Archive for May, 2010

Pusaka Lidah Penebar Kata

oleh Ferry Fadillah

"ricuh, lidah tak terkendali, yang ada berkelahi"

Letah ulah salah nu dirasakeun ke nana dora bancana, sangkan urang nemu mala na lunas papa naraka; hengan lamunna kapahayu ma sinengguh tuama bijilna ti letah.


Begitulah salah satu kalimat yang tertera dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, sebuah naskah sunda kuno yang ditulis pada masa pemerintahan Sri Baduga Maha Raja penguasa Pajajaran.

Artinya kurang lebih sebagai berikut, Lidah jangan salah kecap karena menjadi pintu bencana, penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka; namun bila lidah terpelihara, kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari lidah.

***

Lidah adalah aset satu-satunya manusia yang digunakan untuk mengecap berbagai rasa. Asin, manis, asam, dan pahit. Bukan saja rasa, lidah juga dapat menjadikan manusia hidup dalam 4 rasa yang dikecapnya.

Tentu kehidupan berbeda dengan makanan, yang akan masuk ke dalam lambung kita dan keluar menjadi segumpal kotoran. Hidup itu lebih agung dan kehidupan manusia sejatinya diabdikan untuk menyebar sebanyak-banyaknya kebaikan bagi sesama, tapi bagi mereka yang hanya menebar keburukan bagi sesama, tentu hidup tidak lebih dari sepotong makanan yang akan berakhir menjadi gumpalan kotoran. Terbuang dan terhina.

Seolah pusaka dengan berbagai kesaktian yang terwarisi dari puluhan Mpu di masa lampau, lidah memerlukan kendali yang kuat dari pemiliknya. Kesaktian Lidah menjadikan manusia harus memiliki kebersihan jiwa dan kebeningan fikiran. Kelemahan diri yang disebakan oleh rusaknya kebersihan jiwa, hanya akan mejadikan pusaka lidah hilang kendali dan siap melukai siapapun, bahkan penciptanya!

Zaman sudah berubah, kendali diri sudah mulai sirna. Pusaka mengendalikan tuannya, dan tuannya hanya manut terhadap pusaka. Wakil rakyat menikam pusaka lidah ketubuh sesamanya, merusak kedamaian mencipta kisruh, pada akhirnya beragam opini hanya memperluas perbedaan bukan kebenaran sejati.

Pusakan Lidah dimiliki anak muda, yang tiap dini hari tiada berbakti kepada ilahi, mengotori diri dengan benda duniawi. Pusaka terlontar amarah berkecamuk, tontonan permainan semata berubah menjadi medan pertempuran.

Anak membunuh ibunya karena kendali  bakti yang rendah, ibu membunuh anaknya karena kendali diri yang rendah. Semua carut marut  akan tercatat dalam sejarah peradaban manusia jika semua kendali telah sirna.

Kendali yang baik dalam menjaga pusaka lidah, hanya dimiliki mereka yang berjiwa suci.

Karena dari jiwa yang suci, lahirlah pikiran yang bersih, dan dari pikiran yang bersih tumbuhlah tutur kata yang baik.

Teringat sabda Baginda, “Jagalah diri kalian dari api neraka walau dengan sebelah kurma barang siapa tidak mendapatkannya maka dengan ucapan yang baik”

Semoga Gusti Allah memberikan kita kesaktian dalam mengendalikan Pusaka Lidah Penebar Kata.

sumber gambar : blogpopuler.com
Advertisements

Leave a comment

Tuna Netra adalah Guru Kita

oleh Ferry Fadillah

Tubuhnya tegap. Kemeja putih dan celana panjang yang ia kenakan menandakan bahwa ia begitu peduli dengan penampilannya. Kaca mata hitam dengan lensa persegi tidak pernah ia lepaskan, dan dalam setiap perjalanan, ia selalu ditemani oleh benda kesayangannya : tongkat berjalan.

***

Waktu itu puku 20.00 WITA, saat saya dan seorang kawan menyusuri jalan kota denpasar untuk mencari sebuah restoran sunda. Jalanan begitu padat, maklum malam itu malam minggu, malam yang telah menjadi ritual khusus bagi pasangan muda-mudi yang akan memadu kasih di taman kota, bioskop, tempat parkir atau pusat perbelanjaan. Setiap motor yang melintas selalu saja dilengkapi dengan pemandangan muda-mudi yang berpelukan, berpakain sexy dan tentu mementaskan sebagian dari tubuhnya.

Disudut sebuah hotel kelas melati, kami melihat seorang tuna netra yang berjalan dikegelapan malam tanpa ditemani oleh seorangpun. Tongkat putih dengan pegangan berwarna hitam lah yang membantunya menemukan jalan yang bisa dilewati. Tidak ada rawut wajah kekhawatiran pada dirinya, ia sendiri dalam keterbatasan tapi bisa begitu tenang dalam kegelapan dan ancaman kejahatan di malam hari.

Temanku bertanya, “fer, untuk apa Tuhan ciptakan dia, tapi ternyata dia tidak bisa meliat keindahan ciptaanya?”

Dengan nada setengah bercanda saya menjawab, “mungkin jika dia mendengar pertanyaan ini dia, akan menjawab : buat apa punya mata bisa melihat jika hanya digunakan untuk melihat yang tidak-tidak! Haha”

Percakapan ini singkat, tapi tiba-tiba saja saya terdiam dan berfikir sejenak. Ada benarnya juga pernyataan kawan saya itu, dan ada benarnya juga jawaban saya itu. Saya jadi teringat kata seorang ustadz waktu kecil dulu bahwa segala sesuatu yang tercipta di bumi ini pasti akan ada hikmahnya.

***

"mereka buta, tapi mereka adalah guru kita"

Kegelapan yang menyelimuti seorang tuna netra sifatnya bisa temporal bahkan permanen. Temporal  dalam artian ia masih punya harapan untuk menikmati indahnya dunia ini dalam waktu yang sudah digariskan Tuhan. Tapi permanen lebih dari itu, karena ia tidak akan pernah bisa melihat indahnya dunia ini sampai ia mencapai kesempurnaan (wafat).

