Archive for June, 2010

Hati dan Sikap : Relakah Bermuka Dua Demi Ini dan Itu ?

Oleh FERRY FADILLAH

Hati manusia. Tidak sekedar organ tubuh yang berfungsi menawarkan racun, lalu begini dan begitu, tetapi lebih kepada tempat persembunyian terefektif bagi pikiran, gagasan, dan perasaan. Jika bunker persembunyian perang bisa luluh lantah hancur dengan tanah lalu diketahui isinya, hati manusia tidak. Sehebat-hebatnya ancaman, bahkan sampai mengancam diri, semua isi hati akan tetap terkunci sampai mati, dan pada akhirnya akan selalu menjadi misteri.

***

Sikap dan hati merupakan kawan lama yang senantiasa berkoordinasi terlebih dahulu sebelum bertindak. Sikap bisa seperti ini karena hati, hati bisa seperti itu karenaa sikap. Adakalanya juga, hati dan sikap berlawanan, seolah-olah bekerjasama memproteksi sesuatu yang sangat penting.

Munafik adalah kata yang paling keras didengungkan bagi mereka yang ucapan dan perbuatannya bertentangan. Lantas bagi mereka yang hati dan sikapnya berlawanan, apa boleh kita sebut dengan istilah yang sama?

Hati dan sikap yang berlawanan bisa ditemukan dalam berbagai dalih : menghormati orang lain, menjaga perasaan orang lain atau menjaga persahabatan. Tidak heran jika mereka sanggup memakai dua muka sekaligus sampai berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Alasannya karena itu tadi, ini dan itu.

Seorang Uya Kuya dapat menghipnotis seseorang lalu membuka isi hatinya, yang nantinya akan keluarlah bunyi-bunyi tulus dari palung hati terdalam seorang manusia, yang isinya bisa menyenangkan dan bisa juga menyakitkan. Tapi separah apapun bunyi yang menyakitkan, itu tetaplah suara hati, suara terjujur yang pernah ada.

Alih-alih ingin menyeragamkan sikap dan hati, maka seseorang akan menghina orang dengan perawakan improposional, gigi tidak beraturan, mata merah, dan rambut kusut nan keriting dengan sebutan Si Buruk Rupa. Memang begitu nyatanya dan memang  jujur ucapannya? Lantas haruskah  suara hati Yang Maha Jujur itu melukai hati orang lain yang sama jujurnya?

Sesama bus saja dilarang mendahului, apalagi hati, tentu tidak boleh saling menyakiti. Aneh memang analogi ini, tapi biarlah. Tidak boleh saling menyakiti bukan berarti hidup harus rela bermuka dua selama-lamanya, bukan. Tapi biarlah isi hati itu tersimpan sedalam-dalamnya, terkunci rapat penuh kode rahasia sampai saatnya nanti. Saat yang tepat bagi hati berbicara. Toh, tugas manusia dalam bersikap ialah saling menghormati, tidak kurang dan boleh lebih.

Salam Sukses, Bahagia Selalu..

"semua tampak bahagia ketika difoto, tapi apakah benar bahagia, adakah yang tahu isi hatinya masing-masing?"

,

Leave a comment

Kejujuran yang Dipertanyakan Selama UJian

oleh FERRY FADILLAH

Satu hari telah berlalu setelah penyelenggaraan USM STAN 2010. Para pengundi nasib yang tempo lalu bermandi peluh ketika mengerjakan soal ujian, kini dapat menikmati hari-hari cemas penuh penantian akan pengumuman kelulusan mereka. Tentu ada dua kemungkinan yang akan mereka terima : menjadi mahasiswa STAN  tahun ajaran 2010 atau menjadi pembicara seputar sulitnya soal USM 2010 di kampus lain.

Di saat para pengundi nasib di seluruh nusantara dapat sedikit bernapas lega, para pelaku tindak pidana ‘membocorkan rahasia negara’ atau pelaku kecurangan selama USM dengan menggunakan teknologi mutakhir dalam aksinya, harus bermandi peluh kembali menghadap penyidikan pihak kepolisian. Tentu berurusan dengan pihak kepolisian untuk usia sedini itu merupakan hal terberat dalam kehidupan, bisa jadi mereka stress, kesal dan bahkan menaruh dendam.

