Matinya Intelektualitas

Aku memberi kesaksian,

Bahwa di dalam peradaban pejabat dan pegawai

Filsafat mati

Dan penghayatan kenyatataan dikekang

Diganti dengan bimbingan dan pedoman resmi.

Kepatuhan diutamakan,

Kesangsian dianggap durhaka.

Dan pertanyaan-pertanyaan

Dianggap pembangkangan.

Pembodohan bangsa akan terjadi

Karena nalar dicurigai dan diawasi.

Penggalan Syair W.S. Rendra berjudul Kesaksian Mastodon-Mastodon (1973)

***

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dipuja-puja, disanjung-sanjung, dieluk-elukan, kata orang, sekolah ini sekolah favorit, sekolah papan atas, incaran para lulusan sekolah menengah atas. Tunggu dulu? Apa yang mereka cari dari sekolah ini?

Jelas. Tujuan material adalah tujuan mereka. Sebab, konsekuensi lulus dari dari STAN adalah diangkatnya menjadi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan. Nasib mereka akan berubah. Tingkat pengangguran di Indonesia akan berkurang. Dan tentu bertambah juga kelas menengah  se-antero Indonesia. Masalahnya adalah, apakah lulusan STAN telah benar-benar insyaf akan dirinya sendiri dan kelak untuk siapa mereka bekerja (baca : berjuang)? Kita harus tilik kembali ke dalam kehidupan kampus dibilangan bintaro ini.

Matinya Intelektualitas

Sekolah para akuntan, pemungut pajak, penilai dan ekonom ini menawarkan subjek-subjek ilmu pengetahuan yang menarik. Ekonomi Mikro, Ekonomi Makro, Akuntansi, Ilmu Hukum, Keuangan Publik, Hukum Keuangan Negara dan puluhan ilmu pengetahuan lain yang berbeda di setiap prodi.

Saya yakin, semua Mahasiswa, berlomba-lomba untuk memahami itu semua. Mereka akan belajar keras menjelang ujian, berusaha untuk menghapal semua slide yang diberikan oleh dosen di kelas. Sayang, saya sempat kecewa –mohon maaf- ketika melontarkan kritik atas cara penyampaian seorang dosen ekonomi dihadapan teman sekelas. “Sudah, cara dosen menyampaikan materi tidak perlu digubris, yang penting dia baik memberi nilai”, celoteh seorang teman.

Miris. Apakah ini cara berpikir semua mahasiswa STAN? Saya harap hanya satu dua orang berpikir seperti ini. Kalau sampai semua anak STAN berpikir seperti ini, maka benar-benar intelektualitas telah mati di kampus yang katanya favorit ini.

Mereka yang Lupa

Saya bukan seorang pakar pendidikan, apalagi professor sebuah perguruan tinggi. Saya hanyalah mahasiswa yang rindu akan hingar bingar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang seharusnya mencetak mahasiswa menjadi kritis, progresif dan revolusioiner.

Mahasiswa kelak selalu mempertanyakan status quo. Mengapa ini seperti ini? Mengapa tidak seharusnya seperti itu? Pertanyaan yang berulang atas segala sesuatu yang orang awam anggap sebagai kewajaran adalah perlu untuk menciptakan inovasi-inovasi, perubahan dunia menuju kemapanan di segala bidang.

Ketika ilmu pengetahuan hanya dihapal kemudian dijadikan capital memperoleh ijazah agar kelak bekerja tenang di lingkungan pemerintahan, maka sesungguhnya mahasiswa telah melacurkan intelektualitas mereka sendiri.

Pola pikir pragmatis seperti ini hanya akan melahirkan birokrat muda yang sibuk mengisi kantongnya dengan pundi-pundi gaji. Mereka malas berpikir, yang terpenting adalah mengikuti instruksi atasan dan bermuka  manis atas setiap perintah dengan harapan pengharggaan berupa : kedudukan.

Saat ini semua terjadi, mahasiswa yang telah menjadi birokrat muda itu telah lupa bahwa mereka adalah bagian dari rakyat. Rakyat yang kesusahan setiap hari karena harus ditindih oleh kebijakan pemerintah yang mengakibatkan kemiskinan struktural. Rakyat yang terus meratap dan berdoa kemudian dinina bobokan dengan janji pahala kesabaran dan imbalan surga yang kemudian lupa untuk menuntuk hak-hak mereka atas hidup dan penghidupan.

Menjadi Intelektual

Intelektualitas berarti kita insyaf bahwa semua ilmu pengetahuan yang kita pelajari di bangku kuliah adalah untuk memperkuat daya kritis kita dan mensejahterakan mereka yang marjinal. Leon Trotsky pernah berkata, “The intellectual wants to rise above capitalist mental oppression, the academics are capitalist mental oppression”

Maka yang kita perlukan agar tetap berpihak kepada rakyat adalah mejadi seorang intelektual. Menjadikan ilmu pengetahuan yang kita dalami di kampus sebagai amunisi yang kelak membebaskan tetangga kita, orang satu daerah dengan kita, rakyat di tempat penempatan kelak, merdeka semerdek-merdekanya dengan membuka mata mereka akan hak-hak mereka dihadapan para penguasa.

Ketika filsafat hidup, dan penghayatan akan kenyataan dibebaskan, saya yakin mahasiswa STAN yang kelak menjadi birokrat muda, yang tersebar seantero Nusantara, yang jumlahnya beribu-ribu itu, dengan tegas dan gagah akan mengatakan tidak atas segala kelaliman siapapun juga.Ingat : Vox Populi Vox ‘Dei’!

Ferry Fadillah, dimuat dalam Warta Kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Edisi 27, Januari 2015.

, , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: