Kantor

pada detik di meja kantor

orang pada menanti:

“Kapan ini akan henti?

yang sama selalu berulang

kau datang

lalu pulang

demi uang

Ferry Fadillah. Maret, 2017.

Advertisements

,

Leave a comment

Kamu Dimana

Aku termenung pada sebuah ayunan berkarat di pinggiran taman pantai. Waktu itu waktu menunjukan pukul lima sore. Langit mendung bukan main. Angin menerpa pohon kelapa hingga nyaris runtuh. Aku menengadah ke langit. Sesekali memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam.

Dimanakah Dia? Aku melihat ke kiri dan ke kanan. Hanya ada segerombolan turis udik yang mengabadikan pemandangan sore itu dengan gawai buatan cina. Di hadapanku hanya ada kapal nelayan yang memaksa mesin kapal agar segera menepi. Aku tidak melihat apa-apa lagi selain itu.

Beberapa bulan lalu, saat sedang dalam perjalanan kereta Bandung-Jakarta, aku melihat pemandangan alam yang luar biasa. Gunung-gunung dengan pohon hijau berikut sawah-sawah penduduk. Sungai mengalir begitu jernihnya memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar. Aku memejamkan mata, menghirup udara yang bercampur bau rokok kemudian membuka mata dan melihat lekat ke jendela. Kemana Dia, kenapa aku tidak juga menemukannya?

Hujan gerimis di bilangan Jakarta. Aku sendiri ditemani kopi hangat. Aromanya menenangkan jiwa. Kemudian aku memesan lagi satu gelas kopi dengan caramel dan kue belanda. Aku siapkan bunga mawar putih di sebelah hidangan itu. Waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Aku sudah menanti lebih dari lima jam. Namun, Dia tidak datang ke tempat itu. Memberi tahu kealpaannya saja tidak. Aku sangat kecewa.

Pada suatu titik, aku sudah bosan mencari dan menunggu. Aku berhenti berusaha.

Dalam sebuah perjalanan malam di taman kota. Aku membeli burger ukuran besar dengan saus tomat dan minuman dingin. Aku duduk pada sebuah bangku gaya kolonial dibawah lampu temaram. Malam itu sangat cerah. Aku melihat gugusan bintang yang bersinar terang. Lamat-lamat aku menikmati burger itu. Saat sibuk dengan kunyahan ke enam ada seorang pria tua melintas.

Umurnya sekitar enam puluhan. Wajahnya tampak kusam dengan rambut putih di kepala dan dagunya. Saat itu ia mengenakan kemeja biru dengan membawa tumpukan koran di dalam ransel selempangan. Mungkin penjual Koran, batinku. Tapi kenapa malam-malam begini.

Aku tegur bapak itu. Kebetulan ada kentang yang belum kumakan. Selagi hangat kutawari bapak itu. Semula ia menolak. Setelah aku berkeras, ia menerima dengan gurat senyum yang mengembang dari wajahnya. Ia menepuk pundakku tiga kali dan mengucapkan rasa terimakasih berulang-ulang.

Kentang itu mulai habis. Sang Bapak mulai bercerita pengalamannya. Semuanya adalah perjalanan pedih dan penuh luka. Aku tidak menyangka ada cerita seperti itu. Maklum, aku adalah seorang pejabat pada sebuah instansi pemerintah. Gajiku cukup untuk menghidupi anak, istri dan  investasi saham di perusahaan syariah. Tidak pernah terpikir olehku untuk hidup susah. Semua sudah tersedia dengan mudah.

Hari makin malam, bapak itu terus bercerita. Tentang istri yang meninggalkannya karena kemiskinan. Tentang teman kantornya yang menipunya ratusan juta rupiah. Tentang rumahnya yang disita pengadilan negeri. Tentang penyakitnya yang sebentar lagi merengut satu-satunya harta: jiwanya.

Aku merasa iba namun tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa berkata iya dan menganggukan kepala. Sesekali aku harus membetulkan letak kacamata. Air yang menggenang pada mata membuat posisinya selalu tidak mengenakan. Dalam hati aku bersyukur, sangat bersyukur, bahwa hidupku jauh lebih beruntung. Aku tidak mau melupakan momen ini. Aku harus banyak berbagi dan berbicara dengan orang yang kurang beruntung.

