Archive for category SOSBUD

Bunuh Diri

httpwww_esquire_co_ukBaru-baru ini, beredar di jejaring Whatsapp, dua orang wanita muda terjun bebas dari apartemen mewah di Kota Bandung. Perekam video waswas sambil terus melantunkan kalimat ilahiah. Diduga, keduanya memiliki masalah kejiwaan.

Beberapa bulan sebelumnya, pukul sembilan malam, di depan toilet Terminal Kampung Melayu, Ahmad Sukri meledakan bom panci rakitan yang dibawanya di dalam ransel. Satu polisi tewas di tempat. Dua polisi meninggal di rumah sakit. Sukri adalah salah satu jejaring ISIS di tanah air.

Tahun lalu, selepas ceramah Ustadz Evi Efendi di Masjid Al-Latif, seorang pemuda memberikan persaksian. Pernah dirinya dirundung setumpuk masalah. Diputus kekasih, dipecat atasan, dijauhi keluarga. Baygon dengan campuran porselin muncul sebagai solusi. Untung mati belum teraih. Tuhan masih memberinya kesempatan.

Menurut Emile Durkheim (1858-1917), bunuh diri tidak dipengaruhi oleh individu, tetapi fakta sosial yang meliputi moralitas, kesadaran kolektif, representasi kolektif dan arus sosial. Fakta sosial bisa diteliti secara empiris-objektif sedangkan pilihan individu terlalu subjektif.

Konsekuensi dari pemikiran ini, Durkheim menampik faktor bunuh diri para peneliti sezamannya. Seperti bunuh diri akibat pengaruh alkohol, ras dan keturunan, faktor alam dan imitasi. Di dalam bukunya Suicide, ia membantah semua faktor itu dengan semangat positivisme dan fungsionalisme.

Di dalam bukunya itu, Durheim menjelaskan bahwa bunuh diri disebabkan oleh ketidakseimbangan integrasi dan regulasi di dalam faktor sosial. Integrasi yang terlalu rendah menyebabkan bunuh diri egoistik. Sebaliknya, integrasi yang tinggi menyebabkan bunuh diri altruistik. Begitu juga dengan regulasi. Tingginya regulasi menyebabkan bunuh diri fatalistik, sedangkan rendahnya regulasi menyebabkan bunuh diri anomik.

Dalam kasus seorang pemuda yang meminum baygon, setelah dirundung masalah ia lebih memilih menarik diri dari pergaulan. Baginya ia bukan lagi bagian dari masyarakat dan masyarakat bukan lagi bagian dirinya. Pada saat itulah perasaan kecewa, depresi dan kesedihan muncul. Maka kasusnya disebut bunuh diri egoistik.

Sebaliknya, saat pertalian individu dengan sebuah kelompok terlalu tinggi, maka seseorang dapat meniadakan diri demi kelompoknya. Harapannya adalah sebuah alam ‘sana’ yang lebih indah dan menawarkan kebahagian sepanjang masa. Hal seperti ini terjadi dalam kasus bunuh diri atas nama agama seperti yang dilakukan gerombolan ISIS atau harakiri dalam kebudayaan Jepang.

Dalam faktor sosial berupa regulasi juga hal tersebut dapat terjadi. Saat terjadi depresi ekonomi, kebutuhan hidup begitu sulit atau seorang buruh migran yang diperlakukan dengan biadab. Maka bunuh diri fatalistik dapat menjadi pilihan. Sebaliknya yang akhir-akhir ini pada seorang musisi. Ketenaran diraih, kekayaan digapai, kebebasan gaya hidup menjadi kebiasaan.  Tapi kemudian ia kehilangan makna hidup. Maka bunuh diri anomiklah yang terjadi.

Emile Durkheim dalam teorinya ini benar-benar membuat penyangga yang kaku antara pilihan individu dan faktor sosial. Hal ini lumrah melihat kepercayaan filsafatnya yang positivistik dan fungsionalistik.

Santi Marliana, Mahasiswa Universitas Indonesia jurusan Filsafat, dalam skripsinya berjudul Bunuh Diri Sebagai Pilihan Sadar Individu: Analisa Kritis Filosofis Terhadap Konsep Bunuh Diri Emile Durkheim membantah teori Durkheim. Ia menggunakan Teori Eksistensialisme Jean Paul Sartre dan sosiologi Max Weber untuk membantah Durkheim. Menurutnya, manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih karena manusia memiliki kesadaran atas konsekuensi pilihannya. Seseorang yang bunuh diri tentu secara sadar mengerti akibat dari pilihannya. Keputusannya tidak semata-mata merupakan konstruksi faktor sosial.

Sebenarnya, antara pilihan individu dan faktor sosial memiliki tali temali yang saling mempengaruhi. Semua memang berasal dari faktor sosial yang membentuk alam berpikir masyarakat. Suprastruktur menentukan infraksturktur dalam bahasa Marxian. Namun, masalahnya sekarang bukanlah apa mempengaruhi apa. Tapi sebuah solusi konkrit untuk menekan angka bunuh diri di negeri ini.

Agama, yang akhir-akhir ini hadir sebagai mata air yang diperebutkan, bisa menjadi solusi ampuh. Agama menghadirkan dimensi lahir-batin dengan kekayaan pemikiran dan ritual yang tidak pernah lekang oleh waktu.

Masalahnya timbul, ketika agama hanya dipahami dengan pendekatan normatif-politis. Alih-alih, memunculkan ketenangan dan kedamaian, pada titik ekstrim pendekatan ini akan memunculkan pengantin-pengantin bom bunuh diri yang siap mengancurkan para kafir dan thagut.

Ada dimensi esoteris dari agama yang kerap terlupakan. Ada penyucian jiwa dan pengembangan intuisi dengan seni dan ritual yang dianggap sesat. Sebagian pemuda hijrah yang gandrung agama hari ini sibuk dengan hukum dan menghukumi. Begini benar, begitu salah. Ini salaf, itu murtad. Padahal harusnya mereka memahami agama beserta dimensi spiritualnya. Harapannya mereka menjadi oase di tengah kehidupan yang akhir-akhir ini depresif bukan malah menjadi penyulut bara dalam sekam yang sudah muram.

Semangat mencari pemahaman universal atas agama juga bisa menyumbang permasalahan serupa. Mereka cenderung berfikir bahwa sistem yang sesuai dengan tafsiran kelompoknya akan menuntaskan setiap permasalahan, tanpa kecuali. Tafsir-tafsir itu harus sesuai dengan garis politik pendiri partainya. Disebarlah brosur di masjid, direkrutlah pemuda universitas. Pekik perubahan disuarakan dijalanan. Semua kebijakan pemerintah jadi serba salah. Niat luhur untuk mengubah yang diluar tapi mungkin lupa untuk melihat yang di dalam.

Kini, saatnya, dalam beberapa hal, agama ditarik ke arah individu. Setiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda dalam mengarungi samudra agama yang begitu luas. Begitu juga dengan permasalahan dan kesukaran yang dihadapi manusia berbeda dengan manusia lainnya.

Seorang ibu rumah tangga yang dihimpit hutang oleh para rentenir belum butuh kajian pergerakan Islam. Seorang pemuda yang kesepian belum butuh kajian fiqih empat mahzab. Seorang pekerja yang ditindas atasannya belum butuh ceramah pernikahan. Biarlah agama berbicara bagi permasalahan mereka masing-masing. Keluar dari universalitas menuju keragaman partikular yang pluralistik. Tantangan agama kini bukanlah mewujudkan negara adidaya lintas bangsa seperti ribuan tahun silam, tapi menjadi penyejuk bagi jiwa-jiwa yang resah.

Semalam, diriku seorang yang pandai dan aku berhasrat mengubah dunia. Hari ini, aku seorang yang bijaksana dan aku mau mengubah diriku sendiri, -Jalaludin Ar-Rumi-

 Ferry Fadillah. Kuta, 27 Juli 2017.

***

sumber gambar: http://www.esquire.co.uk

, , , , ,

2 Comments

Tumbuh

Menatap Bandung dari kejauhan seperti menyaksikan mimpi dalam tidur. Potongan-potongan masa lalu berkelindan membentuk lukisan-lukisan realis yang humoris sekaligus tragis. Ada saat tawa menjadi penganan kecil disela-sela pertemuan dengan secangkir kopi. Ada juga saat sedih menjadi mendung yang membanjiri jiwa dengan hujan air mata. Read the rest of this entry »

Leave a comment

Renungan Zombie

Menjadi birokrat bagi sebagian orang adalah hal yang menyenangkan. Setiap tanggal satu mendapat gaji yang dilindungi peraturan pemerintah. Tanggal limanya mendapat tunjangan kinerja yang dilandasi keputusan menteri. Dan setiap hari mendapat uang makan yang diakumulasi setiap bulan. Belum lagi uang transport dan harian dari setiap perjalanan dinas yang sudah barang tentu dilaksanakan di hotel ternama.

Mungkin sebagian birokrat tidak setuju dengan gambaran umum serampangan di atas. Tidak usah sewot, toh itu hanya sebuah contoh kehidupan enak birokrat pada unit-unit tertentu. Dan ya satu lagi yaitu jaminan hari tua dan kepastian kerja yang stabil. Maka tidak salah jika setiap tahun lulusan unversitas berbondong-bondong untuk menjadi seorang birokrat.

Permasalahan muncul ketika para pemikir bebas diterima sebagai birokrat. Hari-harinya akan dikungkung oleh standar prosedur operasional, kode etik, peraturan disiplin, asas kesatuan komando dan   hierarki yang membuat gerak menjadi kaku. Belum lagi produk budaya berupa lagu dan apel pagi yang membosankan dengan isi ceramah yang itu-itu saja. Seorang pemikir bebas tentu akan kepayahan menerima itu semua.

