Ferry Fadillah

Seorang pejalan. Bisa disapa melalui instagram @ferry.fadillah

Homepage: https://canaksaindonesia.wordpress.com

Yahoo Messenger: blackroseofferry

Dungu

Aku adalah kebahagiaan yang hidup tenang dalam kedunguan. Semua yang kukerjakan hanyalah urusan administrasi ritmik yang tidak memerlukan analisis hebat. Ada atau tidak ada diriku orang lain berjejer dengan mudah menggantikan. Bahkan oleh algoritma komputer. Itu pun bila kantor inisiatif untuk mengadakannya.

Di sini orang-orang berlomba memamerkan hasil usaha mereka: foto rapat, foto monitoring, foto sosialisasi, foto upacara dan foto senam. Foto-foto itu dihambur di sosial media dengan narasi indah seolah masyarakat peduli dengan apa yang mereka lakukan. Namun entah sumbat apa dalam telinga mereka, sedungu apapun tampilan sosial media yang katanya official itu orang-orang akan tetap tidak tertarik. Rakyat perlu kerja nyata. Perut kenyang. Iklim usaha yang kompetitif.

Tapi apa urusannya ekonomi politik dibenak mereka? Hari-hari hanyalah kerja ritmik. Kerja, pulang, kelonan, ngemong anak, terima gaji, tidur, repeat. Cita-cita hanya sebatas cuti ke luar negeri atau membeli rumah untuk pensiun. Sudah. Tidak kurang tidak lebih. Kerja patuh, aman dan nyaman.

Jakarta, 14 Februari 2020

,

Leave a comment

19 Januari…

Saya tidak pernah menyangka jika perjalanan Denpasar-Ubud dengan motor dinas bersamanya akan berujung kepada hal yang sangat serius: pernikahan. Selama perjalanan ia selalu bercerita tentang segala hal dengan nada positif. Bukan khas pekerja ibu kota yang muak dengan para atasan pembual dan jalanan yang ruwet. Berkali-kali ia mengunjungi Bali untuk menjalankan tugas kantor sembari menghubungi saya kalau-kalau ada waktu untuk menikmati jalanan berdua. Dan saya selalu siap untuk itu. Bali dan perbincangan yang hangat dengan wanita pecinta buku adalah candu.

Begitulah hari-hari itu berlalu hingga saya pindah dan menjalankan kehidupan rumah tangga di ibu kota. Kini sudah satu tahun lamanya. Waktu bergulir begitu cepat. Tapi perasaan yang sama saat saya dan dia berjalan di Bali masih saja terus hidup dan bertambah kuat. Pemicunya sepele saja. Sunset di tanah rawasari atau gerimis mendung di rawamangun.

***

Di hari ulang tahun pernikahan ini kebanyakan orang memberi hadiah besar kepada istrinya. Saya bukan tipikal orang romantis. Mengajak menikah saja seperti mengajak orang pergi ke pusat belanja. Datar dan spontan.

Ada sebuah hal yang patut direnungkan. Apakah hadiah yang berwujud selalu menjadi representasi dari perasaan-perasaan terdalam? Dalam hal ini saya setuju dengan Iksan Skuter, cinta itu kupu kupu yang memeluk bunga/ saling mengisi mengasihi saling melindungi/ cinta itu tak pernah banyak mulut dan kata/ tak terlihat dan slalu berkata kata dengan rasa.

Untunglah istri saya sederhana saja. Ia tidak meminta kemewahan. Pagi ini ia meminta segenggam puisi sebagai penanda waktu penting ini.

***

Puisi itu tercekat. Enggan keluar dari rongga mulut dan jari jemari.

Ia tertidur jauh di dalam. Bukankah puisi hiburan bagi kesedihan?

Kalu kesedihan itu sirna lalu apa guna puisi.

Bukankah pertemuan satu tahun yang lalu kini adalah cerita kebahagiaan semata?

Tidak ada setiap jengkal perbincangan yang tidak bermakna.

Walau tampak acuh, telinga selalu menyimak setiap detil yang terhambur keluar dari jiwa. Dari kisah-kisah itu makna terangkai.

Dan, dari segala jenis makhluk, hanya manusia yang tidak mampu hidup tanpa kebermaknaan.

Penyatuan ini bukanlah jasad semata yang terbingkai dalam rumah mungil di bilangan Jakarta Pusat.

Ini adalah kerajaan yang akan terus langgeng hingga ke surga.

Tidak ada kata akhir bagi ketulusan.

Mungkin pahit bisa saja mampir ke rumah.

Mengoyak segala kemapanan.

Apakah pahit itu abadi jika bertemu gula?

Apakah rela kita diombang-ambing oleh kepahitan -bahkan kebahagiaan.

Jejak-jejak selanjutnya akan selalu ditemui kerumitan.

Namun, bersama dirinya itu hanyalah petualangan semata.

Aku akan menjadi juru tulis dan ia akan selalu menceritakan kisahnya.

Ferry Fadillah. Januari, 2020

This slideshow requires JavaScript.

 

 

Leave a comment

Multikultural

Kementerian Keuangan adalah organisasi pemerintah besar yang memilki 11 unit eselon I. Beberapa unit memiliki satuan kerja vertikal yang tersebar di seluruh Indonesia. Seperti pada Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2017 memberi isyarat adanya pola mutasi dalam jangka waktu tertentu. Sebagaimana termaktub dalam pasal 190, “(2) setiap PNS dapat dimutasi tugas dan/atau lokasi dalam 1 (satu) Instansi Pusat, antar-Instansi Pusat…; (3) Mutasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun”. Maka perpindahan pegawai dari satu satuan kerja pada sebuah kota/provinsi ke kota/provinsi lain adalah wajar belaka.

Pola mutasi inilah yang menyebabkan komposisi ras, suku dan agama pada sebuah kantor menjadi heterogen. Walaupun bekerja di daerah dengan mayoritas Islam, misalnya, sebuah satker DJBC juga memiliki pegawai yang beragama Hindu dan Kristen. Dalam setiap agenda keagamaan mereka diberi ruang dan waktu mengekspresikan penghayatan  ketuhanan masing-masing. Ini dapat dibuktikan dalam struktur pengurus pembinaan mental di DJBC yang terdiri dari komponen Islam, Katolik, Kristen, Hindu dan Budha. Keragaman agama dalam mencapai tujuan bersama organisasi ini benar-benar saya rasakan ruhnya saat bekerja di Kantor Wilayah DJBC Bali, NTB dan NTT tidak sebatas sebagai pegawai kantoran tetapi juga anggota masyarakat yang turut merasakan denyut aktivitas Pulau Dewata.

***

Akhir 2009, saya mendarat di Bali bersama Nenek dan Ibu. Itu adalah kedatangan pertama saya ke Bali. Sebelumnya saya hanya mengenal Bali dari cerita para pelancong. Mereka bilang Bali adalah kebebasan, wanita, alkohol, berhala, laut dan kemewahan. Saya mengaminkan semua itu dan menjadikanya kepercayaan.

Sejak kecil, saya biasa bergaul dengan teman yang memiliki kesamaan agama dan etnis. Agama dan kebiasaan yang terbentuk itu secara tidak sadar telah menjadi acuan kebenaran dalam memandang segala sesuatu. Maka timbul kegelisahan di dalam batin saat mengamati setiap sudut kehidupan di Bali. Semuanya hampir berbeda dengan agama dan kebiasaan asal saya. Mengapa ada banyak patung? Mengapa ada banyak sajen di jalanan? Mengapa ada dupa di pojok ruangan? Kenapa bar terbuka dan terlihat di jalan? Mengapa indekos tidak memisahkan penghuni pria dan wanita? Dan mengapa-mengapa lain yang menuntut jawaban pasti.

Bukannnya mencari jawaban dari orang Bali atau membaca buku tentang Bali, saya membatasi pergaulan hanya dengan pegawai dan masyarakat dari asal daerah dan agama yang sama. Sehingga, diam-diam saya menumpuk kecurigaan. Ide tentang negara teokrasi dengan undang-undang berbasis moral ilahiah sempat menjadi pegangan saya. Singkat pikir, hanya Islam lah yang memegang teguh sila pertama dari Pancasila. Agama-agama non monotheistik, apalagi yang memanifestasikan tuhan dalam sosok antrophormistik tidak pantas disebut pengamal pancasila yang sejati. Saya harus memurnikan Bali dari penyimpangan itu.

Hidup sebagai minoritas di Bali dengan kecurigaan seperti itu membuat hati saya sempit. Dimana-mana saya selalu menyalahkan sistem dan masyarakat. Tidak hanya kepada mereka yang berbeda agama, kepada sesama pegawai yang seagama pun namun dengan praktik ibadah yang berbeda saya kerap ribut. Zaman kegelapan itu berlangsung selama satu tahun. Untungnya, identitas itu cair, semua manusia pembelajar selalu dalam proses  menjadi.

Tahun-tahun berikutnya, saya banyak membaca filsafat. Yang paling berkesan adalah saat mendengar kuliah yang diampu oleh Prof. Bambang Sugiharto tentang  filsafat ilmu melalui DVD. Saya dijelaskan bahwa kepercayaan akan kemurnian adalah konyol. Agama itu murni dari level ilahiah namun saat ia turun ke bumi melalui para rasul dan disebar melewati ruang dan waktu akan selalu ada interpretasi terbuka yang disesuaikan dengan semangat zaman (zeitgeist). Oleh sebab itu, agama menjadi dinamis dengan tetap memperhatikan hal-hal yang prinsipil. Pikiran saya terbuka dan perkawanan dengan penganut  Hindu dimulai.

Saya menikmati perbincangan teologis dengan kawan Hindu di kantor. Ketika saya bertanya konsep ketuhanan seperti apakah yang dianut Hindu, mereka dapat menguraikan dengan rinci, sehingga saya menyimpulkan bahwa mereka pun tidak menyimpang dari sila pertama pancasila. Tidak berhenti sampai sana. Saya beberapa kali mengunjungi Pura kantor untuk melihat praktik keberagamaan mereka dan mengunjungi gereja katolik untuk memperhatikan kegiatan kepemudaan. Kunjungan itu membawa saya kepada kesadaran bahwa ada kenyataan lain tidak terbantahkan diluar praktik agama saya. Dan kenyataan itu bukan untuk ditiadakan tapi dipahami untuk mencari simpul-simpul kesamaan.

Dialog antar iman dan melihat langsung peribadatan pemeluk agama lain selama bertahun-tahun di Bali telah meningkatkan ambang toleransi . Saya tidak lagi risih dengan patung dewa-dewi yang bertebaran di setiap penjuru kota. Sajen (banten) dan dupa di sudut-sudut ruangan juga hal yang biasa. Setiap orang di setiap daerah memiliki cara menghayati pengalaman kebertuhanan mereka. Hal tersebut tidak terbatas antar agama, namun dalam spektrum satu agama. Praktik ini sangat terlihat dalam ajaran Hindu Bali yang mampu berdamai dengan mahdzab Syiwa, Wisnu dan Budha sekaligus.

Di kantor, tidak ada sekat antara dia yang Islam, dia yang Hindu atau dia yang Kristen. Semua pegawai bekerja saling tolong menolong sesuai tugas dan fungsinya.  Saat umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan,  kawan-kawan Islam dan Kristen dengan ikhlas membantu tugas pengawasan dan administrasi agar proses bisnis kantor tetap berjalan. Begitu juga ketika umat Islam dan Kristen merayakan hari raya, umat Hindu turut membantu tugas mereka di kantor. Keragaman dan kolaborasi yang dinamis inilah miniatur Indonesia dalam ikat semboyan bhineka tunggal ika.

Kebhinekaan ini sebenarnya lebih terasa diluar lingkungan kantor. Bali sebagi daerah eksotis yang terbuka sudah selama berabad-abad menerima perbedaan sebagai kenyataan. Perbedaan itu tidak saja berada dalam sekat-sekat, batas-batas yang tidak dapat dilampaui, namun mencapai titik akulturasi. Di beberapa daerah seperti Kuta dan Buleleng dapat ditemukan perkampungan muslim-bugis yang ternyata masyarakatnya dapat berbahasa Bali dengan fasih. Di Desa Adat Tuka yang mayoritas Katolik, penduduknya tetap menggunakan pakaian adat Bali saat kebaktian di katedral yang juga berarsitektur Bali. Di Ubud, gaya lukisan batuan yang khas terpengaruh aliran lukis moderen yang dibawa oleh Walter Spies dan Rudolf Bonnet. Pelukis batuan dapat memadukan gaya klasik pewayangan dan gaya miniaturis modern sehingga menghasilkan lukisan hybrid yang khas dan berkesan magis. Pada kasus ini seni tidak berhenti di titik akulturasi tapi menembus hingga titik asimilasi.

