Archive for category RESENSI

​Islam Tuhan, Islam Manusia

IMG20170626065504

Banyak muslim dari Mahzab Sunni yang merasa ragu ketika akan membaca buku ini. Alasannya, penulis dan penerbit diindikasi terafiliasi dengan Mahzab Syiah*). Dalam sebuah sesi wawancara oleh wartawan Madina Online bersama Haidar Bagir di bilangan Depok. Warsa Tarsono menanyakan, “Anda sendiri syiah atau sunni?” yang dijawab berikut: “Saya bukan Syiah dan bukan Sunni. Saya ini orang yang percaya bahwa orang non-Muslim yang baik dan tidak kafir, tidak menyangkal kebenaran saja bisa masuk surga. Bukan Syiah dan Sunni lagi. Saya pernah menulis bahwa non-Muslim tidak identik dengan kafir.” Jawaban ini mengukuhkan manifestasi ke-Islam-an Haidar Bagir pada bagian pembuka, yaitu: keterbukaan, pluralisme, dan demokrasi.

Buku ini adalah upaya menjawaban fenomena merebaknya gerakan Islam konservatif**) yang menemukan panggung terbuka setelah kejatuhan Orde Baru, keterbukaan informasi dan demonstrasi besar-besaran melawan penista agama di Ibu Kota beberapa waktu silam. Tidak hanya itu, ada juga gerakan Islam trans-nasional yang berupaya mengubah dasar negara berdasarkan keyakinan bahwa tata negara islam (berdasarkan pemahamannya) adalah solusi segala permasalahan umat. Gerakan-gerakan tersebut dalam titik ekstrim memiliki dampak negatif bagi keutuhan bangsa Indonesia yang dibangun atas keragaman agama dan kepercayaan.
Padahal agama, setelah manusia merasakan manfaat besar dari kemajuan teknologi dan pengetahuan, adalah mata air yang sedang menjadi tujuan mayoritas manusia modern. Hal ini senada dengan pendapat William James dalam Varieties of Religious Experience (1904), “….meski “sains” boleh jadi akan melakukan apa saja yang melawan kecenderungan ini, manusia akan terus bersembahyang sampai akhir masa.. Dorongan naluriah untuk bersembahyang adalah konsekuensi niscaya dari fakta bahwa -meski bagian paling dalam dari diri- empirisnya adalah Diri yang bersifat sosial – ia hanya akan bisa menemukan Kawan yang menentramkannya (yakni, “Kawan-agung-Nya”) dalam dunia ideal.”

Tentu kita tidak mau, disaat musim hijrah yang sedang populer kini, para pemuda kita terjebak dalam gerakan ekstrim. Seperti gerakan amar makruf nahi munkar penuh kekerasan, presekusi yg melecehkan hukum dan wibawa negara, agenda makar terhadap pemerintah bahkan ISIS yg belakangan menghancurkan Kota Marawi, Filipina.

Haidar Bagir dalam buku ini berusaha untuk mengajak pembaca muslim kembali mengawinkan Agama dengan Filsafat (yg sempat mesra selama beberapa abad) untuk mendapatkan pemahaman Islam yg lebih spiritualistik-mistis dan holistik. Menurutnya, fokus kepada syariat (bukan meremehkan syariat) semata-mata tanpa dibarengi perubahan akhlak yang baik hanya akan menumbuh suburkan kelompok yang merasa benar sendiri di negeri ini. Misalnya kelompok takfiri yang dengan mudah mengkafirkan orang atau kelompok lain bahkan terhadap sesama saudara muslimnya.

Kita perlu belajar dari sejarah penyebaran Islam di negeri ini. Walaupun Sunan Takdir Alisyahbana menyatakan bahwa lapisan budaya Islam telah membawa rasionalisme keagamaan dan ilmu pengetahuan faktanya Islam mayoritas bangsa Indonesia tidak semodernis itu. Lapis Islam pun sesungguhnya masih banyak dikuasai spiritualisme, bahkan panteisme (monistik) yang menekankan kebersatuan manusia dengan alam selebihnya dan Tuhan. Itulah mengapa dakwah walisongo begitu mudah diterima oleh para masyarakat Hindu yang pada masa itu kental oleh mistisme dan wacana esoteris.

Islam Tuhan, Islam Manusia juga berarti bahwa Islam semenjak berada dalam ranah manusia tidak akan pernah lepas dari prakonsepsi budaya, kepercayaan, pendidikan dll sehingga selalu memiliki tafsir yang beragam. Tidak ada satupun ulama atau golongan, sepanjang mereka menggunakan cara ilmiah dalam menafsir, boleh menganggap tafsir yang berbeda darinya sesat atau bahkan kafir.

