Archive for February, 2016

Aku dan Ujian yang Sudah di Depan Mata

Sebenarnya aku tidak memiliki kompetensi untuk membahas hal ini. Aku hanyalah seorang mahasiswa di perguruan tinggi kedinasan dengan nilai seadanya. Ya yang penting lulus lah. Setiap pelajaran di kelas aku selalu gagal fokus menyimak ceramah para dosen. Aku selalu bertanya-tanya, apakah ini disebabkan cara bicara dosen yang kering atau otakku saja yang tumpul, namun setiap malam ketika jaringan internet lancar aku mencari penjelasan dari dosen virtual di youtube dan mencapai pencerahan tentang materi kuliah. Ya, pembaca mungkin bisa menyimpulkan siapa sebenarnya yang salah.

Menjadi mahasiswa dengan IPK tertinggi jelas bukan cita-citaku. Aku juga tidak terlalu suka dengan pelajaran yang ada. Oh iya, aku mengambil jurusan akuntansi bukan karena aku suka akuntansi, tapi karena itulah satu-satunya pilihan untuk meningkatkan pangkat ketika lulus nanti. Pertimbangannya sangat pragmatis. Kenaikan pangkat berimbas kepada naiknya gaji pokok dan tunjangan. Dan kenaikan penghasilan itu semata-mata untuk menutup hutang selama kuliah, sewa rumah di penempatan, gaya hidup atau ya sekedar menambah koleksi pustaka di rumah. Begitulah hidup!

Minggu depan adalah hari yang banyak dicemaskan oleh mahasiswa. Ujian! Ya, ujian! Para dosen akan mengolah soal-soal dan menuangkannya dalam kertas ujian. Mahasiswa akan belajar semalam suntuk suntuk menghapal buku referensi (bagi yang rajin) atau sekadar mengingat slide kuliah seperti para santri penghapal kitab di pesantren-pesantren. Beberapa minggu menjelang ujian para dosen biasanya mengingatkan kembali pentingnya semangat belajar, batas minimal IPK yang 2,75 itu dan nilai-nilai UTS yang kacau balau. Semua itu akan menjadi beban dalam pikiran, beberapa putus asa atau bahkan kehilangan nafsu makan. Ujian yang semestinya dihadapi dengan santai, malah menjelma menjadi momok yang menakutkan.

Aku sebenarnya tidak terlalu khawatir dengan ujian itu. Aku hanya khawatir dengan dampak dari ujian itu.

Aku selalu berpikir bahwa seorang mahasiswa ideal adalah mahasiswa yang bisa berargumen dengan baik, paham fenomena ekonomi politik, berempati dengan pergerakan sosial dan tajam dalam melihat persoalan. Fenomena menjelang ujian di kampusku yang tidak sehat ini akan menggerus ciri-ciri ideal itu. Mahasiswa dipastikan hanya fokus dengan pelajaran dan nilai kemudian apatis dengan apa yang terjadi di dunia sekitarnya. Ya kurang lebih menjelma menjadi seekor katak dalam tempurung.

Aku juga sering terkejut dengan sebagian dosen yang mengajarkan hal kurang intelek. Misal dalam kuliah sistem informasi akuntansi. Dosen menekankan kepada mahasiswa untuk menggunakan satu referensi saja yaitu Accounting Information System karya Marshal B. Romney. Bahkan beliau menekankan ketika mengisi ujian nanti mahasiswa harus hapal persis tahap-tahap dalam siklus akuntansi beserta ancaman dan pengendaliannya berdasarkan buku itu saja. Harus persis, katanya! Persis! Ah, daya analitis benar-benar dibungkam, bung!

Suatu ketika, di semester 4, aku juga menghadapi fenomena ujian yang sama. Aku tidak bertemu dosen seperti tadi, tapi ada fenomena lain yang membuat aku sedih sekaligus gusar. Seperti biasa aku berjalan kaki di sekitaran kalimongso dan menembus gang-gang kecil menuju kampus. Di sepanjang jalan aku melihat anak-anak yang membawa buku Microeconomics karya Mankiw. Mereka membaca sambil berjalan, dan menerawang ke langit-langit; berusaha membenamkan semua kurva dan rumus ke dalam alam bawah sadar dengan komat-kamit yang hanya bisa didengar telinga mereka. Malam sebelumnya melalui jejaring whatssup beredar gambar kurva produksi yang disulap menjadi gambar ikan dan beberapa orang merasa terbantu untuk mengingat itu. Ah! Menghapal, ikan, kurva! Mau jadi apa mahasiswa kalau hanya tahu menghapal?

Aku sendiri tidak pernah berusaha keras untuk menghapal semua materi. Aku hanya membaca kemudian mereflesikannya dengan kejadian aktual. Kalau materi itu nyangkut di kepala ya syukur kalau tidak juga mau bagaimana lagi. Intinya aku tidak mau sengaja menghapal. Manusia-manusia cemerlang itu bukan yang bisa menghapal banyak. Bukan! Kalau hapalan menjadi tolak ukur kecerdasan tentu komputer lebih cerdas dari manusia. Mesin ini bisa menyimpan milyaran data tanpa tertukar dan mengolahnya menjadi informasi yang presisi. Tapi ya seperti mesin lainnya, komputer tidak bisa merasa, menagis, berpuisi, berdansa, berdiskusi atau berfilsafat karena jelas: komputer itu mati! Apakah para pengajar itu ingin menggiring nalar mahasiswanya menuju kematian?

Oh, iya, aku baru ingat. Kampus kedinasan ini adalah kampus gratis. Bahkan ketika aku di Diploma 1 dulu mendapatkan uang bulanan sebesar empat puluh ribu dibayar tunai. Lulusan dari kampus ini juga sudah dijamin untuk bekerja di sebuah kementerian yang terkenal dengan jargon reformasi birokrasinya.

Kalau melihat pangkal dan ujung dari lulusan kampus ini. Aku mendapatkan benang merah. Sebagai kementerian yang tentu menggunakan logika bisnis, mereka pasti membutuhkan tenaga manusia andal yang muda, mudah diatur, disiplin dan siap mengikuti budaya organisasi. Mana ada perusahaan mau merekrut tenaga manusia yang banyak protes, kritis, tegas dan berlidah tajam. Bisa-bisa banyak bos stres dan mengundurkan diri. Nah, ancaman DO, kedisiplinan ala-ala (semi)militer, dan minimnya kegiatan intelektual ekstrakampus, menurutku adalah cara-cara neo-kolonial untuk membungkam daya kritis mahasiswa. Ujung-ujungnya adalah para mahasiswa disiapkan menjadi pegawai kelas menengah yang ke kantor ketika matahari masih diperaduan dan pulang ketika matahari kembali ke peraduan, menanti pensiun dengan gaji pas-pasan atau mati dalam rangka dinas dengan kenaikan pangkat anumerta dan ucapan duka dari para kolega. Hanya itu!

Sial, aku jadi ngelantur tidak karuan. Bukannya banyak berdoa dan belajar untuk ujian minggu depan aku malah sibuk tulis menulis di dunia maya. Sebagai penutup, aku akan memberikan tips agar tidak stres menjelang ujian. Kalau tidak setuju ya jangan lakukan kalau setuju silahkan lakukan dan membagi pengalaman itu dengan mahasiswa stres di sekitaran indekos. Setiap pagi sebelum membaca buku pelajaran aku akan menulis reflektif di buku harian. Setelah puas mencurahkan isi hati, aku akan membaca keras sajak-sajak karya Aan Mansur atau Wiji Thukul di depan cermin. Setelah tenggorokan kering, aku akan membaca cerita pendek karya Maxim Gorky ditemani melodi klasik Rimsky Korsakov dan membayangkan diriku mengembara di sekitar laut mati bertemu dengan para gipsi yang misterius. Dan yah aku akan mandi, mengaji barang sesaat, dan siap menghadapi kenyataan.

 

Ferry Fadillah. Bintaro, Februari 2016

 

 

Advertisements

, , ,

Leave a comment

Aku Pria yang Berseragam itu

Aku seorang Bea Cukai. Pria berseragam dengan pangkat di pundak dan ikat pinggang berkilau di pinggang. Bagi yang belum tahu seperti apa Bea Cukai, mungkin kalian pernah melihat sosok ini di televisi. Dalam liputan penangkapan narkoba di pelabuhan udara, kami berdiri di kedua sisi tersangka lengkap dengan rompi bertuliskan customs keemasan, penutup kepala, senjata laras panjang, dan sorot mata tajam yang berwibawa. Tidak heran, kalau kebanyakan mengidentikan Bea Cukai dengan kisah keprajuritan ala tentara nasional.

Dalam tulisan ini aku tidak akan menjelaskan panjang lebar tugas pokok fungsi Bea Cukai yang –mungkin bagi sebagian orang- membosankan. Aku hanya menulis bebas; membagi ceceran pikiran yang terserak sepanjang perjalanan kemarin.

Siang itu matahari bersinar terik di atas langit Bintaro. Aku sedang duduk bersama beberapa kawan menghadap ke tiang bendera. Sesaat kemudian sejumlah anak gundul berlarian dalam barisan yang teratur. Mereka semua mengenakan baju dan celana panjang gelap. Di punggung mereka melekat ransel tebal dengan kresek berisi sepatu yang tergantung di belakangnya. Keringat menetes di sekujur wajah mereka, sorot mata mereka tajam, sikap mereka sempurna.

Semakin lama lapangan dipenuhi oleh gerombolan anak berkepala gundul itu. Waktu menunjukan pukul satu lebih empat puluh lima menit. Beberapa panitia pendidikan kepemimpinan memberi arahan kepada mereka. Aku sayup-sayup mendengar arahan itu. Bahkan aku hampir tidak peduli, aku sibuk dengan pisang pemberian kawanku dan air mineral yang segarnya bukan main.

Tiba-tiba dari kejauhan seorang panitia menghampiriku. “Fer, lu ikut jalan sana sama anak kelas B sesuai keputusan rapat.”

 “Rapat? Kapan gue ikut rapat?”

 “Lah, rapat kemaren malem. Makanya kalau ada rapat lu ikut!”

 “Males gue rapat. Ya udah gue siap-siap dulu!”

Aku sering malas ikut rapat kepanitiaan. Sebenarnya aku malas dengan semua jenis rapat: rapat paguyuban, rapat kelas, rapat RT/RW bahkan rapat keluarga pun aku selalu mecari seribu alasan untuk menghindarinya. Pembangkanganku bukan tanpa alasan. Mulanya aku selalu aktif dalam rapat dan terlibat diskusi sengit dengan beberapa pengurus. Tapi itu hanya sesekali terjadi. Sisanya rapat adalah nereka. Aku harus menunggu berjam-jam agar anggota kelompok penting datang. Aku harus mendengarkan percekcokan dua anggota yang tidak segera ditengahi oleh ketua. Aku harus mendengar materi atau arahan yang tidak jelas premis dan daya argumennya. Aku benci rapat.

Kembali ke cerita. akhirnya aku mulai berjalan kaki dari Jalan Raya Ceger menuju ke Markas Arhanud di Pondok Betung, Bintaro. Jalan sengaja dibuat berputar oleh panitia. Jarak pendek yang tadinya hanya 3 km berlipat-lipat menjadi 12 km. Aku mengutuk mereka di dalam hati. Tapi ya panitia itu kan mahasiswa –juga temanku- yang mungkin memiliki filsafat: kalau harus dipersulit kenapa juga harus dipermudah.