Masih banyak contoh kolaborasi antar etnis, agama, atau aliran seni di lingkungan kantor maupun kehidupan masyarakat, tidak hanya di Bali akan tetapi di seluruh daerah penempatan para pegawai Kementerian Keuangan. Kolaborasi itu secara sporadis diberi label multikulturalisme di dalam pidato para pejabat. Namun, menurut Amartya Sen dalam bukunya “Kekerasan dan Identitas” dukungan lantang terhadap multikulturalisme akhir-akhir ini sesungguhnya tak sekedar pleodoi terhadap monokulturalisme majemuk. Sen menjelaskan, “Jika seorang gadis dari keluarga imigran konservatif hendak pergi kencan dengan cowoknya yang inggris, maka jelas ada inisiatif multikultural dalam hal ini. Sebaliknya, upaya orang tua sang gadis untuk mencegah dia berkencan sulit untuk bisa disebut sebagai sikap multikultural, sebab menjaga agar budaya masing-masing tetap terpisah. Multikulturalisme ditandai dengan bauran-bauran yang interaktif antar entitas yang berbeda. Dan dalam hal ini Kementerian Keuangan berhasil mewujudkannya sehingga dapat menjadi contoh satu padunya Indonesia dalam bingkai multikulturalisme.

Ferry Fadillah, 2019.
tulisan ini dimuat dalam buku “Perekat Indonesia” terbitan Kementerian Keuangan Tahun 2019

, , , , , , ,

1 Comment

Kredit

“Asu, apanya yang syariah! Masa pinjem duit lima ratus juta selama lima belas tahun total keuntungan bank sampai tujuh ratus jutaan. Sudah dibuat kurus nahan lapar setiap bulan, bank yang hanya diam ongkang-ongkang kaki dapat penghasilan dari bunga pinjaman. Tai! Itu duit kan bukan untuk membeli alat produksi, tidak ada hasil penjualan yang bisa dibagi. Saya itu makan gaji, rate-nya hanya naik 5% per tahun sedangkan suku bunga terus melebihi angka 12%. Rumah itu kebutuhan pokok. Kebutuhan dasar. Seharusnya tidak masuk logika pasar!”

Pagi buta begini Derry sudah memaki. Pemicunya selebaran pinjaman tanpa agunan yang dibagikan salesman bank syariah. Ia memang sedang butuh uang. Sebentar lagi ia akan menikah. Memikirkan biaya pernikahan saja sudah membuatnya mual, apalagi memikirkan kebutuhan papan yang harganya terus melejit dari tahun ke tahun.

“Tenang, Mas Derry. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Kalau ditengah usaha kita, segala kebutuhan pokok itu tidak terpenuhi ya apa boleh dibilang, kita hanya pasrah saja. Itu sudah ketentuan langit.”

Mendengar ceramah kawannya itu Derry geram. Tapi ia masih memiliki akal sehat untuk tidak langsung memaki. Di negeri ini ia tahu, sedikit saja kritik terhadap ungkapan relijius bisa panjang akibatnya. Mungkin akan ada organisasi masyarakat yang menggerudug rumah Derry atau bahkan demonstrasi tanpa henti menuntut Derry dibui.

“Begini, Mas Parman. Saya paham apa itu takdir dan segala macamnya. Permasalahannya Mas harus bedakan mana kemiskinan struktural dan mana kemiskinan kultural. Kalau usaha keras hingga keringat darah kita tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok maka ada struktur timpang yang menindih kita. Sayangnya kita tidak sadar dan dengan mudah mengembalikan setiap analisis ekonomi-politik kepada yang di atas, kehendak-Nya.”

“Iya, Mas. Saya paham keresahan Mas Derry tapi sebagai pegawai rendahan di kantor pemerintah apa yang bisa kita perbuat. Harapan kita hanyalah hal-hal praktis bagi keberlangsungan kesejahteraan pribadi: mendapat gaji bulanan tepat waktu, penempatan di kampung halaman, olahraga disela-sela ngantor, syukur-syukur dapat uang perjalanan dinas untuk tambal hutang sana-sini. Sisanya biar kita banyak jamaah di masjid, membaca Al-Quran atu ikut kegiatan islami lain. Kalau di dunia ini kita kurang jangan sampai di akhirat juga kita kurang”

Anjing betul orang ini!” umpat Derry dalam hati. Ia tidak menggubris argument Mas Parman, ia hanya tersenyum, menyalaminya, kemudian dengan sopan mempersilahkan Mas Parman keluar dari ruangan.

Derry duduk di depan meja kerjanya yang penuh sesak oleh kertas kerja. Di lacinya ada banyak konsep surat yang habis dicoret oleh atasannya. Namun, diantara kesemrawutan itu Derry ternyata memiliki rak buku kecil yang menggantung di tembok. Buku koleksinya tebal-tebal. Sebagian besar tentang ekonomi-politik dan filsafat moral. Tokoh filsafat modern kesukaannya adalah Karl Marx. Ia tidak terlalu paham Das Capital tebal yang selalu ia sombongkan kepada teman-temanya.  Ia hanya menyukai ide-ide sosialisme Marx ditambah hasil imajinasinya sendiri.

Di sela-sela buku Das Capital ia menulis hasil pemikirannya sebagai berikut:

Di negeri ini kita semua mafhum bahwa kapitalisme telah menjadi semangat zaman. Harapannya  orang-orang akan berhenti bertikai untuk kemudian berkompetisi secara sehat menggunakan produk-produk mereka. Adanya kawasan industri sekala besar, perekonomian dijital, peningkatan kemacetan di desa-desa yang tiba-tiba menjadi kawasan wisata adalah semacam anugerah bagi pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin harum pamor pemerintah di mata masyarakat internasional.

Padahal di negeri ini ketimpangan terjadi dimana-mana. Ada perusahaan yang memiliki jutaan hektar tanah untuk kemudian dikembangkan menjadi perumahan dengan harga milyaran. Komplotan perusahaan pembiayaan dan perusahaan properti  ini telah menjerat karyawan-karyawan muda dalam skema kredit perumahan. Dalam jangka panjang, orang kaya akan semakin kaya sedangkan orang menengah dan miskin akan semakin sulit.

