Archive for July, 2010

Debus, ora tembus!

Indonesia memang sebuah negara yang amat kaya. Tidak hanya kaya dengan sumber daya alam yang melimpah-limpah, tetapi juga kaya dengan budaya yang unik dan mengagumkan. Budaya-budaya tersebut tersebar di seluruh nusantara dan dikembangkan oleh suku-suku di tiap daerah.

Tersebutlah sebuah daerah yang amat tersohor dengan ilmu kekebalan tubuhnya. Banten. Sebuah Provinsi di paling barat pulau jawa ini menyimpan beragam misteri dan kesaktian yang sudah ada selama beratus-ratus tahun yang lalu. Jika orang mengenal Banten tentu langsung teringat akan debus, begitu pun sebaliknya jika orang mengenal debus tentu langsung teringat akan banten.

Debus sendiri dikembangkan oleh Sultan Agung Tirtayasa beratus tahun yang lalu untuk menyebarkan agama islam. Tetapi dengan datangnya Belanda ke negeri ini, debus telah menjadi ilmu utama para pasukan banten untuk melawan penjajah yang telah  menggunakan persenjataan canggih untuk menaklukan kerajaan-kerajaan di nusantara.

***

Indonesia City Expo 2010 yang diselenggarakan kemarin (29/07) di Lapangan Gasibu telah menyuguhkan keragaman produk budaya dari tiap-tiap daerah di nusantara. Salah satunya ragam budaya dari Kota Serang, Provinsi Banten.

Perwakilan dari kota tersebut berhasil dan sukses membawakan seni debus yang amat tersohor itu. Penonton berdecak kagum bercampur takut ketika para jawara menyayat-nyayat tubuhnya sendiri dengan golok. Tidak hanya itu mereka pun mengeluarkan paku sebesar linggis dan menusukkannya ke perut masing-masing. Tentu saja tidak ada darah, luka maupun memar dalam pertunjukan tersebut.

Belum sempat penonton mengambil napas, jawara banten dengan ikat kepala sunda dan baju berwarana biru menggigit-gigit buah kelapa sampai berukuran kecil. Lalu, kawannya menebas buah kelapa dengan golok dan mengeluarkan isi buah kelapa tersebut. Hebatnya, bukan air kelapa yang keluar, tetapi bihun yang amat banyak. Entah bagaimana hal ini terjadi, yang pasti para penononton mengapresiasi dengan tepuk tangan dan siulan tanda kagum.

Setelah itu, entah iseng atau sengaja, sang jawara memanggil seorang wartawan ke atas panggung. Tanpa diberi aba-aba, sang jawara menyabetkan goloknya ke perut sang wartawan. Anehnya, sang wartawan yang awam dalam kesenian debus itu tidak terluka maupun berdarah. Sepertinya jawara debus sedang mentransfer ilmunya sementara.

Di penghujung acara, salah seorang jawara membakar sabut kelapa yang tercecer lalu memakannya perlahan. Salah seorang temannya memaku tubuhnya dengan paku sebesar linggis tadi. Tiba-tiba saja sang jawara terdiam sejenak dan dari dalam mulutnya keluar benda hitam aneh. Dan ternyata benda hitam tersebut adalah kelelawar, ya kelelawar hitam dan kecil. Setelah keluar dari mulut sang jawara, kelelawar tersebut terbang mengelilingi penonton. Sang Jawara pun berteriak, “Selamat datang di Kota Bandung.” Hebatnya, prosesi pengeluaran kelelawar tersebut tidak hanya satu kali, tetapi diulangi selama lima kali!

Begitulah kurang lebih pertunjukan debus tersebut. Terlepas dari kontrovesi halal dan haramnya permainan debus. Ada baiknya jika kita mengenal dan mengembangkan kebudayaan debus ini agar dikenal oleh masyarakat dunia. Akhirul kalam, salam kagum kepada para jawara banten. Ternyata, debus, memang ora tembus.

Advertisements

,

Leave a comment

Senja Pulang ke Pajajaran

"tatar sunda, indah dan memikat, kampung halaman yang selalu terngiang dalam diri, dimanapun kapanpun"

oleh FERRY FADILLAH

Angin pantai, seperti biasanya, berhembus kencang di Kota Denpasar yang masih sunyi senyap. Meninggalkan nyayian dedaunan yang saling bergesekan diiringi kicauan burung di pagi hari. Aroma dupa yang terbakar mulai tercium, menciptakan suasana mistis di tengah pemujaan agung kepada Sang Hyang Whidi. Kesadaran diri belum juga sampai pada puncaknya, tapi ku usahakan membuka mata dan mengambil air wudhu di kamar kecil yang sudah tidak terurus.

Setelah mendirikan shalat shubuh –yang pelaksanaannya telat. Note Book 17 inch yang besar mulai kunyalakan, dengan bantuan program windows media player kumainkan lagu kesukaanku, Degung Klasik ala tatar sunda. Suara sulingnya indah, dengan kacapi, dan beberapa instrumen lain, menambah suasana damai dalam hati yang riang gembira menyambut kepergian menuju lembur sim kuring.

***

Sudah beberapa bulan aku tidak menginjakan kaki di Kota Bandung. Maklum, tempat kuliah yang jauh menyebabkan aku harus berfikir ribuan kali sebelum merogoh kocek untuk membayar ongkos pulang. Beruntung masih ada beberapa sanak saudara yang berlimpah rezeki dan rela membagikannya secara cuma-cuma. Sehingga hari jumat yang suci ini aku merencanakan kepulanganku bersama beberapa kawan.

Berkuliah di Pulau Dewata, bukanlah sebuah keinginanku sedari dulu. Hal ini lebih karena keadaan yang memaksa atau bisa dibilang suratan takdir. Mulanya aku ragu untuk memulainya, tapi setelah dicoba ternyata banyak hal positif yang dapat di ambil dari kota ini.

Bali, yang tersohor karena kekayaan budayanya telah memberiku sebuah inspirasi untuk menciptakan kekentalan budaya di seluruh daerah nusantara. Tentu hal tersebut dapat menjadi tugas putra daerah masing-masing dalam menggali kembangkan kebudayaan leluhurnya. Karena hanya putra daerah lah yang tahu seluk beluk, tetek bengek, budaya dan adat istiadat daerah mereka. Dan tentu dengan tangan dingin merekalah kekentalan budaya akan mulai tercipta dilingkungannya masing-masing.

Menggali kembangkan sebuah budaya adalah hal yang menarik. Di dalam perjalannya nanti kita akan banyak menemukan mutiara kearifan lokal yang tercecer, dan apabila disusun secara rapi, akan menciptakan sebuah ajaran harmonis antara Tuhan, alam dan manusia. Sayang, pesatnya perkembangan zaman, telah banyak menyumbangkan kehancuran pada keberadaan kearifan lokal saat ini.

Alam disiksa, gunung diratakan, hutan dibantai, sungai dicemari, tanah dikeruk, hewan diburu. Semua perbuatan manusia tersebut sudah keluar dari batas-batas keharmonisan antara Tuhan, Alam, dan Manusia. Manusia pongah, merasa dirinya tercipta sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi, lalu dengan egois menghancurkan, meratakan, dan memusnahkan. Pantas saja bencana-bencana di nusantara kerap terjadi. Dan manusia biasanya menyalahkan satu sama lain, bahkan menyalahkan yang menciptakannya.

Pemandangan-pemandangan ketidak harmonisan itulah yang sering aku lihat di perjalanan pulang dari Denpasar ke Bandung. Aku yang hanya bisa terdiam di kaca bus, tidak bisa berbuat apa-apa selain menulis hal ini. menulis kekhawatiran-kekhawatiran atas berkembangnya budaya modern yang tidak berbudaya lingkungan.

Senja pulang ke pajajaran. Inysa Allah, aku akan berangkat. Dan dalam Jumat yang suci ini, aku berharap mendapatkan perjalan yang menyenangkan. Menemukan pemandangan-pemadangan harmonis anatara Tuhan, Alam, dan Manusia. Karena dengan pemandangan itulah akan tercipta manusia-manusia yang selalu bersyukur kepada Tuhannya, bukan malah berkeluh kesah dengan keadaan. Semoga.

Salam damai, bahagia selalu

, , ,

Leave a comment