Archive for category SOSBUD

Omongan

Omongan bisa menjadi sumber persahabatan sekaligus kebencian. Para pencinta setuju satu hal lagi, omongan bisa menjadi awal kisah kasih. Atau bagi para penjual, omongan yang baik berujung pada penjualan yang baik pula. Lain lagi bagi pegawai pemerintah, banyaknya bahan omongan berarti banyak pula rapat, sosialisasi, internalisasi yang sedapat mungkin diselenggarakan di hotel luar kota dengan fasilitas kamar dan penganan ringan setiap jam jeda.

Tapi, sedapat mungkin kita tidak membahas omongan yang bukan-bukan, yang tidak wajar di poin tersebut. Omongan yang wajar tidak memancing keributan atau merogoh kas negara. Omongan itu bisa tentang perjalanan sejak kanak-kanak, sekolah, bekerja dan beranak bini. Bisa juga tentang perasaan-perasaan selama menjalani babak hidup itu. Baiknya, omongan sejenis dibalas pula oleh pendengar. Cerita dibalas cerita. Kisah dibalas kisah. Sampai terbuka semua yang tersimpan dalam jiwa dan memori di masa silam. Jika kisah itu menarik hati maka akan terjalinlah keseruan. Dan hanya keseruan kunci persahabatan.

Tentu dalam hal omongan kita tidak bisa memaksakan diri untuk paham atau suka kepada  si empunya omongan. Itu hanya menjadikan detik per detik seperti jahanam yang terasa sangat lama dan panas. Perbincangan belum usai tapi si lawan bicara tidak habis-habis berbuih mulutnya. Maka demi waktu yang tidak akan kembali memang kita harus berani benar hilangkan budaya timur yang santun itu. Lekas saja kita tolak. Bilang ada keperluan mendadak. Dan semoga tidak lagi berjumpa dengannya.

Lain hal jika omongan itu menarik. Maka ada baiknya si empunya omongan dijaga erat-erat pertaliannya. Karena sulit mencari yang satu omongan. Semakin bertambah usia, orang sibuk dengan urusan tetek bengek pekerjaan dan rumah tangga. Maka adanya orang dengan frekuensi yang sama adalah kemewahan tersendiri. Begitulah hukum hidup. Semakin usia bertambah semakin sedikit pula yang ada di sekeliling kita. Hingga hanya raqib atid saja yang tanya jawab di dasar kubur.

Ferry Fadillah. September, 2020.

Leave a comment

Work from Home dan lainnya

Oil-Painting-4-Karen-Working-in-the-Boat

Karen working in the boat, oil on cancas, karya Rob Pointon, diakses melalui http://www.robpointon.co.uk

Saya tidak habis pikir kalau pandemi sejenis corona bisa menghentikan segala kegiatan sosial-ekonomi. Termasuk saya yang bekerja di sektor publik. Sejak diumumkan kali pertama oleh Presiden adanya klaster penyebaran corona di Indonesia. Kebijakan bekerja di rumah (Work from Home/ WFH) dimulai. Jumlah pekerja di kantor dibatasi. Utamanya hanya untuk jenis pekerjaan yang mutlak berhadapan dengan orang secara langsung. Misal dalam kegiatan pengawasan di Bandara, Pelabuhan atau menyusun kontrak pengadaan dengan perusahaan.

Di kantor, dari pukul 7.30 sampai dengan 17.00, mungkin hanya 60% jam  yang saya pergunakan untuk mencurahkan diri dalam kerja produktif. Sisanya dipakai untuk makan, berbincang, berkoordinasi atau melihat gawai demi info terkini di feed instagram. Ketika kebijakan WFH dimulai, maka ada lebih banyak waktu luang dibanding waktu produktif.

Sisi positifnya adalah kita tidak perlu pura-pura sibuk di depan kubikal saat pekerjaan kita usai demi terlihat produktif. Kondisi yang hemat saya banyak terjadi di sektor publik. Mungkin karena rekrutmen tidak sesuai analisis beban kerja, pendidikan pekerja yang tidak sesuai bidang pekerjaan sehingga hanya melakukan bussiness as usual atau memang tidak ada pekerjaan di sana namun ilmu manajemen mengharuskan adanya struktur itu. Agar lebih modern. Sesuai dengan semangat zaman.

Masalah-masalah seperti itu mulai terkuak ketika kebijakan WFH sudah berjalan hampir 3 bulan. Kalau boleh jujur, atasan langsung seharusnya bisa mengidentifikasikan: Pertama, posisi mana yang sebenarnya benar-benar harus ada dan hanya sekedarnya harus ada; Kedua, pekerjaan mana yang sebenarnya bisa diselesaikan jarak jauh melalui teknologi teleconference sehingga tidak lagi menghabiskan uang anggaran untuk perjalan dinas. Ketiga, siapa saja yang benar-benar bekerja dan siapa yang yang hanya sekedar ada seolah-olah bekerja.

Kalau Pejabat Pengelola Kepegawaian semua Kementerian dan Lembaga dapat memetakan masalah ini dan ‘membereskan’ pekerja yang tidak produktif atau tidak sesuai dengan jenis pekerjaannya maka akan ada lebih banyak anggaran negara yang dihemat. Pekerjaan akan menjadi menyenangkan.  Orang bekerja sesuai ilmunya masing-masing dan waktu yang dialokasikan untuk bekerja begitu padat sehingga pekerja tidak memiliki waktu untuk mempercayai teori bumi datar yang disebar di laman facebook.

Adanya implementasi Activity Based Working (ABW) juga menjadi menarik. Ketika proses bisnis klerikal bisa dipangkas dengan office automation dan arsip telah digitalisasi dan disimpan dalam cloud maka pekerja di sektor publik hanya membutuhkan sedikit ruang untuk bekerja. Di dalam konsep ABW ruangan pekerja dibagi mejadi beberapa klaster sesuai jenis pekerjaanya. Misalnya klaster itu dibagi menjadi ruang yang digunakan untuk pekerjaan kognitif kompleks, pekerjaan adminsitrasi sederhana, pekerjaan insidental, dan pertemuan formal maupun informal. Jadi jangan samakan ABW dengan open space. Istilah kedua hanyalah satu bagian dari konsep ABW. Harapannya pekerja dapat memilih klaster mana yang cocok digunakan untuk jenis pekerjaannya hari itu.

Tentu harus ada aturan umum yang harus membudaya agar pekerjaan di lokasi seperti itu tidak berubah menjadi kegaduhan. Bisa jadi orang-orang berebut klaster fokus karena masing-masing mengklaim memiliki pekerjaan yang memerlukan pekerjaan dengan konsentrasi tinggi. Atau kegaduhan yang timbul saat orang lebih banyak berbicara ngalor ngidul di klaster terbuka yang seharusnya digunakan untuk membahas konsep dan gagasan. Maka, memastikan hanya orang-orang yang bekerja saja ada pada ruangan itu menjadi wajib sebelum ABW di implementasikan. Kalau tidak bisa dibayangkan apa jadinya ketika kerumunan PNS penganggur berkumpul dalam satu lokasi.

Di tengah semangat perubahan ini, sebagian orang percaya bahwa tidak semua pekerjaan di sektor publik dapat dilakukan secara otomatis menggunakan teknologi informasi. Seperti yang saya jelaskan di awal tulisan. Saya percaya untuk saat ini pemikiran seperti itu benar adanya. Namun, saat para ahli telah menciptakan teknologi untuk mengatasinya maka kita harus bersiap-siap mematahkan argumen itu. Misal pengawasan di bandara udara atas lalu lintas barang yang masuk ke dalam wilayah pabean. Secara manual petugas akan memisahkan penumpang berdasarkan tingkat risiko. Ada yang diarahkan ke jalur hijau dan jalur merah. Di jalur merah petugas akan memeriksa dengan detil barang bawaan penumpang. Memeriksa barang kali ada barang bawaan yang melebihi ketentuan atau melanggar undang-undang. Sekarang bagaimana kalau teknologi X-Ray dipercanggih sehingga citraan yang timbul benar seperti citra mata. Bisa melihat detil sampai ke dalam bingkisan yang ditutup rapat berlapis-lapis. Atau pemerikaan dilakukan oleh robot yang tidak terpengaruh keputusan subjektif ketika berhadapan dengan penumpang. Maka pekerja di bidang pengawasan saat itu bisa turut melaksanakan WFH sambil memeriksa gawai memastikan sistem pengawasan di bandara bekerja sesuai algoritma undang-undang.

