Posts Tagged PEGAWAI

Mutasi

“Alhamdulillah, selamat ya Mas.”

“Selamat, Mas. Semoga betah di tempat yang baru.”

Pesan melalui layanan Whatsapp dengan nada serupa datang bertubi-tubi. Tambahannya adalah tanda emosi (emoticon) diantara kalimat sehingga pesan lebih atraktif dan ekspresif. Namun, pesan itu tidak tertuju kepada saya pribadi. Pesan-pesan itu adalah kehebohan hasil kopi-tempel di grup kantor. Persis seperti ucapan selamat ulang tahun.

Malam sebelum lebaran sebuah keputusan mutasi terbit. Hal serupa sudah pernah terjadi beberapa tahun lalu. Saat kenyamanan terhadap Bali sudah mengakar kuat dan segala kegiatan sudah menjadi rutinitas. Keputusan mutasi di malam sabtu itu terulang lagi. Dan, lagi-lagi, mengusik ketenangan, meluluhkan setiap rencana.

Tapi, apa yang bisa diperbuat seorang pegawai negeri rendahan yang suaranya redam dipusaran para elit. Tidak ada yang bisa diperbuat kecuali berkata “asu” yang disusul kalimat-kalimat istigfar.

Mutasi bagi pegawai negeri pusat di daerah adalah niscaya. Dalam jangka empat sampai lima tahun seorang pegawai bisa berpindah dari satu provinsi ke provinsi lain, dari satu kota ke kota lain. Memang ada fenomena lain. Seperti yang berputar hanya antar kota satu provinsi atau satu kota antar kantor. Tapi itu adalah anomali. Hanya orang-orang beruntung atau mungkin para penjemput keberuntungan yang bisa meraih itu. Beberapa kawan pernah menyarankan. Dekati bapak ini, dekati bapak itu, tapi hati berkata lain. Bagaimana bisa saya melakukan itu bila setiap hari mengucap, “Hanya kepada-Mu lah memohon dan hanya kepada-Mu lah hamba meminta pertolongan!”

Maka, cara elegan untuk menghadapi keputusan mutasi dari pusat kekuasaan itu adalah nrimo. Dipindah atau tidak dipindah. Diputar atau tidak diputar. Toh hidup akan selalu menawarkan ketidaknyamanan. Kenyamanan hanyalah utopia di dunia dan realita di surga.

Saat berada di rantau, yang dipikirkan adalah harga tiket yang mahal. Harga sewa kamar yang tinggi. Atau rasa sepi yang selalu menikam dalam sunyi. Begitu berada di kota asal masalah juga akan datang. Mengatur waktu menjemput anak. Membagi waktu dengan istri. Atau menampik tawaran mantan yang kerap ingin kembali. Karena inilah hidup.

Namun, saya paham, tidak semua orang memiliki pikiran seperti ini. Mungkin ada yang menyikapinya dengan keras. Setiap keputusan mutasi yang dianggapnya semena-mena akan ditampiknya dimeja pengadilan. Tidak peduli biaya yang dikeluarkan. Mengalahkan pusat kekuasaan di meja hijau tentu merupakan kenikmatan yang hakiki.

Orang seperti itu tidak boleh dipaksakan untuk nrimo begitu saja. Itu sudah menjadi tabiatnya. Mungkin itu adalah cara Tuhan menegur penguasa. Agar lebih arif dalam menelurkan kebijakan mutasi.

Kenapa harus lebih arif? Karena keputusan mutasi bukanlah perihal mengganti kolom kantor lama dan kolom kantor baru atau memasukan nama pegawai beserta nomor induk dan gelar-gelarnya itu. Kata-kata dalam keputusan tidak bernyawa, tidak memiliki keluarga, tidak berperasaan. Mereka hanyalah deretan tinta yang patuh digilas mesin cetak dan dilipat dalam amplop. Manusia bukan kata-kata. Ia punya nyawa, punya keluarga, punya perasaan yang harus dihormati. Urusan pindah memindah manusia harus memperhatikan itu semua.

Bagaimanapun kearifan itu berusaha dicapai tentu akan ada selalu cela dalam tangan manusia. Tidak ada manusia sempurna. Dalam setiap keputusan tentu selalu saja ada penolakan. Bagaimana mungkin memenuhi keinginan pegawai negeri yang tersebar dipelosok nusantara. Pembuat kebijakan hanya bisa meminimalisir kekecewaan. Jangan sampai ada banyak pegawai yang berkata “asu” namun lupa menutupnya dengan istigfar.

Terakhir, pesan saya bagi para pegawai negeri rendah di seluruh Indonesia yang melihat mutasi sebagai momok menakutkan. Bersabarlah, kiranya Tuhan bersama kita.

