Posts Tagged religion

Multikultural

Kementerian Keuangan adalah organisasi pemerintah besar yang memilki 11 unit eselon I. Beberapa unit memiliki satuan kerja vertikal yang tersebar di seluruh Indonesia. Seperti pada Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2017 memberi isyarat adanya pola mutasi dalam jangka waktu tertentu. Sebagaimana termaktub dalam pasal 190, “(2) setiap PNS dapat dimutasi tugas dan/atau lokasi dalam 1 (satu) Instansi Pusat, antar-Instansi Pusat…; (3) Mutasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun”. Maka perpindahan pegawai dari satu satuan kerja pada sebuah kota/provinsi ke kota/provinsi lain adalah wajar belaka.

Pola mutasi inilah yang menyebabkan komposisi ras, suku dan agama pada sebuah kantor menjadi heterogen. Walaupun bekerja di daerah dengan mayoritas Islam, misalnya, sebuah satker DJBC juga memiliki pegawai yang beragama Hindu dan Kristen. Dalam setiap agenda keagamaan mereka diberi ruang dan waktu mengekspresikan penghayatan  ketuhanan masing-masing. Ini dapat dibuktikan dalam struktur pengurus pembinaan mental di DJBC yang terdiri dari komponen Islam, Katolik, Kristen, Hindu dan Budha. Keragaman agama dalam mencapai tujuan bersama organisasi ini benar-benar saya rasakan ruhnya saat bekerja di Kantor Wilayah DJBC Bali, NTB dan NTT tidak sebatas sebagai pegawai kantoran tetapi juga anggota masyarakat yang turut merasakan denyut aktivitas Pulau Dewata.

***

Akhir 2009, saya mendarat di Bali bersama Nenek dan Ibu. Itu adalah kedatangan pertama saya ke Bali. Sebelumnya saya hanya mengenal Bali dari cerita para pelancong. Mereka bilang Bali adalah kebebasan, wanita, alkohol, berhala, laut dan kemewahan. Saya mengaminkan semua itu dan menjadikanya kepercayaan.

Sejak kecil, saya biasa bergaul dengan teman yang memiliki kesamaan agama dan etnis. Agama dan kebiasaan yang terbentuk itu secara tidak sadar telah menjadi acuan kebenaran dalam memandang segala sesuatu. Maka timbul kegelisahan di dalam batin saat mengamati setiap sudut kehidupan di Bali. Semuanya hampir berbeda dengan agama dan kebiasaan asal saya. Mengapa ada banyak patung? Mengapa ada banyak sajen di jalanan? Mengapa ada dupa di pojok ruangan? Kenapa bar terbuka dan terlihat di jalan? Mengapa indekos tidak memisahkan penghuni pria dan wanita? Dan mengapa-mengapa lain yang menuntut jawaban pasti.

Bukannnya mencari jawaban dari orang Bali atau membaca buku tentang Bali, saya membatasi pergaulan hanya dengan pegawai dan masyarakat dari asal daerah dan agama yang sama. Sehingga, diam-diam saya menumpuk kecurigaan. Ide tentang negara teokrasi dengan undang-undang berbasis moral ilahiah sempat menjadi pegangan saya. Singkat pikir, hanya Islam lah yang memegang teguh sila pertama dari Pancasila. Agama-agama non monotheistik, apalagi yang memanifestasikan tuhan dalam sosok antrophormistik tidak pantas disebut pengamal pancasila yang sejati. Saya harus memurnikan Bali dari penyimpangan itu.

Hidup sebagai minoritas di Bali dengan kecurigaan seperti itu membuat hati saya sempit. Dimana-mana saya selalu menyalahkan sistem dan masyarakat. Tidak hanya kepada mereka yang berbeda agama, kepada sesama pegawai yang seagama pun namun dengan praktik ibadah yang berbeda saya kerap ribut. Zaman kegelapan itu berlangsung selama satu tahun. Untungnya, identitas itu cair, semua manusia pembelajar selalu dalam proses  menjadi.

Tahun-tahun berikutnya, saya banyak membaca filsafat. Yang paling berkesan adalah saat mendengar kuliah yang diampu oleh Prof. Bambang Sugiharto tentang  filsafat ilmu melalui DVD. Saya dijelaskan bahwa kepercayaan akan kemurnian adalah konyol. Agama itu murni dari level ilahiah namun saat ia turun ke bumi melalui para rasul dan disebar melewati ruang dan waktu akan selalu ada interpretasi terbuka yang disesuaikan dengan semangat zaman (zeitgeist). Oleh sebab itu, agama menjadi dinamis dengan tetap memperhatikan hal-hal yang prinsipil. Pikiran saya terbuka dan perkawanan dengan penganut  Hindu dimulai.

Saya menikmati perbincangan teologis dengan kawan Hindu di kantor. Ketika saya bertanya konsep ketuhanan seperti apakah yang dianut Hindu, mereka dapat menguraikan dengan rinci, sehingga saya menyimpulkan bahwa mereka pun tidak menyimpang dari sila pertama pancasila. Tidak berhenti sampai sana. Saya beberapa kali mengunjungi Pura kantor untuk melihat praktik keberagamaan mereka dan mengunjungi gereja katolik untuk memperhatikan kegiatan kepemudaan. Kunjungan itu membawa saya kepada kesadaran bahwa ada kenyataan lain tidak terbantahkan diluar praktik agama saya. Dan kenyataan itu bukan untuk ditiadakan tapi dipahami untuk mencari simpul-simpul kesamaan.

Dialog antar iman dan melihat langsung peribadatan pemeluk agama lain selama bertahun-tahun di Bali telah meningkatkan ambang toleransi . Saya tidak lagi risih dengan patung dewa-dewi yang bertebaran di setiap penjuru kota. Sajen (banten) dan dupa di sudut-sudut ruangan juga hal yang biasa. Setiap orang di setiap daerah memiliki cara menghayati pengalaman kebertuhanan mereka. Hal tersebut tidak terbatas antar agama, namun dalam spektrum satu agama. Praktik ini sangat terlihat dalam ajaran Hindu Bali yang mampu berdamai dengan mahdzab Syiwa, Wisnu dan Budha sekaligus.

Di kantor, tidak ada sekat antara dia yang Islam, dia yang Hindu atau dia yang Kristen. Semua pegawai bekerja saling tolong menolong sesuai tugas dan fungsinya.  Saat umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan,  kawan-kawan Islam dan Kristen dengan ikhlas membantu tugas pengawasan dan administrasi agar proses bisnis kantor tetap berjalan. Begitu juga ketika umat Islam dan Kristen merayakan hari raya, umat Hindu turut membantu tugas mereka di kantor. Keragaman dan kolaborasi yang dinamis inilah miniatur Indonesia dalam ikat semboyan bhineka tunggal ika.

Kebhinekaan ini sebenarnya lebih terasa diluar lingkungan kantor. Bali sebagi daerah eksotis yang terbuka sudah selama berabad-abad menerima perbedaan sebagai kenyataan. Perbedaan itu tidak saja berada dalam sekat-sekat, batas-batas yang tidak dapat dilampaui, namun mencapai titik akulturasi. Di beberapa daerah seperti Kuta dan Buleleng dapat ditemukan perkampungan muslim-bugis yang ternyata masyarakatnya dapat berbahasa Bali dengan fasih. Di Desa Adat Tuka yang mayoritas Katolik, penduduknya tetap menggunakan pakaian adat Bali saat kebaktian di katedral yang juga berarsitektur Bali. Di Ubud, gaya lukisan batuan yang khas terpengaruh aliran lukis moderen yang dibawa oleh Walter Spies dan Rudolf Bonnet. Pelukis batuan dapat memadukan gaya klasik pewayangan dan gaya miniaturis modern sehingga menghasilkan lukisan hybrid yang khas dan berkesan magis. Pada kasus ini seni tidak berhenti di titik akulturasi tapi menembus hingga titik asimilasi.

Masih banyak contoh kolaborasi antar etnis, agama, atau aliran seni di lingkungan kantor maupun kehidupan masyarakat, tidak hanya di Bali akan tetapi di seluruh daerah penempatan para pegawai Kementerian Keuangan. Kolaborasi itu secara sporadis diberi label multikulturalisme di dalam pidato para pejabat. Namun, menurut Amartya Sen dalam bukunya “Kekerasan dan Identitas” dukungan lantang terhadap multikulturalisme akhir-akhir ini sesungguhnya tak sekedar pleodoi terhadap monokulturalisme majemuk. Sen menjelaskan, “Jika seorang gadis dari keluarga imigran konservatif hendak pergi kencan dengan cowoknya yang inggris, maka jelas ada inisiatif multikultural dalam hal ini. Sebaliknya, upaya orang tua sang gadis untuk mencegah dia berkencan sulit untuk bisa disebut sebagai sikap multikultural, sebab menjaga agar budaya masing-masing tetap terpisah. Multikulturalisme ditandai dengan bauran-bauran yang interaktif antar entitas yang berbeda. Dan dalam hal ini Kementerian Keuangan berhasil mewujudkannya sehingga dapat menjadi contoh satu padunya Indonesia dalam bingkai multikulturalisme.

Ferry Fadillah, 2019.
tulisan ini dimuat dalam buku “Perekat Indonesia” terbitan Kementerian Keuangan Tahun 2019

, , , , , , ,

1 Comment

Hanya Tertawa Sedikit

Manusia terlempar di dunia ini bukan tanpa kehendak dirinya sendiri. Sebuah dunia yang dipenuhi penderitaan pada setiap satuan waktu dan ukuran ruang.

