Posts Tagged cinta

Percintaan dan Persahabatan

Sulit bagi manusia untuk mejelaskan emosi-emosi yang terjadi pada jiwanya. Kita hanya bisa menjelaskan dengan perumpamaan-perumpaan yang justru menjauhkan penjelasan itu dari keadaan yang sebenarnya. Jelasnya, butuhkah perumpamaan-perumpamaan untuk menjelaskan segala gejala emosi?

Persahabatan. Percintaan. Dua entitas yang menjadi buah bibir manusia muda. Selalu berkembang dalam berbagai produk budaya : sastra, film, musik, drama bahkan agama. Keduanya memiliki daya magnet yang memikat; mungkin saya salah, namun, kini energi anak muda hanya terbatas kepada dua entitas tersebut. Untungnya, mereka dapat mengemas dengan semenarik mungkin, hingga, bisa jadi, kita lupa, bahwa produk budaya kini hanyalah pengulangan belaka.

Alih-alih seorang rasional yang berusaha menghindari kedua entitas tersebut mereka malah terjebak didalamnya. Persahabatan dan Percintaan bukanlah sesuatu yang irasional, namun sesuatu yang melampaui rasio, kita tidak mungkin menjabarnya dalam rumusan-rumusan.

Dalam satu titik, manusia sering merasakan tarik menarik antara keduanya. Tarik menarik yang begitu keras sehingga bisa meremukan sang pemilik jiwa : putus asa, rasa dihianati, putus cinta. Namun, seperti para sufi, begitulah hidup, dengan segala sukha dan dukha. Dalam percintaan dan persahabatan sukha dan dukha adalah hal yang niscaya.

Sebenarnya, sikap kita yang harus diutamakan dalam menanggapi hal ini. Sikap tidak melekat terhadap emosi. Bukan berarti kita menjadi robot tanpa jiwa dan emosi. Tapi menyeimbangkan kemanusiaan dan kerobotan kita adalah salah satu cabang dari kebahagiaan.

Ferry Fadillah
2 Juli 2013

 

,

Leave a comment

Oceh Saya Tentang Novel Cinta

Pada suatu malam, saya bersama dua orang rekan kerja berbincang mengenai novel populer di zaman SMA. Dengan mata berbinar, rekan saya menceritakan novel-novel yang menarik minat mereka berikut pengarang dan respon pembacanya pada saat itu. Mendengarkan itu semua, saya heran, kenapa saya tidak dapati hal yang sama di zaman yang sama? Kemana saya? Hasil kontemplasi lebih lanjut dan melihat kembali koleksi buku ketika SMA, saya tertawa sendiri, ternyata koleksi buku saya didominasi filsafat, sosial politik, dan budaya. Untuk ukuran anak remaja, itu semua merupakan tema keaksaraan yang sangat dihindari dan ditakuti!

Diam-diam saya tertarik oleh novel yang dibincangkan malam itu, sebuah novel remaja karya Esti Kinasih, Dia, Tanpa Aku. Saya mencoba menghilangkan semua praduga mengenai dunia novel remaja yang penuh kelebayan. Lembar demi lembar saya nikmati dan ternyata saya menikmati novel itu! Walaupun ada beberapa hal yang perlu dikoreksi karena tidak sejalan dengan rasio, namun saya coba memaafkannya dengan berbicara dalam hati : ini fiksi bung!

***

Berjalan-jalan ke toko buku sudah seperti ekstasi yang tidak dapat dilewati. Saya melihat toko buku sebagai sebuah surga keberaksaraan, sayang perlu modal untuk menikmati itu semua. Terkadang, tanpa modal, saya hanya berjalan-jalan dan melihat buku yang sekiranya menarik.

Awal bulan oktober saya berkunjung ke sebuah toko buku di Denpasar. Ada tumpukan buku yang menarik hati saya. Kovernya sangat berwarna, ada empat orang dengan jenis kelamin yang berbeda berada di atas perahu kertas berwana merah. Saya ambil dan membaca judulnya : Perahu Kertas karya Dee. Sungguh, ketertarikan untuk membaca novel semacam ini merupakan sebuah keajaiban dalam hidup saya, namun karena ada rasa ingin tahu akhirnya saya mengambil buku ini dan langsung menuju kasir.