Bapak itu pun akhirnya pergi meninggalkanku. Saat itu sudah pukul sebelas malam. Jalanan sudah sepi. Dan hanya ada Aku di taman. Aku memejamkan mata. Menghirup udara dalam-dalam dan lekas melihat lekat ke udara, “Engkau! Ah, disana rupanya selama ini..”

Ferry Fadillah. Kuta, Maret 2017.

,

2 Comments

Apakah Seperti ini Manusia Hidup

Dalam perjalanan Denpasar-Kuta yang lengang, seorang sahabat tiba-tiba bertanya, “Sudah beli apa aja, fer?” Heran mendengar pertanyaan itu lantas saya bertanya, “Maksudnya?” Tanpa basa-basi, ia melanjutkan, “Itu loh rumah, tanah atau asset apa gitu.”

Pertanyaan di terik siang mentari itu membuat saya bertanya hal yang serupa kepada diri sendiri. Tiba-tiba kesadaran saya beralih ke kilas fotografi di masa lalu. Mencari-cari barang yang pernah saya beli dengan hasil keringat sendiri. Motor bekas, buku bekas, buku sastra dan … hampir tidak ada aset yang bisa dibilang berharga dari kacamata kapitalis. Mau bagaimana lagi. Adanya begitu.

Sebenarnya pertanyaan itu adalah refleksi dari budaya persaingan di setiap lapisan masyarakat. Ketika duduk di sekolah dasar saya sering mendengar orang tua murid yang memiliki ambisi serius. Anaknya harus menduduki peringkat teratas mulai dari kelas satu hingga enam. Selepas sekolah berdatanganlah guru privat dengan bayaran mahal. Malam datang sang anak juga harus dibebani dengan tugas sekolah dan persiapan ujian akhir.

Di sekolah menengah, semua kisah cinta dan persahabatan harus rehat sejenak saat ujian saringan masuk perguruan tinggi di depan mata. Jauh-jauh hari bimbingan belajar dengan beragam jargon sudah menyebar brosur. Programnya menarik. Ada yang menawarkan probabilitas tinggi diterima perguruan tinggi bergengsi dengan jaminan uang kembali. Tentu bukan program yang bisa dijangkau kelas menengah bawah.

Setelah diterima di perguruan tinggi, mahasiswa bersaing untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Persetan dengan ilmu humaniora. Kekayaan hanya menjadi milik orang-orang praktis. Menimba ilmu untuk menjadi sekrup industri. Atau bagi yang enggan bersaing ketat di sektor privat, menjadi seorang pegawai negeri sipil adalah opsi yang menarik. Hidup dengan penuh kepastian dan kemudahan mendapatkan pembiayaan dari bankir dengan jaminan SK CPNS.

Setelah bekerja sekian tahun mulai datang kebutuhan lain. Pekerja di kota besar berebut lahan yang semakin terbatas. Pengajuan kredit rumah semakin semarak dengan uang muka rendah. Orang-orang ini kehilangan sebagian pendapatan, bekerja lembur, menghemat pengeluaran pangan, bermain valas atau investasi spekulatif dengan harapan memperoleh rumah idaman.

Jalanan semakin macet di beberapa ruas kota, mobil pribadi menjadi pilihan cerdas untuk mengatasi letih menunggu transportasi publik dan meningkatkan pamor di tengah masyarakat. Maka berbondong-bondonglah belanja kebutuhan ini dipenuhi walau harus mengurangi pendapatan sekali lagi. Karena semua orang bersaing untuk dapat datang tepat waktu ke kantor.

Sekilas kehidupan seperti ini sungguh merepotkan. Tidak ada jalan bagi penempuh jalan mistik yang mencari damai di pemukiman sepi. Kini, semua tanah dikapitalkan, setiap kesempatan diuangkan bahkan jalan spiritualitas dikemas layaknya produk industri yang diproduksi massal.

Kita, manusia, dibebani dengan rutinitas kerja, persaingan akan ruang untuk hidup dan capaian-capaian yang kapitalistik-materialistis. Seolah-olah kerja, mengumpulkan uang, membeli asset adalah jalan hidup yang dilakoni. Sebuah anugerah Tuhan yang tidak boleh ditolak.

Syahdan di Mongolia sana, ketika Jengis Khan belum tumbuh dewasa, orang-orang mongol tidak pernah berfikir seruwet ini. Hamparan padang rumput luas adalah tanah yang bisa diduduki siapa saja. Rumah dengan mudah diciptakan dengan material sederhana. Kalau sumber makanan di suatu padang habis, rumah itu tinggal dibongkar dan disusun di lain tempat. Tidak ada yang permanen bagi mereka. Semua hanya siklus perpindahan yang tidak berkesudahan.

Mungkin, kita, para pekerja, birokrat atau siapa pun yang memiliki pemikiran ruwet di atas perlu untuk belajar menjadi seorang pengelana. Membuka mata dan hati atas segala kemungkinan yang ada. Kiranya nurani kita bisa menjadi peka sehingga terbangun dan bertanya: apakah seperti ini manusia hidup?

 

Ferry Fadillah. Kuta, 16 Februari 2017

Leave a comment

Identitas yang Cair

Saat terlempar ke dunia, kita dihadapkan oleh manusia-manusia yang saling berebut pengaruh. Mulanya adalah Ibu kita yang dengan sabar mengasuh dan memberi pengertian norma. Mana yang baik dan mana yang buruk. Agama juga mulai diperkenalkan. Setiap perbuatan buruk akan diingatkan dengan konsekuensi tragis hukuman neraka. Sebaliknya, setiap perbuatan baik akan diganjar dengan nikmat surga. Pengalaman agama ini mendapat penguatan saat duduk di sekolah dasar. Bagi pembaca yang sekolah di era 90-an tentu tidak asing dengan komik ‘Siksa Neraka’ karya Tatang S. Komik dengan ilustrasi realis ini menggambarkan tingkatan siksa di neraka sehingga mudah dipahami oleh para bocah. Mungkin denga cara ini, di sela-sela permainan adu biji pala dan antrian es lilin para bocah sekolah dasar bisa mengalami peningkatan relijiusitas.

Masyarakat dengan arahan orang tua juga mempengaruhi manusia-manusia awal ini. Setiap kunjungan kerabat ke rumah selalu di ingatkan untuk menjaga lisan dari perkataan kotor. Maklum, anak kecil adalah peniru yang baik. Masih ingat video viral tentang seorang bocah yang berbicara kasar dalam bahasa jawa sambil nikmat menghisap rokok dengan lihainya? Tentu semua orang tua tidak mau anaknya gagal didik seperti itu.

Masalahnya adalah apakah orangtua bisa terus menerus mengawasi ide dunia yang masuk ke dalam benak anaknya?

Ada saatnya, orang tua menganggap anaknya sudah dewasa dan mulai melonggarkan pengawasan. Misalnya ketika anak duduk di bangku sekolah menengah. Ciri fisik mereka sudah berubah. Tidak ada lagi bayi imut yang wangi. Kini orang tua menghadapi anaknya yang sudah ditumbuhi bulu kemaluan dan matang secara seksual.

Pada masa seperti ini, manusia mulai mendapat banyak pengaruh dari luar dirinya. Misal, pacar, teman sepergaulan, kegatan ekstra, agama, pergaulan bebas, film, musik, sampai kebijakan pemerintah terhadap ruang publik.

Interaksi anak terhadap hal-hal tersebut akan mengalami penguatan apabila mereka nyaman akan ide tersebut. Jika masjid adalah tempat yang nyaman untuk berdiskusi agama dan mendekatkan diri kepada entitas adikodrati maka mereka akan mengidentifikasi diri sebagai seorang islamis. Bila bar, café, atau diskotik adalah tempat yang nyaman untuk curhat dan berdansa ria, mungkin, mereka akan melabeli diri sebagai pejuang kebebasan atau apalah yang menurut mereka cocok.

Ketika memasuki dunia kerja, identitas tersebut tidak akan mengalami perubahan drastis. Namun, bukan berarti identitas tersebut mapan hingga akhir hayat.

Kerasnya hidup di zaman kapitalis sekarang ini, antara beratnya menjaga rasio pendapatan terhadap hutang dengan biaya membesarkan anak hingga mandiri, sedikit demi sedikit manusia akan mengubah identitasnya. Mungkin kita pernah betemu kawan lama yang dulunya pemabuk kini menjadi motivator relijius dengan ratusan jamaah setia. Atau sebaliknya, kawan lama yang dulu relijius kini menjadi mucikari sukses di sebuah kawasan lokalisasi yang dilindungi politisi-pengusaha setempat. Mungkin, semua itu mungkin.

Perlu diingat. Tidak ada identitas yang mapan. Semua selalu berada pada titik ‘proses menjadi’. Maka tidaklah bijak menjadikan identitas kini sebagai dasar justifikasi seseorang kelak memperoleh siksa neraka atau nikmat surga.

Di antara silang sengkarut pengaruh orang dan ide-ide terhadap diri, ditambah cobaan hidup yang datang bertubi-tubi yang bisa kita harapkan adalah akhir cerita yang baik. Karena seorang pelacur yang memberi seekor anjing air sesaat sebelum matinyalah ia meraih surga.

Ferry Fadillah. Kuta, 18 Februari 2017

Leave a comment

Waktu

​Adalah waktu yg membuatku takut

Diri sering menyangkal perubahan

Menutup mata dan berkata, “Semua seperti sedia kala..”

Namun, bumi terus bergeser, kawan datang dan pergi, dan rumah-rumah hilang entah kemana

Adalah waktu yg membuatku ngeri

Sering dalam doa aku berkata, “seandainya begini…”

Namun kenyataan begitu pahit seperti paria

Dan kita harus menelannya dengan senyum dan sabar

Begitu kata bijak bestari

Adalah waktu yg selalu membawa sendu

Rindu tidak mampu menebusnya

Rasa sesal hanya menguras air mata

Dan waktu begitu dingin

Ia tidak mau mendengar alasan-alasan

“Asu!”, umpatnya, ketika kita banyak mengeluh.

Ferry Fadillah, Februari 2017

Leave a comment

Pegawai Gila

Pada sebuah kantor pemerintah tinggal seorang pegawai muda berpangkat pengatur muda golongan II/a. Tingginya seratus tujuh puluh satu senti. Beratnya enam puluh lima kilogram. Rambutnya ikal tertata rapih ke arah samping dengan bantuan pomade seharga dua ratus ribu dibeli online. Gaji bulanannya sebesar lima juta rupiah belum termasuk uang makan dan tunjangan kinerja cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sesekali beramal bagi sesama.

Orang-orang di kantor memanggil pegawai ini dengan nama Dery. Tanpa nama keluarga, marga atau embel-embel apapun. Kedua orang tuanya memberi nama itu sebelum meninggal akibat gusuran pemerintah daerah dua puluh lima tahun silam. Ia tidak pernah mengenal wajah kedua orang tuanya. Pengurus panti asuhan lah yang menyerahkan sertifikat lahir bernama dirinya dan menceritakan kisah pilu kedua orang tuanya.

Dery adalah pegawai tata usaha yang selalu datang tepat waktu. Ia akan berangkat sebelum pukul tujuh tiga puluh pagi hari. Menyapa kawan-kawan yang ia temui dengan senyum lebar penuh keceriaan. Setelah itu ia akan pergi ke kantin sejenak. Memesan nasi campur dengan sayur kacang panjang dan ikan cabai hijau ditemani segelas teh hangat cap orang tua. Tidak sampai tujuh menit makanan itu habis dan Dery bergegas ke meja kerja.

