Posts Tagged fiksi

Pegawai Gila

Pada sebuah kantor pemerintah tinggal seorang pegawai muda berpangkat pengatur muda golongan II/a. Tingginya seratus tujuh puluh satu senti. Beratnya enam puluh lima kilogram. Rambutnya ikal tertata rapih ke arah samping dengan bantuan pomade seharga dua ratus ribu dibeli online. Gaji bulanannya sebesar lima juta rupiah belum termasuk uang makan dan tunjangan kinerja cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sesekali beramal bagi sesama.

Orang-orang di kantor memanggil pegawai ini dengan nama Dery. Tanpa nama keluarga, marga atau embel-embel apapun. Kedua orang tuanya memberi nama itu sebelum meninggal akibat gusuran pemerintah daerah dua puluh lima tahun silam. Ia tidak pernah mengenal wajah kedua orang tuanya. Pengurus panti asuhan lah yang menyerahkan sertifikat lahir bernama dirinya dan menceritakan kisah pilu kedua orang tuanya.

Dery adalah pegawai tata usaha yang selalu datang tepat waktu. Ia akan berangkat sebelum pukul tujuh tiga puluh pagi hari. Menyapa kawan-kawan yang ia temui dengan senyum lebar penuh keceriaan. Setelah itu ia akan pergi ke kantin sejenak. Memesan nasi campur dengan sayur kacang panjang dan ikan cabai hijau ditemani segelas teh hangat cap orang tua. Tidak sampai tujuh menit makanan itu habis dan Dery bergegas ke meja kerja.

Tempat Dery bekerja cukup luas. Antara satu komputer dengan komputer lain dibatasi oleh partisi yang terbuat dari kaca setinggi pinggang. Komputer Dery berukuran besar bermerek HP. Sebelum memulai pekerjaan ia selalu menyalakan denting piano Frederic Chopin berjudul Nocturne No 2 Flat Major Op. 9 No.2 sambil menyeruput torabika yang sebelumnya ia seduh sendiri dengan air dispenser.

Pekerjaannya biasa saja. Tugasnya adalah melanjutkan disposisi Kepala Seksi. Bila disposisi berbunyi arsip, maka ia akan mengarsipnya. Bila disposisi berbunyi “buatkan nota dinas” maka ia akan segera membuat konsep dan menanti pekerjaannya dicoret-coret. Selain itu ia juga dibebani pekerjaan adminsitrasi surat masuk dan keluar, pengarsipan serta pengurusan dokumen pribadi pegawai. Semua pekerjaan ia kerjakan dengan tuntas tanpa pernah berkeluh kesah.

Pekerjaan kantor usai pukul lima sore. Ia juga selalu tepat waktu meninggalkan ruangan. Tidak peduli hujan dan badai, ia segera pergi ke indekost. Melepas sepatu dan tiduran bertelanjang dada. Sambil bermalas-malasan ia akan mengambil gawainya. Membuka aplikasi instagram,  memberi like kepada foto pemandangan, kemudian mencari-cari baju murah yang dijual dengan diskon atau penawaran khusus. Ia juga akan membuka whatsApp dengan jari-jemarinya. Ia akan membuka grup kontak satu per satu. Membaca setiap berita, sampah maupun penting. Pekerjaan itu memakan waktu dua jam sampai akhirnya ia teringat waktu shalat magrib.

Dery selalu bingung ketika memutuskan lokasi makan malam. Ia biasanya akan pindah dari satu tempat ke tempat lain setiap malam. Ia tidak pernah mengajak siapapun bersamanya. Makanan kesukaannya adalah masakan khas Bali yang asam dan pedas atau sop kambing dengan jeroan dan torpedo yang gagah perkasa. Sambil makan ia tidak pernah melepaskan pandangan dari gawai. Bergantian ia membuka aplikasi pertemanan. Facebook, twitter, WhasApp, Tumblr, kembali lagi ke Facebook, twitter, WhatssApp begitu seterusnya hingga potongan kambing terakhir habis.

Malam hari Dery akan tidur pukul sebelas malam dengan posisi gawai di sebelah kuping kanannya. Alarem diatur untuk berbunyi pukul enam pagi. Ia tidak pernah tidur mengenakan sehelai benang pun. Alasannya sederhana. Ia tidak mau membebani biaya laundry dengan baju yang kotor akibat keringat tidur. Tipikal pegawai yang sangat hemat sekaligus pelit.

Keteraturan Dery terus berlanjut. Ia bahkan menolak setiap ajakan kawan diluar agenda rutinnya. Ia hidup sendirian dan sepertinya menikmati kesendiriannya. Ia terbiasa makan sendiri, berdiskusi sendiri terkait pekerjaan dan membaca buku di café terdekat bertemankan caramel maciato. Lama kelamaan kebiasaannya itu membentuk dirinya menjadi keras kepala dan tidak mudah percaya kepada orang lain.

Buku-buku yang dibaca Dery bertemakan motivasi praktis yang ditulis oleh para motivator kondang. Ia selau bersemangat membaca buku-buku itu. Matanya menyala-nyala menyuarakan perubahan. Gagasan-gagasan segar memebuhi pikirannya. Saat pergi ke tempat kerja, ia harus memendam setiap gagasan-gagasan itu. Karena pekerjaannya menuntut kepatuhan mutlak dari atasan.

Entah mengapa Dery menjadi pecandu buku. Mungkin kesendirian mengantarnya untuk mencumbui buku. Hal murah yang dapat dilakukan dimanapun. Ia tidak lagi bersentuhan dengan buku motivasi. Kini ia menganggap buku-buku itu sebagai karya picisan yang mudah dicerna. Kamar sewanya dipenuhi buku-buku klasik karangan Plato, Aristoteles, Phytagoras dengan coretan tinta merah di marjin kanannya. Beberapa kertas warna-warni dengan catatan-catatan penting menyembul dari beberapa halaman. Ada juga buku-buku zaman romantik seperti Thus Spoke Zarahustra karya Frederic Nietzche yang ia tempatkan di rak khusus dengan taburan bunga segar yang selalu ia ganti setiap pagi. Buku sejarah dunia, kebudayaan dan mistisme juga tidak luput dari koleksi pribadi Dery.

Semua bacaannya itu membebani Dery dengan jutaan ide baru. Pikirannya selalu berputar dimanapun ia berada. Ia selalu memikirkan hal-hal kecil yang tidak terpikirkan orang lain. Mengapa aku hidup? Apakah aku berjiwa? Apakah jiwa itu? Dimana Tuhan? Apakah Tuhan ada? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui dirinya saat bekerja dan tidur. Kini ia tidak lagi bisa tertidur pulas. Sebelum tidur ia akan sibuk dengan sebuah bacaan kemudian menulis pada sebuah jurnal refleksi atas bacaan itu. Biasanya ide-ide dalam bacaan itu akan menghantuinya dalam tidur. Kadang menjadi sebuah mimpi menyeramkan yang menyiksa dirinya. Pernah suatu ketika ia bermimpi menjadi Tuhan. Bentukya seperti tiang putih yang bergerak cepat secara vertikal ke angkasa. Menembus awan, bintang, planet antar galaksi sebelum akhirnya ia terbangun dengan keringat dingin dan perasaan takut akan kutukan.

Karena kebiasaan barunya, Dery mengidap insomnia. Setiap ke kantor ia selalu merasa lemas. Walaupun bergelas-gelas kopi ia minum tetap saja rasa kantuk akan selalu menderanya. Wajahnya kini menjadi pucat. Darah seolah-olah berhenti mengalir ke otaknya. Jari jemarinya kaku dan ia mudah gelisah.

Pada tahun ke tiga puluh masa kerjanya di kantor itu. Dery merasakan kebosanan yang luar biasa. Ia diam di meja kantornya menghadap komputer yang melantunkan denting piano Chopin. Ia malas mengambil surat disposisi Kepala Seksinya. Ia merasa Kepala Seksinya tidak lebih pintar dari dirinya. Semua orang adalah salah dan dia adalah kebenaran itu sendiri.

Tiba-tiba ia berteriak ke semua orang yang berada di ruangan, “Hai, manusia-manusia membosankan yang mengerjakan hal membosankan tidakah kalian memiliki hidup alternatif selain yang kalian jalankan hari ini!”

Semua orang terbengong-bengong dibuatnya. Dery menjadi pusat perhatian saat itu juga.

“Kenapa kalian semua tidak menjawab? Aku bertanya kepada kalian? Apakah kalian pernah berpikir barang sejenak untuk meninggalkan kantor yang penuh kemunafikan ini. Apakah kalian rela diperintah oleh atasan dengan kemampuan di bawah kalian. Berkata ‘siap!’ untuk setiap perintah seperti anjing menyalak yang diberi daging oleh Tuannya!”

Perkataan itu membuat wajah beberapa pegawai merah. Sebelum mereka memikirkan pernyataannya, Dery melanjutkan…

“Hari ini aku katakan kepada atasanku dan atasan kalian. Anjing kalian semua, aku tidak mau lagi diperintah kalian dan bergabung dalam sistem kantor yang pengecut ini. Aku adalah diriku yang merdeka tidak bisa diperintah oleh siapapun. Aku adalah awal dari segala sesuatu kebenaran dari segala kebenaran. Kalian semua adalah anjing-anjing yang tidak berguna!”

Pidatonya ia tutup dengan tendangan keras ke arah komputer. Ia juga memukul lemari arsip yang terbuat dari kaca hingga luluh lantah memenuhi ruangan. Segera seorang pegawai memanggil petugas keamanan. Dery diapit oleh dua orang bertubuh tegap berkulit hitam. Ia tidak bisa berkutik. Kakinya terseret-seret menuju pintu keluar. Setiap orang di setiap unit melihat ke arah jendela, ke arah Dery yang mereka anggap sudah gila.

Dery tidak berkata apa-apa saat diusir paksa ke luar kantor.Ia merasa jijik melihat kantor dihadapannya. Ia tahu persaingan dan kemunafikan yang menjadi wabah di dalamnya. Ia muak dengan semua itu. Ia merasa jijik dan mual luar biasa.

Kini, Dery sudah tidak memiliki penghasilan apapun. Ia memutuskan untuk mengembara entah kemana. Ia tidak mau mengikatkan diri kepada sebuah kewajiban. Ia mencintainya dirinya sendiri dan kesendiriannya.

 Ferry Fadillah. Kuta, Desember 2016.

Advertisements

, , ,

5 Comments

Aku itu Siapa

Aku itu siapa? Pertanyaan yang selalu muncul dibenaku. Sejak sekolah menengah aku memang selalu memikirkan yang tak terpikirkan. Terkadang-kadang aku mengutarakannya kepada kawan-kawan. Tapi mereka malah mencibirku seolah itu adalah pertanyaan bodoh. Maka sejak itu aku berhenti bertanya.

Setelah lulus kuliah aku menjaga jarak dengan teman-teman sekolah menengah dulu, aku tidak sudi dianggap bodoh atau gila hanya dengan bertanya seperti itu. Dan, pertanyaan itu kini muncul kembali. Aku itu siapa? Dalam tidurku, dalam berdiriku bahkan dalam shalatku. Sampai-sampai aku pusing dibuatnya. Maka untuk mengobati itu aku mencari banyak buku bacaan. Temanya filsafat. Aku berkelana dari Athena dimana Socrates memprovokasi kaum muda untuk menyembah satu Tuhan hingga Eropa tempat dimana Friedrich Nietzsche menulis lantang Tuhan sudah mati dan mengajarkan filsafat nihilisme. Dari semua buku-buku, aku belum juga menemukan jawaban.

Aku juga mencoba menulis. Mula-mula catatan kecil refleksi kejadian selama di kampus. Aku selalu berusaha berfikir mendalam: tentang pelajaran, tentang dosen, tentang mahasiswa, tentang apapun yang terlintas dalam pikiran. Dan aku merasa catatan kecil tidak lagi cukup. Aku mencoba menulis di blog pribadi. Aku mulai gandrung dengan esai sosial-politik, syair realis-sosial dan perenungan filosofis. Aku tahu hanya segelintir orang yang membaca. Itu tidak masalah. Menulis bagiku adalah urusan kepuasan batin.