Kondisi-kondisi ini tidak hanya terjadi kepada mereka yang terjerat hutang pembelian rumah, akan tetapi juga terjadi kepada mereka yang mengontrak di gang-gang kecil dengan sirkulasi udara buruk dan ruang terbuka hijau yang minim. Tanpa kesadaran ekonomi-politik yang tinggi dan menyebar di kalangan  massa, harapan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanyalah impian di siang bolong.

Belum selesai Derry menulis, Mas Parman kembali ke ruangan dengan membawa empat orang dari divisi kepatuhan internal. Derry termenung tanda tak paham. Gerombolan itu membawa Derry ke ruang pemeriksaan pegawai. Buku-buku yang dicurigai kiri disita sebagai barang bukti.

Setelah tragedi itu kantor tempat Derry bekerja melakukan screening ideologi besar-besaran. Semua pegawai dipaksa mengisi kuesioner dengan pertanyaan bodoh berbelit-belit. Mereka yang dicurigai akan dipaksa mengikuti kegiatan keagamaan dibawah pengawasan langsung divisi kepatuhan internal.

Derry sendiri sudah meninggalkan kantor itu. Ia mengucapkan selama tinggal kepada bilik kerjanya, kawan-kawannya, atasannya dan demokrasi yang semakin hancur ditangan orang-orang mabuk.

Ferry Fadillah. Bandung, 12 Desember 2018.

, , , ,

Leave a comment

Nusa Penida

Bali, Aku pergi sebentar yah

Pergi dari jalanmu yang mulai macet

Mulai gak nyaman, mulai.. aaaa

Bali, Aku pergi sebentar yah..

Pergi dari pantaimu yang katanya indah.

Yang disekelilingnya, dibangun hotel megah.. wah!

Ini Judulnya Belakangan, Nosstress

***

Perhelatan tahunan International Monetary Fund dan World Bank Group pada tanggal 8 s.d. 16 Oktober 2018 di BTDC, Bali adalah kunjungan saya yang ke sekian kalinya ke Bali. Sejak kuliah di bilangan Denpasar sejak tahun 2009, beberapa kali saya meninggalkan Bali untuk sekedar liburan ke kota kelahiran, melaksanakan tugas negara, dan tugas belajar kurun 2014-2016. Jika dihitung secara kasar, lama tinggal saya di Bali sekitar 6 tahun. Waktu yang cukup lama untuk melihat perubahan Bali dari segala seginya.

Namun, pada tulisan ini, saya tidak memposisikan diri menjadi pengamat sosial karena saya hanya menuangkan kesan yang saya tangkap atas kunjungan ke Nusa Penida, Klungung beberapa hari lalu serta membandingkannya dengan Bali kurun waktu 2009-2013. Layaknya kesan, ia bisa benar dan juga bisa salah, oleh karena itu saya mohon maaf apabila terdapat kekeliruan.

Nusa Penida adalah pulau besar di tenggara Pulau Bali. Secara administratif wilayah ini menjadi bagian Kapubaten Klungkung. Curah hujan di Nusa Penida sangat rendah. Kontur daratan didominasi perbukitan dengan garis pantai yang hampir seluruhnya tebing. Jalur satu-satunya untuk lalu lintas kapal adalah di Desa Toya Pakeh, utara Penida, yang menghubungkan pelabuhan Padang Bay, Sanur dengan dua pulau tujuan wisata lain yakni Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

Geliat ekonomi di Nusa Penida terasa lambat. Jalan yang menghubungkan satu desa dengan desa lain hanya cukup dilalui dua mobil. Bahkan sebagian besar jalan menuju destinasi wisata seperti Pantai Angel Billabong dan Pantai Klingking dalam kondisi berlubang dan berpasir. Sektor usaha pariwisata lokal yang menonjol adalah homestay lokal yang dikelola secara informal oleh pihak keluarga. Restauran dan minimarket adalah pemandangan langka. Sebagian besar wilayah Nusa Penida adalah perkebunan kelapa, peternakan babi dan sapi, serta semak belukar dengan ranting-ranting kering yang rawan terbakar.

Tapi semua keterbatasan fasilitas publik dan akses tersebut terbayar ketika saya menyaksikan indahnya pemandangan di Pantai Angel Billabong dan Pantai Klingking.. Tebing-tebing tinggi di sebrang laut itu menghubungkan daratan Nusa Penida dengan laut yang sangat biru. Gelombang air laut, udara segar, pepohonan yang menghijau, langit yang cerah dan bebatuan kapur artistik pasti membuat takjub siapapun yang menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.

Nusa Penida mirip degan pantai-pantai di Nusa Dua sebelum ekspansi pariwisata besar-besaran.. Dahulu akses menuju Pantai Dream Beach, Pantai Gunung Payung, Pantai Pandawa dll. sulit untuk ditempuh. Kesulitan itu akan terbayar setelah wisatawan menyaksikan birunya laut dan ombak tinggi yang cocok digunakan untuk olahraga berselancar. Ketelanjangan (naked) dalam arti sesungguhnya pun adalah pemandangan jamak di pantai-pantai Nusa Dua. Namun, semua itu berakhir setelah rombongan bus-bus sekolah menengah atas dari wilayah lain Indonesia mengunjungi pantai-pantai tersebut dan berebut mengambil foto. Mungkin bule-bule itu risih dan memutuskan untuk tetap mengenakan bikini walau berjemur di pantai.

Pariwisata memang menjadi primadona. Pemerintah terus meningkatkan target kunjungan wisatawan asing ke Pulau Bali. Sayangnya, Bali seolah belum siap dalam menanggulangi permasalahan sampah yang menumpuk. Sampah plastik tersebar dipinggir jalan, sungai, danau, dan pantai. Tindak kejahatan juga menjadi jamak di Bali. Tahun 2009 di Denpasar, saya masih sering melihat orang meninggalkan motor di pinggir jalan dengan kunci kontak menempel. Kini, pencurian motor terjadi dimana-mana, kostan juga tidak lepas dari target pencurian bahkan saat penghuninya masih berada di dalam.