Masalahnya, sejago-jagonya pemikir bebas ia juga perlu makan. Dan makanan  di era kapitalistik seperti sekarang hanya bisa dibeli dengan uang. Lama-kelamaan para pemikir bebas itu akan berpikir realistis. Ya menerima saja keadaan diri dan gaji setiap bulan tanpa berpikir dan bertindak neko-neko.

Maka selesailah para pemikir bebas itu menjadi orang kebanyakan. Yang hidup dalam gerak mekanik siklik tanpa mau memakai nalar dalam setiap tindakan. Ke-Aku-an nya sudah melebur menjadi visi dan misi organisasi. Tidak ada lagi manusia di sana. Yang ada adalah zombie-zombie lapar pengejar harta dan kedudukan yang banal.

Ferry Fadillah. Kuta, Desember 2016

,

Leave a comment

1984

Suatu malam di hari yang ganjil aku berjalan di antara deretan toko tua. Di bangun sebagai pengingat kepongahan bangsa di utara dunia. Namun, dari kepongahan itu, tersisa seni art deco yang menjadi ikon kota itu. Itulah Jalan Braga. Walaupun tidak setenar awal abad ke 19 lokasi ini masih menjadi favorit para pelancong asing.

Sejak Konfrensi Asia Afrika yang tinggal seremonial itu dilaksanakan untuk ke sekian kalinya Braga mempercantik diri. Trotoar usang pesing diubah bersih dan tertata. Bangku kayu dengan pegangan besi di bawah lampu gaya eropa menghiasi beberapa sudut jalan. Di antara bangku-bangku itu ada bola batu besar yang pernah tertancap bendera mini negara peserta KAA. Toko-toko disekitar pun ikut berbenah. Lumut yang menempel di pojokan tembok dibersihkan, cat putih kemudian menutupi dinding itu agar paripurna.

Jalan yang dilalui kendaraan bermotor tidak beralaskan aspal. Batuan dengan bentuk segi empat beranekaragam saling menyusun mencerminkan kesan eropa yang sekedarnya. Di beberapa bagian batu itu rusak tidak kuasa menahan beban kendaraan yang hilir mudik setiap hari.

Lelah berjalan. Aku berhenti sejenak di sebuah toko makanan. Sambil melihat interiornya yang boleh juga aku melihat menu makanan pada display yang ternyata berisi kuliner lokal sunda. Tanpa panjang pikir aku masuk dan mencari tempat duduk yang pas.

Tepat di meja nomor 3 dengan pemandangan jalan padat dan minimarket berwarna merah aku duduk. Setelah melihat-lihat menu yang banyak itu terpilihlah kopi bandrek sebagai teman duduk. Aku ambil buku yang sedari tadi terselip di ransel kecil. 1984 karangan George Orwell. Aku baru membacanya pada bagian ke tiga saat Watson dipergoki sedang bermesraan dengan wanita anggota partai oleh Polisi Pikiran.

Pesanan datang. Aku mengucapkan terimakasih dan dibalasnya dengan senyum tanpa kata-kata. Kopi itu mengeluarkan bebauan jahe yang khas. Warnanya hitam kecoklatan dengan gula putih yang belum sepenuhnya larut. Menunggu sekitar tiga menit aku menyeruput kopi itu sambil memejamkan mata. Pedasnya rasa bandrek dan tajamnya pahit kopi langsung merangsang sarafku untuk lebih terjaga. Setelah gelas itu diletakan pada tatakan, aku kembali membaca novel itu.

1984 adalah sebuah novel politis yang ditulis pada tahun 1949. Novel ini pada masanya merupakan sebuah wahyu prediksi akan kejadian politis di tahun 84’. Diceritakan bahwa dunia pada masa itu terbagi menjadi tiga kekuatan besar. Oceania dengan paham sosing-nya, Eurasia dengan paham neo-bolsevisme dan eastasia dengan pemujaan mati. Setiap negara bertempur memperubutkan kota-kota penyangga yang kaya dengan sumberdaya alam dan manusia. Setiap penguasa baru akan memakai sumber daya itu untuk pertempuran, sabotase dan spionase.

Menariknya adalah peperangan antara ketiga negara didesain tidak untuk dimenangkan. Perang adalah penyaluran surplus produksi domestik dan medium propaganda agar rakyat tidak memiliki kesempatan untuk mengkhayalkan kehidupan ideal. Rakyat dipengaruhi secara psikologis bahwa negara sedang dalam keadaan darurat. Setiap gerakan perlawanan dicap kontra revolusioner. Gerak-gerik warga dicurigai melalui alat bernama telescreen yang dapat mendengar suara dan memantau gerakan.

Winston Smith adalah tokoh utama dalam novel ini. Dia adalah tokoh partai yang memiliki kerja busuk untuk membohongi persepsi publik. Walaupun dia adalah tokoh partai namun hidupnya tidak bisa bebas. Setiap gerak geriknya selalu di awasi. Oleh telescreen, polisi pikiran, tetangganya atau bahkan pacarnya. Masyarakat tempatnya hidup dibuat saling mencurigai satu sama lain. Bahkan ada seorang orang tua yang ditangkap polisi pikiran karena dilaporkan anaknya sedang mengingau politik: turunkan Bung Besar, turunkan Bung Besar!

Bung Besar adalah pemimpin tertinggi negara Oceania. Setiap masyarakat diwasinya. Slogan partai yang dibentuknya adalah: perang ialah damai, kebebasan ialah perbudakan, kebodohan ialah kekuatan. Setiap warga negara harus mengabdikan waktu dan tenaga untuk Bung Besar. Buku-buku yang tidak sehaluan diberangus. Bahkan data statistika tentang produksi nasional dipoles agar tampak sukses padahal kebutuhan dasar seperti alat cukur sulit untuk didapat.

Lebih mengerikannya lagi adalah sekolompok gerakan anti seks yang memprogandakan kehidupan seks yang sepenuhnya demi penghambaan kepada partai. Seks sebagai rekreasi adalah terlarang. Seks harus diahadapi sebagai sesuatu yang luhur yakni menghasilkan anak demi  keberlangsungan negara. Menikmati seks adalah sebuah pelanggaran. Visinya adalah setiap warga negara memproduksi anak melalui serangkaian inseminasi buatan sehingga keluarga lebur dalam rumah besar bernama negara. Pikiran yang menggelikan sekaligus mengerikan.

Beberapa meter dari Jalan Braga, disamping gedung Asia Afrika ada sebuah taman dengan air mancur yang menyala setiap malam. Kursi-kursi dengan bangku kayu dipenuhi oleh banyak orang setiap malam. Beberapa diantara mereka membawa makanan dan bercengkrama bersama handai taulan. Setiap sabtu malam ada sekelompok pemuda menamai dirinya komunitas perpustakaan jalanan. Buku dilapak diatas koran dan dipajang agar dilirik orang yang mengunjungi taman. Beberapa pengunjung bahkan terlihat berdiskusi tentang berbagai topik. Suatu ketika, segerombolan tentara datang. Dengan murka  mereka membubarkan sekolompok pemuda itu. Sebagian buku di rampas. Suasana berubah tegang.

Klarifikasi muncul setelah media sosial membahas sikap fasis itu. Tentara membela diri. Untuk apa membaca malam-malam dan buku-buku yang disebar dikhawatirkan menyebarkan paham yang dilarang, bela mereka. Tentara mulai masuk kehidupan sipil.

Pelarangan buku, diskusi yang dicurigai, perbedaan yang dianggap pembangkangan adalah warna yang terjadi di tahun 2016 ini. Usia negeri ini belum genap satu abad, namun tidak ada arah menuju keterbukaan pikiran. Rakyat diombang-ambing oleh opini prematur pejabat di televisi. Pilkada dipenuhi fanatisme sempit sektoral. Beberapa kepala daerah menjadi hamba pengembang. Penggusuran menjadi keseharian. Setiap wacana emansipasi dibius dengan doktrin sabar pangkal pahala. Namun, saya yakin dari karut marut ini akan muncul beberapa satria yang siap mencerahkan masyarakat. Dan mereka sadar, hal paling awal yang harus dimiliki masyarakat dan menjadi ampuh dalam melawan kebodohan hanyalah satu kata: baca!

Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

, , , ,

Leave a comment

Bali

Bukan kali pertama aku mengunjungi Bali. Selama kurang lebih lima tahun aku bertugas di Bali. Selama itu juga aku melakukan kunjungan wisata ke beberapa tempat. Selama itu juga kekaguman selalu berkelibatan di hati melaui mata dan penciuman.

Akhir Agustus 2016 merupakan kunjunganku yang pertama setelah dua tahun belajar di Bintaro. Pukul 00.15 dini hari aku mendarat di Bandara Ngurah Rai. Perjalanan tidak semulus perkiraan. Entah akibat angin atau awan dengan masa jenis tertentu, pesawat berguncang selama satu jam lebih empat puluh lima menit. Alhamdulillah, jiwa dan raga masih bisa mencium udara pedupaan di pelataran bandara.

Aku tidak akan menceritakan detil perjalanan selama satu minggu. Untuk apa? Aku bukan siapa-siapa, hanya satu orang dari milyaran orang yang pernah mengunjungi Bali. Aku bukan apa-apa.

Bali selalu mengesankan. Pulau ini adalah perpaduan yang indah antara cipta budaya dan karya alam. Masyaraktnya bisa menerima perbedaan budaya dan agama. Pemeluk Hindu dan Islam dapat hidup perdampingan. Bahkan mengalami akulturasi pada aspek-aspek tertentu.

Banyak tempat wisata alam yang terawat dengan baik. Masyarakat Bali berhasil menggabungkan kearifan lokal, agama, tradisi dengan upaya pelestarian lingkungan. Gunung, sawah, laut, pantai, danau dan mata air adalah keseluruhan ciptaanNya yang harus dirawat dan diruwat. Konsep ini terangkum dalam termonologi Tri Hita Kirana.

Setiap liuk yang tergambar dalam peta Bali adalah keindahan ciptaan-Nya. Setiap tebing dan laut tanpa tepi, setiap matahari teggelam di uluwatu, setiap deburan ombak di nusa dua, setiap denting gamelan di puri ubud dan setiap mata air yang disucikan adalah gurat-gurat penciptaan yang begitu indah. Dia berbicara melalui ciptaanNya.

Sayangnya, ada sebagian orang dengan agama ekonomi berusaha untuk mengancurkan pemandangan itu. Apakah masih ada keindahan yang dapat terwujud dalam kredo dengan pengorbanan sekecil mungkin demi keuntungan sebesar mungkin? Agama ini mewujudkan tepian pantai yang dikuasai resort-resort privat, jalan-jalan macet yang menutup persawahan, pelecehan seksual, pergeseran moralitas, pencemaran laut, pengeringan air tanah dan perlawanan reklamasi.

Apakah turis-turis ke Bali datang untuk menyaksikan kemegahan bangunan manusia atau anugerah indah berupa alam yang tak tersentuh? Pertanyaan itu kiranya patut direnungkan bagi siapa pun yang mencintai Bali. Karena aku hanya melihat Tuhan dalam gurat alam yang tak tersentuh manusia.

Ferry Fadillah. 3 September 2016.

3 Comments

Pemuda Hijrah: Antara Gaul-Sekuler dan Cupu-Islamis

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi”, Pidi Baiq.

Kalimat ini ditulis di bawah jembatan penyebrangan khas kolonial sekitar alun-alun Kota Bandung. Ditulis seniman asli kota ini yang dikenal melalui novel romansanya berjudul Dilan: Dia adalah Dilanku 1990. Sayangnya kita tidak akan membahas Pidi Baiq dan novel populernya itu. Tulisan ini akan membahas “itu melibatkan perasaan” kalimat dimuka yang akan membawa lamunan indah tentang kota kembang.

Bandung berhasil memikat setiap orang yang pernah bertandang walau sesaat. Setiap akhir pekan, mungkin, ribuan mobil bernomor polisi “B” memenuhi ruas tol Pasteur dan Buah Batu. Mereka membawa uang yang akan menambah pundi-pundi para pengusaha kota kreatif ini. Kuliner yang enak, café disekitar dago yang romantis, harga barang yang murah dan taman tematik yang menawan adalah produk wisata kota ini yang selalu dirindukan oleh pendatang. Terutama bagi mereka yang dapat membeli apapun dengan uang.

Perantau yang bekerja di luar Bandung juga merindukan hal serupa. Bandung yang berkabut di tengah lampu temaram Jalan Braga, kerlap-kerlip neon pemukiman yang indah dari perbukitan dago dan pemusik jalanan yang lihai bermain harmonika bersamaan dengan gitar di perempatan jalan adalah lembar-lembar grafis di alam bawah sadar yang selalu mengingatkan perantau tentang orang tua mereka, persahabatan atau kisah cinta yang pernah kandas.

Tapi apakah Bandung hanyalah tentang makanan, belanja dan pemandangan belaka? Mula-mulanya itulah yang saya rindukan. Namun, setelah mengenal sebuah gerakan islam di masjid Al-latif paradigma ini berubah.

Gerakan Pemuda Hijrah dimotori oleh event organizer bernama SHIFT yang menjadikan Masjid Al-Latif sebagai markas besarnya. Seperti namanya, hampir setiap hari kegiatan ini diikuti oleh pemuda edisi 90an. Mereka menemukan jalan hijrah melalui para dai di atas mimbar yang kerap menggunakan bahasa populer dalam menyampaikan risalah Islam. Misalnya kajian yang diberikan oleh Ustadz Evie Effendi. Dai nyentrik dengan busana gaul  ini selalu menyelipkan puisi, bahasa sunda gaul, dan lagu populer sembari menyelipkan tauhid dan syariat Islam kepada para jamaah. Walaupun isi ceramahnya tidak dalam, tapi tampilan dan gaya bahasanya berhasil memikat psikologi para pemuda yang baru menempuh jalan hijrah. Sehingga pemandangan anak muda dengan kaos oblong yang menangis dalam ceramahnya adalah hal lumrah sekaligus mengagumkan.

Metode dakwah semacam ini mengingatkan saya cara dakwah Marxian ala Martin Suryajaya (2014) dalam essainya berjudul “Marxisme dan Propaganda ” yang saya bahasakan ulang sesuai iman Islam:

Sebaliknya, mulailah dengan cara ortodoks: (1) abaikan semua kosakata Islami, (2) masuk ke dalam kosakata sang subjek, (3) ikuti penalaran si subjek dan rekonstruksi metodenya, (4) ekplisitkan atau beri penekanan pada “Iman Islam” yang sebetulnya sudah inheren dalam penjelasan sang subjek tanpa sekalipun menggunakan kosakata Islam, atau tunjukan kekeliruan dari metode pemikiran yang ia gunakan dengan penjelasan yang selaras bagi sekema dan kosakata berpikirnya, (4) tunjukan bahwa Islam itu punya konsekuensi  pada gagasan tertentu tentang kenyataan seperti yang dikupas Al-Quran dan Al-Hadist.

Bagaimana langkah-langkah ini bekerja dalam metodologi dakwah pemuda hijrah? Selain gaya bahasa para dai yang populer dan menghindari kedalaman materi. Para marketing pemuda hijrah pandai menyebarkan gagasan melalui jejaring sosial seperti instagram, twitter dan line. Tajuk-tajuk setiap pertemuan juga mengambil kalimat populer yang muda diingat. Seperti Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Dusta Pembawa Sengsara, Ladies Day: The Real Miss Universe, Defend Your Faith, Light and Dark Side, Math of God  dan lain sebagainya. Selain itu, hijrahnya pemain band, pentolan klub motor dan mantan narapidana berhasil memikat orang-orang senasib sehingga menghilangkan rasa sungkan calon jamaah untuk ikut mendengarkan ceramah di Masjid Al-latif.

Hal paling menarik dari kegiatan ini adalah keberhasilan panitia acara untuk mengajak ratusan jamaah muda di malam minggu, hingga masjid di pusat kota ini penuh sesak. Kalau hal ini terjadi di malam senin tentu hal biasa. Malam minggu! Alih-alih kongkow sambil ngobrol ngalor-ngidul ditemani kopi dan rokok atau pacaran bergandengan tangan di Paris van Java, mereka malah merelakan waktu untuk berdesakan sambil duduk bersila mendengar wejangan para ustadz. Sebuah bentuk militansi yang mengagumkan ditengah nikmat hedonisme yang selalu menggoda.

Pertanyaan kemudian yang layak diajukan adalah mengapa anak muda kota Bandung tertarik dengan kegiatan ini?

Saya sebagai warga kota Bandung yang lahir di tahun 90-an berusaha menjawab dengan pengamatan sederhana selama bersekolah di Jalan Citarum. Bandung pada masa itu (hingga kini?) adalah surga bagi para pemusik. Band-band lokal banyak yang mendapatkan ketenaran di tingkat nasional karena berhasil meramu lagu unik dan sederhana yang mudah diingat kawula muda. Gaya hidup anak muda juga terfasilitasi oleh investor swasta maupun koperasi angkatan darat. Arena billiard, bowling, kolam renang, bioskop, café, restaurant, taman tematik atau minimarket 24 jam menjadi destinasi kongkow sekaligus monumen gaya hidup urban yang sayang untuk ditinggalkan. Pemuda yang berkubang dalam gaya hidup seperti ini saya sebut ‘pemuda dalam kondisi pertama’.

Di lain sisi, ‘pemuda dalam kondisi kedua’ adalah mereka yang kebetulan terlahir dalam keluarga relijius. Umumnya mereka akan sibuk dengan urusan akhirat di masjid-masjid, berkumpul secara eksklusif bersama komunitas islami dan memiliki wawasan dunia seputar keislaman semata hingga –beberapa-  lupa untuk menerangi kejahiliahan menuju cahaya seperti yang diamanatkan Muhammad SAW. Bagi pemuda dalam kondisi pertama, mereka dilabeli sok relijius atau nggak gaul.

Saya yakin bahwa -bagi pemuda dalam kondisi pertama- hasrat yang terus disalurkan dengan kesenangan pasti akan menemukan titik jenuh. Mereka akan merasakan kekosongan kemudian depresi. Pada saat itu pertanyaan eksistensial akan mengemuka. Siapa Aku? Kenapa aku diciptakan? Mengapa Aku ada? Saat pemuda di dalam kondisi kedua mengambil jarak dari permasalahan mereka, pemuda dalam kondisi pertama akan sangat mudah terjerumus kepada tindakan amoral seperti penggunaaan narkotika, seks bebas bahkan dalam kondisi ekstrim dapat mengakhiri hidupnya dengan menenggak segelas baygon cair di kamar kost.

Gerakan pemuda hijrah seolah hadir untuk menghubungkan kedua kondisi pemuda ini. Seperti Nabi yang selalu menggunakan bahasa kaumnya untuk berdakwah. Pemuda hijrah juga menggunakan bahasa populer untuk berdakwah. Sehingga distingsi antara pemuda gaul-sekuler dengan cupu-islamis dapat dirombak dan dikonstruksi menjadi ukhuwah tauhid yang egaliter.

