Ferry Fadillah

Seorang sosialis-relijius homorationale [at] gmail.com

Homepage: https://canaksaindonesia.wordpress.com

Yahoo Messenger: blackroseofferry

Ayo Makan, Ma

Bocah itu membuka setengah kaca mobil. Air hujan membasahi wajahnya. Dinginnya menentramkan jiwa. Hutan pinus di pinggir jalan menebar aroma daun basah. Tanah yang diguyur air. Serangga-serangga yang bernyanyi di dahan mahoni.

“Boy, tutup kaca! Nanti basah baju kamu!”, perintah Ibu dari bangku depan. Sebelahnya Ayah sedang mengemudi. Pukul satu siang hari, kabut mulai turun dari gunung Sunda, menutup jalan menebar aura mistik.

Dua jam berlalu. Perjalanan yang sungguh menyenangkan. Di sepanjang jalan terhampar kebun teh. Warnanya hijau tua dengan galur jalan bagi para petani. Penjaja makanan ringan dengan rumah kayu berderet. Penjual tape, indomie, sate kelinci dan sate biawak. Di sebuah kampung, di puncak bukit, sebuah rumah sederhana berdiri, itulah tujuan kami.

Setibanya di sana, Ibu membuka perbekalan. Ada nasi merah yang masih hangat. Ikan terasi jambal roti. Tahu Yun Yi digoreng setengah matang. Sambal terasi mentah dengan air jeruk nipis. Ayam kampung goreng dengan serundeng penggugah selera. Kami bertiga berkumpul di teras rumah. Berdoa dimulai. Ibu menyuapiku. Sesekali bersenda gurau dengan ayah. Aku tidak paham apa yang mereka perbincangkan. Perutku sangat lapar. Hanya makanan dan alam yang membuatku diam.

***

Hujan deras mengguyur Kintamani. “Aduh, gimana sih sayang, kok kamu ngajak ke sini. Udah tau ujan!”, wanita sebelahku geram sepanjang perjalanan . Dia memang selalu begitu. Setiap keputusanku tidak pernah ia aminkan. Seperti para pendemo di depan istana Negara.

Aku jarang menjawab tuntas celotehannya. Sesekali aku melihat dan tersenyum kecut. Kalau amarahnya bertambah, aku hanya menjawab “iya, iya..” atau “Sabar yah, sayang” dan berdoa semoga Tuhan memberikan damai di dalam hatinya. Tapi ia tidak pernah diam. Ia selalu berbicara tanpa peduli kapan dan dimana.

“Kamu tuh ya kalau aku lagi ngomong dengerin kenapa sih. Daritadi iya.. iyaa.. doang. Udah bosen yah sama aku. Kalau bosen cari cewe lain aja. Dulu aja perhatian sama aku. Giliran udah bertahun-tahun pacaran kok jadi dingin gini sih. Ah, nyebelin!”

Aku malas menanggapinya. Aku biarkan celotehnya masuk ke telinga dan hilang dihempas melodi hujan. Pikiranku fokus ke jalan. Telat sebentar saja maka kabut dari Gunung Agung akan menutup keseluruhan kota. Jika sudah begitu kita hanya bisa duduk dan berdoa.

IMG_20170613_104529_314Sebenarnya ada yang aku sesali dari kisah cinta kami. Sejak kali pertama bertemu dengannya aku jadi jarang bertemu ibu. Setiap malam minggu ia selalu saja mengajakku ke bioskop, nonton konser musik atau makan di restauran jepang terkenal. Aku turuti semua ajakannya.

Tapi ada yang mengganjal di dalam hati. Setiap ia berbicara di depan meja makan atau duduk di bioskop, aku selalu membayangkan ibuku yang menjadi dia. Ibuku yang selalu tersenyum walau gurat tua sudah mulai mengakar di wajahnya. Ibuku yang selalu menanyakan kabar anaknya tanpa basa-basi cinta dan kata sayang. Ibuku yang selalu peduli dan cerewet itu.

Aku punya sebuah obsesi. Berkelana bersama Ibu dan ayahku. Mengajaknya keliling pulau-pulau di zamrud khatulistiwa ini. Berlayar dari Bali menuju Pulau Komodo. Bertemu ragam budaya, melihat Danau Kelimutu dan merasakan ragam kuliner. Atau mungkin kita berjalan menuju sebuah bukit, membuka bekal nasi merah dan merasakan suasana damai seperti kecil dulu. Dengan hujan, angin lembah dan bau tanah saat diguyur hujan.

***

Tujuanku sedikit lagi sampai. Mobil aku parkirkan di pinggir hutan. “Sayang, aku di mobil aja yah. Males ah becek kalau ke sana”. Tanpa menoleh aku mengiyakannya. Kemudian aku ambil perbekalan di bagasi. Nasi merah, ayam bakar, tahu dibungkus dengan daun pisang. Masih hangat-hangatnya. Aku berjalan dengan payung hitam di tangan kanan dan perbekalan di tangan kiri. Hutan pinus itu kini dipenuhi semak. Sesekali Aku melewati jalan tanah yang menjadi lengket oleh lumpur. Di sebelah utara dekat dengan hulu sungai ada sebuah pohon beringin besar. Di bawahnya ada gundukan tanah dengan batu nisan berwarna hitam. Aku duduk disamping batu itu.

“Ma, makasih ya selama ini udah baik sama, Boy. Ini Boy bawa makanan. Ayo, Ma, kita makan bareng”

Ferry Fadillah. Kuta, 13 Juni 2016

, , , ,

Leave a comment

Ketetapan-Nya

Delapan tahun silam, ketika saya masih mengenakan seragam putih abu, semangat untuk memasuki bangku kuliah begitu menggebu. Tentu, karena sudah menjadi tren, kedokteran dan insinyur menjadi prioritas utama. Kalau di Kota Bandung, Institut Teknologi Bandung seolah menjadi hadiah terindah bagi orang tua kita. Saya pun begitu. Maka, segera saja memantapkan hati untuk masuk ke Teknik Sipil ITB.

Mendadak suasana sekolah menjadi relijius. Ada siswa yang setiap pagi bertafakur di masjid selepas shalat duha, ada pengajian bersama dan ceramah keagamaan yang kerap mengundang tangis histeris para siswi. Saya pun bagian dari suasana itu. Bagaimana lagi. Dalam setiap kebutuhan tentu kita akan lebih dekat kepada Tuhan.

Sayangnya gaung tidak bersambut. Mahalnya biaya ujian saringan masuk mandiri, migrain yang diakibatkan les tambahan siang malam, doa-doa dan tekad kuat di dalam hati ternyata tidak menyebabkan saya bisa mempersembahkan ITB sebagai hadiah bagi orang tua.

Saya sempat kecewa tapi tidak larut dalam penderitaan. Toh di saat kegagalan itu, saya diterima pada sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Dayeuhkolot. Bagi saya, biaya di sana mahal. Tapi melihat prospek jurusan teknik, sepertinya biaya kuliah bisa diganti dikala kerja kelak.

Tidak disangka-sangka, ada kejadian luar biasa yang membuat kondisi keuangan keluarga morat-marit. Biaya lima juta satu semester menjadi beban yang memilukan. Syukurnya, di bulan kedua masa kuliah, saya diterima di Sekolah Tinggi Akutansi Negara. Hanya Diploma I. Saya meremehkan dan orang tua pun menjadi bimbang. Tapi ini jalan yang harus dipilih agar dapur tetap mengepul.

***

Dalam setiap kegagalan. Setiap kondisi yang tidak sesuai ekspektasi. Kita pasti kecewa. Merasa Tuhan tidak adil dan memaksa-Nya dalam doa agar mengabulkan kondisi yang kita inginkan. Manusia yang begitu kecil kadang terlalu sombong dan dungu untuk memaksakan apa yang mereka kira pantas bagi dirinya. Kalau semua orang bisa meraih harapan sesuai amalnya mengapa kita selalu menganggil-Nya Maha Besar?

Ibnu Athaíllah As-Sakandari pernah memberi nasihat singkat: Alangkah bodohnya orang yang menghendaki sesuatu terjadi pada waktu yang tidak dikehendaki-Nya. Alangkah bodoh saya yang memaksa untuk masuk ITB padahal tidak dibarengi kemampuan otak. Alangkah bodoh saya jika memaska membayar lima juta satu semester jika harus menghabiskan tabungan keluarga. Alangkah bodoh saya jika menolak Diploma I padahal itu adalah yang dikehendaki-Nya.

Begitu juga gelombang kekecewaan yang melanda ketika saya tidak diterima Diploma III Akuntansi Khusus di ujian yang pertama dan kedua. Bisa jadi ada banyak manfaat bagi orang sekitar jika saya tetap bekerja dibanding kuliah dengan potongan gaji yang membuat hidup menjadi ‘cukup’.

Kini saya yakin, akan selalu ada rahasia dibalik setiap kekecewaan. Lebih baik hidup mengalir dan menerima qadarnya dengan tunduk. Berbahagia dengan setiap episode yang diberikanNya kepada kita. Daripada berkeluhkesah dan mengotori hati  dengan sesal.

Ferry Fadillah. Kelan, 10 Juni 2017


 

, ,

Leave a comment

Gelap dan Pengap

Aku berjuang menyalakan rokok di tengah angin yang berhembus kencang. Cahaya bulan begitu terang memenuhi langit dengan kemilau peraknya. Bintang dan planet asing bercahaya di balik awan kelabu yang berjalan cepat ke arah selatan.

Saat rokok sudah menyala, aku menghirupnya dalam-dalam sambil memejamkan mata. Asapnya memenuhi paru-paru. Saat membuka mata, saat itu juga aku menghebuskan nafas perlahan. Menikmati ketenangan yang dipicu oleh 1,6 milgram nikotin dalam tembakau.

Di hadapanku adalah bulan yang sangat bulat dan besar. Di wajah dewi itu ada noda hitam yang menyerupai kelinci. Semua orang tidak setuju denganku. Mereka bilang itu kawah yang dibentuk tumbukan meteorid. Aku bersikeras. Itu kelinci! Dan menutup perdebatan dengan satu batang rokok sambil rela menyalakan api bagi mereka.

Bulan di atasku begitu magis. Aku sangat terpesona. Ia adalah saksi saat aku dilahirkan di dunia. Ia juga adalah saksi saat aku berciuman di bawah pohon tua di pinggir sekolah. Ia juga adalah saksi saat aku memakamkan Doni –kelinciku yang mati terkilir. Ia bahkan ada sebelum ayah dan ibuku membuatku. Bahkan, sebelum kemerdekaan negeri ini atau VOC mencampuri urusan perdagangan Banten. Ia tetap di sana dengan segala kejelitaannya.

Berlama-lama memandang bulan seperti membuka lembar sejarah yang berlarut-larut. Karena ia adalah saksi dari kehidupan, tentu ia hafal apa saja yang terjadi di dunia ini. Itu pun kalau ia memandang penting kehidupan manusia di dunia. Setiap orang hanya mengingat apa yang dianggapnya penting. Tapi bulan bukan orang, tentu ia bisa mengingat melebihi batas kemampuan manusia.

Angin utara tiba-tiba datang membawakan pesan. Isinya adalah riwayat hidupku. Ia memberiku ingatan fotografis. Saat aku wisuda dan memeluk kedua orang tuaku. Aku ingat baju dan sepatu yang aku pakai. Saat aku sekolah di SMA. Wajah-wajah ramah yang selalu menemaniku di saat sepi dan guru-guru yang menyebalkan namun sangat berjasa. Aku ingat pecahnya piring saat kedua orang tuaku cek cok. Adik yang kabur entah kemana dan ikan cupang yang mati karena rumahnya pecah terkena lemparan piring.

Ingatan-ingatan itu terus mengalir tidak terbendung. Perasaanku dibuat hanyut. Kadang tertawa. Kadang menangis. Kadang hampa. Sampai momen ketika aku baru dilahirkan dan dokter yang menanganiku tersenyum ramah, aku terbangun dan mendapati diriku tertidur di sebuah dinding yang begitu sempit. Aku melihat orang-orang menangis di atasku. Mereka memakai baju hitam sembari melantunkan bahasa yang sama sekali tidak aku mengerti. Aku berteriak namun mereka seperti memakai penyumbat botol wine di telinga.

Aku bertanya-tanya. Kemana bulan cantiku itu?  Mengapa aku di sini? Mengapa waktu begitu cepat? Dan di saat aku mencari sisa-sisa rokok yang aku hisap tadi sambil menikmati bulan, seorang kakek melempar tanah ke wajahku. Segenggam demi segenggam hingga gelap bersama pengap menemaniku selamanya.

Ferry Fadillah. Mei, 2017.

2 Comments

Tumbuh

Menatap Bandung dari kejauhan seperti menyaksikan mimpi dalam tidur. Potongan-potongan masa lalu berkelindan membentuk lukisan-lukisan realis yang humoris sekaligus tragis. Ada saat tawa menjadi penganan kecil disela-sela pertemuan dengan secangkir kopi. Ada juga saat sedih menjadi mendung yang membanjiri jiwa dengan hujan air mata. Read the rest of this entry »

Leave a comment

Ubud

pada detik di meja kantor

orang pada menanti

“Kapan ini akan berhenti?”

yang sama selalu berulang

kau datang

lalu pulang

demi uang

(“Kantor. Maret, 2017)

 Hampir bisa dipastikan tidak ada seorang pegawai pun yang rela menghabiskan masa hidupnya di kantor. Itulah mengapa para karyawan bersorak ketika jumat datang dan bersedih saat senin menjelang. Itu semua manusiawi. Susunan fisiologis manusia memang diciptakan untuk bergerak dan melihat alam bebas, bukan duduk anteng dengan tumpukan dokumen di depan meja.

Bagi pegawai di wilayah Bali, saat-saat jenuh bekerja di kantor bisa diobati dengan berwisata bersama kerabat. Lari di tepian pantai Kuta, bersepeda di pantai Sanur atau mandi air hangat di bawah kaki Gunung Batur. Namun, seiring dengan meningkatnya arus wisatawan dalam dan luar negeri, dibeberapa titik pulau ini kepadatan dan keruwetan menjadi pemandangan jamak layaknya kota besar lain di Pulau Jawa.

