Posts Tagged G30SPKI

Membela (?) PKI

Bkb5EIlCIAA0WUF.jpg largeWaktu itu langit cerah di kota Jakarta. Ribuan orang berduyun-duyun memadati Gelora Bung Karno. Pedagang kaki lima sudah bersiap sejak subuh tadi; bersamaan dengan para gelandang dan pengemis; mengharap belas kasih demi sesuap nasi.

Pukul Sembilan, seluruh tempat duduk di dalam gelanggang sudah terisi penuh. Massa rakyat dengan mata menyala-nyala memadati tribun dengan pakaian merah api. Suara mereka yang berbicara dengan sesamanya riuh rendah seperti kawanan lebah. Bendera palu arit terpasang di setiap sudut gelanggang bersamaan dengan Sangsaka Merah Putih. Di bagian utara terpasang potret besar pendiri komunisme internasional: Marx, Engels, Stalin, dan Lenin. Di sebelahnya berderet pahlawan bangsa dari era kolonial hingga revolusi kemerdekaan: Dipenogoro, Soekarno, dan Hatta.

Sesaat kemudian, Soekarno, presiden Indonesia sekaligus Pemimpin Besar Revolusi naik ke podium. Serentak semua peserta membisu. Pembawa acara memandu semua peserta untuk berdiri dan hymne partai dikumandangkan:

Kau cabut segala dariku

Cemar dan noda

Gelap dan derita

Kau beri segala padaku

Kasih dan cinta

Bintang dan surya

Partaiku partaiku

Segenap hatiku bagimu

Partaiku partaiku

Kuwarisi api juangmu

PKI PKI

Segenap hatiku bagimu

PKI PKI

Kuteruskan jejak juangmu

Hymne usai dinyanyikan. Mata semua peserta berkaca-kaca, sebagian menangis terharu; teringat jasa partai selama ini. Kemudian, pembawa acara memandu peserta untuk duduk kembali. Gelegar pidato Sang Singa Podium dimulai.

***

Begitulah hiruk pikuk ulang tahun PKI di masa revolusi. Namun, sejak tragedi penculikan para jenderal di Jakarta pada tahun 1965, hiruk pikuk itu berubah menjadi kesunyian.

Tujuh orang jenderal diculik tanpa welas asih, disiksa dengan bejat, dan dibuang di lubang buaya. Manusia Indonesia, yang pernah hidup di zaman Soeharto, percaya, bahwa PKI adalah biang keladi.

Setelah para pemberontak dapat dilumpuhkan, gonjang ganjing belum juga surut. Kebencian kepada PKI dari pihak nasionalis dan agamis mendapat angin segar untuk dilampiaskan. Pembantaian masal terjadi di Jakarta dengan cepat menyebar ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Anggota partai dan organisasi masyarakat yang berasosiasi dengan komunisme diluluh lantahkan. Bahkan kaum buruh-tani yang tidak terkait gerakan komunisme apapun, karena hanya mendapat bantuan dari pihak komunis, mesti tumpas tanpa dosa.

Masa kelam itu bukanlah tragedi kemanusiaan belaka, tapi juga tragedi kebudayaan. Seniman berhaluan realisme-sosial yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dituding menjadi sarang orang-orang komunis. Para seniman itu disiksa dan dihina; karya-karya mereka berupa lukisan dan buku-buku dihancur leburkan; dianggap barang-barang sesat yang mengotori keimanan.

Tragedi itu menjadikan bangsa Indonesia terbelah, yang satu meniadakan yang lain. Pancasila menjelma menjadi agama negara. Mereka yang berpaling dari Pancasila adalah kafir murtad yang halal darahnya. Pilar Nasionalisme-Agama-Komunisme (NASAKOM), yang merupakan buah pikir Soekarno untuk mempersatukan segala lapisan ideologi, hancur berkeping-keping. Saat itu adalah titik sejarah paling berdarah nan kelam bagi bangsa ini.

Kini, kebencian terhadap komunis masih ada, memasuki alam pikir manusia Indonesia dari generasi ke generasi. Komunis itu atheis. Komunis itu pemberontak. Komunis itu cabul. Tetapi apakah manusia Indonesia, terutama mahasiswa sudah benar-benar adil melihat tragedi 1965? Atau hanya latah membenci tanpa mengerti duduk perkara? Atau pernahkah mahasiswa berpikir, apakah komunis tidak memiliki peran dalam pembangunan rumah bersama bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia ini?