Haidar juga mempromosikan Islam cinta sebagai basis gerak. Kenyataannya memang begitu. Bukan saja Tuhannya Islam adalah Tuhan kasih sayang yang menyatakan “Kasih sayang-Ku meliputi apa saja” dan “Kasih sayang-Ku menundukan murka-Ku”, tetapi juga sebagi al-rahman al rahim: Yang menyayangi seluruh makhluknya tanpa terkecuali dengan semua bekal yang memungkinkannya hidup berbahagia, dan memberikan kasih sayang khusus berupa petunjuk kepada manusia yang mau menapaki jalan-Nya.

Akhirul kalam, semoga buku yang apabila dibaca dengan kaca mata kritis ini dapat menjadi oase dari padang gurun huru-hara berlatar belakang agama yg kini merebak tidak hanya di Indonesia namun seluruh penjuru dunia ini. Amin.

Ferry Fadillah. Juni, 2017.

 

 

Catatan Kaki:

*) menyebut syiah sebagai Mahzan masih menyulut kontrovesi. Penyebutan dalam tulisan ini semata-mata menggunakan hasil Konverensi Aman di tahun 2009

**) fenomena konservatisme di bahas dalam majalah Tempo edisi 19-25 Juni 2017 dalam sesi liputan khusus bertajuk “Konservatisme dalam Banyak Segi”

, ,

2 Comments

Cerita Calon Arang

Judul               : Cerita Calon Arang

Penulis             : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit           : Lentera Dipantara (2015)

Tebal               : 94 halaman

Dongeng adalah tradisi lisan yang kerap diselimuti kabut mitos dan takhayul. Pendengar atau pembaca dongeng digiring untuk merasakan ‘kesan’ dari suatu cerita, bukan rentetan fakta yang sahih dan presisi. Walaupun dongeng tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, karena ia lebih dekat kepada imaji daripada fakta, narasi-kultural-historis ini telah hadir selama berabad-abad dalam ingatan kolektif bangsa kita; membentuk kesadaran bersama, mewarnai kebudayaan nusantara dan membantu konstruksi imajiner atas sebuah bangsa besar bernama Indonesia.

Calon Arang adalah salah satu dongeng itu. Cerita ini tersebar dari lisan ke lisan; dari satu generasi ke generasi lain. Catatan tertulis Calon Arang ialah berupa kakawin yang ditulis dalam aksara Bali namun menggunakan bahasa Kawi (jawa kuno). Sayangnya, naskah berharga ini tersimpan di Koninklijk Instituut Voortaal-Land-en Volkenkunde van Ned. Indies, Leiden. Usaha filolog kebangsaan Indonesia untuk menerjemahkan naskah ini sudah dirintis oleh Poerbatjarakan (1926) namun masih menggunakan bahasa Belanda dengan kode naskah LOr 5279 (5387), LOr 4562, dan LOr 4561. Terakhir kali, cerita ini terus diproduksi ulang dan ditafsir sesuai keinginan penulis. Pram, panggilan Pramoedya Ananta Toer, kali pertama menulis ulang cerita Calon Arang pada tahun 1954 dengan judul Dongeng Calon Arang. Beberapa penulis wanita juga turut menyemarakan penulisan ulang cerita ini. Di antaranya, Cok Sawitri, seniman dan sastrawan asal Bali yang menulis Janda dari Jirah (2007) dan Toety Heraty yang memasukan ideologi fenimisme kedalam tulisannya Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki (2000).

Calon Arang

Calon Arang

Calon Arang

Syahdan, disuatu negeri bernama Kerajaan Daha (Kediri) berkuasalah seorang raja yang sangat adil dan bijaksana. Maha Raja Airlangga namanya. Di dalam kekuasannya kebutuhan sandang pangan rakyat terpenuhi. Perdagangan dengan bangsa asing dibuka seluas-luasnya demi kemakmuran tanah Jawa. Para pendeta dihormati dan mendapat kedudukan yang layak sebagai kelas Brahma yang disucikan.

Beberapa kilometer dari ibu kota, ada sebuah dusun kecil yang bernama Girah. Di dusun ini tinggal seorang pendeta yang mahsyur karena kesaktiannya bernama Calon Arang. Tanpa ditemani seorang suami, pendeta ini hidup bersama putri sulungnya, Ratna Manggali. Ratna masih muda dan cantik jelita. Setiap orang pasti terpesona olah kecantikannya.

Calon Arang adalah seorang penyembah Dewi Durga. Ia dikenal dengan kesaktiannya meneluh orang. Siapa saja yang berpapasan dengannya dan menyakiti hatinya, pasti keesokan harinya ditemukan mati mengenaskan tanpa sebab yang jelas. Bersama dengan murid-muridnya, Calon Arang selalu mempersembahkan korban manusia dan mandi darah manusia di pekuburan tua.