Tiga malam saya membaca novel populer tersebut. Responnya sama, saya menikmati setiap adegan yang digambarkan melalui kata-kata, perasaan saya bisa penulis campur adukan, putar balikan, sedih senangkan, hebat! Namun, ada beberapa hal yang kurang sreg, entah apa, mungkin saja saya yang anti kisah romantis, mungkin juga karena pradugaan awal saya yang mengkategorikan novel remaja populer sebagai novel lebay.

***

Mihali Csikszentmihalyi, di dalam The Evolving Self : A Psychology for Third Millenium, mengembangkan pemikiran yang menarik, tentang bagaimana perkembangan informasi mempengaruhi perkembangan diri. Csikszentmihalyi menggunakan istilah meme (baca: mem) untuk menjelaskan unit informasi budaya, yang berkaitan dengan istilah gen sebagai unit informasi genetik pada makhluk hidup. Istilah meme digunakan untuk membentuk manusia. Meme diciptakan secara sengaja dan sadar oleh manusia untuk satu tujuan tertentu. Akan tetapi sekali meme menjadi eksistensi, ia mulai bereaksi dan mentransformasikan kesadaran penciptanya dan manusia lainnya yang berhubungan dengannya (Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Diliipat : Tamsya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan)

Hubungannya apa dengan novel percintaan? Seperti meme, novel percintaan memproduksi meme cinta, sehingga ia mulai menggiring pikiran setiap orang untuk men-‘cinta’-kan segala hal, misalnya film layar lebar tentang cinta, serial televisi tentang cinta, komik tentang cinta, reality show tentang cinta, hubungan sosial tentang cinta, karya ilmiah tentang cinta, puisi tentang cinta, lagu tentang cinta dan seterusnya. Jadi, meskipun pada awalnya meme dibentuk oleh manusia , ia mulai berbalik dan membentuk pikiran itu sendiri.

Faktanya memang seperti itu bukan? Remaja di indonesia dimanapun dan kapanpun (sepengetahuan saya) selalu menjadikan cinta sebagai topik yang tidak ada habisnya untuk diperbicangkan. Variasinya berbeda tetapi meme asalnya sama : cinta!

Penyebaran meme cinta memang tidak bisa disalahkan melalui produksi novel semata. Novel hanyalah salah satu ‘rekan’ penyebaran, selebihnya ada media audio, visual, maupun audi-visual yang memiliki daya sebar masif dan cepat sehingga mengurangi daya kritis masyarakat untuk memilah mana yang berguna dan mana yang tidak.

Akibat fatal dari meme cinta yang mulai menghegemoni pikiran anak muda di tanah air adalah makin sulitnya ditemukan anak muda yang berkesadaran tinggi untuk melayani sesama, bangsa dan negara. Sulit menemukan relawan-relawan yang bersedia berbakti di bidang pendidikan mengajar di tempat terpencil, sulit menemukan relawan yang bersedia berbakti di bidang kesehatan membuka praktik di daaerah sulit akses. Walaupun ada, mereka semua tidak sebanding dengan jumlah pemuda indonesia yang jumlahnya jutaan itu!

Dalam tulisan ini, bukan berarti saya adalah orang yang anti cinta. Tetapi saya khawatir jika cinta sudah menguasai alam pikir kita semua, apa iya masih ada ruang untuk memikirkan sesuatu yang lebih mulia, yang transenden. Maka dari itu tepat jika saya kategorikan cinta menjadi dua, cinta yang bermuara kepada imanensi (yang dibahas dalam tulisan ini), dan cinta yang bermuara kepada transdensi.

Novel-novel cinta sejauh yang saya tahu hanya menggiring para remaja menuju wujud cinta yang bermuara kepada imanensi. Misalnya, pacaran, ungkapan cinta, puisi cinta dan sebagainya. Maka dari itu jangan heran jika anak-anak remaja selalu galau dan galau dalam perjalanan hidup mereka. Padahal usia produktif seperti itu bisa dibentuk menjadi lebih baik dengan stimulus kebudayaan, kearifan lokal, agama dan moralitas.

Akhir kata, sebelum ide dalam tulisan ini melebar saking banyaknya hal yang menjadi buah pikiran saya selama ini. Dengan hormat saya mengajak pembaca untuk mulai kritis menikmati komoditi budaya (novel dsb) yang disebarkan melalui citra kepopuleran. Semoga dengan kekritisan itu, meme cinta tidak akan menguasai pikiran kita, sebaliknya kita lah yang secara dominan menguasa meme cinta.

Semoga pikiran kita terserahkan. Amieen.

Ferry Fadillah
Denpasar, 20 Oktober 2012

, , , , , , , , , ,

Leave a comment

Cemburu, Kisah, dan Pencerahan

Pernahkah anda mendengar kata cemburu ? Pernahkah anda menemukan maknanya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ? Untuk pertanyaan pertama saya yakin bahwa anda sudah pernah mendengar kata cemburu, bahkan sering, entah itu di sekolah, dapur, kantor, supermarket, pasar, jalanan, televisi, radio, surat kabar atau rumah. Untuk pertanyaan kedua saya rasa anda tidak perlu mengubrisnya, mengapa ? karena cemburu adalah sebuah perasaan yang timbul karena sebab-sebab tertentu dan musabab-musababnya pun bisa beragam. Sehingga jika cemburu diartikan secara otoriter oleh sebuah definisi, makna cemburu tersebut akan mengotak dan mengecil serta menghilangkan sisi-sisi ‘kebatinan’ nya.

Saya pernah cemburu, dan mungkin juga anda, khususnya mereka yang sedang berkobar hati asmara di dalam dadanya. Berawal dari rasa cinta yang mengakar kuat dalam hati seseorang ke dalam hati kekasihnya. Berawal dari rasa sayang yang melimpah dari hati seseorang ke dalam hati kekasihnya. Berawal dari keinginan untuk melindungi sang kekasih dari segala macam gangguan di manapun juga. Dan keinginan untuk memiliki sang kekasih agar menjadi tempat bersemayam cintanya merupakan serantaian faktor kecil dari sebab-sebab cemburu. Sebagai gambaran mari simak kisah di bawah ini.

***

Pada suatu hari yang damai di Kota Tasikmlaya, hiduplah seorang gadis cantik nan soleh. Rambutnya hitam lurus, matanya bulat bersinar, dan kulitnya begitu putih sehingga tidak dapat dibedakan dengan beningnya air di situ ciburuy. Ia kuliah di sebuah universitas swasta terkenal di kotanya, hampir semua orang mengenal dirinya, bukan saja karena cantik tapi karena mudahnya ia bergaul dan bersinarnya nama dia di gelanggang silat se- tasikmalaya.

Mahasiswa disekitar kampus tidak pernah melihat ia berduaan dengan lelaki, kalau pun ia bermain, ia akan pergi dengan jumlah lelaki dan wanita yang seimbang untuk menjaga syak wasangka penduduk tasikmalaya. Tentu saja hal ini memberikan sinyal yang bagus bagi para lelaki yang membutuhkan kasih sayang seorang wanita, sebodoh apapun orang jika melihat hal ini akan langsung menebak bahwa ia itu jomblo alias singgle. Padahal faktanya wanita cantik itu sudah memiliki seorang kekasih yang begitu mencintainya, walaupun sering putus-nyambung, tapi cinta sang lelaki tidak pernah luntur bak cinta seorang ibu kepada anaknya. Sayangnya kekasihnya tidak se-kota dengannya, ia sedang merantau ke pulau batam, seperti lagu darso : unggal malam mingguan, mojok via sms-an, kurang lebih begitulah hubungan wanita jelita tersebut dengan kekasihnya.

Detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam berganti hari. Pada hari jumat kliwon, diadakan pertandingan silat putri untuk memperebutkan piala bergilir Galuhwangi Cup. Semua orang begitu antusias untuk menyaksikan dan berpartisipasi di di dalamnya. Termasuk sang wanita jelita tersebut. Sudah jauh-jauh sebelumnya ia mempersiapkan diri untuk mengahadapi pertandingan ini. Sepulang kuliah ia berlatih, setelah berlatih ia berlatih lagi dan setelah istirahat ia berlatih lagi. Alhasil, hanya dalam beberapa detik saja ia dapat melumpuhkan lawannya. Pada hari itu ia telah mengalahkan empat belas peserta, dan untuk menjadi seorang juara ia perlu mengalahkan sepuluh oraang lagi. Pertandingan pun dilanjutkan besok untuk memberi peluang istirahat kepada para pesilat.