Seorang yang berpenglihatan normal, mungkin akan merasa iba dengan para tuna netra. Seorang yang berjiwa dermawan, pasti akan terbesit niat untuk membantu pengobatannya agar lekas sembuh. Seorang perawat yang ikhlas, mungkin akan nenemai dan menjaganya agar ia terhindar dari marabahaya

Tapi saya sadar, bahwa yang harus diibakan adalah diri saya sendiri. Dan mungkin, mereka pun iba terhadap diri saya yang bisa melihat cahaya dalam dunia.

Dunia dengan panorama alam memang membuat kita mensyukuti nikmat Tuhan akan tapi mereka iba karena indahnya dunia dengan segala hal yang mencelakakan mata, telah merasuki manusia yang mempunyai mata normal, mempengaruhi setiap jengkal kehidupannya, dan mengubahnya menjadi tamak, rakus, gila wanita, gila harta dan gila kedudukan.

Dunia begitu indah, dan mereka yang tidak dapat melihat cahaya dalam dunia telah memiliki caranya sendiri untuk mensyukuri nikmat Tuhan, dan memberikan pelajaran bagi manusia yang masih bisa melihat cahaya.

Dari semua itu, saya menyimpulkan, bahwa seorang tuna netra tidaklah sia-sia hidup di bumi ini, karena ia memiliki tugas mulia : menjadi guru bagi kehidupan manusia.

.

.

.

Denpasar, 28 Mei 2010

sumber ilustrasi : foto.detik.com

,

4 Comments

Menikmati Tenangnya Suasana Pantai di Nusa Dua

oleh Ferry Fadillah

"Jalan sekitar pantai, pepohonan di kiri dan kanan jalan memberikan kesejukan yang alami"

Pulau Bali selalu menyuguhkan keindahan pantai yang sangat memukau. Pantai-pantai, yang pada umumnya indah itu, tentu memiliki suasana dan ciri khas yang berbeda. Suasana Pertokoan dan keramaian bisa anda nikmati di Pantai Kuta, suasana religius dan perbelanjaan bisa anda nikmati di tanah lot, serta suasana pantai yang  tenang ditambah rimbunnya pohon yang memberikan kesan sejuk, bisa anda nikmati di Nusa Dua.

Nusa Dua terletak di selatan Provinsi Bali. Tidaklah sulit menemukan daerah ini, karena petunjuk arah di beberapa sudut jalan bisa membantu anda mencapai nusa dua  tanpa perlu bersusah payah membuka peta. Jaraknya sekitar satu jam kurang dari pusat kota Denpasar. Tidak ada kendaraan umum yang melewati daerah ini, sehingga mau tidak mau anda harus membawa kendaraan pribadi atau menyewa mobil untuk mencapainya.

Nusa Dua merupakan kawasan elit yang dikelilingi hotel mewah bertaraf internasional, seperti Grand Hyatt Bali, Nusa Dua Beach Hotel, dan Novotel Nusa Dua. Sehingga hanya orang-orang yang rela merogoh kocek lebih dalam saja yang mampu menikmati keindahan pantai dengan fasilitas hotel yang serba wah.  Tapi bagi anda yang berkocek pas-pasan, tidak perlu khawatir, hanya dengan membayar retribusi parkir sebesar seribu rupiah, anda bisa menikmati pantai yang dibuka untuk umum, suasananya pun tidak kalah menarik dengan suasana pantai yang dinikmati dari hotel.

Jika anda memasuki Nusa Dua, anda akan merasakan suasana yang berbeda dengan pantai lainnya. Bayaknya pepohonan, menyebabkan daerah nusa dua berhawa sejuk dan tidak gersang. Kemewahan pun tercermin dari suasananya yang tenang, dan taman-taman yang indah. Bagi anda yang ingin berjemur, anda bisa menyewa alas tubuh yang disewakan di warung-warung sepanjang  pantai. Tidak hanya itu, warung-warung itu pun menjual beragam makanan ringan, kelapa muda, dan cinderamata.

"water blow, dimanfaatkan pengunjung untuk menikmati guyuran air laut"

Ada tempat menarik di sekitar pantai, yaitu water blow. Water blow sendiri merupakan semburan air laut yang mencapai daratan akibat menabrak tebing-tebing di sekitar pantai. Tinggi gelombangnya variatif, tergantung besarnya ombak yang menampar tebing. Semburan ini, yang menyerupai air mancur, dimanfaatkan beberapa orang untuk mandi dan bercengkrama dengan teman-temannya. Ada pula Gazeebo yang digunakan beberapa orang untuk istirahat sambil menikmati tenangnya air laut.

Sebetah apapun anda di nusa dua, tetap saja anda harus terpisahkan oleh datangnya malam. Tapi tenang saja, suasana pantai yang anda nikmati akan terus berbekas dalam otak anda, dan menjadi sebuah pengalaman berharga dalam hidup. Belum lagi, indahnya pantai di nusa dua, semoga membuat kita tersadar akan Keagungan Tuhan yang dengan segala kelebihannya telah menciptakan penampakan alam yang begitu indah.

"ombak yang menampar tebing"

"suasana laut dari gazebo"

"pantai yang relatif sepi, dimanfaatkan untuk berjemur"

, ,

6 Comments

Ngarana ge Panon Lalaki

oleh Ferry Fadillah

"mata, kodratnya melihat keindahan"

Zaman berubah dari masa ke masa. Dari setiap perubahan masa, hadirlah manusia dengan cara-cara yang berbeda. Tahun ini tentu berbeda dengan tahun sebelumnya, dan sifat manusia tahun ini pun akan berbeda dengan sifat manusia tahun sebelumnya. Hasil perubahan dari masa ke masa inilah yang menyebabkan 2 hal, kemerosotan atau kemajuan.

