Posts Tagged bandung

Pemuda Hijrah: Antara Gaul-Sekuler dan Cupu-Islamis

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi”, Pidi Baiq.

Kalimat ini ditulis di bawah jembatan penyebrangan khas kolonial sekitar alun-alun Kota Bandung. Ditulis seniman asli kota ini yang dikenal melalui novel romansanya berjudul Dilan: Dia adalah Dilanku 1990. Sayangnya kita tidak akan membahas Pidi Baiq dan novel populernya itu. Tulisan ini akan membahas “itu melibatkan perasaan” kalimat dimuka yang akan membawa lamunan indah tentang kota kembang.

Bandung berhasil memikat setiap orang yang pernah bertandang walau sesaat. Setiap akhir pekan, mungkin, ribuan mobil bernomor polisi “B” memenuhi ruas tol Pasteur dan Buah Batu. Mereka membawa uang yang akan menambah pundi-pundi para pengusaha kota kreatif ini. Kuliner yang enak, café disekitar dago yang romantis, harga barang yang murah dan taman tematik yang menawan adalah produk wisata kota ini yang selalu dirindukan oleh pendatang. Terutama bagi mereka yang dapat membeli apapun dengan uang.

Perantau yang bekerja di luar Bandung juga merindukan hal serupa. Bandung yang berkabut di tengah lampu temaram Jalan Braga, kerlap-kerlip neon pemukiman yang indah dari perbukitan dago dan pemusik jalanan yang lihai bermain harmonika bersamaan dengan gitar di perempatan jalan adalah lembar-lembar grafis di alam bawah sadar yang selalu mengingatkan perantau tentang orang tua mereka, persahabatan atau kisah cinta yang pernah kandas.

Tapi apakah Bandung hanyalah tentang makanan, belanja dan pemandangan belaka? Mula-mulanya itulah yang saya rindukan. Namun, setelah mengenal sebuah gerakan islam di masjid Al-latif paradigma ini berubah.

Gerakan Pemuda Hijrah dimotori oleh event organizer bernama SHIFT yang menjadikan Masjid Al-Latif sebagai markas besarnya. Seperti namanya, hampir setiap hari kegiatan ini diikuti oleh pemuda edisi 90an. Mereka menemukan jalan hijrah melalui para dai di atas mimbar yang kerap menggunakan bahasa populer dalam menyampaikan risalah Islam. Misalnya kajian yang diberikan oleh Ustadz Evie Effendi. Dai nyentrik dengan busana gaul  ini selalu menyelipkan puisi, bahasa sunda gaul, dan lagu populer sembari menyelipkan tauhid dan syariat Islam kepada para jamaah. Walaupun isi ceramahnya tidak dalam, tapi tampilan dan gaya bahasanya berhasil memikat psikologi para pemuda yang baru menempuh jalan hijrah. Sehingga pemandangan anak muda dengan kaos oblong yang menangis dalam ceramahnya adalah hal lumrah sekaligus mengagumkan.

Metode dakwah semacam ini mengingatkan saya cara dakwah Marxian ala Martin Suryajaya (2014) dalam essainya berjudul “Marxisme dan Propaganda ” yang saya bahasakan ulang sesuai iman Islam:

Sebaliknya, mulailah dengan cara ortodoks: (1) abaikan semua kosakata Islami, (2) masuk ke dalam kosakata sang subjek, (3) ikuti penalaran si subjek dan rekonstruksi metodenya, (4) ekplisitkan atau beri penekanan pada “Iman Islam” yang sebetulnya sudah inheren dalam penjelasan sang subjek tanpa sekalipun menggunakan kosakata Islam, atau tunjukan kekeliruan dari metode pemikiran yang ia gunakan dengan penjelasan yang selaras bagi sekema dan kosakata berpikirnya, (4) tunjukan bahwa Islam itu punya konsekuensi  pada gagasan tertentu tentang kenyataan seperti yang dikupas Al-Quran dan Al-Hadist.

