Archive for June, 2013

Berjuta Jongos

Waktu itu hujan,

kau duduk malas di sana,

menghisap rokok mewah,

mengotak-atik gadget canggih.

Waktu itu hujan,

kau duduk sambil memerintah, “Tolong buatkan kopi!”.

Sambil melihat gadget, seolah aku itu tiada

Sial!

Waktu itu hujan. Kopi di dapur habis. Kau menggerutu

“Mana kopiku!”, bentakmu kasar.

Waktu itu hujan, tanpa mantel aku berlari

mencari apa yang dicari

mataku basah, entah hujan entah tangis

aku tidak peduli

yang aku tahu, aku harus mencari serbuk kopi

waktu itu hujan

aku kedinginan dalam hujan

kau duduk manis dalam ruangan

waktu itu hujan

aku berlari jauh

kau berdiam damai

waktu itu hujan

aku bumi yang damai

kau guntur yang memaki

waktu itu hujan telah berhenti..

aku adalah jongos, masyarakat teralienasi yang berjuta-juta

kau adalah pejabat, masyarakat borjuis yang sedikit itu

Badung, 18 Juni 2013.
Ferry Fadillah. Untuk Saudaraku yang teralienasi di negeri subur ini.
 
Advertisements

, , ,

Leave a comment

Mereka yang Naif

oleh Ferry Fadillah

Wahai kau yang naif di ruangan sana

yang bercokol dengan kertas-kertas itu

pernahkah kau dengar pekik merdeka?

tapi mengapa tidak sampai meresap kehatimu?

wahai kau yang naif diruangan sana

pernah kau dengar jerit tangis semesta rakyat

yang digilas pembangunan

dilinggis koorporasi

disetrika pemerintah sendiri

tentu tidak!

karena kau yang duduk di ruangan sana

hanya sibuk menunggu gaji di awal bulan

tunjangan sebelum tanggal sepuluh

uang makan di tengah bulan

wahai kau yang duduk diruangan sana

yang naif lagi buta

bangun, bangunlah!

 

, , , , ,

Leave a comment

Aleph

“Aleph”

Aleph adalah huruf pertama dalam sistem bahasa Hebrew. Dalam Bahasa Arab sepadan dengan huruf alif. Aleph tidak hanya mengandung sesuatu yang materi yakni entitas terkecil dari sistem bahasa namun mengandung hal-hal transenden yang sulit diraba oleh manusia.

Aleph dibangun oleh tiga bentuk, yakni yod (10), yod (10) dan yov(6). Sehingga Aleph mengandung angka 26, sebuah angka sakral dalam kepercayaan Yahudi yang mengacu kepada Tuhan Yang Maha Esa : YHVE

Dalam bentuknya yang artistik, aleph menggambarkan dua dimensi. Pertama, dimensi ke-Tuhanan yang bersifat astral. Kedua, dimensi kemanusiaan yang bersifat materi. Keduanya dihubungkan oleh sebuah garis yang bermakna bahwa Tuhan dan manusia akan selalu berhubungan.

Paulo Coelho dalam novelnya ‘Aleph’ mendefinisikan aleph sebagai sebuah titik di dunia ini yang akan membawa jiwa kita kembali ke masa lalu, ke dalam kehidupan sebelum kini, melihat citra-citra yang berkelibatan dengan cepat untuk memahami keberadaan kita saat ini.

Aleph tidak lepas dari kepercayaan inkarnasi, de javu dan karma yang masih dipercaya beberapa kaum tradisionalis di dunia ini. Terlepas dari itu semua, saya akan merangkai hal-hal positif yang dapat diambil dari novel ini. Semua tentang kehidupan, perjalanan, tujuan dan akhir dari semua itu.

***

Apa yang kulaukan di sini, berusaha menjalankan tradisi spiritual yang berakar pada masa lampau yang sangat jauh dari tantangan masa kini? (halaman 14)

Ada semacam titik jenuh. Ritual yang seyogyanya ditujukan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan malah membuat penulis jauh dari Tuhan itu sendiri. Kemudian, penulis berpikir bahwa watu akan menuntun  kepada Tuhan. Namun, Sang Guru menjelaskan bawa waktu hanya akan membuat manusia lelah dan tua.