***

Anugerah terbesar dari Tuhan adalah wanita. Selain anugerah, wanita juga termasuk kategori trio bencana : harta, tahta, wanita. Memang, tidak dapat dipungkiri, jika makhluk ini begitu indah, mereka berbeda dengan lelaki, memiliki hal-hal yang menjadi perbincangan hangat dari masa ke masa. Sayangnya, terkadang mereka menuntut hak yang sama seperti lelaki, tapi menjalankan kegiatan fisik sesuai kemampuannya saja.

Sudah bukan penampakan langka lagi jika, zaman sekarang ini, wanita menampakan putih atau hitam pahanya di muka umum, bukan hanya itu, terkadang menampakan belahan dada menjadi trend baru yang kian digemari. Kebiasaan (keteledoran?) menampakan ini tidak hanya milik wanita cantik semata, wanita bermuka kurang cantik atau bahkan buruk pun (cantik tergantung selera) kerapkali ditemukan membuka apa yang menjadi mahkotanya, seolah agar kaum pria tidak terlalu fokus ke wajah mereka.

Wanita tentu kesal jika ditonton bagian tubuhnya oleh lelaki. Memang ada beberapa yang kelainan sexual, sehingga merasa nikmat bila ditonton oleh lelaki, tetapi kita berbicara dalam lingkup wanita normal.

Kesal memang kesal, lantas apakah lelaki yang menonton dapat dipersalahkan.

***

Mata adalah indera kita yang unik dan sangat berharga. Dengan mata kita bisa melihat dunia dan menuliskannya dengan pena. Fungsi dari mata sendiri adalah melihat, melihat apapun, tapi harus berdasarkan hati nurani. Hancurnya iman juga disebabkan mata yang tidak bisa menahan kebebasannya dalam melihat, memang harus ada pengendalian dalam menggunakan indera ini.

Sekarang zamannya beda, setiap sudut jalan di kota dan desa selalu dipenuhi wanita yang biasa memperlihatkan paha dan belahan dada. Maaf kurang sopan memang, tapi ini adalah kenyataan, dan kita tidak akan pernah bisa lari dari kenyataan.

Dari kenyataan tersebut, mata lelaki selalu menjadi korban. Korban meluapnya nafsu dan hilangnya kendali diri. Bukankah melihat yang indah adalah sebuah kodrat yang tidak bisa di tentang, apalagi mata lelaki.

Saat berseliweran wanita dengan kategori yang sudah saya sebut, sudah dapat dipastikan lelaki akan membicarakan apa yang wanita tampakan, dan tentu sambil melihat secara sembunyi-bunyi.

Pada saat-saat itu, saya hanya bisa bicara dalam hati :Yahh, ngarane ge panon lalaki, naha lain pingpingna nu ditutup. (yahh, namanya juga mata lelaki, kenapa bukan pahanya yang ditutup).

Dan mungkin seiring berubahnya zaman, hal ini akan semakin menjadi-jadi, dan saya kembali berkata : Yahh, ngarane ge panon lalaki, naha lain pingpingna, xxx, xxx, xxx, xxx, jeung xxx nu ditutup.


Denpasar, 26 Mei 2010
sumber gambar : jarumsuntik.com

,

Leave a comment

Diam itu Bukan Emas

oleh Ferry Fadillah

"emas, semakin lama semakin berharga"

Diam adalah emas. Sebuah ungkapan klasik yang sering didengungkan orang untuk menggambarkan pentingnya diam ketika berbicara hanya akan menumbuhkan benih kemurkaan. Dan ‘diam adalah emas’ telah menjadi daya tarik tersendiri, sehingga orang memilih diam dalam setiap kondisi dan berbicara ketika memiliki hak untuk itu.

Ketika kita melakukan kesalahan kepada seseorang–keluarga, saudara, kekasih, sahabat dan teman–tentu akan ada beragam ekspresi dari kesalahan yang kita lakukan. Marah, kesal, jengkel, hinaan, kritikan pedas, dan bentakan dapat dipastikan akan terlontar dari mulut mereka kepada kita untuk mengirimkan sinyal bahwa apa yang kita perbuat adalah salah. Tidak selamanya ekspresi kekesalan berbentuk seperti itu, ada kalanya mereka kesal, diam dan berubah sikap sampai periode tertentu, seolah memberikan pesan : cari sendiri kesalahanmu, dan jangan ganggu aku.

Diam pada kasus seperti ini adalah kasus yang luar biasa. Karena mereka, yang berbuat kesalahan, akan sulit sekali menerka  kesalahan apa yang telah mereka perbuat. Mungkin minta maaf telah terlontar dari mulut pesalah, tapi sikap diam dari mereka yang kita harapkan bersua untuk memberi tahu letak kesalahan kita–terdiam membisu, berubah sikap tidak menentu– hanya membuat tanda tanya besar dalam kepala si salah.

Yang salah tetaplah salah dan apakah kesalahan harus dibalas dengan kebingungan. Apakah mulut yang terpasang di kepala kita telah kehilangan ototnya untuk bergerak? Kesalahan yang berbalas diam hanya akan menimbun kesalahan tersebut menjadi besi rongsok yang tiada guna.

Keterbukaan antara 2 manusia dalam mengkoreksi kelakuan dalam hidup adalah sebuah kewajiban. Komunikasi harus  terjalin apapun permasalahannya, tulus menyatakan rasa bersalah dan jujur memberi letak kesalahan akan menempati posisi tertinggi dari sebuah sosialisasi manusia.

Keterbukaan dalam mengkoreksi masalah, dan ketulusan dalam meminta maaf atas kesalahan akan menjadikan kesalahan sebagai benda berharga yang berguna bagi kehidupan sosial berikutnya. Layaknya emas yang semakin mahal seiring berjalannya waktu.