Tapi jangan berkecil hati. Masih ada daerah yang bebas dari segala keruwetan itu. Salah satunya adalah Ubud. Berada di Kabupaten Gianyar, Ubud dapat ditempuh selama dua jam menggunakan sepeda motor dari Kecamatan Kuta. Waktu itu hari kamis, panas begitu terik menciptakan bayang-bayang di aspal jalan. Aku berkendaraan dengan motor sekitar pukul sepuluh pagi dengan membawa ransel berisi buku Sejarah Estetika dan baju ganti seadanya. Sepanjang jalan aku melihat rumah-rumah tradisional yang diubah menjadi showroom kesenian. Mereka menjual patung, relief, lukisan, ukiran kayu, meja, kerajinan tangan, kerajinan perak, buah-buahan, wayang, meja kayu dan produk kesenian lainnya. Read the rest of this entry »

, , , ,

Leave a comment

Pindah

Pada saat masyarakat Kali Jodo meringis dan menjerit melihat rumah-rumah mereka dibuldoser oleh aparat, aku hanya bisa terpekur dari balik layar kaca. Pagi itu sebelum berangkat sekolah, sebuah stasiun televisi swasta menayangkan kekejaman yang terjadi pada sebuah sudut ibu kota. Di antara gedung mewah dan jalanan yang lebar ternyata ada orang-orang yang terusir paksa. Alasannya klise padahal mereka kalah karena miskin dan jauh dari kekuasaan.

Aku segera menghabiskan sarapan pagi yang sempat tertunda. Menunya hanya nasi satu centong dan tahu dengan bumbu kecap. Maklum, sudah satu bulan Ayah belum juga membawa uang. Untuk keperluan dapur, Ibu harus menyiasati dengan menjual beli perhiasan emas kesayangannya. Setelah nasi habis, aku pamit kepada Ayah dan Ibu. Seperti kebiasan anak-anak pada umumnya Aku mencium tangan keduanya lalu mengucapkan salam.

Sekolahku hanya berjarak  1 km dari rumah. Tepat di sebelah sawah besar yang sudah mengering. Kata orang itu akan diubah menjadi perumahan elit. Entahlah. Saat sekolah dasar dulu aku sering bermain layang-layang di pematangnya, mencari belut untuk dijual atau sekedar memakan bekal makan siang sembari menikmati angin yang berhembus dihamparan padi.

“Anak-anak sekarang waktunya kalian menceritakan pengalaman kalian di depan kelas. Sambil melatih keberanian bicara di depan umum. Bisa cerita apa saja. Tapi kali ini Ibu minta kalian menceritakan masa kecil kalian bersama Ayah dan Ibu. Ya kira-kira  lima menit lah. Mungkin bisa dimulai dari Tery. Ayo, Tery, jangan malu maju ke depan.”

Aku terperangah. Namaku dipanggil duluan. Apa yang harus aku ceritakan. Masa kecil? Mmm.. aku sama sekali tidak mempunyai bayangan. Tapi aku beranikan melangkah ke depan kelas. Melihat para siswa memandangku tajam jantungku berdebar keras.

“Selama Siang, teman-teman. Kali ini Aku akan menceritakan pengalaman masa kecilku. Jadi dulu Aku, Ayah dan Ibu …”

Perkataanku terputus sampai di sana. Pikiranku berusaha untuk mencari arsip bernilai di masa kecil. Lokasi rumah, kamar tidur, perabotan, wisata alam dan … ah, sial, kenapa harus aku yang pertama maju. Aku tidak bisa mengingat apapun.

“Tery, kenapa kamu diam. Ayo lanjutkan. Teman-teman kamu sudah menunggu.”

“Iya, sebentar, Bu. Aku minta waktu sebentar.”

Wajahku memerah. Pandanganku kabur. Tanganku berkeringat. Aku mencoba memejamkan mata sekejap. Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Aku fokus kepada nafasku. Tenang, tenang, tenang…

Pikiran membawaku ke sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas. Ada kolam ikan, pohon jambu setinggi pinggang dan rumput gajah yang lama tidak terurus. Di dalam rumah ada kolam ikan besar dengan air terjun buatan yang kering. Di gudang sebelah timur aku melihat diriku sendiri. Aku sedang bermain dengan mobil-mobilan. Mobil itu aku tarik dengan tali rapia sambil berlari. Tiba-tiba dari arah gudang keluar asap. Api muncul kemudian. Diriku berusaha keluar dari gudang itu. Aku berusaha menolong. Sialnya pintu terkunci. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Asap itu semakin pekat dan aku pingsan dibuatnya.

Saat terbangun, aku berada pada sebuah kamar dengan dinding terbuat dari triplek. Di sana hanya ada kasur tanpa kaki-kaki. Beberapa langkah dari kasur itu ada kelelawar besar yang menutupi perut dengan sayap hitamnya. Ia tertidur. Namun, taring dan besarnya makhluk itu membuatku ngeri. Aku coba mengumpulkan kesadaran. Saat beranjak dari tidur makhluk itu terbangun. Matanya merah dan ia lekas terbang ke arahku. Aku terkejut dan melompat ke belakang. Ternyata tembok itu rapuh. Aku terjerumus, menabrak penyangga atap, langit-langit, lantai, kemudian lubang gelap yang menarikku dengan sangat kejam.