Anehnya, Sang putri cantik trah tasikmalaya ini tidak istirahat, ia masih saja bertanding bersama beberapa temannya di gelanggang tanding tersebut. Lama ia berlatih sampai-sampai ia tidak menyadari kehadiran sorang pesilat lain yang duduk di bangku penonton memperhatikan kelihainnya bersilat sedari tadi. Saat latihan akan usai, lelaki itu masih saja berdiri di bangku penonton, teguh, tidak bergoyang laksana pohon beringin di hutan sancang. “Ah, ia hanya ingin mencontek metode latihan perguruan kita!“, gumamnya dalam hati. Ia pun menyudahi latihan tersebut, dengan memberi salam hormat kepada kawan seperguruan lain.

Setelah berganti pakaian. Ia bergegas pulang menuju sepeda motornya. Tiba-tiba saja ia terhentak kaget, seorang pria yang tidak asing lagi pernah ia lihat sudah berdiri di sepeda motornya. “Oh! Ia kan lelaki yang tadi menunggu di bangku penonton, ada apa berdiri di sepeda motorku?” tanyanya dalam hati.

“Hei, kamu yang di sana. Boleh kenalan gak?”, tanya lelaki itu tanpa basa-basi.

“Sa-sa-ya.. Boleh. Nama saya Putri. Putri Dyah Citraresmi”

“Owh nama yang indah. Nama saya Farid Hidayat, asli Malabar. Hehe. Bisa minta nomor kamu gak”

“Buat apa ?”

“Ya buat nambah temen aja, boleh kan”

“Ehhhhmm… ok deh. Ini nomorku 085624788922”

“Owh terima kasih yah, kamu mau kemana nih ?, dengan menggosok-gosokan jari telunjuk ke hidungnya ia bertanya.

“Mau ke rumah, capek habis latihan. Klo begitu aku pamit dulu yah”, dengan muka tanpa ada syak wasangka sedikit pun putri naik ke motor bebeknya dan melaju motornya menuju rumahnya.

“yessss!!!! Aku dapat nomor cewek itu, gerbang emas telah terbuka, tinggal pendekatan nih. Biasana mah hararese euy menta nomor telepon teh”, dengan wajah sumringah si lelaki  kembali ke parkiran mobil dan mengendarainya menuju arah selatan.

***

Ketika hampir sampai di rumahnya, putri di telepon sang kekasih. Seperti biasa, sang kekasih menelopon untuk mendengarkan suara putri yang katanya dapat menyembuhkan jiwa dengan belitan rasa kangen.

“Hei, put kemana aja gak ada kabar”

“Tadi latihan, ay. Cape banget abis tanding langsung latihan”

“Owh gitu, istirahat atuh”

“Iya ini udah deket rumah kok. Eh, ay. Tadi ada cowo ngajak kenalan aku, aku kasih aja nomor aku”

“loh kok gitu !”, sang lelaki tercengang mendengarnya. Lalu putri pun menceritakan sedetail mungkin pertemuannya dengan seorang benih penyakit bernama Farid itu. Entah mengapa perasaan sang lelaki mendadak berubah aneh. Serasa ada batu kali menimpa hatinya, serasa ada juntaian api menjilati pipinya, merah padam dibuanya, entah karena amarah entah karena apa. Siapapun yang melihatnya akan menyangka ia sedang bertikai dengan kekasihnya.

“Kok diem, ay. Dia cuman mau kenalan doang kok. Jangan marah yah. Yah yah yah”

“Bukan gitu, orang kaya gitu sih jelas ngincer kamu, tapi kamu enteng aja ngasih nomor hp kamu, aku gak marah dan gak akan marah.Toh kamu udah gede bisa membedakan mana yang bener dan mana yang kebelinger”, dengan nada rendah ia membalas pertanyaan putri, “ya sudah kamu tidur sana gih”

“Ya udah deh, aku juga cape, ay. Tau gitu aku gak ngasih nomor hape ak”

“Udah gak usah di bahas, aku cemburu doang kok. Wajarlah aku kan sayang kamu, kalo gak sayang mana ada cemburu. Night ya..”