Setiap hari ada seorang ayah yang membanting tulang demi pendidikan putra-putrinya, beradu mulut dengan istri karena gaji yang didapat kurang, menyaksikan dengan mata kepala sendiri istri selingkuh dan meninggalkan dirinya saat kondisi ekonomi sedang sulit, bertahan dengan linangan air mata saat anak-anaknya memilih durhaka daripada berbakti, hidup dalam kesendirian di hari tua saat anak-anak menikmati hari libur mereka bersama kawan-kawan dan istri tercinta.

Ada juga seorang ibu yang harus berhutang ke sana ke mari demi tetap mengepulnya urusan dapur dan biaya pendidikan anak yang dari hari ke hari semakin tinggi, menahan batin ketika melihat suami malas di rumah tidak mencari nafkah, atau bebas membawa wanita lain masuk ke rumah dengan tenang dan enteng, belum lagi anak-anak mereka yang berkata ah! Saat dimintai tolong, dan seperti orang tua lain, bisa-bisa ketika di usia renta anak-anaknya melupakan dirinya dengan tertawa gembira bersama kawan-kawan belanja di luar negeri.

Ada juga petani yang tanahnya dihimpit perusahaan multinasional produsen air mineral dalam kemasan, mata air yang selama ini dapat diakses dengan gratis ternyata kering karena sumur bor yang terlalu dalam dari perusahaan, biaya input menjadi tinggi, petani menjual lahan tidak produktif mereka dengan harga murah untuk dijadikan real eastate oleh pengembang. Ia sendiri harus pindah ke ibu kota untuk menjadi buruh kasar dengan gaji musiman.

Ada juga buruh yang harus berdiri di depan mesin pabrik selama berjam-jam dengan gaji cukup memenuhi kebutuhan pokok, ketika berserikat untuk memperjuangkan hak-hak, perusahaan mengancam pemutusan hubungan kerja dan orang-orang dungu menuduh mereka sebagai komunis. Saat demo kenaikan UMR orang-orang nyinyir dan agamawan berkata: sabarlah, kiranya Tuhan bersama kalian.

Ada juga seorang pegawai negeri sipil rendahan pada sebuah kantor pemerintah. Dengan gaji seadanya ia harus membiayai kedua orang tua, adik dan bibi-bibinya yang kerap berhutang. Diatur pengeluaran dengan saksama karena pendapatan tidak bisa diotak-atik lagi kecuali mereka ingin berurusan dengan KPK. Hutang ke bank terjerat bunga yang meningkat dari tahun ke tahun. Hutang kepada kawan rusak silaturahmi karena enggan untuk bertemu. Belum lagi mutasi dari satu daerah ke daerah lain. Tenggelam dalam kapal patroli. Digebuk masa karena perintah atasan. Ditusuk fundamentalis karena dibilang thagut. Mati dalam dinas, hanya ada penghargaan kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi dan orang-orang yang berkabung sesaat untuk kemudian melupakannya karena sudah kembali dalam rutinitas masing-masing.

Ada juga orang-orang yang hidup di pusaran konflik. Setiap hari mereka mendengar desingan peluru dan runtuhan rumah akibat rudal dari pesawat musuh. Mayat-mayat dengan anggota badan tidak utuh adalah pemandangan jamak yang mengiris hati. Kekurangan sandang, pangan dan papan. Pindah dari satu negara ke negara lain. Menumpang perahu mengarungi lautan namun tumpas di pusaran air. Dianggap teroris, dirusak kehormatannya, menyaksikan anaknya ditiduri tentara dan orang tuanya dipenggal di alun-alun kota. Dari Afrika Tengah, Palestina, Siria, Banglades, Papua, Aceh, Amerika dari masa lampau hingga hari ini dan di masa depan sampai kedatangan sang mesiah.

Namun, orang-orang memilih untuk melupakan itu semua. Maka dicarilah pengalih dengan dalih agar mental tidak berubah gila. Acara musik, film, alkohol, rokok, ganja, seks bebas, novel, jalan-jalan, foto, instagram, olahraga dan hal-hal lain menjadi ladang bisnis industri moderen.

Jika boleh berandai-andai. Seandainya pengetahuan tentang penderitaan yang berlangsung saat bumi bagian barat disinari cahaya dan bumi bagian timur diliputi kegelapan, dari masa lalu, hari ini, hingga masa yang akan datang, tersingkap secara sadar maupun tidak sadar atas kuasa ilahi maka tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang sanggup tertawa lepas walau hanya sesaat.

Kamu banyak tertawa dan jarang menangis,

Dan kamu lengah darinya.

Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Allah.

(Tiga ayat terakhir Q.S. An-Najm)

Ferry Fadillah. September, 2017.