Tampaknya kalau gerakan ini tetap istiqomah dan secara teratur menghasilkan pemuda yang militan dalam Islam, ‘Bandung Juara’ tidak lagi berwujud tata kelola kota yang semata-mata estetis dan ramah anak tapi juga melimpahnya berkah dari Sang Pencipta di jantung Priangan.

Semoga.

Ferry Fadillah. Bandung, 16 April 2016.

, , , , , , ,

12 Comments

Membela (?) PKI

Bkb5EIlCIAA0WUF.jpg largeWaktu itu langit cerah di kota Jakarta. Ribuan orang berduyun-duyun memadati Gelora Bung Karno. Pedagang kaki lima sudah bersiap sejak subuh tadi; bersamaan dengan para gelandang dan pengemis; mengharap belas kasih demi sesuap nasi.

Pukul Sembilan, seluruh tempat duduk di dalam gelanggang sudah terisi penuh. Massa rakyat dengan mata menyala-nyala memadati tribun dengan pakaian merah api. Suara mereka yang berbicara dengan sesamanya riuh rendah seperti kawanan lebah. Bendera palu arit terpasang di setiap sudut gelanggang bersamaan dengan Sangsaka Merah Putih. Di bagian utara terpasang potret besar pendiri komunisme internasional: Marx, Engels, Stalin, dan Lenin. Di sebelahnya berderet pahlawan bangsa dari era kolonial hingga revolusi kemerdekaan: Dipenogoro, Soekarno, dan Hatta.

Sesaat kemudian, Soekarno, presiden Indonesia sekaligus Pemimpin Besar Revolusi naik ke podium. Serentak semua peserta membisu. Pembawa acara memandu semua peserta untuk berdiri dan hymne partai dikumandangkan:

Kau cabut segala dariku

Cemar dan noda

Gelap dan derita

Kau beri segala padaku

Kasih dan cinta

Bintang dan surya

Partaiku partaiku

Segenap hatiku bagimu

Partaiku partaiku

Kuwarisi api juangmu

PKI PKI

Segenap hatiku bagimu

PKI PKI

Kuteruskan jejak juangmu

Hymne usai dinyanyikan. Mata semua peserta berkaca-kaca, sebagian menangis terharu; teringat jasa partai selama ini. Kemudian, pembawa acara memandu peserta untuk duduk kembali. Gelegar pidato Sang Singa Podium dimulai.

***

Begitulah hiruk pikuk ulang tahun PKI di masa revolusi. Namun, sejak tragedi penculikan para jenderal di Jakarta pada tahun 1965, hiruk pikuk itu berubah menjadi kesunyian.

Tujuh orang jenderal diculik tanpa welas asih, disiksa dengan bejat, dan dibuang di lubang buaya. Manusia Indonesia, yang pernah hidup di zaman Soeharto, percaya, bahwa PKI adalah biang keladi.

Setelah para pemberontak dapat dilumpuhkan, gonjang ganjing belum juga surut. Kebencian kepada PKI dari pihak nasionalis dan agamis mendapat angin segar untuk dilampiaskan. Pembantaian masal terjadi di Jakarta dengan cepat menyebar ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Anggota partai dan organisasi masyarakat yang berasosiasi dengan komunisme diluluh lantahkan. Bahkan kaum buruh-tani yang tidak terkait gerakan komunisme apapun, karena hanya mendapat bantuan dari pihak komunis, mesti tumpas tanpa dosa.

Masa kelam itu bukanlah tragedi kemanusiaan belaka, tapi juga tragedi kebudayaan. Seniman berhaluan realisme-sosial yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dituding menjadi sarang orang-orang komunis. Para seniman itu disiksa dan dihina; karya-karya mereka berupa lukisan dan buku-buku dihancur leburkan; dianggap barang-barang sesat yang mengotori keimanan.

Tragedi itu menjadikan bangsa Indonesia terbelah, yang satu meniadakan yang lain. Pancasila menjelma menjadi agama negara. Mereka yang berpaling dari Pancasila adalah kafir murtad yang halal darahnya. Pilar Nasionalisme-Agama-Komunisme (NASAKOM), yang merupakan buah pikir Soekarno untuk mempersatukan segala lapisan ideologi, hancur berkeping-keping. Saat itu adalah titik sejarah paling berdarah nan kelam bagi bangsa ini.

Kini, kebencian terhadap komunis masih ada, memasuki alam pikir manusia Indonesia dari generasi ke generasi. Komunis itu atheis. Komunis itu pemberontak. Komunis itu cabul. Tetapi apakah manusia Indonesia, terutama mahasiswa sudah benar-benar adil melihat tragedi 1965? Atau hanya latah membenci tanpa mengerti duduk perkara? Atau pernahkah mahasiswa berpikir, apakah komunis tidak memiliki peran dalam pembangunan rumah bersama bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia ini?

Jika berbicara tentang peran komunis dalam pembangunan negeri, saya jadi teringat pidato D.N. Aidit dihadapan Musyawarah Besar Sarjana Ekonomi Indonesia tanggal 8 Juli 1964 di Jakarta :

“Kaum Komunis Indonesia sudah sedjak lama berpendirian, bahwa masjarakat Indonesia masih tetap merupakan masjarakat setengah-feodal dengan sisa-sisa feudal jang berat. Program PKI jang disahkan 10 tahun laloe dalam Kongres Nasional ke-V PKI meliputi tuntutan-tuntutan landreform jang radikal jang sepenuhnja sesuai dengan sembojan Bung Karno: “Tanah untuk mereka jang betul-betul menggarap tanah.” Sudah lama Program itu mendjadi sasaran dan edjekan kau reaksioner jang mentjemooh PKI karena djandji-djandji tanah untuk kaum tani hanja bisa dipenuhi, katanja, dalam bentuk tanah untuk kuburan. Tetapi sekarang, Program resmi revolusi Indonesia sudah dengan tegas menjatakan kemutlakannja landreform…”

Dari penggalan pidato di atas, kita mengetahui semangat sungguh-sungguh PKI untuk menghancurkan feodalisme yang masih berakar kuat dan menghisap habis tenaga kaum tani yang tersebar di seluruh nusantara. Tanah ialah untuk mereka yang benar-benar menggarap tanah. Tanah tidak dikuasai oleh satu orang yang hanya duduk manis ongkang-ongkang kaki lalu menghisap tenaga para petaninya. Apakah kini cita-cita ini sudah terwujud? Ya, memang belum, namun feodalisme sudah hilang dan berganti bentuk dengan kapitalisme, tanah yang dahulunya dimiliki bangsawan, kini dimiliki oleh pemilik modal, namun semangat Undang-Undang Agraria yang kita kenal sekarang adalah semangat landreform yang digalakan PKI.

Itu baru masalah landreform, belum lagi sumbang asih pemikiran sosial-komunis dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pemikiran dialektis Marxian telah menambah khazanah pemikiran filsafat. Teori nilai tambah telah memukul telak cara kerja kapitalisme dalam menentukan nilai dan harga. Komunisme yang pro terhadap realita sosial rakyat tertindas telah menginspirasi para budayawan serta menghasilkan roman, novel, lukisan, dan film yang menyentuh nurani kemanusiaan. Dan masih banyak lagi sumbang asih komunisme terhadap kehidupan manusia.

Dalam uraian ini saya tidak hendak berpihak kepada PKI mati-matian dan mengatakan pembataian masal pasca tragedi 1965 adalah kesalahan pihak nasionalis dan agamis. Saya hanya ingin kita, terutama mahasiswa, yang mengenyam pendidikan tinggi serta budaya diskusi untuk lebih adil dalam melihat setiap fenomena; lebih kritis dalam menangkap kebenaran.

Keterangan dari rezim berkuasa bukanlah kebenaran yang harus ditelan bulat-bulat. Ucapan para pimpinan agama bukanlah sabda Nabi yang harus diterima dengan tunduk. Manusia bukanlah dewa, bisa salah dan bisa khilaf. Manusia ditempatkan dalam kingdom animalia bukanlah tanpa sebab. Ketamakan dan haus kuasa telah berkali-kali menjerumuskan manusia menjadi binatang bahkan lebih sesat dan lebih hina. Bukankah pembunuhan pertama di muka bumi dilakukan oleh manusia jua?

Dari sudut pandang mana pun kita melihat, sikap saling menyalahkan tidak akan pernah menciptakan persaudaraan. Perpecahanlah yang akan diraih. Saling memaafkan dan mengambil ibrah dari peristiwa lampau harus benar-benar menjadi budaya kita. Sehingga kita paham untuk melihat kekurangan diri dan kelebihan orang lain. Poin pentingnya adalah berlaku adil baik dalam pikiran maupun perbuatan. Bukankah Tuhan menyuruh kita untuk bersikap adil bahkan kepada kaum yang kita benci: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Maaidah: 8)”

 Jadi, masikah kita serampangan melekatkan kata PKI setelah “G-30-S” untuk peringatan tahun depan?

Ferry Fadillah, 1 Oktober 2015.

Dipersembahkan untuk panitia acara puncak Project 30’s di Politeknik Keuangan Negara, Tangerang Selatan, Rabu lalu (30/09/2015)

, , , , , , , ,

Leave a comment

Popularitas Menghapal dan Matinya Ke-kepo-an

part-time-lecturer-in-civil-engineeringMasih terngiang di dalam pikiran ini, mendebarkannya menghadapi Ujian Akhir Sekolah (UAS) pada bulan Agusus lalu. Sebagai informasi, aku adalah mahasiswa akuntansi pada sebuah sekolah kedinasan di bilangan Tangerang Selatan. Mata kuliah yang menjadi santapan sehari-hari tidak jauh dari ilmu-ilmu berbau angka yang menuntut ketelitian dan ketepatan. Yang paling aku takuti –kebetulan semua subjek utama- ialah Intermediate Accounting, Cost Accounting, dan Financial Management.

Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti untuk menghadapi mata kuliah itu semua. Toh ilmu-ilmu itu dirumuskan oleh manusia dengan alur logika yang dapat dipelajari. Sayangnya, semangat untuk mempelajari itu, mengkaji lebih dalam dan menggali makna filsofis dalam setiap mata kuliah selalu terbentur oleh cara berpikir –baik dari sesama mahasiswa maupun dari pihak dosen.

Gambaran ringkasnya seperti ini.

Belajar mata kuliah melalui buku rujukan asli sepertinya sudah tidak diminati oleh rekan-rekan mahasiswa –wabil khusus di sekolahku, maaf, politekniku. Biasanya mahasiswa lebih tertarik dengan serpihan slide yang ditampilkan ketika kuliah lalu meminta koordinator kelas untuk mencetak dan menggandakannya. Pun, kertas-kertas itu hanya dibuka, diberi catatan pinggir dan komentar-komentar beberapa hari menjelang ujian dilaksanakan. Maka tidak salah kalau ada orang bertanya hal ihwal suatu konsep kepada dosen di kelas pada saat jam pelajaran, mayoritas mahasiswa hanya terdiam dan mengangguk setuju. Beberapa orang menggerutu atau bahkan di dalam hati sinis terhadap orang yang selalu bertanya itu.

Dosen sebenarnya ibarat ‘nabi’. Tugasnya memberikan mahasiswa pencerahan akan ilmu yang sedang dipelajari. Pencerahan bukan berarti sukses memindahkan isi buku ke kertas ujian, tapi dapat menggunakan ilmu di kelas bagi kehidupan. Kalau ilmu itu absrak maka dapat digunakan untuk memaknai segala fenomena di dunia ini. Kalau ilmu itu praktis maka dapat dibagikan bagi mereka yang memerlukan atau minimal menjauhkan mahasiswa dari dosa kemiskinan dan kedunguan.

Permasalahannya muncul ketika dosen pun tidak memiliki ketertarikan intelektual untuk mengkaji suatu disiplin ilmu sampai ke level filosofis. Sederhananya, rumus matematis disampaikan kepada mahasiswa, mahasiswa menggangguk setuju lalu menghapal mentah-mentah rumus-rumus itu, dan soal-soal ujian disajikan untuk diisi, bagi yang dapat menindahkan rumus-rumus tadi ke kertas ujian maka akan mendapat nilai bagus dan diberi predikat mahasiswa pintar. Ada yang janggal?

Saya jadi teringat dengan video di whatssup yang disebar oleh kawan saya. Seekor burung beo dengan lihai bisa menirukan sebagian ayat-ayat suci Al-Quran. Melihat fenomena itu kiranya kita bisa melakukan refleksi, kalau begitu (hanya menghafal dan menirukan) apa bedanya kita dengan binatang? Lantas apa beda manusia dengan binatang?

Manusia punya otak, binatang juga punya. Manusia bisa dilatih untuk patuh, anjing lebih-lebih bisa. Manusia bisa diajar hal rumit, simpanse juga bisa melakukan hal rumit. Perbedaannya adalah manusia bisa melakukan pendalaman filosofis atas segala sesuatu sedangkan binatang tidak.

Pendalaman filosofis dalam mengkaji suatu ilmu berarti memahami benar konsep, asumsi, masalah, kelebihan dan kekurangan dari suatu ilmu. Dari pendalaman itu munculah eagle eyes atau pandangan yang luas atas segala masalah. Mahasiswa kelak bisa membedakan mana yang esensial mana yang tidak esensial; mana asumsi yang bisa dirubah atau bahkan asumsi yang salah; mana ilmu yang perlu diperbaiki mana ilmu yang perlu dipisah atau dilebur.

Idealnya adalah, seorang mahasiswa itu kelak tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan tapi juga menjadi produsen ilmu pengetahuan. Sehingga, kelak, harapan kita bersama, teoritikus dan ilmuwan yang selalu jadi rujukan di buku-buku bukan lagi orang asing yang bahkan sulit bagi lidah kita untuk mengucapkannya. Namun, nama-nama daerah nusantara yang membuat kita bangga dan mampu berdiri sejajar dengan semua bangsa di dunia.

Ferry Fadillah. Antapani, 4 September 2015

sumber gambar: catchwork.co.uk

, , , , ,

Leave a comment

Bumi Pasundan dan Kerusakan Alam

Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum

M.A.W. Brouwer1

Begitulah seorang Brouwer melukiskan indahnya Bumi Pasundan melalui rangkaian kata-katanya. Rakyat pasundan sering mengingat kutipan di atas. Bahkan di Kota Bandung, kutipan ini ditulis besar di bawah jembatan penyebrangan yang menyerupai benteng era kolonial di daerah alun-alun kota. Ya, Pasundan. Gugusan gunung saling jalin-menjalin membentuk formasi indah di segala penjuru mata angin. Air bersih melimpah ruah dari sungai, danau dan bawah tanah. Tanah subur tersebar luas di sepanjang patahan vulkanik. Ragam tanaman tumbuh menghijau dan hampir semuanya bisa diolah menjadi penganan. Belum lagi rakyatnya yang kaya akan budaya, ramah dan religius. Nyunda, Nyantri Nyakola.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah Tuhan masih tersenyum melihat Bumi Pasundan kini?

Perjalanan Jakarta-Bandung dan sebaliknya adalah rutinitas yang harus saya lewati minimal dua kali dalam sebulan. Jalan cepat yang biasa ditempuh masyarakat adalah jalur kereta api Argo Parahyangan atau jalan bebas hambatann Purbaleunyi. Kalau tanpa hambatan, waktu tempuh hanya 3 jam saja.

Di sepanjang perjalanan, ketika sudah memasuki daerah priangan2 kita akan menyaksikan rangkaian pegunungan, pertanian rakyat dan sungai besar. Apakah gambaran keindahan bumi pasundan yang digambarkan Brouwer tampak? Ya, namun dengan kerusakan parah di berbagai sisi.

Jalan tol yang mepercepat jarak tempuh Bandung-Jakarta itu sendiri telah merusak lahan hijau di perbukitan priyangan. Belum lagi perkebunan warga yang seolah tidak diatur oleh negara. Kebun-kebun itu berdiri di atas lereng bukit yang rawan longsor, bahkan di puncak-puncak bukit yang tentu mengorbankan banyak pohon penyerap air yang kelak dapat menahan longsor. Di pegunungan karst Cipatat tidak kalah perih hati melihat. Eksavator bederet menguning menggali punggung gunung kapur menyisakan bopeng-bopeng dan merusak vegetasi alam. Bekas-bekas galian itu akan gersang dan digenangi oleh air hujan. Tidak jarang juga terlihat perumahan elit baru di atas perbukitan yang tadinya dipenuhi pohon-pohon besar.

Kalau ingin lebih detil melihat kerusakan Bumi Pasundan. Cobalah berjalan kaki ke Taman Hutan Raya Ir H Djuanda. Perjalanan bisa dimulai dari Gua Belanda di Bandung sampai Curug Omas di Kab. Bandung Barat. Jarak tempuh sekitar 6 km. Di sepanjang jalan menuju lokasi tiket saja sudah ditemukan banyak sampah plasik yang tergeletak hampir di sepanjang jalan. Seperti sengaja di lempar dari kendaraan. Di dalam hutan sendiri sampah tidak kalah banyaknya, sampah berserakan di sekitar akar pohon dan pondok kayu di beberapa sudut hutan. Yang lebih menyedihkan lagi adalah sampah plastik dan busa rumah tangga yang tertumpuk di bawah aliran Curug Omas. Sampah-sampah itu tidak semua terbawa ke hilir. Sebagian besar tersangkut di akar pohon, berputar di pusaran air pertemuan aliran sungai cikapundung bahkan mengendap di dasar sungai.

Menyedihkan. Bumi Pasundan yang dikenal dengan awalan Ci -yang artinya air- dalam setiap nama tempatnya seharusnya memiliki masyarakat yang menunjukan penghargaan yang tinggi terhadap setiap sumber air, namun yang terjadi sebaliknya. Rakyat Pasundan mulai dari level Pemerintah hingga Pedagang kecil harus memiliki kesadaran untuk memelihara lingkungan mereka. Karena kerusakan atau pencemaran di tanah dan udara pasti akan berujung kepada kualitas air di sungai. Padahal air sungai memiliki peran vital bagi kehidupan pertanian, industri rumah tangga dan spiritualitas dalam arti umum.

Dunia memang sedang berubah. Ekonomi yang ditunggangi kapitalisme buta terhadap moralitas dan spiritualitas. Satuan terbesar dan terkecil dalam hidup ini harus dikapitalisasi. Tidak terkecuali alam Pasundan yang indah. Tanahnya yang subur harus sudi dijadikan ladang yang di pupuk dengan pupuk kimia. Gunungnya yang kaya kapur harus rela digerogoti demi pundi-pundi penambang kapur. Sungainya yang indah harus ridha dicemari oleh industri berat dan rumah tangga.

Kalau ini terus berlanjut jangan harap Tuhan akan terus tersenyum. Mungkin Dia sedang murka dan malu melihat tingkah kita.

Ferry Fadillah. Bandung, 26 Agustus 2015

 

  1. Martinus Antonius Weselinus Brouwer atau dikenal dengan M.A.W Brouwer (14 Mei 1923 – 19 Agustus 1991) lahir di Delft dan meninggal di negeri Belanda adalah seorang fenomenolog, psikolog, budayawan yang sangat dikenal karena kolom-kolomnya yang tajam, sarkastik dan humoris di berbagai media masa di Indonesia terutama pada era tahun 70an sampai 80an (sumber : www.wikipedia.com)
  2. Priangan saat ini merupakan salah satu wilayah Propinsi Jawa Barat yang mencakup Kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis, yang luasnya mencapai sekitar seperenam pulau Jawa (kurang lebih 21.524 km persegi). Bagian utara Priangan berbatasan dengan Karawang, Purwakarta, Subang dan Indramayu; sebelah selatan dengan Majalengka, Kuningan; dengan Jawa Tengah di sebelah timur dibatasi oleh sungai Citanduy; di barat berbatasan dengan Bogor dan Sukabumi, sedangkan di selatan berhadapan dengan Samudera Indonesia (sumber : www.wikipedia.com)

, , , , , ,

1 Comment

Membaca Islam Melalui Kacamata Indonesia

Akhir-akhir ini media sosial dipenuhi dengan isu berbau agama, terutama yang menyangkut dengan Islam. Bermula dari perhelatan akbar lima tahunan, pemilihan umum 2014. Saat itu, masyarakat hanya diberi dua pilihan calon presiden dan wakil presiden. Masing-masing pihak didukung oleh kekuatan partai politik; ormas daerah serta organisasi keagamaan. Kampanye-kampanye di dunia online dan media massa tidak terkendali terlihat dari cara bertutur berbagai pihak. Beberapa orang memandang perseteruan politik ini mengerucut menjadi dua kubu yaitu pro-Islam melawan kontra-Islam.

Demokrasi dengan logika vox populi vox dei atau suara rakyat suara Tuhan telah menyatakan satu dari dua calon yang diusung sebagai pemenang. Gegap gempita rakyat yang mendukung kedua pasangan di masa-masa kampanye membahana ke seluruh negeri. Pesta musik dan pesta kuliner diselenggarakan di  Monumen Nasional  Jakarta setelah pelantikan Presiden dan Wakil Presiden di Istana Negara. Bahkan diperkirakan ada ribuan warga yang memadati acara tersebut hingga larut malam.

Sayang, kegembiraan masyarakat kini seperti sebuah paradoks: pemimpin yang dulu dieluk-elukan, kini banyak mengundang tanda tanya besar. Selain kondisi perekonomian yang tidak menentu, langkah sepihak Kementerian Komunikasi dan Informasi menutup 21 website Islam merupakan langkah mundur menuju era orde baru; ketika kebebasan pers dibungkam dan kritik dicurigai sebagai langkah subversif.

 Masalah lain adalah mengenai isu Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) -gerakan islam radikal sadistis- yang dikhawatirkan menyebar di tanah air dan memicu serangan-serangan teror baru pasca tragedi Bom Bali I dan II. Patut disayangkan, dalam memberitakan permasalahan ISIS media masa terkesan berlebihan sehingga  memunculkan citra Islam yang kurang baik bagi orang Islam sendiri maupun orang non-Islam.

Tidak hanya di Indonesia, kecurigaan terhadap Islam terjadi di banyak negara. Paska penyerangan kantor majalah satire Charli Hebdo di Perancis oleh dua orang bersenjata, negeri itu dan merambat ke negeri-negeri Eropa lain mengalami gejala islamophobia. Di Indonesia, islamophobia bukanlah hal baru, isu-isu terorisme seringkali disangkutpautkan dengan agenda milisi islam radikal dan berujung kepada pembenturan ide antara Islam dengan Pancasila. Tragedi Bom Bali I dan II, pengeboman Hotel J.W. Mariot, tindakan anarki Forum Pembela Islam (FPI), Rohianiawan Islam (Rohis) SMA yang dicurigai dan fenomena ISIS dilebih-lebihkan. Dampaknya? Generasi muda muslim jauh dari agamanya, enggan untuk memperdalam agamanya karena takut dituduh radikal, enggan membahas masalah Jihad karena takut dituduh ekstrimis dan sungkan mengikuti sunah Rasul yang berkaitan dengan fashion karena kesan yang dimunculkan akan disamakan dengan teroris. Dari semua pemaparan dimuka, hanya satu kata yang cocok menggambarkan Islam kini, teralienasi.

Membaca Sejarah Islam Nusantara

Teralienasinya Islam di negeri yang mayoritas muslim ini tentu menimbulkan keheranan bagi semua pihak. Bagaimana bisa? Padahal Islam adalah agama yang datang ke Indonesia tanpa kekerasan dan invasi langsung dari Kekhalifahan di timur tengah sana. Bahkan ketika Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) menginjakan kaki di negeri ini dan berusaha memonopoli perdagangan internasional di pelabuhan-pelabuhan utama hingga masa awal pergerakan nasional di bawah pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Islam hadir sebagai ideologi penjunjung kesetaraan, kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan.

Teralienasinya Islam selain disebabkan oleh pengaruh media yang terlalu vokal menghubungkan terorisme dengan Islam juga tidak terlepas dari pendidikan Agama Islam yang terlepas dari konteks sejarah Islam Nusantara. Silahkan tanya pahlawan-pahlawan besar penyebar agama Islam di timur tengah sana, berikut para ulama dan cendikiawannya, pasti para ustadz dan mubaligh dengan lancar dan detail menjelaskan ini dan itu. Padahal sejarah dan tokoh-tokoh Islam di Indonesia tidak bisa dianggap perjuangan lokal semata, tetapi juga berdimensi internasional.

Ketika Sultan Ali Alaoedin Mansoer Sjah (1838-1870) memimpin Kesultanan Aceh, kerajaan yang menjadikan Islam sebagai hukum positif dalam bernegara di semenanjung Sumatra ini telah mengadakan hubungan diplomatik dengan Republik Perancis, Amerika Serikat, Inggris dan Kesultanan Ottoman Turki (Suryanegara  2009 : 259). Hubungan-hubungan tersebut diadakan guna menggalang bantuan militer untuk menghadapi pasukan Belanda yang telah menduduki Banda pada Maret dan April 1873. Sayang bantuan-bantuan tersebut tidak pernah sampai, dikarenakan:  Pertama, Perang Perancis-Jerman (1870-1871) antara Kaisar Napoleon III versus Kaisar Willem I mengakibatkan Republik Perancis sedang menuju keruntuhan; Kedua, Amerika Serikat baru saja selesai dari Perang Saudara (1861-1865) pada masa Presiden Abraham Lincoln, dengan demikian kondisi dalam negerinya masih parah. Ketiga,  Kesultanan Turki sedang dalam perang dengan Rusia  dalam Perang Turki-Rusia kurun waktu 1875-1878 (Suryanegara 2009 : 262-263). Karena aktivitas perang di negara-negara tersebut, bantuan militer kepada Kesultanan Aceh terhenti dan Aceh sebagai satu-satunya kekuatan Islam di Sumatera yang tersisa harus menghadapi Kerajaan Belanda seorang diri  mulai dari tahun 1873 hingga 1914.

Perang besar ini menjadikan Islam sebagai satu-satunya ideologi dan agama yang dijunjung. Semangat pasukan Aceh dalam menghadapi pasukan belanda adalah semangat jihad, perang sabil, perang di jalan Allah, bukan nasionalisme sempit. Dengan dibantu para ulama, perang Aceh adalah perang terlama di negeri ini yakni kurang lebih 70 tahun. Jika perang Aceh berakhir 1914 dan Indonesia merdeka tahun 1945 berarti negeri di ujung Sumatera ini hanya dijajah selama 31 tahun, bukan 350 tahun seperti yang kita percayai selama ini.

Sejarah Islam di tanah Jawa tidak kalah menarik. Perang Jawa (1827-1830) merupakan perang lima tahun yang memiliki dampak luar biasa. Perang ini telah menelan korban 10.000 orang Eropa dan kurang lebih 200.000 orang Jawa terbunuh dan menelan biaya sebesar f19.000.000 (Djamhari, 2014). Perang ini bukan bermula dari hal sepele : pemasangan patok-patok pembangunan jalan di tanah miliki Pangeran Dipenogoro; seperti yang dipelajari ketika penulis sekolah menengah dulu. Tujuan utama pangerang Dipenogoro dalam memimpin Perang Jawa adalah memajukan agama Islam, lebih khusus lagi mengangkat keseluruhan agama Islam di seluruh Jawa –yaitu tatanan moral secara umum , tidak hanya Pratik Islam formal (Carey 2014 :67).

Yang menarik adalah pakaian perang Pangeran Dipenogoro. Pakaian yang tidak lazim digunakan dalam perang-perang jawa sebelumnya yaitu jubah dan sorban islami, menandakan perlawanan sang pangeran terhadap hegemoni budaya Barat di Keraton Yogyakarta. Dari penamaan jabatan-jabatan militer pun, pangeran Dipengoro tidak menggunakan istilah-istilah Belanda. Pangkat militer tertinggi disebut Alibasah. Panglima yang membawahi pasukan (infanteri dan kavaleri), setara dengan komandan divisi model Janissari. Pangkat selanjutnya adalah Dulah, yaitu komandan pasukan yang membawahi 400 orang prajurit, setara dengan detasemen. Pangkat perwira terendah, She¸adalah perwira yang membawahi pasukan setara dengan kompi. Istilah-istilah tersebut diadopsi dari istilah-istilah militer Kesultanan Turki Ottoman. (Djamhari 2014 : 38)

Zaman awal kebangkitan bangsa pun menghadirkan tokoh-tokoh Islam dengan pergerakannya yang layak diperhitungkan. Bahkan penulis percaya bahwa penggagas kebangkitan bangsa adalah Sarikat Islam bukan Budi Oetomo. Hal ini digambarkan oleh Suryanegara (2009 : 376) sebagai berikut :

…tidak mungkin kebangkitan kesadaran nasional dipelopori oleh para prijaji yang sedang menjabat sebagai regent atau boepati dengan organisasinya Boedi Oetomo, seperti yang telah penulis tuturkan sebelumnya karena ciri dari organisasi gerakan kebangkitan kesadaran nasional, bersifat kerakyatan dan antipenjajah. Sedangkan kelompok prijaji, terutama yang menjabat boepati atau pangreh pradja yang bersikap loyal kepada pemerintah kolonial Belanda sebagai penjajah. Terbaca dari keputusan Kongres Boedi Oetomo di Surakarta pada 6-9 April 1928, “Menolak pelaksanaan tjita-tjita persatoean Indonesia”, walaupun sudah berusia 20 tahun, Boedi Oetomo tetap bersikap ekslusif.

Sarikat Islam dibawah pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto merupakan organisasi pribumi yang tidak bisa dianggap remeh. National Congres Centraal Sjarikat Islam yang pertama (17-24 Juni 1916) diadakan di Gedung Merdeka, Bandung, dengan berani memelopori tuntutan Indonesia Merdeka dengan istilah Pemerintahan Sendiri atau Zelf Bestuur. Selain itu kongres pertama ini juga menuntut kepada pemerintah Belanda agar rakyat diizinkan membangun Indie Werbaar (Pertahanan India atau Pertahanan Indonesia), guna memperkuat pertahanan apabila Perang Dunia I (1914-1919), meletus ke Nusantara Indonesia, yaitu dengan cara menyertakan pemuda Indonesia dalam milisi militer Pertahanan Indonesia. Walaupun tuntutan-tuntutan itu tidak sepenuhnya dikabulkan oleh Kerajaan Belanda, namun kita bisa menilai bawah umat Islam pada saat itu dengan organisasi Islam bernama Sarikat Islam memiliki posisi tawar yang kuat, mengingat jumlah anggota yang banyak dan diantara mereka memegang kendali ekonomi di daerahnya masing-masing.

Dari petikan-petikan sejarah di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran. Pertama, kebudayaan islam (bahasa tulis mapun lisan serta simbol-simbol) pada waktu itu tidak diangap asing oleh rakyat di kepulauan Nusantara, bahkan telah menginspirasi beberapa kerajaan untuk mendirikan Daulah Islam dengan hukum positif  Islam sebagai pedoman kehidupan bernegara. Kedua, para Ulama memiliki andil yang besar dalam menanamkan ajaran agama Islam dan cinta tanah air bagi rakyat nusantara, ini dapat dibuktikan bahwa pertempuran-pertempuran pada masa penjajahan bermotif jihad membela agama Allah. Ketiga, pakaian dan penyebutan jabatan militer yang mengikuti Kesultanan  Turki menandakan bahwa Pangeran Dipenogoro ingin merdeka dari hegemoni Belanda hingga ketingkat terkecil yakni bahasa – coba bandingkan dengan era globalisasi saat ini. Keempat, ada distorsi sejarah mengenai penggagas kebangkitan bangsa yang berdampak kepada psikologis umat Islam yang membaca sejarah kebangkitan bangsanya sendiri. Seolah-olah Islam tidak memiliki peranan yang  besar, padahal sebaliknya, sejak zaman kesultanan hingga kemerdekaan, Islam adalah satu-satunya agama yang mempererat suku bangsa se-nusantara dalam melawan penjajah. Kelima, melihat  fakta bahwa Kerajaan Aceh hanya dijajah selama 31 tahun, mematahkan bahwa Indonesia secara keseluruhan dijajah selama 350 tahun, memberikan rasa bangga bagi umat Islam hari ini, bahwa karena semangat Islamlah Aceh menjadi benteng terakhir melawan penjajah Belanda di tanah melayu.

Setelah menyimak serpihan kecil sejarah Islam di Indonesia ini, masihkah kita menganggap Islam sebagai agama asing bahkan meng-alienasi agama ini dari pemeluknya sendiri?

Pendidikan Agama Berbasis Sejarah Islam Nusantara

Pendidikan memiliki peran vital dalam mencetak karakter bangsa. Melalui pendidikan, interaksi antara guru, literatur dan murid akan menghasilkan pemahaman yang baik akan jati diri dan bagaimana menghadapi dunia yang semakin tidak menentu. Karakter pengacau dan anarkis seharusnya tidak ada bagi insan pendidikan karena tujuan akhir pendidikan adalah menajamkan pikiran dan menghaluskan budi.

Pendidikan agama Islam adalah salah satu unsur pendidikan di Indonesia. Namun, pendidikan agama dari sekolah dasar hingga menengah selalu menjadikan fiqih (hukum) sebagai pokok bahasan utama. Peserta didik diajarkan hukum-hukum dengan segala perbedaannya. Hal ini memang baik. Namun, bagi peserta didik yang belum terbiasa dengan perbedaan dan belum memiliki mental yang dewasa, perbedaan ini akan menjadi awal mula percikan konflik antar umat se-agama dan dikhawatirkan memuncak menjadi konflik antar umat beda agama.

Satu hal yang dilupakan, aspek sejarah nusantara dalam pendidikan agama Islam. Pendidikan Agama Islam sering kali menjelaskan tokoh-tokoh timur tengah secara detil dan heroik. Padahal negeri kita tidak kekurangan tokoh-tokoh Islam yang tidak kalah heroiknya. Mengapa harus sejarah Islam Nusantara? Seperti yang kita ketahui, Islam menyebar secara masif di Indonesia secara damai. Wali Sanga (sembilan penyebar Islam di tanah Jawa) memiliki pendekatan moderat dalam menyebarkan cahaya Islam di tengah-tengah hegemoni Hindu-Budha. Beberapa wali menggunakan pendekatan budaya seperti penggunaan cerita wayang yang memodifikasi kisah Mahabrata dengan ajaran Islam dan pendekatan ekonomi Islam yang menonjolkan prinsip keadilan dan kejujuran.

Islam model inilah yang sangat berbeda dengan model Islam timur tengah. Islam model ini dapat  merangkul ideologi nasionalisme dan sosialisme sekaligus, karena sejak dulu memang memiliki tujuan yang sama yakni menuju Indonesia merdeka. Selain itu, sejarah Islam Nusantara harus disajikan seobjektif mungkin, agar semua menjadi jelas, bahwa Islam sejak zaman kesultanan hingga pergerakan kemerdekaan selalu mendapat tempat di hati masyarakat  bukan malah jauh dan dijauhkan dari masyarakat seperti sekarang ini. Bahkan pendiri bangsa kita, yang dapat merangkul semua –isme di negeri ini, Soekarno, semasa dalam tahanan Belanda pernah tercerahkan oleh Islam, seperti yang beliau tuturkan  sebagai berikut (Adams 2011 : 136) :

Kemudian aku membaca Al-Quran. Dan hanya setelah menyerap pemikiran-pemikiran Nabi Muhammad s.a.w. aku tidak lagi mencari-cari buku sosiologi untuk memperoleh jawaban bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi Aku memperoleh seluruh jawabannya dalam ucapan-ucapan Nabi. Dan aku sangat puas.

Dari perkataan beliau –dimana cahaya Islam telah merasuk kedalam pikirannya- kita tahu bahwa perjuangan beliau di negeri ini tidak hanya berdasarkan nasionalisme sempit belaka, tidak juga sosialisme model Karl Marx namun menjadikan Islam sebagai ideologi universal dan menjadikannya rumah bersama bagi semua golongan di Indonesia dan beliau berhasil mereproduksinya menjadi butir-butir Pancasila yang luhur itu.

Harapan dari pendidikan agama Islam berbasis sejarah Islam Nusantara –dari zaman kesultanan hingga kebangkitan bangsa- adalah, kelak, pemuda-pemudi negeri ini akan paham bahwa Islam adalah jati diri bangsa, bukan ideologi asing yang tidak cocok dengan kultur Indonesia. Memahami bahwa Islam adalah cikal bakal kebangsaan dan kemerdekaan sehingga tidak adalagi yang mempertentangkan antara Islamisme dan Nasionalisme, bahkan kecintaan terhadap Islam akan berbanding lurus dengan kecintaan terhadap tanah air. Sadar bahwa Sosialisme bukanlah ide yang pertama kali diusung oleh Karl Marx, melainkan ide orisinil Islam dengan sistem ekonomi berkeadilan dan sistem sosial yang egaliter. Insyaf  bahwa kebudayaan Islam adalah sebuah keluhuran yang membuka peluang bagi perubahan, bukan konservatisme yang berlawanan dengan semangat zaman.

Kesimpulan

Islam kini mendapatkan tantangan, baik dari kebijakan pemerintah hingga media massa yang makin memperburuk citra Islam di Indonesia. Akibatnya, Islam sering dikaitkan dengan isu terorisme. Gejala islamophobia terjadi, simbol-simbol dan kegiatan islam dicurigai, pemuda-pemudi Islam di negeri mayoritas muslim ini semakin jauh dari agamanya.

