Posts Tagged kerja

Dangkal

Dia datang tepat pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Setelah melakukan registrasi elektronik di mesin absensi, ia melangkah santai menuju kantin, memesan segelas kopi dan gorengan hangat di piring kecil. Orang-orang belum berdatangan ke kantor. Hanya ada dia dan cleaning service  yang bersungut membersihkan debu di atas lemari arsip. Ia tidak peduli dengan para pesuruh itu. Sambil menyeruput secangkir kopi Toraja ia menyalakan personal computer dan mendengarkan gamelan Bali yang mengalun mistis. Ia memejamkan mata sejenak. Menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Saat membuka mata, wajahnya berseri. Ia buka ransel hadiah pelatihan komputer di Bandung tempo lalu, sebuah buku merah setebal 600 halaman dengan potret Tan Malaka berjudul “Materialisme, Dialektika dan Logika” siap untuk dibaca.

Dia sangat suka membaca, membaca apapun.  Majalah Menara Pengawal yang dibagikan Jemaat Saksi Yehowah yang diterimanya dipinggir jalan saat senja di ibu kota ditelannya habis. Jurnal kebudayaan yang diunduh dari laman sebuah situs universitas ternama luar negeri  ia lumat perlahan-lahan. Buku filsafar dari era Plato hingga Amartya Sen ia telaah dengan teliti. Bahkan tanda merek yang terdapat pada baju yang berisi informasi negara pembuat, bahan dan cara perawatan tidak luput dari matanya. Ia suka membaca apapun. Kali ini di kantor ia kembali melanjutkan membaca “Madilog” yang sempat tertunda karena padatnya pekerjaan.

Sambil mengarahkan telunjuk ke arah kalimat pada buku, ia membaca lirih, “Buat Hegel absolute idea ialah, yang membikin benda Realitat. Die Absolute Ide Macht die Gesichte….”

Ia menghentikan bacaannya. Dahinya berkernyit. Kedua jarinya memegang pelipis dengan tekanan yang kuat, ”Istilah apa itu?”

Tidak mau kalah sebelum bejuang, ia melanjutkan bacaan, “Absolute idea yang membikin sejarah, histori, dan membayang pada filsafat. Bukan filsafat yang membikin sejarah, katanya melainkan absolute idea “deren nachdrucklichen ausdruck. Die pilosohie ist”, yang tergambar nyata pada….

“Hei, Lif! Ngapain kok serius banget. Pagi bener dah datang ke kantor kaya anak kuliahan.” tegur teman satu kantornya menghentikan bacaannya.

“Emang gue biasa datang cepet kok,”  jawabnya datar tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang ia pegang.

Ah sombong lu, diajak ngomong nengok aja kaga!” balas kawannya kesal.

Alif menoleh kemudian memberi senyum sinis. Sebenarnya dia tidak seketus itu. Kali pertama bertemu dengan kawannya, ia menunjukan sikap persahabatan yang tulus. Percakapan bisa terjalin berjam-jam, kapan pun dan dimana pun. Tapi ini tahun ke tiga mereka bekerja di sana. Waktu yang cukup lama bagi seorang pegawai di tempat yang sama. Dia mulai muak dengan semua perbincangan. Menurutnya, tidak hanya kawannya itu tapi semua orang di kantor itu adalah pecinta kedangkalan. Mereka lebih suka membicarakan besaran gaji, kenaikan gaji, tunjangan tambahan, uang pensiun, biaya perjalanan dinas, uang lembur, cicilan mobil, uang muka rumah, botol arak, wanita penghibur, pernikahan, istri, atau tentang anaknya yang kebetulan baru bisa berjalan walau tertatih. Dia muak dengan semua itu. Muak. Ia rindu perbincangan filosofis. Ia rindu dengan percakapan tentang hidup, kematian, jiwa, keadilan, cinta, hukum, politik, ekonomi dan pengalaman ruhiyah semasa kuliah. Ia rindu bercakap berjam-jam sambil merenungkan berbagai hal di dunia. Ia rindu berbicang imajinatif dengan Aristoteles hingga Sigmund Freud tentang segalanya. Ia rindu itu semua. Momen itulah yang membuatnya selalu tampak ceria dan antusias. Tapi kantor ini dan orang-orangnya hanya menyuguhkan kedangkalan dan kebanalan,. Sejak itulah hidupnya murung dan ia jarang terlibat dalam percakapan.

Waktu menunjukan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Ruangan sempit bersekat itu sudah dipenuhi pegawai yang berpakaian necis. Karena pekerjaan belum terlalu banyak, mereka berkumpul di dekat mejanya dan terlibat dalam gelak tawa yang memekakan telinga. Dalam keriangan itu, Alif tetap dalam posisinya semula, tertunduk membaca buku.