Tempat Dery bekerja cukup luas. Antara satu komputer dengan komputer lain dibatasi oleh partisi yang terbuat dari kaca setinggi pinggang. Komputer Dery berukuran besar bermerek HP. Sebelum memulai pekerjaan ia selalu menyalakan denting piano Frederic Chopin berjudul Nocturne No 2 Flat Major Op. 9 No.2 sambil menyeruput torabika yang sebelumnya ia seduh sendiri dengan air dispenser.

Pekerjaannya biasa saja. Tugasnya adalah melanjutkan disposisi Kepala Seksi. Bila disposisi berbunyi arsip, maka ia akan mengarsipnya. Bila disposisi berbunyi “buatkan nota dinas” maka ia akan segera membuat konsep dan menanti pekerjaannya dicoret-coret. Selain itu ia juga dibebani pekerjaan adminsitrasi surat masuk dan keluar, pengarsipan serta pengurusan dokumen pribadi pegawai. Semua pekerjaan ia kerjakan dengan tuntas tanpa pernah berkeluh kesah.

Pekerjaan kantor usai pukul lima sore. Ia juga selalu tepat waktu meninggalkan ruangan. Tidak peduli hujan dan badai, ia segera pergi ke indekost. Melepas sepatu dan tiduran bertelanjang dada. Sambil bermalas-malasan ia akan mengambil gawainya. Membuka aplikasi instagram,  memberi like kepada foto pemandangan, kemudian mencari-cari baju murah yang dijual dengan diskon atau penawaran khusus. Ia juga akan membuka whatsApp dengan jari-jemarinya. Ia akan membuka grup kontak satu per satu. Membaca setiap berita, sampah maupun penting. Pekerjaan itu memakan waktu dua jam sampai akhirnya ia teringat waktu shalat magrib.

Dery selalu bingung ketika memutuskan lokasi makan malam. Ia biasanya akan pindah dari satu tempat ke tempat lain setiap malam. Ia tidak pernah mengajak siapapun bersamanya. Makanan kesukaannya adalah masakan khas Bali yang asam dan pedas atau sop kambing dengan jeroan dan torpedo yang gagah perkasa. Sambil makan ia tidak pernah melepaskan pandangan dari gawai. Bergantian ia membuka aplikasi pertemanan. Facebook, twitter, WhasApp, Tumblr, kembali lagi ke Facebook, twitter, WhatssApp begitu seterusnya hingga potongan kambing terakhir habis.

Malam hari Dery akan tidur pukul sebelas malam dengan posisi gawai di sebelah kuping kanannya. Alarem diatur untuk berbunyi pukul enam pagi. Ia tidak pernah tidur mengenakan sehelai benang pun. Alasannya sederhana. Ia tidak mau membebani biaya laundry dengan baju yang kotor akibat keringat tidur. Tipikal pegawai yang sangat hemat sekaligus pelit.

Keteraturan Dery terus berlanjut. Ia bahkan menolak setiap ajakan kawan diluar agenda rutinnya. Ia hidup sendirian dan sepertinya menikmati kesendiriannya. Ia terbiasa makan sendiri, berdiskusi sendiri terkait pekerjaan dan membaca buku di café terdekat bertemankan caramel maciato. Lama kelamaan kebiasaannya itu membentuk dirinya menjadi keras kepala dan tidak mudah percaya kepada orang lain.

Buku-buku yang dibaca Dery bertemakan motivasi praktis yang ditulis oleh para motivator kondang. Ia selau bersemangat membaca buku-buku itu. Matanya menyala-nyala menyuarakan perubahan. Gagasan-gagasan segar memebuhi pikirannya. Saat pergi ke tempat kerja, ia harus memendam setiap gagasan-gagasan itu. Karena pekerjaannya menuntut kepatuhan mutlak dari atasan.

Entah mengapa Dery menjadi pecandu buku. Mungkin kesendirian mengantarnya untuk mencumbui buku. Hal murah yang dapat dilakukan dimanapun. Ia tidak lagi bersentuhan dengan buku motivasi. Kini ia menganggap buku-buku itu sebagai karya picisan yang mudah dicerna. Kamar sewanya dipenuhi buku-buku klasik karangan Plato, Aristoteles, Phytagoras dengan coretan tinta merah di marjin kanannya. Beberapa kertas warna-warni dengan catatan-catatan penting menyembul dari beberapa halaman. Ada juga buku-buku zaman romantik seperti Thus Spoke Zarahustra karya Frederic Nietzche yang ia tempatkan di rak khusus dengan taburan bunga segar yang selalu ia ganti setiap pagi. Buku sejarah dunia, kebudayaan dan mistisme juga tidak luput dari koleksi pribadi Dery.