, , ,

Leave a comment

Menuju Progresfitas Masjid Perkantoran

Adzan berkumandang. Masyarakat menghentikan aktivitasnya. Berduyun-duyun  masuk ke Masjid. Mengambil air wudhu, kemudian menghadap Allah dalam gerakan mulia bernama Shalat. Setelah itu, dalam diam, mereka mengingat Allah. Berdoa dalam harap.

Sayangnya, setelah ritual itu selesai, masjid kembali sepi. Pola pikir masyarakat terlalu terpaku bahwa masjid hanyalah tempat sholat belaka. Padahal, jika mengkaji secara sosio-historis, masjid selalu dipenuhi dengan pertemuan ragam pemikiran, ideologi, kepentingan dan pergerakan.

Maksimalisasi Peran Masjid Perkantoran

Umumnya, kantor-kantor pemerintah dan swasta memiliki masjid. Ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius yang selalu menempatkan masjid sebagai bagian penting dalam tata ruang perkantoran. Permasalahannya adalah, apakah masjid sudah menjadi pusat kegiatan dakwah di wilayah perkantoran?

Ada kecenderungan, relijiusitas hanya ditempatkan di dalam masjid, di luar itu relijiusitas selalu kalah dengan materialisme. Sehingga tidak jarang kita melihat pelaku karyawan yang kontradikitif dalam kehidupannya. Di masjid ia begitu sholeh, di luar kantor ia begitu liberal. Yasraf Amir Piliang, seorang sosiolog dan pengkaji cultural studies, melabeli orang seperti ini sebagai pengidap skizofrenia. Term ini merujuk kepada kepribadian yang ganda tidak hanya disebabkan faktor gen akan tetapi lemahnya prinsip yang ia pegang, sehingga ia selalu mengakomodir segala prinsip/isme-isme dalam kehidupannya. Isme-isme itu muncul dalam prilakunya tanpa ada filter dari prinsip utama.

Untuk menghilangkan ini semua, sebenarnya Masjid memiliki peran vital dalam melakukan pendidikan Islam yang kuat. Sehingga prinsip Islam dapat terpatri kuat dalam diri karyawan. Ujungnya, dihasilkan karyawan-karyawan yang Islami tanpa terjangkit gejala Skizofrenia.

Maksimalisasi Peran Takmir Profresif

Progresif memang cenderung digunakan dalam istilah politik. Progresif  memiliki definisi : ke arah kemajuan; berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang. Sehingga Takmir Progresif adalah kader-kader Islam dalam organisasi masjid yang senantiasa gerah dengan kemandekan/konservatisme dan berusaha untuk mengubah kondisi ini menuju keadaan ideal.

Oleh karena itu, takmir masjid harus diupayakan memiliki pengetahuan yang dalam tentang agama juga mengetahui perkembangan dunia yang sudah tidak moderen lagi (filsuf kontemporer mengkategorikan zaman sekarang sebagai post-moderenisme). Takmir masjid harus bisa menangkap isme-isme yang berkembang di daerahnya (kantor dsb) kemudian mengkajinya dari sudut Islam sehingga dihasilkanlah pehamanan jamaah yang lebih islami.

Daripada kita menuding sesat para liberalis, sekularis, feminis, orientalis dan sebagainya. Lebih baik kita mengkaji bahasa mereka, kemudian mewarnainya dengan semangat Islam.

Harapannya, Masjid dengan Ideologi Islam dapat menyatukan Umat Islam yang terkotak-kotak oleh segala Isme. Dan, hal ini perlu didukung oleh pergerakan Takmir Masjid yang progresif.

Ferry Fadillah
Badung, 3 September 2013

, , , , , , ,

Leave a comment

Aleph

“Aleph”

Aleph adalah huruf pertama dalam sistem bahasa Hebrew. Dalam Bahasa Arab sepadan dengan huruf alif. Aleph tidak hanya mengandung sesuatu yang materi yakni entitas terkecil dari sistem bahasa namun mengandung hal-hal transenden yang sulit diraba oleh manusia.

Aleph dibangun oleh tiga bentuk, yakni yod (10), yod (10) dan yov(6). Sehingga Aleph mengandung angka 26, sebuah angka sakral dalam kepercayaan Yahudi yang mengacu kepada Tuhan Yang Maha Esa : YHVE

Dalam bentuknya yang artistik, aleph menggambarkan dua dimensi. Pertama, dimensi ke-Tuhanan yang bersifat astral. Kedua, dimensi kemanusiaan yang bersifat materi. Keduanya dihubungkan oleh sebuah garis yang bermakna bahwa Tuhan dan manusia akan selalu berhubungan.

Paulo Coelho dalam novelnya ‘Aleph’ mendefinisikan aleph sebagai sebuah titik di dunia ini yang akan membawa jiwa kita kembali ke masa lalu, ke dalam kehidupan sebelum kini, melihat citra-citra yang berkelibatan dengan cepat untuk memahami keberadaan kita saat ini.