Apapun konsep itu, WFH, WFO, ABW dan lain sebagainya harus benar-benar diimplementasikan saat prakondisi sarana dan prasarana mendukung untuk itu. Sehingga konsep-konsep berbahasa asing itu tidak hanya menjadi keren untuk diunggah di instagram kementerian namun benar-benar memiliki dampak nyata bagi pekerja sektor publik  maupun dari segi efesiensi anggaran. Tentu rakyat tidak mau uang pajak yang dititipkannya dengan paksa kepada pemerintah dipergunakan hanya untuk gimmick belaka. Dan, yang sebenarnya harus ditakuti oleh pekerja sektor publik bukanlah mereka akan kehilangan pekerjaan saat otomatisasi terjadi, tapi pekerjaan mereka benar-benar kehilangan relevansinya.

Ferry Fadillah. Jakarta, Juni 2020.

, , , ,

Leave a comment

Multikultural

Kementerian Keuangan adalah organisasi pemerintah besar yang memilki 11 unit eselon I. Beberapa unit memiliki satuan kerja vertikal yang tersebar di seluruh Indonesia. Seperti pada Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2017 memberi isyarat adanya pola mutasi dalam jangka waktu tertentu. Sebagaimana termaktub dalam pasal 190, “(2) setiap PNS dapat dimutasi tugas dan/atau lokasi dalam 1 (satu) Instansi Pusat, antar-Instansi Pusat…; (3) Mutasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun”. Maka perpindahan pegawai dari satu satuan kerja pada sebuah kota/provinsi ke kota/provinsi lain adalah wajar belaka.

Pola mutasi inilah yang menyebabkan komposisi ras, suku dan agama pada sebuah kantor menjadi heterogen. Walaupun bekerja di daerah dengan mayoritas Islam, misalnya, sebuah satker DJBC juga memiliki pegawai yang beragama Hindu dan Kristen. Dalam setiap agenda keagamaan mereka diberi ruang dan waktu mengekspresikan penghayatan  ketuhanan masing-masing. Ini dapat dibuktikan dalam struktur pengurus pembinaan mental di DJBC yang terdiri dari komponen Islam, Katolik, Kristen, Hindu dan Budha. Keragaman agama dalam mencapai tujuan bersama organisasi ini benar-benar saya rasakan ruhnya saat bekerja di Kantor Wilayah DJBC Bali, NTB dan NTT tidak sebatas sebagai pegawai kantoran tetapi juga anggota masyarakat yang turut merasakan denyut aktivitas Pulau Dewata.

***

Akhir 2009, saya mendarat di Bali bersama Nenek dan Ibu. Itu adalah kedatangan pertama saya ke Bali. Sebelumnya saya hanya mengenal Bali dari cerita para pelancong. Mereka bilang Bali adalah kebebasan, wanita, alkohol, berhala, laut dan kemewahan. Saya mengaminkan semua itu dan menjadikanya kepercayaan.

Sejak kecil, saya biasa bergaul dengan teman yang memiliki kesamaan agama dan etnis. Agama dan kebiasaan yang terbentuk itu secara tidak sadar telah menjadi acuan kebenaran dalam memandang segala sesuatu. Maka timbul kegelisahan di dalam batin saat mengamati setiap sudut kehidupan di Bali. Semuanya hampir berbeda dengan agama dan kebiasaan asal saya. Mengapa ada banyak patung? Mengapa ada banyak sajen di jalanan? Mengapa ada dupa di pojok ruangan? Kenapa bar terbuka dan terlihat di jalan? Mengapa indekos tidak memisahkan penghuni pria dan wanita? Dan mengapa-mengapa lain yang menuntut jawaban pasti.

Bukannnya mencari jawaban dari orang Bali atau membaca buku tentang Bali, saya membatasi pergaulan hanya dengan pegawai dan masyarakat dari asal daerah dan agama yang sama. Sehingga, diam-diam saya menumpuk kecurigaan. Ide tentang negara teokrasi dengan undang-undang berbasis moral ilahiah sempat menjadi pegangan saya. Singkat pikir, hanya Islam lah yang memegang teguh sila pertama dari Pancasila. Agama-agama non monotheistik, apalagi yang memanifestasikan tuhan dalam sosok antrophormistik tidak pantas disebut pengamal pancasila yang sejati. Saya harus memurnikan Bali dari penyimpangan itu.

Hidup sebagai minoritas di Bali dengan kecurigaan seperti itu membuat hati saya sempit. Dimana-mana saya selalu menyalahkan sistem dan masyarakat. Tidak hanya kepada mereka yang berbeda agama, kepada sesama pegawai yang seagama pun namun dengan praktik ibadah yang berbeda saya kerap ribut. Zaman kegelapan itu berlangsung selama satu tahun. Untungnya, identitas itu cair, semua manusia pembelajar selalu dalam proses  menjadi.

Tahun-tahun berikutnya, saya banyak membaca filsafat. Yang paling berkesan adalah saat mendengar kuliah yang diampu oleh Prof. Bambang Sugiharto tentang  filsafat ilmu melalui DVD. Saya dijelaskan bahwa kepercayaan akan kemurnian adalah konyol. Agama itu murni dari level ilahiah namun saat ia turun ke bumi melalui para rasul dan disebar melewati ruang dan waktu akan selalu ada interpretasi terbuka yang disesuaikan dengan semangat zaman (zeitgeist). Oleh sebab itu, agama menjadi dinamis dengan tetap memperhatikan hal-hal yang prinsipil. Pikiran saya terbuka dan perkawanan dengan penganut  Hindu dimulai.

Saya menikmati perbincangan teologis dengan kawan Hindu di kantor. Ketika saya bertanya konsep ketuhanan seperti apakah yang dianut Hindu, mereka dapat menguraikan dengan rinci, sehingga saya menyimpulkan bahwa mereka pun tidak menyimpang dari sila pertama pancasila. Tidak berhenti sampai sana. Saya beberapa kali mengunjungi Pura kantor untuk melihat praktik keberagamaan mereka dan mengunjungi gereja katolik untuk memperhatikan kegiatan kepemudaan. Kunjungan itu membawa saya kepada kesadaran bahwa ada kenyataan lain tidak terbantahkan diluar praktik agama saya. Dan kenyataan itu bukan untuk ditiadakan tapi dipahami untuk mencari simpul-simpul kesamaan.

Dialog antar iman dan melihat langsung peribadatan pemeluk agama lain selama bertahun-tahun di Bali telah meningkatkan ambang toleransi . Saya tidak lagi risih dengan patung dewa-dewi yang bertebaran di setiap penjuru kota. Sajen (banten) dan dupa di sudut-sudut ruangan juga hal yang biasa. Setiap orang di setiap daerah memiliki cara menghayati pengalaman kebertuhanan mereka. Hal tersebut tidak terbatas antar agama, namun dalam spektrum satu agama. Praktik ini sangat terlihat dalam ajaran Hindu Bali yang mampu berdamai dengan mahdzab Syiwa, Wisnu dan Budha sekaligus.

Di kantor, tidak ada sekat antara dia yang Islam, dia yang Hindu atau dia yang Kristen. Semua pegawai bekerja saling tolong menolong sesuai tugas dan fungsinya.  Saat umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan,  kawan-kawan Islam dan Kristen dengan ikhlas membantu tugas pengawasan dan administrasi agar proses bisnis kantor tetap berjalan. Begitu juga ketika umat Islam dan Kristen merayakan hari raya, umat Hindu turut membantu tugas mereka di kantor. Keragaman dan kolaborasi yang dinamis inilah miniatur Indonesia dalam ikat semboyan bhineka tunggal ika.

Kebhinekaan ini sebenarnya lebih terasa diluar lingkungan kantor. Bali sebagi daerah eksotis yang terbuka sudah selama berabad-abad menerima perbedaan sebagai kenyataan. Perbedaan itu tidak saja berada dalam sekat-sekat, batas-batas yang tidak dapat dilampaui, namun mencapai titik akulturasi. Di beberapa daerah seperti Kuta dan Buleleng dapat ditemukan perkampungan muslim-bugis yang ternyata masyarakatnya dapat berbahasa Bali dengan fasih. Di Desa Adat Tuka yang mayoritas Katolik, penduduknya tetap menggunakan pakaian adat Bali saat kebaktian di katedral yang juga berarsitektur Bali. Di Ubud, gaya lukisan batuan yang khas terpengaruh aliran lukis moderen yang dibawa oleh Walter Spies dan Rudolf Bonnet. Pelukis batuan dapat memadukan gaya klasik pewayangan dan gaya miniaturis modern sehingga menghasilkan lukisan hybrid yang khas dan berkesan magis. Pada kasus ini seni tidak berhenti di titik akulturasi tapi menembus hingga titik asimilasi.

Masih banyak contoh kolaborasi antar etnis, agama, atau aliran seni di lingkungan kantor maupun kehidupan masyarakat, tidak hanya di Bali akan tetapi di seluruh daerah penempatan para pegawai Kementerian Keuangan. Kolaborasi itu secara sporadis diberi label multikulturalisme di dalam pidato para pejabat. Namun, menurut Amartya Sen dalam bukunya “Kekerasan dan Identitas” dukungan lantang terhadap multikulturalisme akhir-akhir ini sesungguhnya tak sekedar pleodoi terhadap monokulturalisme majemuk. Sen menjelaskan, “Jika seorang gadis dari keluarga imigran konservatif hendak pergi kencan dengan cowoknya yang inggris, maka jelas ada inisiatif multikultural dalam hal ini. Sebaliknya, upaya orang tua sang gadis untuk mencegah dia berkencan sulit untuk bisa disebut sebagai sikap multikultural, sebab menjaga agar budaya masing-masing tetap terpisah. Multikulturalisme ditandai dengan bauran-bauran yang interaktif antar entitas yang berbeda. Dan dalam hal ini Kementerian Keuangan berhasil mewujudkannya sehingga dapat menjadi contoh satu padunya Indonesia dalam bingkai multikulturalisme.

Ferry Fadillah, 2019.
tulisan ini dimuat dalam buku “Perekat Indonesia” terbitan Kementerian Keuangan Tahun 2019

, , , , , , ,

1 Comment

Kenapa kami tidak pergi jauh waktu itu?

Sabtu, minggu adalah waktu senggang yang selalu datang. Tapi ketika hari itu hadir kami hanya bisa duduk termangu. Apa yang harus kami lakukan? Mondar-mandir sekitar masjid, kantor dan pantai adalah kegiatan yang jamak. Maka, saat ayam berkokok di senin subuh hadirlah penyesalan. Kenapa kami tidak pergi jauh waktu itu?

Berpergian adalah ritual mingguan. Orang-orang pergi berjejalan di pusat belanja, taman kota atau pusat atraksi. Mereka membawa keluarga, kerabat atau pacar. Semakin mereka pergi jauh, semakin mereka berkonsumsi, semakin cepat uang berputar dari mereka kepada produsen barang dan jasa. Perekonomian tumbuh. Begitu harapan pemerintah.

Macetnya jalan, tumpah ruah pedagang musiman, polusi udara, sampah plastik adalah sampingan dari ritual mingguan itu. Tapi itu semua bukan masalah besar. Tujuan mereka adalah datang menuju pusat-pusat itu. Berfoto ria dengan gawai terkini. Mengunggah potret bahagia atau yang seolah-olah bahagia di media sosial dan begitulah mereka bereksistensi. Aku berfoto maka aku ada!

Pemerintah juga tidak ambil pusing. Rasio meningkatnya volume kendaraan bermotor dibanding ruas jalan bukanlah data yang menarik. Pusat-pusat wisata baru dibuka, pantai-pantai diberi jalan yang mulus, warung-warung diberi tempat, promosi disebarkan besar-besaran. Wisatawan berjejalan datang. Dengan bus, mobil, motor. Memenuhi ruas jalan, memadati lalu lintas, polisi bertambah waktu lembur, dan pemerintah menambah pundi-pundi pajak. Dari restoran, dari hotel dari perdagangan, dari jasa perjalanan.

Mungkin bagi mereka. Tidak apalah tanah pertanian susut. Toh hasil tani bisa dibeli dari pulau lain. Tidak apalah kota menjadi padat, toh semakin banyak pengunjung, semakin makmur para warga.

Nosstress, band indie asal Bali yang giat menentang reklamasi teluk Benoa, pernah menulis sebuah lirik bagus untuk mengkritisi kota tempat mereka tinggal:

Lirik Lagu Ini Judulnya Belakangan

Bali aku tinggal sebentar ya,

aku mau ke Jogjakarta

aku mau nyanyi seperti biasanya

Bali aku pergi sebentar ya,

pergi dari jalanmu yang mulai macet

mulai nggak nyaman, mulai…

Bali aku pergi sebentar ya,

pergi dari pantaimu yang katanya indah

yang disekelilingnya berdiri hotel megah, wah

Bali aku pergi sebentar ya,

pergi dari alammu yang katanya asri

asri sebelah sana, eh sebelah sini enggak

Esok ku kembali semoga

esok ku kembali semoga pemimpin menambah prestasi

bukannya menambah BALIHO

Esok ku kembali semoga

esok ku kembali semoga

beton tak tumbuh lebih subur daripada pepohonan

uuuiiuuuuu,,,,uiuu,,,,

Apakah hanya Bali yang perlu dikritisi, bagaimana dengan Bandung, Jabodetabek, Priyangan Utara, Priyangan Selatan, Tengerang Selatan, Surabaya dan kota-kota lain yang semakin bergeliat untuk tumbuh. Mencampakan pertanian dipunggung mereka dan memandang perdagangan dan jasa sebagai sebuah jalan menuju kemakmuran. Apakah mereka kira bisa melawan modal besar yang masuk perlahan-lahan ke dalam kota mereka. Menaikan harga lahan, mengubah pola hubungan sosial dan mencampakan putra daerah sebagai petugas-petugas jaga perusahaan besar di tanah mereka sendiri.

Kenapa kami tidak pergi jauh waktu itu?

Sebenarnya kami tidak menyesal. Kami hanya enggan untuk tumbuh. Kalau ternyata pertumbuhan itu menghancurkan kami dari dalam. Yang kami butuhkan adalah kesejahteraan. Cukup sandang, pangan, papan. Cukup ruang dan waktu. Cukup tenaga untuk berkerja sama, bahu membahu saling membantu, berkesenian dan mengunjungi kerabat.

Bungkus saja modal besarmu, gedung-gedungmu, hotel-hotelmu, bawa itu pergi jauh-jauh. Kami butuh bumi yang dulu, yang suci lagi telanjang, bukan manusia dengan pakaian, yang haus akan kuasa.

Ferry Fadillah. Kuta, 23 September 2017

 

Leave a comment

Bunuh Diri

httpwww_esquire_co_ukBaru-baru ini, beredar di jejaring Whatsapp, dua orang wanita muda terjun bebas dari apartemen mewah di Kota Bandung. Perekam video waswas sambil terus melantunkan kalimat ilahiah. Diduga, keduanya memiliki masalah kejiwaan.

Beberapa bulan sebelumnya, pukul sembilan malam, di depan toilet Terminal Kampung Melayu, Ahmad Sukri meledakan bom panci rakitan yang dibawanya di dalam ransel. Satu polisi tewas di tempat. Dua polisi meninggal di rumah sakit. Sukri adalah salah satu jejaring ISIS di tanah air.

Tahun lalu, selepas ceramah Ustadz Evi Efendi di Masjid Al-Latif, seorang pemuda memberikan persaksian. Pernah dirinya dirundung setumpuk masalah. Diputus kekasih, dipecat atasan, dijauhi keluarga. Baygon dengan campuran porselin muncul sebagai solusi. Untung mati belum teraih. Tuhan masih memberinya kesempatan.

Menurut Emile Durkheim (1858-1917), bunuh diri tidak dipengaruhi oleh individu, tetapi fakta sosial yang meliputi moralitas, kesadaran kolektif, representasi kolektif dan arus sosial. Fakta sosial bisa diteliti secara empiris-objektif sedangkan pilihan individu terlalu subjektif.

Konsekuensi dari pemikiran ini, Durkheim menampik faktor bunuh diri para peneliti sezamannya. Seperti bunuh diri akibat pengaruh alkohol, ras dan keturunan, faktor alam dan imitasi. Di dalam bukunya Suicide, ia membantah semua faktor itu dengan semangat positivisme dan fungsionalisme.