“Night ay..”

Perbincangan di telepon sudah berakhir. Putri ternyata sudah sampai di depan rumahnya. Ia memasukan motormya ke dalam rumahnya, mandi, sholat dan bergegas tidur di kasurnya yang amat empuk.

Di lain sisi, kekasih putri sedang gusar. Ia selalu memikirkan lelaki bernama farid itu, tampak angkara murka menyesaki dadanya, seperti ada keinginan untuk terbang langsung ke tasikmalaya dan menggantung hidup-hidup hama bernama farid. Tapi setelah kegusaran itu melanda sampai-sampai ia memotong  jam tidurnya, ia pun tersadar akan semua keodohannya itu. Ia pun akhirnya berserah diri kepada Sang Kuasa terhadap apapun yang nanti terjadi antara ia dengan kekasihnya, Putri Dyah Citraresmi.

***

Dari kisah diatas, dapat dilihat bahwa gara-gara si putri didekati lelaki bernama farid maka kekasih putri cemburu. Tentu ini hanya awal api cemburu dari untaian api cemburu lainnya. Jika si farid sering menghubungi si putri tentu kekasih putri akan cemburu lagi. Jika ternyata si putri mempertahankan dan membela farid dengan dalih berteman maka kekasih si putri akan cemburu lagi. Begitulah tanpa kesudahan. Sialnya lagi, jika sepasang kekasih tersebut terpisah jarak yang jauh, maka siapa tahu apa yang terjadi dan bagaimana nanti jadinya. Yang ada cemburu, syak wasangka, dan amarah.

Pernah saya membaca kalimat pencerahan untuk permasalahan ini. yang kurang lebih isinya begini.

Jika anda cemburu dikarenakan kekasih anda dekat dengan lelaki lain, maka biarkanlah. Itu merupakan cobaan baginya, sampai mana letak kesetiaannya. Jika ia tidak tergoda, maka ia adalah calon pendamping mu yang akan membahagiakan mu selamanya. Jika ia tergoda, maka ia tidak lebih dari kulit musang busuk yang harus di buang jauh-jauh. Berfikir postiflah, jika ia tergoda oleh lelaki tersebut dan anda  stress dibuatnya maka andalah yang bodoh, mengapa ? mana ada seorang lelaki yang memilih istri yang ternyata nantinya akan meninggalkan dirimu dan anak-anakmu dengan ketersakitan : tergoda oleh suami orang lain.

Ini hanya pendapat seorang pencerah, bagaimana dengan pendapat anda ?

Ferry Fadillah. 16 Oktober 2010. Di Kota Patriot.

,

Leave a comment

Aku tidak tahu apa ini!

Aku tahu hari ini aku tidak bersedih, setelah serantaian kata-kata indah yang menghujam qalbu ku. pedih. tapi tiada bulir air mata yang mengalir dipipiku. mematung bisu dan merengek dalam keheningan.
Aku coba kembali kepada Tuhan ku, yang telah menjanjikan kedamaian dan ketentraman. Hanya jika, aku kembali menemuinya. Diatas sajadah dan mushaf-mushaf suci berbahasa langit.
Berangsur-angsur harapan baru mulai datang. Memperbaharui kenangan pahit yang memilukan. Menjadi sebuah gudang hikmah akan makna perpisahan.
Namun kehidupan tidaklah semulus rencana manusia. Mereka yang merasa dirinya paling benar senang sekali menduga-duga. menerka-nerka. seolah mereka adalah Tuhan, seolah mereka adalah malaikat, seolah mereka adalah Nabi. Padahal tidak lebih dari seonggok daging kusam yang dipenuhi nafsu kegelapan. lidahnya tidak terjaga, menghujam begitu saja. berulang-ulang, masuk ke dalam relung hatiku yang paling dalam.
di saat semua ketenanganku telah terbangun. kegusaran mulai kembali datang.
mana kekasihku?
mana sahabatku?
mana ibuku?
mana ayahku?
sungguh seorang budak kini seolah telah ditendang halus oleh majikannya, yang ia telah setia padanya.
bagiku harapan adalah dirinya
tapi tidak ada yang pernah tahu apa jadinya

ferry fadillah. 11-okt-2010. di pulau dewata

,

2 Comments

Dua Sisi Perpisahan

Manusia dalam kehidupannya pasti akan menemukan berbagai macam permasalahan. Karena manusia memang hidup untuk menyelesaikan permasalahan, bukan kabur lalu berlepas tanggung jawab. Karena hal ini lah yang membedakan raga yang berjiwa dengan seonggok raga tak bernyawa.