Nusa Penida adalah Bali di masa lalu. Hampir semua orang meninggalkan motor dengan kunci kontak yang menempel. Sampah plastik mulai terlihat berserakan tapi belum sampai mencemari pantai. Mungkin ini adalah berkah dari lambatnya pertumbuhan ekonomi. Karena tidak semua wisatawan ingin menikmati peradaban kapitalis berupa resort mewah dan restaurant premium dengan pemandangan pantai. Ada sebagian orang yang rindu dengan keaslian. Alam itu indah pada dirinya sendiri. Manusia berusaha memaksakan ide budayanya dengan menghancurkan tebing dan menebang pepohonan. Dalam logika kapitalisme liberal, setiap potensi pariwisata harus dimiliki korporasi dengan dalih peningkatan kesejahteraan rakyat. Padahal tanpa mereka rakyat tetap hidup sejahtera dalam kesederhanaan.

Saya berharap Nusa Penida tidak mengalami ekspansi industri pariwisata berlebihan seperti yang terjadi di pulau induknya. Biarlah alam mengajarkan kepada para manusia tentang keindahan asali yang kali pertama Tuhan ciptakan bagi semua makhluk.

Ferry Fadillah. Nusa Penida, 19 Oktober 2018

, ,

1 Comment

Jakarta (lagi)

Jakarta adalah lorong pengap yang jalin menjalin menjadi satu. Ia juga adalah beton-beton raksasa sisa kejayaan masa lalu. Jakarta adalah hitam air yang tercipta dari ketamakan korporasi. Hitam air itu mengalir dari gang-gang kumuh menuju pelabuhan. Di sini, orang-orang kerap bersitegang. Ketegangan yang timbul antar ojek online dengan ojek pangkalan; antar pengemudi taksi dengan busway; antar ibu dengan ayah tentang biaya sekolah yang kian membengkak.

Aku tidak sedang mencaci maki Jakarta. Bagiku kota ini adalah kawan lama. Tahun 90-an antara Tanah Abang dan Bekasi. Aku pergi bersama Ayah dengan kereta berkawan tukang gorengan dan para gelandang. Sesak, penuh, riweuh. Mau tak mau, kita berbagi tempat dengan masinis.

Bagiku, lain dulu, lain sekarang. Jakarta adalah masa depan. Ia bukan saja celah sempit pada mulut gang. Ia adalah cinta tulus para bapak ojek di jalanan gersang, jugas kasih para Ibu diantara keramaian pasar. Jakarta tidak layak dicela. Ia adalah awalan dan harapan; saksi berseminya cinta di Timur dan mekarnya kasih di Barat.

Jakarta adalah kita.

Ferry Fadillah. Jakarta, 5 Agustus 2018.

Leave a comment

Jakarta

Jakarta adalah timbunan emosi

beton yang saling menghimpit

dan bising knalpot yang saling memaki

Darinya kapital menjalar

menjelma gedung dan bedeng-bedeng

buahnya ialah kesemerawutan dan kemiskinan

tapi bagaimana lagi..

di sana kita lahir, di sana juga kita mampus

walau ditabrak bus kopaja

atau menjadi korban huru hara

Ferry Fadillah. Jakarta, Juli 2018

1 Comment

Sempurna

–Untuk yang berpikir bahwa hidup itu sempurna

Ada dua warta
Pak Karna mati siang tadi
tubuhnya kaku di emper toko;
Bu Ani digesper suaminya
mukanya lecet penuh luka.

Sebenarnya ada tiga, empat, lima…
Ujungnya luka
Muaranya alpa

Rabu, Mas Parman mampus,
mulut berbusa racun tikus
Selasa ia punya pinta:
Ku ingin lupa, Ka..

Masih kau pikir
hidup itu sempurna?

Luka bak basuhan
dari air gerbang utara
Bulirnya dirajut sutra
Jernihnya melebihi kaca

Diri dicelup dalam tempayan
diputar ke kiri dan ke kanan,
dibalik dan digosok,
dihardik bila berontak,
dicengkram bila melunjak

Diri butuh berserah
Ikuti pasrah
Tanpa keluh kesah
Pada saatnya nanti
Diri kan bercahaya

Bilamana cahaya ada?
Suka duka itu sama
Tak perlu lagi risau
Semua akan selesai..

“Wahai nafs yang tenang.
Kembalilah kepada Tuhanmu
Dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”

Kuta, 23 November 2017. Ferry Fadillah

, , ,

Leave a comment

Tanya

Di kaki langit segerombolan orang berjalan menembus awan. Ada yang duduk sambil membaca majalah perjalanan. Ada yang melihat ke jendela sambil membayangkan hidupnya yang sial. Ada orang tua yang membentak anaknya. Juga, anak yang membentak ayahnya.

Yang lebih durhaka adalah, ada seorang pemuda yang kencing sambil berdiri di atas langit, padahal mungkin di bawahnya seorang janda selepas shalat sedang menengadah ke langit dengan kedua tangan dibuka berbisik memohon petunjuk-Nya. Semua pasti tahu amuk seperti apa yang diberikan seorang janda ketika mengetahui apa yang terjadi di atas sana. Tetapi biarlah. Kita tidak akan membicarakan janda itu.

Di tengah hiruk pikuk itu. Sepasang anak muda berusia akhir 20-an saling memandang.  Tawaran produk bebas bea pramugara dengan troleynya atau ledak tangis seorang bocah yang minta dibelikan miniatur pesawat terbang tidak mereka gubris.

“Kapan kamu akan menikahiku?”

Anjing, makinya dalam hati. Ia kaget bukan kepalang. Baru saja mereka berbincang hangat tentang singa pemalas di Bali Safari and Marine Park. Kemudian berdebat tentang jumlah turis homo yang menyamar sebagai hetero di Pantai Uluwatu. Atau marjin laba pedagang ikan di Pasar Kelan dibanding Cafè Menega. Tetiba pertanyaan itu muncul. Ia tidak habis pikir.

“Kok kamu diam. Kamu sayang kan sama aku?”

Mendapat serangan kedua ia mulai menghembus nafas dalam. Ingin rasanya ia meminta parasut, membuka pintu darurat dan terjun bebas ke pegunungan di bawahnya. Biar ia hilang. Di makan harimau mungkin. Pun kalau mereka punah, masih ada ular berbisa yang tidak kalah mematikan.

