Posts Tagged pola pikir

Menuju Progresfitas Masjid Perkantoran

Adzan berkumandang. Masyarakat menghentikan aktivitasnya. Berduyun-duyun  masuk ke Masjid. Mengambil air wudhu, kemudian menghadap Allah dalam gerakan mulia bernama Shalat. Setelah itu, dalam diam, mereka mengingat Allah. Berdoa dalam harap.

Sayangnya, setelah ritual itu selesai, masjid kembali sepi. Pola pikir masyarakat terlalu terpaku bahwa masjid hanyalah tempat sholat belaka. Padahal, jika mengkaji secara sosio-historis, masjid selalu dipenuhi dengan pertemuan ragam pemikiran, ideologi, kepentingan dan pergerakan.

Maksimalisasi Peran Masjid Perkantoran

Umumnya, kantor-kantor pemerintah dan swasta memiliki masjid. Ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius yang selalu menempatkan masjid sebagai bagian penting dalam tata ruang perkantoran. Permasalahannya adalah, apakah masjid sudah menjadi pusat kegiatan dakwah di wilayah perkantoran?

Ada kecenderungan, relijiusitas hanya ditempatkan di dalam masjid, di luar itu relijiusitas selalu kalah dengan materialisme. Sehingga tidak jarang kita melihat pelaku karyawan yang kontradikitif dalam kehidupannya. Di masjid ia begitu sholeh, di luar kantor ia begitu liberal. Yasraf Amir Piliang, seorang sosiolog dan pengkaji cultural studies, melabeli orang seperti ini sebagai pengidap skizofrenia. Term ini merujuk kepada kepribadian yang ganda tidak hanya disebabkan faktor gen akan tetapi lemahnya prinsip yang ia pegang, sehingga ia selalu mengakomodir segala prinsip/isme-isme dalam kehidupannya. Isme-isme itu muncul dalam prilakunya tanpa ada filter dari prinsip utama.

Untuk menghilangkan ini semua, sebenarnya Masjid memiliki peran vital dalam melakukan pendidikan Islam yang kuat. Sehingga prinsip Islam dapat terpatri kuat dalam diri karyawan. Ujungnya, dihasilkan karyawan-karyawan yang Islami tanpa terjangkit gejala Skizofrenia.

Maksimalisasi Peran Takmir Profresif

Progresif memang cenderung digunakan dalam istilah politik. Progresif  memiliki definisi : ke arah kemajuan; berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang. Sehingga Takmir Progresif adalah kader-kader Islam dalam organisasi masjid yang senantiasa gerah dengan kemandekan/konservatisme dan berusaha untuk mengubah kondisi ini menuju keadaan ideal.

Oleh karena itu, takmir masjid harus diupayakan memiliki pengetahuan yang dalam tentang agama juga mengetahui perkembangan dunia yang sudah tidak moderen lagi (filsuf kontemporer mengkategorikan zaman sekarang sebagai post-moderenisme). Takmir masjid harus bisa menangkap isme-isme yang berkembang di daerahnya (kantor dsb) kemudian mengkajinya dari sudut Islam sehingga dihasilkanlah pehamanan jamaah yang lebih islami.

Daripada kita menuding sesat para liberalis, sekularis, feminis, orientalis dan sebagainya. Lebih baik kita mengkaji bahasa mereka, kemudian mewarnainya dengan semangat Islam.

Harapannya, Masjid dengan Ideologi Islam dapat menyatukan Umat Islam yang terkotak-kotak oleh segala Isme. Dan, hal ini perlu didukung oleh pergerakan Takmir Masjid yang progresif.

Ferry Fadillah
Badung, 3 September 2013

, , , , , , ,

Leave a comment

Berhala : uang

Para berhala tidak pernah berkata ataupun bersabda, imajinasi-imajinasi kebudayaan lah yang menjadikan mereka berkata dan bersabda. Padahal imajinasi itu lepas dari realita.

Kini, setelah malang melintang para nabi berbagai bangsa menyabdakan ke-Esa-an, para manusia dengan otoritas yang mereka miliki mulai mengimajinasikan sosok berhala baru.

Uang.

Sebuah benda tidak berharga yang fungsi esensialnya hanyalah sebagai alat tukar

Jika  kata ‘hanyalah’ cocok disematkan kepadanya tetapi kenapa orang berubah karenanya?

Sebuah daerah yang luhur budaya dan budinya seketika hancur lebur berubah menjadi serpihan-serpihan lingkungan industri yang dipenuhi asap kabut ketamakan.

Kekeluargaan yang didengar  dari teks-teks usang pelajaran sekolah kini berubah menjadi relasi yang berbalut bisnis, menolong karena kepentingan politis, membantu karena etiket, dan beramal demi pencitraan lantas dimana nurani yang mendasari semua kekeluargaan? hilang diserap gemerlap kekayaan

Muncul gerakan-gerakan pencerah, yang berusaha menyadarkan manusia akan kesalahan pola pikir mereka saat ini.

Namun, sebagian menyerah dan turut andil dalam usaha mengagungkan uang dan turunannya.

Jika sudah seperti ini mau bagaimana lagi?

Terakhir dalam pergolakan jiwa yang terkurung dalam tubuh kasar ini, saya tegaskan :

Saya tidak anti uang

Saya pun perlu uang

Namun posisinya hanya sebagai alat tukar

Ferry Fadillah, 12 September 2012

, , ,

Leave a comment