Apakah Seperti ini Manusia Hidup

Dalam perjalanan Denpasar-Kuta yang lengang, seorang sahabat tiba-tiba bertanya, “Sudah beli apa aja, fer?” Heran mendengar pertanyaan itu lantas saya bertanya, “Maksudnya?” Tanpa basa-basi, ia melanjutkan, “Itu loh rumah, tanah atau asset apa gitu.”

Pertanyaan di terik siang mentari itu membuat saya bertanya hal yang serupa kepada diri sendiri. Tiba-tiba kesadaran saya beralih ke kilas fotografi di masa lalu. Mencari-cari barang yang pernah saya beli dengan hasil keringat sendiri. Motor bekas, buku bekas, buku sastra dan … hampir tidak ada aset yang bisa dibilang berharga dari kacamata kapitalis. Mau bagaimana lagi. Adanya begitu.

Sebenarnya pertanyaan itu adalah refleksi dari budaya persaingan di setiap lapisan masyarakat. Ketika duduk di sekolah dasar saya sering mendengar orang tua murid yang memiliki ambisi serius. Anaknya harus menduduki peringkat teratas mulai dari kelas satu hingga enam. Selepas sekolah berdatanganlah guru privat dengan bayaran mahal. Malam datang sang anak juga harus dibebani dengan tugas sekolah dan persiapan ujian akhir.

Di sekolah menengah, semua kisah cinta dan persahabatan harus rehat sejenak saat ujian saringan masuk perguruan tinggi di depan mata. Jauh-jauh hari bimbingan belajar dengan beragam jargon sudah menyebar brosur. Programnya menarik. Ada yang menawarkan probabilitas tinggi diterima perguruan tinggi bergengsi dengan jaminan uang kembali. Tentu bukan program yang bisa dijangkau kelas menengah bawah.

Setelah diterima di perguruan tinggi, mahasiswa bersaing untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Persetan dengan ilmu humaniora. Kekayaan hanya menjadi milik orang-orang praktis. Menimba ilmu untuk menjadi sekrup industri. Atau bagi yang enggan bersaing ketat di sektor privat, menjadi seorang pegawai negeri sipil adalah opsi yang menarik. Hidup dengan penuh kepastian dan kemudahan mendapatkan pembiayaan dari bankir dengan jaminan SK CPNS.

Setelah bekerja sekian tahun mulai datang kebutuhan lain. Pekerja di kota besar berebut lahan yang semakin terbatas. Pengajuan kredit rumah semakin semarak dengan uang muka rendah. Orang-orang ini kehilangan sebagian pendapatan, bekerja lembur, menghemat pengeluaran pangan, bermain valas atau investasi spekulatif dengan harapan memperoleh rumah idaman.

Jalanan semakin macet di beberapa ruas kota, mobil pribadi menjadi pilihan cerdas untuk mengatasi letih menunggu transportasi publik dan meningkatkan pamor di tengah masyarakat. Maka berbondong-bondonglah belanja kebutuhan ini dipenuhi walau harus mengurangi pendapatan sekali lagi. Karena semua orang bersaing untuk dapat datang tepat waktu ke kantor.

Sekilas kehidupan seperti ini sungguh merepotkan. Tidak ada jalan bagi penempuh jalan mistik yang mencari damai di pemukiman sepi. Kini, semua tanah dikapitalkan, setiap kesempatan diuangkan bahkan jalan spiritualitas dikemas layaknya produk industri yang diproduksi massal.

Kita, manusia, dibebani dengan rutinitas kerja, persaingan akan ruang untuk hidup dan capaian-capaian yang kapitalistik-materialistis. Seolah-olah kerja, mengumpulkan uang, membeli asset adalah jalan hidup yang dilakoni. Sebuah anugerah Tuhan yang tidak boleh ditolak.

Syahdan di Mongolia sana, ketika Jengis Khan belum tumbuh dewasa, orang-orang mongol tidak pernah berfikir seruwet ini. Hamparan padang rumput luas adalah tanah yang bisa diduduki siapa saja. Rumah dengan mudah diciptakan dengan material sederhana. Kalau sumber makanan di suatu padang habis, rumah itu tinggal dibongkar dan disusun di lain tempat. Tidak ada yang permanen bagi mereka. Semua hanya siklus perpindahan yang tidak berkesudahan.

Mungkin, kita, para pekerja, birokrat atau siapa pun yang memiliki pemikiran ruwet di atas perlu untuk belajar menjadi seorang pengelana. Membuka mata dan hati atas segala kemungkinan yang ada. Kiranya nurani kita bisa menjadi peka sehingga terbangun dan bertanya: apakah seperti ini manusia hidup?

 

Ferry Fadillah. Kuta, 16 Februari 2017

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: