Posts Tagged nilai

UJIAN

“Tuhan tidak akan membebani manusia dengan ujian yang melampaui kemampuan mereka”, tutur agamawan dan seperti yang khalayak sepakati bersama.

Ujian memiliki ragam rupa. Terkadang ia hadir sebagai harta yang menggiurkan. Atau, menghampiri kebanyak orang sebagai kemiskinan yang memilukan : rasa malas, kecerobohan dan kelemahan sebagai permulaannya. Atau, dalam kasus lain, ia hadir bersamaan, silih berganti, memaki, dan tanpa mampu memaknai, manusia hanya berkata, “..yang terjadi, terjadilah!”.

Kehidupan bukanlah rumus matematis yang begitu ritmis dan terencana sesuai agenda, tulis Mubarok dalam catatan bagi pementasan lakon berjudul ‘Loket’ di Denpasar beberapa tahun lalu. Suatu ketika manusia harus siap mengalami perubahan ekstrim dari tujuan hidup semula. Mungkin terlahir sebagai mulia dan berakhir sebagai nista, atau memulai usaha penuh nestapa dan berakhir sukses dengan bahagia. Begitulah, ujian dalam kehidupan, menawarkan kejutan-kejutan, sembari perlahan –atau mungkin cepat- kita berjalan menujuNya.

Bagaimana ujian dalam bentuk yang lumrah di benak akademisi? Tulis menulis yang menentukan nilai, kelulusan, bahkan kematian (ingatkah kisah seorang anak yang bunuh diri karena gagal ujian nasional ?). Logika “Tuhan tidak akan membani ujian melebihi kemampuan manusia” tidak lagi berlaku. Dosen atau guru adalah entitas yang terpisah dari Tuhan. Mereka –sebagaimana kita- memiliki rekam kejahatan di masa lalu, jauh ketika Adam dan Hawa diusir dari surga, kerajaan saling serang satu sama lain, dan bangsa kulit putih menjajah bangsa kulit berwarna. Walau mereka bukan aktor atas peristiwa sejarah itu, namun mereka –sekali lagi, sebagaimana kita- mewarisi gen keserakahan dan kecerobohan.

Ujian tulis menulis yang lumrah kita kenal, sebagai produk manusia, tidaklah lepas dari kesalahan-kesalahan : terlalu mudah atau terlalu sulit. Tuhan, entitas Agung Yang Maha Empati, tentu berbeda dengan dosen atau guru yang maha manusiawi. Adakah mereka mampu ber-empati atas isi kepala dan nurani ratusan siswa yang diajarnya?

Suatu saat, sebagai akademisi, mungkin pernah kita hadapi ujian tulis menulis itu. Kita siapkan catatan, rumus, hapalan dan literatur semalam suntuk. Tapi kadang kita dibuat terhenyak ketika ujian-ujian itu dibagikan di muka meja. Ujian itu begitu sulit, jauh dari apa yang diajarkan, begitu luhur, hingga yang ‘bodoh’ pun enggan untuk menyentuhnya. Seperti ketimpangan pada umumnya, majikan-buruh, tuan tanah-petani, dan kini, dosen-murid, ujian-ujian ini hanya akan melahirkan : P E R L A W A N A N.

Ferry Fadillah. 21 Februari 2015.

Advertisements

, , , , ,

Leave a comment

Menggugat Nilai-Nilai Sendiri

Pertama saya sadar bahwa banyak sekali nilai-nilai hidup saya yang berubah. Penyesalan mulanya ada, tetapi ketika menimbang kembali saya baru tergugah bahwa nilai-nilai hidup adalah sesuatu yang dinamis, terus berubah seiring interaksi sosial dan pengetahuan yang diserap.

Bukan berarti saya orang yang tidak prinsipal, tidak memiliki sikap, tidak memiliki pendirian dan berubah-ubah sekehendak hati, nihilisme nilai. Namun saya paham bahwa kebenaran yang saya anggap benar (yang kemudian disebut nilai-nilai) adalah benar menurut saya saja atau benar menurut beberapa gelintir orang dari milyaran manusia di dunia ini, bisa jadi salah bisa jadi benar, apalagi sebagai orang beragama saya yakin bahwa kebenaran itu hanya berasal dari Tuhan.

Pertanyaannya adalah, apakah kebenaran dari Tuhan itu dapat kita ketahui dengan tepat padahal Tuhan bersemayam entah dimana, berbeda-beda bentuk sesuai persepsi kebudayaan masing-masing? Beberapa dari agama-agama di dunia memiliki klaim kebenaran masing-masing melalui kitab yang mereka pegang teguh, disebarkan dari mulut ke mulut atau budaya tulisan, dari para Nabi, Resi atau orang suci . Para umat agama didoktrin sedemikian rupa, dengan prosesi selama berabad-abad atau bertahun-tahun sehingga mereka –pada umumnya- kehilangan daya kritis terhadap apa yang mereka terima. Ini prinsip, beragama tidak bisa dibandingkan dengan rasio! Menurut beberapa orang yang mengaku agamawan.

Sayang beribu sayang, kebenaran-kebenaran ini jika tidak dikritisi akan menjadikan kita sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai tertutup, nilai-nilai yang egositik, tertutup bagi pintu diskusi untuk mencapai konklusi yang lebih mendekati kebenaran. Dengan mudah kita label-melabeli, membawa nama Tuhan, tetapi budi pekerti tidak lebih jauh dari binatang buas.

***

Negara kita memiliki iklim demokrasi yang cukup baik. Dalam sebuah bingkai demokrasi kebebasan berpikir adalah hal yang harus dijamin oleh negara, selama tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain atau dalam kata sederhana kebebasan yang bertanggung jawab.

Kebebasan yang bertanggung jawab berarti nilai-nilai yang kita pegang seyogyanya dibandingkan dengan prinsip oposisi untuk mencapai kebenaran sejati. Yang diharapkan dari praktik ini adalah kita, umat manusia, menjadi makhluk yang tidak terikat otoritas apapun dari luar dirinya, takhayul, adat yang mengekang, otoritas pemerintah, ketakutan akan kesialan dan lain sebagainya. Manusia menjadi pemikir-pemikir yang secara sadar memilih jalan yang mereka tempuh, bukan manusia-manusia yang dikuasai jalan-jalan yang sudah ditentukan manusia lain tanpa mengetahui kenapa harus memilih jalan tersebut.

Kemerdekaan sudah kita genggam, lantas mengapa masih saja kita abai untuk memanfaatkannya. Duduk  santai dalam lamunan masa kolonialisme-keterkekangan, perbudakan, penghambaan.

Ferry Fadilah
25 Oktober 2012

, , , , , , ,

Leave a comment

Yang Seharusnya dengan Yang Ada

Pertama, saya tidak pernah menyatakan dengan resmi bahwa tulisan  ini merupakan manifestasi kegalauan anak muda.

Kedua, saya begitu menaruh hormat kepada setiap munusia yang membaca tulisan ini dengan tanpa prasangka terlebih dahulu, terbuka, dan tulus ikhlas menerima perbedaan perspektif.

***

Butuh keberanian besar unutk menjungkirbalikan suatu nilai bukan ? Apalagi ketika nilai itu sudah mengakar kuat dalam sistem sosial tertentu dan anggota dari sistem itu sudah tertidur pulas untuk mengkritisi benar atau tidak nya nilai yang mereka anut selama ini.

Namun bagi sebagian orang, yang tercerahkan, yang berani mempertanyakan nilai-nilai yang sudah tertancap itu, maka akan ada selalu pertentangan antara apa yang ada  dengan apa yang seharusnya ada.

Beberapa orang dengan kekuatan ekonomi, politik, strata sosial, keningratan dan sebagainya sukses memperjuangan nilai-nilai yang seharusnya ada dalam sistem sosial. Namun di sisi lain, mereka dengan semangat perubahan tinggi, namun dengan segala keterbatasan ekonomi, politik, strata sosial, keningratan, fisik dan sebagainya hanya bisa bergumam dalam hati dan berdoa kepada yang Kuasa akan stabilitas sistem sosial yang ideal di masa depan.

Ada pertanyaan yang cukup membuat saya berpikir keras ?

Apa ia  perubahan itu harus dimulai dengan segala keber-ada-an kita. Kalau memang kita mampu, ber-ada-, bisa, maka dimana letak perjuangannya?

Perjuangan untuk membalikan nilai-nilai yang seharusnya ada dalam suatu sistem sosial lah yang menjadi kesolehan jalan hidup bagi mereka yang menjalaninya. Dengan keterbatasan ia berjuang dengan cara masing-masing, tidak mengharap doa, uang atau berkah dari agamawan.

Dan pada titik maksimal, ketika perjuangannya selesai dibawah garis kehendak Tuhan, maka kehidupannya akan menjadi inspirasi bagi kehidupan sesama.

Terpujilah mereka para pejuang.

Terkutuklah mereka yang lama tertidur.

Ferry Fadillah
Bali, 29 Mei 2012

, ,

Leave a comment

Ujian Hanya Mengejar Nilai

oleh Ferry Fadillah

"ujian"

Ujian adalah sebuah ritual yang wajib ditempuh siswa dalam periode tertentu guna menilai kemampuan akademik yang telah diperoleh dari lembaga pendidikan. Bentuknya bisa beragam, tertulis maupun lisan.

Sepertinya, semua lembaga pendidikan di manapun saat ini telah meyakini bahwa ujian sebagai satu-satunya jalan untuk memperoleh ukuran kemampuan siswa dalam bidang akademik.

Penyelenggara SMP akan mengadakan ujian seleksi masuk bagi siswa SD yang ingin melanjutkan sekolahnya. Perguruan Tinggi akan mengadakan Ujian Saringan Masuk untuk menyeleksi siswa SMA yang mendaftar ke kampusnya. Semua memerlukan ujian, dan muara dari semua ujian adalah mendapatkan nilai yang sempurna.

Secara normatif nilai sempurna didapat dengan cara belajar tekun dan konsisten, tapi pada pelaksanaanya terkadang proses belajar seperti ini di nomor dua kan oleh mereka yang terbiasa mendewakan uang dan relasi khusus. Sudah bukan barang aneh jika kita mendengar seorang siswa yang membayar sekian rupiah untuk masuk sekolah tertentu, sudah lazim jika kita dengar ada siswa yang memanipulasi sertifikat prestasi untuk mendapatkan sekolah idaman, dan sudah biasa jika anak guru selalu mendapat jatah bersekolah ditempat kerjanya.

Karena yang menjadi tolak ukur keberhasilan siswa adalah nilai yang sifatnya material (matter=benda), maka tidaklah heran jika benda-benda pada zaman seperti ini seolah telah menjadi dewa yang diagungkan. Nilai didewakan, rupiah didewakan, rumah mewah didewakan, dan semua benda duniawi yang akan musnah pada akhirnya telah menjadi dewa dalam kehidupan semua orang.

Sejauh apapun cita-cita sebuah bangsa untuk melihat birokrasi di negaranya bersih dari korupsi akan pudar jika ternyata nilai material masih menjadi dewa dalam semua segi kehidupan. Padahal ada sebuah nilai yang terlupakan, nilai yang menjadi penentu bersihnya sebuah sistem birokrasi, dan kejayaan sebuah bangsa yaitu nilai kereligiusan.

Nilai Kereligiusan

Sifatnya abstrak, ghaib dan berada dalam hati manusia. Sulit memang untuk melakukan penilaian ini, karena manusia diberikan karunia untuk bermuka dua di depan orang. Kadang menjadi baik, kadang menjadi buruk.

Tapi jika kita benar-benar mengusahakan penilaian ini, maka bentuk-bentuk pedewaan kepada benda akan berangsur-angsur hilang dan musnah. Pada gilirannya kehidupan pendidikan akan dipenuhi dengan keriligiusan dengan kehidupan berorinetasi akherat.

Orientasi akherat disini bukan berarti seorang siswa melupakan kehidupannya di dunia, tetapi seorang siswa dalam bersikap selalu mengingat bahwa dirinya hanya hidup sekali dan nanti akan mati. Pola pikir seperti inilah yang akan merangsang siswa untuk lebih produktif dalam berkarya bagi kesejahteraan masyarakat dan berhati-hati dalam segala tindakan.

Nilai keriligiusan hanya dapat ditanam dan dinilai oleh guru yang bernilai religius pula. Guru yang melihat siswanya dengan penuh kekhawatiran akan masa depannya, sehingga berusaha seoptimal mungkin mengubah akhlaknya yang, mungkin, jahiliyah menjadi ilahiyah.

Nilai-nilai kerilgiusan saat ini biasanya berbentuk abjad dalam buku raport. Dan itu sama sekali tidak mewakili sikap seorang siswa selama menempuh pendidikan. Alangkah baiknya penilaian berbentuk deskripsi ringan mengenai sikap seorang siswa selama menempuh pendidikan, dan deskripsi ini hanya dapat terwujud apabila guru benar-benar perhatian kepada siswanya.

Dari Guru yang mengajar dari hati, maka hadir pula siswa yang bekerja dengan hati, karena buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.

sumber gambar : www.matanews.com

, ,

1 Comment