Dalam terik matahari dan polusi Tangerang Selatan yang memprihatinkan aku dengan kelas B berjalan menelusuri pinggiran jalan. Tidak ada pemandangan bagus di sepanjang jalan. Hanya deretan toko-toko warga dan sampah yang berserakan di tanah kosong.

Aku sebenarnya tidak tega mengantar mereka. Aku membayangkan diriku sebagai seorang anggota SS Nazi menggiring Yahudi Jerman ke kamp pembantaian di Munich. Aku tahu mereka akan diapakan nanti. Aku sudah pernah merasakan itu semua dalam Diklat Kesamaptaan. Tapi aku tidak kuasa memberi tahu mereka. Ya, amanat ketua untuk merahasiakan itu adalah pedoman yang harus aku pegang teguh.

Diklat kesamaptaan yang pernah aku jalani selama tiga puluh hari dipenuhi dengan kengerian dan kenangan yang tak terlupakan. Aku selalu rindu kegiatan lari siang bertelanjang dada sebelum mengambil jatah makan. Aku masih ingat ceramah pelatih yang mbulet dan tidak jelas ujungnya. Aku masih terngiang desingan peluru dan huru-hara siswa dalam acara pendadakan pada suatu malam. Aku juga masih ingat latihan bertahan hidup di alam terbuka selama tiga harlam: ayam mentah yang harus kita olah langsung, lubang yang harus digali sebelum buang air besar, tenda ringkih dari jas hujan dan wudhu zaman perang di genangan air.

Awalnya aku mengutuk kegiatan itu. Aku benci kegiatan militer. Aku benci kebersamaan dan keseragaman. Aku pecinta kebebasan. Bagiku manusia lahir dan mati semata bagi kebebasannya masing-masing. Anehnya, sesuatu terjadi ketika aku meninggalkan markas itu. Aku berjalan perlahan secara militer, tanganku membentuk sikap hormat dan wajah menengok ke kanan memandang para pelatih yang berbaris sesuai pangkat. Lagu mars Paskhas dikumandangkan. Aku mendengar beberapa kawan terisak dan mata pelatih yang berkaca-kaca. Aku pun menangis. Dan, ah, tangis itu, ternyata diam-diam aku pun setuju dengan doktrin mereka.

Terlepas dari aku yang keras kepala menerima semua ajaran pelatih. Aku berterima kasih kepada mereka atas setiap ilmu yang mereka berikan di markas. Aku merasakan diriku lebih sigap dan tegap berkat latihan fisik rutin dan aku juga menjadi sadar akan satu hal…

Bagi beberapa orang pria berseragam itu tegas, kaku, berwibawa, patuh, setia dan loyal. Seorang berseragam dituntut mematuhi atasan mereka dan mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan keluarga. Tidak ada kamus sepi dan rindu dalam hidup mereka karena kepatuhan adalah segala-galanya.

Anggapan ini keliru. Banyak di antara mereka yang dimutasi jauh dari keluarga mereka. Kenangan dan ruang foto di rumah dinas menjadi pengobat kesepian mereka. Aku bisa merasakan itu karena aku juga seorang pria berseragam. Aku juga selalu menampakan diri tegas dan berwibawa di depan banyak orang. Menitikan air mata adalah haram bagi seorang lelaki.

Namun seringkali dalam lamunan di rumah dinas aku teringat dengan kota kelahiran. Aku rindu Gunung Tangkuban Perahu yang terlihat berwibawa dari jendela rumah; pepohonan tua zaman kolonial di Taman Cilaki; ayam bakar dengan nasi merah dan sambal terasi; kawan-kawan nongkrong yang selalu tertawa dengan cerita-cerita sederhana; bau peuyeum dan patung superhero di sepanjang Cihampelas. Dan tentu saja… ibuku.

