Posts Tagged mati

Kerja, Hidup, Mati

Dengan mengabaikan setiap masalah. Manusia Indonesia pasti bisa tersenyum melihat sekelilingnya. Pusat perbelanjaan mewah berderet dengan baliho iklan yang megah. Apartemen mewah disekelilingnya berlomba menawarkan harga kepada pasang mata yang melewatinya. 200 juta, 300 juta, 500 juta, bonus smart phone, sudah full furnished pula. Seolah uang sembilan digit itu adalah daun kelor yang dengan mudah dipetik di pekarangan rumah. Mobil mewah, mobil menengah dan mobil umum bercampur di jalanan. Berderet memanjang menciptakan kepadatan. Isinya paling-paling satu atau dua orang. Menyisakan ruang kosong yang sia-sia. Tidak hanya itu. Polusi keluar dari knalpot. Menambah muram wajah atmosfer bumi yang sudah menua.

Mungkin senyum manusia Indonesia adalah sebuah ironi. Senyum pasrah karena tahu ada masalah namun bingung untuk melakukan apa. Ironi ini pun hadir di dunia maya.

Berkah teknologi sangat terasa sampai ke pelosok dukuh di pulau Jawa. Teknologi menjadikan yang jauh menjadi dekat. Memperpendek jarak. Mempermudah pengawasan. Sekaligus memperdalam kecemburuan sosial.

Dunia maya itu dunia tanpa sekat dan hierarki. Pejabat hingga pejahat; ustadz hingga pezinah; atau ilmuwan hingga pembual sah-sah saja beropini dan menyebarkan sesuatu yang mereka miliki. Tulisan, gambar, atau video.

Kini populer mengabadikan momen kehidupan di dunia mikroblog semisal twitter, facebook dan path. Makanan mewah yang akan disantap, difoto, di-upload. Hotel mewah yang baru dikunjungi, difoto, check in, diberi komentar, di-publish. Pacar cantik yang baru bertemu kemarin, di update-nya status hubungan di facebook, ditunggu-tunggunya komentar pujian, dibalasnya dengan emoticon ini itu. Begitu seterusnya entah sampai kapan.

Padahal di lain sisi, di dunia maya yang sama, namun di dunia nyata yang berbeda, kehidupan bisa sangat miris. Makanan mewah itu mungkin hanya bisa dinikmati beberapa kalangan dengan menabung upah bekerja selama satu tahun. Hotel mewah itu bisa jadi hanya impian anak kecil penghuni rumah kardus di bantaran sungai ciliwung. Pacar cantik itu juga sudah pasti barang langka bagi jomblowan jomblowati NKRI yang mulai kehilangan kemampuan komunikasi verbal karena terdegradasi komunikasi singkat ala social media. Bukankah ini semua mengundang iri dengki saudara kita di jagat maya dan nyata? Moga-moga saja santet dan teluh tidak bisa masuk melalui jalur komunikasi digital. Amin.

Hidup, Kerja, Mati

Hidup, kerja, mati. Siklus kehidupan yang harus dilalui semua manusia. Tapi apakah hanya untuk itu manusia hidup. Hanya kerja kemudian mati. Nothing special.

Ketimpangan sosial yang terjadi di dunia maya dan nyata telah menularkan virus pragmatis bagi semua kalangan. Kekayaan adalah panglima, caranya ditempuh dengan segala cara.

Sialnya media masa negeri ini bukan berusaha mengikis pemikiran itu malah memupuk liar dengan tontonan yang kurang mendidik. Kemewahan, kesenangan, kekonyolan dipertontonkan dari pagi hingga malam. Dari acara talkshow remeh temeh, gosip urusan ranjang hingga ceramah agama penuh banyolan disiarkan kepada 200-an juta pasang mata di nusantara. Dengan rendahnya tingkat literasi maka tontonan itu akan sangat cepat membentuk pola pikir kolektif. Sialnya pola pikir itu berwujud pragmatisme.

Bagi seorang pragmatis hidup itu yang untuk kerja, kerja ya untuk kaya, beli mobil nyicil, rumah nyicil, nikah ngutang, dan selesai –mati.

Kalau ada orang kritis bertanya ini itu tentang agama, tujuan kehidupan, siapa itu Tuhan, apa itu kerja, apa itu hidup, bagaimana itu ekonomi berjalan, tentu mereka akan acuh dan meneruskan pekerjaan praktis mereka. Pertanyaan itu hanya membunuh waktu yang bisa mereka pergunakan untuk bekerja dan memanen uang.