Sikap diam, dan kebekuan dalam mengkoreksi kesalahan orang lain, hanya akan menjadikan kesalahan menjadi beban yang terus terpikul dalam kehidupan sosial. Seperti besi rongsok yang karat dimakan waktu. Tiada guna hanya mencemari.

Pada akhirnya saya berkesimpulan : Diam itu bukan emas, jika diam hanya membiarkan.

Ferry Fadillah, Denpasar, 25 Mei 2010

Haturan maaf bagi mereka yang tersakiti hatinya

sumber gambar : www.detikfinance.com

, ,

2 Comments

Ujian Hanya Mengejar Nilai

oleh Ferry Fadillah

"ujian"

Ujian adalah sebuah ritual yang wajib ditempuh siswa dalam periode tertentu guna menilai kemampuan akademik yang telah diperoleh dari lembaga pendidikan. Bentuknya bisa beragam, tertulis maupun lisan.

Sepertinya, semua lembaga pendidikan di manapun saat ini telah meyakini bahwa ujian sebagai satu-satunya jalan untuk memperoleh ukuran kemampuan siswa dalam bidang akademik.

Penyelenggara SMP akan mengadakan ujian seleksi masuk bagi siswa SD yang ingin melanjutkan sekolahnya. Perguruan Tinggi akan mengadakan Ujian Saringan Masuk untuk menyeleksi siswa SMA yang mendaftar ke kampusnya. Semua memerlukan ujian, dan muara dari semua ujian adalah mendapatkan nilai yang sempurna.

Secara normatif nilai sempurna didapat dengan cara belajar tekun dan konsisten, tapi pada pelaksanaanya terkadang proses belajar seperti ini di nomor dua kan oleh mereka yang terbiasa mendewakan uang dan relasi khusus. Sudah bukan barang aneh jika kita mendengar seorang siswa yang membayar sekian rupiah untuk masuk sekolah tertentu, sudah lazim jika kita dengar ada siswa yang memanipulasi sertifikat prestasi untuk mendapatkan sekolah idaman, dan sudah biasa jika anak guru selalu mendapat jatah bersekolah ditempat kerjanya.

Karena yang menjadi tolak ukur keberhasilan siswa adalah nilai yang sifatnya material (matter=benda), maka tidaklah heran jika benda-benda pada zaman seperti ini seolah telah menjadi dewa yang diagungkan. Nilai didewakan, rupiah didewakan, rumah mewah didewakan, dan semua benda duniawi yang akan musnah pada akhirnya telah menjadi dewa dalam kehidupan semua orang.

Sejauh apapun cita-cita sebuah bangsa untuk melihat birokrasi di negaranya bersih dari korupsi akan pudar jika ternyata nilai material masih menjadi dewa dalam semua segi kehidupan. Padahal ada sebuah nilai yang terlupakan, nilai yang menjadi penentu bersihnya sebuah sistem birokrasi, dan kejayaan sebuah bangsa yaitu nilai kereligiusan.

Nilai Kereligiusan

Sifatnya abstrak, ghaib dan berada dalam hati manusia. Sulit memang untuk melakukan penilaian ini, karena manusia diberikan karunia untuk bermuka dua di depan orang. Kadang menjadi baik, kadang menjadi buruk.

Tapi jika kita benar-benar mengusahakan penilaian ini, maka bentuk-bentuk pedewaan kepada benda akan berangsur-angsur hilang dan musnah. Pada gilirannya kehidupan pendidikan akan dipenuhi dengan keriligiusan dengan kehidupan berorinetasi akherat.

Orientasi akherat disini bukan berarti seorang siswa melupakan kehidupannya di dunia, tetapi seorang siswa dalam bersikap selalu mengingat bahwa dirinya hanya hidup sekali dan nanti akan mati. Pola pikir seperti inilah yang akan merangsang siswa untuk lebih produktif dalam berkarya bagi kesejahteraan masyarakat dan berhati-hati dalam segala tindakan.

Nilai keriligiusan hanya dapat ditanam dan dinilai oleh guru yang bernilai religius pula. Guru yang melihat siswanya dengan penuh kekhawatiran akan masa depannya, sehingga berusaha seoptimal mungkin mengubah akhlaknya yang, mungkin, jahiliyah menjadi ilahiyah.

Nilai-nilai kerilgiusan saat ini biasanya berbentuk abjad dalam buku raport. Dan itu sama sekali tidak mewakili sikap seorang siswa selama menempuh pendidikan. Alangkah baiknya penilaian berbentuk deskripsi ringan mengenai sikap seorang siswa selama menempuh pendidikan, dan deskripsi ini hanya dapat terwujud apabila guru benar-benar perhatian kepada siswanya.

Dari Guru yang mengajar dari hati, maka hadir pula siswa yang bekerja dengan hati, karena buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.

sumber gambar : www.matanews.com

, ,

1 Comment

Hari Raya Kuningan di Bali

oleh Ferry Fadillah

Asap dupa pagi ini mengepul lebih banyak dari biasanya, masyarakat sudah berdandan rapi memakai baju adat sedari pagi.

Ya, Hari ini hari besar umat Hindu, Hari Kuningan..

Jalanan menjadi sepi, masyarakat bersembahyang kepada Sang Hyang Widhi

Tuhan pencipta segala dewa dan alam semsesta

***

Saya terduduk dalam diam, berkaca dalam hati, akan kesungguhan diri kepada Hyang Maha Tunggal..

Hyang yang tak terwakilkan yang menguasai segala alam

Zat yang tidak maujud tapi niscaya ada

sudahkah diri berpasrah diri dan bersungguh dalam kehambaan terhadap Gusti Alloh, Hyang Yang Maha Tunggal..

Ibadah berwujud khusuk tapi tersimpan keinginan dunia

Amalan berwujud ikhlas tapi tersimpan keinginan dunia

Hakekat dari semua ibadah yang begitu menawarkan terkabulnya doa itu apa?

pengabdian sejadi-jadinya

pengabdian sejadi-jadinya kepada Gusti Alloh, Sang Hyang Yang Maha Tunggal

Leave a comment

Jayakan Indonesia dengan Budaya

"Indonesia, coba bayangkan seandainya singapura menjadi kecamatan kita, malaysia dan filipina menjadi provinsi"

Hari ini, seperti biasanya, saya berkunjung ke salah satu kostan teman saya. Awalnya saya berniat untuk mengajak dia sarapan, tetapi berhubung dia sedang menonton sesuatu, saya pun menunda rencana sarapansaya. Rasa penasaran pun muncul terhadap apa yang dia tonton, ternyata ia sedang menonton sebuah acara entertainment korea(kata teman saya itu adalah band 2PM, After School dan SNSD), disana ditampilkan artis-artis terkemuka dari republik tersebut, pakaian sexy, cara bergaul dengan lawan jenis yang terlalu, tarian-tarian yang mengundang nafsu sexual, musiknya yang patah-patah dan semua hal sangat mencerminkan budaya liberal(kebebasan). Lantas saya berfikir, dimanakah korea? Yang ada hanyalah wajah putih orang korea, nama-nama korea (meskipun sebagian sudah berganti nama menjadi ke-baratan : stefani, steven, dll), dan basasa koreanya.

Jika kita melihat perang di semenanjung korea, antara Korea Utara yang didukung oleh kekuatan Komunis Uni Soviet, dan Korea Selatan yang didukung oleh kekuatan Demokrasi Liberal Amerika, tentu kita bisa menerka jawabannya. Dari dulu Korea Selatan adalah mitra strategis Amerika Serikat untuk membendung pengaruh komunis di Semenanjung Korea. Seorang yang bergaul dengan pedagang parfum maka akan terbawa berbau parfum juga. Inilah yang telah terjadi pada Korea, kerjasama dalam bidang militer tampaknya telah dilanjutkan dengan kerjasama dalam bidang kebudayaan, nahasnya budaya Amerika seolah telah merasuk ke dalam unsur-unsur budaya Korea, dan Amerika sendiri tetap menjadi Amerika dengan cara mereka sendiri. Tidak heran jika cara pandang, cara berpakaian, cara bergaul, cara belajar dan sebagainya telah teracuni oleh budaya liberal, dan saya yakin masih ada beberapa budaya mereka(korea) yang mengakar erat, tapi itu tidak seberapa.

Sekarang mari tengok negeri tercinta ini. Dahulu, sebelum masa penjajahan, kita pernah menjadi bangsa yang disegani oleh bangsa lain. Bangsa kita maju, pendidikan (untuk seukuran zaman itu) amatlah berkembang. Tapi itu dulu sekali, setelah Belanda dan Jepang menginvansi Indonesia, negara kita mulai mengalami keterbelakangan pendidikan, banyak kerajaan-kerajaan yang dipecah-pecah dan dieksploitasi kekayaan alamnya. Tidak heran jika wilayah negara kita hanyalah sebesar yang terlihat di peta sekarang ini.

Setelah kemerdekaan, kita memiliki seorang pemimpin yang begitu menggalakan BERDIKARI. Berdiri di atas kaki sendiri. Pemimpin yang dengan tegas mengatakan, go to hell with your aid kepada Amerika, Pemimpin yang menentang pembentukan begara boneka malaysia, dan pemimpin yang dengan tegas tidak berpihak kepada blok barat dan timur, sehingga membentuk sebuah Gerakan Non Blok yang anggotanya terdiri dari sejumlah negara Asia dan Afrika serta Indonesia sebagai peloporya. Tapi hari ini, hari ketika saya menulis ini, Indonesia seolah telah hilang keperkasaannya, seperti Garuda yang kehilangan sayapnya.

Sejarah kita tentu sangat membanggakan dan menyulut semangat kebangsaan dalam diri. Tapi sejarah adalah sejarah, harus diambil pelajarannya bukan dipelototi dan dibangga-banggakan.

***

"gambar ini saya ambil dari salah satu televisi swasta(pagi hari), dengan perubahan seperlunya, dapat dilihat muda-mudi yang bercampur baur dalam kesenangan dan melodi"

Sekarang ini, pemuda–sebagai agent of change–telah hampir semuanya terpengaruh oleh budaya liberal. Kita tengok saja acara-acara di televisi, setiap hari dipenuhi oleh acara-acara musik yang tiada hentinya, dari pagi sampai malam selalu saja ada acara bertemakan musik, penonton dan pemainnya didominasi oleh pemuda. Tak apalah jika acara musik tersebut bertemakan kebudayaan Indonesia, tapi ini, begitu terbuka, begitu bebas dan liar (beberapa).

Anda tahu acara yang menjadi ajang pencarian jodoh di salah satu stasion TV swasta? Mungkin setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda, tapi saya, jika melihat acara itu selalu bergumam dalam hati : Dimana letak kesucian sebuah cinta? Itukah dinamakan cinta, terobral sedemikian rupa seperti barang di pasar. Ah, entahlah, tapi acara semacam itu, menurut saya, bukanlah cipta bangsa kita, bukan! Pasti ada camput tangan budaya liberal(kebebasan).

Jika kita perhatikan kelompok pemuda agamis–saya perhatikan ini dari lingkungan pendidikan saya–banyak dari mereka yang tidak ramah budaya. Cara-cara mereka berpakain, berbicara dan berbahasa sudah sangat mencirikan budaya lain. Padahal kita harus bisa membedakan mana Agama dan mana Budaya. Ketika kita beragama di Indonesia maka pergunakanlah Budaya Indonesia. Saya jadi ingat sebuah konsesus Adat Basandi Syarak, dan Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan Syariat, Syariat berdasrkan Al-Quran) yang berasal dari ranah minang. Menurut saya, jika hal ini dipraktikan dalam kehidupan beragama maka akan menciptakan sebuah cara beragama yang ramah terhadap budaya bangsa ini, sehingga bangsa-bangsa lain akan melihat kita sebagai bangsa yang berbeda yang tidak mudah dipengaruhi asing (dalam hal kebudayaan).