Saat muncul cahaya, aku sudah berada di sebuah rumah sederhana dengan dua kamar. Di ruang tamu tidak ada perabot apapun. Pada sebuah pojok tembok aku melihat tulisan tiga buah nama: Tery, Dery, Lary. Aku mengenal mereka semua. Itu adalah adik-adiku. Tapi kemana mereka semua. Mengapa rumah ini begitu sepi. Dari arah dapur aku mendengar suara orang bertengkar. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana.

Lonte, siapa lagi yang kamu bawa. Jahanam!”

“Bajingan, ngomong apa kamu itu. Mulut ga bisa dijaga!”

Sumpah serapah itu terus berulang. Memantul dari satu tembok ke lain tembok. Bergema. Bertambah keras. Kini suara-suara itu merasuk ke dalam diriku. Aku sudah menutup telinga. Suara itu terus saja hadir. Aku menutup mata. Suara itu bertambah ganas. Aku dibuatnya mual.

Saat memejamkan mata, aku sudah berada di lain tempat. Sebuah rumah kost dengan  empat kamar yang berjejer. Di kamar nomor 14 tepat di depannya ada tumpukan piring kotor dengan noda kuah batagor yang sudah mengering. Aku coba memanggil para penghuni kost. Yang keluar adalah seorang anak kecil dengan botol berisi ikan cupang di tangan kanan. Wajahnya pucat. Bibirnya terkatup rapat. Ia mirip sekali dengan diriku. Tapi berbeda dari pertemuan pertama. Ia tampak sakit tidak terurus.  Ia duduk bersila. Ikan cupang dihapannya ia perhatikan dengan saksama. Aku juga memperhatikan ikan itu. Warna birunya, bekas cacing yang mati di dasar botol, gelembung udara, dan pipi yang menghitam ketika melihat cermin.

Tiba-tiba anak kecil dan ikan cupang itu menatap tajam ke arah diriku. Sekelilingku  berubah. Menjadi rumah yang terbakar. Menjadi kamar dengan kelalawar. Menjadi dapur. Menjadi kamar mandi. Menjadi ruang tamu. Menjadi panas. Menjadi basah. Menjadi hingar bingar oleh suara-suara. Aku tidak bisa mendengar suara siapa saja ini. Seperti pertengkaran suami istri dan jerit tangis bocah ingusan. Jeritan itu bertambah keras.. keras.. keras…

“Tery! Kenapa kamu malah tidur! Mana ceritamu.”

Aku terbangun. Ternyata aku masih berada di depan kelas. Aku sadar. Sepertinya tidak mungkin aku menceritakan masa kecilku yang kerap berpindah itu. Aku harus berani mengalah dengan keadaan.

“Maaf, Bu. Kali ini aku ga bisa cerita.”

Ferry Fadillah. Bandung, 31 Maret 2017.

 

 

 

 

, ,

2 Comments

Stasiun

Dalam sebuah perjalanan, aku mendapat kabar: Patriot akan segera menikah. Seharusnya aku hadir di sana. Menjadi saksi sebuah tonggak sejarah. Awal dari tumbuhnya peradaban. Namun, jarak, waktu, dan kesempatan berkata lain. Aku harus memendam dalam-dalam keinginanku itu.

Dari prosesi yang aku amati dari jauh itu. Aku melihat wajah-wajah ceria dalam citra fotografi. Ada senyuman, ada kebahagiaan dan ada keceriaan. Tapi, dari sorot mata setiap orang muncul pertanyaan, “Mengapa hari ini datang begitu cepat?”

Belum tenggelam dalam ingatan. Gerombolan anak SMA yang lebih banyak bermain dibanding belajar. Setiap malam dihabiskan dengan bermain Pro Evolution Soccer, Tekken 3, Guitar Hero dan ngobrol ngalor ngidul hingga larut malam. Siapa sangka, kesia-siaan itu merajut sebuah tali persaudaraan yang tidak lekang oleh waktu dan tidak bisa dianggap sia-sia.

Sebenarnya, episode-episode dalam hidup ini seperti jejeran stasiun kereta yang terbentang sejauh 225 km dari Semarang ke Bandung. Pada mulanya kita akan bertemu orang baru di stasiun awal. Senyum dan sapa mencairkan suasana. Terjalinlah obrolan sepanjang perjalanan. Timbulah keakraban. Kemudian petugas kereta memberitahukan. Bahwa sebentar lagi akan memasuki stasiun Pekalongan. Mungkin itu tujuan orang itu. Segera saja kita berpamitan. Membalas senyum dan melihat kursi di sebelah menjadi kosong.

