Archive for March, 2015

Bung Karno :Penyambung Lidah Rakyat

2549396Judul Buku      : Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat

Pengarang      : Cindy Adams

Penerjemah    : Syamsu Hadi

Penerbit           : Yayasan Bung Karno dan Media Pressindo

Tahun Terbit    : 2007

Tebal Buku      : 415 halaman

Bung Karno adalah nama besar yang menjadi ingatan kolektif Bangsa Indonesia. Namanya diperbincangkan banyak kalangan; mulai dari sisi mistisme hingga pidatonya yang meledak-ledak. Banyak orang mengunjungi tempat kramat di selatan Pulau Jawa yang disebut-sebut sebagai petilasan Bung Besar ini, juga, banyak politisi meniru gaya berpakaian dan teknik berpidato beliau untuk meraup untung suara menjelang pemilihan umum.

Otobiografi ini tidak ditulis sendiri oleh Bung Karno, namun dibantu oleh wartawati kebangsaan Amerika Serikat, Cindy Adams. Mulanya Bung Besar keberatan, “Otobiografiku hanya mungkin jika ada keseimbangan (subjektifitas dan objektifitas –pen) antara keduanya.Sekian banyak yang baik-baik supaya dapat mengurangi egoku dan sekian banyak yang jelek-jelek agar orang mau membeli buku itu…Hanya setelah mati dunia ini dapat menimbang dengan jujur, apakah Sukarno manusia yang baik ataukah manusia yang buruk? (Adams : 16)”, namun karena dibujuk duta besar Amerika saat itu, dan kesadaran bahwa beliau sudah tua akhirnya beliau bersedia menuturkan kisahnya dalam sebuah otobiografi.

Buku yang ditulis dengan gaya berbicara Bung Karno itu merupakan perjalanan panjang beliau dari mulai dilahirkan saat fajar menyingsing, perjuangannya dengan kemiskinan di masa kolonialisme Belanda, ‘pertapaannya’ dari penjara ke penjara, pidatonya yang meledak-ledak di hadapan masa, proklamasi, agresi militer belanda hingga firasat akhirnya akan kematian.

Namun, buku ini lebih seperti konfirmasi atas pertanyaan-pertanyaan besar rakyat Indonesia : Apakah Bung Karno Seorang Komunis? Apakah Bung Karno seorang kolaborator Jepang? Apakah Bung Karno Seorang penggila wanita? Untuk apa membangun gedung-gedung mewah ketika rakyat merasa lapar? Mengapa berkonfrontasi dengan Malaysia? Mengapa keluar dari  Perserikatan Bangsa  Bangsa? Mengapa menerima bantuan dari Kremlin? Mengapa Bung menjadi Presiden seumur hidup? Yang bagi kebanyakan orang menimbulkan rasa benci yang tidak lagi proprosional.

Ambilah salah satu contoh konfirmasi Bung Karno dari pertanyaan, Untuk apa membangun gedung-gedung mewah ketika rakyat merasa lapar?

Banyak orang memiliki wawasan picik dengan mentalitas warung kelontong menghitung-hitung pengeluaran itu dan menuduhku menghambur-hamburkan uang rakyat. Ini semua bukan untuk keagunganku, tapi agar seluruh bangsaku dihargai oleh seluruh dunia. Seluruh negeriku membeku ketika mendengar Asian Games 1962 akan diselenggarakan di ibu kotanya. Kami lalu mendirikan stadion dengan atap melingkar yang tak ada duanya di dunia… Ya, memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi jiwa mereka yang tertindas dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebangaan –ini juga penting (Adams : 354)

Dengan membaca otobiografi ini seolah kita mendengar Bung Karno bertutur sendiri kepada kita. Seperti seorang bapak bijak yang memberi tahu alasan-alasan kebijakannya kepada sang anak, karena mungkin sang anak belum mengerti dan memang tujuan beliau menulis otobiografi ini adalah “agar dapat menambah pengertian yang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia tercinta (Adams : 19)”

Bagaimana dengan pertanyaan besar : Apa sebenarnya haluan ideologi Sukarno? Tidak ada sebuah ideologi yang pantas disematkan kepada beliau. Ia seorang demokrat, seorang sosialis, seorang humanis, seorang nasionalis, seorang internasionalis dan seorang yang menjunjung tinggi Islam sebagai agama yang haq, namun menghargai semua agama-agama yang ada. Beliau sendiri menjelasan dirinya sendiri sebagai seorang pecinta dan individualis :

Sukarno adalah seorang individualis. Manusia yang angkuh dengan ego yang membakar-bakar, yang mengaku bahwa ia mencintai dirinya sendiri, tidak mungkin menjadi pengikut pihak lain (Adams : 354)