Karena kegiatan membaca dan menulis itu aku mulai tertarik dunia pidato. Aku kagum dengan Soekarno yang pidatonya penuh majas dan dapat membius jutaan rakyat dari segala lapisan. Aku terpesona denga gesture Hitler ketika berpidato dihadapan rakyat Jerman. Aku berdecak kagum dengan sorot tajam mata Lenin ketika berpidato di hadapan sidang Internationale. Aku mengagumi mereka semua.

Aku pernah berusaha menyusun naskah pidatoku sendiri. Aku berlatih di hadapan cermin dengan gaya tokoh yang aku kagumi. Aku membayangkan diriku adalah seorang ketua partai yang berpidato dihadapan rakyat dengan bendera merah menyala dikibarkan di setiap sudut lapangan nasional. Sialnya, ketika teringat dengan tugas kampus, lamunan itu harus buyar dan berganti kecemasan.

Oh, iya aku belum bercerita dimana aku kuliah. Aku kuliah jurusan statistika di Universitas Adminisrasi Negara. Sebuah perguruan tinggi yang menjanjikan mahasiswanya kedudukan birokrat setelah lulus kelak. Umumnya lulusan perguruan ini di tempatkan di Kementerian Sosial menjadi seorang analis atau hanya seorang jongos yang disuruh-suruh oleh bosnya.

Universitas ini sepi dari gejolak protes dan demonstrasi. Tidak ada aksi turun ke jalan. Tidak ada diskusi dengan tokoh pergerakan. Kegiatan di sini didominasi acara sampah seperti pentas seni ala sekolah menengah. Ditambah kegiatan agama yang memaksa mahasiswa bersyukur atas carut marut yang terjadi di negeri ini. Aku menghindar dari semua kegiatan itu. Aku berikhtiar menjaga pikiran agar tetap logis dan kritis.

Aku sadar semua kegiatan itu muncul di benak panitia karena adanya sebuah kepastian. Karena kelak mereka menjadi kelas menengah yang berlabel aparat sipil negara. Kalau kepastian sudah di depan mata, untuk apalagi mereka memprotes pemerintah, menolak kemunafikan pejabat negara atau sekadar menyindir pihak universitas yang selalu mengancam DO bagi mahasiswa yang kritis.

Menjadi apapun kelak, aku tidak pernah ambil pusing. Pastinya, aku tidak pernah bercita-cita menjadi seorang birokrat. Dalam pikiranku birokrat itu malas, boros dan payah. Ah, cukup sudah aku melihat kinerja perangkat daerah dan kepolisian.

Ketika itu aku kehilangan kartu ATM. Aku bingung bukan kepalang. Itu satu-satunya cadangan keuangan yang aku punya. Temanku menyarankan untuk melapor ke kepolisian dan meminta surat keterangan hilang. Aku melakukan apa yang ia sarankan. Dan nahasnya, ketika surat itu terbit polisi itu terbatuk perlahan dan berkata, “Ehm, biaya administrasinya dek?” Aku kaget dan hanya bisa tersenyum lalu lekas memberi pecahan lima puluh ribu dan berlalu tanpa pamit.

Tidak hanya itu. Sebelumnya aku harus mengakui bahwa bagiku konten pornografi adalah hal lumrah. Hampir setiap hari aku biasa mengakses aktivitas seksual lintas bangsa dan melihatnya langsung tanpa malu dan takut.. Aku kira kalian tidak perlu susah payah menceramahiku tentang ini itu. Hei, kalian yang sok suci. Aku lahir dari keluarga muslim yang taat. Aku tahu konsekuensi teologis atas setiap perbuatan. Tapi aku tidak pernah tahu bagaimana melawan gejolak hormon ketika muda. Apakah kalian tahu? Ah, daripada melawan, aku hanya bisa menuruti keinginan nafsuku.