Selang beberapa menit akan ada orang lain yang mengisi kursi itu. Pertama kita kikuk. Seperti biasa, senyum  dan salam akan mencairkan suasana. Obrolan kembali terjalin. Keakraban terjadi dan pengumuman berbunyi. Kereta mendekati stasiun Cirebon. Orang tadi berkemas dan menyalami tangan kita. Dan kursi itu kembali kosong.

Read the rest of this entry »

1 Comment

Kantor

pada detik di meja kantor

orang pada menanti:

“Kapan ini akan henti?

yang sama selalu berulang

kau datang

lalu pulang

demi uang

Ferry Fadillah. Maret, 2017.

,

Leave a comment

Kamu Dimana

Aku termenung pada sebuah ayunan berkarat di pinggiran taman pantai. Waktu itu waktu menunjukan pukul lima sore. Langit mendung bukan main. Angin menerpa pohon kelapa hingga nyaris runtuh. Aku menengadah ke langit. Sesekali memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam.

Dimanakah Dia? Aku melihat ke kiri dan ke kanan. Hanya ada segerombolan turis udik yang mengabadikan pemandangan sore itu dengan gawai buatan cina. Di hadapanku hanya ada kapal nelayan yang memaksa mesin kapal agar segera menepi. Aku tidak melihat apa-apa lagi selain itu.

Beberapa bulan lalu, saat sedang dalam perjalanan kereta Bandung-Jakarta, aku melihat pemandangan alam yang luar biasa. Gunung-gunung dengan pohon hijau berikut sawah-sawah penduduk. Sungai mengalir begitu jernihnya memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar. Aku memejamkan mata, menghirup udara yang bercampur bau rokok kemudian membuka mata dan melihat lekat ke jendela. Kemana Dia, kenapa aku tidak juga menemukannya?

Hujan gerimis di bilangan Jakarta. Aku sendiri ditemani kopi hangat. Aromanya menenangkan jiwa. Kemudian aku memesan lagi satu gelas kopi dengan caramel dan kue belanda. Aku siapkan bunga mawar putih di sebelah hidangan itu. Waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Aku sudah menanti lebih dari lima jam. Namun, Dia tidak datang ke tempat itu. Memberi tahu kealpaannya saja tidak. Aku sangat kecewa.

Pada suatu titik, aku sudah bosan mencari dan menunggu. Aku berhenti berusaha.

Dalam sebuah perjalanan malam di taman kota. Aku membeli burger ukuran besar dengan saus tomat dan minuman dingin. Aku duduk pada sebuah bangku gaya kolonial dibawah lampu temaram. Malam itu sangat cerah. Aku melihat gugusan bintang yang bersinar terang. Lamat-lamat aku menikmati burger itu. Saat sibuk dengan kunyahan ke enam ada seorang pria tua melintas.

Umurnya sekitar enam puluhan. Wajahnya tampak kusam dengan rambut putih di kepala dan dagunya. Saat itu ia mengenakan kemeja biru dengan membawa tumpukan koran di dalam ransel selempangan. Mungkin penjual Koran, batinku. Tapi kenapa malam-malam begini.

Aku tegur bapak itu. Kebetulan ada kentang yang belum kumakan. Selagi hangat kutawari bapak itu. Semula ia menolak. Setelah aku berkeras, ia menerima dengan gurat senyum yang mengembang dari wajahnya. Ia menepuk pundakku tiga kali dan mengucapkan rasa terimakasih berulang-ulang.

Kentang itu mulai habis. Sang Bapak mulai bercerita pengalamannya. Semuanya adalah perjalanan pedih dan penuh luka. Aku tidak menyangka ada cerita seperti itu. Maklum, aku adalah seorang pejabat pada sebuah instansi pemerintah. Gajiku cukup untuk menghidupi anak, istri dan  investasi saham di perusahaan syariah. Tidak pernah terpikir olehku untuk hidup susah. Semua sudah tersedia dengan mudah.

Hari makin malam, bapak itu terus bercerita. Tentang istri yang meninggalkannya karena kemiskinan. Tentang teman kantornya yang menipunya ratusan juta rupiah. Tentang rumahnya yang disita pengadilan negeri. Tentang penyakitnya yang sebentar lagi merengut satu-satunya harta: jiwanya.

Aku merasa iba namun tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa berkata iya dan menganggukan kepala. Sesekali aku harus membetulkan letak kacamata. Air yang menggenang pada mata membuat posisinya selalu tidak mengenakan. Dalam hati aku bersyukur, sangat bersyukur, bahwa hidupku jauh lebih beruntung. Aku tidak mau melupakan momen ini. Aku harus banyak berbagi dan berbicara dengan orang yang kurang beruntung.

Bapak itu pun akhirnya pergi meninggalkanku. Saat itu sudah pukul sebelas malam. Jalanan sudah sepi. Dan hanya ada Aku di taman. Aku memejamkan mata. Menghirup udara dalam-dalam dan lekas melihat lekat ke udara, “Engkau! Ah, disana rupanya selama ini..”

Ferry Fadillah. Kuta, Maret 2017.

