Archive for November, 2012

Teater

Mencoba sesuatu yang baru merupakan kesenangan yang tak terhingga bagi saya. Apalagi, selama ini , lima kali dalam seminggu, saya selalu melakukan rutinitas membosankan yang saya yakini dapat melumpuhkan daya imajinasi dan kebebasan berpikir.

Oleh karena itu, siang kemarin (24/11), saya berkesempatan untuk menonton kompetisi pertunjukan teater di Gedung Dharma Wanita Lumintang, Denpasar. Kompetisi yang bertajuk “4th Equilibrium Theatre Competition” ini merupakan kompetisi teater SMA tingkat Nasional yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Tidak kalah gengsi, kompetisi ini digelar untuk memperebutkan piala Kementerian dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Siang itu saya baru sempat hadir pukul 14.00 WITA. Atmosfernya berbeda sekali. Di sana-sini yang saya lihat anak SMA dengan gayanya yang muda. Panitianya pun muda-muda. Hal yang jarang saya temukan selama bekerja dua tahun di Pulau Dewata.

Begitu masuk ke dalam gedung lampu sudah padam. Ternyata pertunjukan sudah setengah berjalan. Dengan santai saya berjalan ke depan dan duduk di lantai. Panas, sumpek, bau itulah yang membuat saya tidak merasa nyaman. Namun, cerita yang membingungkan di depan panggung  membuat saya rela untuk berdiam diri dan menerka-nerka apa pesan yang akan di sampaikan para tokoh.

“Teater”

Setiap SMA dengan komunitas teaternya unjuk gigi satu persatu. Waktu itu hanya ada tiga pertunjukan teater yang saya tonton. Yang paling berkesan adalah pertunjukan terakhir. Pertunjukan yang berjudul Out karya Putu Wijaya dibawakan oleh komunitas teater Angin dari Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Denpasar. Dengan latar tempat kantor kepala lingkungan/desa. Teater Angin mampu menyuguhkan sebuah pertunjukan seni yang kaya makna namun tidak terjebak dalam monotonisme. Buktinya banyak penonton tertawa terkekeh karena lelaku para tokoh yang sedikit nakal. Di lain sisi, mereka dapat memotret kelakuan aparat desa yang ada-ada saja walaupun tidak dengan bahasa sarkasme.

***

Teater menurut beberapa budayawan merupakan wadah dimana permainan di rayakan dan kepura-puraan dipertontonkan. Di sana para tokoh dituntut untuk menjadi orang lain selama pertunjukan, ber-gesture, bersuara bahkan berjiwa seperti orang lain. Akan tetapi hal ini tidak menjadikan para pemain teater berubah sifatnya –menjadi orang lain dalam arti sesungguhnya.

Saya hargai, untuk menjadi orang lain berarti dituntut kemauan keras untuk berempati terhadap jiwa orang lain. Dalam lingkup dunia seni teater berarti pemain harus bisa mendalami jiwa sang tokoh. Ketidakmampuannya untuk manunggal dengan sang tokoh akan mengakibatkan datarnya pertunjukan.

Oleh karena itu, saya yakin bahwa dari mereka –para seniman teater- negeri ini akan dipenuhi pemuda-pemudi yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Mereka sudah terbiasa untuk berempati, menyatu dengan jiwa para tokoh. Sehingga mungkin saja mereka bisa ‘menyatu’ dengan penderitaan para kelompok yang termarjinalkan di negeri ini. Dari kepedulian muncul perubahan. Dan itu dimulai dari sebuah panggung teater. Semoga.

Ferry Fadillah
25 November 202
 
sumber gambar :www. whutzups.net

, , , , , , ,

2 Comments

Secarik Syair pada Gerobak Bakso : Kepedulian Budaya Sunda Seorang Anonim

Sudah dua tahun lebih saya tinggal di Bali. Berinteraksi dan bersinggungan dengan budaya dan masyarakat sekitar. Dengan menghilangkan segala ego budaya asli saya -sunda- agar diperoleh kesan yang objektif dengan jujur saya katakan bahwa budaya Bali begitu beragam, berakar, berjiwa dan bernilai transenden.

