagi tulisan kecil di atas gapura, di sana tertulis JALAN INSPEKSI MATA AIR GUYANGAN. Mata air? Jadi selama ini yang dianggap air terjun adalah mata air ini. Tidak mau saling menyalahkan kami segera masuk ke dalam gapura.

Alangkah terkejutnya kami ketika melihat pemandangan yang ekstrim. Laut lepas yang begitu indah, dan ternyata kita berada di atas tebing curam. Satu-satunya jalan untuk menempuh mata air adalah dengan menyusuri tangga besi curam yang dibuat ‘tidak ramah wisatawan’. Dengan tekad baja dan hati besi kami telusuri jalan inspeksi tersebut, rasa takut, dan cemas, selalu saja dapat kami atasi ketika melihat pemandangan menakjubkan dari setiap sudut. Tentu saja kami masih bisa mengabadikan momen tersebut dengan kamera.

Mata Air Buyangan sendiri tidak lebih dari sebuah mata air, tidak kurang tidak lebih. Yang kami syukuri dari perjalanan ini adalah proses untuk menuju mata air ini. Penuh perjuangan dan kecemasan. Sehingga keheranan kami  di gapura masuk sudah terbayar. Namun satu hal yang masih mengusik hati kami, ‘Apa benar tempat ini lokasi wisata?’

Nusa Lembongan

“Bungalow tempat kami menginap”

Matahari sudah akan terbenam, kami bergegas menuju Toyapakeh, utara Pulau Penida, disana kami berencana menyimpan motor dan melanjutkan perjalanan ke Nusa Lembongan menggunakan jukung. Dengan biaya Rp 100.000,00 per orang, seorang penduduk setempat mengantar kami sampai ke bawah jembatan antara Pulau Lembongan dan Ceningan. Sayang waktu itu malam, kami tidak dapat menikmati keindahan laut di antara dua pulau ini, yang dapat kami lihat hanya gelombang ekstrim dan ikan yang meloncat-loncat.

Di Pulau Lembongan kami menggunakan jasa ojek untuk mencari penginapan terdekat. Karena momen tersebut harus dijadikan momen terindah (dalam sejarah kepariwisataan kami), kami memutuskan untuk menginap di sebuah bungalow yang terbuat dari kayu. Dengan harga nego Rp 250.000 per malam, sang empunya mempersilahkan kami masuk dan merebahkan diri.

Keesokan harinya, kami semua malas untuk bangkit, maklum suasananya begitu tenang, tanpa ada polusi udara. Kami habiskan waktu di sini untuk berenang, membaca buku, dan ngobrol ngalor ngidul. Tidak lupa juga kami mengunjungi Pantai yang terkenal di sini, Mushroom Beach.

Sepintas pantai ini mirip dengan Pantai Balangan di Nusa Dua, Bali. Namun tentu saja berbeda jika kita lihat lebih jauh. Terlepas dari itu semua, poin tambah dari pantai ini adalah tingkat pengunjung yang masih rendah, sepi, sehingga anda dapat berjemur ria atau berfoto ria tanpa harus malu dilihat orang.

Kembali ke Bali dengan Jukung!

“Terima kasih bapak-bapak!”

Puas sudah rasanya kami di Pulau kecil tersebut dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Nusa Penida. Ini hari minggu pukul 12.00 WITA dan kami harus segera ke pelabuhan untuk membeli tiket ferry. Nahas, pelabuhan sepi, tidak ada penumpang maupun kapal. Usut punya usut ternyata kapal ferry menuju Bali rusak di Lombok dan kapal tersebut baru bisa beroperas besok pagi, hari senin!

Mungkin beberapa kawan memiliki integritas tinggi terhadap pekerjaan, dengan tergesa-gesa kita mencari speedboat terdekat. Sialnya, semua speedboat tidak menerima kami membawa motor. Ini hanya untuk penumpang bung!

