Archive for September, 2010

Cinta yang Memperdaya

Pacaran. Sebuah fenomena yang tidak asing lagi dikalangan anak muda. Jiwa-jiwa muda yang penuh dengan gelora cinta telah menciptakannya. Mengubah kehidupan yang dahulu sendiri dan biasa saja menjadi luar biasa dan penuh hikmah. Ambilah contoh bahwa ketika sendiri mereka tidak perlu memahami seseorang tetapi setelah berpacaran mereka mau tidak mau harus memahami seseorang. Hal ini wajib bagi mereka, jika tidak maka kehidupan akan mempersulit jiwa mereka bagi kebahagiaan.

Cinta adalah murni, suci tanpa kotoran. Tapi setan-setan sejak zaman Nabi Adam telah bersiap menghadapi hal ini. Mereka bariskan pasukannya, berpergian ke negeri-negeri dan merasuk ke dalam jiwa-jiwa yang dipenuhi rasa cinta. Alhasil, kemurnian-kemurnian tersebut pada akhirnya akan menjelma menjadi istilah yang memperdaya.

Sudah bukan rahasia umum lagi, bahwa banyak anak muda yang sering bergunta-ganti pasangan hidup. ‘Mencicipinya’ satu per satu dan berdalih belum menemukan cinta sejati. Pada saat misi kesejatian tersebut selesai, berapa belas anak manusia kah yang kehilangan kesuciannya atas nama cinta sejati tersebut ? Sungguh mengundang tawa.

Sudah menjadi langganan kisah-kisah romantis. Bahwa cinta sejati dimaknai cinta sampai mati, maka tidaklah heran jika ada dari mereka yang ditinggal pergi kekasih lantas mengakhiri hidupnya dengan cara-cara yang hina dina : mati kehabisan nafas di tiang gantung atau mati keracunan menenggak pembersih lantai. Sebelumnya pun banyak dari mereka yang menyiksa diri sendiri. Menyiksa diri karena patah hati, sakit hati maupun berpaling(nya) hati. Semua itu hanya karena dan berakibat karena kesesatan pemahaman cinta.

Begitulah sekelumit kesesatan-kesesatan cinta. Kemurnian yang memperdaya telah menjadi bencana. Istilah-istilah makin beragam memperindah sebuah hakikat yang sebenarnya buruk : bunuh diri, menyiksa diri sendiri dan mempermainkan wanita. Tapi setan tampak lebih hebat, karena cinta telah  dibuat memperdaya

Kecuali satu..

Cinta kepada Tuhan. Cinta yang tidak akan pernah diperdaya, karena itu murni dan suci. Cinta yang aslinya hinggap pada jiwa-jiwa suci ketika masih terhubung tali pusar dengan sang ibunda dan cinta yang sesungguhnya akan membahagiakan hidup dan kehidupan manusia.

semoga kita memilikinya…amin.

 

sumber gambar : klik wae didieu nya

,

3 Comments

Praktik Kerja Lapangan

" pegawai bea cukai sedang memeriksa dus-dus yang berisi MMEA (Minuman Mengandung Etil Alkohol) Ilegal"

Setelah beberapa hari otak di-charge dengan kesenangan di kampung halaman. Pada tanggal 16 Agustus 2010 semua mahasiswa harus benar-benar menggunakan daya otak yang sudah di-charge tersebut untuk menghadapi Praktik Kerja Lapangan.

Seperti kata pepatah : langkah ke seribu dimulai dari langkah yang pertama. Oleh karena itu, hari pertama mau tidak mau harus dilalui oleh semua mahasiswa. Karena itu menjadi penentu bagi hari-hari berikutnya.

Bukan rasa senang dan sumringah yang terukir dalam wajah anak-anak remaja yang siap kerja tersebut, tetapi kerutan-kerutan kebingungan yang terbentuk akibat minimnya informasi mengenai PKL. Di bagian manakah saya nanti ? Apa saja yang saya kerjakan nanti ? Bagaimana mencari data disela-sela pelaksanaan PKL ? Tidak heran jika di hari pertama, pada umumnya mahasiswa mendapatkan bagian yang kurang sesuai dengan judul laporan masing-masing.

“Mulai besok semua akan saya pindah sesuai dengan judul laporan PKL”, tutur seorang pegawai yang cukup dikenal di KPPBC tipe A2 Ngurah Rai. Dikenal karena kaum adam kerap kali terkagum-kagum dengan kecantikannya. Setelah itu mahasiswa dipecah kembali kedalam beberapa kelompok : cukai, pabean, perbendaharaan dan P2

Beruntung bagi mereka yang mendapat bagian di P2, bukan saja banyak pekerjaan (mengisolasi minuman beralkohol dalam dus-dus seukuran dus aqua, mencabut pita cukai palsu dari botol minuman haram dan naik mobil ranger menegah barang ke tempat hiburan malam), tapi makanan ringan dan berat akan selalu menemani mereka disaat waktu PKL berakhir setiap harinya. Hal ini tentu terjadi karena kebaikan dosen pembimbingnya.