Padahal, sebelum memiliki keingininan akan makanan dan mainan, dahaga pertama manusia adalah menjawab segala pertanyaan hidup. Ketika kecil, manusia selalu bertanya akan setiap hal yang ia lihat dan rasa. Apa itu hidup. Apa itu sakit. Apa itu Tuhan. Apa itu mati. Kenapa harus hidup. Kenapa harus kerja. Kenapa harus mati. Kenapa budaya berbeda dll. Semua itu pertanyaan kanak-kanak yang berhenti manusia renungi ketika orang tua membentak karena lelah sepulang kerja. Atau dimarahi guru karena dianggap melawan. Dipelototi ustadz karena dikira kualat. Atau mulai terpengaruh pikiran pragmatis bahwa hidup itu ya yang penting cari uang.

Padahal pertanyaan itu akan membuat hidup manusia lebih bermakna. Manusia tidak lagi sekadar variable dari siklus produksi yang dapat dieleminir oleh pemilik perusahaan. Dipindah ke sana kemari tanpa ada daya upaya. Pertanyaan itu juga yang akan menuntun manusia kepada hal-hal pokok dan mengabaikan hal-hal remeh. Bekal yang penting di saat banyak manusia sibuk bertikai untuk hal-hal remeh dan lalim akan hal-hal pokok. Pertanyaan itu juga yang akan menciptakan rasa puas dalam pekerjaan karena didasari semangat dan kesadaran. Perasaan yang sangat penting ketika manusia modern merasa hampa melakukan rutinitas keseharian. Penuh harap akan hari jumat dan penuh cemas ketika perjumpa senin.

Seandainya boleh melamun melambung tinggi. Kiranya ada sebuah dunia. Dimana setiap manusia mendapat upah setara untuk setiap jenis pekerjaan. Pilihan pekerjaan didasari oleh keinginan dan kemampuan. Bukan paksaan atau faktor ekonomi. Produksi tidak kurang atau lebih karena didasari nilai guna bukan nilai tukar. Semua orang bahagia dan memiliki banyak waktu luang. Siang dipakai bekerja, malam dipakai apesiasi sastra.

Ah, imaji tinggalah imaji, selama nafsu masih di kandung badan pragmatisme adalah sebuah keniscayaan.

Ferry Fadillah

Cekungan Bandung, 27 Agustus 2015.

sumber gambar : http://www2.warwick.ac.uk

, , , ,

Leave a comment

Soal Kematian

Ramai-ramai orang bicara tentang kematian. Biangnya media massa. Hukuman mati yang menjadi putusan akhir kurir narkoba mancanegara itu telah beranak pinak menjadi perbincangan yang seru, antara pro dan kontra.

Bicara kematian. Saya jadi teringat almarhum kakek, dari jalur Ayah yang tinggal di Ciamis. Waktu itu karena mengalami masalah dengan suhu, beliau memilih tinggal di Surabaya dengan cuaca yang lebih hangat. Tak disangka, di kota pahlawan itu beliau menderita pecah pembuluh darah otak. Segera, maut memeluknya. Ia terdiam kaku, diranjang kecil, di sekitaran Wonocolo.

Orang-orang menangis, termasuk saya. Padahal keberanian dan ketegaran sudah dipersiapkan. Kematian adalah kepastian, batinku. Namun tetap saja, entah reaksi hormon apa dalam tubuh, air mata menganak sungai tidak terbendung.

Kematian menandakan perpisahan. Kematian menandakan tapal batas, antara yang di sini dengan yang liyan. Kematian juga sebagai gerbang menuju keabadian, karena jasad akan menua sedangkan ruh tidak.

Orang Islam percaya, kematian hanyalah masa transisi menuju alam berikutnya. Kelak sesuai amal, manusia akan menuju tempat tinggal terakhir : surga atau neraka. Mungkin, bayang-bayang neraka lah yang kerap menjadi momok dalam menghadapi kematian. Atau, mungkin, alasan-alasan pragmatis, sang mayat adalah tulang punggung keluarga, jika ia pergi bagaimana menghidupi sekian banyak anak, sewa rumah dan bunga hutang yang melilit-lilit. Maka isak tangis itu, lebih menandakan kekhawatiran material dibanding spiritual.

Lantas, perbincangan hangat akan hukuman mati, apakah perbincangan antara pemikiran material atau spiritual? Saya kira pokok perdebatannya bukan di sini, tapi, apakah manusia berhak untuk menentukan ajal seseorang?

Mereka yang kontra berdalih bahwa kematian hanya dapat ditentukan oleh Allah. Sedangkan yang pro berdalih bahwa hukuman mati akan menciptakan efek jera bagi pengedar baru yang akan masuk di tanah air.

Saya pibadi bersebrangan dengan pendapat pertama. Hukuman mati bukanlah barang baru di peradaban ini. Raja-raja Eropa dan Timur Tengah masa lampau menjadikan hukuman mati sebagai tontonan massal untuk memberikan pelajaran; bahwa kejahatan ini atau itu jika dilakukan akan berkonsekuensi kematian.

