Posts Tagged kedinasan

Popularitas Menghapal dan Matinya Ke-kepo-an

part-time-lecturer-in-civil-engineeringMasih terngiang di dalam pikiran ini, mendebarkannya menghadapi Ujian Akhir Sekolah (UAS) pada bulan Agusus lalu. Sebagai informasi, aku adalah mahasiswa akuntansi pada sebuah sekolah kedinasan di bilangan Tangerang Selatan. Mata kuliah yang menjadi santapan sehari-hari tidak jauh dari ilmu-ilmu berbau angka yang menuntut ketelitian dan ketepatan. Yang paling aku takuti –kebetulan semua subjek utama- ialah Intermediate Accounting, Cost Accounting, dan Financial Management.

Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti untuk menghadapi mata kuliah itu semua. Toh ilmu-ilmu itu dirumuskan oleh manusia dengan alur logika yang dapat dipelajari. Sayangnya, semangat untuk mempelajari itu, mengkaji lebih dalam dan menggali makna filsofis dalam setiap mata kuliah selalu terbentur oleh cara berpikir –baik dari sesama mahasiswa maupun dari pihak dosen.

Gambaran ringkasnya seperti ini.

Belajar mata kuliah melalui buku rujukan asli sepertinya sudah tidak diminati oleh rekan-rekan mahasiswa –wabil khusus di sekolahku, maaf, politekniku. Biasanya mahasiswa lebih tertarik dengan serpihan slide yang ditampilkan ketika kuliah lalu meminta koordinator kelas untuk mencetak dan menggandakannya. Pun, kertas-kertas itu hanya dibuka, diberi catatan pinggir dan komentar-komentar beberapa hari menjelang ujian dilaksanakan. Maka tidak salah kalau ada orang bertanya hal ihwal suatu konsep kepada dosen di kelas pada saat jam pelajaran, mayoritas mahasiswa hanya terdiam dan mengangguk setuju. Beberapa orang menggerutu atau bahkan di dalam hati sinis terhadap orang yang selalu bertanya itu.

Dosen sebenarnya ibarat ‘nabi’. Tugasnya memberikan mahasiswa pencerahan akan ilmu yang sedang dipelajari. Pencerahan bukan berarti sukses memindahkan isi buku ke kertas ujian, tapi dapat menggunakan ilmu di kelas bagi kehidupan. Kalau ilmu itu absrak maka dapat digunakan untuk memaknai segala fenomena di dunia ini. Kalau ilmu itu praktis maka dapat dibagikan bagi mereka yang memerlukan atau minimal menjauhkan mahasiswa dari dosa kemiskinan dan kedunguan.

Permasalahannya muncul ketika dosen pun tidak memiliki ketertarikan intelektual untuk mengkaji suatu disiplin ilmu sampai ke level filosofis. Sederhananya, rumus matematis disampaikan kepada mahasiswa, mahasiswa menggangguk setuju lalu menghapal mentah-mentah rumus-rumus itu, dan soal-soal ujian disajikan untuk diisi, bagi yang dapat menindahkan rumus-rumus tadi ke kertas ujian maka akan mendapat nilai bagus dan diberi predikat mahasiswa pintar. Ada yang janggal?

Saya jadi teringat dengan video di whatssup yang disebar oleh kawan saya. Seekor burung beo dengan lihai bisa menirukan sebagian ayat-ayat suci Al-Quran. Melihat fenomena itu kiranya kita bisa melakukan refleksi, kalau begitu (hanya menghafal dan menirukan) apa bedanya kita dengan binatang? Lantas apa beda manusia dengan binatang?

Manusia punya otak, binatang juga punya. Manusia bisa dilatih untuk patuh, anjing lebih-lebih bisa. Manusia bisa diajar hal rumit, simpanse juga bisa melakukan hal rumit. Perbedaannya adalah manusia bisa melakukan pendalaman filosofis atas segala sesuatu sedangkan binatang tidak.

Pendalaman filosofis dalam mengkaji suatu ilmu berarti memahami benar konsep, asumsi, masalah, kelebihan dan kekurangan dari suatu ilmu. Dari pendalaman itu munculah eagle eyes atau pandangan yang luas atas segala masalah. Mahasiswa kelak bisa membedakan mana yang esensial mana yang tidak esensial; mana asumsi yang bisa dirubah atau bahkan asumsi yang salah; mana ilmu yang perlu diperbaiki mana ilmu yang perlu dipisah atau dilebur.

Idealnya adalah, seorang mahasiswa itu kelak tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan tapi juga menjadi produsen ilmu pengetahuan. Sehingga, kelak, harapan kita bersama, teoritikus dan ilmuwan yang selalu jadi rujukan di buku-buku bukan lagi orang asing yang bahkan sulit bagi lidah kita untuk mengucapkannya. Namun, nama-nama daerah nusantara yang membuat kita bangga dan mampu berdiri sejajar dengan semua bangsa di dunia.

Ferry Fadillah. Antapani, 4 September 2015

sumber gambar: catchwork.co.uk

Advertisements

, , , , ,

Leave a comment

Perguruan Tinggi Kedinasan, Apa Kata Mahasiswanya?

oleh FERRY FADILLAH

Pelajar SMA, pada umumnya, memiliki banyak impian yang ingin mereka capai di masa depan. Dokter, insinyur, guru, psikolog, diplomat, tentara, polisi, PNS, pengusaha dan bahkan yang hanya menyebutkan ‘membahagiakan orang tua’ yang tidak jelas bagaimana caranya tapi jelas tujuannya. Semua impian itu biasanya menjadi motivasi kuat bagi siswa SMA dalam menghadapi Ujian Nasional maupun SNMPTN. Diskusi bersama, tambahan jam pelajaran, mengikuti bimbingan belajar, ditambah membaca buku di waktu luang telah menjadi zat adiktif bagi siswa SMA yang  menggebu-gebu untuk menembus Perguruan Tinggi Favoritnya, yang tentu dengan harapan akhir : tercapainya impian mereka melalui PTN Favorit.

Bagi mereka yang menginginkan cepat mendapat pekerjaan, terllilit sulitnya hidup untuk sekedar makan dan yang paling keren, mengabdi kepada negara tentu akan memilih Perguruan Tinggi Kedinasan sebagai penghilang dahaga mereka selama ini. Murahnya biaya pendaftaran dan dibebaskannya biaya pendidikan telah menciptakan gelombang manusia muda penuh harap dari tahun ke tahun untuk mencoba peruntunganya mengikuti tes saringan masuk Perguruan Tinggi Kedinasan. Diantara mereka ada yang belajar keras membuka buku tes tahun sebelumnya dan bahkan melewati jalan setan, bermain dengan kelicikan dan kepicikan.

Saya sendiri sampai saat ini terdaftar secara sah sebagai salah satu mahasiswa Prodip I Sekolah Tinggi Akutansi Negara di Kota Denpasar. Sebuah balai diklat yang dihuni oleh 27 mahasiswa yang mayoritas dari pulau jawa ini, merupakan pendatang baru di Kota Denpasar yang selalu terkagum-kagum dengan keindahan Pulau Dewata, sehingga tidak heran jika waktu senggang di gunakan untuk melancong bersama kawan ke setiap sudut pulau ini. Perbincangan seputar Pulau Dewata pun menjadi topik hangat di awal-awal tahun pelajaran.

Menjadi mahasiswa kedinasan yang berada di bawah naungan Kementrian Keuangan tentu memberikan angin segar bagi orang tua masing-masing karena tidak perlu repot merogoh kocek untuk biaya pendidikan. Berbeda dari angin segar itu, mahasiswa dalam kesehariannya seringkali mendapatkan angin ribut yang begitu mencekam dan menyita fikiran, diantaranya :

  1. Kekasih. Sebelum meninggalkan kampung halaman masing-masing, mahasiswa biasanya telah terikat cinta dengan seorang kekasih. Rasa cinta yang menggebu-gebu selama di kampung halaman harus tertunda karena kewajiban merantau ke tanah orang. Maklum saja jika ditemukan beberapa sisiwa yang muram mukanya, akibat ditinggal pergi sang kekasih. Bagi mereka yang belum memiliki kekasih, tampaknya akan sulit untuk menemukannya di tanah rantau, perbedaan agama dan budaya sering menjadi kendalanya. Tidak heran jika Face Book telah menjadi biro jodoh bagi para mahasiswa dalam pencarian kekasih yang sebudaya dan seagama.
  2. Bayang-banyang penempatan. Sebuah surat pernyataan akan ditempatkan diseluruh wilayah republik indonesia sudah harus ditandatangani mahasiswa kedinasan di awal tahun pelajaran. Luasnya wilayah negara kita telah membuat bulu roma sebagian mahasiswa berdiri, doa-doa dan jampi agar ditempatkan di kota-kota besar selalu keluar dari mulut mereka di persembahyangan. Wajar saja jika mereka takut dengan wilayah negara ini yang besar, siapa juga yang mau menjaga perbatasan negara ini, jauh dari hingar bingar kota dan manusia? Pasti ada yang mau, dan tentu lebih kepada ‘mau tidak mau harus mau’.
  3. Hilangnya masa muda. Masa muda tentu merupakan hal yang begitu menarik untuk di ceritakan turun menurun. Cerita berorganisasi, mendaki gunung dengan pencita alam, berdiskusi dengan aktivis-aktivis telah menjadi keseharian mahasiswa perguruan negeri sehari-hari. Tapi bagi mahasiswa kedinasan, hari-hari merupakan kewajiban untuk memelototi tumpukan peraturan-peraturan yang seolah tidak ada habisnya. Masa perkuliahan yang singkat, telah memangkas waktu muda mahasiswa PTK dan menjadikannya bapak-bapak kantoran sebelum waktunya.
  4. Gayusisme. Ah, tak perlu panjang lebar sepertinya membahas hal ini. Gencarnya media masa memberitakan kasus gayus dan keterkaitannya dengan dirjen pajak dan tentu saja kementrian keuangan telah mencoreng keluarga besar kementrian ini. Termasuk kami, siapapun yang tahu sekolah kami pasti akan dengan gaya so suci bertegur sapa,”owh STAN, gayus yah, jangan macem-macem yah.”

Begitulah poin-poin yang bisa saya jabarkan hasil keluh kesah kawan-kawan selama ini. Bagi anda yang berminat melanjutkan kuliah atau mengikutkan anak kuliah ke Perguruan Tinggi Dinas tentu haru berfikir matang-matang sebelum bertindak. Hidup hanya sekali, jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Salam Sukses, Bahagia Selalu

,

Leave a comment