Di dalam bukunya itu, Durheim menjelaskan bahwa bunuh diri disebabkan oleh ketidakseimbangan integrasi dan regulasi di dalam faktor sosial. Integrasi yang terlalu rendah menyebabkan bunuh diri egoistik. Sebaliknya, integrasi yang tinggi menyebabkan bunuh diri altruistik. Begitu juga dengan regulasi. Tingginya regulasi menyebabkan bunuh diri fatalistik, sedangkan rendahnya regulasi menyebabkan bunuh diri anomik.

Dalam kasus seorang pemuda yang meminum baygon, setelah dirundung masalah ia lebih memilih menarik diri dari pergaulan. Baginya ia bukan lagi bagian dari masyarakat dan masyarakat bukan lagi bagian dirinya. Pada saat itulah perasaan kecewa, depresi dan kesedihan muncul. Maka kasusnya disebut bunuh diri egoistik.

Sebaliknya, saat pertalian individu dengan sebuah kelompok terlalu tinggi, maka seseorang dapat meniadakan diri demi kelompoknya. Harapannya adalah sebuah alam ‘sana’ yang lebih indah dan menawarkan kebahagian sepanjang masa. Hal seperti ini terjadi dalam kasus bunuh diri atas nama agama seperti yang dilakukan gerombolan ISIS atau harakiri dalam kebudayaan Jepang.

Dalam faktor sosial berupa regulasi juga hal tersebut dapat terjadi. Saat terjadi depresi ekonomi, kebutuhan hidup begitu sulit atau seorang buruh migran yang diperlakukan dengan biadab. Maka bunuh diri fatalistik dapat menjadi pilihan. Sebaliknya yang akhir-akhir ini pada seorang musisi. Ketenaran diraih, kekayaan digapai, kebebasan gaya hidup menjadi kebiasaan.  Tapi kemudian ia kehilangan makna hidup. Maka bunuh diri anomiklah yang terjadi.

Emile Durkheim dalam teorinya ini benar-benar membuat penyangga yang kaku antara pilihan individu dan faktor sosial. Hal ini lumrah melihat kepercayaan filsafatnya yang positivistik dan fungsionalistik.

Santi Marliana, Mahasiswa Universitas Indonesia jurusan Filsafat, dalam skripsinya berjudul Bunuh Diri Sebagai Pilihan Sadar Individu: Analisa Kritis Filosofis Terhadap Konsep Bunuh Diri Emile Durkheim membantah teori Durkheim. Ia menggunakan Teori Eksistensialisme Jean Paul Sartre dan sosiologi Max Weber untuk membantah Durkheim. Menurutnya, manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih karena manusia memiliki kesadaran atas konsekuensi pilihannya. Seseorang yang bunuh diri tentu secara sadar mengerti akibat dari pilihannya. Keputusannya tidak semata-mata merupakan konstruksi faktor sosial.

Sebenarnya, antara pilihan individu dan faktor sosial memiliki tali temali yang saling mempengaruhi. Semua memang berasal dari faktor sosial yang membentuk alam berpikir masyarakat. Suprastruktur menentukan infraksturktur dalam bahasa Marxian. Namun, masalahnya sekarang bukanlah apa mempengaruhi apa. Tapi sebuah solusi konkrit untuk menekan angka bunuh diri di negeri ini.

Agama, yang akhir-akhir ini hadir sebagai mata air yang diperebutkan, bisa menjadi solusi ampuh. Agama menghadirkan dimensi lahir-batin dengan kekayaan pemikiran dan ritual yang tidak pernah lekang oleh waktu.

Masalahnya timbul, ketika agama hanya dipahami dengan pendekatan normatif-politis. Alih-alih, memunculkan ketenangan dan kedamaian, pada titik ekstrim pendekatan ini akan memunculkan pengantin-pengantin bom bunuh diri yang siap mengancurkan para kafir dan thagut.

Ada dimensi esoteris dari agama yang kerap terlupakan. Ada penyucian jiwa dan pengembangan intuisi dengan seni dan ritual yang dianggap sesat. Sebagian pemuda hijrah yang gandrung agama hari ini sibuk dengan hukum dan menghukumi. Begini benar, begitu salah. Ini salaf, itu murtad. Padahal harusnya mereka memahami agama beserta dimensi spiritualnya. Harapannya mereka menjadi oase di tengah kehidupan yang akhir-akhir ini depresif bukan malah menjadi penyulut bara dalam sekam yang sudah muram.

Semangat mencari pemahaman universal atas agama juga bisa menyumbang permasalahan serupa. Mereka cenderung berfikir bahwa sistem yang sesuai dengan tafsiran kelompoknya akan menuntaskan setiap permasalahan, tanpa kecuali. Tafsir-tafsir itu harus sesuai dengan garis politik pendiri partainya. Disebarlah brosur di masjid, direkrutlah pemuda universitas. Pekik perubahan disuarakan dijalanan. Semua kebijakan pemerintah jadi serba salah. Niat luhur untuk mengubah yang diluar tapi mungkin lupa untuk melihat yang di dalam.

Kini, saatnya, dalam beberapa hal, agama ditarik ke arah individu. Setiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda dalam mengarungi samudra agama yang begitu luas. Begitu juga dengan permasalahan dan kesukaran yang dihadapi manusia berbeda dengan manusia lainnya.

Seorang ibu rumah tangga yang dihimpit hutang oleh para rentenir belum butuh kajian pergerakan Islam. Seorang pemuda yang kesepian belum butuh kajian fiqih empat mahzab. Seorang pekerja yang ditindas atasannya belum butuh ceramah pernikahan. Biarlah agama berbicara bagi permasalahan mereka masing-masing. Keluar dari universalitas menuju keragaman partikular yang pluralistik. Tantangan agama kini bukanlah mewujudkan negara adidaya lintas bangsa seperti ribuan tahun silam, tapi menjadi penyejuk bagi jiwa-jiwa yang resah.

Semalam, diriku seorang yang pandai dan aku berhasrat mengubah dunia. Hari ini, aku seorang yang bijaksana dan aku mau mengubah diriku sendiri, -Jalaludin Ar-Rumi-

 Ferry Fadillah. Kuta, 27 Juli 2017.

***

sumber gambar: http://www.esquire.co.uk

, , , , ,

2 Comments

Tumbuh

Menatap Bandung dari kejauhan seperti menyaksikan mimpi dalam tidur. Potongan-potongan masa lalu berkelindan membentuk lukisan-lukisan realis yang humoris sekaligus tragis. Ada saat tawa menjadi penganan kecil disela-sela pertemuan dengan secangkir kopi. Ada juga saat sedih menjadi mendung yang membanjiri jiwa dengan hujan air mata. Read the rest of this entry »

Leave a comment

Renungan Zombie

Menjadi birokrat bagi sebagian orang adalah hal yang menyenangkan. Setiap tanggal satu mendapat gaji yang dilindungi peraturan pemerintah. Tanggal limanya mendapat tunjangan kinerja yang dilandasi keputusan menteri. Dan setiap hari mendapat uang makan yang diakumulasi setiap bulan. Belum lagi uang transport dan harian dari setiap perjalanan dinas yang sudah barang tentu dilaksanakan di hotel ternama.

Mungkin sebagian birokrat tidak setuju dengan gambaran umum serampangan di atas. Tidak usah sewot, toh itu hanya sebuah contoh kehidupan enak birokrat pada unit-unit tertentu. Dan ya satu lagi yaitu jaminan hari tua dan kepastian kerja yang stabil. Maka tidak salah jika setiap tahun lulusan unversitas berbondong-bondong untuk menjadi seorang birokrat.

Permasalahan muncul ketika para pemikir bebas diterima sebagai birokrat. Hari-harinya akan dikungkung oleh standar prosedur operasional, kode etik, peraturan disiplin, asas kesatuan komando dan   hierarki yang membuat gerak menjadi kaku. Belum lagi produk budaya berupa lagu dan apel pagi yang membosankan dengan isi ceramah yang itu-itu saja. Seorang pemikir bebas tentu akan kepayahan menerima itu semua.

Masalahnya, sejago-jagonya pemikir bebas ia juga perlu makan. Dan makanan  di era kapitalistik seperti sekarang hanya bisa dibeli dengan uang. Lama-kelamaan para pemikir bebas itu akan berpikir realistis. Ya menerima saja keadaan diri dan gaji setiap bulan tanpa berpikir dan bertindak neko-neko.