Mungkin salah satunya adalah pepisahan. Terkadang orang menganggap perpisahan adalah sebuah barokah, rahmat, bahkan sebuah anugerah yang tiada tara. Jika ternyata ia berpisah dengan kesedihan, duka, lara, kedzaliman, dan kebodohan. Ia pasti akan merasa senang dalam perpisahan tersebut, mungkin berteriak kegeringan seperti seorang bocah 5 tahun yang dibelikan sepeda baru oleh ayahnya. Matanya akan berbinar penuh syukur atas terlepasnya belenggu-belenggu yang selama ini mengekang kehidupannya. Ucapan syukur akan terus terlontar dari mulutnya yang dahulu ia pakai untuk memaki-maki keadaan yang telah menistakannya dalam keterpurukan. Langkahnya akan terasa lebih ringan, dan hari-hari yang baru akan ia lalui dengan wajah ceria penuh tawa. Akan ia ceritakan kisahnya kepada sesama dan akan ia tuliskan dalam kertas putih dengan tinta emas perpisahannya itu.

Berlainan dengan hal diatas, terkadang orang menganggap bahwa perpisahan adalah sebuah bencana, kecelakaan, adzab, bahkan kutukan yang menjadi-jadi. Jika ternyata ia berpisah dengan kesenangan, keindahan, suka, keadilan, dan kecintaan. Ia pasti akan menangis teriris-iris dalam perpisahan tersebut, seperti seorang anak yang merengek tidak dipenuhi keinginannya oleh ayahnya. Matanya akan menjadi sayu, gurat-gurat rasa lelah akan tampak di wajahnya, badannya akan melemah karena berusaha keras untuk melawan kenyataan-kenyataan pahit yang menimpanya. Dalam mulutnya ia memuja Tuhan, berpasrah diri akan segalanya, tapi batinnya terus bergejolak seolah tidak percaya dengan keadaan yang ada. Langkahnya akan terasa sangat berat, hari-hari yang akan datang akan ia lalui dengan muka murung penuh kegelapan. Ia akan mematung seribu bahasa dalam keramaian, terdiam dan tertunduk, serta ia akan tuliskan dalam kertas putih dengan tinta air mata perpisahannya itu.

Perpisahan  akan menjadi sebuah yin atau yang, tergantung kepada siapa ia menimpanya. Ia bisa menjelma sebagai malaikat surga yang datang membawa air dari telaga kautsar kepada manusia yang dilanda kehausan di dunia. Ia bisa menjelma menjadi binatang buas yang kelaparan selama berbulan-bulan yang mencabik-cabik penduduk sebuah desa tanpa ampun. Apapun rupanya, apapun bentuknya, apapun wujudnya, apapun rasanya, dan apapun akibatnya  manusia hendaknya tahu bahwa perpisahan adalah nyata ketetapan Tuhan. Ketetapan yang sudah diberikan kepada manusia sebagai ujian darinya, apakah kita seorang beriman atau munafik, apakah kita sungguh-sungguh atau hanya seadanya untuk mendapatkan rahmat dari Sang Kuasa.

Ferry Fadillah
Pulau Dewata. 11-10-2010

, ,

2 Comments

10-10-10

Berjalan tak tentu arah. Melihat jalanan yang penuh dengan suka cita. Hilir mudik orang dengan kepentingannya masing-masing. Ditambah deru mesin beroda empat  membahana kelangit-langit menghilangkan suasana pagi yang tadinya sepi dan indah. Senyum sedikit tersungging di bibirnya, berseri-seri melihat keindahan pohon perindang  yang masih tersisa. Tiba-tiba ia berhenti di depan pohon angsana. Mengambil telepon genggam dari saku celananya. Lalu menghubungi sang kekasih tercinta. Rasa khawatir dan keinginan untuk sekedar mendengar lantunan suara mungil di ujung pulau sana telah membuatnya berulang-ulang meneleponnya, karena bukan sekali saja sang kekasih tidak mengangkatnya.