***

"Gamelan, jika dimainkan akan mengkasilkan irama yang indah, nikmatilah alunan gamelan sambil menikmati manisnya teh asli indonesia"

Ketika saya menulis ini, saya mendengarkan alunan gamelan sunda. Rasanya begitu damai. Iramanya indah, dan ramah terhadap telinga. Saya merasakan ada ruh dalam alunan gamelan, ada ketenangan dan kedamaian dalam irama yang ditabuh para pemainnya.

Pada saat yang sama, diluar sana, penghuni kost lain sedang memasang musik Jepang dan Barat dengan keras. Nadanya menghentak-hentak, sesekali pendengarnya berteriak mengikuti lirik lagu tersebut. Saya pribadi merasakan kesemerawutan jiwa ketika mendengarnya, tidak ada ruh, tidak ada kedamaian, yang tercipta hanya anggukan kepala semu.

Tiba-tiba saya teringat sejarah masa lampau. Dimana para pelajar indonesia di zaman penjajahan, masih menggunakan pakaian adat ketika bersekolah. Unik memang, dan mungkin jika itu terjadi sekarang, banyak yang akan tertawa, karena memang zaman suda berubah, dan ini sudah bukan zamannya lagi, mungkin. Tapi jika boleh mengandai-andai, apalah salahnya jika hal tersebut terjadi, toh jika semua sudah sepakat tidak akan ada lagi yang mentertawakan kita. Dan kita bisa berbicara kepada bangsa lain, dengan lantang dan bangga : Ini lah kita!

"sekolah rakyat/tentu tidak seperti ini keadaan yang saya inginkan tetapi di-reform sedemikian rupa dan disesuaikan dengan zaman"

Dalam hati, saya ingin sekali melihat Indonesia dengan kekuatan budayanya yang sangat mengakar kuat, sehingga bangsa lain segan dan terpesona terhadap kita. Akan tetapi, semua itu hanya akan terwujud jika kita benar-benar memiliki kecintaan terhadap budaya karuhun (nenek moyang;bahasa sunda)kita, serta mempraktikannya dan menyebarkan kecintaan tersebut kepada semua orang yang kita kenal. Tentu harus diingat bahwa pengamalan budaya, haruslah berdasarkan Agama, jika tidak kita akan terjebak kepada syirik (mempersekutukan Tuhan), yang merupakan salah satu dosa yang tidak terampunkan.

Jika kita memulai hal tersebut (kecintaan, paraktik dan penyebaran) hari ini, dari diri sendiri dan dari lingkungan terkecil, Insya Allah, Indonesia akan Jaya kembali. Garuda akan mengepakan sayapnya dan mengabarkan keagungan negara kita kepada dunia. Saat itu juga kita akan tersenyum bangga dan bersyukur kepada Tuhan.

Ferry Fadillah, Denpasar, 18 Mei 2010

Bagi mereka yang peduli pada masa depan negeri ini.

sumber gambar :
1. Peta Indonesia : http://voiceofmuslimahbekasi.files.wordpress.com/2009/10/eastindies.jpg
2. muda-mudi : koleksi pribadi
3. Gamelan :http://anakdewa46.files.wordpress.com/2008/04/2007-07-0762-gamelan2.jpg
4. Sekolah Rakyat : http://farm3.static.flickr.com/2366/1705432558_2b79469f5c.jpg

Leave a comment

Pemimpin Ideal bagi NKRI

Oleh Ferry Fadillah

Indonesia tanah tanah air beta

Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

S’lalu dipuja-puja bangsa

Begitulah sepenggal lagu dengan judul Indonesia Pusaka, yang tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Lagu ini biasa terdengar pada upacara bendera di pagi hari, pada saat tenggang waktu pergantian acara di RRI, dan pada saat anak-anak TK lantunkan sebelum memulai pelajaran.

Dalam penggalan lagu di atas ada sebuah realita bahwa dari dahulu hingga sekarang negara kita selalu di puji oleh bebagai bangsa. Mengapa bisa? Lihat saja negara ini, minyaknya melimpah ruah, emas bertebaran membentuk bukit dan gunung, timah berserakan, harta karun berjatuhan di laut jawa, pohon-pohon besar tumbuh liar di hutan, hewan-hewan banyak yang gemuk dan berbulu lebat, dan panorama alam yang indah bagai di negeri para dewa.

Tapi rakyat banyak yang sengsara, ada apa ini?

Akhir-akhir ini saya baru sadar bahwa yang bangsa lain puji adalah negara kita, bukan warga negaranya! Jadi jangan heran jika TKI kita diperlakukan semena-mena di negara lain, janganlah terpukau jika pekerja indonesia dihina oleh pengusaha asing, jangan berkerut dahi jika tetangga kita mencaplok pulau yang kaya minyak, dan jangan uring-uringan jika gunung emas kita diangkut oleh neo- kompeni.

Pemimpin Ideal

"Istana Bogor yang mewah dan wah"

Pemimpin seperti Ir. Soekarno, yang berani meneriakan go to hell with your aid kepada Amerika, adalah langka di negeri ini. Sosok pemimpin yang benar-benar ingin menjadikan indonesia BERDIKARI tanpa ada intervensi asing memang ada, tapi sulit untuk ditemukan. Langka bukan berarti tidak ada, bukan? Tapi tetap saja Pak Karno masih memiliki kekurangan dalam memimpin, dan begitupun manusia, tidak akan ada yang sempurna.

Saya, sebagai rakyat biasa, sangat memimpikan pemimpin yang begitu memperhatikan rakyat dibanding gedung-gedung pemerintahan yang begitu megah, kendaraan-kendaraan raja dan permaisuri pemerintah yang begitu mengkilap, dan pertemuan-pertemuan elit politik yang begitu mahal. Pemimpin yang memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, buka keindahan halaman negara ini (tugu-tugu, istana, gedung-gedung dll), padahal rakyatnya menjerit dalam kesusahan.