*

Tahun lalu, di bulan Rajab, Ical bertemu Dewi di sebuah kelas pranikah yang diisi oleh seorang dai kondang cum selebgram. Pada pertemuan ke-5 yang sangat membosankan mereka tanpa saling mengetahui memutuskan keluar masjid dan membeli cilok di parkiran.

“Loh, mba. Kelas belum usai kok malah jajan cilok,” tanya Ical memecah kebekuan.

“Bosan, mas. Isinya standar”

Sejak pertemuan di gerobak cilok itulah mereka lebih intens bertemu. Tidak peduli jargon-jargon agamis yang menyindir pasangan pacaran. Bagi mereka hidup hanya sekali. Sangatlah merugi kalau hidup tanpa ia yang dicintai.

*

“Cal, kok kamu diem terus sih!”

Ical tahu Dewi menuntut kepastian. Namun, apakah harus secepat ini. Sebentar lagi pesawat mendarat. Tanda kenakan sabuk pengaman sudah dinyalakan. Beberapa menit lagi Bandung di depan mata. Ia tidak mau membawa beban langit di muka bumi.

Roda mulai dikeluarkan. Saat roda itu menyentuh landasan pacu dan penumpang goyang ke sana ke mari akibat gravitasi, Ical menyentuh pundak Dewi.

“Baik kalau begitu. Kita putus…”

Ferry Fadillah. November, 2017.

 

2 Comments

Hanya Tertawa Sedikit

Manusia terlempar di dunia ini bukan tanpa kehendak dirinya sendiri. Sebuah dunia yang dipenuhi penderitaan pada setiap satuan waktu dan ukuran ruang.

Setiap hari ada seorang ayah yang membanting tulang demi pendidikan putra-putrinya, beradu mulut dengan istri karena gaji yang didapat kurang, menyaksikan dengan mata kepala sendiri istri selingkuh dan meninggalkan dirinya saat kondisi ekonomi sedang sulit, bertahan dengan linangan air mata saat anak-anaknya memilih durhaka daripada berbakti, hidup dalam kesendirian di hari tua saat anak-anak menikmati hari libur mereka bersama kawan-kawan dan istri tercinta.

Ada juga seorang ibu yang harus berhutang ke sana ke mari demi tetap mengepulnya urusan dapur dan biaya pendidikan anak yang dari hari ke hari semakin tinggi, menahan batin ketika melihat suami malas di rumah tidak mencari nafkah, atau bebas membawa wanita lain masuk ke rumah dengan tenang dan enteng, belum lagi anak-anak mereka yang berkata ah! Saat dimintai tolong, dan seperti orang tua lain, bisa-bisa ketika di usia renta anak-anaknya melupakan dirinya dengan tertawa gembira bersama kawan-kawan belanja di luar negeri.

Ada juga petani yang tanahnya dihimpit perusahaan multinasional produsen air mineral dalam kemasan, mata air yang selama ini dapat diakses dengan gratis ternyata kering karena sumur bor yang terlalu dalam dari perusahaan, biaya input menjadi tinggi, petani menjual lahan tidak produktif mereka dengan harga murah untuk dijadikan real eastate oleh pengembang. Ia sendiri harus pindah ke ibu kota untuk menjadi buruh kasar dengan gaji musiman.

Ada juga buruh yang harus berdiri di depan mesin pabrik selama berjam-jam dengan gaji cukup memenuhi kebutuhan pokok, ketika berserikat untuk memperjuangkan hak-hak, perusahaan mengancam pemutusan hubungan kerja dan orang-orang dungu menuduh mereka sebagai komunis. Saat demo kenaikan UMR orang-orang nyinyir dan agamawan berkata: sabarlah, kiranya Tuhan bersama kalian.

Ada juga seorang pegawai negeri sipil rendahan pada sebuah kantor pemerintah. Dengan gaji seadanya ia harus membiayai kedua orang tua, adik dan bibi-bibinya yang kerap berhutang. Diatur pengeluaran dengan saksama karena pendapatan tidak bisa diotak-atik lagi kecuali mereka ingin berurusan dengan KPK. Hutang ke bank terjerat bunga yang meningkat dari tahun ke tahun. Hutang kepada kawan rusak silaturahmi karena enggan untuk bertemu. Belum lagi mutasi dari satu daerah ke daerah lain. Tenggelam dalam kapal patroli. Digebuk masa karena perintah atasan. Ditusuk fundamentalis karena dibilang thagut. Mati dalam dinas, hanya ada penghargaan kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi dan orang-orang yang berkabung sesaat untuk kemudian melupakannya karena sudah kembali dalam rutinitas masing-masing.

Ada juga orang-orang yang hidup di pusaran konflik. Setiap hari mereka mendengar desingan peluru dan runtuhan rumah akibat rudal dari pesawat musuh. Mayat-mayat dengan anggota badan tidak utuh adalah pemandangan jamak yang mengiris hati. Kekurangan sandang, pangan dan papan. Pindah dari satu negara ke negara lain. Menumpang perahu mengarungi lautan namun tumpas di pusaran air. Dianggap teroris, dirusak kehormatannya, menyaksikan anaknya ditiduri tentara dan orang tuanya dipenggal di alun-alun kota. Dari Afrika Tengah, Palestina, Siria, Banglades, Papua, Aceh, Amerika dari masa lampau hingga hari ini dan di masa depan sampai kedatangan sang mesiah.

Namun, orang-orang memilih untuk melupakan itu semua. Maka dicarilah pengalih dengan dalih agar mental tidak berubah gila. Acara musik, film, alkohol, rokok, ganja, seks bebas, novel, jalan-jalan, foto, instagram, olahraga dan hal-hal lain menjadi ladang bisnis industri moderen.

Jika boleh berandai-andai. Seandainya pengetahuan tentang penderitaan yang berlangsung saat bumi bagian barat disinari cahaya dan bumi bagian timur diliputi kegelapan, dari masa lalu, hari ini, hingga masa yang akan datang, tersingkap secara sadar maupun tidak sadar atas kuasa ilahi maka tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang sanggup tertawa lepas walau hanya sesaat.

Kamu banyak tertawa dan jarang menangis,

Dan kamu lengah darinya.

Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Allah.

(Tiga ayat terakhir Q.S. An-Najm)

Ferry Fadillah. September, 2017.

, , ,

Leave a comment

Kenapa kami tidak pergi jauh waktu itu?