Ratna Manggali sudah memasuki usia perkawinan. Namun, karena kekejaman ibunya, tidak ada seorang pemuda desa pun yang berani mendekati Ratna. Kondisi yang memprihatinkan ini sering kali menjadi gunjingan penduduk desa dimana-mana.

Kesal karena tidak ada seorang pemuda pun yang mau menikahi Ratna Manggali. Calon Arang berencana melakukan pembunuhan besar-besaran. Setelah mempersembahkan korban dihadapan Dewi Durga, ia diberi kemampuan untuk menyebarkan penyakit ke seluruh wilayah Kerajaan Daha kecuali ibu kota kerajaan. Akhirnya, banyak rakyat yang tidak bersalah menjadi korban. Mayat bergelimpangan dimana-mana. Sawah dan ladang sudah tidak ada lagi yang mengurusi. Kerajaan Daha berada di ujung kehancuran.

Melihat kondisi yang meresahkan ini, Raja Airlangga memerintahkan Ken Kanuruhan untuk meminta bantuan kepada Mpu Baradah di Lemah Tulis. Sang Mpu yang juga terkenal sakti dan baik ini menyetujui permohonan raja. Namun, Mpu Baradah juga sadar bahwa kesaktiannya masih kalah dari Calon Arang. Maka untuk menaklukan janda penyihir itu diperlukan sebuah siasat. Diutuslah muridnya, Mpu Bahula, untuk menikah dengan Ratna Manggali. Harapannya, Mpu Bahula dapat memeriksa dari dekat rahasia kesaktian Calon Arang.

Singkat cerita. Mpu Bahula berhasil mencuri kitab yang digunakan Calon Arang untuk menambah kesaktiannya. Bekerjasama dengan Ratna Manggali, kitab itu segera diserahkannya kepada Mpu Baradah untuk dipelajari.

Setelah mengetahui kelemahan Calon Arang, Mpu Baradah menyembuhkan semua orang yang terkena teluh. Terakhir, ia beradu kesaktian dengan Calon Arang dan berhasil mengalahkan penyihir itu di depan murid-muridnya.

Bahasa Pram dalam Cerita

Pram terkenal sebagai seorang sastrawan realis-sosial yang selalu menggunakan bahasa sastrawi dalam karya-karyanya. Misalnya apa yang Pram tulis dalam tetralogi Bumi Manusia, atau cerita zaman kerajaan seperti Arus Balik dan Mangir. Dalam cerita kali ini, Pram menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan menggunakan alur yang muda ditebak. Hitam dan putih. Sebagian pembaca mungkin akan kecewa bahkan sebagian lagi ada yang mecela karya ini.

Akan tetapi, menurut penulis, cerita yang ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami ini adalah wajar. Mengingat di dalam pengantarnya tahun 1954, Pram menulis, “Buku ini disusun sebagai buku kanak-kanak, agar bisa membangkitkan cerita lama pada mereka. Di samping itu mungkin pula jadi bahan-bahan infomasi bagi murid-murid Sekolah Menengah.” Dan bagi kanak-kanak memang yang dibutuhkan adalah bahasa sederhana dan alur yang mudah dimengerti.

Permasalahannya kemudian adalah apakah bagian-bagian yang penuh dengan kekerasan dalam cerita ini cocok bagi kanak-kanak? Misalnya dalam bagian Calon Arang Mulai Mengganas tertulis sebagai berikut :

Tiap-tiap waktu murid-murid harus berkeramas. Yang dipergunakan mengeramasi rambut adalah darah. Darah itu adalah darah manusia juga. Karena itu rambut murid-murid Calon Arang lengket-lengket dan tebal. Kalau mereka sedang berpesta tak ubahnya dengan sekawanan bintang buas. Takut orang melihatnya. Kalau ketahuan orang mengintip, orang itu diseret ke tengah pesta dan dibunuh dan darahnya dipergunakan keramas.

Darah. Bunuh. Pesta. Imajinasi seperti apa yang akan lahir di benak kanak-kanak. Walau begitu, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan Pram atas tulisannya. Tulisan ini tidak banyak berubah dari naskah aslinya dalam bahasa Kawi. Ini adalah salah satu cara Pram menghormati kebudayaan para nenek moyang bangsa ini. Peran serta pendidik atau orang tua dalam memaknai dan memberikan tafsiran etik pada beberapa bagian cerita ini sangat diperlukan. Hasilnya adalah kanak-kanak Indonesia yang bisa membedakan baik-buruk disamping tidak lupa dengan nilai luhur yang diwarisi oleh nenek moyangnya.

Kesimpulan

Cerita Calon Arang adalah pertempuran abadi antara darma dengan adharma. Kekuatan darma (kebaikan) diwakili oleh tokoh Mpu Baradah. Kekuatan adharma (kejahatan) diwakili oleh tokoh Calon Arang. Pada dasarnya kedua tokoh adalah orang baik dengan ilmu yang baik, namun pengendalian emosi yang buruklah menyebabkan Calon Arang terjebak dalam lembah dosa.

Dalam setiap pertempuran, antara darma dengan adharma, kemenangan tidak ditentukan oleh sikap perilaku. Kemenangan ditentukan oleh penguasaan keahlian dan ilmu. Calon Arang dengan perangainya yang buruk bisa mengalahkan musuh-musuhnya di awal cerita karena dia memiliki ilmu rahasia yang secara disiplin dipraktikan. Begitu juga dengan kekalahan Calon Arang, juga disebabkan oleh ilmu rahasianya sendiri yang berhasil dicuri oleh Mpu Baradah. Dalam hal ini, Pram berusaha membuat pembaca insyaf bahwa penguasaan ilmu adalah mutlak diperlukan baik untuk mempertahankan diri maupun untuk menjaga martabat di hadapan musuh.

Bukankah kekalahan kita dihadapan penjajahan fisik Belanda-Jepang dan penjajahan ekonomi-budaya Amerika disebabkan kita terlalu lamban dan menganggap remeh peran ilmu pengetahuan?

Ferry Fadillah. Bandung, 11 November 2015.

,

Leave a comment

Arok Dedes

74352d4afae28b1d482aa85d5e4bf22bJudul               : Arok Dedes

Penulis             : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit           : Lentera Dipantara

Tahun Terbit     :  2015

Halaman          : 565

Sejak kecil, kisah Ken Arok yang kita kenal selalu berkaitan dengan kutukan keris Empu Gandring. Keris pesanan Ken Arok itu ditempa dengan tenaga adikuasa. Murka melihat keris pesanannya tidak kunjung usai, Ken Arok menghunuskan keris sakti itu kepada Empu Gandring. Sebelum ajal tiba, Sang Empu mengutuki Ken Arok beserta tujuh turunannya akan tumpas oleh keris itu. Begitulah sejarah di buku-buku sekolah beredar, dengan sumber Kitab Pararaton yang ditulis abad ke-15, anak sekolahan dicekoki kisah mistis yang bercampur takhayul dan metafora yang bercampur dengan fakta.

Pramoedya Ananta Toer hadir seperti nabi di tengah-tengah ke-jahil-an itu. Melalui roman sejarahnya berjudul Arok Dedes, Pram –begitu beliau disapa- berhasil memilah antara fakta dan metafora; membongkar mistisme dan takhayul; menyuguhi pembaca Indonesia dengan narasi logis-historis tentang teka-teki politik di masa silam.

Kisah Arok-Dedes yang sarat mistis direduksi menjadi tragedi sosial-politik di Tanah Jawa ketika Kerajaan Tumapel –kerajaan otonom di bawah Kerajaan Kediri- dipimpin oleh seorang Akuwu, Tunggul Ametung, bertindak sewenang-wenang kepada rakyat. Akuwu yang berdarah Sudra beragama Wisynu itu berhasil memegang tampuk kekuasaan dengan pembunuhan dan perampokan. Perbudakan ,yang sudah dihapuskan Raja Erlangga beberapa abad silam, dihidupkannya dalam restu Raja Kertajaya di pusat kekuasaan Kediri. Pada saat itu, dengan mudah orang yang berhutang atau bermasalah dengan punggawa kerajaan dipariakannya. Maka, binasalah batas-batas triwangsa (brahmana, kesatria, sudra) yang sudah sudah mengakar kuat dalam masyarakat.

Atas tindak tanduknya yang melebihi batas dan melanggar kehendak para Dewa, Akuwu Tumapel telah menuai bibit permusuhan dengan berbagai macam kelas. Kelas Brahamana Syiwa, yang memiliki ambisi mengembalikan syakti Syiwa sebagai agama negara, menggalang dukungan dan melakukan pertemuan rahasia untuk menumbangkan kuasa Sang Akuwu. Para rakyat kecil, yang muak dengan pajak, perampokan, penculikan, dan perbudakan, bergabung dengan gerombolan perusuh di berbagai penjuru Tumapel untuk merampas rombongan upeti Tumapel kepada Kediri. Serta gerakan Gandring ,dengan perngaruhnya yang kuat di kalangan prajurit Tumapel, berusaha keras untuk mengganti Akuwu Tunggu Ametung yang Sudra itu dengan Kebo Ijo yang memiliki darah kesatria.