Kekecewaan saya muncul ketika mendatangi kota kelahiran, Bandung. Kota yang dikoar-koarkan sebagai puseur budaya Pasundan ini telah berubah beberapa tahun terakhir. Menjadi sebuah kota metropolitan, julangan bangunan mega-struktur dimana-mana, persinggungan antar budayanya pun semakin beragam. Di tengah segala perubahan itu, saya perhatikan –berdasarkan pengalaman saya bergaul dengan kaula muda kontemporer- budaya sunda mulai terseok-seok mencari akar budayanya dan terengah-engah bergaul dalam aktualitas.

Dari percakapan-percakapan sederhana di warung kopi, cafe atau taman kota, mayoritas pemuda Bandung tidak tertarik untuk memperbincangkan budaya Sunda. Jangankan untuk sekedar diskusi budaya, mereka yang mayoritas asli Sunda atau campuran Sunda yang lahir di Bandung pun sering menghindari menggunakan bahasa Sunda yang baik dan benar. Tampaknya ragam bahasa gue dan elo lebih memikat. Lebih-lebih media populer semacam televisi dan radio dengan giat menyiarkan ragam bahasa ini.

Dari hal kecil ini saja kita sudah bisa memproyeksikan, akan menjadi apa budaya Sunda di masa depan? Jika hal-hal kecil saja, berupa alam pikir dan pola ucap yang sudah tidak nyunda, bagaimana nanti kita bisa mencari pemimpin Jawa Barat (sekelas Gubernur, Walikota, Bupati dsb) yang nyunda. Kini pemimpin –khususnya di tatar sunda- lebih ditekankan pada aspek nyantri dan nyakola saja. Padahal, hemat saya, nyantri, nyakola, dan nyunda adalah entitas yang tidak dapat dipisahkan, sebuah tritunggal kepemimpinan.

Pertanyaannya kemudian, setelah segala paparan saya di atas adalah, apakah masih ada orang yang peduli  dengan budaya Sunda? Apakah kepedulian sunda hanya terbatas pada orang yang berlabel budayawan sunda, aktivis ormas kasundaan atau orang desa di wilayah terpencil sana?

Jujur, saya tidak memiliki data-data statistik atau hasil penelitian kaya metode untuk menjawab semua pertanyaan ini. Akan tetapi ada sebuah syair yang membuat saya tergugah untuk menulis tulisan ini, memotivasi saya kembali untuk mengkomunikasikan Sunda kepada dunia, membangunkan saya dari keputusasaan akan hilangnya minat untuk ber-Sunda ria.

***

Sore itu, ketika kota Bandung diguyur hujan lebat, saya berteduh di sebuah kios rokok. Letaknya di Jalan Ciliwung. Pemilik kios berjualan bakso tepat di samping kios rokoknya. Sekilas tidak ada yang aneh dengan gerobak bakso itu. Namun ada sebuah kertas yang menarik saya. Kertas itu ditempel di bagian bawah gerobak. Berisi syair yang ditulis dengan tulisan tangan. Berikut isi syair itu :

Hitam kelam, hiasan langit mencekam

Cakrawala di tengah kota Pasundan.

Teriak menghempas keheningan,

Samar terdengar deru perahu

Pikir memasuki setiap lorong jiwa

Kesenangan, segenggam cemas

Akan hilangnya tradisi tanah lahir,

Kekecewaan menusuk dalam hati

Seorang Budaya. Simbol keserakahan

Di balik topeng-topeng bertahta!

Sudikah engkau wahai anak adam

Melihat semua harapan dan

Kesenangan yang dirampas dari

Tangan-tangan kecil yang menadah?

Titik balik menjelma

Bangkit! Bangkit! Pasundanku..

Syair ini benar-benar membuat saya merenung dan berpikir, sudahkah saya memajukan tanah pasundan? Tidak ingin terkurung dalam pikiran saya sendiri, segera saya tanyakan penulis syair di atas kepada pemilik kios. Sayang, jawabannya tidak tahu. Setahu beliau, penulis adalah seorang wanita, bekerja di cafe sebelah.

