Archive for March, 2017

Pindah

Pada saat masyarakat Kali Jodo meringis dan menjerit melihat rumah-rumah mereka dibuldoser oleh aparat, aku hanya bisa terpekur dari balik layar kaca. Pagi itu sebelum berangkat sekolah, sebuah stasiun televisi swasta menayangkan kekejaman yang terjadi pada sebuah sudut ibu kota. Di antara gedung mewah dan jalanan yang lebar ternyata ada orang-orang yang terusir paksa. Alasannya klise padahal mereka kalah karena miskin dan jauh dari kekuasaan.

Aku segera menghabiskan sarapan pagi yang sempat tertunda. Menunya hanya nasi satu centong dan tahu dengan bumbu kecap. Maklum, sudah satu bulan Ayah belum juga membawa uang. Untuk keperluan dapur, Ibu harus menyiasati dengan menjual beli perhiasan emas kesayangannya. Setelah nasi habis, aku pamit kepada Ayah dan Ibu. Seperti kebiasan anak-anak pada umumnya Aku mencium tangan keduanya lalu mengucapkan salam.

Sekolahku hanya berjarak  1 km dari rumah. Tepat di sebelah sawah besar yang sudah mengering. Kata orang itu akan diubah menjadi perumahan elit. Entahlah. Saat sekolah dasar dulu aku sering bermain layang-layang di pematangnya, mencari belut untuk dijual atau sekedar memakan bekal makan siang sembari menikmati angin yang berhembus dihamparan padi.

“Anak-anak sekarang waktunya kalian menceritakan pengalaman kalian di depan kelas. Sambil melatih keberanian bicara di depan umum. Bisa cerita apa saja. Tapi kali ini Ibu minta kalian menceritakan masa kecil kalian bersama Ayah dan Ibu. Ya kira-kira  lima menit lah. Mungkin bisa dimulai dari Tery. Ayo, Tery, jangan malu maju ke depan.”

Aku terperangah. Namaku dipanggil duluan. Apa yang harus aku ceritakan. Masa kecil? Mmm.. aku sama sekali tidak mempunyai bayangan. Tapi aku beranikan melangkah ke depan kelas. Melihat para siswa memandangku tajam jantungku berdebar keras.

“Selama Siang, teman-teman. Kali ini Aku akan menceritakan pengalaman masa kecilku. Jadi dulu Aku, Ayah dan Ibu …”

Perkataanku terputus sampai di sana. Pikiranku berusaha untuk mencari arsip bernilai di masa kecil. Lokasi rumah, kamar tidur, perabotan, wisata alam dan … ah, sial, kenapa harus aku yang pertama maju. Aku tidak bisa mengingat apapun.

“Tery, kenapa kamu diam. Ayo lanjutkan. Teman-teman kamu sudah menunggu.”

“Iya, sebentar, Bu. Aku minta waktu sebentar.”

Wajahku memerah. Pandanganku kabur. Tanganku berkeringat. Aku mencoba memejamkan mata sekejap. Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Aku fokus kepada nafasku. Tenang, tenang, tenang…

Pikiran membawaku ke sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas. Ada kolam ikan, pohon jambu setinggi pinggang dan rumput gajah yang lama tidak terurus. Di dalam rumah ada kolam ikan besar dengan air terjun buatan yang kering. Di gudang sebelah timur aku melihat diriku sendiri. Aku sedang bermain dengan mobil-mobilan. Mobil itu aku tarik dengan tali rapia sambil berlari. Tiba-tiba dari arah gudang keluar asap. Api muncul kemudian. Diriku berusaha keluar dari gudang itu. Aku berusaha menolong. Sialnya pintu terkunci. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Asap itu semakin pekat dan aku pingsan dibuatnya.

Saat terbangun, aku berada pada sebuah kamar dengan dinding terbuat dari triplek. Di sana hanya ada kasur tanpa kaki-kaki. Beberapa langkah dari kasur itu ada kelelawar besar yang menutupi perut dengan sayap hitamnya. Ia tertidur. Namun, taring dan besarnya makhluk itu membuatku ngeri. Aku coba mengumpulkan kesadaran. Saat beranjak dari tidur makhluk itu terbangun. Matanya merah dan ia lekas terbang ke arahku. Aku terkejut dan melompat ke belakang. Ternyata tembok itu rapuh. Aku terjerumus, menabrak penyangga atap, langit-langit, lantai, kemudian lubang gelap yang menarikku dengan sangat kejam.

Saat muncul cahaya, aku sudah berada di sebuah rumah sederhana dengan dua kamar. Di ruang tamu tidak ada perabot apapun. Pada sebuah pojok tembok aku melihat tulisan tiga buah nama: Tery, Dery, Lary. Aku mengenal mereka semua. Itu adalah adik-adiku. Tapi kemana mereka semua. Mengapa rumah ini begitu sepi. Dari arah dapur aku mendengar suara orang bertengkar. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana.

Lonte, siapa lagi yang kamu bawa. Jahanam!”

“Bajingan, ngomong apa kamu itu. Mulut ga bisa dijaga!”

Sumpah serapah itu terus berulang. Memantul dari satu tembok ke lain tembok. Bergema. Bertambah keras. Kini suara-suara itu merasuk ke dalam diriku. Aku sudah menutup telinga. Suara itu terus saja hadir. Aku menutup mata. Suara itu bertambah ganas. Aku dibuatnya mual.

Saat memejamkan mata, aku sudah berada di lain tempat. Sebuah rumah kost dengan  empat kamar yang berjejer. Di kamar nomor 14 tepat di depannya ada tumpukan piring kotor dengan noda kuah batagor yang sudah mengering. Aku coba memanggil para penghuni kost. Yang keluar adalah seorang anak kecil dengan botol berisi ikan cupang di tangan kanan. Wajahnya pucat. Bibirnya terkatup rapat. Ia mirip sekali dengan diriku. Tapi berbeda dari pertemuan pertama. Ia tampak sakit tidak terurus.  Ia duduk bersila. Ikan cupang dihapannya ia perhatikan dengan saksama. Aku juga memperhatikan ikan itu. Warna birunya, bekas cacing yang mati di dasar botol, gelembung udara, dan pipi yang menghitam ketika melihat cermin.

Tiba-tiba anak kecil dan ikan cupang itu menatap tajam ke arah diriku. Sekelilingku  berubah. Menjadi rumah yang terbakar. Menjadi kamar dengan kelalawar. Menjadi dapur. Menjadi kamar mandi. Menjadi ruang tamu. Menjadi panas. Menjadi basah. Menjadi hingar bingar oleh suara-suara. Aku tidak bisa mendengar suara siapa saja ini. Seperti pertengkaran suami istri dan jerit tangis bocah ingusan. Jeritan itu bertambah keras.. keras.. keras…

“Tery! Kenapa kamu malah tidur! Mana ceritamu.”

Aku terbangun. Ternyata aku masih berada di depan kelas. Aku sadar. Sepertinya tidak mungkin aku menceritakan masa kecilku yang kerap berpindah itu. Aku harus berani mengalah dengan keadaan.

“Maaf, Bu. Kali ini aku ga bisa cerita.”

Ferry Fadillah. Bandung, 31 Maret 2017.

 

 

 

 

, ,

2 Comments

Stasiun

Dalam sebuah perjalanan, aku mendapat kabar: Patriot akan segera menikah. Seharusnya aku hadir di sana. Menjadi saksi sebuah tonggak sejarah. Awal dari tumbuhnya peradaban. Namun, jarak, waktu, dan kesempatan berkata lain. Aku harus memendam dalam-dalam keinginanku itu.

Dari prosesi yang aku amati dari jauh itu. Aku melihat wajah-wajah ceria dalam citra fotografi. Ada senyuman, ada kebahagiaan dan ada keceriaan. Tapi, dari sorot mata setiap orang muncul pertanyaan, “Mengapa hari ini datang begitu cepat?”

Belum tenggelam dalam ingatan. Gerombolan anak SMA yang lebih banyak bermain dibanding belajar. Setiap malam dihabiskan dengan bermain Pro Evolution Soccer, Tekken 3, Guitar Hero dan ngobrol ngalor ngidul hingga larut malam. Siapa sangka, kesia-siaan itu merajut sebuah tali persaudaraan yang tidak lekang oleh waktu dan tidak bisa dianggap sia-sia.

Sebenarnya, episode-episode dalam hidup ini seperti jejeran stasiun kereta yang terbentang sejauh 225 km dari Semarang ke Bandung. Pada mulanya kita akan bertemu orang baru di stasiun awal. Senyum dan sapa mencairkan suasana. Terjalinlah obrolan sepanjang perjalanan. Timbulah keakraban. Kemudian petugas kereta memberitahukan. Bahwa sebentar lagi akan memasuki stasiun Pekalongan. Mungkin itu tujuan orang itu. Segera saja kita berpamitan. Membalas senyum dan melihat kursi di sebelah menjadi kosong.

Selang beberapa menit akan ada orang lain yang mengisi kursi itu. Pertama kita kikuk. Seperti biasa, senyum  dan salam akan mencairkan suasana. Obrolan kembali terjalin. Keakraban terjadi dan pengumuman berbunyi. Kereta mendekati stasiun Cirebon. Orang tadi berkemas dan menyalami tangan kita. Dan kursi itu kembali kosong.

Read the rest of this entry »

1 Comment

Kantor

pada detik di meja kantor

orang pada menanti:

“Kapan ini akan henti?

yang sama selalu berulang

kau datang

lalu pulang

demi uang

Ferry Fadillah. Maret, 2017.

,

Leave a comment

Kamu Dimana

Aku termenung pada sebuah ayunan berkarat di pinggiran taman pantai. Waktu itu waktu menunjukan pukul lima sore. Langit mendung bukan main. Angin menerpa pohon kelapa hingga nyaris runtuh. Aku menengadah ke langit. Sesekali memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam.

Dimanakah Dia? Aku melihat ke kiri dan ke kanan. Hanya ada segerombolan turis udik yang mengabadikan pemandangan sore itu dengan gawai buatan cina. Di hadapanku hanya ada kapal nelayan yang memaksa mesin kapal agar segera menepi. Aku tidak melihat apa-apa lagi selain itu.

Beberapa bulan lalu, saat sedang dalam perjalanan kereta Bandung-Jakarta, aku melihat pemandangan alam yang luar biasa. Gunung-gunung dengan pohon hijau berikut sawah-sawah penduduk. Sungai mengalir begitu jernihnya memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar. Aku memejamkan mata, menghirup udara yang bercampur bau rokok kemudian membuka mata dan melihat lekat ke jendela. Kemana Dia, kenapa aku tidak juga menemukannya?

Hujan gerimis di bilangan Jakarta. Aku sendiri ditemani kopi hangat. Aromanya menenangkan jiwa. Kemudian aku memesan lagi satu gelas kopi dengan caramel dan kue belanda. Aku siapkan bunga mawar putih di sebelah hidangan itu. Waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Aku sudah menanti lebih dari lima jam. Namun, Dia tidak datang ke tempat itu. Memberi tahu kealpaannya saja tidak. Aku sangat kecewa.

Pada suatu titik, aku sudah bosan mencari dan menunggu. Aku berhenti berusaha.

Dalam sebuah perjalanan malam di taman kota. Aku membeli burger ukuran besar dengan saus tomat dan minuman dingin. Aku duduk pada sebuah bangku gaya kolonial dibawah lampu temaram. Malam itu sangat cerah. Aku melihat gugusan bintang yang bersinar terang. Lamat-lamat aku menikmati burger itu. Saat sibuk dengan kunyahan ke enam ada seorang pria tua melintas.

Umurnya sekitar enam puluhan. Wajahnya tampak kusam dengan rambut putih di kepala dan dagunya. Saat itu ia mengenakan kemeja biru dengan membawa tumpukan koran di dalam ransel selempangan. Mungkin penjual Koran, batinku. Tapi kenapa malam-malam begini.

Aku tegur bapak itu. Kebetulan ada kentang yang belum kumakan. Selagi hangat kutawari bapak itu. Semula ia menolak. Setelah aku berkeras, ia menerima dengan gurat senyum yang mengembang dari wajahnya. Ia menepuk pundakku tiga kali dan mengucapkan rasa terimakasih berulang-ulang.

Kentang itu mulai habis. Sang Bapak mulai bercerita pengalamannya. Semuanya adalah perjalanan pedih dan penuh luka. Aku tidak menyangka ada cerita seperti itu. Maklum, aku adalah seorang pejabat pada sebuah instansi pemerintah. Gajiku cukup untuk menghidupi anak, istri dan  investasi saham di perusahaan syariah. Tidak pernah terpikir olehku untuk hidup susah. Semua sudah tersedia dengan mudah.

Hari makin malam, bapak itu terus bercerita. Tentang istri yang meninggalkannya karena kemiskinan. Tentang teman kantornya yang menipunya ratusan juta rupiah. Tentang rumahnya yang disita pengadilan negeri. Tentang penyakitnya yang sebentar lagi merengut satu-satunya harta: jiwanya.

Aku merasa iba namun tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa berkata iya dan menganggukan kepala. Sesekali aku harus membetulkan letak kacamata. Air yang menggenang pada mata membuat posisinya selalu tidak mengenakan. Dalam hati aku bersyukur, sangat bersyukur, bahwa hidupku jauh lebih beruntung. Aku tidak mau melupakan momen ini. Aku harus banyak berbagi dan berbicara dengan orang yang kurang beruntung.

Bapak itu pun akhirnya pergi meninggalkanku. Saat itu sudah pukul sebelas malam. Jalanan sudah sepi. Dan hanya ada Aku di taman. Aku memejamkan mata. Menghirup udara dalam-dalam dan lekas melihat lekat ke udara, “Engkau! Ah, disana rupanya selama ini..”

Ferry Fadillah. Kuta, Maret 2017.

,

Leave a comment