Posts Tagged islam

Menjawab “Surat Terbuka Kepada Mahasiswa STAN”

Agama adalah candu. Begitu keyakinan kaum materialis-komunistis ketika melihat kenyataan bahwa agama telah menjadi alat pembenaran bagi penguasa negara theokrasi memeras habis kapital rakyatnya. Namun, pendapat itu tidak selamanya benar. Bagi sebagian orang, agama adalah obat. Oase di tengah padang pasir keserakahan manusia yang menjadikan benda sebagai landasan berpikir. Cahaya bagi kegelapan peradaban yang menjadikan pikiran manusia yang terbatas sebagai acuan kebenaran.

Dalam perjalanannya, agama selalu berdampingan dengan politik. Agama dan Politik seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Pemilihan Umum Presiden 2014 tanggal 9 Juli lalu pun diwarnai isu-isu seputar agama. Antara Islam dan non-Islam. Antara Islam dan sekularis. Ternyata, geliat politik di perhelatan besar lima tahunan ini bergulir ke sebuah kampus bagi para abdi Negara, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Dalam pemilihan presiden mahasiswa tahun ini, warga STAN dihadapi oleh dua pilihan. Fandy, mahasiswa D-IV, semester 7, beragama Islam dan Gilang, mahasiswa D-IV, semester 9, beragama Katolik.

Merujuk tulisan Meidiawan Cesaria Syah berjudul “Surat Tebuka Kepada Mahasiswa STAN”, saya dapat membayangkan bahwa pertunjukan politik di sekolah kedinasan populer itu pun tidak sarat dari isu-isu agama. Di dalam tulisan beliau, isu yang menjadi pokok tulisan adalah sebuah pernyataan : bahwa sudah seharusnya muslim memilih kawan muslimnya, jangan yang non-muslim.

Apakah benar ini hanyalah sekedar isu dari sekelompok orang yang sudah tidak dapat berargumen untuk mencitrakan pemimpin pilihannya?

Sebelumnya, saya jabarkan dulu secara singkat tentang bagaimana seharusnya seorang muslim memandang agamanya dan mengkaitkannya dengan segala aspek kehidupan. Asy-Syahid Hasan Al-Bana pernah berkata mengenai agama ini, “Islam adalah negara dan tanah air, atau pemerintahan dan umat, ia adalah akhlak dan kekuatan, atau kasih sayang dan keadilan, ia adalah wawasan dan perundang-undangan, atau ilmu pengetahuan dan peradilan, ia adalah materi dan kekayaan, atau kerja dan penghasilan, ia adalah jihad dan dakwah, atau tentara dan fikrah, sebagaimana ia adalah akidah yang bersih dan ibadah yang benar.” Hasan Al-Bana menggambarkan wajah islam yang universal dan totalitas. Tidak mendikotomi permasalahan apapun di dunia ini dengan Islam. Bahwa, Islam tidak hanya mengurusi hal-hal berbau ritual belaka. Namun, Islam pun mengurusi hal besar yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak : politik.

Keyakinan Islam seperti di atas, hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki derajat iman. Menjadikan Allah sebagai satu-satunya puncak kebenaran, acuan perkataan dan perbuatan. Bukankah Islam dalam bahasa arab bermakna penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Alah? Sehingga, adalah sebuah perkara yang jelas jika seorang muslim menjadikan kitabnya (Al-Quran) sebagai acuan kebenaran.

Pertanyaan bergulir menjadi, “Apakah kehendak Allah dalam menentukan pemimpin umat?”

Saya kutip dasar hukum yang nyata, yang berasal dari Tuhan yang saya dan anda yakini keberadaannya :

Hai, orang-orang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah untuk menghukummu? (An-Nisa :144)

Meidiawan Cesaria, saya bertanya kepada nurani anda sebagai seorang muslim, apakah ayat ini hanyalah sebagai isu belaka yang dapat diacuhkan atas nama negara demokrasi? Apakah mereka yang menjadikan ayat ini sebagai acuan dalam memilih pemimpin masuk kedalam kategori pemilih sosiologis, yang anda tempatkan dibawah posisi pemilih rasional dan pemilih psikologis? Apakah mereka yang menjadikan ayat ini sebagai acuan adalah orang-orang yang tidak rasional? Saya, tidak satu pendapat dengan anda.

Kalau memang demokrasi membebaskan kita untuk berpendapat dan berkeyakinan, maka inilah pendapat dan keyakinan seorang muslim yang benar, yang tidak dapat dikacaukan dengan pemahaman apapun juga. Bahwa ini adalah pemahaman paling rasional bagi mereka yang tergerak hatinya ketika dipanggil oleh Tuhan sebagai “orang-orang yang beriman”.

