Archive for November, 2017

Sempurna

–Untuk yang berpikir bahwa hidup itu sempurna

Ada dua warta
Pak Karna mati siang tadi
tubuhnya kaku di emper toko;
Bu Ani digesper suaminya
mukanya lecet penuh luka.

Sebenarnya ada tiga, empat, lima…
Ujungnya luka
Muaranya alpa

Rabu, Mas Parman mampus,
mulut berbusa racun tikus
Selasa ia punya pinta:
Ku ingin lupa, Ka..

Masih kau pikir
hidup itu sempurna?

Luka bak basuhan
dari air gerbang utara
Bulirnya dirajut sutra
Jernihnya melebihi kaca

Diri dicelup dalam tempayan
diputar ke kiri dan ke kanan,
dibalik dan digosok,
dihardik bila berontak,
dicengkram bila melunjak

Diri butuh berserah
Ikuti pasrah
Tanpa keluh kesah
Pada saatnya nanti
Diri kan bercahaya

Bilamana cahaya ada?
Suka duka itu sama
Tak perlu lagi risau
Semua akan selesai..

“Wahai nafs yang tenang.
Kembalilah kepada Tuhanmu
Dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”

Kuta, 23 November 2017. Ferry Fadillah

Advertisements

, , ,

Leave a comment

Tanya

Di kaki langit segerombolan orang berjalan menembus awan. Ada yang duduk sambil membaca majalah perjalanan. Ada yang melihat ke jendela sambil membayangkan hidupnya yang sial. Ada orang tua yang membentak anaknya. Juga, anak yang membentak ayahnya.

Yang lebih durhaka adalah, ada seorang pemuda yang kencing sambil berdiri di atas langit, padahal mungkin di bawahnya seorang janda selepas shalat sedang menengadah ke langit dengan kedua tangan dibuka berbisik memohon petunjuk-Nya. Semua pasti tahu amuk seperti apa yang diberikan seorang janda ketika mengetahui apa yang terjadi di atas sana. Tetapi biarlah. Kita tidak akan membicarakan janda itu.

Di tengah hiruk pikuk itu. Sepasang anak muda berusia akhir 20-an saling memandang.  Tawaran produk bebas bea pramugara dengan troleynya atau ledak tangis seorang bocah yang minta dibelikan miniatur pesawat terbang tidak mereka gubris.

“Kapan kamu akan menikahiku?”

Anjing, makinya dalam hati. Ia kaget bukan kepalang. Baru saja mereka berbincang hangat tentang singa pemalas di Bali Safari and Marine Park. Kemudian berdebat tentang jumlah turis homo yang menyamar sebagai hetero di Pantai Uluwatu. Atau marjin laba pedagang ikan di Pasar Kelan dibanding Cafè Menega. Tetiba pertanyaan itu muncul. Ia tidak habis pikir.

“Kok kamu diam. Kamu sayang kan sama aku?”

Mendapat serangan kedua ia mulai menghembus nafas dalam. Ingin rasanya ia meminta parasut, membuka pintu darurat dan terjun bebas ke pegunungan di bawahnya. Biar ia hilang. Di makan harimau mungkin. Pun kalau mereka punah, masih ada ular berbisa yang tidak kalah mematikan.

*

Tahun lalu, di bulan Rajab, Ical bertemu Dewi di sebuah kelas pranikah yang diisi oleh seorang dai kondang cum selebgram. Pada pertemuan ke-5 yang sangat membosankan mereka tanpa saling mengetahui memutuskan keluar masjid dan membeli cilok di parkiran.

“Loh, mba. Kelas belum usai kok malah jajan cilok,” tanya Ical memecah kebekuan.

“Bosan, mas. Isinya standar”

Sejak pertemuan di gerobak cilok itulah mereka lebih intens bertemu. Tidak peduli jargon-jargon agamis yang menyindir pasangan pacaran. Bagi mereka hidup hanya sekali. Sangatlah merugi kalau hidup tanpa ia yang dicintai.

*

“Cal, kok kamu diem terus sih!”

Ical tahu Dewi menuntut kepastian. Namun, apakah harus secepat ini. Sebentar lagi pesawat mendarat. Tanda kenakan sabuk pengaman sudah dinyalakan. Beberapa menit lagi Bandung di depan mata. Ia tidak mau membawa beban langit di muka bumi.

Roda mulai dikeluarkan. Saat roda itu menyentuh landasan pacu dan penumpang goyang ke sana ke mari akibat gravitasi, Ical menyentuh pundak Dewi.

“Baik kalau begitu. Kita putus…”

Ferry Fadillah. November, 2017.

 

Leave a comment