Pendidikan agama Islam dengan pendekatan sejarah Islam nusantara dapat menjadi alternatif untuk mendekatkan kembali Islam dengan generasi muda masa kini. Dengan pendekatan  ini, diharapkan Islam dipandang sebagai jati diri bangsa, bukan ideologi asing yang tidak cocok dengan kultur Indonesia asli, dan tercipta pemahaman bahwa ada irisan toleransi antara ide nasionalisme dan islamisme yang pada akhirnya semangat Islamisme akan memperkuat semangat kebangsaan dan cita tanah air dalam dunia yang semakin tanpa batas ini.

Ferry Fadillah, Mei 2015

Referensi

Adams, Cindy. 1965. Sukarno an Autobiography as Told to Cindy Adams. The Bobbs Merrill Company Inc. New York. Terjemahan Syamsu Hadi. 2011. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Cetakan Kedua. Yayasan Bung Karno dan PT Media Pressindo. Jakarta.

Suryanegara, A. Mansur. 2012. Api Sejarah : Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cetakan Kelima. PT Grafindo Media Pratama. Bandung.

Djamhari, S. As’ad. 2014. Strategi Menjinakan Dipenogoro : Stelsel Benteng 1827-1830. Cetakan Kedua. Komunitas Bambu. 2014.

Carey, Peter. 2014. Takdir : Riwayat Pangeran Dipenogoro, 1785-1855. Cetakan Pertama. Kompas. 2014.

, , , ,

Leave a comment

Sejarah

Sejak sekolah dasar di Bandung, seorang guru sudah mengenalkanku dengan sejarah. Sebuah pengetahuan tentang tanggal bulan tahun berikut peristiwa-peristiwa yang ada di masa lampau. Pikiran kecilku dipenuhi hapalan-hapalan yang banyak sekali, mulai dari zaman Sriwijaya sampai Kemerdekaan. Alhasil, bukannya memancing minat, sejarah adalah salah satu pelajaran yang sangat aku hindari.

Saat kelas dua sekolah menengah, aku beruntung mendapat guru sejarah yang sangat memikat. Beliau –yang aku lupa namanya- begitu antusias menghubungkan sejarah yang ada di Nusantara. Beliau bercerita dengan mata berbinar dan intonasi yang jelas. Terkadang antara fakta dan mitos pun ia campur. Memang sejarah negeri ini di tangan para leluhur tidak pernah lepas dari mitos dan legenda. Seorang pahlawan besar kerap diceritakan dengan berlebihan berikut kesaktian-kesaktiannya, sedangkan seorang penjahat juga tidak luput dari gambaran berlebihan itu : buto, raksasa dalam epos Ramayana sering dijadikan personifikasi tokoh antagonis.

Sebenarnya, apa penting mempelajari  sejarah?

Kini, anak muda, termasuk saya, berpikir praktis. Kuliah lah di jurusan yang akan mengantarkanmu kepada kepastian kerja dan kekayaan! Fakultas Kedokteran, IPDN, STAN, ITB, Manajemen, Ekonomi dan semua yang nanti akan terpakai di dunia industri; atau kapitalisme sebagai istilah sarkasme atas ketamakan yang membabi buta. Tidak hanya dunia industri, dunia birokrasi pun menjadi incaran, dengan gaji dan tunjangan yang naik setiap tahun dan kehidupan masa tua yang pasti.

Seorang sejarawan professional bahkan tidak pernah dilirik (kecuali oleh satu kawanku yang terinspirasi film Indiana Jones dan memilih jurusan arkeologi di UGM). Mungkin benar, tidak pernah ada ceritanya seorang sejarawan menjadi kaya raya. Alhasil, sejarah hanya menjadi hobi orang yang mampu membeli buku dan orang-orang Indonesia tetap membiarkannya ditutupi kabut misteri tanpa penelitian serius dan mendalam.

Peter Carey, seorang sejarawan Inggris yang telah melakukan penelitian selama 30 tahun tentang Pangeran Dipenogoro, dalam kata pengantar bukunya berjudul Takdir : Riwayat Pangeran Dipenogoro (1785-1855), menulis demikian :

Saya berharap mereka (generasi muda, pen) tergugah oleh perkiraan mutakhir yang menyebutkan bahwa 90 persen karya tulis ilmiah tentang Indonesia justru disusun oleh mereka yang tinggal di luar Indonesia, yang sebagian besar tentunya orang asing. Jika angka ini benar, maka Indonesia merupakan sala satu negara di dunia yang paling kurang efektif menjelaskan dirinya sendiri pada dunia luar (Reid 2011)… Istilah “jasmerah” (jangan sekali-kali melupakan sejarah) kini terdengar lebih benar dari sebelumnya. Tanpa cinta dan penghargaan pada sejarah mereka sendiri, Indonesia akan terkutuk selamanya di pinggiran dunia yang mengglobal tanpa tahu siapa diri mereka sebenarnya dan akan kemana mereka akan pergi.

Kutukan itu bukan hanya kata kosong di awal pengantar buku, namun telah benar-benar terjadi. Pernah suatu hari aku berjalan-jalan ke museum di sekitar kota tua Jakarta, waktu itu aku berbincang banyak dengan  seorang kawan kelahiran Makassar tentang Pangerang Dipenogoro, dan pertanyaan yang mengagetkan itu muncul, “Siapa sih Pangeran Dipenogoro?”

Bukan hanya itu, lupa akan sejarah menyebabkan generasi muda menganggap remeh produk budaya negerinya sendiri. Jika pada awal abad ke-20, Soekarno muda dapat menjadikan kopiyah/peci yang biasa dipakai rakyat banyak dan dicibir priyayi jawa serta Belanda menjadi identitas kebanggaan nasional. Kini, muda-mudi (mungkin tidak semua) menanggalkan identitas nasionalnya dan berbangga dengan pakaian mahal mode barat, berbicara lancar dalam Bahasa Inggris, memiliki minat besar di dunia tarik suara dengan standar barat, menjadi produser film picisan dengan cerita-cerita jiplakan dari barat dan menamai anak-anak mereka dengan nama para penjajah kita dulu.

Adakah semua itu tidak tampak seperti kutukan?

Ferry Fadillah. Bintaro, 17 Maret 2015.

, , , , ,

4 Comments

Soal Kematian

Ramai-ramai orang bicara tentang kematian. Biangnya media massa. Hukuman mati yang menjadi putusan akhir kurir narkoba mancanegara itu telah beranak pinak menjadi perbincangan yang seru, antara pro dan kontra.

Bicara kematian. Saya jadi teringat almarhum kakek, dari jalur Ayah yang tinggal di Ciamis. Waktu itu karena mengalami masalah dengan suhu, beliau memilih tinggal di Surabaya dengan cuaca yang lebih hangat. Tak disangka, di kota pahlawan itu beliau menderita pecah pembuluh darah otak. Segera, maut memeluknya. Ia terdiam kaku, diranjang kecil, di sekitaran Wonocolo.

Orang-orang menangis, termasuk saya. Padahal keberanian dan ketegaran sudah dipersiapkan. Kematian adalah kepastian, batinku. Namun tetap saja, entah reaksi hormon apa dalam tubuh, air mata menganak sungai tidak terbendung.

Kematian menandakan perpisahan. Kematian menandakan tapal batas, antara yang di sini dengan yang liyan. Kematian juga sebagai gerbang menuju keabadian, karena jasad akan menua sedangkan ruh tidak.

Orang Islam percaya, kematian hanyalah masa transisi menuju alam berikutnya. Kelak sesuai amal, manusia akan menuju tempat tinggal terakhir : surga atau neraka. Mungkin, bayang-bayang neraka lah yang kerap menjadi momok dalam menghadapi kematian. Atau, mungkin, alasan-alasan pragmatis, sang mayat adalah tulang punggung keluarga, jika ia pergi bagaimana menghidupi sekian banyak anak, sewa rumah dan bunga hutang yang melilit-lilit. Maka isak tangis itu, lebih menandakan kekhawatiran material dibanding spiritual.

Lantas, perbincangan hangat akan hukuman mati, apakah perbincangan antara pemikiran material atau spiritual? Saya kira pokok perdebatannya bukan di sini, tapi, apakah manusia berhak untuk menentukan ajal seseorang?

Mereka yang kontra berdalih bahwa kematian hanya dapat ditentukan oleh Allah. Sedangkan yang pro berdalih bahwa hukuman mati akan menciptakan efek jera bagi pengedar baru yang akan masuk di tanah air.

Saya pibadi bersebrangan dengan pendapat pertama. Hukuman mati bukanlah barang baru di peradaban ini. Raja-raja Eropa dan Timur Tengah masa lampau menjadikan hukuman mati sebagai tontonan massal untuk memberikan pelajaran; bahwa kejahatan ini atau itu jika dilakukan akan berkonsekuensi kematian.

Narkoba, korupsi, dan tindak kejahatan lain sebenarnya berhulu dari satu hal : lupa akan kematian. Pelaku pikir hidup ini akan lebih panjang lagi sehingga sebelum akhir Allah akan memaafkan segala dosa. Tapi seperti kematian itu sendiri, ia begitu mesteri, kita tidak pernah tahu kapan akan menghadapinya.

Hukuman mati berarti mengingatkan kita -yang baik, yang jahat, maupun yang abu-abu- bahwa kematian itu pasti. Kematian tidak akan menuntut kita untuk menjadi kaya raya. Semua sama di hadapannya. Seorang koruptor uang negara milyaran rupiah dengan vonis 5 tahun, atau seorang kakek miskin pencuri 50 gram merica dengan vonis 2 bulan 25 hari.

Ferry Fadillah. Bintaro, 17 Maret 2015

, , ,

Leave a comment