Singkat cerita, munculah Arok, yang tidak memiliki kejelasan silsilah, sebagai orang yang berasal dari Sudra, bertindak Satria dan berpikiran Brahma. Ia adalah wakil dari kepentingan rakyat yang tertindas dan brahmana yang tersingkirkan. Sejak belia, ia telah memimpin gerombolan untuk merampok upeti emas Tumapel kepada Kediri. Emas-emas itu disimpannya untuk membangun angkatan bersenjata yang terdiri dari pemuda-pemuda penentang kekuasaan Akuwu. Walau ia memiliki kekuatan laksana Kesatria, ia tidak bodoh. Kitab rontal berbahasa Sanskerta banyak yang ia hapal dan kuasai, ia pun fasih berbicara Sanskerta. Kepandaian itu telah banyak mengikat hati para brahmana dan paramesywari Dedes. Dimata rakyat, Arok adalah sang pembebas, sudah banyak rakyat kecil dibelanya dari kejahatan pasukan Tumapel. Dengan latar belakang itulah, semua kelas di bawah kekuasaan Tumapel serentak merestui Arok untuk menumpas Tunggul Ametung.

Kisah Arok menggambarkan pertarungan politik yang cerdik nan licik: “Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum di depan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu” (Arok Dedes, 2015). Maka tidaklah mengherakan jika sepanjang roman ini pembaca akan dapati sosok Arok yang bermuka dua. Ia berjanji untuk melindungi Akuwu Tumapel dari setiap perusuh sekaligus ia adalah aktor intelektual kerusuhan di penjuru Tumapel. Ia pamit hendak menumpas perusuh di jurusan selatan, namun semua prajurit Tumapel yang dibawa tumpas tanpa bekas, sedangkan pasukannya bertambah loyal dan kuat. Akhirnya, Arok berhasil mengungkap Gerakan Gandring yang berusaha menghancurkan kekuasaan Tunggul Ametung. Dengan skenario licik yang ia susun, Arok berhasil menjadikan tokoh gerakan gandring, Kebo Ijo, sebagai pembunuh Tunggul Ametung sekaligus menjadikannya terhukum atas perbuatan tersebut. Dengan siasat itu dan terbunuhnya Tunggul Ametung, maka berhasilah Arok menguasai Tumapel sekaligus mendapat legitimasi kekuasaan dari semua kelas –brahamana, kesatria,sudra- tanpa perang terbuka yang berkepanjangan. Sekali dayung, dua tiga pulai terlampaui.

Selain mengisahkan tragedi politik masa silam yang sarat dengan siasat, roman ini juga dapat melambungkan imajinasi pembaca menuju zaman Hindu-Budha di Nusantara. Pertentangan Syiwa-Wishnu-Budha dalam politik kerajaan. Detil pakaian yang dikenakan parmesywari, pasukan kerajaan, rakyat dan budak. Pura kerajaan dan arca yang disembah. Ungkapan agama masa lalu. Bencana alam yang terjadi pada saat itu. Yang menandakan bahwa Pram telah melakukan riset yang mendalam tentang agama Hindu-Budha dan sejarah Jawa sebelum menyelesaikan romannya.

Akhir kata, inilah karya besar pujangga eks-Lekra yang mahsyur itu. Di tangannya cerita mistis tanpa dasar mendapatkan pijakan rasional di dasar bumi.

Selamat Membaca!

Ferry Fadillah. Bintaro, 12 Oktober 2015.

, , , , , , , ,

2 Comments

Sebuah Ikhtiar Sederhana guna Menyibak Pesan dan Kesan di Balik Peristiwa Dukuh Paruk

Adalah peristiwa September 1965 yang telah menyisakan trauma bagi sebagian besar manusia Indonesia. Persaudaraan yang dulu kental dengan gotong royong-nya porak poranda menjadi permusuhan yang membabi buta. Masyarakat terbagi menjadi dua kutub: pro-komunis dan kontra-komunis.

Peristiwa pra dan pasca geger politik itu terekam jelas secara emosional dan kultural di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Dukuh Paruk, subsistem mikro di pedalaman Jawa Tengah, merupakan daerah yang kental dengan aroma takhayul, kecabulan dan kebodohan. Bagi penduduk yang hanya 70 kepala keluarga ini perguliran kekuasaan dengan atribut ideologi dibaliknya tidaklah penting. Apalagi menelaah secara intelektual-formil ideologi komunisme dan kapitalisme yang pada masa itu sedang giatnya mencari umat. Bagi mereka hidup cukuplah nrimo ing pandum sambil  tetap menjaga kepercayaan serta kebudayaan nenek moyang dengan segala laku dan ritualnya.

Alkisah, di pedukuhan ini hiduplah seorang penari ronggeng. Penghibur tradisional yang menjadi simbol bagi gairah kebinatangan lelaki dan kekuasaan wanita penghibur. Srintil-lah tokoh yang diangkat oleh Ahmad Tohari sebagai sang penari ronggeng. Sebuah gravitasi dalam novel ini yang harus menghadapi kejamnya hidup sebagai seorang minoritas; karena ia wanita dan menjadi objek cabul kebanyakan pria.

Sejak belia, adat cabul yang dibalut oleh kearifan kepercayaan kuno telah menjadikan Srintil sebagai komoditas nafsu belaka. Baginya adalah sebuah kehormatan jika lelaki dipenjuru dunia berebut untuk menjamah tubuhnya. Kepercayaan itu tidak hanya ada pada diri Srintil namun pada hati setiap penduduk Dukuh Paruk. Jadi tidaklah heran jika seorang istri merasa bangga jika suaminya berhasil untuk bercumbu dengan kembang desa itu.

Kepercayaan Srintil itu mulai goyah ketika ia merasakan cinta sejati. Baginya memiliki suami dan berumah tangga adalah fitrah seorang wanita. Dan kini hal itu menjadi cita-citanya walaupun adat menolak seorang ronggeng memiliki suami dan berumah tangga. Sayang, cinta itu kandas karena Rasus, sang pujaan hati, kecewa ketika tahu Srintil memilih menjadi seorang ronggeng. Karena bagi Rasus seorang ronggeng tidak lagi dapat dimiliki secara pribadi namun menjadi barang publik yang dipertukarkan  begitu saja.

Setelah penolakan cinta itu kisah Srintil akan berputar dalam alunan derita dan nestapa. Sekali pernah ia ditipu lelaki kaya bermulut manis yang ternyata berniat menjual dirinya kepada bosnya. Bahkan pernah ia ditangkap pihak berwajib dan dimasukan ke dalam penjara selama 2 tahun tanpa pembela dan proses pengadilan yang layak. Hanya karena ia bermain ronggeng di rapat akbar orang-orang komunis. Tokoh ini seolah merepresentasikan penderitaan wanita Indonesia dihadapan lelaki dan keluguan gadis desa akan ideologi yang bertenangan pada masa itu.

Di sela-sela cerita pembaca juga akan dibawa larut ke dalam alam pedesaan yang indah. Penulis yang lebih kerasan tingga di desa dengan lihai mendeskripsikan kejadian-kejadian alam dalam rangkaian kalimat yang memancing imajinasi. Simaklah penggalan novel berikut :

Angin tenggara bertiup. Kering. Pucuk-pucuk pohon di pedukuhan sempit itu bergoyang. Daun kuning serta ranting kering jatuh. Gemerisik rumpun bamboo. Berderit baling-baling bamboo yang dipasang anak gembala di tepian Dukuh Paruk. Layang-layang yang terbuat dari daun gadung meluncur naik. Kicau beranjangan mendaulat kelengangan langit di atas Dukuh Paruk.

Jika membaca dari awal hingga akhir, novel ini bisa disebut sebagai sebuah reportase fiksi sastrawi yang menggambarkan konflik ideologi antara kapitalisme dan komunisme pada masa itu. Konflik para elit yang ternyata merembet sampai ke desa-desa terpencil di pulau Jawa. Komunisme dalam sekejap menjadi momok yang dibenci dan ditakuti. Kata itu telah menjelma menjadi kumpulan orang tidak bertuhan dan kerap melakukan pemberontakan. Maka pembunuhan massal dan  penangkapan ribuan orang  tanpa proses pengadilan seolah mendapat legitimasi dari negara bahkan lembaga agama.

Dengan membaca novel ini diharapkan pembaca akan menjadi bijaksana dalam memandang perbedaan dan konflik. Tidak sungkan menerima beda pendapat dengan kepala dingin dan selalu memihak kepada mereka yang termarjinalkan.

Bandung, 7 Juli 2015

, , , ,

Leave a comment

Resensi : Tasawuf Modern

tasawufJudul                           : Tasawuf Modern

Penulis                         : Prof. DR. HAMKA

Penerbit                       : Republika Penerbit

Cetakan                       : Pertama

Jumlah Halaman          : 377 halaman

Tahun Terbit                : Maret 2015

Bahagia adalah pokok bahasan yang tidak pernah selesai diperbincangkan. Filsuf, sastrawan hingga para nabi datang silih berganti di setiap zaman mengajarkan kebahagiaan menurut wahyu atau pengalaman kehidupan. Bagi mereka yang mencari bahagia melalui pengalaman kerap kali menemui jalan yang terjal nan curam. Ujung jalan terjal itu ialah dua kemungkinan: cahaya atau kegelapan.