Aleph tidak lepas dari kepercayaan inkarnasi, de javu dan karma yang masih dipercaya beberapa kaum tradisionalis di dunia ini. Terlepas dari itu semua, saya akan merangkai hal-hal positif yang dapat diambil dari novel ini. Semua tentang kehidupan, perjalanan, tujuan dan akhir dari semua itu.

***

Apa yang kulaukan di sini, berusaha menjalankan tradisi spiritual yang berakar pada masa lampau yang sangat jauh dari tantangan masa kini? (halaman 14)

Ada semacam titik jenuh. Ritual yang seyogyanya ditujukan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan malah membuat penulis jauh dari Tuhan itu sendiri. Kemudian, penulis berpikir bahwa watu akan menuntun  kepada Tuhan. Namun, Sang Guru menjelaskan bawa waktu hanya akan membuat manusia lelah dan tua.

“Itu karena sama seperti semua orang lain di planet ini, kau percaya bahwa waktu akan mengajarimu cara mendekat pada Tuhan. Namun waktu tidak mengajari apa-apa; waktu hanya membuat kita merasa lelah dan bertambah tua”(halaman 19)

Maka, penulis mengadakan perjalanan. Menyusuri Rusia dengan kereta melalui jalur trans Siberia. Bertemu banyak orang, titik bernama aleph, hal-hal magis, yang membuatnya sadar bahwa kehidupan adalah ibarat kereta api. Ia bergerak dari satu titik awal menuju titik akhir. Yang bisa dilakukan adalah menikmati kekinian di meja makan bersama penumpang lain, daripada mengeluhkan guncangan yang pasti akan terjadi. Guncangan di sini didefinisikan sebagai masalah dalam kehidupan.

“…Bukan apa yang kaulakukan di masa lalu yang akan memengaruhi masa sekarang. Apa yang kau lakukan sekaranglah yang akan menebus masa lalu dan mengubah masa depan”(halaman 21)

Dalam hidup, banyak orang perpikir untuk mengubah nasib dengan cara mengubah masa lalu. Membayangkan mesin waktu atau aleph yang akan membawa kita ke kehidupan sebelum ini. Akan tetapi semua itu adalah sia-sia. Seperti yang dijelaskan kalimat di atas, apa yang kita lakukan sekaranglah yang akan menebus masa lalu dan mengubah masa kini.

Akhir kalam, dari novel ‘Aleph’ saya berlajar untuk menghargai masa kini.

Sebuah momen yang sedang dan pasti terjadi.

Selamat Membaca. Selamat menikmati kekinian.

Ferry Fadillah

Bandung, 9 Mei 2013

, , , , ,

Leave a comment

Zinah

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (Al Isra’ : 32)

Saya yakin semua agama dan budaya setuju jika praktik zinah adalah amoral, melawan kodrat sebagai manusia, asusila, bahkan perbuatan satanik yang dapat menjerumuskan kita ke neraka, dunia maupun akhirat. Namun saya yakin banyak masyarakat yang mulai lentur memandang praktik zinah, bahwa zinah adalah hal lumrah, bahkan komersialisasi praktik zinah melalu lembaga bernama lokalisasi tumbuh subur di kota-kota besar di Indonesia. Di antara kita bisa jadi terheran-heran, sayangnya membicarakan hal tersebut dengan nada bercanda, seolah fenomena ini merupakan pertunjukan lawak kolosal!

Di era post-modernisme, yang definisinya pun masih membingungkan, banyak manusia yang memiliki nihilisme nilai. Ini boleh, itu juga boleh. Zinah boleh, engga juga gak apa-apa, yang penting jangan ganggu privasi saya. Kasarnya. Bahayanya adalah semakin banyak generasi muda yang menganut nihilisme nilai ini, sehingga perzinahan seolah merupakan permasalahn individu bukan kolektif. Kalau sudah seperti ini, celakalah mereka yang tidak memiliki nalar kritis, meng-amini saja pandangan sesat ini , bahkan turut bagian dalam praktik zinah. Naudzubillah.

Saya sadar, bahwa saya bukanlah orang suci yang tidak pernah berbuat dosa. Bahkan dengan lugu saya mengaku, saya pun pernah berbuat dosa, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Tetapi untuk masalah yang satu ini –zinah- saya kira permasalahannya lebih kompleks. Ditilik tidak hanya dari sudut pandang Islam saja namun humanisme universal.

Manusia (human) yang diberi rasa dan akal tentu berbeda dengan hewan yang hanya memiliki hasrat. Terdengar klise memang. Namun pembeda yang jelas ini banyak dilupakan orang dengan jutaan pembenaran-pembenaran. Kita manusia lalu untuk apa bertindak tanduk seperti hewan. Hanya hewan yang melakukan hubungan seksual tanpa ritual transenden, bung! Apa iya kita mau disamakan dengan hewan?

Saya tidak mau menuduh mereka yang pro-zinah sebagai antek-antek setan, manusia iblistis atau hewan birahi berjalan. Masalah mereka pro atau kontra lalu menyematkan lema dosa setelahnya bukanlah hak saya sebagai penulis ngawur. Saya hanya ingin curhat bukan menggurui, melabeli apalagi memaki. Di akhir, satu permintaan saya, kepada segenap manusia tercinta dimanapun kalian berada : mari kita menjadi manusia sejati, sebenar-benarnya manusia.

 

Ferry Fadillah
9 Desember 2012

, , , , , , , , ,

Leave a comment

Menggugat Nilai-Nilai Sendiri

Pertama saya sadar bahwa banyak sekali nilai-nilai hidup saya yang berubah. Penyesalan mulanya ada, tetapi ketika menimbang kembali saya baru tergugah bahwa nilai-nilai hidup adalah sesuatu yang dinamis, terus berubah seiring interaksi sosial dan pengetahuan yang diserap.

Bukan berarti saya orang yang tidak prinsipal, tidak memiliki sikap, tidak memiliki pendirian dan berubah-ubah sekehendak hati, nihilisme nilai. Namun saya paham bahwa kebenaran yang saya anggap benar (yang kemudian disebut nilai-nilai) adalah benar menurut saya saja atau benar menurut beberapa gelintir orang dari milyaran manusia di dunia ini, bisa jadi salah bisa jadi benar, apalagi sebagai orang beragama saya yakin bahwa kebenaran itu hanya berasal dari Tuhan.

Pertanyaannya adalah, apakah kebenaran dari Tuhan itu dapat kita ketahui dengan tepat padahal Tuhan bersemayam entah dimana, berbeda-beda bentuk sesuai persepsi kebudayaan masing-masing? Beberapa dari agama-agama di dunia memiliki klaim kebenaran masing-masing melalui kitab yang mereka pegang teguh, disebarkan dari mulut ke mulut atau budaya tulisan, dari para Nabi, Resi atau orang suci . Para umat agama didoktrin sedemikian rupa, dengan prosesi selama berabad-abad atau bertahun-tahun sehingga mereka –pada umumnya- kehilangan daya kritis terhadap apa yang mereka terima. Ini prinsip, beragama tidak bisa dibandingkan dengan rasio! Menurut beberapa orang yang mengaku agamawan.

Sayang beribu sayang, kebenaran-kebenaran ini jika tidak dikritisi akan menjadikan kita sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai tertutup, nilai-nilai yang egositik, tertutup bagi pintu diskusi untuk mencapai konklusi yang lebih mendekati kebenaran. Dengan mudah kita label-melabeli, membawa nama Tuhan, tetapi budi pekerti tidak lebih jauh dari binatang buas.

***

Negara kita memiliki iklim demokrasi yang cukup baik. Dalam sebuah bingkai demokrasi kebebasan berpikir adalah hal yang harus dijamin oleh negara, selama tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain atau dalam kata sederhana kebebasan yang bertanggung jawab.

Kebebasan yang bertanggung jawab berarti nilai-nilai yang kita pegang seyogyanya dibandingkan dengan prinsip oposisi untuk mencapai kebenaran sejati. Yang diharapkan dari praktik ini adalah kita, umat manusia, menjadi makhluk yang tidak terikat otoritas apapun dari luar dirinya, takhayul, adat yang mengekang, otoritas pemerintah, ketakutan akan kesialan dan lain sebagainya. Manusia menjadi pemikir-pemikir yang secara sadar memilih jalan yang mereka tempuh, bukan manusia-manusia yang dikuasai jalan-jalan yang sudah ditentukan manusia lain tanpa mengetahui kenapa harus memilih jalan tersebut.

Kemerdekaan sudah kita genggam, lantas mengapa masih saja kita abai untuk memanfaatkannya. Duduk  santai dalam lamunan masa kolonialisme-keterkekangan, perbudakan, penghambaan.

Ferry Fadilah
25 Oktober 2012

, , , , , , ,

Leave a comment

Berhala : uang

Para berhala tidak pernah berkata ataupun bersabda, imajinasi-imajinasi kebudayaan lah yang menjadikan mereka berkata dan bersabda. Padahal imajinasi itu lepas dari realita.

Kini, setelah malang melintang para nabi berbagai bangsa menyabdakan ke-Esa-an, para manusia dengan otoritas yang mereka miliki mulai mengimajinasikan sosok berhala baru.

Uang.

Sebuah benda tidak berharga yang fungsi esensialnya hanyalah sebagai alat tukar

Jika  kata ‘hanyalah’ cocok disematkan kepadanya tetapi kenapa orang berubah karenanya?

Sebuah daerah yang luhur budaya dan budinya seketika hancur lebur berubah menjadi serpihan-serpihan lingkungan industri yang dipenuhi asap kabut ketamakan.

Kekeluargaan yang didengar  dari teks-teks usang pelajaran sekolah kini berubah menjadi relasi yang berbalut bisnis, menolong karena kepentingan politis, membantu karena etiket, dan beramal demi pencitraan lantas dimana nurani yang mendasari semua kekeluargaan? hilang diserap gemerlap kekayaan

Muncul gerakan-gerakan pencerah, yang berusaha menyadarkan manusia akan kesalahan pola pikir mereka saat ini.

Namun, sebagian menyerah dan turut andil dalam usaha mengagungkan uang dan turunannya.

Jika sudah seperti ini mau bagaimana lagi?

Terakhir dalam pergolakan jiwa yang terkurung dalam tubuh kasar ini, saya tegaskan :

Saya tidak anti uang

Saya pun perlu uang

Namun posisinya hanya sebagai alat tukar

Ferry Fadillah, 12 September 2012

, , ,

Leave a comment

Sahabat

Setiap hari mustahil kita tidak berkomunikasi dengan beranekaragam individu. Perbincangan ringan hingga serius terus saja bergulir, dari senin sampai minggu, dari minggu sampai senin lagi. Dari berbagai macam bentuk komunikasi, kita dapat memahami orang dengan penilaian-penilaian kita sendiri, dari sana dapat dibedakan mana rekan kerja, mana teman main, mana sahabat dan mana kekasih.

Saya ambil ‘sahabat’ sebagai pokok bahasan berikutnya. Mengapa ? karena kata sahabat selalu menjadi rujukan kisah-kisah klasik SMA, bentuknya belum jelas, absurb, selalu saja disesuaikan dengan nilai yang dianut tiap-tiap individu. Namun demikian, saya akan membahas sisi lain dari persahabatan.

Bagi sebagian besar orang, sahabat adalah seorang kawan yang diposisikan lebih. Ia tempat berbagi segala sesuatu, menumpahkan rasa, asa, suka dan duka. Tempat menampung segala aspirasi, ide dan argumen. Dengan keberadaannya kita menganggap diri kita exist/ada. Karena hukum keterikatan yang kita buat sendiri. Ia senang, kita senang. Ia sedih, kita sedih, Satu asa, satu jiwa.

Dalam angan-angan kekanakan mungkin saja kita membayangkan sahabat kita akan selalu berada dalam kehidupan kita. Sesudah atau sebelum menikah. Lantas, apa iya semua itu ada, sahabat sejati itu ada?

Sahabat adalah manusia yang memiliki alam berpikirnya sendiri. Sesenang bagaimana pun kita menyamakan diri kita dengan sahabat. Pasti ada banyak alam berpikir yang berbeda. Belum lagi alam berpikir merupakan sesuatu yang dinamis, terus berubah mengikuti stasiun sosial dan tingkat kesadaran. Dalam beberapa bulan atau tahun kedepan, sahabat yang kita kenal saat ini, pahitnya, bisa jadi berubah derastis, menjadi benci bahkan musuh bagi kita.

Semua pasti berlalu, kata yang sering saya dengan ketika Ajahn Brahm bercerita dalam buku ‘Cacing dan Kotoran Kesayangannya’. Intinya semua tidak ada yang abadi. Ya jelas, harapan kita sebagai manusia adalah kita memiliki persahabatan abadi yang tidak lekang oleh waktu. Namun jika hukum alam sudah berkata lain maka apa daya kita manusia yang penuh keterbatasan ini.

Bagaimana menyiasati hal ini?  adalah benar konsep kemelekatan diapresiasi sebagai solusi bagi dinamika persahabatan. Ketika kita bersahabat jangan sampai kita terlalu melekat kepada sahabat kita. Kita harus menjadi individu independen yang suasana hati, pikiran dan kebahagiaannya tidak melekat terhadap suatu hal apapun. Kasarnya, ada atau tidak ada sahabat, kita harus tetap bahagia.

Namun hal ini jangan disalah artikan, jangan sampai kita menjadi apatis terhadap pintu persahabatan. Bukalah pintu persahabatan, bukalah. Nikmatilah suasana berbagi, susah senang bersama, tertawa bersama, namun hanya pada saat ini, untuk saat ini. Karena masa depan hubungan dengan sahabat kita masih diselimuti kabut misteri.

Jika usaha kita untuk membuka pintu persahabatan yang tulus telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Biarlah Tuhan yang menjalankan tugasnya, untuk merekatkan kita atau merenggangkan kita. Yang pasti niat yang baik akan berbuah hidup yang baik, niat yang buruk akan berbuah hidup yang buruk. Berbaik sikaplah kepada sahabat kita saat ini, anggap ia saudara kita, berbagi lah, dan Let God do the rest for us.