,

Leave a comment

Apakah Seperti ini Manusia Hidup

Dalam perjalanan Denpasar-Kuta yang lengang, seorang sahabat tiba-tiba bertanya, “Sudah beli apa aja, fer?” Heran mendengar pertanyaan itu lantas saya bertanya, “Maksudnya?” Tanpa basa-basi, ia melanjutkan, “Itu loh rumah, tanah atau asset apa gitu.”

Pertanyaan di terik siang mentari itu membuat saya bertanya hal yang serupa kepada diri sendiri. Tiba-tiba kesadaran saya beralih ke kilas fotografi di masa lalu. Mencari-cari barang yang pernah saya beli dengan hasil keringat sendiri. Motor bekas, buku bekas, buku sastra dan … hampir tidak ada aset yang bisa dibilang berharga dari kacamata kapitalis. Mau bagaimana lagi. Adanya begitu.

Sebenarnya pertanyaan itu adalah refleksi dari budaya persaingan di setiap lapisan masyarakat. Ketika duduk di sekolah dasar saya sering mendengar orang tua murid yang memiliki ambisi serius. Anaknya harus menduduki peringkat teratas mulai dari kelas satu hingga enam. Selepas sekolah berdatanganlah guru privat dengan bayaran mahal. Malam datang sang anak juga harus dibebani dengan tugas sekolah dan persiapan ujian akhir.

Di sekolah menengah, semua kisah cinta dan persahabatan harus rehat sejenak saat ujian saringan masuk perguruan tinggi di depan mata. Jauh-jauh hari bimbingan belajar dengan beragam jargon sudah menyebar brosur. Programnya menarik. Ada yang menawarkan probabilitas tinggi diterima perguruan tinggi bergengsi dengan jaminan uang kembali. Tentu bukan program yang bisa dijangkau kelas menengah bawah.

Setelah diterima di perguruan tinggi, mahasiswa bersaing untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Persetan dengan ilmu humaniora. Kekayaan hanya menjadi milik orang-orang praktis. Menimba ilmu untuk menjadi sekrup industri. Atau bagi yang enggan bersaing ketat di sektor privat, menjadi seorang pegawai negeri sipil adalah opsi yang menarik. Hidup dengan penuh kepastian dan kemudahan mendapatkan pembiayaan dari bankir dengan jaminan SK CPNS.

Setelah bekerja sekian tahun mulai datang kebutuhan lain. Pekerja di kota besar berebut lahan yang semakin terbatas. Pengajuan kredit rumah semakin semarak dengan uang muka rendah. Orang-orang ini kehilangan sebagian pendapatan, bekerja lembur, menghemat pengeluaran pangan, bermain valas atau investasi spekulatif dengan harapan memperoleh rumah idaman.

Jalanan semakin macet di beberapa ruas kota, mobil pribadi menjadi pilihan cerdas untuk mengatasi letih menunggu transportasi publik dan meningkatkan pamor di tengah masyarakat. Maka berbondong-bondonglah belanja kebutuhan ini dipenuhi walau harus mengurangi pendapatan sekali lagi. Karena semua orang bersaing untuk dapat datang tepat waktu ke kantor.

Sekilas kehidupan seperti ini sungguh merepotkan. Tidak ada jalan bagi penempuh jalan mistik yang mencari damai di pemukiman sepi. Kini, semua tanah dikapitalkan, setiap kesempatan diuangkan bahkan jalan spiritualitas dikemas layaknya produk industri yang diproduksi massal.

Kita, manusia, dibebani dengan rutinitas kerja, persaingan akan ruang untuk hidup dan capaian-capaian yang kapitalistik-materialistis. Seolah-olah kerja, mengumpulkan uang, membeli asset adalah jalan hidup yang dilakoni. Sebuah anugerah Tuhan yang tidak boleh ditolak.

Syahdan di Mongolia sana, ketika Jengis Khan belum tumbuh dewasa, orang-orang mongol tidak pernah berfikir seruwet ini. Hamparan padang rumput luas adalah tanah yang bisa diduduki siapa saja. Rumah dengan mudah diciptakan dengan material sederhana. Kalau sumber makanan di suatu padang habis, rumah itu tinggal dibongkar dan disusun di lain tempat. Tidak ada yang permanen bagi mereka. Semua hanya siklus perpindahan yang tidak berkesudahan.

Mungkin, kita, para pekerja, birokrat atau siapa pun yang memiliki pemikiran ruwet di atas perlu untuk belajar menjadi seorang pengelana. Membuka mata dan hati atas segala kemungkinan yang ada. Kiranya nurani kita bisa menjadi peka sehingga terbangun dan bertanya: apakah seperti ini manusia hidup?

