Posts Tagged orang tua

Ayo Makan, Ma

Bocah itu membuka setengah kaca mobil. Air hujan membasahi wajahnya. Dinginnya menentramkan jiwa. Hutan pinus di pinggir jalan menebar aroma daun basah. Tanah yang diguyur air. Serangga-serangga yang bernyanyi di dahan mahoni.

“Boy, tutup kaca! Nanti basah baju kamu!”, perintah Ibu dari bangku depan. Sebelahnya Ayah sedang mengemudi. Pukul satu siang hari, kabut mulai turun dari gunung Sunda, menutup jalan menebar aura mistik.

Dua jam berlalu. Perjalanan yang sungguh menyenangkan. Di sepanjang jalan terhampar kebun teh. Warnanya hijau tua dengan galur jalan bagi para petani. Penjaja makanan ringan dengan rumah kayu berderet. Penjual tape, indomie, sate kelinci dan sate biawak. Di sebuah kampung, di puncak bukit, sebuah rumah sederhana berdiri, itulah tujuan kami.

Setibanya di sana, Ibu membuka perbekalan. Ada nasi merah yang masih hangat. Ikan terasi jambal roti. Tahu Yun Yi digoreng setengah matang. Sambal terasi mentah dengan air jeruk nipis. Ayam kampung goreng dengan serundeng penggugah selera. Kami bertiga berkumpul di teras rumah. Berdoa dimulai. Ibu menyuapiku. Sesekali bersenda gurau dengan ayah. Aku tidak paham apa yang mereka perbincangkan. Perutku sangat lapar. Hanya makanan dan alam yang membuatku diam.

***

Hujan deras mengguyur Kintamani. “Aduh, gimana sih sayang, kok kamu ngajak ke sini. Udah tau ujan!”, wanita sebelahku geram sepanjang perjalanan . Dia memang selalu begitu. Setiap keputusanku tidak pernah ia aminkan. Seperti para pendemo di depan istana Negara.

Aku jarang menjawab tuntas celotehannya. Sesekali aku melihat dan tersenyum kecut. Kalau amarahnya bertambah, aku hanya menjawab “iya, iya..” atau “Sabar yah, sayang” dan berdoa semoga Tuhan memberikan damai di dalam hatinya. Tapi ia tidak pernah diam. Ia selalu berbicara tanpa peduli kapan dan dimana.

“Kamu tuh ya kalau aku lagi ngomong dengerin kenapa sih. Daritadi iya.. iyaa.. doang. Udah bosen yah sama aku. Kalau bosen cari cewe lain aja. Dulu aja perhatian sama aku. Giliran udah bertahun-tahun pacaran kok jadi dingin gini sih. Ah, nyebelin!”

Aku malas menanggapinya. Aku biarkan celotehnya masuk ke telinga dan hilang dihempas melodi hujan. Pikiranku fokus ke jalan. Telat sebentar saja maka kabut dari Gunung Agung akan menutup keseluruhan kota. Jika sudah begitu kita hanya bisa duduk dan berdoa.

IMG_20170613_104529_314Sebenarnya ada yang aku sesali dari kisah cinta kami. Sejak kali pertama bertemu dengannya aku jadi jarang bertemu ibu. Setiap malam minggu ia selalu saja mengajakku ke bioskop, nonton konser musik atau makan di restauran jepang terkenal. Aku turuti semua ajakannya.

Tapi ada yang mengganjal di dalam hati. Setiap ia berbicara di depan meja makan atau duduk di bioskop, aku selalu membayangkan ibuku yang menjadi dia. Ibuku yang selalu tersenyum walau gurat tua sudah mulai mengakar di wajahnya. Ibuku yang selalu menanyakan kabar anaknya tanpa basa-basi cinta dan kata sayang. Ibuku yang selalu peduli dan cerewet itu.

Aku punya sebuah obsesi. Berkelana bersama Ibu dan ayahku. Mengajaknya keliling pulau-pulau di zamrud khatulistiwa ini. Berlayar dari Bali menuju Pulau Komodo. Bertemu ragam budaya, melihat Danau Kelimutu dan merasakan ragam kuliner. Atau mungkin kita berjalan menuju sebuah bukit, membuka bekal nasi merah dan merasakan suasana damai seperti kecil dulu. Dengan hujan, angin lembah dan bau tanah saat diguyur hujan.

***

Tujuanku sedikit lagi sampai. Mobil aku parkirkan di pinggir hutan. “Sayang, aku di mobil aja yah. Males ah becek kalau ke sana”. Tanpa menoleh aku mengiyakannya. Kemudian aku ambil perbekalan di bagasi. Nasi merah, ayam bakar, tahu dibungkus dengan daun pisang. Masih hangat-hangatnya. Aku berjalan dengan payung hitam di tangan kanan dan perbekalan di tangan kiri. Hutan pinus itu kini dipenuhi semak. Sesekali Aku melewati jalan tanah yang menjadi lengket oleh lumpur. Di sebelah utara dekat dengan hulu sungai ada sebuah pohon beringin besar. Di bawahnya ada gundukan tanah dengan batu nisan berwarna hitam. Aku duduk disamping batu itu.

“Ma, makasih ya selama ini udah baik sama, Boy. Ini Boy bawa makanan. Ayo, Ma, kita makan bareng”

Ferry Fadillah. Kuta, 13 Juni 2016

, , , ,

Leave a comment

Ibu

People are asleep and when they die, they awaken

Hadith of the Prophet Muhammad

Know that you are imagination, and all that you perceive

And about which yous say “that’s not me”, is imagination.

So the whole existence is imagination within imagination

Ibn Arabi

 

 “Ah! Aku paling nggak suka kalau kamu terus suruh aku salat,” bentakku sambil memuntahkan kepalan ke lemari baju.

Dialah Aminah, ibu kandungku, yang selalu cerewet menyuruhku untuk salat, puasa dan segala ritus pra-ilmiah lainnya. Biasanya aku hanya berkata “ya” setiap ia mulai berceramah, sialnya kini aku sedang mendapat banyak masalah. Bentakan ini adalah puncak kekesalan itu.

“Alif…,” panggilnya lirih dengan air mata menetes, “Salat itu kewajiban, kalau kamu nggak salat apa bedanya kamu sama orang kafir. Allah perintahkan itu semua lewat Al-Quran. Kitab ini surat cinta dari Allah bagi manusia. Ibu nggak mau kamu nanti dapat adzab karena menyepelekan salat. Salat ya, Nak. Salat..”

Aku muntab dibuatnya. Aku tahu ia ibuku. Guru sekolah dasarku mengajariku untuk hormat dan berbakti padanya. Tapi hari ini.. Ah.. persetan!

“Udah ibu nggak usah ngurusin hidup Alif. Mau Alif salat, pindah agama, atau nggak percaya sama Al-Quran itu urusan Alif! Ini hidup Alif! Alif bebas untuk milih, Bu!” bentakku kasar sambil menunjuk tepat ke hidung ibuku.

Tanpa berbicara ibuku meninggalkan kamar. Jilbabnya basah oleh air mata. Setelah kepergiannya aku merasakan sesal menyeruak di dalam hati. Buru-buru aku menampiknya, “Kau benar Alif, kau benar.”

***

 Aku berjalan di sebuah hutan pinus. Sekitarku hampir semuanya berwarna merah. Di langit tidak ada satu pun bintang menggantung. Bahkan di waktu yang tidak jelas pukul berapa ini, tidak ada suara binatang apapun. Entah itu jangkrik atau nyamuk liar yang mencari darah.

Dari kejauhan aku melihat sebuah gubuk tua tidak terawat. Sebuah bangunan gaya kolonial dengan cat putih dan sulur yang menjalar menutupi tiang dan atap merahnya.

Ketika akan melangkahkan kaki ke gubuk itu, aku melihat sosok ibu. Samar. Tersembunyi dalam gelap dan pekat hutan yang berwarna darah. Ia berjalan cepat menuju gubuk yang sama.

“Ibu! Ibu mau kemana! Tunggu Alif, Ibu!”

Panggilanku tidak menghentikan langkah kakinya, bahkan ia semakin cepat meninggalkanku jauh dibelakang.

“Ibu tunggu Alif, Ibu. Tunggu…” jeritku semakin parau di tengah segala kebingungan.

