Posts Tagged identitas

Identitas yang Cair

Saat terlempar ke dunia, kita dihadapkan oleh manusia-manusia yang saling berebut pengaruh. Mulanya adalah Ibu kita yang dengan sabar mengasuh dan memberi pengertian norma. Mana yang baik dan mana yang buruk. Agama juga mulai diperkenalkan. Setiap perbuatan buruk akan diingatkan dengan konsekuensi tragis hukuman neraka. Sebaliknya, setiap perbuatan baik akan diganjar dengan nikmat surga. Pengalaman agama ini mendapat penguatan saat duduk di sekolah dasar. Bagi pembaca yang sekolah di era 90-an tentu tidak asing dengan komik ‘Siksa Neraka’ karya Tatang S. Komik dengan ilustrasi realis ini menggambarkan tingkatan siksa di neraka sehingga mudah dipahami oleh para bocah. Mungkin denga cara ini, di sela-sela permainan adu biji pala dan antrian es lilin para bocah sekolah dasar bisa mengalami peningkatan relijiusitas.

Masyarakat dengan arahan orang tua juga mempengaruhi manusia-manusia awal ini. Setiap kunjungan kerabat ke rumah selalu di ingatkan untuk menjaga lisan dari perkataan kotor. Maklum, anak kecil adalah peniru yang baik. Masih ingat video viral tentang seorang bocah yang berbicara kasar dalam bahasa jawa sambil nikmat menghisap rokok dengan lihainya? Tentu semua orang tua tidak mau anaknya gagal didik seperti itu.

Masalahnya adalah apakah orangtua bisa terus menerus mengawasi ide dunia yang masuk ke dalam benak anaknya?

Ada saatnya, orang tua menganggap anaknya sudah dewasa dan mulai melonggarkan pengawasan. Misalnya ketika anak duduk di bangku sekolah menengah. Ciri fisik mereka sudah berubah. Tidak ada lagi bayi imut yang wangi. Kini orang tua menghadapi anaknya yang sudah ditumbuhi bulu kemaluan dan matang secara seksual.

Pada masa seperti ini, manusia mulai mendapat banyak pengaruh dari luar dirinya. Misal, pacar, teman sepergaulan, kegatan ekstra, agama, pergaulan bebas, film, musik, sampai kebijakan pemerintah terhadap ruang publik.

Interaksi anak terhadap hal-hal tersebut akan mengalami penguatan apabila mereka nyaman akan ide tersebut. Jika masjid adalah tempat yang nyaman untuk berdiskusi agama dan mendekatkan diri kepada entitas adikodrati maka mereka akan mengidentifikasi diri sebagai seorang islamis. Bila bar, café, atau diskotik adalah tempat yang nyaman untuk curhat dan berdansa ria, mungkin, mereka akan melabeli diri sebagai pejuang kebebasan atau apalah yang menurut mereka cocok.

Ketika memasuki dunia kerja, identitas tersebut tidak akan mengalami perubahan drastis. Namun, bukan berarti identitas tersebut mapan hingga akhir hayat.

Kerasnya hidup di zaman kapitalis sekarang ini, antara beratnya menjaga rasio pendapatan terhadap hutang dengan biaya membesarkan anak hingga mandiri, sedikit demi sedikit manusia akan mengubah identitasnya. Mungkin kita pernah betemu kawan lama yang dulunya pemabuk kini menjadi motivator relijius dengan ratusan jamaah setia. Atau sebaliknya, kawan lama yang dulu relijius kini menjadi mucikari sukses di sebuah kawasan lokalisasi yang dilindungi politisi-pengusaha setempat. Mungkin, semua itu mungkin.

Perlu diingat. Tidak ada identitas yang mapan. Semua selalu berada pada titik ‘proses menjadi’. Maka tidaklah bijak menjadikan identitas kini sebagai dasar justifikasi seseorang kelak memperoleh siksa neraka atau nikmat surga.

Di antara silang sengkarut pengaruh orang dan ide-ide terhadap diri, ditambah cobaan hidup yang datang bertubi-tubi yang bisa kita harapkan adalah akhir cerita yang baik. Karena seorang pelacur yang memberi seekor anjing air sesaat sebelum matinyalah ia meraih surga.

Ferry Fadillah. Kuta, 18 Februari 2017

Advertisements

Leave a comment