Ingin rasanya berbincang dengan penulis syair di atas. Jika memang ia memiliki keprihatinan yang sama dengan saya, berarti saya memiliki alasan untuk tetap peduli terhadap budaya Sunda. Karena saya tidak berjalan sendiri. Banyak tangan-tangan kecil yang peduli dengan keberadaan budaya Sunda namun mereka bersembunyi, tidak muncul dalam pergumulan organisasi-organisasi kebudayaan, perjuangan mereka bersifat lokal, dimulai dari diri sendiri kemudian keluarga lalu teman-teman terdekat.

Fenomena ini bukanlah hal yang harus disesalkan. Mungkin saja pada tahap berikutnya mereka akan bergerak bersama menuju perubahan. Berorganisasi dan bergotong-royong mengusik nurani orang Sunda yang mulai tidak nyunda.

Hal posotif yang dapat saya simpulkan adalah bawah –seperti syair lagu Imagine karya John Lenon- You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one, I hope someday you’ll join us. Semoga kita semua memiliki kepedulian yang sama terhadap budaya Sunda . Dan mulai mengubah lingkungan sekitar– dengan dimulai dari diri sendiri. Rahayu!

 Ferry Fadillah
Bandung, 17 November 2012

, , , , , , , ,

2 Comments

Fenomena Percenayangan

“Salah satu adegan dalam fim Dreed. Hakim Dredd (kanan) dalam pelaksanaan tugasnya memberantas kejahatan di Amerika dibantu seorang Hakim baru sekaligus cenayang bernama Cassandra Anderson (kanan). Hal ini merupakan salah satu media komunikasi agar dunia percenayangan dapat diterima dalam masyarakat tontonan”

Cenayang adalah pawang yang dapat berhubungan dengan makhluk halus, dukun yang dapat meminta bantuan atau mengusir jin (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Tim Prima Pena)

Dalam arti yang lebih luas –setelah melihat fenomena sosial yang ada- cenayang dapat juga dihubungkan dengan orang yang memiliki kemampuan khusus untuk melihat aura, mengetahui masa depan dan masa lalu, atau melihat peruntungan dan persialan.

Mereka tidak lagi diidentikan dengan dunia perdukunan yang pada umumnya dicirikan dengan penanda baju : hitam, tradisional, penuh atribut mistis. Kini mereka berbaur dengan masyarakat, hidup dengan fesyen populer seolah ingin menghilangkan sekat antara dunia percenayangan dengan masyarakat.

Ketika SMA dulu, di kota Bandung, saya menyaksikan sebuah pameran spiritual di daerah Dalem Kaum. Saya sangat terkejut. Ternyata para cenayang tidak sekonvensional yang saya kira. Mereka memiliki komunitas dengan struktur organisasi moderen. Mendapat izin dari pemerintah untuk buka praktik, bahkan memiliki jejaring solid antar negara!

Media promosi mereka pun semakin aktual. Sebut saja majalah Misteri yang selalu memberikan ruang untuk iklan percenayangan : jimat pengasihan, pelet sesama jenis, jual beli tuyul dan lain sebagainya. Beberapa malah menggunakan jejaring media sosial untuk lebih memudahkan promosi yang dapat menjangkau pasar anak muda. Dari usaha-usaha inilah jelas bahwa mereka –cenayang- berusaha untuk menghilangkan sekat dengan masyarakat, berbaur, manunggal dengan budaya populer.

Sebuah Kekhawatiran

Dari perspektif ekonomi, politik atau hukum tentu banyak orang merasa yang tertolong oleh bantuan mereka. Seperti keyakinan masyarakat kita bahwa : orang yang susah karirnya dengan jimat pengasihan dapat disayangi bos dan mendapat kedudukan tinggi di institusinya; orang yang akan kampanye pemilukada dengan rapelan mantra kuno dapat membuat orang terkagum-kagum atau tersihir; orang yang terlilit kasus korupsi dapat memerintahkan jin untuk menghilangkan berkas perkara di pengadilan dan lain sebagainya.