Untungnya seorang ibu pedagang nasi menyarankan untuk menyewa jukung. Waktu itu kita banyak pertimbangan, apalagi setelah melihat kondisi air laut yang mulau bergelombang. Tapi entah mengapa, kita semua sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Bali melalui laut bergelombang menggunakan jukung.

Penduduk sekitar membantu kami mengangkat dua motor ke dalam jukung. Jukung oleng, pun motor kami, mau tidak mau kami harus memegangi motor sampai ke tujuan. Dengan bismillah, kami berangkat.

Ternyata benar, ombak begitu besar, kami pasrah, mau berbuat apa lagi. Air laut terciprat ke wajah kami, sesekali masuk ke dalam jukung. Kami pegangi terus  motor kami, agar tidak nahas jatuh ke laut.

Setelah beberapa menit perjalanan kami sedikit lega, ada pantai di sana! Beberapa orang dengan sigap menanti kedatangan kami, membantu mengangkat motor dan barang bawaan terakhir menagih bayaran atas jasa mereka.

“Dimana ini pak?”, tanya kami.

“Pantai Kusamba, mas”

Ferry Fadillah
Bali, 14 September 2012
 
Foto-foto:
“Tangga terjal menuju Mata Air Buyangan, Nusa Penida”

“Jembatan Kuning yang menghubungkan Pulau Ceningan dengan Pulau Lembongan”

 

 

 

, , , , , , ,

3 Comments

Berhala : uang

Para berhala tidak pernah berkata ataupun bersabda, imajinasi-imajinasi kebudayaan lah yang menjadikan mereka berkata dan bersabda. Padahal imajinasi itu lepas dari realita.

Kini, setelah malang melintang para nabi berbagai bangsa menyabdakan ke-Esa-an, para manusia dengan otoritas yang mereka miliki mulai mengimajinasikan sosok berhala baru.

Uang.

Sebuah benda tidak berharga yang fungsi esensialnya hanyalah sebagai alat tukar

Jika  kata ‘hanyalah’ cocok disematkan kepadanya tetapi kenapa orang berubah karenanya?

Sebuah daerah yang luhur budaya dan budinya seketika hancur lebur berubah menjadi serpihan-serpihan lingkungan industri yang dipenuhi asap kabut ketamakan.

Kekeluargaan yang didengar  dari teks-teks usang pelajaran sekolah kini berubah menjadi relasi yang berbalut bisnis, menolong karena kepentingan politis, membantu karena etiket, dan beramal demi pencitraan lantas dimana nurani yang mendasari semua kekeluargaan? hilang diserap gemerlap kekayaan

Muncul gerakan-gerakan pencerah, yang berusaha menyadarkan manusia akan kesalahan pola pikir mereka saat ini.

Namun, sebagian menyerah dan turut andil dalam usaha mengagungkan uang dan turunannya.

Jika sudah seperti ini mau bagaimana lagi?

Terakhir dalam pergolakan jiwa yang terkurung dalam tubuh kasar ini, saya tegaskan :

Saya tidak anti uang

Saya pun perlu uang

Namun posisinya hanya sebagai alat tukar

Ferry Fadillah, 12 September 2012

, , ,

Leave a comment

Bali Cliff

Tahun lalu saya pernah mengulas sebuah potensi wisata yang masih sepi pengunjung di selatan Kabupaten Badung, Bali, yaitu Pantai Bali Cliff. Kali ini saya berkesempatan mengunjungi lokasi wisata ini pada tanggal 9 September 2012, pukul 17.00 WITA. Adapun kondisi pada saat itu yakni suhu diperkirakan 23-31 derajat celcius, langit cerah berawan, air laut surut menampakan hijaunya karang.

Semoga ulasan ini bisa menjadi informasi bagi anda yang mempunyai rencana berwisata ke Pulau Dewata. Terima kasih.

Ferry Fadillah, 10 September 2012

Foto oleh Yudha AP

, , , , , ,

Leave a comment