Archive for September, 2015

Hidup Sebelum Kelahiran

The Death of Socrates. Oil On Cavas. Painted by Jacques Louis David. Metropolitan Museum of Art, New Yorl. Wikiedia,com

The Death of Socrates. Oil On Canvas. Painted by Jacques Louis David. Metropolitan Museum of Art, New York. wikipedia.com

Filsafat bukan kegiatan orang tanpa kerjaan. Filsafat adalah semangat terus-menerus untuk mencari kebenaran. Menyibak yang tampak agar terbuka segala hakikat.

Belakangan ini, saya menyibukan diri untuk mengkaji buku-buku filsafat. Dimulai dari filsafat ilmu, saya mulai tertarik dengan alur pemikiran Platonik. Seorang yang lahir dalam keluarga bangsawan di Athena pada 427 SM. Beliau sangat dipengaruhi oleh gurunya, Sokrates, yang dikenal dengan awal mula filsafat idealisme.

Dalam buku Plato yang sudah saya baca yakni Republik dan Phaedo narasi di dalamnya didominasi dialog Sokrates bersama murid-muridnya. Dialog memang metode yang digunakan Sokrates untuk bertanya kepada kaum muda di Athena tentang Idea atau kebenaran mutlak yang sudah ada di dalam jiwa manusia, sebelah mereka lahir ke dunia.

Dalam bukunya Phaedo yang kemudian diterjemahkan menjadi Matinya Sokrates oleh A. Asnawi dari Penerbit Narasi, dinukil dialog yang menunjukan kepercayaan Socrates bahwa ada kehidupan sebelum kelahiran manusia di dunia :

Kalau begitu, kita pasti telah memperoleh pengetahuan tentang bandingan ideal pada suatu waktu sebelum ini?

Ya.

Artinya, sebelum kita lahir, kukira?

Benar.

Dan jika kita memperoleh pengetahuan ini sebelum kita lahir, dan lahir dengan memilikinya, maka kita juga tahu sebelum kita lahir dan begitu kita lahir bukan hanya sesuatu yang sama atau yang lebih besar atau lebih kecil, tapi semua ide lainnya…

Itu benar.

…Kalau begitu, Simmias, jiwa-jiwa kita pasti sudah eksis sebelum mereka dalam bentuk manusia-tanpa tubuh, dan pasti telah memiliki inteligensi.

Tidak hanya percaya bahwa ada kehidupan sebelum kelahiran di dunia, dari dialog di atas Sokrates juga percaya manusia dalam wujud ruh-ruh itu manusia memiliki intelegensia, mampu berpikir dan mengetahui hal-hal. Pengetahuan di alam sana itulah yang berusaha untuk diingat kembali oleh Sokrates melalui pertanyaan-pertanyaan dalam dialog dengan para pemuda. Kemudian teori ini dikenal dengan Theori of Recollection (mengingat kembali).

Teori ini memiliki kesamaan dengan teologi Islam. Di dalam ajaran Islam dipercaya ada alam ruh sebelum kelahiran manusia di dunia. Seperti yang tertulis dalam Surat Al-A’raf (7) ayat 173 :

Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) manusia keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka seraya berfirman, “Bukankah Saya Tuhamu?”, mereka menjawab, “Betul, Engkau Tuhan, kami sungguh bersaksi”…

Dari dialog di atas antara Tuhan dengan manusia tergambar jelas bahwa ada kehidupan sebelum kelahiran manusia di dunia. Bahkan jawaban manusia seperti itu bukankah ini menandakan bahwa manusia di alam sana memiliki intelegensi. Lantas adakah pengetahuan lain yang dimiliki manusia di alam sana yang kemudian terlupakan ketika manusia terlahir ke dunia?

Ini masih pertanyaan besar. Kalau ternyata manusia sudah mengetahui rahasia alam sebelum kelahiran kemudian karena proses kelahiran pengetahuan itu lenyap dan harus diingat kembali cukup dengan logika (a priori) maka, mungkin, kita akan menemukan manusia-manusia ajaib yang terkucil dalam masyarakat dan buta akan buku referensi namun dapat menceritakan dengan detil fenomena di dasar lautan dan galaksi raya hingga ke dasar hakikatnya. Saya belum mengetahui hal ini.

Yang pasti hingga kini, ilmu pengetahuan didapat tidak saja hanya dengan berpikir dan mengingat-ingat pengetahuan di alam sana. Namun juga dengan pengamatan indra (posteriori) dan melakukan penyeldikan mendalam atas setiap benda yang tampak.

Namun, sebagai kesimpulan, bukan berarti saya tidak percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa didapat dengan mengingat pengetahuan di alam sana. Tuhan ialah sumber pengetahuan, awal dari segala sesuatu yang megajarkan Muhammad ilmu syariat dan hakikat, yang memberi penerangan para wali tentang kehidupan. Tidaklah musykil bagi manusia, pada maqam atau derajat tertentu untuk mengetahun rahasia alam semesta, pengetahuan alam sana, logos jika memang dikehendaki oleh Nya.

Wallahu a’lam.