Atas nama keberagaman bukan berarti setiap pemeluk beragama harus mengilangkan truth claim agama yang mereka miliki. Karena truth claim itulah yang membedakan satu agama dengan agama lainnya. Bayangkan semua orang menganggap tidak perlu lagi memegang truth claim dalam agamanya, maka untuk apa lagi ada agama di dunia ini?

Akhir kata, saya mengajak semua mahasiswa STAN yang bergama Islam, yang menyatakan diri loyal kepada Allah dan berlepas diri selainnya agar menjadikan kitabullah sebagai satu-satunya acuan dalam memilih pemimpin. Jangan pernah goyah oleh pendapat-pendapat mereka yang menjadikan demokrasi sebagai illah-illah pengganti Allah. Sungguh, Allah akan memenangkan kita jika berada di jalan yang lurus. Ingatlah cita-cita founding father kita sebelum mendapat protes dari tokoh agama dari Indonesia timur : ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Bali, 13 Juli 2014
Ferry Fadillah
Advertisements

, , , , ,

1 Comment

Menuju Progresfitas Masjid Perkantoran

Adzan berkumandang. Masyarakat menghentikan aktivitasnya. Berduyun-duyun  masuk ke Masjid. Mengambil air wudhu, kemudian menghadap Allah dalam gerakan mulia bernama Shalat. Setelah itu, dalam diam, mereka mengingat Allah. Berdoa dalam harap.

Sayangnya, setelah ritual itu selesai, masjid kembali sepi. Pola pikir masyarakat terlalu terpaku bahwa masjid hanyalah tempat sholat belaka. Padahal, jika mengkaji secara sosio-historis, masjid selalu dipenuhi dengan pertemuan ragam pemikiran, ideologi, kepentingan dan pergerakan.

Maksimalisasi Peran Masjid Perkantoran

Umumnya, kantor-kantor pemerintah dan swasta memiliki masjid. Ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius yang selalu menempatkan masjid sebagai bagian penting dalam tata ruang perkantoran. Permasalahannya adalah, apakah masjid sudah menjadi pusat kegiatan dakwah di wilayah perkantoran?

Ada kecenderungan, relijiusitas hanya ditempatkan di dalam masjid, di luar itu relijiusitas selalu kalah dengan materialisme. Sehingga tidak jarang kita melihat pelaku karyawan yang kontradikitif dalam kehidupannya. Di masjid ia begitu sholeh, di luar kantor ia begitu liberal. Yasraf Amir Piliang, seorang sosiolog dan pengkaji cultural studies, melabeli orang seperti ini sebagai pengidap skizofrenia. Term ini merujuk kepada kepribadian yang ganda tidak hanya disebabkan faktor gen akan tetapi lemahnya prinsip yang ia pegang, sehingga ia selalu mengakomodir segala prinsip/isme-isme dalam kehidupannya. Isme-isme itu muncul dalam prilakunya tanpa ada filter dari prinsip utama.

Untuk menghilangkan ini semua, sebenarnya Masjid memiliki peran vital dalam melakukan pendidikan Islam yang kuat. Sehingga prinsip Islam dapat terpatri kuat dalam diri karyawan. Ujungnya, dihasilkan karyawan-karyawan yang Islami tanpa terjangkit gejala Skizofrenia.

Maksimalisasi Peran Takmir Profresif

Progresif memang cenderung digunakan dalam istilah politik. Progresif  memiliki definisi : ke arah kemajuan; berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang. Sehingga Takmir Progresif adalah kader-kader Islam dalam organisasi masjid yang senantiasa gerah dengan kemandekan/konservatisme dan berusaha untuk mengubah kondisi ini menuju keadaan ideal.

Oleh karena itu, takmir masjid harus diupayakan memiliki pengetahuan yang dalam tentang agama juga mengetahui perkembangan dunia yang sudah tidak moderen lagi (filsuf kontemporer mengkategorikan zaman sekarang sebagai post-moderenisme). Takmir masjid harus bisa menangkap isme-isme yang berkembang di daerahnya (kantor dsb) kemudian mengkajinya dari sudut Islam sehingga dihasilkanlah pehamanan jamaah yang lebih islami.

Daripada kita menuding sesat para liberalis, sekularis, feminis, orientalis dan sebagainya. Lebih baik kita mengkaji bahasa mereka, kemudian mewarnainya dengan semangat Islam.

Harapannya, Masjid dengan Ideologi Islam dapat menyatukan Umat Islam yang terkotak-kotak oleh segala Isme. Dan, hal ini perlu didukung oleh pergerakan Takmir Masjid yang progresif.