Sabtu, minggu adalah waktu senggang yang selalu datang. Tapi ketika hari itu hadir kami hanya bisa duduk termangu. Apa yang harus kami lakukan? Mondar-mandir sekitar masjid, kantor dan pantai adalah kegiatan yang jamak. Maka, saat ayam berkokok di senin subuh hadirlah penyesalan. Kenapa kami tidak pergi jauh waktu itu?

Berpergian adalah ritual mingguan. Orang-orang pergi berjejalan di pusat belanja, taman kota atau pusat atraksi. Mereka membawa keluarga, kerabat atau pacar. Semakin mereka pergi jauh, semakin mereka berkonsumsi, semakin cepat uang berputar dari mereka kepada produsen barang dan jasa. Perekonomian tumbuh. Begitu harapan pemerintah.

Macetnya jalan, tumpah ruah pedagang musiman, polusi udara, sampah plastik adalah sampingan dari ritual mingguan itu. Tapi itu semua bukan masalah besar. Tujuan mereka adalah datang menuju pusat-pusat itu. Berfoto ria dengan gawai terkini. Mengunggah potret bahagia atau yang seolah-olah bahagia di media sosial dan begitulah mereka bereksistensi. Aku berfoto maka aku ada!

Pemerintah juga tidak ambil pusing. Rasio meningkatnya volume kendaraan bermotor dibanding ruas jalan bukanlah data yang menarik. Pusat-pusat wisata baru dibuka, pantai-pantai diberi jalan yang mulus, warung-warung diberi tempat, promosi disebarkan besar-besaran. Wisatawan berjejalan datang. Dengan bus, mobil, motor. Memenuhi ruas jalan, memadati lalu lintas, polisi bertambah waktu lembur, dan pemerintah menambah pundi-pundi pajak. Dari restoran, dari hotel dari perdagangan, dari jasa perjalanan.

Mungkin bagi mereka. Tidak apalah tanah pertanian susut. Toh hasil tani bisa dibeli dari pulau lain. Tidak apalah kota menjadi padat, toh semakin banyak pengunjung, semakin makmur para warga.

Nosstress, band indie asal Bali yang giat menentang reklamasi teluk Benoa, pernah menulis sebuah lirik bagus untuk mengkritisi kota tempat mereka tinggal:

Lirik Lagu Ini Judulnya Belakangan

Bali aku tinggal sebentar ya,

aku mau ke Jogjakarta

aku mau nyanyi seperti biasanya

Bali aku pergi sebentar ya,

pergi dari jalanmu yang mulai macet

mulai nggak nyaman, mulai…

Bali aku pergi sebentar ya,

pergi dari pantaimu yang katanya indah

yang disekelilingnya berdiri hotel megah, wah

Bali aku pergi sebentar ya,

pergi dari alammu yang katanya asri

asri sebelah sana, eh sebelah sini enggak

Esok ku kembali semoga

esok ku kembali semoga pemimpin menambah prestasi

bukannya menambah BALIHO

Esok ku kembali semoga

esok ku kembali semoga

beton tak tumbuh lebih subur daripada pepohonan

uuuiiuuuuu,,,,uiuu,,,,

Apakah hanya Bali yang perlu dikritisi, bagaimana dengan Bandung, Jabodetabek, Priyangan Utara, Priyangan Selatan, Tengerang Selatan, Surabaya dan kota-kota lain yang semakin bergeliat untuk tumbuh. Mencampakan pertanian dipunggung mereka dan memandang perdagangan dan jasa sebagai sebuah jalan menuju kemakmuran. Apakah mereka kira bisa melawan modal besar yang masuk perlahan-lahan ke dalam kota mereka. Menaikan harga lahan, mengubah pola hubungan sosial dan mencampakan putra daerah sebagai petugas-petugas jaga perusahaan besar di tanah mereka sendiri.

Kenapa kami tidak pergi jauh waktu itu?

Sebenarnya kami tidak menyesal. Kami hanya enggan untuk tumbuh. Kalau ternyata pertumbuhan itu menghancurkan kami dari dalam. Yang kami butuhkan adalah kesejahteraan. Cukup sandang, pangan, papan. Cukup ruang dan waktu. Cukup tenaga untuk berkerja sama, bahu membahu saling membantu, berkesenian dan mengunjungi kerabat.

Bungkus saja modal besarmu, gedung-gedungmu, hotel-hotelmu, bawa itu pergi jauh-jauh. Kami butuh bumi yang dulu, yang suci lagi telanjang, bukan manusia dengan pakaian, yang haus akan kuasa.

Ferry Fadillah. Kuta, 23 September 2017

 

Leave a comment

Bunuh Diri

httpwww_esquire_co_ukBaru-baru ini, beredar di jejaring Whatsapp, dua orang wanita muda terjun bebas dari apartemen mewah di Kota Bandung. Perekam video waswas sambil terus melantunkan kalimat ilahiah. Diduga, keduanya memiliki masalah kejiwaan.

Beberapa bulan sebelumnya, pukul sembilan malam, di depan toilet Terminal Kampung Melayu, Ahmad Sukri meledakan bom panci rakitan yang dibawanya di dalam ransel. Satu polisi tewas di tempat. Dua polisi meninggal di rumah sakit. Sukri adalah salah satu jejaring ISIS di tanah air.

Tahun lalu, selepas ceramah Ustadz Evi Efendi di Masjid Al-Latif, seorang pemuda memberikan persaksian. Pernah dirinya dirundung setumpuk masalah. Diputus kekasih, dipecat atasan, dijauhi keluarga. Baygon dengan campuran porselin muncul sebagai solusi. Untung mati belum teraih. Tuhan masih memberinya kesempatan.

Menurut Emile Durkheim (1858-1917), bunuh diri tidak dipengaruhi oleh individu, tetapi fakta sosial yang meliputi moralitas, kesadaran kolektif, representasi kolektif dan arus sosial. Fakta sosial bisa diteliti secara empiris-objektif sedangkan pilihan individu terlalu subjektif.

Konsekuensi dari pemikiran ini, Durkheim menampik faktor bunuh diri para peneliti sezamannya. Seperti bunuh diri akibat pengaruh alkohol, ras dan keturunan, faktor alam dan imitasi. Di dalam bukunya Suicide, ia membantah semua faktor itu dengan semangat positivisme dan fungsionalisme.