Ferry Fadillah. Kuta, 20 Juli 2017

Advertisements

, , , , ,

2 Comments

Pegawai Gila

Pada sebuah kantor pemerintah tinggal seorang pegawai muda berpangkat pengatur muda golongan II/a. Tingginya seratus tujuh puluh satu senti. Beratnya enam puluh lima kilogram. Rambutnya ikal tertata rapih ke arah samping dengan bantuan pomade seharga dua ratus ribu dibeli online. Gaji bulanannya sebesar lima juta rupiah belum termasuk uang makan dan tunjangan kinerja cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sesekali beramal bagi sesama.

Orang-orang di kantor memanggil pegawai ini dengan nama Dery. Tanpa nama keluarga, marga atau embel-embel apapun. Kedua orang tuanya memberi nama itu sebelum meninggal akibat gusuran pemerintah daerah dua puluh lima tahun silam. Ia tidak pernah mengenal wajah kedua orang tuanya. Pengurus panti asuhan lah yang menyerahkan sertifikat lahir bernama dirinya dan menceritakan kisah pilu kedua orang tuanya.

Dery adalah pegawai tata usaha yang selalu datang tepat waktu. Ia akan berangkat sebelum pukul tujuh tiga puluh pagi hari. Menyapa kawan-kawan yang ia temui dengan senyum lebar penuh keceriaan. Setelah itu ia akan pergi ke kantin sejenak. Memesan nasi campur dengan sayur kacang panjang dan ikan cabai hijau ditemani segelas teh hangat cap orang tua. Tidak sampai tujuh menit makanan itu habis dan Dery bergegas ke meja kerja.

Tempat Dery bekerja cukup luas. Antara satu komputer dengan komputer lain dibatasi oleh partisi yang terbuat dari kaca setinggi pinggang. Komputer Dery berukuran besar bermerek HP. Sebelum memulai pekerjaan ia selalu menyalakan denting piano Frederic Chopin berjudul Nocturne No 2 Flat Major Op. 9 No.2 sambil menyeruput torabika yang sebelumnya ia seduh sendiri dengan air dispenser.

Pekerjaannya biasa saja. Tugasnya adalah melanjutkan disposisi Kepala Seksi. Bila disposisi berbunyi arsip, maka ia akan mengarsipnya. Bila disposisi berbunyi “buatkan nota dinas” maka ia akan segera membuat konsep dan menanti pekerjaannya dicoret-coret. Selain itu ia juga dibebani pekerjaan adminsitrasi surat masuk dan keluar, pengarsipan serta pengurusan dokumen pribadi pegawai. Semua pekerjaan ia kerjakan dengan tuntas tanpa pernah berkeluh kesah.

Pekerjaan kantor usai pukul lima sore. Ia juga selalu tepat waktu meninggalkan ruangan. Tidak peduli hujan dan badai, ia segera pergi ke indekost. Melepas sepatu dan tiduran bertelanjang dada. Sambil bermalas-malasan ia akan mengambil gawainya. Membuka aplikasi instagram,  memberi like kepada foto pemandangan, kemudian mencari-cari baju murah yang dijual dengan diskon atau penawaran khusus. Ia juga akan membuka whatsApp dengan jari-jemarinya. Ia akan membuka grup kontak satu per satu. Membaca setiap berita, sampah maupun penting. Pekerjaan itu memakan waktu dua jam sampai akhirnya ia teringat waktu shalat magrib.

Dery selalu bingung ketika memutuskan lokasi makan malam. Ia biasanya akan pindah dari satu tempat ke tempat lain setiap malam. Ia tidak pernah mengajak siapapun bersamanya. Makanan kesukaannya adalah masakan khas Bali yang asam dan pedas atau sop kambing dengan jeroan dan torpedo yang gagah perkasa. Sambil makan ia tidak pernah melepaskan pandangan dari gawai. Bergantian ia membuka aplikasi pertemanan. Facebook, twitter, WhasApp, Tumblr, kembali lagi ke Facebook, twitter, WhatssApp begitu seterusnya hingga potongan kambing terakhir habis.

Malam hari Dery akan tidur pukul sebelas malam dengan posisi gawai di sebelah kuping kanannya. Alarem diatur untuk berbunyi pukul enam pagi. Ia tidak pernah tidur mengenakan sehelai benang pun. Alasannya sederhana. Ia tidak mau membebani biaya laundry dengan baju yang kotor akibat keringat tidur. Tipikal pegawai yang sangat hemat sekaligus pelit.