Jika berbicara tentang peran komunis dalam pembangunan negeri, saya jadi teringat pidato D.N. Aidit dihadapan Musyawarah Besar Sarjana Ekonomi Indonesia tanggal 8 Juli 1964 di Jakarta :

“Kaum Komunis Indonesia sudah sedjak lama berpendirian, bahwa masjarakat Indonesia masih tetap merupakan masjarakat setengah-feodal dengan sisa-sisa feudal jang berat. Program PKI jang disahkan 10 tahun laloe dalam Kongres Nasional ke-V PKI meliputi tuntutan-tuntutan landreform jang radikal jang sepenuhnja sesuai dengan sembojan Bung Karno: “Tanah untuk mereka jang betul-betul menggarap tanah.” Sudah lama Program itu mendjadi sasaran dan edjekan kau reaksioner jang mentjemooh PKI karena djandji-djandji tanah untuk kaum tani hanja bisa dipenuhi, katanja, dalam bentuk tanah untuk kuburan. Tetapi sekarang, Program resmi revolusi Indonesia sudah dengan tegas menjatakan kemutlakannja landreform…”

Dari penggalan pidato di atas, kita mengetahui semangat sungguh-sungguh PKI untuk menghancurkan feodalisme yang masih berakar kuat dan menghisap habis tenaga kaum tani yang tersebar di seluruh nusantara. Tanah ialah untuk mereka yang benar-benar menggarap tanah. Tanah tidak dikuasai oleh satu orang yang hanya duduk manis ongkang-ongkang kaki lalu menghisap tenaga para petaninya. Apakah kini cita-cita ini sudah terwujud? Ya, memang belum, namun feodalisme sudah hilang dan berganti bentuk dengan kapitalisme, tanah yang dahulunya dimiliki bangsawan, kini dimiliki oleh pemilik modal, namun semangat Undang-Undang Agraria yang kita kenal sekarang adalah semangat landreform yang digalakan PKI.

Itu baru masalah landreform, belum lagi sumbang asih pemikiran sosial-komunis dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pemikiran dialektis Marxian telah menambah khazanah pemikiran filsafat. Teori nilai tambah telah memukul telak cara kerja kapitalisme dalam menentukan nilai dan harga. Komunisme yang pro terhadap realita sosial rakyat tertindas telah menginspirasi para budayawan serta menghasilkan roman, novel, lukisan, dan film yang menyentuh nurani kemanusiaan. Dan masih banyak lagi sumbang asih komunisme terhadap kehidupan manusia.

Dalam uraian ini saya tidak hendak berpihak kepada PKI mati-matian dan mengatakan pembataian masal pasca tragedi 1965 adalah kesalahan pihak nasionalis dan agamis. Saya hanya ingin kita, terutama mahasiswa, yang mengenyam pendidikan tinggi serta budaya diskusi untuk lebih adil dalam melihat setiap fenomena; lebih kritis dalam menangkap kebenaran.

Keterangan dari rezim berkuasa bukanlah kebenaran yang harus ditelan bulat-bulat. Ucapan para pimpinan agama bukanlah sabda Nabi yang harus diterima dengan tunduk. Manusia bukanlah dewa, bisa salah dan bisa khilaf. Manusia ditempatkan dalam kingdom animalia bukanlah tanpa sebab. Ketamakan dan haus kuasa telah berkali-kali menjerumuskan manusia menjadi binatang bahkan lebih sesat dan lebih hina. Bukankah pembunuhan pertama di muka bumi dilakukan oleh manusia jua?

Dari sudut pandang mana pun kita melihat, sikap saling menyalahkan tidak akan pernah menciptakan persaudaraan. Perpecahanlah yang akan diraih. Saling memaafkan dan mengambil ibrah dari peristiwa lampau harus benar-benar menjadi budaya kita. Sehingga kita paham untuk melihat kekurangan diri dan kelebihan orang lain. Poin pentingnya adalah berlaku adil baik dalam pikiran maupun perbuatan. Bukankah Tuhan menyuruh kita untuk bersikap adil bahkan kepada kaum yang kita benci: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Maaidah: 8)”

 Jadi, masikah kita serampangan melekatkan kata PKI setelah “G-30-S” untuk peringatan tahun depan?

Ferry Fadillah, 1 Oktober 2015.

Dipersembahkan untuk panitia acara puncak Project 30’s di Politeknik Keuangan Negara, Tangerang Selatan, Rabu lalu (30/09/2015)

Advertisements

, , , , , , , ,

Leave a comment

Sebuah Ikhtiar Sederhana guna Menyibak Pesan dan Kesan di Balik Peristiwa Dukuh Paruk

Adalah peristiwa September 1965 yang telah menyisakan trauma bagi sebagian besar manusia Indonesia. Persaudaraan yang dulu kental dengan gotong royong-nya porak poranda menjadi permusuhan yang membabi buta. Masyarakat terbagi menjadi dua kutub: pro-komunis dan kontra-komunis.