Agar anda memiliki mimpi yang sama seperti saya marilah simak kisah di bawah ini.

Khalifah Umar

Kisah pertama :

Diceritakan dari Anas bin Malik, bahwa perut Umar bin Khatab pada suatu saat berbunyi, lantaran beliau hanya memakan minyak pada musim paceklik saat itu. Sebelumnya, Umar memang telah mengharamkan mentega untuk dirinya. Beliau tidak mau memakannya, karena beranggapan bahwa makan itu tergolong mewah.

“Engkau berbunyi karena tidak terisi. Maafkan aku, tak ada sesuatu untukmu sebelum masyarakat hidup makmur,” kata Khalifah sambil mengetuk perutnya yang kosong.

Kisah kedua :

Diceritakan, berita tentang keadilan dan kebijaksanaan Umar dalam memimpin sautu negara sampai ketelinga Kaisar Romawi. Maka, dia mengutus seorang pengawal pergi ke Madinah guna membuktikan kebenaran berita tersebut. Dan ingin mengetahui lebih dalam lagi bagaimana cara Umar dalam memerintah, sejauh mana kedekatannya dengan masyarakat, serta sejauh apa cinta rakyat kepadanya.

Ketika memasuki Madinah, utusan itu bertanya kepada seseorang, “mana rajamu?”

“Kami tidak mempunyai raja. Yang kami miliki adalah amir. Pada saat seperti ini, biasanya beliau sedang berkeliling madinah,” jawab orang itu.

Tanpa menunggu lebih lama, pengawal tersebut langsung berjalan mencari Umar. Dan ternyata, sang Khafilah sedang tidur dibawah terik matahari beralaskan pasir. Ia menjadikan tongkatnya sebagai bantal penyangga kepala, dan terlihat keringat mengucur dari keningnya.

Mendapati kenyataan diahadapannya, hatinya hancur, “Beginikah keadaan seorang lelaki yang kekuasannya terbentang demikian luasnya, seorang raja yang ditakuti oleh seluruh penguasa di segala penjuru. Engkau telah berbuat adil wahai Umar sampai-sampai engkau merasa aman tidur dimana saja sesuka hati. Aku bersaksi bahwa agamamu adalah benar. Seandainya aku bukan seorang utusan, pasti aku sudah memeluk agamamu. Aku akan kembali dahulu dan mengabarkan apa yang aku saksikan pada Kaisar Romawi, dan setelah itu, aku akan masuk Islam, “ ucap utusan itu.

***

Coba anda bayangkan jika Indonesia dipimpin oleh sesorang yang berkepribadian seperti Khalifah Umar. Cukup bayangkan, tidak perlu dicari! Sulit menurut saya jika harus mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Marilah kita berdoa dan kembali bermimpi..

"Masih banyak saudara kita tinggal di sini"

2 buah kisah di atas dikutip dari buku karangan Ustadz Ahmad Al-Habsyi yang berjudul Kisah-kisah Muslim yang kaya dan sukses.
sumber gambar : http://www.matanews.com dan www.primaironline.com

Leave a comment

Senyum itu dari hati

"Selalu Tersenyum"

oleh Ferry Fadillah

Beberapa waktu yang lalu, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Museum Bali. Arsitekturnya yang kental budaya dan kaya dengan nilai filosofis telah memikat hati saya–dan tentu semua pengunjung juga. Di sebuah taman, tepat di depan gedung pameran, ada 2 buah patung budha berdiri kokoh dengan wajah ramah sambil tersenyum. Senyum yang terukir dalam wajah mereka mendamaikan hati saya, karena baru kali ini saya melihat patung yang tersenyum seperti itu di dalam museum tersebut.

***

Karuhun (nenek moyang) maupun orang tua kita biasanya mengajarkan untuk tersenyum jika bertemu orang yang lebih tua, sebaya maupun yang lebih muda. Nilai-nilai inilah yang terikat kuat secara emosional dalam diri bangsa indonesia secara turun  menurun, sehingga senyum bukan lagi barang yang aneh di negeri ini.

Agama Islam pun mengajarkan keutamaan senyum. Muhammad saw sebagai pribadi yang menjadi suri tauladan umat islam seluruh dunia dikenal sebagai sosok yang ramah dan murah senyum. Tentu senyum beliau bukanlah senyum yang dibuat-buat tetapi merupakan cerminan dari hati yang begitu bersih dan suci. Hal ini bisa disimak dalam kisah berikut.

Suatu ketika Muhammad saw didatangi seorang Arab Badui, dengan serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Muhammad saw, sehingga leher beliau membekas merah. Orang Badui itu bersuara keras, “Wahai Muhammad, perintahkan sahabatmu memberikan harta dari Baitul Maal!” Muhammad SAW menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta dari baitul maal kepadanya.”

Senyum dari hati bukan dari otot

Patung yang saya deskripsikan di awal paragrap saja telah memberikan sebuah kedamaian dalam hati, padahal dia tidak punya hati alias benda mati. Apalagi manusia yang jelas-jelas memiliki hati.

Hati setiap orang memang sebuah misteri yang tak berujung. Jutaan wajah manusia di seluruh dunia tentu memiliki pula jutaan hati dalam dirinya, dan jutaan pikiran-pikiran yang hanya akan diketahui oleh diri mereka sendiri. Ketika seseorang tersenyum, bukan berarti ia suka terhadap kita begitu pula ketika  seseorang cemberut, bukan berarti ia benci kepada kita.

Karena kita tidak pernah bisa menebak hati orang, bukan berarti kita tidak perlu tersenyum kepada orang lain. Senyum itu sebuah keharusan mutlak jika ingin menjalin hubungan yang damai dengan seseorang.