Akhirnya aku sampai di gubuk itu. Nafasku terengah-engah. Aku mendapati sosok ibu duduk di sebuah meja usang dengan gelas dan piring di depannya. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Jilbabnya yang kusam dan kepalanya yang tertunduk membuatku bertanya-tanya, “benarkah ini ibuku?”

“Duduk.” serunya datar.

Aku mematuhi perintahnya. Kugeser kursi reyot itu. Sambil mengambil posisi duduk aku pandang lekat sosok ibu di hadapanku. Aku mulai ragu, apakah dia ibuku? Tapi kemudian aku mulai memberanikan diri untuk bertanya.

“Kita ada dimana, Bu? Kenapa ibu begitu pucat, kenapa ibu tidak kembali saat Alif panggil?”

Sosok ibuku terdiam lama. Aku mengulang pertanyaan yang sama namun ia tetap bergeming. Tidak ada angin, tidak ada suara nafas, tidak ada percakapan. Penantian ini adalah siksaan terberat dalam hidupku.

Tiba-tiba saja sosok ibu membuka percakapan.

“Ibu? Hahahaha.. Aku bukan ibumu. Aku bukan ibumu. Tidakah kau mengenal ibumu? Bukankah kau yang dilahirkannya, disapihnya, diberinya pengetahuan, didoakannya, tapi kau tidak mengenal ibumu. Hahahaha..”

Setelah tawa itu lepas ia terdiam. Kembali kepada sikap angker semula. Perlahan ia mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke arah kiri. Sontak mataku mengikuti arah telunjuknya. Sebuah kamar besar dengan pintu lebar. Di tengahnya ada kasur dengan kelambu nyamuk yang sudah berdebu. Sebuah lilin yang sudah tinggal seperempat adalah satu-satunya alat bantu penerangan. Dalam samar aku melihat sosok tubuh yang terbujur kaku.

“Siapa dia?”

“Kau lihat sendiri”, senyumnya terlihat ganjil.

Aku beranjak dari kursiku. Berjalan perlahan ke arah kasur itu. Di pintu kamar aku berusaha membersihkan sarang laba-laba yang menutupi jalan masuk. Saat berada di dalam kamar aku terkejut. Tiba-tiba dinding-dinding kamar berubah menjadi padang rumput yang luas.

Astagfirullah. Kemana rumah tadi. Aku ini dimana?”

Saat aku berbalik, aku tidak lagi melihat sosok wanita misterius tadi. Sepanjang mata hanyalah padang stepa tanpa ujung. Pada momen itu hanya ada aku dan sosok terbujur kaku di dalam kasur di tengah ruang waktu yang bahkan tidak aku pahami.

Di antara kengerian dan kebingungan itu aku lanjutkan perjalanan menuju kasur. Walaupun terlihat dekat namun langkah-langkahku terasa berat seperti tertahan oleh tangan-tangan imajiner.

Aku membuka kelambu itu sambil terbatuk-batuk. Debu masuk ke dalam hidung dan mataku. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Aku gosok mataku perlahan. Saat mataku jernih kembali, aku bisa jelas melihat tubuh itu. Aku terkejut. Bingung. Hampa.

“Ibu..! Ibu kenapa.. Ibu jangan ninggalin Alif. Ibu maafin Alif.. Ibuuu!”

Itu ibuku. Itu ibuku yang terbujur kaku. Wajahnya pucat. Ia tidak bernapas. Ia mati pikirku.

Ia mati dan aku sendiri.

***

“Suster! Ambil cepat alat kejut jantung!”

“Baik, dokter!”

Tubuh itu tidak berdaya. Luka bakar tampak memenuhi sekujur tubuhnya. Wajahnya rusak. Bentuknya sudah tidak lagi dikenali.

“Satu.. Dua.. Tiga..!”

Tubuh itu terangkat beberapa senti dari kasur. Tangannya bergerak tidak beraturan. Namun mesin di sebelah kepalanya belum menandakan adanya tanda kehidupan.

“Tambah lagi daya listriknya, Suster!”

“Satu.. Dua.. Tiga..!”

