Archive for March, 2011

Foto Ibu

"Foto Ayah dan Ibu"

Aku melihat wajah ibuku dalam foto usang yang tersimpan dalam dompet keringku. Wajahnya tersenyum ketika seorang lelaki gagah berkulit coklat dan berkumis tebal merangkulnya tepat di bahu. Sejenak aku menunduk dan mengingat masa-masa indah ketika menjadi anak kecil yang selalu diberi asupan vitamin kasih sayang darinya. Tetes air mata terkadang menganak sungai dipipiku ketika mengingat getir kehidupannya dalam mempertahankan kehidupan sang durhaka ini yang telah banyak mengecewakan hidupnya. Nilai yang jelek, keinginan yang memaksa dan ketidak bersyukuran akan situasi.

Akhirnya saat ini kesadaranku telah terbuka, akan kebenaran-kebenaran ajaran beliau yang pada saat itu aku anggap sebagai cara berpikir yang salah dari sistem pendidikan seorang tua. Dan demi kebenaran alam raya aku katakan, bahwa semua ajarannya, petuahnya adalah benar.

Hanya bakti dan pengabdian yang kini belum aku kerjakan. Bak seorang dewi padi yang memberi kedamaian di tanah yang disinggahinya, tentu seorang anak harus memberi ‘sesaji’ dalam altarnya yang megah, walau secara kasat mata ia tidak berbicara maupun bertindak, tapi dalam hatinya tentu ia aka senang dan bangga akan persembahan anaknya itu. Tetes air mata pun akan mengalir, bukan tetes kekecewaan tapi tetes kebanggaan, ketika anaknya telah menjadi manusia yang lepas dari belenggu kemiskinan dan ketidak berdayaan serta bisa mempersembahkan sesuatu kepada asalnya, Ibu.

Ferry Fadillah

Bali, 26 Maret 2011

, ,

2 Comments

Burung dan Kebebasan

"langit dan laut, begitu luas, jelajahlah, jadilah bebas!

Pada mulanya seekor burung begitu kagum dengan sayapnya. Ia mengepak-ngepakannya sambil membusungkan dada, seolah menyombangkan dirinya kepada dunia. Ia melihat deretan rapih bulu-bulunya yang berwarna, yang dirajut dengan kasih sayang Tuhan dengan benang rahmatnya, decak kagum pun keluar dari mulutnya.

Ia bosan dengan kehidupan di dalam sarangnya, sebuah tumpukan jerami berbentuk mangkok yang ia buat selama berminggu-minggu dengan bantuan air liurnya. Ia melihat ke angkasa, dan terkagum kembali, betapa luasnya dunia ini, betapa leganya angkasa itu. Tanpa berpikir lebih lama lagi, ia pun menarik nafas dalam-dalam dan terbang meninggalkan pohon angsana yang sudah berumur itu. Ia terbang jauh menuju ke utara.

Ketika melewati hijaunya hutan, ia merasakan kehidupan merasuk ke dalam dirinya, semangat terpantul ke dalam hatinya dan kedamaian menggenangi pikirannya. Ketika melewati perkotaan, ia merasakan kematian merasuk ke dalam dirinya, ketidakberdayaan terpantul ke dalam hatinya dan kekacauan menggenangi pikirannya.

Berkilometer sudah ia terbang,sampai akhirnya lelah dan beristirahat di pinggiran danau untuk sekedar melepas dahaga. Tapi apa nasib, seorang pemburu sudah dari tadi bersembunyi di balik semak-semak, mengarahkan senjatanya tepat ke tubuh sang burung. Belum pun sang burung memasukan air ke pundi-pundinya, sebuah panah melesat cepat menembus kulit, otot dan organnya. Ia pun melemas dan teronggek bak sebatang pohon usang yang merana.

Setelah semua kejadian itu, ia bermimpi, bermimpi dan terus bermimpi, Sehingga menganggap semua kejadian yang lalu hanyalah sebuah mimpi. Ketika ia membuka matanya, alangkah kagetnya ia. Sebuah sangkar emas dengan hiasan-hiasan perak disetiap ujungnya sedang mengurungnya, kotak-kotak kecil berisi makanan tergantung tepat di depan matanya. Ia senang dengan makanan itu, tapi ia benci dengan sangkar itu.

Setelah makan dan minum untuk mengumpulkan tenaga, ia mencoba terbang dan menghantam sangkar itu. Tapi sia-sia pebuatannya, sangkar itu kokoh, mencengkram sangat kuat. Pasrah pula akhirnya sang burung. Ia meratapi nasibnya, baru saja ia merasakan kebebasan dan kehidupan yang tidak dapat dimiliki makhluk lain tapi kenapa saat ini ia harus terkurung dalam kebosanan. Walau ia diberikan makanan yang melimpah, ia tetap saja murung setiap harinya, karena yang ada dalam pikirannya hanyalah kebebasan.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan zaman berganti zaman. Ketika sang pemburu menghirup udara pagi di beranda rumahnya dan berniat menikmati indahnya bulu sang burung, ia malah terkejut, melihat sang burung yang begitu indah terdiam lemas tak bernafas. Warna-warna bulunya menjadi kusam, badannya menjadi lunglai, dan kulitnya menjadi pucat. Tanpa berbelas kasih sang pemburu membuka sangkarnya dan membuang mayat tak berdosa itu ke selokan di depan rumahnya. Sang burung pun hanyut terbawa arus entah sampai kemana.

Ketika jiwa nya lepas menuju ke hadirat Tuhan. Ia pun tersenyum, penantiannya selama bertahun-tahun akhirnya dipenui Tuhan, menjadi makhluk yang bebas, bebas dan bebas. Tuhan pun tersenyum melihat makhluk mungil itu, dan memandang manusia dengan amarah, “semoga mereka memahami apa arti kebebasan”, bisikNya.

***

Saya ingin bebas kawan, bebas menjadi apa yang saya mau, bebas memilih apa yang saya mau, karena hidup itu hanya sekali kawan. Mari kita bebaskan hidup kita.

Salam bebas wahai kawan ku, kamu semua dibelahan dunia manapun

Sekian

***

Ferry Fadillah

Bali, 26 Maret 2011

, ,

Leave a comment

Sang Renta

Deru sepeda motor terakhir berlalu dan menghilang di tengah kegelapan malam. Sang Dewi Bulan nampak lebih cantik dari hari-hari sebelumnya, ia tersipu malu, terselimuti awan hitam pekat dan gemintang yang semakin menambah cantik sekelilingnya.

Di sebuah rumah megah di bawah naungan Sang Bulan, hidup seorang renta yang dikenal amat shaleh. Lantunan kidungnya amat banyak dipuja-puji orang. Siapapun yang kebetulan mendengar lantunannya, akan terbuai dan terpana dalam kehusyuan mendalam akan kehadiran Tuhan.

“Malam yang indah, namun kenapa aku tiada mendengar lagi puja dan puji dari para pendengar yang dahulu setia”, sang renta shaleh berbicara dengan dirinya sendiri. Disaat yang bersamaan, seorang pengemis datang kerumah sang renta dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.

Tapi apa cerita, ternyata sang renta menganggap itu tanda banhwa ada seseorang yang ingin mendengar lantunan kidungnya. Ia pun mulai menarik nafas dan melantun berlarut-larut. Satu ayat, dua ayar, ratusan ayat sampai ribuan ayat.

Diluar sana sang pengemis yang sudah kehabisan tenaga sudah tidak mampu lagi mengetuk dan merintih, karena semua sia-sia, tertutup oleh suara sang renta yang merdu dan kencang.

Hari makin larut, lantunan sang renta makin berlarut-larut. Namun bagi sang pengemis, lantunan itu tiada artinya, walau memuji Tuhan, walau menggentarkan hati, karena kini Tuhannya hanyalah Dia yang dapat memberi ia isi perut, Dia yang dapat memberi ia tempat berlindung, dan Dia yang dapat menghangatkan tubuhnya yang menggigil.

Hari makin gelap. Ayam jantan tiba-tiba berkokok, dan pada saat yang bersamaan sebuah jiwa telah berpulang ke dalam pangkuan Tuhan. Ia tersenyum lega, melihat bebasnya dari kurungannnya, seperti seekor burung yang dilepas sang pemiliknya. Kini ia paham mengapa lantunan pujian tadi tidak menggetarkan hatinya, karena Tuhan menjawab, “walaupun indah terdengar kidung pujian dari ia, namu Aku melihat noda keterikatan terhadap pujian dalam dirinya, sedangkan kau, Ikhlas dalam menjalani kehidupan, walau didera lapar dan kedinginan, dan kini aku datang sebagai Tuhanmu, yang memberi makan, tempat dan kehangatan ditempat yang abadi untuk selamanya”

Ferry Fadillah, 24 maret 2011

, ,

Leave a comment