Maka selesailah para pemikir bebas itu menjadi orang kebanyakan. Yang hidup dalam gerak mekanik siklik tanpa mau memakai nalar dalam setiap tindakan. Ke-Aku-an nya sudah melebur menjadi visi dan misi organisasi. Tidak ada lagi manusia di sana. Yang ada adalah zombie-zombie lapar pengejar harta dan kedudukan yang banal.

Ferry Fadillah. Kuta, Desember 2016

,

Leave a comment

1984

Suatu malam di hari yang ganjil aku berjalan di antara deretan toko tua. Di bangun sebagai pengingat kepongahan bangsa di utara dunia. Namun, dari kepongahan itu, tersisa seni art deco yang menjadi ikon kota itu. Itulah Jalan Braga. Walaupun tidak setenar awal abad ke 19 lokasi ini masih menjadi favorit para pelancong asing.

Sejak Konfrensi Asia Afrika yang tinggal seremonial itu dilaksanakan untuk ke sekian kalinya Braga mempercantik diri. Trotoar usang pesing diubah bersih dan tertata. Bangku kayu dengan pegangan besi di bawah lampu gaya eropa menghiasi beberapa sudut jalan. Di antara bangku-bangku itu ada bola batu besar yang pernah tertancap bendera mini negara peserta KAA. Toko-toko disekitar pun ikut berbenah. Lumut yang menempel di pojokan tembok dibersihkan, cat putih kemudian menutupi dinding itu agar paripurna.

Jalan yang dilalui kendaraan bermotor tidak beralaskan aspal. Batuan dengan bentuk segi empat beranekaragam saling menyusun mencerminkan kesan eropa yang sekedarnya. Di beberapa bagian batu itu rusak tidak kuasa menahan beban kendaraan yang hilir mudik setiap hari.

Lelah berjalan. Aku berhenti sejenak di sebuah toko makanan. Sambil melihat interiornya yang boleh juga aku melihat menu makanan pada display yang ternyata berisi kuliner lokal sunda. Tanpa panjang pikir aku masuk dan mencari tempat duduk yang pas.

Tepat di meja nomor 3 dengan pemandangan jalan padat dan minimarket berwarna merah aku duduk. Setelah melihat-lihat menu yang banyak itu terpilihlah kopi bandrek sebagai teman duduk. Aku ambil buku yang sedari tadi terselip di ransel kecil. 1984 karangan George Orwell. Aku baru membacanya pada bagian ke tiga saat Watson dipergoki sedang bermesraan dengan wanita anggota partai oleh Polisi Pikiran.

Pesanan datang. Aku mengucapkan terimakasih dan dibalasnya dengan senyum tanpa kata-kata. Kopi itu mengeluarkan bebauan jahe yang khas. Warnanya hitam kecoklatan dengan gula putih yang belum sepenuhnya larut. Menunggu sekitar tiga menit aku menyeruput kopi itu sambil memejamkan mata. Pedasnya rasa bandrek dan tajamnya pahit kopi langsung merangsang sarafku untuk lebih terjaga. Setelah gelas itu diletakan pada tatakan, aku kembali membaca novel itu.

1984 adalah sebuah novel politis yang ditulis pada tahun 1949. Novel ini pada masanya merupakan sebuah wahyu prediksi akan kejadian politis di tahun 84’. Diceritakan bahwa dunia pada masa itu terbagi menjadi tiga kekuatan besar. Oceania dengan paham sosing-nya, Eurasia dengan paham neo-bolsevisme dan eastasia dengan pemujaan mati. Setiap negara bertempur memperubutkan kota-kota penyangga yang kaya dengan sumberdaya alam dan manusia. Setiap penguasa baru akan memakai sumber daya itu untuk pertempuran, sabotase dan spionase.

Menariknya adalah peperangan antara ketiga negara didesain tidak untuk dimenangkan. Perang adalah penyaluran surplus produksi domestik dan medium propaganda agar rakyat tidak memiliki kesempatan untuk mengkhayalkan kehidupan ideal. Rakyat dipengaruhi secara psikologis bahwa negara sedang dalam keadaan darurat. Setiap gerakan perlawanan dicap kontra revolusioner. Gerak-gerik warga dicurigai melalui alat bernama telescreen yang dapat mendengar suara dan memantau gerakan.

Winston Smith adalah tokoh utama dalam novel ini. Dia adalah tokoh partai yang memiliki kerja busuk untuk membohongi persepsi publik. Walaupun dia adalah tokoh partai namun hidupnya tidak bisa bebas. Setiap gerak geriknya selalu di awasi. Oleh telescreen, polisi pikiran, tetangganya atau bahkan pacarnya. Masyarakat tempatnya hidup dibuat saling mencurigai satu sama lain. Bahkan ada seorang orang tua yang ditangkap polisi pikiran karena dilaporkan anaknya sedang mengingau politik: turunkan Bung Besar, turunkan Bung Besar!

Bung Besar adalah pemimpin tertinggi negara Oceania. Setiap masyarakat diwasinya. Slogan partai yang dibentuknya adalah: perang ialah damai, kebebasan ialah perbudakan, kebodohan ialah kekuatan. Setiap warga negara harus mengabdikan waktu dan tenaga untuk Bung Besar. Buku-buku yang tidak sehaluan diberangus. Bahkan data statistika tentang produksi nasional dipoles agar tampak sukses padahal kebutuhan dasar seperti alat cukur sulit untuk didapat.

Lebih mengerikannya lagi adalah sekolompok gerakan anti seks yang memprogandakan kehidupan seks yang sepenuhnya demi penghambaan kepada partai. Seks sebagai rekreasi adalah terlarang. Seks harus diahadapi sebagai sesuatu yang luhur yakni menghasilkan anak demi  keberlangsungan negara. Menikmati seks adalah sebuah pelanggaran. Visinya adalah setiap warga negara memproduksi anak melalui serangkaian inseminasi buatan sehingga keluarga lebur dalam rumah besar bernama negara. Pikiran yang menggelikan sekaligus mengerikan.

Beberapa meter dari Jalan Braga, disamping gedung Asia Afrika ada sebuah taman dengan air mancur yang menyala setiap malam. Kursi-kursi dengan bangku kayu dipenuhi oleh banyak orang setiap malam. Beberapa diantara mereka membawa makanan dan bercengkrama bersama handai taulan. Setiap sabtu malam ada sekelompok pemuda menamai dirinya komunitas perpustakaan jalanan. Buku dilapak diatas koran dan dipajang agar dilirik orang yang mengunjungi taman. Beberapa pengunjung bahkan terlihat berdiskusi tentang berbagai topik. Suatu ketika, segerombolan tentara datang. Dengan murka  mereka membubarkan sekolompok pemuda itu. Sebagian buku di rampas. Suasana berubah tegang.

Klarifikasi muncul setelah media sosial membahas sikap fasis itu. Tentara membela diri. Untuk apa membaca malam-malam dan buku-buku yang disebar dikhawatirkan menyebarkan paham yang dilarang, bela mereka. Tentara mulai masuk kehidupan sipil.

Pelarangan buku, diskusi yang dicurigai, perbedaan yang dianggap pembangkangan adalah warna yang terjadi di tahun 2016 ini. Usia negeri ini belum genap satu abad, namun tidak ada arah menuju keterbukaan pikiran. Rakyat diombang-ambing oleh opini prematur pejabat di televisi. Pilkada dipenuhi fanatisme sempit sektoral. Beberapa kepala daerah menjadi hamba pengembang. Penggusuran menjadi keseharian. Setiap wacana emansipasi dibius dengan doktrin sabar pangkal pahala. Namun, saya yakin dari karut marut ini akan muncul beberapa satria yang siap mencerahkan masyarakat. Dan mereka sadar, hal paling awal yang harus dimiliki masyarakat dan menjadi ampuh dalam melawan kebodohan hanyalah satu kata: baca!

Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

, , , ,

Leave a comment

Bali

Bukan kali pertama aku mengunjungi Bali. Selama kurang lebih lima tahun aku bertugas di Bali. Selama itu juga aku melakukan kunjungan wisata ke beberapa tempat. Selama itu juga kekaguman selalu berkelibatan di hati melaui mata dan penciuman.