Senyum kepada orang lain berarti kita menyatakan bahwa keberadaan orang lain tersebut adalah positif bagi kita. Dengan memulai hal ini, maka kita telah membuka gerbang persahabatan yang luas dengan banyak orang. Karena tentu semua orang senang bersahabat dengan orang ramah dan murah senyum, bukan?

Dan ingat tersenyumlah dari hati yang ikhlas, bukan senyum palsu untuk tujuan duniawi semata. Karena hati seseorang akan menentukan kualitas senyum yang dihasilkan. Makin bersih dari segala maksud-maksud jahat, maka senyum kita akan menjadi pendamai hati orang-orang disekitar kita.

Leave a comment

Belajar Budaya Nusantara : Museum Bali

oleh Ferry Fadillah

Pulau Dewata (Bali) merupakan salah satu tujuan wisata favorit. Keindahan alamnya telah memikat hati banyak pelancong dalam dan luar negeri. Kebudayaannya pun tak kalah menarik, kita masih bisa menyaksikan kekentalan budaya bali mulai dari pedesaan sampai perkotaan.

Jika anda tertarik dengan kebudayaan bali. Museum Bali merupakan tempat yang cocok untuk menghilangkan rasa penasaran anda. Museum ini berada di Jalan Mayor Wisnu, Kota Denpasar tepat di samping Lapangan Puputan Badung.

Tiket masuknya pun murah, hanya dengan merogoh kocek kurang dari Rp 5.000,00 anda dapat berkeliling sepuasnya di dalam museum ini. Ada juga Guide yang menarik tarif Rp 100.000, 00 untuk memberikan penjelasan seputar budaya bali.

Museum ini didirikan oleh WFJ Kroon sebagai Asisten Residen Bali Selatan pada tahun 1910. Bangunannya memadukan arsitektur pure (tempat ibadah) dan puri (tempat tinggal raja). Terdapat 3 gedung yang menyimpan benda-benda bersejarah di museum ini.

Gedung Tabanan menyimpan koleksi topeng, keris, barong, dan wayang serta didepannya berdiri tempat pemandian raja yang umurnya sudah ratusan tahun.

Gedung Karang Asem yang arsitekturnya mencirikan bale menghadap raja menyimpan alat upacara panca yadaya.

Gedung Buleleng yang ukurannya lebih kecil, menyimpan koleksi kain-kain khas bali seperti sarung hitam putih, songket bali dan alat-alat menenun.

Berikut saya lampirkan foto-foto di museum bali.

"patung dewa-dewa/paling atas adalah acintya sebagai Sang Hyang Widihi"

“suasana di dalam museum bali”
"gedung buleleng"
“gedung buleleng”

“tempat pemandian raja/usianya sudah ratusan tahun”
"Gedung Buleleng"
“Gedung Buleleng”
“kolam pemandian raja/ada arca ganesa, dahulu mata air masih mengalir kini dialih fungsikan menjadi kolam ikan”

“Barong Landung/digunakan untuk mengusir roh jahat”
“Topeng ratusan tahun/mengandung kekuatan ghaib”

“keris bali/makin banyak lekuk makin tinggi ilmunya”

“Barong/ disucikan satu tahun sekali pada saat upacara melastri”

“baju adat pengantin”
"topeng calon arang"

"topeng calon arang"

sumber foto : dokumen pribadi

, , ,

1 Comment

Bunga Angka 8 Mekar : Adakah Keberuntungan?

oleh Ferry Fadillah

bunga angka 8

Setiap orang tentu mempunyai masalah dalam hidupnya. Bentuknya beragam, bisa masalah akademis, masalah keluarga, masalah dengan pacar atau masalah dengan teman. Tetapi dari berbagai macam masalah, ada satu  masalah yang sering diabaikan oleh kita, yaitu bagaimana menyelesaikan permasalahan itu.

***

Kemarin malam, saya sedang sendiri di kamar kost. Hp saya berdering, sms dari ibu saya rupanya.

“A’, pohon yang bunganya angka 8 emangnya keberuntungan?”, tanyanya.

“Iya, mah. Emangnya kenapa?”, balas ku segera.

Setelah 5 menit berlalu, beliau pun menjawab sms saya, “Sekarang berbunga A. Mudah-mudahan keberuntungan, urusan papah cepet selesai. Bid’ah gak?”

Saya tersenyum membaca sms tersebut, dan segera saja membalas, “ Syirik malah, mah. Hahaha”

“Yeee, Aa gimana sich”, balasnya dengan sedikit kecewa

Aku membalas segera, “Mah, itu bunga mau berbungan mau kaga. Keputusan ya keputusan. Yang penting kita berdoa ke Tuhan saja”

Ia membalas singkat, “Ya berdoa sudah pasti lah”

***

Dulu, sebelum saya merantau ke Pulau Dewata, saya sering sekali merawat tanaman, mengkoleksinya, memangkas cabang yang hilang arah, memberi gizi yang terbaik bagi mereka, dan membersihkannya dari hama. Tapi entahlah nasib mereka semua saat saya sudah tidak dapat mengurusnya.

Kabar terakhir yang saya dengar adalah mereka berbunga amat indah, banyak dan berbentuk angka 8.

Memang ada kepercayaan bahwa angka 8 merupakan angka keberuntungan.

Mekarnya bunga tersebut (Euphorbia sp) bersamaan dengan permasalahan yang menimpa keluarga kami. Tentu bagi orang yang sedang dilanda masalah, pikiran kalut, dan stress sebuah optimisme amat dibutuhkan demi ketenangan jiwa.

Tapi, berbunga atau tidak berbunga permasalahan akan tetap ada. Apapun bentuk bunganya, apapun jenis bunganya. Sehingga yang hanya dapat saya lakukan adalah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yang tiada bisa diwakilkan.

Dan semoga saja bunga-bunga tersebut bertasbih dan berdoa kepada Tuhan agar permasalahan kami cepat selesai.

Umpama hewan yang membalas jasa tuannya.

.

sumber gambar : klik disini.

1 Comment