 

Ferry Fadillah. Kuta, 16 Februari 2017

Leave a comment

Identitas yang Cair

Saat terlempar ke dunia, kita dihadapkan oleh manusia-manusia yang saling berebut pengaruh. Mulanya adalah Ibu kita yang dengan sabar mengasuh dan memberi pengertian norma. Mana yang baik dan mana yang buruk. Agama juga mulai diperkenalkan. Setiap perbuatan buruk akan diingatkan dengan konsekuensi tragis hukuman neraka. Sebaliknya, setiap perbuatan baik akan diganjar dengan nikmat surga. Pengalaman agama ini mendapat penguatan saat duduk di sekolah dasar. Bagi pembaca yang sekolah di era 90-an tentu tidak asing dengan komik ‘Siksa Neraka’ karya Tatang S. Komik dengan ilustrasi realis ini menggambarkan tingkatan siksa di neraka sehingga mudah dipahami oleh para bocah. Mungkin denga cara ini, di sela-sela permainan adu biji pala dan antrian es lilin para bocah sekolah dasar bisa mengalami peningkatan relijiusitas.

Masyarakat dengan arahan orang tua juga mempengaruhi manusia-manusia awal ini. Setiap kunjungan kerabat ke rumah selalu di ingatkan untuk menjaga lisan dari perkataan kotor. Maklum, anak kecil adalah peniru yang baik. Masih ingat video viral tentang seorang bocah yang berbicara kasar dalam bahasa jawa sambil nikmat menghisap rokok dengan lihainya? Tentu semua orang tua tidak mau anaknya gagal didik seperti itu.

Masalahnya adalah apakah orangtua bisa terus menerus mengawasi ide dunia yang masuk ke dalam benak anaknya?

Ada saatnya, orang tua menganggap anaknya sudah dewasa dan mulai melonggarkan pengawasan. Misalnya ketika anak duduk di bangku sekolah menengah. Ciri fisik mereka sudah berubah. Tidak ada lagi bayi imut yang wangi. Kini orang tua menghadapi anaknya yang sudah ditumbuhi bulu kemaluan dan matang secara seksual.

Pada masa seperti ini, manusia mulai mendapat banyak pengaruh dari luar dirinya. Misal, pacar, teman sepergaulan, kegatan ekstra, agama, pergaulan bebas, film, musik, sampai kebijakan pemerintah terhadap ruang publik.

Interaksi anak terhadap hal-hal tersebut akan mengalami penguatan apabila mereka nyaman akan ide tersebut. Jika masjid adalah tempat yang nyaman untuk berdiskusi agama dan mendekatkan diri kepada entitas adikodrati maka mereka akan mengidentifikasi diri sebagai seorang islamis. Bila bar, café, atau diskotik adalah tempat yang nyaman untuk curhat dan berdansa ria, mungkin, mereka akan melabeli diri sebagai pejuang kebebasan atau apalah yang menurut mereka cocok.

Ketika memasuki dunia kerja, identitas tersebut tidak akan mengalami perubahan drastis. Namun, bukan berarti identitas tersebut mapan hingga akhir hayat.

Kerasnya hidup di zaman kapitalis sekarang ini, antara beratnya menjaga rasio pendapatan terhadap hutang dengan biaya membesarkan anak hingga mandiri, sedikit demi sedikit manusia akan mengubah identitasnya. Mungkin kita pernah betemu kawan lama yang dulunya pemabuk kini menjadi motivator relijius dengan ratusan jamaah setia. Atau sebaliknya, kawan lama yang dulu relijius kini menjadi mucikari sukses di sebuah kawasan lokalisasi yang dilindungi politisi-pengusaha setempat. Mungkin, semua itu mungkin.

Perlu diingat. Tidak ada identitas yang mapan. Semua selalu berada pada titik ‘proses menjadi’. Maka tidaklah bijak menjadikan identitas kini sebagai dasar justifikasi seseorang kelak memperoleh siksa neraka atau nikmat surga.

Di antara silang sengkarut pengaruh orang dan ide-ide terhadap diri, ditambah cobaan hidup yang datang bertubi-tubi yang bisa kita harapkan adalah akhir cerita yang baik. Karena seorang pelacur yang memberi seekor anjing air sesaat sebelum matinyalah ia meraih surga.

Ferry Fadillah. Kuta, 18 Februari 2017

Leave a comment

Waktu

​Adalah waktu yg membuatku takut

Diri sering menyangkal perubahan

Menutup mata dan berkata, “Semua seperti sedia kala..”

Namun, bumi terus bergeser, kawan datang dan pergi, dan rumah-rumah hilang entah kemana

Adalah waktu yg membuatku ngeri

Sering dalam doa aku berkata, “seandainya begini…”

Namun kenyataan begitu pahit seperti paria

Dan kita harus menelannya dengan senyum dan sabar

Begitu kata bijak bestari

Adalah waktu yg selalu membawa sendu

Rindu tidak mampu menebusnya

Rasa sesal hanya menguras air mata

Dan waktu begitu dingin

Ia tidak mau mendengar alasan-alasan

“Asu!”, umpatnya, ketika kita banyak mengeluh.

Ferry Fadillah, Februari 2017

Leave a comment