Tiba-tiba saja aku merasa tertarik dari semburat cahaya warna-wani yang tidak beraturan. Aku melihat fragmen-fragmen samar ingatan yang berkelibatan seperti film: rumah tua, wanita misterius, hutan pinus merah, padang luas dan ibuku yang terbujur kaku. Kesadaran mulai masuk ke dalam tubuhku. Perlahan-lahan aku membuka mata.

“Siapa kalian? Aku dimana? Dimana ibuku?”

“Tenang, Dek. Kamu belum sehat. Tidak perlu bertanya dulu.”

“Tolong Dok jelaskan semuanya, dimana aku, dimana ibuku?”

Dokter itu terdiam.

“Dok kenapa diam saja.. dimana aku? Dimana ibuku?”

Aku terus bertanya. Memaksa. Merajuk sambil meraung-raung.

“Dok kenapa diam saja.. dimana aku? Dimana ibuku?”

“Ibumu? Bukankah ibumu mati. Hahahaaha..”

Aku terkejut kenapa dokter itu tertawa memberitakan kematian ibuku. Sialnya ia terus tertawa sambil memperlihatkan gigi serinya yang berjarak. Ia terus tertawa sambil memegang perut dan menahan derai air mata. Ia terus tertawa.

Di tengah kebingungan itu, aku mengalihkan pandangan kepada sosok suster di sebelahnya. Ia tidak ikut tertawa dan tampak misterius. Saat aku perhatikan ia malah memalingkan muka. Tapi aku seperti mengenal wajah itu. Wajah yang sudah tidak asing lagi.

“Suster! Kenapa dokter gila ini tertawa. Dimana ibuku? Dimana aku?”

Tiba-tiba kepalanya berbalik tanpa membalikan tubuh. Seperti burung hantu di dahan pohon yang melihat tikus di semak belukar.

“Sudah ku bilang ibumu terbujur kaku di ranjang itu! Hahahaha..”

Aku merinding dibuatnya. Siapa dia? Kenapa semua mentertawakanku. Ruangan itu pecah oleh suara tawa yang lebih menyerupai jerit hantu dikuburan. Aku tidak bisa menerima ini semua. Aku coba duduk. Kucabut infus yang menempel di nadiku. Aku tabrak tubuh dokter itu. Tapi saat akan mencapai pintu, sebuah benda keras menghajar kepalaku. Aku kehilangan keseimbangan. Kemudian semuanya gelap belaka.

***

“Alifff.. Alifff.. bangun, Nak. Ibu sudah siapkan sarapan. Kamu kan sebentar lagi sekolah!”

Aku terbangun mendengar teriakan ibuku dan ketukan di pintu. Tiba-tiba air mata menganak sungai. Aku merasakan kebingungan yang luar biasa dan rindu kepada ibuku, “Ibu? Itu kah ibu?”

Ibu langsung membuka pintu. Saat mendapat anaknya dalam kebingungan ia mendekat. Wajahnya teduh dan menenangkan.

“Alif, kamu kenapa?”

Melihatnya mendekat tubuhku gemetar. Aku tidak lagi bisa berkata apa-apa. Aku langsung bersimpuh dan mencium kaki ibuku. Aku rangkul kaki ibuku sambil menundukan kepala. Tangisku pecah. Aku rindu ibuku. Aku ingin memeluknya dan tidak mau lagi mencelanya. Aku sayang ibuku.

Ibuku tidak berkata apa-apa. Ia melihatku lekat-lekat seperti seorang bocah yang terjatuh saat bermain layangan. Ia mengelus kepalaku perlahan. Aku merasakan kedamaian. Aku tenang. Aku hidup. Aku tercerahkan. Kemudian aku berdoa di dalam hati, “Ya Allah, semoga kenyataan ini bukan sebuah mimpi.”

“Say: Come. I will recite unto you that which your Lord has made a sacred duty for you; that you ascribe nothing as partner unto Him and that you do good to parents…” (Quran 6:151)


Ferry Fadillah, April 2016

tulisan ini pernah dikirim untuk lomba cerpen festival seni budaya Masjid Baitul Mal (2016), STAN, dan memperoleh peringkat ketiga

, , , , , , , ,

Leave a comment