“Mungkin ia masih tertidur”, pikirnya sambil terus berjalan ke belokan Desa Sumerta Kelod. Belum beberapa lama ia berjalan, sms dari sang kekasih pun sampai di teleponnya. Tanpa ragu dan dengan sumringah ia langusng menghubungi sang kekasih, tidak peduli walau pulsanya sedang menipis saat itu.

Seperti biasa, ia menanyakan keadaan sang kekasih, berbasa-basi, yang intinya hanya ingin mendengar suara mungilnya. Mendengarkan dengan penuh hikmat kata-kata yang keluar dari mulut sang kekasih, karena sedari dulu ia sadar bahwa suara indah itu telah membangkitkan jiwanya. Tapi hari ini berbeda. Ia mendegarkan dengan penuh saksama, seolah sesuatu akan mengakhirinya.

Perbincangan pun dilanjutkan ketingkat yang lebih serius. Walaupun serius, ia tidak menampakan keseriusan itu. Walau hatinya gundah akan firasat-firasat buruk yang nanti akan segera terjadi, tapi ia terus berusaha tegar dan bersahaja di depan sang kekasihnya. Perbedaan sikap inilah yang telah membuat sang kekasih murka. Ia mengganggap bahwa dirinya tidak serius menghadapi masalah serius. Tak ayal, sang kekasih pun menutup teleponnya.

Berkali-kali ia menelepon kembali sang kekasih tapi tiada jawaban sedikitpun. “Mengapa teleponnya dimatikan, apa salah jika saya berusaha mencairkan suasana”,  berkata lah ia di dalam hatinya. Setelah berjalan bulak-balik dengan menggenggam telepon tanpa ada jawaban dari sang kekasih, ia pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya.

***

Rumah sang pemuda sangatlah kecil, bisa dibilang sebesar kuburan para wali yang dibanguh tempat persembahyangan diatasnya. Sepi dan sunyi. Maklum hari minggu merupakan hari yang baik untuk bersantai ria di dalam rumah, sehingga orang-orangpun tidak mengeluarkan suaranya.

Ia membuka laptopnya. Melihat-lihat tulisan yang belum sempat ia publish. Dan memberi koreksi untuk tiap-tiap katanya. Tiba-tiba saja hand phone putihnya berdering.  Sang kekasih ternyata menghubunginya.

Percakapan antara dua insan terjadi. Mulanya ia tersenyum tapi diakhir percakapan ia lebih banyak memilih diam. Pikirannya berusaha mencapai jaring-jaring telepon. Merasakan deru nafas sang kekasih dan membayangkan kehadirannya. Matanya berkaca-kaca, entah mengapa hatinya seperti ditimpa beban yang amat berat.

“Setelah seorang anak kehilangan layangannya yang lepas di pantai tadi pagi. Ia duduk termenung dibawah pohon beringin tua. Memikirkan nasib nya dan layangan tersebut. Akankah jatuh ke tangan orang lain, akan kah terbawa angin lalu hancur dibasahi air, atau akan kah kembali lagi ketangannya. Entahlah, lepasnya layang-layang pun belum jelas keadaannya. Nyata atau maya”, tuturnya kepada sang kekasih. “Entahlah”, jawab sang kekasih, “Jika sudah saatnya kita akan perjumpa lagi.

“Sukses yah kamu kuliahnya”, dengan nada lirih ia memberi selamat. “Kamu juga sukses yah” timpal sang kekasih lirih. Hening. Keduanya mengucapkan salam perpisahan dan menutup telepon.