Terlepas dari benar atau tidaknya keyakinan itu. Masalahnya adalah -apalagi bagi saya yang beragama Islam dan cenderung kepada pengagungan akal-, hal ini dapat merusak cara berpikir masyarakat. Masyarakat jadi tercemari takhayul-takhayul yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Misalnya, saat seseorang sakit bukannya dibawa ke dokter malah menghubungi orang pinter karena diduga terkena ilmu hitam, saat seseorang sulit ekonomi bukannya belajar bagaimana menjadi wirausahawan malah mendatangi dukun untuk mendapat jimat tertentu.

Okelah jika atas nama semangat demokrasi hal ini dikategorikan kepercayaan lain yang harus dihormati. Namun semakin populernya dunia percenayangan melalui persebaran media populer dapat dikhawatirkan merusak para anak muda nusantara yang pada umumnya dikategorikan masyarakat tontonan. Masyarakat yang menjadikan tontonan sebagai dasar pemikiran, bahkan kebenaran. Karena di TV, maka aku ada! Sebuah klausa yang menggambarkan bagaimana tontonan menjadi poros penggerak budaya populer, sumber pengetahuan bahkan logos kebenaran.

Menanamkan Budaya Rasional

Jika dicermati, budaya percenayangan bermula dari lingkungan keluarga. Masih ingat dalam ingatan saya ketika kecil dulu. Aa, jangan main maghrib-maghrib nanti diculik kalong wewe; Jangan duduk di pintu nanti jodohnya nenek-nenek; Jangan lewat disitu tanpa permisi nanti kesambet. Padahal semua jenis larangan itu bisa dirasionalisasikan, misalnya : Jangan main  waktu maghrib, adzan sudah berkumandang, itu seruan bagi kita untuk segera sholat, Allah tidak ingin hambanya menunda-nunda pelaksanaan sholat. Jelas, rasional, mententramkan.

Lembaga pendidikan harusnya menjadi motor penggerak bagi proses penanaman budaya rasional kepada kawula muda. Perpustakaan di lembaga pendidikan sebisa mungkin mengadakan acara bedah buku secara rutin, nanti di forum tersebut panita berusaha mengupas buku-buku percenayangan dan membandingkannya dengan kaidah agama, moral maupun hukum alam. Agar budaya rasional lebih merasuk lebih dalam lagi, kalau bisa peserta didik diwajibkan untuk membaca karya sastra yang isinya mengajak pembaca berpikir rasional, cerdas dan mencerahkan.

Guru –sebagai sumber ilmu yang hidup- harus dapat memberikan penjelasan-penjelasan ilmiah dari setiap fenomena fisik maupun budaya. Jika ada pertanyaan yang sulit untuk dijawab, lebih baik guru mundur selangkah untuk mengumpulkan data kemudian menjawabnya di lain kesempatan, daripada menjawab asal dengan mengkambing hitamkan dunia ghaib. Misalnya, dikaitkannya adzab Tuhan dengan bencana yang terjadi di suatu daerah atau kecelakaan buruh bangunan pada sebuah proyek karena adanya dedemit yang minta tumbal.

Akhirnya, keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, bahkan negara harus bersinergi dalam menanamkan budaya rasional dengan segala otoritas yang dapat setiap komponen lakukan. Dengannya negeri ini akan terus maju menuju peradaban tinggi, peradaban yang lebih mementingkan perbaikan kualitas hidup daripada syak wasangkan terhadap dunia ghaib –yang jelas-jelas tidak dapat kita indera.

Ferry Fadillah
Bandung, 15 November 2012
 
sumber gambar : http://review.ghiboo.com/dreed-perjuangan-sang-hakim

, , , , ,

2 Comments

Sudahkah Mengerti?

Pembangunan mega gedung, buruh-buruh berduyun menyusun pondasi, kerlap-kerlip lampu ibu kota, lalu lalang kendaraan bermotor, begitulah pemandangan yang saya saksikan dari jendela kamar nomor 610, Park Hotel, Cawang, Jakarta.

Jakarta. Sebuah kota sentral yang dinisbatkan sebagai tolak ukur kemajuan indonesia. Ruwetnya Jakarta adalah ruwetnya Indonesia, majunya Indonesia adalah majunya Jakarta. Padahal kalimat tersebut tidak sepenuhnya benar.