Ferry Fadillah
Badung, 3 September 2013

, , , , , , ,

Leave a comment

Zinah

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (Al Isra’ : 32)

Saya yakin semua agama dan budaya setuju jika praktik zinah adalah amoral, melawan kodrat sebagai manusia, asusila, bahkan perbuatan satanik yang dapat menjerumuskan kita ke neraka, dunia maupun akhirat. Namun saya yakin banyak masyarakat yang mulai lentur memandang praktik zinah, bahwa zinah adalah hal lumrah, bahkan komersialisasi praktik zinah melalu lembaga bernama lokalisasi tumbuh subur di kota-kota besar di Indonesia. Di antara kita bisa jadi terheran-heran, sayangnya membicarakan hal tersebut dengan nada bercanda, seolah fenomena ini merupakan pertunjukan lawak kolosal!

Di era post-modernisme, yang definisinya pun masih membingungkan, banyak manusia yang memiliki nihilisme nilai. Ini boleh, itu juga boleh. Zinah boleh, engga juga gak apa-apa, yang penting jangan ganggu privasi saya. Kasarnya. Bahayanya adalah semakin banyak generasi muda yang menganut nihilisme nilai ini, sehingga perzinahan seolah merupakan permasalahn individu bukan kolektif. Kalau sudah seperti ini, celakalah mereka yang tidak memiliki nalar kritis, meng-amini saja pandangan sesat ini , bahkan turut bagian dalam praktik zinah. Naudzubillah.

Saya sadar, bahwa saya bukanlah orang suci yang tidak pernah berbuat dosa. Bahkan dengan lugu saya mengaku, saya pun pernah berbuat dosa, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Tetapi untuk masalah yang satu ini –zinah- saya kira permasalahannya lebih kompleks. Ditilik tidak hanya dari sudut pandang Islam saja namun humanisme universal.

Manusia (human) yang diberi rasa dan akal tentu berbeda dengan hewan yang hanya memiliki hasrat. Terdengar klise memang. Namun pembeda yang jelas ini banyak dilupakan orang dengan jutaan pembenaran-pembenaran. Kita manusia lalu untuk apa bertindak tanduk seperti hewan. Hanya hewan yang melakukan hubungan seksual tanpa ritual transenden, bung! Apa iya kita mau disamakan dengan hewan?

Saya tidak mau menuduh mereka yang pro-zinah sebagai antek-antek setan, manusia iblistis atau hewan birahi berjalan. Masalah mereka pro atau kontra lalu menyematkan lema dosa setelahnya bukanlah hak saya sebagai penulis ngawur. Saya hanya ingin curhat bukan menggurui, melabeli apalagi memaki. Di akhir, satu permintaan saya, kepada segenap manusia tercinta dimanapun kalian berada : mari kita menjadi manusia sejati, sebenar-benarnya manusia.

 

Ferry Fadillah
9 Desember 2012

, , , , , , , , ,

Leave a comment

Fenomena Percenayangan

“Salah satu adegan dalam fim Dreed. Hakim Dredd (kanan) dalam pelaksanaan tugasnya memberantas kejahatan di Amerika dibantu seorang Hakim baru sekaligus cenayang bernama Cassandra Anderson (kanan). Hal ini merupakan salah satu media komunikasi agar dunia percenayangan dapat diterima dalam masyarakat tontonan”

Cenayang adalah pawang yang dapat berhubungan dengan makhluk halus, dukun yang dapat meminta bantuan atau mengusir jin (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Tim Prima Pena)

Dalam arti yang lebih luas –setelah melihat fenomena sosial yang ada- cenayang dapat juga dihubungkan dengan orang yang memiliki kemampuan khusus untuk melihat aura, mengetahui masa depan dan masa lalu, atau melihat peruntungan dan persialan.

Mereka tidak lagi diidentikan dengan dunia perdukunan yang pada umumnya dicirikan dengan penanda baju : hitam, tradisional, penuh atribut mistis. Kini mereka berbaur dengan masyarakat, hidup dengan fesyen populer seolah ingin menghilangkan sekat antara dunia percenayangan dengan masyarakat.

Ketika SMA dulu, di kota Bandung, saya menyaksikan sebuah pameran spiritual di daerah Dalem Kaum. Saya sangat terkejut. Ternyata para cenayang tidak sekonvensional yang saya kira. Mereka memiliki komunitas dengan struktur organisasi moderen. Mendapat izin dari pemerintah untuk buka praktik, bahkan memiliki jejaring solid antar negara!

Media promosi mereka pun semakin aktual. Sebut saja majalah Misteri yang selalu memberikan ruang untuk iklan percenayangan : jimat pengasihan, pelet sesama jenis, jual beli tuyul dan lain sebagainya. Beberapa malah menggunakan jejaring media sosial untuk lebih memudahkan promosi yang dapat menjangkau pasar anak muda. Dari usaha-usaha inilah jelas bahwa mereka –cenayang- berusaha untuk menghilangkan sekat dengan masyarakat, berbaur, manunggal dengan budaya populer.

Sebuah Kekhawatiran

Dari perspektif ekonomi, politik atau hukum tentu banyak orang merasa yang tertolong oleh bantuan mereka. Seperti keyakinan masyarakat kita bahwa : orang yang susah karirnya dengan jimat pengasihan dapat disayangi bos dan mendapat kedudukan tinggi di institusinya; orang yang akan kampanye pemilukada dengan rapelan mantra kuno dapat membuat orang terkagum-kagum atau tersihir; orang yang terlilit kasus korupsi dapat memerintahkan jin untuk menghilangkan berkas perkara di pengadilan dan lain sebagainya.

Terlepas dari benar atau tidaknya keyakinan itu. Masalahnya adalah -apalagi bagi saya yang beragama Islam dan cenderung kepada pengagungan akal-, hal ini dapat merusak cara berpikir masyarakat. Masyarakat jadi tercemari takhayul-takhayul yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Misalnya, saat seseorang sakit bukannya dibawa ke dokter malah menghubungi orang pinter karena diduga terkena ilmu hitam, saat seseorang sulit ekonomi bukannya belajar bagaimana menjadi wirausahawan malah mendatangi dukun untuk mendapat jimat tertentu.

Okelah jika atas nama semangat demokrasi hal ini dikategorikan kepercayaan lain yang harus dihormati. Namun semakin populernya dunia percenayangan melalui persebaran media populer dapat dikhawatirkan merusak para anak muda nusantara yang pada umumnya dikategorikan masyarakat tontonan. Masyarakat yang menjadikan tontonan sebagai dasar pemikiran, bahkan kebenaran. Karena di TV, maka aku ada! Sebuah klausa yang menggambarkan bagaimana tontonan menjadi poros penggerak budaya populer, sumber pengetahuan bahkan logos kebenaran.

Menanamkan Budaya Rasional

Jika dicermati, budaya percenayangan bermula dari lingkungan keluarga. Masih ingat dalam ingatan saya ketika kecil dulu. Aa, jangan main maghrib-maghrib nanti diculik kalong wewe; Jangan duduk di pintu nanti jodohnya nenek-nenek; Jangan lewat disitu tanpa permisi nanti kesambet. Padahal semua jenis larangan itu bisa dirasionalisasikan, misalnya : Jangan main  waktu maghrib, adzan sudah berkumandang, itu seruan bagi kita untuk segera sholat, Allah tidak ingin hambanya menunda-nunda pelaksanaan sholat. Jelas, rasional, mententramkan.

Lembaga pendidikan harusnya menjadi motor penggerak bagi proses penanaman budaya rasional kepada kawula muda. Perpustakaan di lembaga pendidikan sebisa mungkin mengadakan acara bedah buku secara rutin, nanti di forum tersebut panita berusaha mengupas buku-buku percenayangan dan membandingkannya dengan kaidah agama, moral maupun hukum alam. Agar budaya rasional lebih merasuk lebih dalam lagi, kalau bisa peserta didik diwajibkan untuk membaca karya sastra yang isinya mengajak pembaca berpikir rasional, cerdas dan mencerahkan.

Guru –sebagai sumber ilmu yang hidup- harus dapat memberikan penjelasan-penjelasan ilmiah dari setiap fenomena fisik maupun budaya. Jika ada pertanyaan yang sulit untuk dijawab, lebih baik guru mundur selangkah untuk mengumpulkan data kemudian menjawabnya di lain kesempatan, daripada menjawab asal dengan mengkambing hitamkan dunia ghaib. Misalnya, dikaitkannya adzab Tuhan dengan bencana yang terjadi di suatu daerah atau kecelakaan buruh bangunan pada sebuah proyek karena adanya dedemit yang minta tumbal.

Akhirnya, keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, bahkan negara harus bersinergi dalam menanamkan budaya rasional dengan segala otoritas yang dapat setiap komponen lakukan. Dengannya negeri ini akan terus maju menuju peradaban tinggi, peradaban yang lebih mementingkan perbaikan kualitas hidup daripada syak wasangkan terhadap dunia ghaib –yang jelas-jelas tidak dapat kita indera.

Ferry Fadillah
Bandung, 15 November 2012
 
sumber gambar : http://review.ghiboo.com/dreed-perjuangan-sang-hakim

, , , , ,

2 Comments

Perjalanan Menakjubkan : Nusa Penida, Nusa Lembongan

Perkenankanlah saya bercerita sedikit tentang sebuah perjalanan wisata yang tak terlupakan.