Narkoba, korupsi, dan tindak kejahatan lain sebenarnya berhulu dari satu hal : lupa akan kematian. Pelaku pikir hidup ini akan lebih panjang lagi sehingga sebelum akhir Allah akan memaafkan segala dosa. Tapi seperti kematian itu sendiri, ia begitu mesteri, kita tidak pernah tahu kapan akan menghadapinya.

Hukuman mati berarti mengingatkan kita -yang baik, yang jahat, maupun yang abu-abu- bahwa kematian itu pasti. Kematian tidak akan menuntut kita untuk menjadi kaya raya. Semua sama di hadapannya. Seorang koruptor uang negara milyaran rupiah dengan vonis 5 tahun, atau seorang kakek miskin pencuri 50 gram merica dengan vonis 2 bulan 25 hari.

Ferry Fadillah. Bintaro, 17 Maret 2015

, , ,

Leave a comment

Tugu Kematian

"bukankah mudah bagi Tuhan untuk menghancurkan dunia ini, lalu ketika itu mereka yang mencari kebahagiaan dari dunia akan mencari kebahagiaan dari mana lagi ?”

Waktu itu langit begitu cerah, secerah wajah orang-orang yang berfoto ria di depan tugu itu. Semua seolah melupakan kejadian beberapa waktu silam. Sebuah kejadian yang jika direnungkan bisa saja terjadi kepada siapapun dan dimanapun di dunia ini.

***

“Kau tahu tugu apa itu ?”

“entahlah, tapi kenapa ada deretan nama-nama di sana, dan kenapa ada karangan bunga di sana, seolah ada pertanda akhir dari mereka yang terpampang namanya di sana”

“tepatnya itu adalah tugu kematian”

“wah! Lantas mengapa mereka yang berziarah begitu sumringah berfoto-foto disana. Apa mungkin mereka sudah merasa tidak takut lagi ketika jiwa harus meninggalkan raganya?”

“Entahlah, aku tidak tahu, karena hati hanya yang memiliknya dan Tuhannya lah yang tahu”

“Aku mendapat kabar, katanya sekitar sini adalah tempat dugem yang begitu terkenal oleh wisatawan asing di malam hari. Ratusan orang tumpah dalam naungan musik R & B, lantas botol minuman keras selalu mereka pegang dan tenggak di manapun, tidak jarang ada tempat yang sengaja memajang wanita sexy untuk memikat para tamunya, dan sialnya mereka berdalih untuk mencari kebahagiaan hidup !”

“Kebahagiaan hidup ? ah, apa mesti kebahagiaan hidup itu dicari dari dunia, bukankah mudah bagi Tuhan untuk menghancurkan dunia ini, lalu ketika itu mereka yang mencari kebahagiaan dari dunia akan mencari kebahagiaan dari mana lagi ?”

“Entah lah, kawan. Tapi yang jelas sebenarnya Tuhan telah memperingatkan mereka melalui tugu yang tadi kau sebut itu. Itu tugu kematian kawan-kawan mereka yang menjadi korban bom. Pada saat itu orang tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu. Andai kita semua bayangkan, apa mungkin terbangun sebuah tugu lagi untuk sebuah kematian yang lebih luas ?”

“Maksudmu?”

“Aku tidak berbicara mengenai bom terorisme dan tetek bengeknya tapi aku berbicara mengenai Kuasa Tuhan ku. Bukankah begitu mudah bagi Tuhan untuk menaikan ombak di pantai lalu menghantam mereka yang sedang mencari kesenangan dunia tanpa persiapan apapun, bukankah mudah bagi Tuhan untuk menggoncangkan bumi ini dan meluluh lantahkan semua yang berdiri di atasnya, lantas ketika semua itu selesai, kita akan dikenang menjadi tugu kematian, yang sebenarnya menjadi sarana bagi manusia untuk mengingat-ngingat bahwa kematian itu pasti akan datang”

“Dan pada saat itu, kita akan bertemu Tuhan kita, mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan”

“tepat sekali kawanku”

“lalu dengan adanya tugu kematian bencana itu, apa manusia setelah kita akan ingat tentang hari perjumpaan dengan Nya”

“Bisa jadi iya, bisa jadi mereka seperti kita yang saat ini, masih bisa tersenyum dan berfoto ria di atas tugu-tugu kematian kawan-kawan sebelum kita”

“Ah celaka sekali manusia !”

“Itulah kita”

Keduanya nya pun meninggalkan tugu kematian tersebut. Tiba-tiba langit mendung. Hujan gerimis turun dari langit. Semua orang lari dari tempat terbuka, tergesa mencari tempat berteduh. Tapi apakah mereka bisa lari dari kematian ?

Badung, 22 Juni 2011

, ,

2 Comments