“Itu karena sama seperti semua orang lain di planet ini, kau percaya bahwa waktu akan mengajarimu cara mendekat pada Tuhan. Namun waktu tidak mengajari apa-apa; waktu hanya membuat kita merasa lelah dan bertambah tua”(halaman 19)

Maka, penulis mengadakan perjalanan. Menyusuri Rusia dengan kereta melalui jalur trans Siberia. Bertemu banyak orang, titik bernama aleph, hal-hal magis, yang membuatnya sadar bahwa kehidupan adalah ibarat kereta api. Ia bergerak dari satu titik awal menuju titik akhir. Yang bisa dilakukan adalah menikmati kekinian di meja makan bersama penumpang lain, daripada mengeluhkan guncangan yang pasti akan terjadi. Guncangan di sini didefinisikan sebagai masalah dalam kehidupan.

“…Bukan apa yang kaulakukan di masa lalu yang akan memengaruhi masa sekarang. Apa yang kau lakukan sekaranglah yang akan menebus masa lalu dan mengubah masa depan”(halaman 21)

Dalam hidup, banyak orang perpikir untuk mengubah nasib dengan cara mengubah masa lalu. Membayangkan mesin waktu atau aleph yang akan membawa kita ke kehidupan sebelum ini. Akan tetapi semua itu adalah sia-sia. Seperti yang dijelaskan kalimat di atas, apa yang kita lakukan sekaranglah yang akan menebus masa lalu dan mengubah masa kini.

Akhir kalam, dari novel ‘Aleph’ saya berlajar untuk menghargai masa kini.

Sebuah momen yang sedang dan pasti terjadi.

Selamat Membaca. Selamat menikmati kekinian.

Ferry Fadillah

Bandung, 9 Mei 2013

, , , , ,

Leave a comment

“Cahaya” di Bukit Gunung Lebah, Campuhan, Ubud

IMG_2923Ubud adalah Ubar/Ubad (Obat) bagi jiwa-jiwa yang mengalami kehampaan. Kita tidak akan menemukan Tuhan di sini, karena ubud hanya menawarkan penampakan materi yang begitu memukau. Tuhan dan segala yang astral, diyakini berada di balik keindahan itu semua. Sehingga menghayati yang materi itu, sama saja dengan menghayati yang astral itu.

Kesucian selalu dikaitkan dengan mitos, agama dan hal-hal lain yang berbau imateri. Sering, kita terlalu angkuh dan melihat semua hal imateri dengan sebelah mata : irasional, naif, klise, tribal. Faktanya, embel-embel imateri tersebut telah mewujudkan sesuatu yang lebih lestari dan tahan terhadap zaman yang semakin kapitalistik.

Pohon, bukit, sungai, atau hutan yang disucikan/sakralkan memiliki kisah dan daya yang kasat mata telah membuat masyarakat sekitar tidak berani untuk merusak kesakralan itu melalui berbagai himbauan. Dilarang mesum. Dilarang merusak tanaman. Dilarang kencing sembarangan. Dilarang berbicara kotor.

Walaupun kita, yang menganut monotoisme akut, sering ngotot bahwal hal-hal berbau imateri nan mistis itu harus diberantas karena menandakan sikap syirik. Namun, faktanya, dengan terus terjaganya hal-hal imateri nan mistis itu beberapa sungai, gunung, pohon dan hutan tetap lestari hingga saat ini.

Entah sampai kapan. Yang pasti, saya yakin, ketika keangkuhan kita muncul dan memandang bahwa alam ini hanya terdiri dari materi belaka, maka ucapkanlah selamat tinggal dan mari mencari bumi yang lebih manusiawi.

IMG_2926

IMG_2927 IMG_2929

IMG_2930 IMG_2932 IMG_2934 IMG_2935

IMG_2936

IMG_2938

"Rumpu yang mengering di Bukir Gunung Lebah"

“Rumput yang mengering di Bukit Gunung Lebah”

, , ,

Leave a comment