Bosan setelah mengitari Pulau Bali secara rutin (sabtu, minggu, atau hari besar lainnya) saya mulai tertarik untuk mengunjungi sebuah pulau kecil di tenggara pulau Bali yakni Nusa Penida. Pulau yang secara administrasi masuk ke dalam wilayah Kabupaten Klungkung ini sangat berbeda dengan daerah Bali pada umumnya. Di sini lah saya menemukan suasana Bali yang lain daripada yang lain.

***

“Deretan Perahu Nelayan di Nusa Penida, Klungkung, Bali”

Lebih kurang dua jam perjalanan dari Tuban, Badung menuju Pelabuhan Padangbay menggunakan motor, saya dan teman-teman harus rela antre membeli tiket penyebrangan ke Nusa Penida. Maklum pada saat itu banyak sekali masyarakat Bali yang akan ke sana. Dilihat dari pakaian dan barang bawaan, mereka sepertinya akan sembahyang bersama keluarga.

Entah mengapa, kapal ferry yang kami tumpangi sangat penuh sesak. Orang-orang duduk dimana-mana, bahkan ada yang tidur di depan kamar kecil, namun tetap hal ini tidak menyurutkan niat kami untuk mengorek lebih lanjut pulau di hadapan kami. Solusi dari permasalahan ini hanya satu, tidur pulas tidak mempedulikan sekitar.

Satu setengah jam sudah kami terombang-ambing di selat Bali yang indah dan tenang. Sesampainya di Nusa Penida kami terheran-heran. Sepi sekali Pulau ini. Dimana penginapan? Dimana pusat perbelanjaan? Tidak mau terbelit pertanyaan anak kota, kita langsung tancap gas menuju ke arah utara.

Berdasarkan peta Provinsi Bali yang selalu saya tempel di kamar tidur, Nusa Penida memiliki tiga potensi wisata, pantai yang masih perawan, tebing ekstrim yang mengagumkan dan air terjun yang indah. Akhirnya, kami sepakat untuk mencari air terjun terdekat dengan modal : bertanya kepada penduduk sekitar.

Mata Air Guyangan

Sudah kurang lebih setengah jam kita berjalan menuju arah yang sama sekali tidak kita ketahui. Bertanya dari satu desa ke desa lain dan pada akhirnya tibalah kami pada jalan buntu dengan gapura kecil yang menantang untuk dimasuki.

“Pemandangan dari pintu masuk Mata Air Guyangan, Nusa Penida”

Herannya, tidak ada sepanduk tempat wisata di sini, tidak ada pedagang souvenir, tidak ada petugas penjaga. Kami dekati lagi tulisan kecil di atas gapura, di sana tertulis JALAN INSPEKSI MATA AIR GUYANGAN. Mata air? Jadi selama ini yang dianggap air terjun adalah mata air ini. Tidak mau saling menyalahkan kami segera masuk ke dalam gapura.

Alangkah terkejutnya kami ketika melihat pemandangan yang ekstrim. Laut lepas yang begitu indah, dan ternyata kita berada di atas tebing curam. Satu-satunya jalan untuk menempuh mata air adalah dengan menyusuri tangga besi curam yang dibuat ‘tidak ramah wisatawan’. Dengan tekad baja dan hati besi kami telusuri jalan inspeksi tersebut, rasa takut, dan cemas, selalu saja dapat kami atasi ketika melihat pemandangan menakjubkan dari setiap sudut. Tentu saja kami masih bisa mengabadikan momen tersebut dengan kamera.

Mata Air Buyangan sendiri tidak lebih dari sebuah mata air, tidak kurang tidak lebih. Yang kami syukuri dari perjalanan ini adalah proses untuk menuju mata air ini. Penuh perjuangan dan kecemasan. Sehingga keheranan kami  di gapura masuk sudah terbayar. Namun satu hal yang masih mengusik hati kami, ‘Apa benar tempat ini lokasi wisata?’

Nusa Lembongan

“Bungalow tempat kami menginap”

Matahari sudah akan terbenam, kami bergegas menuju Toyapakeh, utara Pulau Penida, disana kami berencana menyimpan motor dan melanjutkan perjalanan ke Nusa Lembongan menggunakan jukung. Dengan biaya Rp 100.000,00 per orang, seorang penduduk setempat mengantar kami sampai ke bawah jembatan antara Pulau Lembongan dan Ceningan. Sayang waktu itu malam, kami tidak dapat menikmati keindahan laut di antara dua pulau ini, yang dapat kami lihat hanya gelombang ekstrim dan ikan yang meloncat-loncat.

Di Pulau Lembongan kami menggunakan jasa ojek untuk mencari penginapan terdekat. Karena momen tersebut harus dijadikan momen terindah (dalam sejarah kepariwisataan kami), kami memutuskan untuk menginap di sebuah bungalow yang terbuat dari kayu. Dengan harga nego Rp 250.000 per malam, sang empunya mempersilahkan kami masuk dan merebahkan diri.

Keesokan harinya, kami semua malas untuk bangkit, maklum suasananya begitu tenang, tanpa ada polusi udara. Kami habiskan waktu di sini untuk berenang, membaca buku, dan ngobrol ngalor ngidul. Tidak lupa juga kami mengunjungi Pantai yang terkenal di sini, Mushroom Beach.

Sepintas pantai ini mirip dengan Pantai Balangan di Nusa Dua, Bali. Namun tentu saja berbeda jika kita lihat lebih jauh. Terlepas dari itu semua, poin tambah dari pantai ini adalah tingkat pengunjung yang masih rendah, sepi, sehingga anda dapat berjemur ria atau berfoto ria tanpa harus malu dilihat orang.

Kembali ke Bali dengan Jukung!

“Terima kasih bapak-bapak!”

Puas sudah rasanya kami di Pulau kecil tersebut dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Nusa Penida. Ini hari minggu pukul 12.00 WITA dan kami harus segera ke pelabuhan untuk membeli tiket ferry. Nahas, pelabuhan sepi, tidak ada penumpang maupun kapal. Usut punya usut ternyata kapal ferry menuju Bali rusak di Lombok dan kapal tersebut baru bisa beroperas besok pagi, hari senin!

Mungkin beberapa kawan memiliki integritas tinggi terhadap pekerjaan, dengan tergesa-gesa kita mencari speedboat terdekat. Sialnya, semua speedboat tidak menerima kami membawa motor. Ini hanya untuk penumpang bung!

Untungnya seorang ibu pedagang nasi menyarankan untuk menyewa jukung. Waktu itu kita banyak pertimbangan, apalagi setelah melihat kondisi air laut yang mulau bergelombang. Tapi entah mengapa, kita semua sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Bali melalui laut bergelombang menggunakan jukung.

Penduduk sekitar membantu kami mengangkat dua motor ke dalam jukung. Jukung oleng, pun motor kami, mau tidak mau kami harus memegangi motor sampai ke tujuan. Dengan bismillah, kami berangkat.

Ternyata benar, ombak begitu besar, kami pasrah, mau berbuat apa lagi. Air laut terciprat ke wajah kami, sesekali masuk ke dalam jukung. Kami pegangi terus  motor kami, agar tidak nahas jatuh ke laut.

Setelah beberapa menit perjalanan kami sedikit lega, ada pantai di sana! Beberapa orang dengan sigap menanti kedatangan kami, membantu mengangkat motor dan barang bawaan terakhir menagih bayaran atas jasa mereka.

“Dimana ini pak?”, tanya kami.

“Pantai Kusamba, mas”

Ferry Fadillah
Bali, 14 September 2012
 
Foto-foto:
“Tangga terjal menuju Mata Air Buyangan, Nusa Penida”

“Jembatan Kuning yang menghubungkan Pulau Ceningan dengan Pulau Lembongan”

 

 

 

, , , , , , ,

3 Comments

Shalat Jumat

Hari Jumat, merupakan hari suci dalam setiap minggu bagi kami, umat islam. Di saat itu, sedari pagi, kaum adam harus bersiap bebenah diri. Mandi dengan niat akan mendirikan shalat jumat, memotong kuku dengan niat akan mendirikan shalat jumat, dan mempersiapkan pakaian terbaik dengan niat akan mendirikan shalat jumat.

 

Shalat yang dimulai pada pukul 12.30 WIB (kurang lebih) itu dimulai dengan adzan dilanjutkan dengan ceramah dari orang yang dianggap lebih mumpuni dalam bidang agama. Peraturannya, ketika sang pengkhotbah berdiri di atas mimbar maka wajib hukumnya bagi setiap jamaah menutup mulutnya rapat-rapat, alias diam. Sungguh kemuliaan terdapat dalam peraturan ini, bukankah kehidupan ini harus dipenuhi dengan keseimbangan, apalagi dalam hubungan manusia dengan manusia, salah satunya adalah ketika ada yang berbicara ada pula yang mendengarkan. Hal ini jarang dipermasalahkan oleh masyarakat kita, sehingga adu mulut, dan merasa lebih pintar sering kali terlihat di kotak-kotak televisi melalui wajah-wajah politikus maupun civitas akademika.

 

Khotbah pada hari jumat biasanya mengandung seruan kepada jamaah untuk senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hampir setiap jumat khotbah berisi anjuran melakukan kebaikan-kebaikan, kebaikan kepada Tuhan, kebaikan kepada Alam, dan kebaikan kepada sesama. Bagi mereka yang merasa diri lebih pintar dan lebih suci tentu kadang berpikir bahwa materi yang dibawakan setiap jumat adalah sama, itu-itu saja, sehingga timbul sikap apatis dalam memaknai khotbah jumat itu sendiri.

 

Segala sesuatu di dunia ini tidaklah ada yang abadi. Begitu juga dengan keimanan kita, kadang pasang kadang surut, tergantung kesungguhan hati kita dalam menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangannya. Kesibukan kita di dunia yang dipenuhi keinginan hewani untuk  memenuhi kantong dengan harta, selangkangan dengan wanita, dan kehormatan dengan tahta secara otomatis membuat manusia lupa akan Tuhannya, lupa akan esensi penciptaan manusia, bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah. Atas dasar inilah, seyogyanya mereka yang apatis terhadap khotbah jumat memaknainya sebagai sarana memperkukuh keimanan, sarana menaikan kembali air keimanan yang tadinya surut, serta sarana untuk menyadarkan diri akan tujuan awal penciptaan manusia.

 

Percayalah bawa dibalik semua tuntutan ibadah yang diberikan Tuhan kepada kita melalui kanjeng Nabi Muhammad pasti memiliki makna yang dalam bagi kebaikan kehidupan kita di dunia dan di akhirat. Karena Tuhan itu seperti orang tua kita, sedangkan kita seperti anak bocah ingusan yang selalu sok tau tentang kehidupan. Ketika disuruh begini membantah, ketika disuruh begitu merengek, padahal yang menyuruh adalah lebih tinggi ilmunya daripada yang disuruh. Tapi begitulah manusia, kerap kali mendewakan pengetahuannya sendiri.

Ferry Fadillah. 22 Oktober 2010. Kota Bandung.

, ,

Leave a comment

Hukum Kekekalan Kejahatan :Orang Jahat Akan Selalu Ada, Itu Pasti!

"siang dan malam, kejahatan akan selalu ada"

Masihkah anda ingat pelajaran SMP mengenai Hukum Kekekalan Energi yang berbunyi : ”Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tetapi tidak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan.” Memang hukum ini masih mengundang kontrovesi, dari kalangan ilmuwan sendiri ada yang pro dan kontra, tapi biarlah mereka yang memiliki kapasitas sebagai ilmuwan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, kita–sebagai awam–hendaknya menunggu dan meyakini teori yang paling rasional dan ilmiah saja.

Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Saya hanya terinspirasi oleh Hukum yang dikemukakan oleh James Prescoot Joule tersebut. Setelah memutar otak beberapa lama saya pun dengan berani menyatakan sebuah hukum, yaitu Hukum Kekekalan Kejahatan.

“Kejahatan dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain serta berpindah dari satu manusia ke  manusia lain tetapi kejahatan tidak bisa diciptakan (oleh Tuhan) ataupun dimusnahkan (oleh Tuhan).” Kurang lebih beginilah hukum yang keluar dari otak saya ini. Mungkin anda berpikir bahwa hukum ini adalah sebuah lelucon, sesat bahkan bodoh. Oleh karena itu marilah kita kaji secara mendetail.

Meninjau Hukum Kekekalan Kejahatan

“Kejahatan dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain…”

Sebenarnya hal ini jelas bagi kita. Kita ambil contoh bentuk kejahatan terhadap Tuhan yang dinamakan syirik (mempersekutukan Tuhan dengan makhluk lain). Pada zaman Jahiliyah dahulu di jazirah arab, bentuk kejahatan ini dengan jelas tercermin dengan perbuatan orang arab yang menyembah berhala. Sekarang tentu seorang muslim tidak akan terang-terangan menyembah berhala, tetapi bentuknya lebih canggih lagi, seperti mempercayai sebuah benda kecil memiliki kekuatan tertentu, mempercayai ramalan primbon, mempercayai kartu tarot, mempercayai ramalan ‘dukun artis’ dan yang sekarang lagi trend adalah horoscope. Bentuknya beragam, mulai dari yang sifatnya mistik sampai yang dipoles dengan gaya anak muda sehingga dianggap sebagai trend zaman modern.

“…berpindah dari satu manusia ke manusia lain…”

Kita ambil contoh kehidupan di dunia pendidikan. Ada seorang guru dan beberapa murid. Seorang penjahat intelek tentu akan dengan mudahnya mendoktrin masyarakat awam– yang tidak berfikir kritis. Mereka akan dengan mudahnya meng-aminkan segala macam ajaran guru penjahatnya, semenjak ajarannya seolah-olah ilmiah dan rasional. Alhasil, mereka akan melakukan segala tindak kejahatan yang dilakukan guru penjahat mereka, misal : perompakan kapal, pemerkosaan berjamaah, perampokan toko emas, aliran sesat dan seabagainya.