Dia kembali membaca di dalam hati, “Madilog  bukanlah barang yang baru dan bukanlah….”

“Lif, ngapain sih lu. Sini gabung kita. Sombong dah!

Tanpa menoleh, ia meneruskan membaca, “…bukanlah barang yang baru dan bukanlah buah pikiran saya. Madilog adalah pusaka yang saya terima dari…”

Lu denger kaga? Cieee.. yang berasa paling pinter sekantor. Serius amat bacanya.. hahaha..”

Mendengar itu mukanya merah. Ia kehilangan fokus. Baginya deretan tulisan pada buku hanyalah penampakan tanpa arti. Pandangannya berputar dari kata ke kalimat, dari kalimat ke paragraf. Ia lupa dengan apa yang sudah dibacanya. Seketika juga otaknya berdenyut keras. Namun ia tetap dalam posisinya semula, tertunduk seolah-olah membaca.

Lif! Sini lu mah kok kaya kurang pergaulan gitu!”  salah satu kawannya menghampiri meja Alif. Mengangkat buku “Madilog” yang agung itu. Melihatnya terheran-heran kemudian melemparkannya ke meja sebelah namun terjatuh dan mendarat beberapa cm dari tempat sampah.

“Bangsat!” maki Alif.

Emosinya memuncak. Ia tahu amarahnya bisa menyulut konflik berkepanjangan. Tapi ia tidak rela waktu senggang yang biasa ia gunakan untuk membaca itu kini harus terampas. Pulang kerja pukul enam sore ia harus berjibaku dengan macetnya jalan ibu kota. Perjalan berpeluh keringat dengan motor bebek tahun dua ribuan itu mengantarnya sampai ke Tangerang Selatan pukul delapan malam. Setelah itu ia harus membersihkan tai anjing tetangga yang kerap mejeng  di teras rumah. Belum lagi membersihkan sisa bocor akibat hujan badai seminggu berturut-turut. Setelah itu minatnya untuk membaca pasti ambruk. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur dan menanti alarem handphone Oppo edisi selfie berdering di samping telinganya. Esoknya ia harus kerja lagi. Dan melakukan hal yang sama berulang. Maka sebuah waktu senggang untuk membaca buku adalah momen berharga baginya.

“Apa lu bilang?”

“Bangsat. Anjing. Babi. Ambil buku itu, njing!”

Tanpa banyak pikir kawannya melayangkan tinju ke arah hidung Alif. Namun, ia tidak mengelak. Tiga tahun ia habiskan untuk belajar Tae Kwon Do. Satu tahun Merpati Putih. Tiga bulan Kungfu Wing Chun. Ia melangkah dengan anggun, menyambut pukulan itu dengan tangan terbuka, mencengkeramnya dan menariknya ke arah telinga kiri sambil menyerang dengan sikut ke arah hidung lawan. Darah bercucuran di karpet. Semua orang terpengarah. Tapi ada senyum puas pada wajah Alif.

Ferry Fadillah. Juni, 2016.

Advertisements

, , , ,

Leave a comment

Kerja, Hidup, Mati

Dengan mengabaikan setiap masalah. Manusia Indonesia pasti bisa tersenyum melihat sekelilingnya. Pusat perbelanjaan mewah berderet dengan baliho iklan yang megah. Apartemen mewah disekelilingnya berlomba menawarkan harga kepada pasang mata yang melewatinya. 200 juta, 300 juta, 500 juta, bonus smart phone, sudah full furnished pula. Seolah uang sembilan digit itu adalah daun kelor yang dengan mudah dipetik di pekarangan rumah. Mobil mewah, mobil menengah dan mobil umum bercampur di jalanan. Berderet memanjang menciptakan kepadatan. Isinya paling-paling satu atau dua orang. Menyisakan ruang kosong yang sia-sia. Tidak hanya itu. Polusi keluar dari knalpot. Menambah muram wajah atmosfer bumi yang sudah menua.

Mungkin senyum manusia Indonesia adalah sebuah ironi. Senyum pasrah karena tahu ada masalah namun bingung untuk melakukan apa. Ironi ini pun hadir di dunia maya.

Berkah teknologi sangat terasa sampai ke pelosok dukuh di pulau Jawa. Teknologi menjadikan yang jauh menjadi dekat. Memperpendek jarak. Mempermudah pengawasan. Sekaligus memperdalam kecemburuan sosial.

Dunia maya itu dunia tanpa sekat dan hierarki. Pejabat hingga pejahat; ustadz hingga pezinah; atau ilmuwan hingga pembual sah-sah saja beropini dan menyebarkan sesuatu yang mereka miliki. Tulisan, gambar, atau video.

Kini populer mengabadikan momen kehidupan di dunia mikroblog semisal twitter, facebook dan path. Makanan mewah yang akan disantap, difoto, di-upload. Hotel mewah yang baru dikunjungi, difoto, check in, diberi komentar, di-publish. Pacar cantik yang baru bertemu kemarin, di update-nya status hubungan di facebook, ditunggu-tunggunya komentar pujian, dibalasnya dengan emoticon ini itu. Begitu seterusnya entah sampai kapan.

Padahal di lain sisi, di dunia maya yang sama, namun di dunia nyata yang berbeda, kehidupan bisa sangat miris. Makanan mewah itu mungkin hanya bisa dinikmati beberapa kalangan dengan menabung upah bekerja selama satu tahun. Hotel mewah itu bisa jadi hanya impian anak kecil penghuni rumah kardus di bantaran sungai ciliwung. Pacar cantik itu juga sudah pasti barang langka bagi jomblowan jomblowati NKRI yang mulai kehilangan kemampuan komunikasi verbal karena terdegradasi komunikasi singkat ala social media. Bukankah ini semua mengundang iri dengki saudara kita di jagat maya dan nyata? Moga-moga saja santet dan teluh tidak bisa masuk melalui jalur komunikasi digital. Amin.

Hidup, Kerja, Mati

Hidup, kerja, mati. Siklus kehidupan yang harus dilalui semua manusia. Tapi apakah hanya untuk itu manusia hidup. Hanya kerja kemudian mati. Nothing special.

Ketimpangan sosial yang terjadi di dunia maya dan nyata telah menularkan virus pragmatis bagi semua kalangan. Kekayaan adalah panglima, caranya ditempuh dengan segala cara.

Sialnya media masa negeri ini bukan berusaha mengikis pemikiran itu malah memupuk liar dengan tontonan yang kurang mendidik. Kemewahan, kesenangan, kekonyolan dipertontonkan dari pagi hingga malam. Dari acara talkshow remeh temeh, gosip urusan ranjang hingga ceramah agama penuh banyolan disiarkan kepada 200-an juta pasang mata di nusantara. Dengan rendahnya tingkat literasi maka tontonan itu akan sangat cepat membentuk pola pikir kolektif. Sialnya pola pikir itu berwujud pragmatisme.

Bagi seorang pragmatis hidup itu yang untuk kerja, kerja ya untuk kaya, beli mobil nyicil, rumah nyicil, nikah ngutang, dan selesai –mati.

Kalau ada orang kritis bertanya ini itu tentang agama, tujuan kehidupan, siapa itu Tuhan, apa itu kerja, apa itu hidup, bagaimana itu ekonomi berjalan, tentu mereka akan acuh dan meneruskan pekerjaan praktis mereka. Pertanyaan itu hanya membunuh waktu yang bisa mereka pergunakan untuk bekerja dan memanen uang.

Padahal, sebelum memiliki keingininan akan makanan dan mainan, dahaga pertama manusia adalah menjawab segala pertanyaan hidup. Ketika kecil, manusia selalu bertanya akan setiap hal yang ia lihat dan rasa. Apa itu hidup. Apa itu sakit. Apa itu Tuhan. Apa itu mati. Kenapa harus hidup. Kenapa harus kerja. Kenapa harus mati. Kenapa budaya berbeda dll. Semua itu pertanyaan kanak-kanak yang berhenti manusia renungi ketika orang tua membentak karena lelah sepulang kerja. Atau dimarahi guru karena dianggap melawan. Dipelototi ustadz karena dikira kualat. Atau mulai terpengaruh pikiran pragmatis bahwa hidup itu ya yang penting cari uang.

Padahal pertanyaan itu akan membuat hidup manusia lebih bermakna. Manusia tidak lagi sekadar variable dari siklus produksi yang dapat dieleminir oleh pemilik perusahaan. Dipindah ke sana kemari tanpa ada daya upaya. Pertanyaan itu juga yang akan menuntun manusia kepada hal-hal pokok dan mengabaikan hal-hal remeh. Bekal yang penting di saat banyak manusia sibuk bertikai untuk hal-hal remeh dan lalim akan hal-hal pokok. Pertanyaan itu juga yang akan menciptakan rasa puas dalam pekerjaan karena didasari semangat dan kesadaran. Perasaan yang sangat penting ketika manusia modern merasa hampa melakukan rutinitas keseharian. Penuh harap akan hari jumat dan penuh cemas ketika perjumpa senin.

Seandainya boleh melamun melambung tinggi. Kiranya ada sebuah dunia. Dimana setiap manusia mendapat upah setara untuk setiap jenis pekerjaan. Pilihan pekerjaan didasari oleh keinginan dan kemampuan. Bukan paksaan atau faktor ekonomi. Produksi tidak kurang atau lebih karena didasari nilai guna bukan nilai tukar. Semua orang bahagia dan memiliki banyak waktu luang. Siang dipakai bekerja, malam dipakai apesiasi sastra.

Ah, imaji tinggalah imaji, selama nafsu masih di kandung badan pragmatisme adalah sebuah keniscayaan.

Ferry Fadillah

Cekungan Bandung, 27 Agustus 2015.

sumber gambar : http://www2.warwick.ac.uk

, , , ,

Leave a comment

Catatan Awal Magang

Bukan main gembiranya orang tuaku ketika mendengar pengumuman majunya waktu magang bagi mahasiswa lulusan prodip I Keuangan angkatan 2009 seluruh Indonesia. Alasannya mudah ditebak, apalagi jika bukan bangga melihat anak pertamanya sudah bisa bekerja di masa muda saat para sarjana se-nusantara luntang-lantung mengirim surat lamaran ke perusahaan-perusahaan terkenal, dan apalagi jika bukan senang karena anak pertamanya sudah siap hidup mandiri dengan uang hasil jerih payah selama bekerja di kantor. Walaupun begitu, bagi kami -karena bukan saya saja yang merasakan hal ini- waktu magang yang dipercepat sama saja dengan hilangnya segala kesenangan mudawi yang sudah jauh-jauh kami rencanakan. Ketika bayang-bayang libur dua bulan setelah wisuda nampak , maka beberapa diantara kami ada yang berencana melancong ke Jawa Barat, bertamasya ke Jakarta, membugarkan badan di gymnasium, bertemu kawan lama di cafe-cafe atau bertemu kangen dengan kekasih yang sudah lama ditinggal jauh. Sekarang semua rencana sudah pupus, terkubur percepatan waktu yang dibalut kata ‘pengabdian kepada negeri’, dan pada akhirnya para pemuda tanggung yang masih sangat membutuhkan ‘dunia muda’ harus tunduk pada kenyataan : dunia kerja sudah datang

Bukan seperti membalikan telapak tangan. Sekolah kedinasan yang disangka orang gratis, bebas biaya, free, ternyata tidak sepenuhnya begitu. Apalagi bagi mereka yang kebetulan mendapatkan penempatan kuliah jauh diluar kampung halaman mereka. Bandung ke Denpasar. Purwukerto ke Pontianak. Surabaya ke Makassar. Karena beban ongkos transportasi harus ditanggung sendiri-sendiri, biaya hidup selama setahun ditambah tempat tinggal harus dirogoh dari kantong sendiri, dan biaya alat-alat tulis, fotocopy, beli map, materai, print kertas, mau tidak mau harus diambil dari saku celana sendiri. Beruntunglah mereka yang memang keturunan orang berada atau cukup ada di kampungnya, tapi malang pula bagi mereka yang susah sulit hidup melilit di kampung halamannya sendiri. Semoga saja banyak orang yang berbelas kasih bagi mahasiswa golongan kedua ini. amin.

Itu tadi hanya masalah materi. Sekarang masalah mental. Barang tentu masalah seperti putus dengan pacar gara-gara Long Direct Relationship (LDR) sering terdengar, kangen dengan orang tua, kangen dengan ponakan atau kangen dengan kampung halaman sudah seperti deru sepeda motor di Kota Jakarta yang berisiknya minta ampun, mengguncang jiwa, dan menurunkan semangat. Tapi apa boleh buat, kebanyakan dari kami berpasrah dengan semua rasa-rasa itu dan menganggap bahwa itu semua sudah ditakdirkan Tuhan. Bahkan, mereka yang sudah bekerja dengan pangkat tinggi terkadang memberi angin segar kepada kita akan tingginya tingkat kesejahteraan ditingkat instansi tersebut. Tentu saja mental para alumnus tersebut akan kembali naik penuh semangat setelah mendengar kisah kesejahteraan, tapi namanya manusia, nanti semangat-semangat itu akan kendur dipenuhi keluh kesah dan kalimat ‘andai saya begini maka saya jadi begitu’

Pada intinya, semua telah terjadi. Dan kita (alumnus) hanya memiliki dua pilihan : keluar atau lanjut dari pekerjaan ini dengan segala konsekuensinya. Ada pilihan ada pula resiko, begitulah orang tua dulu bilang, sebagai bekal kepada anaknya ketika berdiri di ujung jurang kebimbangan.

Ferry Fadillah. 01 November 2010. Denpasar, ditemani lolongan anjing tetangga

, ,

6 Comments