Ferry Fadillah. Bandung, 22 September 2015.

, , , , , ,

6 Comments

Tentang Koi

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Hujan deras dengan angin kencang baru saja mengguyur Bandung. Daun-daun berjatuhan menumpuk di pinggir jalan di antara bebatuan dan trotoar. Air yang tidak terserap tanah mulai menggenangi lubang-lubang jalan dan daerah yang lebih rendah. Banjir orang menyebutnya.

Daun-daun tadi jatuh ke kolam ikan di depan rumah. Tidak hanya daun. Mangga kecil. Bunga. Ranting ringkih. Dan semut-semut tanpa daya jatuh ke kolam.

Di dasar kolam ikan koi menari girang. Yang besar 7 ekor. Yang kecil 6 ekor. Dengan cepat dan gesit mereka muncul ke permukaan. Memakan apa saja yang jatuh ke dalam kolam. Tanpa mengenal rasa. Tanpa menimbang-nimbang. Tanpa harus berpikir.

Begitulah ikan koi, bahkan hewan secara umum..

Ikan koi di peternakan dipilah bedasarkan warna tubuh. Koi yang memiliki variasi warna yang bagus, kontras dengan warna dasar, atau lincah dipisahkan dari koi-koi yang tidak memiliki sifat itu. Pada saat itulah kelas-kelas dibentuk. Bukan oleh ikan koi itu sendiri, namun oleh manusia yang kerap disebut homo economicus.

Ikan koi tidak pernah tau kelas-kelas itu. Manusia lah biang keladinya. Ikan-ikan tadi mulai dipasarkan dan diberi label harga sesuai keindahan warna dan bentuk tubuh. 2 juta, 750 ribu, 200 ribu. Dengan semangat peternak menjelaskan harga dan keunggulan koi-koi itu. Konsumen terpengaruh oleh bujuk rayu peternak dan dalam anggukan mereka pun meng-amin-kan konstruksi kelas-kelas imajiner itu: Koi super, koi mahal, koi murahan.

Kelas-kelas itu dikonstruksi oleh manusia tidak hanya di dunia koi -hewan secara umum- juga dikonstruksi ke dalam dunia mereka sendiri. Dalam bahasa Sunda kita mengenal lagam halus, lagam sedeng, lagam kasar. Kapan harus berbicara dan dengan siapa kita berbicara sungguh sangat diperhatikan. Begitu juga dengan kasta sosial zaman Hindu. Brahma, Waisya, Kesatria dan Sudra. Semacam identitas kaku yang tidak bisa di campur adukan. Kelas-kelas tidak saja ada di negeri ini. Dunia secara luas pun memahami kelas-kelas sosial sebagai keniscayaan yang tidak bisa dielakan.

Koi bukan manusia, dan manusia bukan koi. Namun, apa menyebabkan manusia berani membuat konstruski sosial sedangkan koi tidak? Pikiran. Dengan daya pikir manusia membuat batas-batas imajiner, menggolongkan yang satu dengan yang lain, menentukan mana yang luhur dan mana yang rendah. Sedangkan koi tidak memahami itu karena mereka tidak memiliki daya pikir. Bagi mereka makan adalah kebutuhan dan air adalah kehidupan. Tidak pernah seekor koi memakan koi yang lain karena kelaparan. Tidak pernah. Apalagi berunding dengan pakar intelektual untuk mengolongkan bangsa mereka sendiri menjadi beberapa kelas.

Kalau koi bisa begitu bijaksana, lantas apa perlu kita menghilangkan daya pikir ini agar lebih bijaksana melihat perbedaan?

Ferry Fadillah. Bandung, 21 September 2015

, , , , ,

Leave a comment

Popularitas Menghapal dan Matinya Ke-kepo-an

part-time-lecturer-in-civil-engineeringMasih terngiang di dalam pikiran ini, mendebarkannya menghadapi Ujian Akhir Sekolah (UAS) pada bulan Agusus lalu. Sebagai informasi, aku adalah mahasiswa akuntansi pada sebuah sekolah kedinasan di bilangan Tangerang Selatan. Mata kuliah yang menjadi santapan sehari-hari tidak jauh dari ilmu-ilmu berbau angka yang menuntut ketelitian dan ketepatan. Yang paling aku takuti –kebetulan semua subjek utama- ialah Intermediate Accounting, Cost Accounting, dan Financial Management.

Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti untuk menghadapi mata kuliah itu semua. Toh ilmu-ilmu itu dirumuskan oleh manusia dengan alur logika yang dapat dipelajari. Sayangnya, semangat untuk mempelajari itu, mengkaji lebih dalam dan menggali makna filsofis dalam setiap mata kuliah selalu terbentur oleh cara berpikir –baik dari sesama mahasiswa maupun dari pihak dosen.

Gambaran ringkasnya seperti ini.

Belajar mata kuliah melalui buku rujukan asli sepertinya sudah tidak diminati oleh rekan-rekan mahasiswa –wabil khusus di sekolahku, maaf, politekniku. Biasanya mahasiswa lebih tertarik dengan serpihan slide yang ditampilkan ketika kuliah lalu meminta koordinator kelas untuk mencetak dan menggandakannya. Pun, kertas-kertas itu hanya dibuka, diberi catatan pinggir dan komentar-komentar beberapa hari menjelang ujian dilaksanakan. Maka tidak salah kalau ada orang bertanya hal ihwal suatu konsep kepada dosen di kelas pada saat jam pelajaran, mayoritas mahasiswa hanya terdiam dan mengangguk setuju. Beberapa orang menggerutu atau bahkan di dalam hati sinis terhadap orang yang selalu bertanya itu.

Dosen sebenarnya ibarat ‘nabi’. Tugasnya memberikan mahasiswa pencerahan akan ilmu yang sedang dipelajari. Pencerahan bukan berarti sukses memindahkan isi buku ke kertas ujian, tapi dapat menggunakan ilmu di kelas bagi kehidupan. Kalau ilmu itu absrak maka dapat digunakan untuk memaknai segala fenomena di dunia ini. Kalau ilmu itu praktis maka dapat dibagikan bagi mereka yang memerlukan atau minimal menjauhkan mahasiswa dari dosa kemiskinan dan kedunguan.

Permasalahannya muncul ketika dosen pun tidak memiliki ketertarikan intelektual untuk mengkaji suatu disiplin ilmu sampai ke level filosofis. Sederhananya, rumus matematis disampaikan kepada mahasiswa, mahasiswa menggangguk setuju lalu menghapal mentah-mentah rumus-rumus itu, dan soal-soal ujian disajikan untuk diisi, bagi yang dapat menindahkan rumus-rumus tadi ke kertas ujian maka akan mendapat nilai bagus dan diberi predikat mahasiswa pintar. Ada yang janggal?

Saya jadi teringat dengan video di whatssup yang disebar oleh kawan saya. Seekor burung beo dengan lihai bisa menirukan sebagian ayat-ayat suci Al-Quran. Melihat fenomena itu kiranya kita bisa melakukan refleksi, kalau begitu (hanya menghafal dan menirukan) apa bedanya kita dengan binatang? Lantas apa beda manusia dengan binatang?

Manusia punya otak, binatang juga punya. Manusia bisa dilatih untuk patuh, anjing lebih-lebih bisa. Manusia bisa diajar hal rumit, simpanse juga bisa melakukan hal rumit. Perbedaannya adalah manusia bisa melakukan pendalaman filosofis atas segala sesuatu sedangkan binatang tidak.

Pendalaman filosofis dalam mengkaji suatu ilmu berarti memahami benar konsep, asumsi, masalah, kelebihan dan kekurangan dari suatu ilmu. Dari pendalaman itu munculah eagle eyes atau pandangan yang luas atas segala masalah. Mahasiswa kelak bisa membedakan mana yang esensial mana yang tidak esensial; mana asumsi yang bisa dirubah atau bahkan asumsi yang salah; mana ilmu yang perlu diperbaiki mana ilmu yang perlu dipisah atau dilebur.

Idealnya adalah, seorang mahasiswa itu kelak tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan tapi juga menjadi produsen ilmu pengetahuan. Sehingga, kelak, harapan kita bersama, teoritikus dan ilmuwan yang selalu jadi rujukan di buku-buku bukan lagi orang asing yang bahkan sulit bagi lidah kita untuk mengucapkannya. Namun, nama-nama daerah nusantara yang membuat kita bangga dan mampu berdiri sejajar dengan semua bangsa di dunia.

Ferry Fadillah. Antapani, 4 September 2015

sumber gambar: catchwork.co.uk

, , , , ,

Leave a comment

Pertanyaan

Akankah kita tahu:

rahasia terdalam palung lautan, dan

misteri terluas alam semesta.

Pernahkah kita berpikir :

Diri yang dicampakan begitu saja,

setelah meninggalkan firdaus

bersama sang iblis yang membangkang.

 

Agamawan hanya beretorika:

membela dzat yang bahkan belum pernah mereka jumpa

dengan cerita ngeri neraka dan macam siksaan.

Manusia dibuat bertekuk lutut.

 

Kalau akal memang ciptaan-Nya

Kenapa harus ada hukuman bagi pertanyaan?

 

Kalau hanya Maha Baik bagi nama-Nya

Kenapa permohonan Sang Iblis dikabulkannya?

 

Kalau hanya Ar-Rahman bagi nama-Nya

Kenapa harus neraka tercipta?

 

Kalau hanya Al-Qudus bagi nama-Nya

Kenapa sifat jahat terbenam dalam jiwa manusia?

 

Kalau harus ada si kafir yang masuk neraka

Kenapa kita harus tercipta?

 

“Aku mengetahui apa-apa yang tidak engkau ketahui”, firman-Nya.

Hanya sujud sembah mencium tanah yang bisa kita lakukan

sedekat mungkin dengan unsur penciptaan: tanah

tempat awal sekaligus akhir

 Sambil cemas mengharap ampunan-Nya.

Ferry Fadillah, Priangan, September 2015.

, ,

Leave a comment