Cara yang mudah mengambarkan sosok Sukarno ialah dengan menyebutnya seorang maha pencinta. Dia mencintai negerinya, dia mencintai rakyatnya, dia mencintai perempuan, dia mencintai seni, dan di atas segala-galanya, dia mencintai dirinya sendiri. (Adams: 1)

Politik, ekonomi, cinta, perseteruan rumah tangga dan kegemaran Sang Proklamator akan ditemukan di dalam buku ini. Buku yang menjadikan sosok Bung Karno layaknya rakyat kebanyakan dengan kegemaran makan sate di pinggir jalan dan berbicara dengan bahasa daerah kepada petani miskin di wilayah priyangan. Bahkan perseteruan dengan istri-istrinya-pun beliau tulis di dalam buku ini. Pada saat kita selesai membaca mungkin kita akan tertegun sejenak dan berpikir : tidak ada pemimpin republik yang pantas mengantikan posisi Bung Karno, Sang Penyambung Lidah Rakyat.

Selamat Membaca!

Ferry Fadillah. Bintaro, 21 Maret 2015.

, , , , , , ,

Leave a comment

Sejarah

Sejak sekolah dasar di Bandung, seorang guru sudah mengenalkanku dengan sejarah. Sebuah pengetahuan tentang tanggal bulan tahun berikut peristiwa-peristiwa yang ada di masa lampau. Pikiran kecilku dipenuhi hapalan-hapalan yang banyak sekali, mulai dari zaman Sriwijaya sampai Kemerdekaan. Alhasil, bukannya memancing minat, sejarah adalah salah satu pelajaran yang sangat aku hindari.

Saat kelas dua sekolah menengah, aku beruntung mendapat guru sejarah yang sangat memikat. Beliau –yang aku lupa namanya- begitu antusias menghubungkan sejarah yang ada di Nusantara. Beliau bercerita dengan mata berbinar dan intonasi yang jelas. Terkadang antara fakta dan mitos pun ia campur. Memang sejarah negeri ini di tangan para leluhur tidak pernah lepas dari mitos dan legenda. Seorang pahlawan besar kerap diceritakan dengan berlebihan berikut kesaktian-kesaktiannya, sedangkan seorang penjahat juga tidak luput dari gambaran berlebihan itu : buto, raksasa dalam epos Ramayana sering dijadikan personifikasi tokoh antagonis.

Sebenarnya, apa penting mempelajari  sejarah?

Kini, anak muda, termasuk saya, berpikir praktis. Kuliah lah di jurusan yang akan mengantarkanmu kepada kepastian kerja dan kekayaan! Fakultas Kedokteran, IPDN, STAN, ITB, Manajemen, Ekonomi dan semua yang nanti akan terpakai di dunia industri; atau kapitalisme sebagai istilah sarkasme atas ketamakan yang membabi buta. Tidak hanya dunia industri, dunia birokrasi pun menjadi incaran, dengan gaji dan tunjangan yang naik setiap tahun dan kehidupan masa tua yang pasti.

Seorang sejarawan professional bahkan tidak pernah dilirik (kecuali oleh satu kawanku yang terinspirasi film Indiana Jones dan memilih jurusan arkeologi di UGM). Mungkin benar, tidak pernah ada ceritanya seorang sejarawan menjadi kaya raya. Alhasil, sejarah hanya menjadi hobi orang yang mampu membeli buku dan orang-orang Indonesia tetap membiarkannya ditutupi kabut misteri tanpa penelitian serius dan mendalam.

Peter Carey, seorang sejarawan Inggris yang telah melakukan penelitian selama 30 tahun tentang Pangeran Dipenogoro, dalam kata pengantar bukunya berjudul Takdir : Riwayat Pangeran Dipenogoro (1785-1855), menulis demikian :

Saya berharap mereka (generasi muda, pen) tergugah oleh perkiraan mutakhir yang menyebutkan bahwa 90 persen karya tulis ilmiah tentang Indonesia justru disusun oleh mereka yang tinggal di luar Indonesia, yang sebagian besar tentunya orang asing. Jika angka ini benar, maka Indonesia merupakan sala satu negara di dunia yang paling kurang efektif menjelaskan dirinya sendiri pada dunia luar (Reid 2011)… Istilah “jasmerah” (jangan sekali-kali melupakan sejarah) kini terdengar lebih benar dari sebelumnya. Tanpa cinta dan penghargaan pada sejarah mereka sendiri, Indonesia akan terkutuk selamanya di pinggiran dunia yang mengglobal tanpa tahu siapa diri mereka sebenarnya dan akan kemana mereka akan pergi.

