Run (baca : lari)

Saya bukan seorang kritikus apalagi mahaguru. Namun, perkembangan budaya akhir-akhir ini, khususnya di kalangan muda-mudi, memancing saya untuk membahasnya.

Color Run. Light Run. Night Run. Seolah-olah menggambarkan jenis kegiatan yang berbeda-beda, padahal semua berada dalam satu rumpun yang sama yakni run (lari;Indonesia). Yang membedakan antara satu dan yang lain bukanlah atas kehendak run itu sendiri tapi manusia sebagai creator yang memang tidak memiliki rasa puas sejak Adam di kahyangan sana.

Manusia ditempatkan dalam Kingdom Animalia bukan tanpa alasan. Tipis. Manusia tanpa pikir, maka binatanglah ia. Begitu juga sebaliknya, binatang dengan pikir, maka manusialah ia. Dan yang mempertautkan antara manusia dengan binatang adalah libido atau hasrat (desire). Manusia dan Binatang memiliki hal yang sama.

Mula-mula ketika mood jelek, muda-mudi berpikir untuk mengkonsumsi coklat untuk menghilang penat. Kemudian, coklat tidak lagi memiliki efek. Ketika rasa gusar itu kembali datang, mungkin, ia akan mengkonsumsi ice cream mahal di mall terdekat. Sayang, ice cream itu lagi-lagi tidak memiliki efek. Maka, mereka akan terus mencari pemenuhan hasratnya. Makan di restoran mahal, belanja membabi buta, bercumbu dengan kekasih atau berganti-ganti pasangan sampai libido itu terpenuhi, padahal tidak mungkin terpenuhi.

***

Run, bisa dikategorikan sebagai meme yang menurut Mihaly Csikszentmihalyi, di dalam The Evolving Self : A Psycology for the Third Millenium, menggunakan istilah ini untuk menjelaskan unit informasi kultural, yang merupakan padanan dari istilah gen (gene). Istilah meme berkaitan dengan kata Yunani mimesis, yang berarti meniru. Meme adalah semacam pesan kultural yang berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui contoh-contoh dan imitasi1

Run sebagai meme pun demikian. Melalui dunia nyata yang dilipat dalam bit-bit televise dan media online, Run mengalami salinan (replica), kembaran (doubles), duplikat, ikonisme atau keserupaan (similitude). Sehingga kita bisa saksikan, perkembangannya yang memikat padahal hanya berkutat di masalah olaharaga belaka : lari.

Manusia sebagai puncak rantai makanan memang dikaruniai libido. Saya tidak pernah menyarankan siapa pun untuk menghilangkan libido itu seperti petapa yang mencari moksa di pedalaman hutan Kambodja. Masalah timbul ketika konsep masyarakat tontonan (Society of Spectacle) diperkenalkan . Yakni, masyarakat yang hampir segala kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan, dan menjadikannya sebagai rujukan nilai dan tujuan hidup. Pasif. Dikendalikan oleh media.

Libido. Meme. Society of Spectacle Semua muncul dalam ruang perbincangan budaya. Pertanyaanya bukanlah masalah mana yang baik-buruk, transenden-imanen, luhur-rendah, tapi sejauh mana peran kita sebagai muda-mudi. Penerus kehidupan di masa yang akan datang.

Terpengaruh oleh suatu meme kemudian dengan libido melakukan salinan atau kembaran dan meng-amin-kan diri sebagai masyarakat tontonan. Pasif. Tanpa perlawanan, tanpa daya cipta. Atau, menciptakan meme, membuat orang mempunyai libido untuk meneruskan pesan itu dan mengendalikan mereka sebagai masyarakat tontonan.

Ferry Fadillah

Note :

1. Yasraf A. Piliang, Semiotika dan Hiper Semiotika : Kode, Gaya dan Matinya Makna, Matahari, Bandung, 2012, hlm. 382

, , , , , ,

  1. #1 by katamiqhnur.com on January 28, 2015 - 16:49

    kerennn…
    mampir yaa ke blog aku..
    katamiqhnur.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: