Archive for category WISATA

“Cahaya” di Bukit Gunung Lebah, Campuhan, Ubud

IMG_2923Ubud adalah Ubar/Ubad (Obat) bagi jiwa-jiwa yang mengalami kehampaan. Kita tidak akan menemukan Tuhan di sini, karena ubud hanya menawarkan penampakan materi yang begitu memukau. Tuhan dan segala yang astral, diyakini berada di balik keindahan itu semua. Sehingga menghayati yang materi itu, sama saja dengan menghayati yang astral itu.

Kesucian selalu dikaitkan dengan mitos, agama dan hal-hal lain yang berbau imateri. Sering, kita terlalu angkuh dan melihat semua hal imateri dengan sebelah mata : irasional, naif, klise, tribal. Faktanya, embel-embel imateri tersebut telah mewujudkan sesuatu yang lebih lestari dan tahan terhadap zaman yang semakin kapitalistik.

Pohon, bukit, sungai, atau hutan yang disucikan/sakralkan memiliki kisah dan daya yang kasat mata telah membuat masyarakat sekitar tidak berani untuk merusak kesakralan itu melalui berbagai himbauan. Dilarang mesum. Dilarang merusak tanaman. Dilarang kencing sembarangan. Dilarang berbicara kotor.

Walaupun kita, yang menganut monotoisme akut, sering ngotot bahwal hal-hal berbau imateri nan mistis itu harus diberantas karena menandakan sikap syirik. Namun, faktanya, dengan terus terjaganya hal-hal imateri nan mistis itu beberapa sungai, gunung, pohon dan hutan tetap lestari hingga saat ini.

Entah sampai kapan. Yang pasti, saya yakin, ketika keangkuhan kita muncul dan memandang bahwa alam ini hanya terdiri dari materi belaka, maka ucapkanlah selamat tinggal dan mari mencari bumi yang lebih manusiawi.

IMG_2926

IMG_2927 IMG_2929

IMG_2930 IMG_2932 IMG_2934 IMG_2935

IMG_2936

IMG_2938

"Rumpu yang mengering di Bukir Gunung Lebah"

“Rumput yang mengering di Bukit Gunung Lebah”

Advertisements

, , ,

Leave a comment

Perjalanan Menakjubkan : Nusa Penida, Nusa Lembongan

Perkenankanlah saya bercerita sedikit tentang sebuah perjalanan wisata yang tak terlupakan.

Bosan setelah mengitari Pulau Bali secara rutin (sabtu, minggu, atau hari besar lainnya) saya mulai tertarik untuk mengunjungi sebuah pulau kecil di tenggara pulau Bali yakni Nusa Penida. Pulau yang secara administrasi masuk ke dalam wilayah Kabupaten Klungkung ini sangat berbeda dengan daerah Bali pada umumnya. Di sini lah saya menemukan suasana Bali yang lain daripada yang lain.

***

“Deretan Perahu Nelayan di Nusa Penida, Klungkung, Bali”

Lebih kurang dua jam perjalanan dari Tuban, Badung menuju Pelabuhan Padangbay menggunakan motor, saya dan teman-teman harus rela antre membeli tiket penyebrangan ke Nusa Penida. Maklum pada saat itu banyak sekali masyarakat Bali yang akan ke sana. Dilihat dari pakaian dan barang bawaan, mereka sepertinya akan sembahyang bersama keluarga.

Entah mengapa, kapal ferry yang kami tumpangi sangat penuh sesak. Orang-orang duduk dimana-mana, bahkan ada yang tidur di depan kamar kecil, namun tetap hal ini tidak menyurutkan niat kami untuk mengorek lebih lanjut pulau di hadapan kami. Solusi dari permasalahan ini hanya satu, tidur pulas tidak mempedulikan sekitar.

Satu setengah jam sudah kami terombang-ambing di selat Bali yang indah dan tenang. Sesampainya di Nusa Penida kami terheran-heran. Sepi sekali Pulau ini. Dimana penginapan? Dimana pusat perbelanjaan? Tidak mau terbelit pertanyaan anak kota, kita langsung tancap gas menuju ke arah utara.

Berdasarkan peta Provinsi Bali yang selalu saya tempel di kamar tidur, Nusa Penida memiliki tiga potensi wisata, pantai yang masih perawan, tebing ekstrim yang mengagumkan dan air terjun yang indah. Akhirnya, kami sepakat untuk mencari air terjun terdekat dengan modal : bertanya kepada penduduk sekitar.

Mata Air Guyangan

Sudah kurang lebih setengah jam kita berjalan menuju arah yang sama sekali tidak kita ketahui. Bertanya dari satu desa ke desa lain dan pada akhirnya tibalah kami pada jalan buntu dengan gapura kecil yang menantang untuk dimasuki.

“Pemandangan dari pintu masuk Mata Air Guyangan, Nusa Penida”

Herannya, tidak ada sepanduk tempat wisata di sini, tidak ada pedagang souvenir, tidak ada petugas penjaga. Kami dekati lagi tulisan kecil di atas gapura, di sana tertulis JALAN INSPEKSI MATA AIR GUYANGAN. Mata air? Jadi selama ini yang dianggap air terjun adalah mata air ini. Tidak mau saling menyalahkan kami segera masuk ke dalam gapura.

Alangkah terkejutnya kami ketika melihat pemandangan yang ekstrim. Laut lepas yang begitu indah, dan ternyata kita berada di atas tebing curam. Satu-satunya jalan untuk menempuh mata air adalah dengan menyusuri tangga besi curam yang dibuat ‘tidak ramah wisatawan’. Dengan tekad baja dan hati besi kami telusuri jalan inspeksi tersebut, rasa takut, dan cemas, selalu saja dapat kami atasi ketika melihat pemandangan menakjubkan dari setiap sudut. Tentu saja kami masih bisa mengabadikan momen tersebut dengan kamera.

Mata Air Buyangan sendiri tidak lebih dari sebuah mata air, tidak kurang tidak lebih. Yang kami syukuri dari perjalanan ini adalah proses untuk menuju mata air ini. Penuh perjuangan dan kecemasan. Sehingga keheranan kami  di gapura masuk sudah terbayar. Namun satu hal yang masih mengusik hati kami, ‘Apa benar tempat ini lokasi wisata?’

Nusa Lembongan

“Bungalow tempat kami menginap”

Matahari sudah akan terbenam, kami bergegas menuju Toyapakeh, utara Pulau Penida, disana kami berencana menyimpan motor dan melanjutkan perjalanan ke Nusa Lembongan menggunakan jukung. Dengan biaya Rp 100.000,00 per orang, seorang penduduk setempat mengantar kami sampai ke bawah jembatan antara Pulau Lembongan dan Ceningan. Sayang waktu itu malam, kami tidak dapat menikmati keindahan laut di antara dua pulau ini, yang dapat kami lihat hanya gelombang ekstrim dan ikan yang meloncat-loncat.

Di Pulau Lembongan kami menggunakan jasa ojek untuk mencari penginapan terdekat. Karena momen tersebut harus dijadikan momen terindah (dalam sejarah kepariwisataan kami), kami memutuskan untuk menginap di sebuah bungalow yang terbuat dari kayu. Dengan harga nego Rp 250.000 per malam, sang empunya mempersilahkan kami masuk dan merebahkan diri.

Keesokan harinya, kami semua malas untuk bangkit, maklum suasananya begitu tenang, tanpa ada polusi udara. Kami habiskan waktu di sini untuk berenang, membaca buku, dan ngobrol ngalor ngidul. Tidak lupa juga kami mengunjungi Pantai yang terkenal di sini, Mushroom Beach.

Sepintas pantai ini mirip dengan Pantai Balangan di Nusa Dua, Bali. Namun tentu saja berbeda jika kita lihat lebih jauh. Terlepas dari itu semua, poin tambah dari pantai ini adalah tingkat pengunjung yang masih rendah, sepi, sehingga anda dapat berjemur ria atau berfoto ria tanpa harus malu dilihat orang.

Kembali ke Bali dengan Jukung!

“Terima kasih bapak-bapak!”

Puas sudah rasanya kami di Pulau kecil tersebut dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Nusa Penida. Ini hari minggu pukul 12.00 WITA dan kami harus segera ke pelabuhan untuk membeli tiket ferry. Nahas, pelabuhan sepi, tidak ada penumpang maupun kapal. Usut punya usut ternyata kapal ferry menuju Bali rusak di Lombok dan kapal tersebut baru bisa beroperas besok pagi, hari senin!

Mungkin beberapa kawan memiliki integritas tinggi terhadap pekerjaan, dengan tergesa-gesa kita mencari speedboat terdekat. Sialnya, semua speedboat tidak menerima kami membawa motor. Ini hanya untuk penumpang bung!