Sang pria membaringkan badannya ditempat tidur. Memejamkan matanya. Dan membiarkan air mata menghiasi pipinya. Tampak kepasrahan telah mendarah dalam dagingnya. Dengan penuh duka ia berbicara dengan dirinya sendiri, “Kini aku sendiri, tanpa ada seorang pun yang akan sudi mendengar cerita sulit dan indah ku. Hari-hari yang dahulu aku ceriakan karena selalu terbayang wanita cantik yang nanti akan aku pinang kini telah sirna. Harapan dan realita telah menjadi satu, mengikis semangat-semangat yang tadinya mencuat. Ya Tuhan, yang jiwaku berada digenggaman Mu, kini aku berjalan dari satu Qadar Mu ke Qadar Mu yang lain, maka jadikanlah aku orang yang senantiasa ihklas”

Ia mengusapkan tangan ke wajahnya. “ Keabadian. Apakah keabadian itu ? sungguh aku telah berharap keabadian tetapi aku mendapat kehampaan setelahnya. Sungguh keabadian hanya ada pada jiwa,  jiwa suci yang nantinya akan Engkau jemput wahai Tuhan.”

Ia membuka matanya lebar-lebar. Membuka pintu rumahnya, dan melihat bunga kamboja ungu yang tumbuh di pekarangan. Angin laut yang berhembus ia hirup dalam-dalam. Tampak wajahnya kembali berseri, namun siapapun akan tahu bahwa dibalik cerianya ada suasana batin yang begitu muram.

10-10-10. Ferry Fadillah

Leave a comment

Cinta yang Memperdaya

Pacaran. Sebuah fenomena yang tidak asing lagi dikalangan anak muda. Jiwa-jiwa muda yang penuh dengan gelora cinta telah menciptakannya. Mengubah kehidupan yang dahulu sendiri dan biasa saja menjadi luar biasa dan penuh hikmah. Ambilah contoh bahwa ketika sendiri mereka tidak perlu memahami seseorang tetapi setelah berpacaran mereka mau tidak mau harus memahami seseorang. Hal ini wajib bagi mereka, jika tidak maka kehidupan akan mempersulit jiwa mereka bagi kebahagiaan.

Cinta adalah murni, suci tanpa kotoran. Tapi setan-setan sejak zaman Nabi Adam telah bersiap menghadapi hal ini. Mereka bariskan pasukannya, berpergian ke negeri-negeri dan merasuk ke dalam jiwa-jiwa yang dipenuhi rasa cinta. Alhasil, kemurnian-kemurnian tersebut pada akhirnya akan menjelma menjadi istilah yang memperdaya.

Sudah bukan rahasia umum lagi, bahwa banyak anak muda yang sering bergunta-ganti pasangan hidup. ‘Mencicipinya’ satu per satu dan berdalih belum menemukan cinta sejati. Pada saat misi kesejatian tersebut selesai, berapa belas anak manusia kah yang kehilangan kesuciannya atas nama cinta sejati tersebut ? Sungguh mengundang tawa.

Sudah menjadi langganan kisah-kisah romantis. Bahwa cinta sejati dimaknai cinta sampai mati, maka tidaklah heran jika ada dari mereka yang ditinggal pergi kekasih lantas mengakhiri hidupnya dengan cara-cara yang hina dina : mati kehabisan nafas di tiang gantung atau mati keracunan menenggak pembersih lantai. Sebelumnya pun banyak dari mereka yang menyiksa diri sendiri. Menyiksa diri karena patah hati, sakit hati maupun berpaling(nya) hati. Semua itu hanya karena dan berakibat karena kesesatan pemahaman cinta.

Begitulah sekelumit kesesatan-kesesatan cinta. Kemurnian yang memperdaya telah menjadi bencana. Istilah-istilah makin beragam memperindah sebuah hakikat yang sebenarnya buruk : bunuh diri, menyiksa diri sendiri dan mempermainkan wanita. Tapi setan tampak lebih hebat, karena cinta telah  dibuat memperdaya

Kecuali satu..

Cinta kepada Tuhan. Cinta yang tidak akan pernah diperdaya, karena itu murni dan suci. Cinta yang aslinya hinggap pada jiwa-jiwa suci ketika masih terhubung tali pusar dengan sang ibunda dan cinta yang sesungguhnya akan membahagiakan hidup dan kehidupan manusia.

semoga kita memilikinya…amin.

 

sumber gambar : klik wae didieu nya

,

3 Comments