Keteraturan Dery terus berlanjut. Ia bahkan menolak setiap ajakan kawan diluar agenda rutinnya. Ia hidup sendirian dan sepertinya menikmati kesendiriannya. Ia terbiasa makan sendiri, berdiskusi sendiri terkait pekerjaan dan membaca buku di café terdekat bertemankan caramel maciato. Lama kelamaan kebiasaannya itu membentuk dirinya menjadi keras kepala dan tidak mudah percaya kepada orang lain.

Buku-buku yang dibaca Dery bertemakan motivasi praktis yang ditulis oleh para motivator kondang. Ia selau bersemangat membaca buku-buku itu. Matanya menyala-nyala menyuarakan perubahan. Gagasan-gagasan segar memebuhi pikirannya. Saat pergi ke tempat kerja, ia harus memendam setiap gagasan-gagasan itu. Karena pekerjaannya menuntut kepatuhan mutlak dari atasan.

Entah mengapa Dery menjadi pecandu buku. Mungkin kesendirian mengantarnya untuk mencumbui buku. Hal murah yang dapat dilakukan dimanapun. Ia tidak lagi bersentuhan dengan buku motivasi. Kini ia menganggap buku-buku itu sebagai karya picisan yang mudah dicerna. Kamar sewanya dipenuhi buku-buku klasik karangan Plato, Aristoteles, Phytagoras dengan coretan tinta merah di marjin kanannya. Beberapa kertas warna-warni dengan catatan-catatan penting menyembul dari beberapa halaman. Ada juga buku-buku zaman romantik seperti Thus Spoke Zarahustra karya Frederic Nietzche yang ia tempatkan di rak khusus dengan taburan bunga segar yang selalu ia ganti setiap pagi. Buku sejarah dunia, kebudayaan dan mistisme juga tidak luput dari koleksi pribadi Dery.

Semua bacaannya itu membebani Dery dengan jutaan ide baru. Pikirannya selalu berputar dimanapun ia berada. Ia selalu memikirkan hal-hal kecil yang tidak terpikirkan orang lain. Mengapa aku hidup? Apakah aku berjiwa? Apakah jiwa itu? Dimana Tuhan? Apakah Tuhan ada? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui dirinya saat bekerja dan tidur. Kini ia tidak lagi bisa tertidur pulas. Sebelum tidur ia akan sibuk dengan sebuah bacaan kemudian menulis pada sebuah jurnal refleksi atas bacaan itu. Biasanya ide-ide dalam bacaan itu akan menghantuinya dalam tidur. Kadang menjadi sebuah mimpi menyeramkan yang menyiksa dirinya. Pernah suatu ketika ia bermimpi menjadi Tuhan. Bentukya seperti tiang putih yang bergerak cepat secara vertikal ke angkasa. Menembus awan, bintang, planet antar galaksi sebelum akhirnya ia terbangun dengan keringat dingin dan perasaan takut akan kutukan.

Karena kebiasaan barunya, Dery mengidap insomnia. Setiap ke kantor ia selalu merasa lemas. Walaupun bergelas-gelas kopi ia minum tetap saja rasa kantuk akan selalu menderanya. Wajahnya kini menjadi pucat. Darah seolah-olah berhenti mengalir ke otaknya. Jari jemarinya kaku dan ia mudah gelisah.

Pada tahun ke tiga puluh masa kerjanya di kantor itu. Dery merasakan kebosanan yang luar biasa. Ia diam di meja kantornya menghadap komputer yang melantunkan denting piano Chopin. Ia malas mengambil surat disposisi Kepala Seksinya. Ia merasa Kepala Seksinya tidak lebih pintar dari dirinya. Semua orang adalah salah dan dia adalah kebenaran itu sendiri.

Tiba-tiba ia berteriak ke semua orang yang berada di ruangan, “Hai, manusia-manusia membosankan yang mengerjakan hal membosankan tidakah kalian memiliki hidup alternatif selain yang kalian jalankan hari ini!”

Semua orang terbengong-bengong dibuatnya. Dery menjadi pusat perhatian saat itu juga.

“Kenapa kalian semua tidak menjawab? Aku bertanya kepada kalian? Apakah kalian pernah berpikir barang sejenak untuk meninggalkan kantor yang penuh kemunafikan ini. Apakah kalian rela diperintah oleh atasan dengan kemampuan di bawah kalian. Berkata ‘siap!’ untuk setiap perintah seperti anjing menyalak yang diberi daging oleh Tuannya!”