Peristiwa pra dan pasca geger politik itu terekam jelas secara emosional dan kultural di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Dukuh Paruk, subsistem mikro di pedalaman Jawa Tengah, merupakan daerah yang kental dengan aroma takhayul, kecabulan dan kebodohan. Bagi penduduk yang hanya 70 kepala keluarga ini perguliran kekuasaan dengan atribut ideologi dibaliknya tidaklah penting. Apalagi menelaah secara intelektual-formil ideologi komunisme dan kapitalisme yang pada masa itu sedang giatnya mencari umat. Bagi mereka hidup cukuplah nrimo ing pandum sambil  tetap menjaga kepercayaan serta kebudayaan nenek moyang dengan segala laku dan ritualnya.

Alkisah, di pedukuhan ini hiduplah seorang penari ronggeng. Penghibur tradisional yang menjadi simbol bagi gairah kebinatangan lelaki dan kekuasaan wanita penghibur. Srintil-lah tokoh yang diangkat oleh Ahmad Tohari sebagai sang penari ronggeng. Sebuah gravitasi dalam novel ini yang harus menghadapi kejamnya hidup sebagai seorang minoritas; karena ia wanita dan menjadi objek cabul kebanyakan pria.

Sejak belia, adat cabul yang dibalut oleh kearifan kepercayaan kuno telah menjadikan Srintil sebagai komoditas nafsu belaka. Baginya adalah sebuah kehormatan jika lelaki dipenjuru dunia berebut untuk menjamah tubuhnya. Kepercayaan itu tidak hanya ada pada diri Srintil namun pada hati setiap penduduk Dukuh Paruk. Jadi tidaklah heran jika seorang istri merasa bangga jika suaminya berhasil untuk bercumbu dengan kembang desa itu.

Kepercayaan Srintil itu mulai goyah ketika ia merasakan cinta sejati. Baginya memiliki suami dan berumah tangga adalah fitrah seorang wanita. Dan kini hal itu menjadi cita-citanya walaupun adat menolak seorang ronggeng memiliki suami dan berumah tangga. Sayang, cinta itu kandas karena Rasus, sang pujaan hati, kecewa ketika tahu Srintil memilih menjadi seorang ronggeng. Karena bagi Rasus seorang ronggeng tidak lagi dapat dimiliki secara pribadi namun menjadi barang publik yang dipertukarkan  begitu saja.

Setelah penolakan cinta itu kisah Srintil akan berputar dalam alunan derita dan nestapa. Sekali pernah ia ditipu lelaki kaya bermulut manis yang ternyata berniat menjual dirinya kepada bosnya. Bahkan pernah ia ditangkap pihak berwajib dan dimasukan ke dalam penjara selama 2 tahun tanpa pembela dan proses pengadilan yang layak. Hanya karena ia bermain ronggeng di rapat akbar orang-orang komunis. Tokoh ini seolah merepresentasikan penderitaan wanita Indonesia dihadapan lelaki dan keluguan gadis desa akan ideologi yang bertenangan pada masa itu.

Di sela-sela cerita pembaca juga akan dibawa larut ke dalam alam pedesaan yang indah. Penulis yang lebih kerasan tingga di desa dengan lihai mendeskripsikan kejadian-kejadian alam dalam rangkaian kalimat yang memancing imajinasi. Simaklah penggalan novel berikut :

Angin tenggara bertiup. Kering. Pucuk-pucuk pohon di pedukuhan sempit itu bergoyang. Daun kuning serta ranting kering jatuh. Gemerisik rumpun bamboo. Berderit baling-baling bamboo yang dipasang anak gembala di tepian Dukuh Paruk. Layang-layang yang terbuat dari daun gadung meluncur naik. Kicau beranjangan mendaulat kelengangan langit di atas Dukuh Paruk.

Jika membaca dari awal hingga akhir, novel ini bisa disebut sebagai sebuah reportase fiksi sastrawi yang menggambarkan konflik ideologi antara kapitalisme dan komunisme pada masa itu. Konflik para elit yang ternyata merembet sampai ke desa-desa terpencil di pulau Jawa. Komunisme dalam sekejap menjadi momok yang dibenci dan ditakuti. Kata itu telah menjelma menjadi kumpulan orang tidak bertuhan dan kerap melakukan pemberontakan. Maka pembunuhan massal dan  penangkapan ribuan orang  tanpa proses pengadilan seolah mendapat legitimasi dari negara bahkan lembaga agama.

Dengan membaca novel ini diharapkan pembaca akan menjadi bijaksana dalam memandang perbedaan dan konflik. Tidak sungkan menerima beda pendapat dengan kepala dingin dan selalu memihak kepada mereka yang termarjinalkan.

Bandung, 7 Juli 2015

, , , ,

Leave a comment