Ada yang menyatakan bahagia apabila tekun menempuh laku spiritual tertentu, menyiksa badan hingga hancur lebur, dikiranya dengan itu dapat mencapai kebahagiaan hakiki, yakni berjumpa dengan Sang Pencipta Alam. Ada pula yang menyatakan bahwa bahagia dapat diraih dengan memuaskan semua keinginan nafsu, nurani dan jiwa dibuat buta karenanya, hingga tidak ada perbedaan lagi antara manusia dengan hewan.  Terakhir, beberapa pemikir berkesimpulan bahwa salah satu jalan ekstrim dimuka tidaklah dapat ditempuh. Kebahagiaan itu berada di jalan tengah, antara jiwa yang penuh cahaya dan badan yang sehat bugar. Begitulah Buya Hamka menjelaskan perihal kebahagiaan di dalam bukunya berjudul ‘Tasawuf Modern’.

Walaupun buku ini berjudul ‘Tasawuf Modern’, namun isi buku ini tidaklah menjelaskan berbagai macam tarikat yang ada di dalam tasawuf atau sejarah panjang tasawuf dari era klasik yang kerap menimbulkan perdebatan di kalangan ahli fiqih. Maksud tasawuf dalam buku ini yaitu keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk kepada budi perangai yang terpuji. Jadi, tasawuf digunakan sebagai instrumen bedah jiwa manusia, mencari penyakit yang ada di dalamnya sekaligus mengobatinya, melihat perangai baik yang ada kemudian meningkatkannya dengan tujuan mendekatkan diri ( jiwa dan raga) kepada Ilahi Rabi.

Jika diibaratkan, cocoklah buku ini disebut sebagai peta jiwa. Secara detil Buya Hamka menjelaskan apa itu syaja’ah, ‘iffah, hikmah dan ‘adalah? Bagaimana jika empat unsur dalam jiwa itu kurang atau lebih? Penyakit hati apa saja yang timbuk akibat kurang atau lebih itu? Bagaimana pula mengobatinya? Apa hakikat kekayaan? Bagaimana menyikapi kekayaan? Apa sederhana itu?

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, buku ini tidak akan menyajikan uraian panjang lebar penuh dalil seperti teks-teks agama kekinian. Buya Hamka yang memiliki jiwa sastra menulis dengan memadukan dalil Al-Quran, Al-Hadist, syair arab kelasik, kisah spiritual sufistik, pepatah petitih dan pantun berima melayu sehingga buku ini enak untuk dibaca. Coba kita simak salah satu uraiannya,

“Maka alam ini adalah laksana kebun bunga itu. Bunga-bunga yang ada di dalamnya ialah perjalanan kehidupan manusia. Kita cium setiap hari untuk menjadi keuntungan diri, yang busuk kita jauhi, durinya kita awasi, baunya dicium juga. Dari sebab memetik bunga dan menghindarkan durinya itu, kita merasakan lezat cita tenteram.

Pulanglah kapal dari mekah,

Penuh muatan orang haji

Awas-awas adik melangkah,

Memetik bunga dalam duri.”

Bagi mereka yang terjebak dalam gelap dunia dan gamang mencari kebahagiaan hakiki, buku ini merupakan suluh yang tepat untuk menuntun kepada cahaya kebahagiaan.

Selamat membaca!

Ferry Fadillah.

Bintaro, 14 Juni 2015.

, , , ,

Leave a comment

Bung Karno :Penyambung Lidah Rakyat

2549396Judul Buku      : Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat

Pengarang      : Cindy Adams

Penerjemah    : Syamsu Hadi

Penerbit           : Yayasan Bung Karno dan Media Pressindo

Tahun Terbit    : 2007

Tebal Buku      : 415 halaman

Bung Karno adalah nama besar yang menjadi ingatan kolektif Bangsa Indonesia. Namanya diperbincangkan banyak kalangan; mulai dari sisi mistisme hingga pidatonya yang meledak-ledak. Banyak orang mengunjungi tempat kramat di selatan Pulau Jawa yang disebut-sebut sebagai petilasan Bung Besar ini, juga, banyak politisi meniru gaya berpakaian dan teknik berpidato beliau untuk meraup untung suara menjelang pemilihan umum.