Bagaimana langkah-langkah ini bekerja dalam metodologi dakwah pemuda hijrah? Selain gaya bahasa para dai yang populer dan menghindari kedalaman materi. Para marketing pemuda hijrah pandai menyebarkan gagasan melalui jejaring sosial seperti instagram, twitter dan line. Tajuk-tajuk setiap pertemuan juga mengambil kalimat populer yang muda diingat. Seperti Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Dusta Pembawa Sengsara, Ladies Day: The Real Miss Universe, Defend Your Faith, Light and Dark Side, Math of God  dan lain sebagainya. Selain itu, hijrahnya pemain band, pentolan klub motor dan mantan narapidana berhasil memikat orang-orang senasib sehingga menghilangkan rasa sungkan calon jamaah untuk ikut mendengarkan ceramah di Masjid Al-latif.

Hal paling menarik dari kegiatan ini adalah keberhasilan panitia acara untuk mengajak ratusan jamaah muda di malam minggu, hingga masjid di pusat kota ini penuh sesak. Kalau hal ini terjadi di malam senin tentu hal biasa. Malam minggu! Alih-alih kongkow sambil ngobrol ngalor-ngidul ditemani kopi dan rokok atau pacaran bergandengan tangan di Paris van Java, mereka malah merelakan waktu untuk berdesakan sambil duduk bersila mendengar wejangan para ustadz. Sebuah bentuk militansi yang mengagumkan ditengah nikmat hedonisme yang selalu menggoda.

Pertanyaan kemudian yang layak diajukan adalah mengapa anak muda kota Bandung tertarik dengan kegiatan ini?

Saya sebagai warga kota Bandung yang lahir di tahun 90-an berusaha menjawab dengan pengamatan sederhana selama bersekolah di Jalan Citarum. Bandung pada masa itu (hingga kini?) adalah surga bagi para pemusik. Band-band lokal banyak yang mendapatkan ketenaran di tingkat nasional karena berhasil meramu lagu unik dan sederhana yang mudah diingat kawula muda. Gaya hidup anak muda juga terfasilitasi oleh investor swasta maupun koperasi angkatan darat. Arena billiard, bowling, kolam renang, bioskop, café, restaurant, taman tematik atau minimarket 24 jam menjadi destinasi kongkow sekaligus monumen gaya hidup urban yang sayang untuk ditinggalkan. Pemuda yang berkubang dalam gaya hidup seperti ini saya sebut ‘pemuda dalam kondisi pertama’.

Di lain sisi, ‘pemuda dalam kondisi kedua’ adalah mereka yang kebetulan terlahir dalam keluarga relijius. Umumnya mereka akan sibuk dengan urusan akhirat di masjid-masjid, berkumpul secara eksklusif bersama komunitas islami dan memiliki wawasan dunia seputar keislaman semata hingga –beberapa-  lupa untuk menerangi kejahiliahan menuju cahaya seperti yang diamanatkan Muhammad SAW. Bagi pemuda dalam kondisi pertama, mereka dilabeli sok relijius atau nggak gaul.

Saya yakin bahwa -bagi pemuda dalam kondisi pertama- hasrat yang terus disalurkan dengan kesenangan pasti akan menemukan titik jenuh. Mereka akan merasakan kekosongan kemudian depresi. Pada saat itu pertanyaan eksistensial akan mengemuka. Siapa Aku? Kenapa aku diciptakan? Mengapa Aku ada? Saat pemuda di dalam kondisi kedua mengambil jarak dari permasalahan mereka, pemuda dalam kondisi pertama akan sangat mudah terjerumus kepada tindakan amoral seperti penggunaaan narkotika, seks bebas bahkan dalam kondisi ekstrim dapat mengakhiri hidupnya dengan menenggak segelas baygon cair di kamar kost.

Gerakan pemuda hijrah seolah hadir untuk menghubungkan kedua kondisi pemuda ini. Seperti Nabi yang selalu menggunakan bahasa kaumnya untuk berdakwah. Pemuda hijrah juga menggunakan bahasa populer untuk berdakwah. Sehingga distingsi antara pemuda gaul-sekuler dengan cupu-islamis dapat dirombak dan dikonstruksi menjadi ukhuwah tauhid yang egaliter.

Tampaknya kalau gerakan ini tetap istiqomah dan secara teratur menghasilkan pemuda yang militan dalam Islam, ‘Bandung Juara’ tidak lagi berwujud tata kelola kota yang semata-mata estetis dan ramah anak tapi juga melimpahnya berkah dari Sang Pencipta di jantung Priangan.

Semoga.

Ferry Fadillah. Bandung, 16 April 2016.

, , , , , , ,

12 Comments

Pasopati

Ketika itu kau tiada, kemudian muncul dan menjadi
Ruh mu adalah harapan : warga kota yang ingin keteraturan
Tubuh mu adalah kebanggaan : ikon pariwisata bumi priyangan
Namun, ketika gelap datang, kau tidak bisa berbuat apa
 
Kau tahu penusukan tadi pagi?
Seorang Taruna Angkatan Udara Muda
Dipunggungnya ada harapan
Dikepalanya ada penghormatan,
tapi ia mati pagi tadi
 
Kau tahu perasaan ibunya?
Yang ingin melihat dia besar dan tegap,
melintas langit-langit katulistiwa
 
Nahas, harapan itu hilang
Tubuh itu lenyap
Jiwa itu kembali
di pasopati, pagi tadi

Ferry Fadillah. Bandung, 27 Desember 2013

, , , , ,

Leave a comment

Sampah di Kota Bandung, Parah!

Pasca Hari Raya Idul Fitri Tahun 2012, setelah silaturahim keliling seperti adat kebanyakan masyarakat indonesia, saya iseng mengunjungi Jalan Merdeka, Bandung. Niat awal memang ingin menikmati keindahan kota Bandung yang dijuluki kota kembang tetapi kemudian perjalanan berubah menjadi penelitian kecil saya terhadap masalah kronis kota ini.

“Tumpukan sampah di saluran air sepanjang Jalan Merdeka, Bandung (28/08)”

 Perhatian utama saya adalah sampah. Di saluran air sepanjang Jalan Merdeka, terlihat tumpukan sampah organik dan anorganik yang menyumbat saluran air. Air yang hitam pekat disertai gelembung-gelembung menjijikan meperlihatkan dengan jelas kepada kita bagaimana budaya kebersihan penduduk sekitar Jalan Merdeka. Walaupun kiranya haram bergeneralisasi, namun dibeberapa titik kota Bandung seperti sungai-sungai yang melintas di Kecamatan Antapani, Margahayu, Cikapundung dsb penampakan yang sama dapat terlihat dengan jelas bahkan dalam skala yang lebih besar. Saya jadi teringat ketika SMP dulu saat bermain di bantaran Sungai Cidurian, Antapani, air selalu berubah warna, kadang merah, kadang hijau dan setelah beberapa tahun semenjak itu, hingga saya bekerja saat ini, penampakan itu masih ada, bahkan tambah parah! Apa iya ini kota yang pantas dijuluki Kota Kembang ?

 Ditilik dari dimensi kebudayaan. Daerah Pasundan terkenal dengan nama-nama daerah berawalan Ci yang artinya air dalam bahasa indonesia, seperti Cikoneng, Cicadas, Cicaheum, Cimahi, Cimanuk dsb. Hal ini menunjukan bahwa leluhur sunda memiliki penghormatan khusus terhadap air.  Dalam kata lain, air merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan masyarakat sunda pada masa itu, dan tentu saja pada masyrakat lain di dunia. Namun kenapa teori yang ada berbeda dengan fakta di lapangan ? Masyarakat Sunda seolah-olah telah melupakan kearifan leluhur mereka!

 Suatu saat saya membaca karya tulis seorang budayawan Sunda, Ajip Rosidi, ternyata beliau juga memiliki kegusaran yang sama akan makin semerawutnya Kota Bandung utamanya dalam hal kebersihan, seperti yang beliau tulis sebagaimana berikut :

                   …Kesemrawutan kota Bandung yang pernah mendapat julukan Paris van Java itu merupakan cermin Tanah Sunda secara keseluruhan.

Karena sebelum berkeliling di Tatar Sunda, saya terlebih dahulu berkeliling di Jawa Tengah (terutama sepanjang Jogjakarta-Purwokerto lewat Wonosobo), maka timbul kesan bahwa keadaan di Jawa Tengah jauh lebih terpelihara dan lebih bersih. Kesan demikian niscaya akan menyebabkan sebagian orang Sunda naik pitam, karena selama ini di kalangan orang Sunda ada anggapan bahwa orang Sunda lebih “berseka” (gemar akan kebersihan dan kesehatan) daripada orang Jawa…

Saya sendiri selama dalam perjalanan selalu bertanya-tanya dalam hati, “Apakah memang ada kemajuan dalam hal kebersekaan pada orang Jawa dan kemunduran pada orang Sunda?… “(Ajip Rosidi, Safari Sebelas Hari, dalam buku Kearifan Lokal dalam Perspektif Budaya Sunda)

Kalau begitu apa solusi atas kekacauan yang telah kita (masyarakat sunda) perbuat? Seperti banyak pendapat ahli, bahwa pendidikan merupakan faktor utama pembentuk karakter  bangsa sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan kita telah gagal memproduksi peserta didik yang berwawasan lingkungan. Saya jadi teringat ketika SMA dulu,  ada muatan lokal Pendidikan Lingkungan Hidup yang materinya menitikberatkan kepada pemahaman Perda Kota Bandung tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan, pada saat itu jarang sekali saya mendapat praktik langsung pengelolaan sampah, yang ada hanyalah kewajiban untuk menghapal pasal-pasal berikut denda atas pelanggaran yang dilakukan. Membuang sampah di saluran air sekian rupiah, membakar sampah sekian rupiah, kencing sembarangan sekian rupiah. Pertanyaannya kemudian, apakah menghapal dapat menyelesaikan masalah lingkungan di Kota Bandung yang semakin parah? Tidak, jelas tidak!

Oleh karena itu, pendidikan Lingkungan Hidup seharusnya menitikberatkan kepada kegiatan praktik yang terprogram, terorganisir dan konsisten. Sehingga dari praktik ini, peserta didik akan menjadikan pemeliharaan lingkungan sebagai kebiasaan hidup yang kelak akan menjadi watak yang tidak bisa dihilangkan. Jumat Bersih digalakan kembali, membersihkan sungai-sungai sekitar sekolah setiap sabtu, menciptakan teknologi pengelolaan sampah dalam lingkup sekolah, sosialisasi pentingnya kebersihan kepada masyarakat sekitar  kiranya beberapa contoh langkah yang harus segera dilakukan peserta didik kita di sekolah. Jika tidak maka beberapa tahun kemudian kita hanya akan melihat para cendikiawan muda yang pandai berbicara mengenai lingkungan tetapi nihil dalam upaya mewujudkan lingkungan yang bersih dan ramah terhadap manusia.

Ferry Fadillah
Bali, 30 Agustus 2012

, ,

2 Comments

Kolong Jembatan dan Pengendara Motor

"saat hujan turun pengemudi motor akan memarkir motornya di jala ini"

"saat hujan turun pengemudi motor akan memarkir motornya di jalan ini"

Pengendara motor kerap kali mengundang amarah para pengemudi mobil. Apalagi jika sudah srantal-sruntul teu puguh, kekebutan, maupun ujug-ujug eureun tengah jalan. Akibatnya bisa semakin parah jika kedua belah pihak mulai pasang kuda-kuda dan saling baku hantam.

Tapi kali ini pengendara motor tidak bisa disalahkan begitu saja. Yah, namanya terdesak, pasti semua orang akan melakukan apa saja, yang penting masih dalam jalur yang benar.

Setiap hujan turun di Kota Bandung, maka yang mendapat masalah adalah para pengendara motor. Mereka harus menambah laju motor mereka agar segera sampai tujuan jika tidak ingin bajunya basah dan lembab. Mereka yang masih jauh dari tempat tujuan biasanya tidak mempunyai pilihan lain kecuali berteduh di pinggir jalan yang dilengkapi pohon pelindung, kios-kios rokok, maupun jembatan layang.

Tampaknya jembatan layang menjadi tempat berteduh favorit bagi para pengendara motor yang melintasi Jalan Pasopati Kota Bandung. Selain kolong jembatan itu bisa menahan hujan, kolong jembatan pun dilengkapi pedagang asongan yang siap melayani para peneduh. Tidak mau kehilangan kesempatan emas, ada juga muda-mudi yang memanfaatkan momen ini untuk bermersaan menikmati sejuknya udara Kota Bandung saat hujan.

Yang jadi permasalahan adalah motor mereka yang diparkir dipinggir jalan. Pada awalnya motor diparkir rapih berdekatan ke trotoar, tapi lama kelamaan pengendara motor yang berteduh semakin banyak dan motor yang mereka parkir makin menutupi satu ruas jalan. Beberapa dari mereka ada yang sadar akan kesalahan parkir tersebut lalu memindahkan motor mereka ke tempat yang tidak mengganggu arus lalu lintas. Sayangnya ada juga yang keukeuh dengan kesalahannya dan mengakibatkan terhambatnya arus lalu lintas.

"berteduh sambil santai duduk-duduk, ada juga pedagang yang berjualan"

Yah bagi mereka yang keukeuh biasanya akan dihadiahi bentakan oleh pengemudi mobil, klason kencang bertubi-tubi maupun tatapan tajam penuh amarah. Dan bisanya pengemudi motor akan cuek bebek bersantai dipinggir jalan. Biarpun sikap kurang baik ini tidak dilakukan oleh semua pengendara, berapapun jumlahnya, tetap saja pasti sangat mengganggu pengemudi lain.

Begitulah rupa-rupi kehidupan pengendata motor saat hujan. Tidak seperti pengendara mobil yang dilengkapi atap besi dan kursi empuk, pengendara motor layaknya penunggang kuda, harus tahan panas maupun hujan. Tapi bagaimanapun dan dengan alasan apapun ketertiban harus tetap dijaga, karena semua demi kehidupan jalanan yang harmonis.

FERRY FADILAH,  AGUSTUS 2010

,

Leave a comment

Hilangnya Bandung Kami

Keindahan alam merupakan sebuah media untuk meluapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena pada umumnya, ketika melihat sebuah ciptaan maka manusia akan bertanya-tanya tentang siapa penciptanya dan tentu akan mengagung-agungkan penciptanya. Setelah  itu kata-kata baik akan terlontar dari mulut manusia atau bahkan dituangkannya di buku harian dalam bentuk sajak-sajak yang indah.

Alam dengan segala keindahannya pun telah menjadi inspirasi bagi jutaan orang. Ia menjadi inspirasi bagi motif kain batik, menjadi inspirasi bagi upacara adat, inspirasi bagi cara bersosialisasi, inspirasi bagi dunia sastra atau inspirasi bagi ilmu bela diri. Dikarenakan kontribusinya bagi inspirasi manusia, maka adalah sebuah kewajiban bagi kita untuk menghormatinya.

***

Sebuah kota yang terlahir dari pengeringan danau purba beberapa juta tahun yang lalu merupakan sebuah anugerah bagi manusia setelahnya. Jasad renik yang tertimbun di dasar danau kini telah membentuk susunan tanah yang amat subur. Bahkan ada yang berani menyatakan bahwa dengan melempar biji apa saja ditanah tersebut maka akan tumbuh subur tanpa perawatan apapun. Dan memang benar, dahulu ketika masa raja-raja memerintah di tanah sunda belum ada satupun rakyatnya yang mati kelaparan.

Ialah Kota Bandung yang kemudian dijuluki Paris van Java oleh pemerintah Hindia Belanda. Karena keindahannya seperti kota paris inilah, kota bandung menjadi tempat tinggal idaman bagi menak-menak belanda. Hal ini dapat dilihat dari deretan perumahan ala belanda di daerah bandung utara. Dari cara membangunnya sangat terlihat bahwa mereka ingin menjadikan wajah bandung seperti kota-kota eropa lainnya, yang bergaya art deco.

"persawahan di daerah buah batu"

Tidak hanya itu, kota bandung yang dikelilingi oleh gunung-gunung telah memberikan kesejukan bagi penduduknya. Belum lagi gunung-gunung tersebut menawarkan keindahan dan ketenangan bagi siapapun yang stress setelah bekerja dengan hiruk pikuk kehidupan di kota-kota besar. Ternyata ada benarnya juga ungkapan : Tuhan pasti tersenyum ketika menciptakan kota bandung.

Sekarang mari kita melihat Kota ini sekarang. Bahwa semua puja puji bagi kota bandung itu ada, jauh sebelum matahari tahun 2010 terbit, Jauh sebelum tol purbaleunyi dibangun oleh pemerintah dan Jauh sebelum jembatan layang pasupati berdiri di kota ini.

Persawahan yang sebenarnya adalah sisa-sisa sawah yang dilihat dari pagar batas salah satu perumahan elit di kota bandung

Kehebatan itu membekas di benak warga kota bandung sampai saat ini walaupun realita mengatakan lain. Kini bandung dipenuhi oleh banyak pendatang setiap sabtu dan minggu, menciptakan lautan mobil berplat B yang hilir mudik keluar masuk pertokoan untuk berbelanja, menciptakan kemacetan dan mencemari udara. Belum lagi para pendatang yang tertarik dengan kota ini lalu menetap dan beranak pinak lalu membangun pemukiman-pemukiman yang ribuan jumlahnya.

Pola ekonomi yang berubah pun telah mengacak-ngacak wajah bandung. Para petani yang dahulu menjaga sawah leluhurnya untuk menafkahi keluarga kini lebih memilih menjualnya dengan harga tinggi yang kemudian dari tanah tersebut berdiri kokoh mal-mal dan hotel-hotel. Sudah banyak sawah-sawah tersebut menghilang, yang akhirnya meninggalkan kenangan nyayian padi yang bergesekan diterpa angin.

Sawah-sawah itupun ada yang sengaja dikeringkan oleh pemiliknya karena alam yang sudah tidak lagi bersahabat. Menjualnya. lalu berdirilah komplek-komplek rumah mewah dengan  harga yang hanya dapat diperuntukan  khusus bagi golongan priyayi. Komplek tersebut umumnya dikelilingi pagar beton berpucuk kawat berduri, menciptakan kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin.

Tahun berganti tahun, manusia semakin banyak dan semakin ramai merusak sawah-sawah. Pun bukit-bukit hijau tidak terhindar dari tangan rakus manusia. Yang dahulu di puja puji bisa jadi nanti di hina-hina. Saya sendiri tidak bisa berbuat banyak, karena saya hanyalah seorang saya. Satu dari ribuan penduduk yang bermukim di Kota Bandung.

, ,

Leave a comment

Senja Pulang ke Pajajaran

"tatar sunda, indah dan memikat, kampung halaman yang selalu terngiang dalam diri, dimanapun kapanpun"

oleh FERRY FADILLAH

Angin pantai, seperti biasanya, berhembus kencang di Kota Denpasar yang masih sunyi senyap. Meninggalkan nyayian dedaunan yang saling bergesekan diiringi kicauan burung di pagi hari. Aroma dupa yang terbakar mulai tercium, menciptakan suasana mistis di tengah pemujaan agung kepada Sang Hyang Whidi. Kesadaran diri belum juga sampai pada puncaknya, tapi ku usahakan membuka mata dan mengambil air wudhu di kamar kecil yang sudah tidak terurus.

Setelah mendirikan shalat shubuh –yang pelaksanaannya telat. Note Book 17 inch yang besar mulai kunyalakan, dengan bantuan program windows media player kumainkan lagu kesukaanku, Degung Klasik ala tatar sunda. Suara sulingnya indah, dengan kacapi, dan beberapa instrumen lain, menambah suasana damai dalam hati yang riang gembira menyambut kepergian menuju lembur sim kuring.

***

Sudah beberapa bulan aku tidak menginjakan kaki di Kota Bandung. Maklum, tempat kuliah yang jauh menyebabkan aku harus berfikir ribuan kali sebelum merogoh kocek untuk membayar ongkos pulang. Beruntung masih ada beberapa sanak saudara yang berlimpah rezeki dan rela membagikannya secara cuma-cuma. Sehingga hari jumat yang suci ini aku merencanakan kepulanganku bersama beberapa kawan.

Berkuliah di Pulau Dewata, bukanlah sebuah keinginanku sedari dulu. Hal ini lebih karena keadaan yang memaksa atau bisa dibilang suratan takdir. Mulanya aku ragu untuk memulainya, tapi setelah dicoba ternyata banyak hal positif yang dapat di ambil dari kota ini.

Bali, yang tersohor karena kekayaan budayanya telah memberiku sebuah inspirasi untuk menciptakan kekentalan budaya di seluruh daerah nusantara. Tentu hal tersebut dapat menjadi tugas putra daerah masing-masing dalam menggali kembangkan kebudayaan leluhurnya. Karena hanya putra daerah lah yang tahu seluk beluk, tetek bengek, budaya dan adat istiadat daerah mereka. Dan tentu dengan tangan dingin merekalah kekentalan budaya akan mulai tercipta dilingkungannya masing-masing.

Menggali kembangkan sebuah budaya adalah hal yang menarik. Di dalam perjalannya nanti kita akan banyak menemukan mutiara kearifan lokal yang tercecer, dan apabila disusun secara rapi, akan menciptakan sebuah ajaran harmonis antara Tuhan, alam dan manusia. Sayang, pesatnya perkembangan zaman, telah banyak menyumbangkan kehancuran pada keberadaan kearifan lokal saat ini.

Alam disiksa, gunung diratakan, hutan dibantai, sungai dicemari, tanah dikeruk, hewan diburu. Semua perbuatan manusia tersebut sudah keluar dari batas-batas keharmonisan antara Tuhan, Alam, dan Manusia. Manusia pongah, merasa dirinya tercipta sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi, lalu dengan egois menghancurkan, meratakan, dan memusnahkan. Pantas saja bencana-bencana di nusantara kerap terjadi. Dan manusia biasanya menyalahkan satu sama lain, bahkan menyalahkan yang menciptakannya.

Pemandangan-pemandangan ketidak harmonisan itulah yang sering aku lihat di perjalanan pulang dari Denpasar ke Bandung. Aku yang hanya bisa terdiam di kaca bus, tidak bisa berbuat apa-apa selain menulis hal ini. menulis kekhawatiran-kekhawatiran atas berkembangnya budaya modern yang tidak berbudaya lingkungan.

Senja pulang ke pajajaran. Inysa Allah, aku akan berangkat. Dan dalam Jumat yang suci ini, aku berharap mendapatkan perjalan yang menyenangkan. Menemukan pemandangan-pemadangan harmonis anatara Tuhan, Alam, dan Manusia. Karena dengan pemandangan itulah akan tercipta manusia-manusia yang selalu bersyukur kepada Tuhannya, bukan malah berkeluh kesah dengan keadaan. Semoga.

Salam damai, bahagia selalu

, , ,

Leave a comment