Kemajuan ekonomi hanya mengukur hal-hal yang terindra. Melihat infrastruktur sebagai kemajuan, tingkat konsumsi sebagai kekayaan, keterserapan tenaga kerja sebagai prestasi. Namun lupa arti sebuah keadilan. Terdistribusinya kemakmuran bagi segenap bangsa Indonesia.

Dibalik gedung-gedung megah itu tercecer masyarakat yang kedinginan. Mereka tidak mendapatkan tempat yang layak untuk hidup. Merana, sengsara. Mereka hanya menerka, “Siapa gerangan ratu adil yang akan datang?”

Doa-doa belum juga terjawab. Sebuah imaji bahwa Tuhan akan turun tangan mengatasi ketimpangan sosial ini hanya menuju khayali belaka. Sang Tuhan terlalu suci untuk mengotori tanganNya, Ia dengan gagah duduk di singgasana, menyaksikan gelagat kita dengan saksama. Ia bukan acuh, jahat, atau kejam. Namun demokrasi yang belakangan ini kita elukan sebagai dewa telah mengubah cara pandang kahyangan : manusia harus bebas dan independen, mereka harus menentukan nasibnya sendiri.

Kahyangan memberi independensi, pemimpin cenderung melupakan, lantas kaum marginal harus mengadu kepada siapa?

Putus asa –sebagai reaksi dari kekecewaan- mulai menjakiti masyarakat. Agamawan hanya bisa memberi solusi teks suci tanpa solusi nyata ekonomi. Politisi hanya bisa tebar janji  tanpa secuil pun realisasi. Jadi jangan salahkan masyarakat jika akhir-akhir ini mulai bertindak anarki, karena mereka hanya ingin dimengerti.

Dan sudahkah, saya, anda dan kita mengerti?

Ferry Fadillah
Jakarta, 13 November 2012

, , , , , , , ,

Leave a comment

Andai Aku Menjadi Ketua KPK

Menjadi ketua KPK bukanlah perkara mudah. Jabatan ini memiliki dua aspek pertanggung jawaban. Pertama, pertanggung jawaban secara horizontal-kemasyarakatan, karena KPK terbentuk dari harapan masyarakat Indonesia yang menginginkan negeri ini menjadi transparan, bersih dari korupsi, adil dan makmur. Maka dari itu, seorang Ketua KPK harus mampu mewujudkan impian-impian ini untuk meminimalisir angkara murka masyarakat yang kerap berujung kepada anarki sosial. Kedua, pertanggungjawaban secara vertikal-Theoisme, karena sebuah jabatan di dunia menurut teori keagamaan berkonsekuensi logis akan adanya ‘Audit’ Tuhan terhadap jabatan tersebut. Apakah sang pejabat amanah? Apakah sang pejabat tulus menjalankan tugasnya? Apakah sang pejabat bebas dari konflik kepentingan? ‘Audit’ inilah yang kelak menjelma menjadi sikap : merasa diawasi, sehingga pejabat KPK akan terjaga perbuatannya ketika menjabat.

Diluar segala pertanggung jawaban di atas, klausa ‘andai’ mengandung makna sesuatu yang belum terjadi atau bahkan tidak akan pernah terjadi, sehingga jabatan imajiner ‘andai aku ketua KPK’ tidak akan menimbulkan masalah serius pelanggaran hukum pidana atau perdata kecuali secara moral dihardik para pembaca apabila pengandaian ini terlalu nyeleneh atau keluar dari norma susila. Sehingga dengan berani saya kemukakan beberapa langkah strategis yang akan segera saya jalankan apabila menjadi Ketua KPK, sebagai berikut :