Aku selalu merindukan ibuku selama menjalankan tugas. Setiap kesulitan yang timbul dalam pekerjaan selalu membuatku sedih. Andai ibuku ada di sini bersamaku. Aku selalu saja membayangkan hal itu. Mungkin kalian mendakwa aku sebagai pria cengeng tapi aku tidak bisa bohong bahwa aku selalu memerlukan ibuku.

Kebiasaanku ketika malam tiba adalah mencatat jurnal di buku harian dan foto ibuku selalu menjadi pembatas buku itu. Raut wajahnya masih muda. Di sebelahnya ada ayahku dengan kumisnya yang gagah. Foto itu diambil ketika mereka masih kuliah di IKIP. Aku selalu saja tersenyum ketika melihat wajah mereka yang bahagia.

Oh iya aku jadi lupa. Aku belum menjelaskan kepada kalian kenapa aku suka menulis. Mengatakan aku sayang kepadamu kepada kekasih lebih mudah dibanding mengatakan hal serupa kepada ibunda. Setujukah kalian? Aku tidak tahu mengapa dan aku tidak ingin hal ini berlanjut hingga perpisahan datang dan aku tidak sempat mengatakan itu. Ya, jurnal harian itu selalu saja aku tulis dan menyelipkan perasaan-perasaan terdalamku kepada ibunda. Mungkin saja, suatu saat nanti, buku itu tercecer entah di mana dan ibuku akan membacanya. Aku selalu mengharapkan kejadian itu.

Sial, mengapa aku jadi tenggelam dalam lamunan melankoli. Bukankah aku sedang bercerita tentang perjalanan ke Markas Arhanud ?

Sudahlah, sepertinya aku sudah kehilangan minat menulis pengalaman itu. Aku tidak sanggup menjelaskan kepada kalian tentang adik-adiku yang dibentak dan dihukum diselingi teriakan-teriakan dari siang sampai pagi. Aku yakin mereka diharapkan oleh orang tua mereka untuk diperlakukan layaknya manusia… ya manusia.

Aku hanya berharap pada suatu hari kelak bukan teriakan dan hukuman yang mempersatukan orang-orang. Bukan senioritas tak terbantahkan yang menciptakan kebersamaan. Bukan!

Aku berharap orang-orang itu berkumpul di suatu senja yang syahdu di bawah pohon petai cina yang rindang. Mereka duduk di tikar-tikar hangat yang ditengahnya tersuguh penganan ringan dan teh manis yang harum. Mereka bercerita tentang segala hal: keluarga, kekasih, sahabat, tetangga atau buku-buku yang baru saja mereka baca. Salah seorang di antara mereka ada yang memainkan gitar diselingi suara emas lagu-lagu persahabatan. Keriuhan itu akan diselingi senyuman, wajah yang berbinar dan gelak tawa. Ah, dan kebersamaan sudah pasti tercipta karenanya.

 ***

“Kelas B lapor posisi! Kelas B lapor posisi!”, suara keras handy talkie seketika membuyarkan lamunankan.

 “Tidak jelas.. ulangi!”

 “Kelas B lapor posisi!”

 “Kelas B menuju ke arah STAN lagi”

 “Siap laporan diterima”

Handy Talkie sialan itu membuyarkan lamunanku. Aku baru sadar kalau ternyata kami hanya memutari STAN dan harus melanjutkan perjalanan yang masih jauh. Sial, aku terlalu lama berada dalam pikiranku sendiri.

Langit Bintaro semakin mendung. Kendaraan bermotor bergegas pulang mencari perlindungan. Aku dan kelas B masih saja berjalan.. berjalanan.. dan terus berjalan..persis seperti kehidupan yang walaupun pahit atau manis memang harus dihadapi. Bahkan kita tidak akan pernah tahu ada rintangan dan kesenangan apa yang terbentang. Yang aku yakini hanyalah satu: semua masa depan adalah misteri ilahi yang akan indah pada waktunya.

Ferry Fadillah

Pondok Aren, 31 Januari 2016.

, , , , ,

1 Comment