“…tetapi kejahatan tidak bisa diciptakan (oleh Tuhan)..”

Anda pasti setuju jika saya berkata bahwa Tuhan itu Maha Baik. Dan anda pasti akan men-cap saya sebagai seorang yang sesat apabila saya mengatakan Tuhan itu Maha Jahat. Doktrin agama pada umunya selalu menggambarkan Tuhan sebagai sosok yang baik, dan segala keburukan yang menimpa kita selalu dilimpahkan sebagai kesalahan kita sendiri. Dari pemahaman ini saja kita tentu setuju bahwa Segala Yang Baik tentu tidak akan pernah menciptakan kejahatan. Namanya saja Segala, pasti tidak ada pengecualian.

“…ataupun dimusnahkan (oleh Tuhan)…”

Saya sempat bingung sendiri dalam mengkaji kalimat ini. Akhirnya saya teringat akan kisah Iblis yang tidak menuruti perintah Tuhan untuk bersujud kepada manusia. Disini, apakah Tuhan tidak memiliki kuasa agar Iblis bersujud kepada manusia? Jika kita ibaratkan Iblis sebagai simbol kejahatan, apakah Tuhan tidak memiliki kekuatan untuk memusnahkan cikal bakal kejahatan di muka bumi tersebut? Tentu kita sudah sepakat bahwa Tuhan itu Maha Mengetahui apa yang tidak ketahui, dan Tuhan itu Maha adil.

Di dalam kasus ini, menurut saya, Iblis telah diberi kebebasan oleh Tuhan untuk memilih jalannya sendiri, menjadi makhluk mulia atau menjadi makhluk terkutuk. Dan menurut ajaran di dalam kitab suci, ternyata iblis menggunakan hak memilihnya untuk menjadi makhluk terkutuk.

Jadi–masih menurut saya–Tuhan itu memang memiliki kekuasaan untuk menghancurkan segala kejahatan di muka bumi, tapi Dia memberikan kita hak untuk memilih menjadi jahat atau baik. Tuhan memfasilitasi mereka, yang menggunakan hak memilih untuk menjadi orang baik , dengan diturunkannya Kitab suci melalui nabi-nabi.

Inti Hukum Kekekalan Kejahatan

Hukum ini jelas menggambarkan bahwa kejahatan di dunia itu akan selalu eksis sampai kapanpun, karena memang itu hukumnya. Mungkin anda kurang sependapat atau bagaimana, yang jelas ini hanya pemikiran saya—yang masih butuh banyak belajar.

Dengan adanya kepastian ini, maka orang-orang yang selalu mengganggap dirinya paling shaleh dan paling suci harus lebih berhati-hati lagi dan harus lebih rendah diri, mungkin saja sekarang mereka shaleh tapi bagaimana dengan mereka di masa depan. Masa depan itu masih absurb dan ghaib. Apakah kita bisa menjamin mereka akan selalu hidup dalam keshalehan mereka ?

Bagi para pendakwah, hukum ini bukanlah sebuah angin pesimistis, hanya saja saya berusaha memutar otak para pendakwah yang selalu berambisi ( dalam arti yang negatif) dalam berdakwah, kapanpun dan dimanapun selalu berdakwah, dan terkadang menyakiti hati orang yang di dakwahkan. Memang perkataannya benar, tapi apakah cara yang digunakan sudah baik? Benar bukan berarti baik, dan baik sudah pasti benar. Akan selalu adanya orang jahat di dunia, maka gunakan pula cara berdakwah yang baik, bukan malah menjadi bagian dari keburukan.

Saya pernah bertanya kepada seorang ustadz, “Pak, jika melihat bahwa kejahatan itu akan selalu ada sampai hari kiamat nanti. Apakah yang seharusnya pendakwah lakukan hari ini?”

Dengan bijak beliau berkata, “Nabi nuh beratus-ratus tahun berdakwah, tapi hanya sekitar 70-an orang pengikutnya. Berdakwah tiada henti tetap semangat dan sabar serta mohon pertolongan Allah.”

Berdakwah itu wajib. Jadi kewajiban itu tidak akan hilang sampai kapan pun. Justru klo dah mendekati kiamat tambah banyak orang jahat karena ilmu akan dicabut dari manusia. Jadi pendakwah saat ini harus terus berdakwah”, tambah teman saya yang pernah menikmati suasana pesantren di Purworejo, Jawa Timur.

Sekarang semuanya tergantung anda.

Ferry Fadillah, Denpasar, 29 April 2010

, , , , , ,

10 Comments