Di dalam bukunya itu, Durheim menjelaskan bahwa bunuh diri disebabkan oleh ketidakseimbangan integrasi dan regulasi di dalam faktor sosial. Integrasi yang terlalu rendah menyebabkan bunuh diri egoistik. Sebaliknya, integrasi yang tinggi menyebabkan bunuh diri altruistik. Begitu juga dengan regulasi. Tingginya regulasi menyebabkan bunuh diri fatalistik, sedangkan rendahnya regulasi menyebabkan bunuh diri anomik.

Dalam kasus seorang pemuda yang meminum baygon, setelah dirundung masalah ia lebih memilih menarik diri dari pergaulan. Baginya ia bukan lagi bagian dari masyarakat dan masyarakat bukan lagi bagian dirinya. Pada saat itulah perasaan kecewa, depresi dan kesedihan muncul. Maka kasusnya disebut bunuh diri egoistik.

Sebaliknya, saat pertalian individu dengan sebuah kelompok terlalu tinggi, maka seseorang dapat meniadakan diri demi kelompoknya. Harapannya adalah sebuah alam ‘sana’ yang lebih indah dan menawarkan kebahagian sepanjang masa. Hal seperti ini terjadi dalam kasus bunuh diri atas nama agama seperti yang dilakukan gerombolan ISIS atau harakiri dalam kebudayaan Jepang.

Dalam faktor sosial berupa regulasi juga hal tersebut dapat terjadi. Saat terjadi depresi ekonomi, kebutuhan hidup begitu sulit atau seorang buruh migran yang diperlakukan dengan biadab. Maka bunuh diri fatalistik dapat menjadi pilihan. Sebaliknya yang akhir-akhir ini pada seorang musisi. Ketenaran diraih, kekayaan digapai, kebebasan gaya hidup menjadi kebiasaan.  Tapi kemudian ia kehilangan makna hidup. Maka bunuh diri anomiklah yang terjadi.

Emile Durkheim dalam teorinya ini benar-benar membuat penyangga yang kaku antara pilihan individu dan faktor sosial. Hal ini lumrah melihat kepercayaan filsafatnya yang positivistik dan fungsionalistik.

Santi Marliana, Mahasiswa Universitas Indonesia jurusan Filsafat, dalam skripsinya berjudul Bunuh Diri Sebagai Pilihan Sadar Individu: Analisa Kritis Filosofis Terhadap Konsep Bunuh Diri Emile Durkheim membantah teori Durkheim. Ia menggunakan Teori Eksistensialisme Jean Paul Sartre dan sosiologi Max Weber untuk membantah Durkheim. Menurutnya, manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih karena manusia memiliki kesadaran atas konsekuensi pilihannya. Seseorang yang bunuh diri tentu secara sadar mengerti akibat dari pilihannya. Keputusannya tidak semata-mata merupakan konstruksi faktor sosial.

Sebenarnya, antara pilihan individu dan faktor sosial memiliki tali temali yang saling mempengaruhi. Semua memang berasal dari faktor sosial yang membentuk alam berpikir masyarakat. Suprastruktur menentukan infraksturktur dalam bahasa Marxian. Namun, masalahnya sekarang bukanlah apa mempengaruhi apa. Tapi sebuah solusi konkrit untuk menekan angka bunuh diri di negeri ini.

Agama, yang akhir-akhir ini hadir sebagai mata air yang diperebutkan, bisa menjadi solusi ampuh. Agama menghadirkan dimensi lahir-batin dengan kekayaan pemikiran dan ritual yang tidak pernah lekang oleh waktu.

Masalahnya timbul, ketika agama hanya dipahami dengan pendekatan normatif-politis. Alih-alih, memunculkan ketenangan dan kedamaian, pada titik ekstrim pendekatan ini akan memunculkan pengantin-pengantin bom bunuh diri yang siap mengancurkan para kafir dan thagut.

Ada dimensi esoteris dari agama yang kerap terlupakan. Ada penyucian jiwa dan pengembangan intuisi dengan seni dan ritual yang dianggap sesat. Sebagian pemuda hijrah yang gandrung agama hari ini sibuk dengan hukum dan menghukumi. Begini benar, begitu salah. Ini salaf, itu murtad. Padahal harusnya mereka memahami agama beserta dimensi spiritualnya. Harapannya mereka menjadi oase di tengah kehidupan yang akhir-akhir ini depresif bukan malah menjadi penyulut bara dalam sekam yang sudah muram.

Semangat mencari pemahaman universal atas agama juga bisa menyumbang permasalahan serupa. Mereka cenderung berfikir bahwa sistem yang sesuai dengan tafsiran kelompoknya akan menuntaskan setiap permasalahan, tanpa kecuali. Tafsir-tafsir itu harus sesuai dengan garis politik pendiri partainya. Disebarlah brosur di masjid, direkrutlah pemuda universitas. Pekik perubahan disuarakan dijalanan. Semua kebijakan pemerintah jadi serba salah. Niat luhur untuk mengubah yang diluar tapi mungkin lupa untuk melihat yang di dalam.

Kini, saatnya, dalam beberapa hal, agama ditarik ke arah individu. Setiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda dalam mengarungi samudra agama yang begitu luas. Begitu juga dengan permasalahan dan kesukaran yang dihadapi manusia berbeda dengan manusia lainnya.

Seorang ibu rumah tangga yang dihimpit hutang oleh para rentenir belum butuh kajian pergerakan Islam. Seorang pemuda yang kesepian belum butuh kajian fiqih empat mahzab. Seorang pekerja yang ditindas atasannya belum butuh ceramah pernikahan. Biarlah agama berbicara bagi permasalahan mereka masing-masing. Keluar dari universalitas menuju keragaman partikular yang pluralistik. Tantangan agama kini bukanlah mewujudkan negara adidaya lintas bangsa seperti ribuan tahun silam, tapi menjadi penyejuk bagi jiwa-jiwa yang resah.

Semalam, diriku seorang yang pandai dan aku berhasrat mengubah dunia. Hari ini, aku seorang yang bijaksana dan aku mau mengubah diriku sendiri, -Jalaludin Ar-Rumi-

 Ferry Fadillah. Kuta, 27 Juli 2017.

***

sumber gambar: http://www.esquire.co.uk

, , , , ,

2 Comments