Akhir Agustus 2016 merupakan kunjunganku yang pertama setelah dua tahun belajar di Bintaro. Pukul 00.15 dini hari aku mendarat di Bandara Ngurah Rai. Perjalanan tidak semulus perkiraan. Entah akibat angin atau awan dengan masa jenis tertentu, pesawat berguncang selama satu jam lebih empat puluh lima menit. Alhamdulillah, jiwa dan raga masih bisa mencium udara pedupaan di pelataran bandara.

Aku tidak akan menceritakan detil perjalanan selama satu minggu. Untuk apa? Aku bukan siapa-siapa, hanya satu orang dari milyaran orang yang pernah mengunjungi Bali. Aku bukan apa-apa.

Bali selalu mengesankan. Pulau ini adalah perpaduan yang indah antara cipta budaya dan karya alam. Masyaraktnya bisa menerima perbedaan budaya dan agama. Pemeluk Hindu dan Islam dapat hidup perdampingan. Bahkan mengalami akulturasi pada aspek-aspek tertentu.

Banyak tempat wisata alam yang terawat dengan baik. Masyarakat Bali berhasil menggabungkan kearifan lokal, agama, tradisi dengan upaya pelestarian lingkungan. Gunung, sawah, laut, pantai, danau dan mata air adalah keseluruhan ciptaanNya yang harus dirawat dan diruwat. Konsep ini terangkum dalam termonologi Tri Hita Kirana.

Setiap liuk yang tergambar dalam peta Bali adalah keindahan ciptaan-Nya. Setiap tebing dan laut tanpa tepi, setiap matahari teggelam di uluwatu, setiap deburan ombak di nusa dua, setiap denting gamelan di puri ubud dan setiap mata air yang disucikan adalah gurat-gurat penciptaan yang begitu indah. Dia berbicara melalui ciptaanNya.

Sayangnya, ada sebagian orang dengan agama ekonomi berusaha untuk mengancurkan pemandangan itu. Apakah masih ada keindahan yang dapat terwujud dalam kredo dengan pengorbanan sekecil mungkin demi keuntungan sebesar mungkin? Agama ini mewujudkan tepian pantai yang dikuasai resort-resort privat, jalan-jalan macet yang menutup persawahan, pelecehan seksual, pergeseran moralitas, pencemaran laut, pengeringan air tanah dan perlawanan reklamasi.

Apakah turis-turis ke Bali datang untuk menyaksikan kemegahan bangunan manusia atau anugerah indah berupa alam yang tak tersentuh? Pertanyaan itu kiranya patut direnungkan bagi siapa pun yang mencintai Bali. Karena aku hanya melihat Tuhan dalam gurat alam yang tak tersentuh manusia.

Ferry Fadillah. 3 September 2016.

3 Comments

Pemuda Hijrah: Antara Gaul-Sekuler dan Cupu-Islamis

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi”, Pidi Baiq.

Kalimat ini ditulis di bawah jembatan penyebrangan khas kolonial sekitar alun-alun Kota Bandung. Ditulis seniman asli kota ini yang dikenal melalui novel romansanya berjudul Dilan: Dia adalah Dilanku 1990. Sayangnya kita tidak akan membahas Pidi Baiq dan novel populernya itu. Tulisan ini akan membahas “itu melibatkan perasaan” kalimat dimuka yang akan membawa lamunan indah tentang kota kembang.

Bandung berhasil memikat setiap orang yang pernah bertandang walau sesaat. Setiap akhir pekan, mungkin, ribuan mobil bernomor polisi “B” memenuhi ruas tol Pasteur dan Buah Batu. Mereka membawa uang yang akan menambah pundi-pundi para pengusaha kota kreatif ini. Kuliner yang enak, café disekitar dago yang romantis, harga barang yang murah dan taman tematik yang menawan adalah produk wisata kota ini yang selalu dirindukan oleh pendatang. Terutama bagi mereka yang dapat membeli apapun dengan uang.

Perantau yang bekerja di luar Bandung juga merindukan hal serupa. Bandung yang berkabut di tengah lampu temaram Jalan Braga, kerlap-kerlip neon pemukiman yang indah dari perbukitan dago dan pemusik jalanan yang lihai bermain harmonika bersamaan dengan gitar di perempatan jalan adalah lembar-lembar grafis di alam bawah sadar yang selalu mengingatkan perantau tentang orang tua mereka, persahabatan atau kisah cinta yang pernah kandas.

Tapi apakah Bandung hanyalah tentang makanan, belanja dan pemandangan belaka? Mula-mulanya itulah yang saya rindukan. Namun, setelah mengenal sebuah gerakan islam di masjid Al-latif paradigma ini berubah.

Gerakan Pemuda Hijrah dimotori oleh event organizer bernama SHIFT yang menjadikan Masjid Al-Latif sebagai markas besarnya. Seperti namanya, hampir setiap hari kegiatan ini diikuti oleh pemuda edisi 90an. Mereka menemukan jalan hijrah melalui para dai di atas mimbar yang kerap menggunakan bahasa populer dalam menyampaikan risalah Islam. Misalnya kajian yang diberikan oleh Ustadz Evie Effendi. Dai nyentrik dengan busana gaul  ini selalu menyelipkan puisi, bahasa sunda gaul, dan lagu populer sembari menyelipkan tauhid dan syariat Islam kepada para jamaah. Walaupun isi ceramahnya tidak dalam, tapi tampilan dan gaya bahasanya berhasil memikat psikologi para pemuda yang baru menempuh jalan hijrah. Sehingga pemandangan anak muda dengan kaos oblong yang menangis dalam ceramahnya adalah hal lumrah sekaligus mengagumkan.

Metode dakwah semacam ini mengingatkan saya cara dakwah Marxian ala Martin Suryajaya (2014) dalam essainya berjudul “Marxisme dan Propaganda ” yang saya bahasakan ulang sesuai iman Islam:

Sebaliknya, mulailah dengan cara ortodoks: (1) abaikan semua kosakata Islami, (2) masuk ke dalam kosakata sang subjek, (3) ikuti penalaran si subjek dan rekonstruksi metodenya, (4) ekplisitkan atau beri penekanan pada “Iman Islam” yang sebetulnya sudah inheren dalam penjelasan sang subjek tanpa sekalipun menggunakan kosakata Islam, atau tunjukan kekeliruan dari metode pemikiran yang ia gunakan dengan penjelasan yang selaras bagi sekema dan kosakata berpikirnya, (4) tunjukan bahwa Islam itu punya konsekuensi  pada gagasan tertentu tentang kenyataan seperti yang dikupas Al-Quran dan Al-Hadist.

Bagaimana langkah-langkah ini bekerja dalam metodologi dakwah pemuda hijrah? Selain gaya bahasa para dai yang populer dan menghindari kedalaman materi. Para marketing pemuda hijrah pandai menyebarkan gagasan melalui jejaring sosial seperti instagram, twitter dan line. Tajuk-tajuk setiap pertemuan juga mengambil kalimat populer yang muda diingat. Seperti Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Dusta Pembawa Sengsara, Ladies Day: The Real Miss Universe, Defend Your Faith, Light and Dark Side, Math of God  dan lain sebagainya. Selain itu, hijrahnya pemain band, pentolan klub motor dan mantan narapidana berhasil memikat orang-orang senasib sehingga menghilangkan rasa sungkan calon jamaah untuk ikut mendengarkan ceramah di Masjid Al-latif.

Hal paling menarik dari kegiatan ini adalah keberhasilan panitia acara untuk mengajak ratusan jamaah muda di malam minggu, hingga masjid di pusat kota ini penuh sesak. Kalau hal ini terjadi di malam senin tentu hal biasa. Malam minggu! Alih-alih kongkow sambil ngobrol ngalor-ngidul ditemani kopi dan rokok atau pacaran bergandengan tangan di Paris van Java, mereka malah merelakan waktu untuk berdesakan sambil duduk bersila mendengar wejangan para ustadz. Sebuah bentuk militansi yang mengagumkan ditengah nikmat hedonisme yang selalu menggoda.

Pertanyaan kemudian yang layak diajukan adalah mengapa anak muda kota Bandung tertarik dengan kegiatan ini?

Saya sebagai warga kota Bandung yang lahir di tahun 90-an berusaha menjawab dengan pengamatan sederhana selama bersekolah di Jalan Citarum. Bandung pada masa itu (hingga kini?) adalah surga bagi para pemusik. Band-band lokal banyak yang mendapatkan ketenaran di tingkat nasional karena berhasil meramu lagu unik dan sederhana yang mudah diingat kawula muda. Gaya hidup anak muda juga terfasilitasi oleh investor swasta maupun koperasi angkatan darat. Arena billiard, bowling, kolam renang, bioskop, café, restaurant, taman tematik atau minimarket 24 jam menjadi destinasi kongkow sekaligus monumen gaya hidup urban yang sayang untuk ditinggalkan. Pemuda yang berkubang dalam gaya hidup seperti ini saya sebut ‘pemuda dalam kondisi pertama’.

Di lain sisi, ‘pemuda dalam kondisi kedua’ adalah mereka yang kebetulan terlahir dalam keluarga relijius. Umumnya mereka akan sibuk dengan urusan akhirat di masjid-masjid, berkumpul secara eksklusif bersama komunitas islami dan memiliki wawasan dunia seputar keislaman semata hingga –beberapa-  lupa untuk menerangi kejahiliahan menuju cahaya seperti yang diamanatkan Muhammad SAW. Bagi pemuda dalam kondisi pertama, mereka dilabeli sok relijius atau nggak gaul.

Saya yakin bahwa -bagi pemuda dalam kondisi pertama- hasrat yang terus disalurkan dengan kesenangan pasti akan menemukan titik jenuh. Mereka akan merasakan kekosongan kemudian depresi. Pada saat itu pertanyaan eksistensial akan mengemuka. Siapa Aku? Kenapa aku diciptakan? Mengapa Aku ada? Saat pemuda di dalam kondisi kedua mengambil jarak dari permasalahan mereka, pemuda dalam kondisi pertama akan sangat mudah terjerumus kepada tindakan amoral seperti penggunaaan narkotika, seks bebas bahkan dalam kondisi ekstrim dapat mengakhiri hidupnya dengan menenggak segelas baygon cair di kamar kost.

Gerakan pemuda hijrah seolah hadir untuk menghubungkan kedua kondisi pemuda ini. Seperti Nabi yang selalu menggunakan bahasa kaumnya untuk berdakwah. Pemuda hijrah juga menggunakan bahasa populer untuk berdakwah. Sehingga distingsi antara pemuda gaul-sekuler dengan cupu-islamis dapat dirombak dan dikonstruksi menjadi ukhuwah tauhid yang egaliter.

Tampaknya kalau gerakan ini tetap istiqomah dan secara teratur menghasilkan pemuda yang militan dalam Islam, ‘Bandung Juara’ tidak lagi berwujud tata kelola kota yang semata-mata estetis dan ramah anak tapi juga melimpahnya berkah dari Sang Pencipta di jantung Priangan.

Semoga.

Ferry Fadillah. Bandung, 16 April 2016.

, , , , , , ,

12 Comments

Membela (?) PKI

Bkb5EIlCIAA0WUF.jpg largeWaktu itu langit cerah di kota Jakarta. Ribuan orang berduyun-duyun memadati Gelora Bung Karno. Pedagang kaki lima sudah bersiap sejak subuh tadi; bersamaan dengan para gelandang dan pengemis; mengharap belas kasih demi sesuap nasi.

Pukul Sembilan, seluruh tempat duduk di dalam gelanggang sudah terisi penuh. Massa rakyat dengan mata menyala-nyala memadati tribun dengan pakaian merah api. Suara mereka yang berbicara dengan sesamanya riuh rendah seperti kawanan lebah. Bendera palu arit terpasang di setiap sudut gelanggang bersamaan dengan Sangsaka Merah Putih. Di bagian utara terpasang potret besar pendiri komunisme internasional: Marx, Engels, Stalin, dan Lenin. Di sebelahnya berderet pahlawan bangsa dari era kolonial hingga revolusi kemerdekaan: Dipenogoro, Soekarno, dan Hatta.

Sesaat kemudian, Soekarno, presiden Indonesia sekaligus Pemimpin Besar Revolusi naik ke podium. Serentak semua peserta membisu. Pembawa acara memandu semua peserta untuk berdiri dan hymne partai dikumandangkan:

Kau cabut segala dariku

Cemar dan noda

Gelap dan derita

Kau beri segala padaku

Kasih dan cinta

Bintang dan surya

Partaiku partaiku

Segenap hatiku bagimu

Partaiku partaiku

Kuwarisi api juangmu

PKI PKI

Segenap hatiku bagimu

PKI PKI

Kuteruskan jejak juangmu

Hymne usai dinyanyikan. Mata semua peserta berkaca-kaca, sebagian menangis terharu; teringat jasa partai selama ini. Kemudian, pembawa acara memandu peserta untuk duduk kembali. Gelegar pidato Sang Singa Podium dimulai.

***

Begitulah hiruk pikuk ulang tahun PKI di masa revolusi. Namun, sejak tragedi penculikan para jenderal di Jakarta pada tahun 1965, hiruk pikuk itu berubah menjadi kesunyian.

Tujuh orang jenderal diculik tanpa welas asih, disiksa dengan bejat, dan dibuang di lubang buaya. Manusia Indonesia, yang pernah hidup di zaman Soeharto, percaya, bahwa PKI adalah biang keladi.

Setelah para pemberontak dapat dilumpuhkan, gonjang ganjing belum juga surut. Kebencian kepada PKI dari pihak nasionalis dan agamis mendapat angin segar untuk dilampiaskan. Pembantaian masal terjadi di Jakarta dengan cepat menyebar ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Anggota partai dan organisasi masyarakat yang berasosiasi dengan komunisme diluluh lantahkan. Bahkan kaum buruh-tani yang tidak terkait gerakan komunisme apapun, karena hanya mendapat bantuan dari pihak komunis, mesti tumpas tanpa dosa.

Masa kelam itu bukanlah tragedi kemanusiaan belaka, tapi juga tragedi kebudayaan. Seniman berhaluan realisme-sosial yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dituding menjadi sarang orang-orang komunis. Para seniman itu disiksa dan dihina; karya-karya mereka berupa lukisan dan buku-buku dihancur leburkan; dianggap barang-barang sesat yang mengotori keimanan.

Tragedi itu menjadikan bangsa Indonesia terbelah, yang satu meniadakan yang lain. Pancasila menjelma menjadi agama negara. Mereka yang berpaling dari Pancasila adalah kafir murtad yang halal darahnya. Pilar Nasionalisme-Agama-Komunisme (NASAKOM), yang merupakan buah pikir Soekarno untuk mempersatukan segala lapisan ideologi, hancur berkeping-keping. Saat itu adalah titik sejarah paling berdarah nan kelam bagi bangsa ini.

Kini, kebencian terhadap komunis masih ada, memasuki alam pikir manusia Indonesia dari generasi ke generasi. Komunis itu atheis. Komunis itu pemberontak. Komunis itu cabul. Tetapi apakah manusia Indonesia, terutama mahasiswa sudah benar-benar adil melihat tragedi 1965? Atau hanya latah membenci tanpa mengerti duduk perkara? Atau pernahkah mahasiswa berpikir, apakah komunis tidak memiliki peran dalam pembangunan rumah bersama bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia ini?

Jika berbicara tentang peran komunis dalam pembangunan negeri, saya jadi teringat pidato D.N. Aidit dihadapan Musyawarah Besar Sarjana Ekonomi Indonesia tanggal 8 Juli 1964 di Jakarta :

“Kaum Komunis Indonesia sudah sedjak lama berpendirian, bahwa masjarakat Indonesia masih tetap merupakan masjarakat setengah-feodal dengan sisa-sisa feudal jang berat. Program PKI jang disahkan 10 tahun laloe dalam Kongres Nasional ke-V PKI meliputi tuntutan-tuntutan landreform jang radikal jang sepenuhnja sesuai dengan sembojan Bung Karno: “Tanah untuk mereka jang betul-betul menggarap tanah.” Sudah lama Program itu mendjadi sasaran dan edjekan kau reaksioner jang mentjemooh PKI karena djandji-djandji tanah untuk kaum tani hanja bisa dipenuhi, katanja, dalam bentuk tanah untuk kuburan. Tetapi sekarang, Program resmi revolusi Indonesia sudah dengan tegas menjatakan kemutlakannja landreform…”

Dari penggalan pidato di atas, kita mengetahui semangat sungguh-sungguh PKI untuk menghancurkan feodalisme yang masih berakar kuat dan menghisap habis tenaga kaum tani yang tersebar di seluruh nusantara. Tanah ialah untuk mereka yang benar-benar menggarap tanah. Tanah tidak dikuasai oleh satu orang yang hanya duduk manis ongkang-ongkang kaki lalu menghisap tenaga para petaninya. Apakah kini cita-cita ini sudah terwujud? Ya, memang belum, namun feodalisme sudah hilang dan berganti bentuk dengan kapitalisme, tanah yang dahulunya dimiliki bangsawan, kini dimiliki oleh pemilik modal, namun semangat Undang-Undang Agraria yang kita kenal sekarang adalah semangat landreform yang digalakan PKI.

