Posts Tagged budaya sunda

Menjaga Budaya ?

Malam minggu kemarin (1/11), Art Center Kota Denpasar tampak sangat berbeda. Paguyuban Mahasiswa Tanah Pasundan Bali (PAMANAHAN) menyelenggarakan Mini Karnival ke-2 yang bertajuk EUIS : Exicitement in Uniting Indonesia Sparks. Acara tersebut berisi rangkaian pertunjukan seni dari beberapa daerah, pameran fotografi dan pameran kuliner khas Sunda.

Pamanahan yang merupakan organisasi dibawah Badan Musyawarah Masyarakat Sunda (BAMMUS) berhasil mengkonsolidasikan sebuah acara seni budaya yang tidak saja secara ekslusif mempertontonkan keadiluhungan budaya Sunda, tetapi juga budaya-budaya dari daerah lain. Hal ini dapat terlihat dari format acara yang berisi pertunjukan seni dari Lisma Universitas Pasundan, Viking Bali, Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara, Ikatan Keluarga Makassar Indonesia dan Muda Mudi Karo Sirulo.

Menilik acara kesenian serupa di beberapa daerah. Saya percaya bahwa ada bahasa implisit yang berusaha disampaikan oleh penyelenggara. Secara klise kalimat itu selalu saja : demi menjaga budaya kita (budaya daerah/leluhur)

Menjaga Kebudayaan seolah menjadi jargon utama para pegiat budaya, dari lingkungan akademisi maupun umum. Semua yang memiliki hasrat budaya serupa pun biasanya mengekor dan –dalam contoh yang lebih ekstrim- berusaha untuk mengembalikan kedigdayaan budaya leluhur pada zaman moderen.

Apakah hal ini mungkin? Sitok Srengenge dalam esainya yang berjudul “Identitas” pernah berkata : “Karena setiap orang adalah pencipta sekaligus pelaku budaya, padahal setiap orang berbeda dan semua orang berubah; maka kebudayaan sungguh tak bisa dipahami sebagai sesuatu yang pasti, statis, baku apalagi baka”

Jadi konsekuensi logisnya adalah segala daya upaya menjaga budaya, apalagi mewujudkan budaya leluhur yang pure pada zaman moderen adalah kesia-siaan. Perubahan itu pasti dan kita tidak bisa melawannya. Seperti sebuah adagium Sunda : Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman. Yang artinya kurang lebih menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman tanpa tercerabut dari akar budayanya.

Oleh karena itu kata menjaga dan turunannya harus dirubah menjadi merevitalisasi, merekonstruksi bahkan mendekonstruksi agar budaya kembali ke alam aktualitas, tidak tercerabut dari alam aslinya –masa kini. Budaya menjadi lebih aplikatif, berguna bagi kesejahteraan pemiliknya. Budaya menjadi lebih filosofis, berguna bagi pencerahan penikmatnya. Budaya menjadi lebih dinamis, nilainya disesuaikan dengan kaidah-kaidah agama.

Akhir kata, daripada para tetua atau mereka yang melabeli diri penjaga budaya mengkritisi fenomena gangnam style dengan doktrin nasionalisme, sukuisme, atau provinsialisme. Hemat saya,  Biarlah gangnam style melesat dengan pangsa pasarnya sendiri, toh ia juga bagian dari kebudayaan, berasal dari manusia, Anthroposentrisme. Dengan mecekal secara langsung maupun tidak langsung sebuah kebudayaan apa bedanya kita dengan para anggora Lekra (Lembaga Kebudayaan di bawah naungan PKI) yang memasung kebebasan bereskpersi para seniman non-kiri.  Yang harus dan segera kita lakukan adalah memoles budaya daerah kita agar menarik di pasar nasional, regional sampai internasional, tentu tanpa menghilangkan sifat dasar dari budaya itu sendiri.

Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman. Begitulah!

Ferry Fadillah
Denpasar, 2 Desember 2012

, , , , , , , , , ,

1 Comment

Secarik Syair pada Gerobak Bakso : Kepedulian Budaya Sunda Seorang Anonim

Sudah dua tahun lebih saya tinggal di Bali. Berinteraksi dan bersinggungan dengan budaya dan masyarakat sekitar. Dengan menghilangkan segala ego budaya asli saya -sunda- agar diperoleh kesan yang objektif dengan jujur saya katakan bahwa budaya Bali begitu beragam, berakar, berjiwa dan bernilai transenden.

Kekecewaan saya muncul ketika mendatangi kota kelahiran, Bandung. Kota yang dikoar-koarkan sebagai puseur budaya Pasundan ini telah berubah beberapa tahun terakhir. Menjadi sebuah kota metropolitan, julangan bangunan mega-struktur dimana-mana, persinggungan antar budayanya pun semakin beragam. Di tengah segala perubahan itu, saya perhatikan –berdasarkan pengalaman saya bergaul dengan kaula muda kontemporer- budaya sunda mulai terseok-seok mencari akar budayanya dan terengah-engah bergaul dalam aktualitas.