Kembali ke dalam cerita. Suatu saat aku menjadi korban sextortion -bagi yang kali pertama mendengar istilah ini silahkan telusuri sendiri artinya di dunia maya. Ujung cerita adalah komplotan bajingan di Bucalan, Filipina memintaku untuk mengirim USD 1.000 lewat Western Union. Aku mengiba. Dan ketika pagi menjelang, para pemeras itu menawarkan hanya USD 200. Ah jumlah yang besar bagiku pada saat itu. Aku cemas, sedih dan bingung. Aku coba hubungi Interpol tapi mereka memintaku menghubungi polres terdekat. Polres tidak mengangkat. Aku coba telepon Polda dan ternyata suara di ujung telepon itu menggurui, “Sebenarnya ini kesalahan adik karena bertingkah amoral. Bisa dibayangkan ga berapa uang negara yang harus keluar untuk menyelesaikan kasus antar negara kaya gini. Kalau adik businessman oke lah!” Aku terpekur lama, kecewa, sekaligus sedih.

“Ah selama ini aku membayar pajak ternyata hanya untuk mendapat perlakuan seperti ini,” batinku kesal.

Aku bingung kemana lagi aku harus meminta tolong. Kepolisian Filipina pun enggan mengangkat teleponku. Sumpah aku muak dengan perangkat negara itu, aku tidak percaya lagi dengan jargon pengayoman itu. Kini aku adalah seorang anarkis!

Aku seringkali sedih dan kesal. Aku sedih melihat seorang bapak tua yang berjualan pisang seorang diri di pinggiran jalan. Aku kesal mendengar kawan yang selalu membandingkan gaji antar kantor. Iya, aku kesal dengan mereka semua. Muka mereka muda tapi jiwa mereka tua. Uang dan uang dalam pikiran mereka. Hanya segilintir orang bijak dari mereka yang rela menghabiskan waktu membaca buku dan berdiskusi perihal kehidupan. Sisanya hanyalah omong kosong sampah tentang percintaan, game, gadget dan tempat nongkrong.

Mungkin karena kekeras kepalaanku atau mungkin karena ideologiku, aku selalu merasa kesepian di kampus. Aku belum pula memiliki seorang kekasih. Karena keindahan seorang wanita bagiku ketika ia bisa berbicara mengenai filsafat satu hari satu malam denganku. Dan aku belum menemukannya.

Mereka yang berjilbab sibuk dengan lantunan ayat suci, mengutip perkataan ulama dan bersungut-sungut ketika melihat perbedaan. Aku tidak suka itu. Mereka yang cantik sibuk dengan omongan rendah tentang dunia seputar kecantikan dan bersolek di depan cermin. Aku benci mereka. Itulah mengapa aku selalu sendirian.

Sebenarnya aku mendapat momen mencari jodoh ketika bertanggung jawab menjadi mentor bagi adik kelas. Aku benci dengan judul ceramah yang harus diberikan: nasionalisme, anti radikalisme, jiwa korps dan hal berbau negara lain. Aku tidak bisa menjadikan adik-adiku didoktrin ala negara kemudian berpikir kaku dan seragam. Aku ingin mereka menjadi pemikir bebas dan sesekali berontak demi kebenaran. Beberapa minggu mencoba menceramahi mereka arti kebenaran, aku didepak oleh ketua dari struktur panitia. Sial. Aku kehilangan momen mencari jodoh.

Di antara semua kesedihan, kemuakan dan kesepian ini aku belum juga menemukan diriku seutuhnya. Aku belum bisa menjawab pertanyaan. Aku itu siapa? Aku hanya membaca, menulis dan terkadang berbicara di warung kopi dengan segelintir orang waras. Ya, aku merasa sangat sendiri di antara semua kegiatan itu. Pasti. Dan bukankah kita lahir dan mati dalam kesendirian juga? Aku kira ketersendirian bukan lagi hal yang esensial.

Kini untuk menjawab pertanyaan itu aku hanya memiliki sedikit informasi. Namaku Alif. Begitulah ibuku memanggilku di rumah, juga kawan sekitar komplek dan apa yang tertera di akta lahir. Hanya itu.

 Catatan: kisah dan tokoh dalam cerita ini fiksi jadi jangan terlalu diambil hati

Ferry Fadillah. Bandung, 16 Januari 2016.

, , , , ,

3 Comments