Kutukan itu bukan hanya kata kosong di awal pengantar buku, namun telah benar-benar terjadi. Pernah suatu hari aku berjalan-jalan ke museum di sekitar kota tua Jakarta, waktu itu aku berbincang banyak dengan  seorang kawan kelahiran Makassar tentang Pangerang Dipenogoro, dan pertanyaan yang mengagetkan itu muncul, “Siapa sih Pangeran Dipenogoro?”

Bukan hanya itu, lupa akan sejarah menyebabkan generasi muda menganggap remeh produk budaya negerinya sendiri. Jika pada awal abad ke-20, Soekarno muda dapat menjadikan kopiyah/peci yang biasa dipakai rakyat banyak dan dicibir priyayi jawa serta Belanda menjadi identitas kebanggaan nasional. Kini, muda-mudi (mungkin tidak semua) menanggalkan identitas nasionalnya dan berbangga dengan pakaian mahal mode barat, berbicara lancar dalam Bahasa Inggris, memiliki minat besar di dunia tarik suara dengan standar barat, menjadi produser film picisan dengan cerita-cerita jiplakan dari barat dan menamai anak-anak mereka dengan nama para penjajah kita dulu.

Adakah semua itu tidak tampak seperti kutukan?

Ferry Fadillah. Bintaro, 17 Maret 2015.

, , , , ,

4 Comments

Soal Kematian

Ramai-ramai orang bicara tentang kematian. Biangnya media massa. Hukuman mati yang menjadi putusan akhir kurir narkoba mancanegara itu telah beranak pinak menjadi perbincangan yang seru, antara pro dan kontra.

Bicara kematian. Saya jadi teringat almarhum kakek, dari jalur Ayah yang tinggal di Ciamis. Waktu itu karena mengalami masalah dengan suhu, beliau memilih tinggal di Surabaya dengan cuaca yang lebih hangat. Tak disangka, di kota pahlawan itu beliau menderita pecah pembuluh darah otak. Segera, maut memeluknya. Ia terdiam kaku, diranjang kecil, di sekitaran Wonocolo.

Orang-orang menangis, termasuk saya. Padahal keberanian dan ketegaran sudah dipersiapkan. Kematian adalah kepastian, batinku. Namun tetap saja, entah reaksi hormon apa dalam tubuh, air mata menganak sungai tidak terbendung.

Kematian menandakan perpisahan. Kematian menandakan tapal batas, antara yang di sini dengan yang liyan. Kematian juga sebagai gerbang menuju keabadian, karena jasad akan menua sedangkan ruh tidak.

Orang Islam percaya, kematian hanyalah masa transisi menuju alam berikutnya. Kelak sesuai amal, manusia akan menuju tempat tinggal terakhir : surga atau neraka. Mungkin, bayang-bayang neraka lah yang kerap menjadi momok dalam menghadapi kematian. Atau, mungkin, alasan-alasan pragmatis, sang mayat adalah tulang punggung keluarga, jika ia pergi bagaimana menghidupi sekian banyak anak, sewa rumah dan bunga hutang yang melilit-lilit. Maka isak tangis itu, lebih menandakan kekhawatiran material dibanding spiritual.

Lantas, perbincangan hangat akan hukuman mati, apakah perbincangan antara pemikiran material atau spiritual? Saya kira pokok perdebatannya bukan di sini, tapi, apakah manusia berhak untuk menentukan ajal seseorang?

Mereka yang kontra berdalih bahwa kematian hanya dapat ditentukan oleh Allah. Sedangkan yang pro berdalih bahwa hukuman mati akan menciptakan efek jera bagi pengedar baru yang akan masuk di tanah air.

Saya pibadi bersebrangan dengan pendapat pertama. Hukuman mati bukanlah barang baru di peradaban ini. Raja-raja Eropa dan Timur Tengah masa lampau menjadikan hukuman mati sebagai tontonan massal untuk memberikan pelajaran; bahwa kejahatan ini atau itu jika dilakukan akan berkonsekuensi kematian.

Narkoba, korupsi, dan tindak kejahatan lain sebenarnya berhulu dari satu hal : lupa akan kematian. Pelaku pikir hidup ini akan lebih panjang lagi sehingga sebelum akhir Allah akan memaafkan segala dosa. Tapi seperti kematian itu sendiri, ia begitu mesteri, kita tidak pernah tahu kapan akan menghadapinya.

Hukuman mati berarti mengingatkan kita -yang baik, yang jahat, maupun yang abu-abu- bahwa kematian itu pasti. Kematian tidak akan menuntut kita untuk menjadi kaya raya. Semua sama di hadapannya. Seorang koruptor uang negara milyaran rupiah dengan vonis 5 tahun, atau seorang kakek miskin pencuri 50 gram merica dengan vonis 2 bulan 25 hari.

Ferry Fadillah. Bintaro, 17 Maret 2015

, , ,

Leave a comment