Saya sendiri berencana membuat laporan PKL dengan judul ‘Prosedur Penerbitan  NPPBKC bagi Pengusaha TPE MMEA’. Di kantor kecil bersih yang sejuk dengan bimbingan kasi bernama Pak Wayan. Dia orang asli bali, ramah dan tidak pelit dalam memberikan ilmu yang ia ketahui walaupun ia sedang sibuk. Tapi sayangnya dikantor tersebut semua pekerjaan sudah ada yang menangani masing-masing dan saya hanya kebagian men-cap beberapa Dokumen CK-4 yang dapat diselesaikan dalam waktu beberapa menit saja. Alhasil banyak sekali waktu luang yang saya miliki.

Begitulah hari-hari yang saya lalui sampai 27 Agustus 2010 berakhir. Masuk keruang kantor, duduk di kursi hitam dengan meja abu-abu bercap departemen keuangan, berhadapan dengan laptop Toshiba ukuran 17 inchi, dan dihibur oleh TV kecil yang selalu menayangkan berita-berita terkini serta tidak lupa pula men-cap dokumen-dokumen apabila memang ada yang menyuruh.

Apalagi jika bukan bosan wal jenuh yang menimpa saya. Terperosok jauh dalam kemalasan yang terbentuk selama beberapa jam dikali 14 hari di kantor tanpa kerjaan. Dapat saya bayangkan bagaimana jika hal ini benar-benar terjadi pada diri saya. Menua dalam hal tidak melakukan apapun.

Untungnya dalam pengamatan saya, semua pegawai  bea dan cukai mempunyai perkerjaannya masing-masing. Bukan hanya punya tapi juga sibuk mengurusinya. Ditambah cctv disemua sudut ruangan, tentu semua pegawai harus  menjaga image selama berkantor, tidak bisa tiduran di waktu siang dan ber-KKN dengan para pengusaha. Sungguh reformasi birokrasi yang menyejukan hati. Pemandangan yang berbeda ketika orang-orang yang saya kenal memandang kotor pekerjaan ini.

Leave a comment

Berjalan Mengikuti Bayang-Bayang

 

" Berjalan Mengikuti Bayang-Bayang "

Adalah seorang anak lelaki yang tidak pernah puas dengan keadaan. Yang selalu bersikap seolah Tuhan berada dalam genggamannya, dan Qada dan Qadar Tuhan hanya berlaku bagi mereka yang diam. Tidak bergerak hanya menerima nasib tanpa meminta lebih.

Terbentuk akibat kesenjangan sosial yang begitu lebar di negeri ini. Yang telah menciptakan jiwa-jiwa iri antara si miskin dan si kaya. Terlalu banyak melihat ke atas dan melupakan dasarnya berpijak. Ditambah suguhan sinetron berjam-jam setiap hari yang selalu menampilkan kemewahan benda duniawi, baju mahal, dan gaya hidup hedonisme.

Bukan saja anak lelaki tersebut yang mengalaminya, tapi hampir semua anak manusia kian hari kian tidak puas dengan kondisi mereka saat ini. Padahal jelas bahwa Tuhan telah menentukan rezeki manusia sejak lahir, tapi mungkin hal ini belum tersampaikan ke hati tiap-tiap jiwa. Tiadalah heran, disaat ini, jika ditemukan orang-orang yang kurang mapan dalam penghasilan tapi bergaya dan berperilaku bak seorang raja dari timur tengah. Sombong wal angkuh. Bak kacang lupa akan kulitnya.

Pernah penulis dinasihati oleh seorang  nenek bahwasannya hidup itu harus berjalan mengikuti bayang-bayang. Yang maknanya adalah membeli dan memiliki sesuai dengan kemampuan kita, tidak memaksa, dan tidak keukeuh jika ternyata belum mampu. Berat memang rasanya jika hal ini dilakukan ditengah orang-orang yang selalu memamerkan harta duniawi sepanjang hidupnya. Tapi inilah satu-satunya cara untuk berdamai dengan kehidupan.

Pernah suatu ketika penulis menjelma menjadi seorang lelaki tersebut tapi tanpa bergaya bak seorang raja dari timur tengah. Hatinya kusam dipenuhi keinginan yang tidak terpenuhi, dan celakanya mengesampingkan Tuhan dari segala usaha-usahanya. Kekecewaan yang menyebabkan itu. Muak akan panjangnya doa, dan muak dengan mereka yang selalu berpasrah diri.

Tiba-tiba sebuah kitab terbuka untuk memberikan pencerahan. Dan tentu itu semua atas izin yang maha kuasa. Kitab yang ditulis oleh Syeh Abdul Qadir Jailani itu membuka mata hati akan kekuasaan Tuhan, bahwasannya apapun yang terjadi dalam kehidupan ini telah ditentukan oleh Tuhan. Hal ini bukan berarti menjadikan manusia hanya nrimo nasib saja, tapi ada kewajiban besar  bagi manusia untuk berusaha, berusaha, dan berusaha.

Setelah hal sederhana ini penulis pahami, kedamaian jiwa selalu menyelimuti ketika usaha-usaha yang dilakukan penulis berhasil maupun gagal. Tuhan itu memang segalanya, begitulah kesimpulannya. Menyepelekannya hanyalah menciptakan ketidak damaian dalam kehidupan.

 

Ferry Fadillah. 20-10-10

sumber gambar : klik wae didieu nya

Leave a comment