Dari percakapan-percakapan sederhana di warung kopi, cafe atau taman kota, mayoritas pemuda Bandung tidak tertarik untuk memperbincangkan budaya Sunda. Jangankan untuk sekedar diskusi budaya, mereka yang mayoritas asli Sunda atau campuran Sunda yang lahir di Bandung pun sering menghindari menggunakan bahasa Sunda yang baik dan benar. Tampaknya ragam bahasa gue dan elo lebih memikat. Lebih-lebih media populer semacam televisi dan radio dengan giat menyiarkan ragam bahasa ini.

Dari hal kecil ini saja kita sudah bisa memproyeksikan, akan menjadi apa budaya Sunda di masa depan? Jika hal-hal kecil saja, berupa alam pikir dan pola ucap yang sudah tidak nyunda, bagaimana nanti kita bisa mencari pemimpin Jawa Barat (sekelas Gubernur, Walikota, Bupati dsb) yang nyunda. Kini pemimpin –khususnya di tatar sunda- lebih ditekankan pada aspek nyantri dan nyakola saja. Padahal, hemat saya, nyantri, nyakola, dan nyunda adalah entitas yang tidak dapat dipisahkan, sebuah tritunggal kepemimpinan.

Pertanyaannya kemudian, setelah segala paparan saya di atas adalah, apakah masih ada orang yang peduli  dengan budaya Sunda? Apakah kepedulian sunda hanya terbatas pada orang yang berlabel budayawan sunda, aktivis ormas kasundaan atau orang desa di wilayah terpencil sana?

Jujur, saya tidak memiliki data-data statistik atau hasil penelitian kaya metode untuk menjawab semua pertanyaan ini. Akan tetapi ada sebuah syair yang membuat saya tergugah untuk menulis tulisan ini, memotivasi saya kembali untuk mengkomunikasikan Sunda kepada dunia, membangunkan saya dari keputusasaan akan hilangnya minat untuk ber-Sunda ria.

***

Sore itu, ketika kota Bandung diguyur hujan lebat, saya berteduh di sebuah kios rokok. Letaknya di Jalan Ciliwung. Pemilik kios berjualan bakso tepat di samping kios rokoknya. Sekilas tidak ada yang aneh dengan gerobak bakso itu. Namun ada sebuah kertas yang menarik saya. Kertas itu ditempel di bagian bawah gerobak. Berisi syair yang ditulis dengan tulisan tangan. Berikut isi syair itu :

Hitam kelam, hiasan langit mencekam

Cakrawala di tengah kota Pasundan.

Teriak menghempas keheningan,

Samar terdengar deru perahu

Pikir memasuki setiap lorong jiwa

Kesenangan, segenggam cemas

Akan hilangnya tradisi tanah lahir,

Kekecewaan menusuk dalam hati

Seorang Budaya. Simbol keserakahan

Di balik topeng-topeng bertahta!

Sudikah engkau wahai anak adam

Melihat semua harapan dan

Kesenangan yang dirampas dari

Tangan-tangan kecil yang menadah?

Titik balik menjelma

Bangkit! Bangkit! Pasundanku..

Syair ini benar-benar membuat saya merenung dan berpikir, sudahkah saya memajukan tanah pasundan? Tidak ingin terkurung dalam pikiran saya sendiri, segera saya tanyakan penulis syair di atas kepada pemilik kios. Sayang, jawabannya tidak tahu. Setahu beliau, penulis adalah seorang wanita, bekerja di cafe sebelah.

Ingin rasanya berbincang dengan penulis syair di atas. Jika memang ia memiliki keprihatinan yang sama dengan saya, berarti saya memiliki alasan untuk tetap peduli terhadap budaya Sunda. Karena saya tidak berjalan sendiri. Banyak tangan-tangan kecil yang peduli dengan keberadaan budaya Sunda namun mereka bersembunyi, tidak muncul dalam pergumulan organisasi-organisasi kebudayaan, perjuangan mereka bersifat lokal, dimulai dari diri sendiri kemudian keluarga lalu teman-teman terdekat.

Fenomena ini bukanlah hal yang harus disesalkan. Mungkin saja pada tahap berikutnya mereka akan bergerak bersama menuju perubahan. Berorganisasi dan bergotong-royong mengusik nurani orang Sunda yang mulai tidak nyunda.

Hal posotif yang dapat saya simpulkan adalah bawah –seperti syair lagu Imagine karya John Lenon- You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one, I hope someday you’ll join us. Semoga kita semua memiliki kepedulian yang sama terhadap budaya Sunda . Dan mulai mengubah lingkungan sekitar– dengan dimulai dari diri sendiri. Rahayu!

 Ferry Fadillah
Bandung, 17 November 2012

, , , , , , , ,

2 Comments