Otobiografi ini tidak ditulis sendiri oleh Bung Karno, namun dibantu oleh wartawati kebangsaan Amerika Serikat, Cindy Adams. Mulanya Bung Besar keberatan, “Otobiografiku hanya mungkin jika ada keseimbangan (subjektifitas dan objektifitas –pen) antara keduanya.Sekian banyak yang baik-baik supaya dapat mengurangi egoku dan sekian banyak yang jelek-jelek agar orang mau membeli buku itu…Hanya setelah mati dunia ini dapat menimbang dengan jujur, apakah Sukarno manusia yang baik ataukah manusia yang buruk? (Adams : 16)”, namun karena dibujuk duta besar Amerika saat itu, dan kesadaran bahwa beliau sudah tua akhirnya beliau bersedia menuturkan kisahnya dalam sebuah otobiografi.

Buku yang ditulis dengan gaya berbicara Bung Karno itu merupakan perjalanan panjang beliau dari mulai dilahirkan saat fajar menyingsing, perjuangannya dengan kemiskinan di masa kolonialisme Belanda, ‘pertapaannya’ dari penjara ke penjara, pidatonya yang meledak-ledak di hadapan masa, proklamasi, agresi militer belanda hingga firasat akhirnya akan kematian.

Namun, buku ini lebih seperti konfirmasi atas pertanyaan-pertanyaan besar rakyat Indonesia : Apakah Bung Karno Seorang Komunis? Apakah Bung Karno seorang kolaborator Jepang? Apakah Bung Karno Seorang penggila wanita? Untuk apa membangun gedung-gedung mewah ketika rakyat merasa lapar? Mengapa berkonfrontasi dengan Malaysia? Mengapa keluar dari  Perserikatan Bangsa  Bangsa? Mengapa menerima bantuan dari Kremlin? Mengapa Bung menjadi Presiden seumur hidup? Yang bagi kebanyakan orang menimbulkan rasa benci yang tidak lagi proprosional.

Ambilah salah satu contoh konfirmasi Bung Karno dari pertanyaan, Untuk apa membangun gedung-gedung mewah ketika rakyat merasa lapar?

Banyak orang memiliki wawasan picik dengan mentalitas warung kelontong menghitung-hitung pengeluaran itu dan menuduhku menghambur-hamburkan uang rakyat. Ini semua bukan untuk keagunganku, tapi agar seluruh bangsaku dihargai oleh seluruh dunia. Seluruh negeriku membeku ketika mendengar Asian Games 1962 akan diselenggarakan di ibu kotanya. Kami lalu mendirikan stadion dengan atap melingkar yang tak ada duanya di dunia… Ya, memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi jiwa mereka yang tertindas dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebangaan –ini juga penting (Adams : 354)

Dengan membaca otobiografi ini seolah kita mendengar Bung Karno bertutur sendiri kepada kita. Seperti seorang bapak bijak yang memberi tahu alasan-alasan kebijakannya kepada sang anak, karena mungkin sang anak belum mengerti dan memang tujuan beliau menulis otobiografi ini adalah “agar dapat menambah pengertian yang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia tercinta (Adams : 19)”

Bagaimana dengan pertanyaan besar : Apa sebenarnya haluan ideologi Sukarno? Tidak ada sebuah ideologi yang pantas disematkan kepada beliau. Ia seorang demokrat, seorang sosialis, seorang humanis, seorang nasionalis, seorang internasionalis dan seorang yang menjunjung tinggi Islam sebagai agama yang haq, namun menghargai semua agama-agama yang ada. Beliau sendiri menjelasan dirinya sendiri sebagai seorang pecinta dan individualis :

Sukarno adalah seorang individualis. Manusia yang angkuh dengan ego yang membakar-bakar, yang mengaku bahwa ia mencintai dirinya sendiri, tidak mungkin menjadi pengikut pihak lain (Adams : 354)

Cara yang mudah mengambarkan sosok Sukarno ialah dengan menyebutnya seorang maha pencinta. Dia mencintai negerinya, dia mencintai rakyatnya, dia mencintai perempuan, dia mencintai seni, dan di atas segala-galanya, dia mencintai dirinya sendiri. (Adams: 1)

Politik, ekonomi, cinta, perseteruan rumah tangga dan kegemaran Sang Proklamator akan ditemukan di dalam buku ini. Buku yang menjadikan sosok Bung Karno layaknya rakyat kebanyakan dengan kegemaran makan sate di pinggir jalan dan berbicara dengan bahasa daerah kepada petani miskin di wilayah priyangan. Bahkan perseteruan dengan istri-istrinya-pun beliau tulis di dalam buku ini. Pada saat kita selesai membaca mungkin kita akan tertegun sejenak dan berpikir : tidak ada pemimpin republik yang pantas mengantikan posisi Bung Karno, Sang Penyambung Lidah Rakyat.

Selamat Membaca!

Ferry Fadillah. Bintaro, 21 Maret 2015.

, , , , , , ,

Leave a comment