Untungnya seorang ibu pedagang nasi menyarankan untuk menyewa jukung. Waktu itu kita banyak pertimbangan, apalagi setelah melihat kondisi air laut yang mulau bergelombang. Tapi entah mengapa, kita semua sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Bali melalui laut bergelombang menggunakan jukung.

Penduduk sekitar membantu kami mengangkat dua motor ke dalam jukung. Jukung oleng, pun motor kami, mau tidak mau kami harus memegangi motor sampai ke tujuan. Dengan bismillah, kami berangkat.

Ternyata benar, ombak begitu besar, kami pasrah, mau berbuat apa lagi. Air laut terciprat ke wajah kami, sesekali masuk ke dalam jukung. Kami pegangi terus  motor kami, agar tidak nahas jatuh ke laut.

Setelah beberapa menit perjalanan kami sedikit lega, ada pantai di sana! Beberapa orang dengan sigap menanti kedatangan kami, membantu mengangkat motor dan barang bawaan terakhir menagih bayaran atas jasa mereka.

“Dimana ini pak?”, tanya kami.

“Pantai Kusamba, mas”

Ferry Fadillah
Bali, 14 September 2012
 
Foto-foto:
“Tangga terjal menuju Mata Air Buyangan, Nusa Penida”

“Jembatan Kuning yang menghubungkan Pulau Ceningan dengan Pulau Lembongan”

 

 

 

, , , , , , ,

3 Comments

Bali Cliff

Tahun lalu saya pernah mengulas sebuah potensi wisata yang masih sepi pengunjung di selatan Kabupaten Badung, Bali, yaitu Pantai Bali Cliff. Kali ini saya berkesempatan mengunjungi lokasi wisata ini pada tanggal 9 September 2012, pukul 17.00 WITA. Adapun kondisi pada saat itu yakni suhu diperkirakan 23-31 derajat celcius, langit cerah berawan, air laut surut menampakan hijaunya karang.

Semoga ulasan ini bisa menjadi informasi bagi anda yang mempunyai rencana berwisata ke Pulau Dewata. Terima kasih.

Ferry Fadillah, 10 September 2012

Foto oleh Yudha AP

, , , , , ,

Leave a comment

Damainya Lovina

Pembaca yang terhormat, bukan maksud saya untuk berangkuh ria memamerkan segala tujuan wisata, namun saya ingin mengajak anda melihat keindahan alam Indonesia ini walaupun belum pernah mengunjunginya. Terutama Bali, sebuah destinasi wisata dengan segala potensi daerah yang tidak ada habisnya. Pesisir Pantai yang indah, pegunungan yang serasi dan kebudayaan yang unik. Beruntung waktu itu saya memiliki kesempatan untuk mejelajahi utara bali (jalur denpasar-bedugul-singaraja) bersama seorang kawan. Dengan persiapan seadanya kami bermalam di Kota Singaraja yang sepi. Esoknya, dini hari, kami mencari pemilik jukung untuk mengantar kami melihat lumba-lumba. Dan ternyata, wow, semua keindahan ini hanya bisa saya haturkan dalam tiga buah gambar. Selamat menikmati

“Wisatawan asing dan lokal, dengan menggunakan jukung, mencari sekumpulan lumba-lumba di lepas laut Bali, Lovina, Buleleng, Bali”

 

, , , , ,

Leave a comment

Terasering di Ceking

Sawah ? Untuk apa saya upload foto sawah di blog ini. Pemandangan biasa di Pulau Jawa dan  pulau-pulau lain di nusantara bukan ? Namun saat itu entah mengapa saya terisnpirasi salah seorang senior yang mendeskripsikan sawah sebagai ‘keindahan yang tidak bisa dipresentasikan melalui kata-kata’. Sejak itu saya tersihir, dan mencoba mengunjungi terasering di Ceking, Tegalalang, Gianyar.

Di sebuah cafe sederhana, dengan pondok-pondok bambu ber-design bali saya terdiam. Terkadang menyeruput kopi dan memamah biak pisang goreng. Pandangan saya tujukan ke hamparan hijau pesawahan, petani yang bekerja keras dan para turis asing yang riang gembira melihat keajaiban yang sulit ditemukan di negaranya.

Hal ini biasa, tetapi kalau kita mau memendam rasa angkuh kita, dan melihat sesuatu dari sudut pandang lain, kebahagiaan akan menghampiri dan menghiasi perjalanan wisata kita sampai tiba esensi dari setiap kepariwisataan : kesan.

Selamat Mencari Kesan di Bali 🙂

“bukan promosi loh :)”

Ferry Fadillah
Bali, 9 Juni 2012

, , , , , , , ,

Leave a comment

Sacred Monkey Forest

Mungkin bukan tugas saya untuk menceritakan ulang sebuah lokasi wisata religius di jantung para seniman dan seniwati ini (Ubud, Bali), karena saya bukan seorang jurnalis apalagi penulis legendaris. Saya tidak mau merepresentasikan sesuatu keluar dari jalur realita, terlalu berlebihan atau kekurangan. Sehingga biarlah Hutan Kera Sakral di Desa Pekraman Padangtegal, Ubud, Gianyar ini tetap sebagai hutan sebagaimana adanya, dan biarlah para pengunjung menikmatinya secara niskala maupun sekala sehingga diperoleh pengetahuan menyeluruh mengenai lokasi wisata ini.

Alasan saya sederhana ketika mengunjungi tempat ini. Saya mencari kedamaian. Hiruk pikuk Bali selatan telah menutup mata hati saya untuk berpikir mengenai keseimbangan hidup. Pencarian abadi akan kebahagiaan. Jenuh, berangkatlah saya ke utara bali. Mencari pencerahan dari kekeruhan jiwa akibat hiruk pikuk manusia.

Sebuah hutan sakral. Dimana konsep luhur ‘Tri Hita Kirana’ diterapkan dengan benar dan sungguh telah menyihir setiap pengunjung untuk menghargai Tuhan, alam dan makluk hidup. We’re never walk alone. Ada kehidupan di sekitar kita, tampak maupun tidak tampak yang perlu diseimbangkan dan itulah salah satu fungsi hutan sakral ini.

Saya lupa bahwa ada makhluk kecil yang telah kita gusur kekuasaannya dengan rumah megah dan hutan beton. Padahal apa hak kita untuk memarginalkan mereka. Karena pun seperti kita, mereka butuh tempat untuk hidup. Bersosialisasi, mencari makan, bermain dan berpolitik.

Macaca fascicuiaris, Kera Ekor Panjang, warga binatang yang mendominasi tempat ini. Terkadang mereka liar, tetapi terkadang mereka begitu menggemaskan. Dari wajahnya kita bisa melihat asa, harapan sebuah keinginan untuk damai.

Karena itu, tidak ada salahnya jika konsepsi ‘Tri Hita Kirana’. Penghormatan terhadap alam, pelestarian terhadap lingkungan, kita terapkan dimana saja. Agar damai dan sejahtera mengurung kita dalam pencerahan.

Ferry Fadillah
Bali, 9 Juni 2012

, , , , , , , ,

Leave a comment

Bumi Tuhan di Maumere

Maumere, Nusa Tenggara Timur, daerah asing bagi saya, yang tidak pernah terpikir sebelumnya untuk dikunjungi. Namun Tuhan selalu punya rencana indah. Rabu, 2 Mei 2012 saya diberikan tugas memonitoring Kantor Bea dan Cukai di Maumere. Awalnya saya bingung, cemas, karena pesawat yang akan ditumpangi sejenis ATR, namun setelah googling dan melihat potensi wisata di kepulauan sunda kecil ini, hati saya perlahan tenang. ‘Setelah tugas selesai akan saya telusuri pesisir utara pulau ini’, bisik saya dalam hati.

Perjalanan memakan waktu 2 jam dari Banda Udara Ngurah Rai ke Bandara Udara Frans Seda. Cuaca cerah dengan dengan kecepatan angin rendah dan awan yang tipis, sehingga saya bisa jelas melihat deretan kepulauan sunda kecil yang indah dari angkasa.

Di pesawat sekumpulan bule tua begitu gaduh dan ndesoni, mungkin takjub, mengambil foto pemandangan di kiri dan kanan pesawat.

Lupakan pendaratan, lupakan pekerjaan, lupakan sepinya kota Maumere.

Kamis sore setelah selesai bekerja, saya diajak kepala kantor setempat menyusuri jalan di pesisir utara Kota Maumere. Dan silahkan anda saksikan sendiri keindahan di Bumi Tuhan ini. Terimakasih

“Penulis dengan pegawai KPPBC Tipe B Maumere”

, , , ,

14 Comments

The Hidden Paradise : Bali Cliff Beach

“Tangga Turun Menuju Bali Cliff Beach”

Beberapa waktu yang lalu, bali dikejutkan oleh sebuah tulisan yang dengan terang-terangan mengkritik habis beberapa permasalahan pariwisata di Pulau yang dijuluki Pulau Dewata tersebut. Tulisan tersebut tidak tanggung-tanggung ditulis oleh Andrew Marshall pada majalah TIME dengan judul Holidays in Hell : Bali Ongoing Woes. Beragam tanggapan mulai beredar di dunia maya berkenaan dengan tulisannya, mulai dari yang tidak setuju sampai dengan meng-iya-kan dan menjadikannya sebagai bahan instropeksi pariwisata bali kedepannya.

Memang apa yang penulis deskripsikan ada benarnya, tapi yang dia sorot adalah bali pada sebagian tempat, sehingga tidak lah tepat jika yang sebagian itu digeneralisir sebagai kondisi bali pada umumnya. Faktanya, pulau ini (Bali) masih memiliki tempat-tempat indah dan eksotis dari ujung utara sampai selatan dan ujung barat sampai timur.

Salah satunya adalah Pantai Bali Cliff atau lebih enak disebut Bali Cliff Beach. Mungkin bagi sebagian orang nama tempat ini begitu asing. Dan beruntungnya, dengan ‘keterasingan’ tempat ini, Bali Cliff Beach dapat diumpamakan sebagai The Hidden Paradise in Bali.

Tidak seperti di Kuta. Di sini hanya ada dua pedagang yang berjualan di pintu masuk, tidak di pantai. Yang satu berjualan air minum dekat tangga turun, dan yang satunya berjualan makanan dekat dengan parkiran motor atau mobil. Sehingga bisa saya jamin ditempat ini pengunjung tidak akan melihat tumpukan sampah yang tidak terurus dan menimbulkan bau tidak sedap.

Jalan menuju pantainya sangat berkesan. Ratusan anak tangga dengan pohon perindang dikiri dan kanan jalan menciptakan suasana yang teduh dan damai. Dari ketinggian anak tangga, kita bisa melihat lautan yang terbentang luas dengan hijau dan birunya laut yang begitu menawan (segala puji bagi Allah yang telah menciptakan Alam yang begitu indah). Buih-buih air laut yang berhamburan di udara karena terbawa oleh angin setelah ombak menabrak tebing membuat keadaan di anak tangga menjadi segar, tidak gersang. Coba anda pejamkan mata lalu hirup  udara dalam-dalam, deru ombak dan harumnya air laut seolah membuat hati ini melayang dan bersatu dengan alam semesta. Sebuah terapi jiwa yang tidak dapat anda temukan di perkotaan.

Jika anda telah selesai menuruni anak tangga, maka anda akan dibuat kagum oleh hamparan pasir putih yang empuk dan bersih. Tapi anda mesti hati-hati jika berniat berenang di siang hari, karena kondisi ombaknya belum bersahabat. Oleh karena itu ada baiknya berkunjung pada sore hari, sehingga anda dapat menikmati segarnya air laut tanpa kerepotan terpontang-panting oleh ombak lautan.

Yang terakhir dan terpenting, Bali Cliff Beach cukup mudah diakses dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Dari pintu keluar terus saja sampai lampu merah By Pass I Gusti Ngurah Rai, belok kanan ke arah jimbaran, sampai ketemu pertigaan yang ada KFC-nya belok kanan ke arah Universitas Udayana, ikuti terus petunjuk jalan sampai ke GWK, setelah GWK ada perempatan dengan ciri khas minimarket lokal Nirmala(?) di sebelah kanan, ambil jalan ke kiri (daerah ungasan, Jl. Bali Cliff) dan ikuti terus jalan sampai ada pohon besar, belok kiri dan ikuti terus jalan sampai ada penunjuk ke arah Pura. Insya Allah sampai. Untuk harga tiket masuk hanya seribu rupiah alias bayar parkir saja. Murah Bukan ? Bagi anda yang sedang berlibur ke bali silahkan berkunjung ke sana dan ingat jangan sekali-kali buang sampah sembarangan.

Wilujeng Jalan-Jalan. Wassalam..

Leave a comment