1. Dengan segera membentuk Lembaga Budaya Rakyat Anti Korupsi (LBRA-K) yang terdiri dari kepengurusan pusat dan daerah. Lembaga ini menghimpun segenap sastrawan, budayawan, sineas, dan pegiat seni lain untuk menciptakan kondisi sosio-kultural yang bersih dari korupsi. Nantinya Lembaga ini, dengan bantuan cabang di daerah, berusaha mempopulerkan anti korupsi dalam wilayah bawah sadar masyarakat indonesia, dengan memproduksi : karya sastra bertemakan anti korupsi (novel, prosa, puisi), Film Layar lebar atau serial Anti-Korupsi, lagu-lagu anti korupsi, teater anti korupsi, tembang-tembang daerah anti korupsi, esai-esai anti korupsi, pertunjukan wayang anti-korupsi, pertunjukan sendra tari tradisional anti korupsi dan lain sebagainya;

2. Berkoordinasi dengan lembaga legislatif untuk menyusun payung hukum pembentukan Lembaga Budaya Rakyat Anti Korupsi (LBRA-K) agar pada perjalannya lembaga ini dapat menghadapi hambatan, tantangan dan gangguan dari pihak pro korupsi dengan lantang dan gagah berani (karena tidak cacat secara hukum);

3. Melihat pentingnya peran kaum muda sebagai agen perubahan, KPK melalui  Lembaga Budaya Rakyat Anti Korupsi (LBRA-K) melakukan internalisasi anti-korupsi ke setiap jenjang pendidikan di Tanah Air dari sabang sampai merauke. Mulai memberikan pelajaran holistik mengenai korupsi sehingga diharapkan dapat memproduksi generasi muda yang idealis, humanis dan agamis. Nantinya, generasi baru ini tidak akan dengan mudah menerima estafet korupsi dari generasi tua dan bahkan menciptakan sebuah dunia baru (new world order) yang bersih, idealis dan  berdasarkan asas-asas keadilan universal.

Urain di atas jika ditilik lebih menitikberatkan kepada aspek budaya. Seorang sastrawan berkata, “budaya itu tidak dapat lepas dari kehidupan setiap orang, seperti ikan dengan air”. Dan begitulah saya berpikir, bahwa strategi jitu untuk melawan korupsi hanya dapat ditempuh melalui jalan budaya. Dengan jalan budaya maka semangat anti-korupsi akan berakar dari masyarakat bukan bersifat paksaan dari atas (pemerintah). Proyeksinya, beberapa tahun kedepan, ada atau tidak ada KPK, masyarakat akan selalu melek anti-korupsi bahkan mereproduksi semangat anti korupsi ke generasi-generasi sesudahnya.

Pada akhirnya, KPK dapat dengan mudah luluh lantah dengan hilangnya payung hukum yang menaunginya, tetapi masyarakat akan selalu ada, dengan atau tanpa negara.

Jaya Selalu KPK

Ferry Fadillah
Bali, 3 November 2012

, , ,

Leave a comment

Empati

ini sebuah bentuk empati
 
aku bukan mereka, namun
berinteraksi bersama mereka
 
dari rasa terangkai kata
dari kata tersusun bahasa
dari bahasa terpatri makna
aku pahami dan aku resapi
sesaat rasa itu datang : empati
 
teriakan aksara  begitu membara
dalam hati dan media masa
tetapi mengapa? dia hanya diam
seolah mereka tak berarti
seolah mereka telah mati
 
Demi hati nurani
mungkin kini mereka berani
membuang hormat pada Bapak Kami
karena bulat sudah kesimpulan :
Ia, tidak kunjung berempati
 
Oleh Ferry Fadillah (untuk CCPNS yang menunggu tanpa pasti)

, , , , , ,

Leave a comment

Karma

Bukan Tuhan-Tuhan itu yang kumau,

bukan Nabi-Nabi itu yang kutuju,

bukan orang suci itu yang kutahu.

Bumi Manusia

dari kumpulan pecinta raga

dari tiada menuju ada

dari hina menuju tahta

dari tahta menuju hina

dari ada menuju tiada

dan begitulah karma.

Ferry Fadillah, 2012

2 Comments

November

Siang di awal bulan

tanpa sebuah perlawanan.

Hidup terus mengalir,

tak terpikir akan tersingkir.

Namun, saya khawatir,

kita mengalir tanpa berpikir :

selokan,

comberan,

dan seketika terhinakan.

 (Ferry Fadillah, November 2012)

,

2 Comments