Itu baru masalah landreform, belum lagi sumbang asih pemikiran sosial-komunis dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pemikiran dialektis Marxian telah menambah khazanah pemikiran filsafat. Teori nilai tambah telah memukul telak cara kerja kapitalisme dalam menentukan nilai dan harga. Komunisme yang pro terhadap realita sosial rakyat tertindas telah menginspirasi para budayawan serta menghasilkan roman, novel, lukisan, dan film yang menyentuh nurani kemanusiaan. Dan masih banyak lagi sumbang asih komunisme terhadap kehidupan manusia.

Dalam uraian ini saya tidak hendak berpihak kepada PKI mati-matian dan mengatakan pembataian masal pasca tragedi 1965 adalah kesalahan pihak nasionalis dan agamis. Saya hanya ingin kita, terutama mahasiswa, yang mengenyam pendidikan tinggi serta budaya diskusi untuk lebih adil dalam melihat setiap fenomena; lebih kritis dalam menangkap kebenaran.

Keterangan dari rezim berkuasa bukanlah kebenaran yang harus ditelan bulat-bulat. Ucapan para pimpinan agama bukanlah sabda Nabi yang harus diterima dengan tunduk. Manusia bukanlah dewa, bisa salah dan bisa khilaf. Manusia ditempatkan dalam kingdom animalia bukanlah tanpa sebab. Ketamakan dan haus kuasa telah berkali-kali menjerumuskan manusia menjadi binatang bahkan lebih sesat dan lebih hina. Bukankah pembunuhan pertama di muka bumi dilakukan oleh manusia jua?

Dari sudut pandang mana pun kita melihat, sikap saling menyalahkan tidak akan pernah menciptakan persaudaraan. Perpecahanlah yang akan diraih. Saling memaafkan dan mengambil ibrah dari peristiwa lampau harus benar-benar menjadi budaya kita. Sehingga kita paham untuk melihat kekurangan diri dan kelebihan orang lain. Poin pentingnya adalah berlaku adil baik dalam pikiran maupun perbuatan. Bukankah Tuhan menyuruh kita untuk bersikap adil bahkan kepada kaum yang kita benci: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Maaidah: 8)”

 Jadi, masikah kita serampangan melekatkan kata PKI setelah “G-30-S” untuk peringatan tahun depan?

Ferry Fadillah, 1 Oktober 2015.

Dipersembahkan untuk panitia acara puncak Project 30’s di Politeknik Keuangan Negara, Tangerang Selatan, Rabu lalu (30/09/2015)

, , , , , , , ,

Leave a comment

Popularitas Menghapal dan Matinya Ke-kepo-an

part-time-lecturer-in-civil-engineeringMasih terngiang di dalam pikiran ini, mendebarkannya menghadapi Ujian Akhir Sekolah (UAS) pada bulan Agusus lalu. Sebagai informasi, aku adalah mahasiswa akuntansi pada sebuah sekolah kedinasan di bilangan Tangerang Selatan. Mata kuliah yang menjadi santapan sehari-hari tidak jauh dari ilmu-ilmu berbau angka yang menuntut ketelitian dan ketepatan. Yang paling aku takuti –kebetulan semua subjek utama- ialah Intermediate Accounting, Cost Accounting, dan Financial Management.

Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti untuk menghadapi mata kuliah itu semua. Toh ilmu-ilmu itu dirumuskan oleh manusia dengan alur logika yang dapat dipelajari. Sayangnya, semangat untuk mempelajari itu, mengkaji lebih dalam dan menggali makna filsofis dalam setiap mata kuliah selalu terbentur oleh cara berpikir –baik dari sesama mahasiswa maupun dari pihak dosen.

Gambaran ringkasnya seperti ini.

Belajar mata kuliah melalui buku rujukan asli sepertinya sudah tidak diminati oleh rekan-rekan mahasiswa –wabil khusus di sekolahku, maaf, politekniku. Biasanya mahasiswa lebih tertarik dengan serpihan slide yang ditampilkan ketika kuliah lalu meminta koordinator kelas untuk mencetak dan menggandakannya. Pun, kertas-kertas itu hanya dibuka, diberi catatan pinggir dan komentar-komentar beberapa hari menjelang ujian dilaksanakan. Maka tidak salah kalau ada orang bertanya hal ihwal suatu konsep kepada dosen di kelas pada saat jam pelajaran, mayoritas mahasiswa hanya terdiam dan mengangguk setuju. Beberapa orang menggerutu atau bahkan di dalam hati sinis terhadap orang yang selalu bertanya itu.

Dosen sebenarnya ibarat ‘nabi’. Tugasnya memberikan mahasiswa pencerahan akan ilmu yang sedang dipelajari. Pencerahan bukan berarti sukses memindahkan isi buku ke kertas ujian, tapi dapat menggunakan ilmu di kelas bagi kehidupan. Kalau ilmu itu absrak maka dapat digunakan untuk memaknai segala fenomena di dunia ini. Kalau ilmu itu praktis maka dapat dibagikan bagi mereka yang memerlukan atau minimal menjauhkan mahasiswa dari dosa kemiskinan dan kedunguan.

Permasalahannya muncul ketika dosen pun tidak memiliki ketertarikan intelektual untuk mengkaji suatu disiplin ilmu sampai ke level filosofis. Sederhananya, rumus matematis disampaikan kepada mahasiswa, mahasiswa menggangguk setuju lalu menghapal mentah-mentah rumus-rumus itu, dan soal-soal ujian disajikan untuk diisi, bagi yang dapat menindahkan rumus-rumus tadi ke kertas ujian maka akan mendapat nilai bagus dan diberi predikat mahasiswa pintar. Ada yang janggal?

Saya jadi teringat dengan video di whatssup yang disebar oleh kawan saya. Seekor burung beo dengan lihai bisa menirukan sebagian ayat-ayat suci Al-Quran. Melihat fenomena itu kiranya kita bisa melakukan refleksi, kalau begitu (hanya menghafal dan menirukan) apa bedanya kita dengan binatang? Lantas apa beda manusia dengan binatang?

Manusia punya otak, binatang juga punya. Manusia bisa dilatih untuk patuh, anjing lebih-lebih bisa. Manusia bisa diajar hal rumit, simpanse juga bisa melakukan hal rumit. Perbedaannya adalah manusia bisa melakukan pendalaman filosofis atas segala sesuatu sedangkan binatang tidak.

Pendalaman filosofis dalam mengkaji suatu ilmu berarti memahami benar konsep, asumsi, masalah, kelebihan dan kekurangan dari suatu ilmu. Dari pendalaman itu munculah eagle eyes atau pandangan yang luas atas segala masalah. Mahasiswa kelak bisa membedakan mana yang esensial mana yang tidak esensial; mana asumsi yang bisa dirubah atau bahkan asumsi yang salah; mana ilmu yang perlu diperbaiki mana ilmu yang perlu dipisah atau dilebur.

Idealnya adalah, seorang mahasiswa itu kelak tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan tapi juga menjadi produsen ilmu pengetahuan. Sehingga, kelak, harapan kita bersama, teoritikus dan ilmuwan yang selalu jadi rujukan di buku-buku bukan lagi orang asing yang bahkan sulit bagi lidah kita untuk mengucapkannya. Namun, nama-nama daerah nusantara yang membuat kita bangga dan mampu berdiri sejajar dengan semua bangsa di dunia.

Ferry Fadillah. Antapani, 4 September 2015

sumber gambar: catchwork.co.uk

, , , , ,

Leave a comment