Jika anda yang dibebani kewajiban untuk mengawasi ujian saringan masuk tersebut dan berkesempatan menangkap para pelaku –menurut tim mahasiswa– tentu tidak akan tega ketika melihat wajah mereka. Bukanlah wajah seorang pembunuh yang banyak mendapati jahitan di wajahnya, tapi ini muka-muka polos golongan priyayi yang mungkin setiap harinya dihiasi kebahagiaan hidup. Saya dapat katakan ini, karena untuk mendapatkan teknologi semacam itu diperlukan dana sebesar lima puluh juta, siapa lagi kalau bukan jelma beunghar atau orang kaya.

Membiarkan insting kemanusiaan menyelimuti seorang penegak hukum ketika bertugas menegakan hukum tentu sebuah hal yang mengundang celaka. Di saat itu, seorang penegak hukum akan lupa dengan kewajibannya, lupa dengan sumpahnya dan lupa dengan peranannya. Disinilah diperlukan ketegasan dalam menjalankan sebuah tugas, ketegasan yang sejadi-jadinya, mantap, teguh dan tentu mengedepankan Hak Asasi Manusia.

Atas kecurangan-kecurangan yang semakin menjamur dalam dunia pendidikan di negeri ini–tidak hanya USM STAN, namun juga UAN, USM lain, dan SNMPTN–maka semua penyelenggara ujian atau mereka yang diberi tugas menjaga ketertiban pelaksanaan ujian seyogyanya lebih tegas dan agresif lagi dalam menghadapi mafia pembocoran ‘rahasia negara ini’. Sejarah telah jelas mengukir perbuatan-perbuatan picik peserta dalam pelaksanaan ujian, dan hal itu akan bermanfaat jika dijadikan pelajaran bagi pelaksanaan berikutnya, bukan dijadikan wacana yang akan pudar dimakan isu lain seiring berjalannya waktu.

Bukanlah seorang suci yang menulis corat-coret ini, tapi saya sadar bahwa agenda mendesak rakyat adalah pendidikan, tepatnya mengembalikan pendidikan dalam jalurnya. Dan salah satu caranya adalah mewujudkan penyelenggaraan ujian yang jujur. Dari kejujuran itulah luka-luka kehidupan masyarakat, yang semakin hari semakin jenuh dengan berita KKN, dapat terobati secara sempurna.

Akhirul Kalam, saya kembali menekankan bahwa saya bukan orang suci, dan atas realita ini adalah kewajiban kita untuk saling mengingatkan. Semoga pelaksanaan ujian berikutnya, apapun dan siapapun penyelenggaranya dapat menjadi media penyaring bibit-bibit yang berkualitas, bukan sekedar pencapaian angkanya tapi juga kejujurannya.

Salam Sukses, Bahagia Selalu

Ferry Fadillah

,

Leave a comment

Mahasiswa STAN Gagalkan Kecurangan Peserta USM

Hand Phone dan kaos dalam kusus yang ditemukan mahasiswa STAN

Ujian Saringan Masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara yang diselenggarakan hari ini(20/06/2010) di Kota Denpasar digemparkan dengan ditangkapnya 10 peserta ujian yang berusaha melakukan kecurangan selama kegiatan ujian berlangsung.

Ujian yang serentak diselenggarakan  dibeberapa kota di Indonesia ini, menggunakan tenaga mahasiswanya sebagai Tim Kerja Sekertariat yang bertugas membantu Kepala Sektor dalam mempersiapkan perlengkapan Pengawas Ujian. Selain itu juga, dua hari sebelum ujian dilaksanakan, mahasiswa telah diberikan tugas khusus untuk menangkap sindikat kecurangan USM yang tahun lalu banyak terbongkar di beberapa kota penyelenggara ujian.

Berkat ketepatan informasi intelegen yang diberikan Penyelenggara Diklat Keuangan Kota Denpasar, siang tadi , beberapa mahasiswa berhasil menangkap peserta ujian yang menggunakan peralatan canggih untuk berkomunikasi selama ujian. Peserta yang melakukan kecurangan ditangkap di dua lokasi ujian yang berbeda yaitu  SMAN 1 Denpasar (7 orang) dan SMA Dwi Jendre (3 orang) dengan rincian pelaku yakni  LMH, MA, FA, L, AAP, HKP, yang semuanya berasal dari Sulawesi Selatan sedangkan pelaku yang satu lagi berasal dari Papua Barat (noname) dan 3 pelaku di SMA Dwi Jendra yang sampai saat ini penulis belum dapat ketahui namanya.

salah seorang pelaku yang sedang membuka kaos khusus, mukanya polos dan tidak ada kegugupan selama mengerjakan ujian, namun setelah ujian lama berlangsung, pelaku baru mengerjakan segelintir soal

Ada kesamaan alat yang mereka gunakan dalam melancarkan aksinya, yaitu kaos dalam berwarna putih yang memiliki tempat khusus untuk menyimpan alat elektronik berupa : HP yang sudah dihilangkan keypad nya dan alat pendengar khusus di bahu sebelah kanan. Masing-masing HP memiliki nomor yang masih belum diketahui fungsinya. Seorang tersangka mengaku membayar sebesar lima puluh juta rupiah kepada seseorang untuk mendapatkan peralatan tersebut. Menurut penuturan beberapa pengawas, pelaku pada umumnya belum atau hanya sedikit mengerjakan soal setelah waktu ujian lama berlalu.

Sekarang para pelaku di giring ke tempat panitia ujian untuk dimintai keterangan terkait pelaku lain yang belum tertangkap. Dan menurut salah seorang penangkap, pelaku akan diserahkan kepada pihak kepolisian untuk proses penyidikan.

Laporan :FF/canaksaindonesia.wordpress.com

, ,

22 Comments

Perguruan Tinggi Kedinasan, Apa Kata Mahasiswanya?

oleh FERRY FADILLAH

Pelajar SMA, pada umumnya, memiliki banyak impian yang ingin mereka capai di masa depan. Dokter, insinyur, guru, psikolog, diplomat, tentara, polisi, PNS, pengusaha dan bahkan yang hanya menyebutkan ‘membahagiakan orang tua’ yang tidak jelas bagaimana caranya tapi jelas tujuannya. Semua impian itu biasanya menjadi motivasi kuat bagi siswa SMA dalam menghadapi Ujian Nasional maupun SNMPTN. Diskusi bersama, tambahan jam pelajaran, mengikuti bimbingan belajar, ditambah membaca buku di waktu luang telah menjadi zat adiktif bagi siswa SMA yang  menggebu-gebu untuk menembus Perguruan Tinggi Favoritnya, yang tentu dengan harapan akhir : tercapainya impian mereka melalui PTN Favorit.

Bagi mereka yang menginginkan cepat mendapat pekerjaan, terllilit sulitnya hidup untuk sekedar makan dan yang paling keren, mengabdi kepada negara tentu akan memilih Perguruan Tinggi Kedinasan sebagai penghilang dahaga mereka selama ini. Murahnya biaya pendaftaran dan dibebaskannya biaya pendidikan telah menciptakan gelombang manusia muda penuh harap dari tahun ke tahun untuk mencoba peruntunganya mengikuti tes saringan masuk Perguruan Tinggi Kedinasan. Diantara mereka ada yang belajar keras membuka buku tes tahun sebelumnya dan bahkan melewati jalan setan, bermain dengan kelicikan dan kepicikan.

Saya sendiri sampai saat ini terdaftar secara sah sebagai salah satu mahasiswa Prodip I Sekolah Tinggi Akutansi Negara di Kota Denpasar. Sebuah balai diklat yang dihuni oleh 27 mahasiswa yang mayoritas dari pulau jawa ini, merupakan pendatang baru di Kota Denpasar yang selalu terkagum-kagum dengan keindahan Pulau Dewata, sehingga tidak heran jika waktu senggang di gunakan untuk melancong bersama kawan ke setiap sudut pulau ini. Perbincangan seputar Pulau Dewata pun menjadi topik hangat di awal-awal tahun pelajaran.

Menjadi mahasiswa kedinasan yang berada di bawah naungan Kementrian Keuangan tentu memberikan angin segar bagi orang tua masing-masing karena tidak perlu repot merogoh kocek untuk biaya pendidikan. Berbeda dari angin segar itu, mahasiswa dalam kesehariannya seringkali mendapatkan angin ribut yang begitu mencekam dan menyita fikiran, diantaranya :

  1. Kekasih. Sebelum meninggalkan kampung halaman masing-masing, mahasiswa biasanya telah terikat cinta dengan seorang kekasih. Rasa cinta yang menggebu-gebu selama di kampung halaman harus tertunda karena kewajiban merantau ke tanah orang. Maklum saja jika ditemukan beberapa sisiwa yang muram mukanya, akibat ditinggal pergi sang kekasih. Bagi mereka yang belum memiliki kekasih, tampaknya akan sulit untuk menemukannya di tanah rantau, perbedaan agama dan budaya sering menjadi kendalanya. Tidak heran jika Face Book telah menjadi biro jodoh bagi para mahasiswa dalam pencarian kekasih yang sebudaya dan seagama.
  2. Bayang-banyang penempatan. Sebuah surat pernyataan akan ditempatkan diseluruh wilayah republik indonesia sudah harus ditandatangani mahasiswa kedinasan di awal tahun pelajaran. Luasnya wilayah negara kita telah membuat bulu roma sebagian mahasiswa berdiri, doa-doa dan jampi agar ditempatkan di kota-kota besar selalu keluar dari mulut mereka di persembahyangan. Wajar saja jika mereka takut dengan wilayah negara ini yang besar, siapa juga yang mau menjaga perbatasan negara ini, jauh dari hingar bingar kota dan manusia? Pasti ada yang mau, dan tentu lebih kepada ‘mau tidak mau harus mau’.
  3. Hilangnya masa muda. Masa muda tentu merupakan hal yang begitu menarik untuk di ceritakan turun menurun. Cerita berorganisasi, mendaki gunung dengan pencita alam, berdiskusi dengan aktivis-aktivis telah menjadi keseharian mahasiswa perguruan negeri sehari-hari. Tapi bagi mahasiswa kedinasan, hari-hari merupakan kewajiban untuk memelototi tumpukan peraturan-peraturan yang seolah tidak ada habisnya. Masa perkuliahan yang singkat, telah memangkas waktu muda mahasiswa PTK dan menjadikannya bapak-bapak kantoran sebelum waktunya.
  4. Gayusisme. Ah, tak perlu panjang lebar sepertinya membahas hal ini. Gencarnya media masa memberitakan kasus gayus dan keterkaitannya dengan dirjen pajak dan tentu saja kementrian keuangan telah mencoreng keluarga besar kementrian ini. Termasuk kami, siapapun yang tahu sekolah kami pasti akan dengan gaya so suci bertegur sapa,”owh STAN, gayus yah, jangan macem-macem yah.”

Begitulah poin-poin yang bisa saya jabarkan hasil keluh kesah kawan-kawan selama ini. Bagi anda yang berminat melanjutkan kuliah atau mengikutkan anak kuliah ke Perguruan Tinggi Dinas tentu haru berfikir matang-matang sebelum bertindak. Hidup hanya sekali, jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Salam Sukses, Bahagia Selalu

,

Leave a comment

Pedihnya Hati Ibu, Polosnya Hati Anak

Suaranya tiba-tiba berubah, terdengar sendu menahan air mata yang akan keluar dari ke dua matanya, tapi ia tetap berusaha tegar di hadapan anaknya yang masih kecil itu. Sang anak terus mengguncang-guncang tubuh ibunya, merengek, meminta sesuatu yang baru saja ia lihat di toko siang tadi.

oleh FERRY FADILLAH

Hari itu Sang Surya telah mematikan cahayanya, satu dua kelelawar berterbangan di udara mencari buah yang siap dihisap sarin patinya. Saya dan dua orang kawan memutuskan untuk makan malam di sebuah warung pecel di Jalan Badak, Denpasar.

Dari logat bicaranya, saya tahu jika penjualnya beretnis jawa. Sepasang suami istri dan dua orang anaknya yang selalu siap menyiapkan makanan bagi pelanggan yang keroncongan perutnya. Tanpa banyak cakap mereka bekerja, sesekali tersenyum kepada pelanggan, dan berucap terima kasih kepada yang sudah dilayaninya.

Ternyata mereka memiliki dua anak lagi, yang satu masih kecil, kira-kira SD kelas 2, dan yang satu lagi SMP. Menggenakan motor Yamaha lawas mereka menghampiri tempat kerja orang tua mereka. Sang anak yang masih kecil, langsung loncat dari motor dan memanggil-manggil ibunya. Sang ibu pun meninggalkan dulu pekerjaannya menyiapkan lalaban, dan memeluk Sang Anak yang kecil lucu itu.

“Bu, besok beli sepatu sama baju yah, tadi aku lihat harganya tujuh lima”, celoteh si anak dengan nada memelas. Si Ibu menciumi si anak dengan penuh kasih sayang, mengelus rambutnya yang hitam lurus tanpa berkata-kata.

”Bukan tujuh lima Bu, tapi tujuh puluh lima ribu”, jelas si kaka tanpa ditanya si ibu terlebih dahulu. “Ade, pilih salah satu yah, itu bukan tujuh lima, tapi tujuh puluh lima ribu, ayoo, mau sepatu atau baju”, tutur si ibu kepada anaknya yang masih kecil dengan penuh kelembutan. “Itu tujuh lima ibu, iya tujuh lima, beli dua-duanya ibu!” si anak kecil itu tambah merengek kepada ibunya.

Si Ibu terdiam sejenak, wajahnya berubah, tampak kantung matanya menahan air mata yang akan membasahi pipinya. Suaranya berubah menjadi sendu, terdengar seperi orang yang menahan tangis dan berusaha tegar di hadapan anaknya. “satu dulu saja ya, nak. Nanti kalau punya uang ibu beli keduanya” dengan nada sedih si ibu berusaha menenangkan anaknya, air mata yang tadi ia tahan jatuh membasahi pipinya, tapi hal ini tidak terlihat jelas, samar di balik kerudung coklat yang ia kenakan.
***
Setelah kejadian kecil di warung itu, pintu hati ku terketuk, dan aku pun turut merasakan kesedihan. Terbayang dalam benaku, akan kelakuan ketika kecil dulu. Rewel, tidak bisa diam, dan yang tahu bermain saja tanpa mempedulikan perasaan orang tua. Keluh kesah selalu ditimpakan kepada orang tua, sedangkan kebahagiaan selalu ditimpakan kepada teman atau kekasih.

Sekarang aku tahu, ketika meminta sesuatu kepada orang tua dan orang tua tidak memenuhinya dengan alasan klasik : ekonomi sedang sulit. hanya akan menambah kesedihan sang ibu.Mana ada sih ibu yang tidak mau membahagiakan anaknya? Pasti selalu terbesit dalam pikiran si ibu, jika punya uang nanti akan membelikan apa yang sia anak mau. Tapi indahnya dunia sering kali membuatkan seorang bocah ingusan yang baru saja mengenyam pendidikan lupa akan kulitnya, meminta tetapi tidak menengok kondisi sesungguhnya.

Seorang anak kecil tidak bijaksana jika kita salahkan dalam persoalan ini. Mungkin yang harus si anak kecil itu lakukan adalah membalas air mata yang pernah jatuh dari mata si ibu. Sebuah air mata kasih sayang dan perhatian yang mendalam kepada buah hati. Air mata yang sama ketika mereka menjerit kesakitan menahan tendangan kita di dalam perutnya.

Demi Air Mata mereka, marilah kita berdoa, semoga kasih anak-anak yang akan dewasa nanti terhadap ibunya semakin tumbuh dan berkembang, sehingga terciptalah keharmonisan cinta dalam kehidupan berkeluarga.Tanpa mereka kita tidak ada di dunia ini, maka mari saling mengingatkan untuk selalu berbakti kepadanya.

Leave a comment

Pentingnya Ruh Budaya

Seseorang dikatakan cinta budaya apabila ia berbahasa daerah, memakai busana daerah, mengenakan senjata daerah dan melekatkan ornamen daerah di tempat tinggalnya. Cinta tersebut hanyalah  wujud cinta terhadap yang berwujud, padahal ada hal mendasar yang dapat dijadikan acuan kecintaan seseorang terhadap budaya, yaitu : cara berfikir dan bertindak. Kedua hal ini, bisa juga disebut ruh budaya.

Oleh FERRY FADILLAH

Masih ingatkah kita dengan peristiwa diklaimnya beberapa kesenian kita oleh Negeri Jiran Malaysia? Saya yakin semua pasti ingat. Saat itu, mendadak seluruh elemen bangsa menunjukan kebenciannya kepada malaysia, bahkan genderang perang diusulkan segelintir orang yang tidak paham arti dari sebuah perdamaian. Media masa setiap hari, menyuguhkan berita tetang budaya yang ‘dicuri’ tersebut, meningkatkan rasa cinta seluruh masyarakat terhadap budayanya sendiri dan rasa benci kepada sudara serumpun kita, malaysia. Tapi setelah semua itu usai, seperti angin lalu, kecintaan kita seolah sirna tertimpa gerilya budaya barat.

Reaktif, beraksi setelah keburukan dan kemalangan menimpa. Itulah kita. Begitu menyepelekannya kita terhadap budaya sendiri, sampai-sampai ada dari sebagain kita yang meninggalkannya dan menyatakan bahwa budaya sendiri sudah tidak lagi relevan di zaman modern ini. Tapi saat budaya kita dicuri, mereka yang cinta dan tidak cinta dengan budaya seragam dalam bersuara :Ganyang Malaysia! Sebenarnya yang salah bukan Negeri Tetangga kita itu, tetapi kita ini, sudahkah kita menerapkan budaya sendiri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Jika belum, apa salahnya malaysia?

Waktu terus berputar, beruntung sepertinya, tiba-tiba bermunculan orang-orang yang makin cinta kepada budayanya sendiri dan menyebarkan kecintan itu kepada setiap orang. Mereka muncul di sanggar-sanggar tari, rumah musik, arena silat, ruang-ruang perkuliahan bahkan acara televisi. Kita bisa menyaksikan sendiri di layar kaca, beberapa acara hiburan yang menjadikan unsur budaya lokal sebagai latar belakangnya atau hanya selingannya.

Sebut saja, Opera Van Java, sebuah pertunjukan wayang orang yang multi kultural serta lebih bebas dalam mengekspresikan diri, sehingga bobodoran yang mereka bawakan sering mengundang tawa semua golongan masyarakat. Lalu, Sinden Gosip, yang pembawa acaranya selalu memakai kebaya dan terkadang bertukar pantun dengan sesamanya. Dan yang sedang menjadi trend di daerah saya adalah Indonesia Mencari Bakat, sebuah pertunjukan seni putra daerah dengan kesenian daerahnya masing-masing, tapi dengan beberapa reformasi, sehingga diharapkan dapat menarik minat kaula muda saat ini.

Masih banyak sebenarnya acara-acara serupa, mulai dari acara bobodoran, infotainment, pertunjukan musik dan sinetron, tapi disini bukanlah tempat yang sesuai untuk menyebutkan semua itu. Kita akan berbicara budaya pada umunya dan ruh budaya pada khususnya.

Ruh Budaya

Melihat semua perkembangan dan penyebaran budaya lokal melalui media masa dan elektronik di negeri ini, tentu ada anggapan bahwa budaya indonesia akan bangkit kembali. Menjadi budaya yang dapat diterima penghuni bumi ini, seperti yang telah cina dan jepang berhasil lakukan. Tapi jika kita mau berkerut dahi sejenak dan memikirkan hakekat dari semua bentuk di dunia ini, maka kita akan berkesimpulan bahwa semua usaha-usaha kebudayaan tersebut adalah hampa, kosong, tidak berisi! Dalam kata lain, tidak memiliki ruh budaya sama sekali.

Semaraknya gamelan, kebaya, keris, blankon, logat daerah, angklung dan sebagainya di media masa saat ini, hanya menggambarkan sebuah kecintaan terhadap benda. Budaya yang berwujud benda. Sehingga tidak heran jika mereka yang berkulit putih dan lahir di Moscow, bisa dengan mahirnya memankan gamelan, dan bisa mengalahkan seorang jawa dalam kontes gamelan internasional (misalnya). Karena benda itu bisa dikuasai siapa saja, tidak terikat oleh suku, bangsa, atau agama, tapi yang namanya ruh budaya itu sulit untuk dikuasai siapa saja, dan sangat berkaitan denangan asal-usul sebuah bangsa. Inilah yang harus kita kembangkan dan sebarkan.

Ruh Budaya sendiri lahir dari ajaran karuhun (nenek moyang) setiap suku di negeri ini. Ia dijadikan patokan bagi kehidupan, sehingga terciptalah keselarasan hidup antara Tuhan, Alam dan Manusia. Ada juga yang menyebutnya Kearifan Lokal atau local wisdom. Bentuknya beragam, ada yang berupa tulisan dengan aksara kuno di daun lontar, atau cerita-cerita kuno yang dituturkan turun menurun.

Dengan berpegang terhadap ruh budaya ini, tentu bangsa kita akan memiliki cara yang berbeda dalam memandang hidup dan kehidupan. Akan ada perbedaan yang jauh antara budaya kita yang amat religius dengan kebudayaan barat yang materialis. Misalkan saya sebagai orang sunda, memiliki sebuah prinsip kasundaan yaitu silih asah, silih asih dan silih asuh, yang artinya saling mencerdaskan, saling mengasihi dan saling menjaga. Setiap orang dari latar kesukuan yang berebeda tentu memiliki ruh budayanya masing-masing. Hanya sekarang, bagaimana caranya kita mencintainya, mengimplementasikannya dan merelevansinya dengan perubahan zaman. Tentu semua orang memiliki caranya masing-masing.

Menengok kembali ke belakang untuk mempelajari ruh budaya tentu akan menemukan banyak hal ghaib yang susah dicerna oleh akal. Saya sendiri yakin bahwa dari segala sesuatu yang ghaib pasti ada penjelasan yang rasional, ketidak pecahkannya rasionalitas itu yang menyebabkan segala sesuatu disebut misteri. Satu lagi, bahwa dalam mempelajari ruh budaya kita harus menghindari segala sesuatu yang berbau syirik. Sehingga saya terkesan akan sebuah konsep Suku Minang tentang Agama dan Adat yaitu, adat basandi syara, syara basandi kitabullah (adat berdasar syariat, syariat berdasar kitabullah). Tentu dengan hal ini, kita akan terhindar dari praktik syirik dan dapat beragama dengan tidak menghilangkan jati diri bangsa kita sendiri.

Diakhir celoteh saya ini, saya hanya mau berbagi kemirisan saya melihat bangsa ini. Saya seorang muda yang belum banyak pengalaman, bergaul biasa seperti anak normal lainnya tetapi berfikir bertentangan dengan para pemuda umunya, tidak jarang kata kolot sering terbesit di telinga saya. Ketika mereka tahu semua artis, saya tidak tahu. Ketika mereka hafal lagu-lagu zaman sekarang, saya hanya terdiam. Ketika mereka berdandan ala rocker, saya hanya bisa berdanda seadanya baju saya. Entah saya salah atau mereka yang salah, tapi yang saya tahu bahwa saya adalah bangsa indonesia dan harus bertindak  sebagai bangsa indonesia.

Hari ini saya menulis dan terus menyaksikan tergerusnya budaya kita di dunia internasional. Seolah menjadi bangsa yang kehilangan identitas dan kehormatan. Besar harapan saya, bangsa ini memiliki budaya yang mengakar kuat. Entah akan terwujud atau tidak. Jika melihat kondisi pemuda sekarang ini dan cara pandangnya terhadap budaya, pesimis memang, tapi mau bagaimana lagi, saya hanya bisa menulis dan berdoa kepada Tuhan yang katanya Maha Mendengar.

sumber gambar : matanews

1 Comment