Perkataan itu membuat wajah beberapa pegawai merah. Sebelum mereka memikirkan pernyataannya, Dery melanjutkan…

“Hari ini aku katakan kepada atasanku dan atasan kalian. Anjing kalian semua, aku tidak mau lagi diperintah kalian dan bergabung dalam sistem kantor yang pengecut ini. Aku adalah diriku yang merdeka tidak bisa diperintah oleh siapapun. Aku adalah awal dari segala sesuatu kebenaran dari segala kebenaran. Kalian semua adalah anjing-anjing yang tidak berguna!”

Pidatonya ia tutup dengan tendangan keras ke arah komputer. Ia juga memukul lemari arsip yang terbuat dari kaca hingga luluh lantah memenuhi ruangan. Segera seorang pegawai memanggil petugas keamanan. Dery diapit oleh dua orang bertubuh tegap berkulit hitam. Ia tidak bisa berkutik. Kakinya terseret-seret menuju pintu keluar. Setiap orang di setiap unit melihat ke arah jendela, ke arah Dery yang mereka anggap sudah gila.

Dery tidak berkata apa-apa saat diusir paksa ke luar kantor.Ia merasa jijik melihat kantor dihadapannya. Ia tahu persaingan dan kemunafikan yang menjadi wabah di dalamnya. Ia muak dengan semua itu. Ia merasa jijik dan mual luar biasa.

Kini, Dery sudah tidak memiliki penghasilan apapun. Ia memutuskan untuk mengembara entah kemana. Ia tidak mau mengikatkan diri kepada sebuah kewajiban. Ia mencintainya dirinya sendiri dan kesendiriannya.

 Ferry Fadillah. Kuta, Desember 2016.

, , ,

5 Comments

Dangkal

Dia datang tepat pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Setelah melakukan registrasi elektronik di mesin absensi, ia melangkah santai menuju kantin, memesan segelas kopi dan gorengan hangat di piring kecil. Orang-orang belum berdatangan ke kantor. Hanya ada dia dan cleaning service  yang bersungut membersihkan debu di atas lemari arsip. Ia tidak peduli dengan para pesuruh itu. Sambil menyeruput secangkir kopi Toraja ia menyalakan personal computer dan mendengarkan gamelan Bali yang mengalun mistis. Ia memejamkan mata sejenak. Menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Saat membuka mata, wajahnya berseri. Ia buka ransel hadiah pelatihan komputer di Bandung tempo lalu, sebuah buku merah setebal 600 halaman dengan potret Tan Malaka berjudul “Materialisme, Dialektika dan Logika” siap untuk dibaca.

Dia sangat suka membaca, membaca apapun.  Majalah Menara Pengawal yang dibagikan Jemaat Saksi Yehowah yang diterimanya dipinggir jalan saat senja di ibu kota ditelannya habis. Jurnal kebudayaan yang diunduh dari laman sebuah situs universitas ternama luar negeri  ia lumat perlahan-lahan. Buku filsafar dari era Plato hingga Amartya Sen ia telaah dengan teliti. Bahkan tanda merek yang terdapat pada baju yang berisi informasi negara pembuat, bahan dan cara perawatan tidak luput dari matanya. Ia suka membaca apapun. Kali ini di kantor ia kembali melanjutkan membaca “Madilog” yang sempat tertunda karena padatnya pekerjaan.

Sambil mengarahkan telunjuk ke arah kalimat pada buku, ia membaca lirih, “Buat Hegel absolute idea ialah, yang membikin benda Realitat. Die Absolute Ide Macht die Gesichte….”

Ia menghentikan bacaannya. Dahinya berkernyit. Kedua jarinya memegang pelipis dengan tekanan yang kuat, ”Istilah apa itu?”

Tidak mau kalah sebelum bejuang, ia melanjutkan bacaan, “Absolute idea yang membikin sejarah, histori, dan membayang pada filsafat. Bukan filsafat yang membikin sejarah, katanya melainkan absolute idea “deren nachdrucklichen ausdruck. Die pilosohie ist”, yang tergambar nyata pada….

“Hei, Lif! Ngapain kok serius banget. Pagi bener dah datang ke kantor kaya anak kuliahan.” tegur teman satu kantornya menghentikan bacaannya.

“Emang gue biasa datang cepet kok,”  jawabnya datar tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang ia pegang.

Ah sombong lu, diajak ngomong nengok aja kaga!” balas kawannya kesal.

Alif menoleh kemudian memberi senyum sinis. Sebenarnya dia tidak seketus itu. Kali pertama bertemu dengan kawannya, ia menunjukan sikap persahabatan yang tulus. Percakapan bisa terjalin berjam-jam, kapan pun dan dimana pun. Tapi ini tahun ke tiga mereka bekerja di sana. Waktu yang cukup lama bagi seorang pegawai di tempat yang sama. Dia mulai muak dengan semua perbincangan. Menurutnya, tidak hanya kawannya itu tapi semua orang di kantor itu adalah pecinta kedangkalan. Mereka lebih suka membicarakan besaran gaji, kenaikan gaji, tunjangan tambahan, uang pensiun, biaya perjalanan dinas, uang lembur, cicilan mobil, uang muka rumah, botol arak, wanita penghibur, pernikahan, istri, atau tentang anaknya yang kebetulan baru bisa berjalan walau tertatih. Dia muak dengan semua itu. Muak. Ia rindu perbincangan filosofis. Ia rindu dengan percakapan tentang hidup, kematian, jiwa, keadilan, cinta, hukum, politik, ekonomi dan pengalaman ruhiyah semasa kuliah. Ia rindu bercakap berjam-jam sambil merenungkan berbagai hal di dunia. Ia rindu berbicang imajinatif dengan Aristoteles hingga Sigmund Freud tentang segalanya. Ia rindu itu semua. Momen itulah yang membuatnya selalu tampak ceria dan antusias. Tapi kantor ini dan orang-orangnya hanya menyuguhkan kedangkalan dan kebanalan,. Sejak itulah hidupnya murung dan ia jarang terlibat dalam percakapan.

Waktu menunjukan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Ruangan sempit bersekat itu sudah dipenuhi pegawai yang berpakaian necis. Karena pekerjaan belum terlalu banyak, mereka berkumpul di dekat mejanya dan terlibat dalam gelak tawa yang memekakan telinga. Dalam keriangan itu, Alif tetap dalam posisinya semula, tertunduk membaca buku.

Dia kembali membaca di dalam hati, “Madilog  bukanlah barang yang baru dan bukanlah….”

“Lif, ngapain sih lu. Sini gabung kita. Sombong dah!

Tanpa menoleh, ia meneruskan membaca, “…bukanlah barang yang baru dan bukanlah buah pikiran saya. Madilog adalah pusaka yang saya terima dari…”

Lu denger kaga? Cieee.. yang berasa paling pinter sekantor. Serius amat bacanya.. hahaha..”

Mendengar itu mukanya merah. Ia kehilangan fokus. Baginya deretan tulisan pada buku hanyalah penampakan tanpa arti. Pandangannya berputar dari kata ke kalimat, dari kalimat ke paragraf. Ia lupa dengan apa yang sudah dibacanya. Seketika juga otaknya berdenyut keras. Namun ia tetap dalam posisinya semula, tertunduk seolah-olah membaca.

Lif! Sini lu mah kok kaya kurang pergaulan gitu!”  salah satu kawannya menghampiri meja Alif. Mengangkat buku “Madilog” yang agung itu. Melihatnya terheran-heran kemudian melemparkannya ke meja sebelah namun terjatuh dan mendarat beberapa cm dari tempat sampah.

“Bangsat!” maki Alif.

Emosinya memuncak. Ia tahu amarahnya bisa menyulut konflik berkepanjangan. Tapi ia tidak rela waktu senggang yang biasa ia gunakan untuk membaca itu kini harus terampas. Pulang kerja pukul enam sore ia harus berjibaku dengan macetnya jalan ibu kota. Perjalan berpeluh keringat dengan motor bebek tahun dua ribuan itu mengantarnya sampai ke Tangerang Selatan pukul delapan malam. Setelah itu ia harus membersihkan tai anjing tetangga yang kerap mejeng  di teras rumah. Belum lagi membersihkan sisa bocor akibat hujan badai seminggu berturut-turut. Setelah itu minatnya untuk membaca pasti ambruk. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur dan menanti alarem handphone Oppo edisi selfie berdering di samping telinganya. Esoknya ia harus kerja lagi. Dan melakukan hal yang sama berulang. Maka sebuah waktu senggang untuk membaca buku adalah momen berharga baginya.

“Apa lu bilang?”

“Bangsat. Anjing. Babi. Ambil buku itu, njing!”

Tanpa banyak pikir kawannya melayangkan tinju ke arah hidung Alif. Namun, ia tidak mengelak. Tiga tahun ia habiskan untuk belajar Tae Kwon Do. Satu tahun Merpati Putih. Tiga bulan Kungfu Wing Chun. Ia melangkah dengan anggun, menyambut pukulan itu dengan tangan terbuka, mencengkeramnya dan menariknya ke arah telinga kiri sambil menyerang dengan sikut ke arah hidung lawan. Darah bercucuran di karpet. Semua orang terpengarah. Tapi ada senyum puas pada wajah Alif.

Ferry Fadillah. Juni, 2016.

, , , ,

Leave a comment