Kabupaten Badung, 30 Juni 2012
Ferry Fadillah

, , ,

2 Comments

Sacred Monkey Forest

Mungkin bukan tugas saya untuk menceritakan ulang sebuah lokasi wisata religius di jantung para seniman dan seniwati ini (Ubud, Bali), karena saya bukan seorang jurnalis apalagi penulis legendaris. Saya tidak mau merepresentasikan sesuatu keluar dari jalur realita, terlalu berlebihan atau kekurangan. Sehingga biarlah Hutan Kera Sakral di Desa Pekraman Padangtegal, Ubud, Gianyar ini tetap sebagai hutan sebagaimana adanya, dan biarlah para pengunjung menikmatinya secara niskala maupun sekala sehingga diperoleh pengetahuan menyeluruh mengenai lokasi wisata ini.

Alasan saya sederhana ketika mengunjungi tempat ini. Saya mencari kedamaian. Hiruk pikuk Bali selatan telah menutup mata hati saya untuk berpikir mengenai keseimbangan hidup. Pencarian abadi akan kebahagiaan. Jenuh, berangkatlah saya ke utara bali. Mencari pencerahan dari kekeruhan jiwa akibat hiruk pikuk manusia.

Sebuah hutan sakral. Dimana konsep luhur ‘Tri Hita Kirana’ diterapkan dengan benar dan sungguh telah menyihir setiap pengunjung untuk menghargai Tuhan, alam dan makluk hidup. We’re never walk alone. Ada kehidupan di sekitar kita, tampak maupun tidak tampak yang perlu diseimbangkan dan itulah salah satu fungsi hutan sakral ini.

Saya lupa bahwa ada makhluk kecil yang telah kita gusur kekuasaannya dengan rumah megah dan hutan beton. Padahal apa hak kita untuk memarginalkan mereka. Karena pun seperti kita, mereka butuh tempat untuk hidup. Bersosialisasi, mencari makan, bermain dan berpolitik.

Macaca fascicuiaris, Kera Ekor Panjang, warga binatang yang mendominasi tempat ini. Terkadang mereka liar, tetapi terkadang mereka begitu menggemaskan. Dari wajahnya kita bisa melihat asa, harapan sebuah keinginan untuk damai.

Karena itu, tidak ada salahnya jika konsepsi ‘Tri Hita Kirana’. Penghormatan terhadap alam, pelestarian terhadap lingkungan, kita terapkan dimana saja. Agar damai dan sejahtera mengurung kita dalam pencerahan.

Ferry Fadillah
Bali, 9 Juni 2012

, , , , , , , ,

Leave a comment

Pura Goa Gajah

“Arca Bidadari di depan Goa Gajah. Terdapat tiga arca di utara dan selatan, sehingga seluruhnya berjumlah enam. Dari arca ini keluar air (simbol kesuburan) menuju pemandian sakral”

“Pintu Masuk Goa Gajah. Gua berbentuk ‘T’ ini terdapat Arca Ganesa di sebelah barat dan Lingga Siwa di sebelah Timur”

“Arca Ganesa di sebelah Timur Goa”

“Lingga di sebelah Timur Goa Gajah. LIngga ini merupakan peninggalan sekte Hindu Siwa Pasupata. Ke-3 lingga ini sebagai sarana pemujaan Tuhan dalam manifestasi Sang Hyang Tri Pusura”

Ferry Fadillah
Badung, 1 Juni 2012

, , , , , , , ,

Leave a comment

Sudah Benar Agama Kita ?

“Jembatan menuju…”

Masih perlukah kita beragama ? ber-Tuhan ?

Agama-, agama, agama.

Inikah biang keladi permusuhan bani adam di muka bumi. Kalau iya, mengapa masih saja orang memegang teguh agama, bahkan dengan gigi geraham mereka ?

Tuhan.

Pernah kita tahu rupanya ? pernah kah kita berfikir bahwa Tuhan yang kita sembah benar-benar Tuhan Semesta Alam, the real God/Gods ?

Seorang kawan berpendapat, “Dasar sesat! Untuk apa kau tanya semua itu, kerjakan saja perintah Agamamu dengan sebaik-baiknya. Agama itu untuk dikerjakan, bukan diperdebatkan!”

Ya setuju, namun langkah awal kita sebagai makhluk ber-akal adalah mengkritisi (dalam arti positif) agama terlebih dahulu, ketika semuanya bisa kita cerna dengan paripurna, dapat kita terima dengan ketebalan tekad, baru kita laksanakan segala ajaran yang ada di dalamnya dengan sadar dan tanpa paksaan dari hal apapun.

Jangan sampai keyakinan kita, malah menuntun kita ke jalan yang salah.

Karena hidup hanya sekali.

, , , , ,

Leave a comment