Semua bacaannya itu membebani Dery dengan jutaan ide baru. Pikirannya selalu berputar dimanapun ia berada. Ia selalu memikirkan hal-hal kecil yang tidak terpikirkan orang lain. Mengapa aku hidup? Apakah aku berjiwa? Apakah jiwa itu? Dimana Tuhan? Apakah Tuhan ada? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui dirinya saat bekerja dan tidur. Kini ia tidak lagi bisa tertidur pulas. Sebelum tidur ia akan sibuk dengan sebuah bacaan kemudian menulis pada sebuah jurnal refleksi atas bacaan itu. Biasanya ide-ide dalam bacaan itu akan menghantuinya dalam tidur. Kadang menjadi sebuah mimpi menyeramkan yang menyiksa dirinya. Pernah suatu ketika ia bermimpi menjadi Tuhan. Bentukya seperti tiang putih yang bergerak cepat secara vertikal ke angkasa. Menembus awan, bintang, planet antar galaksi sebelum akhirnya ia terbangun dengan keringat dingin dan perasaan takut akan kutukan.

Karena kebiasaan barunya, Dery mengidap insomnia. Setiap ke kantor ia selalu merasa lemas. Walaupun bergelas-gelas kopi ia minum tetap saja rasa kantuk akan selalu menderanya. Wajahnya kini menjadi pucat. Darah seolah-olah berhenti mengalir ke otaknya. Jari jemarinya kaku dan ia mudah gelisah.

Pada tahun ke tiga puluh masa kerjanya di kantor itu. Dery merasakan kebosanan yang luar biasa. Ia diam di meja kantornya menghadap komputer yang melantunkan denting piano Chopin. Ia malas mengambil surat disposisi Kepala Seksinya. Ia merasa Kepala Seksinya tidak lebih pintar dari dirinya. Semua orang adalah salah dan dia adalah kebenaran itu sendiri.

Tiba-tiba ia berteriak ke semua orang yang berada di ruangan, “Hai, manusia-manusia membosankan yang mengerjakan hal membosankan tidakah kalian memiliki hidup alternatif selain yang kalian jalankan hari ini!”

Semua orang terbengong-bengong dibuatnya. Dery menjadi pusat perhatian saat itu juga.

“Kenapa kalian semua tidak menjawab? Aku bertanya kepada kalian? Apakah kalian pernah berpikir barang sejenak untuk meninggalkan kantor yang penuh kemunafikan ini. Apakah kalian rela diperintah oleh atasan dengan kemampuan di bawah kalian. Berkata ‘siap!’ untuk setiap perintah seperti anjing menyalak yang diberi daging oleh Tuannya!”

Perkataan itu membuat wajah beberapa pegawai merah. Sebelum mereka memikirkan pernyataannya, Dery melanjutkan…

“Hari ini aku katakan kepada atasanku dan atasan kalian. Anjing kalian semua, aku tidak mau lagi diperintah kalian dan bergabung dalam sistem kantor yang pengecut ini. Aku adalah diriku yang merdeka tidak bisa diperintah oleh siapapun. Aku adalah awal dari segala sesuatu kebenaran dari segala kebenaran. Kalian semua adalah anjing-anjing yang tidak berguna!”

Pidatonya ia tutup dengan tendangan keras ke arah komputer. Ia juga memukul lemari arsip yang terbuat dari kaca hingga luluh lantah memenuhi ruangan. Segera seorang pegawai memanggil petugas keamanan. Dery diapit oleh dua orang bertubuh tegap berkulit hitam. Ia tidak bisa berkutik. Kakinya terseret-seret menuju pintu keluar. Setiap orang di setiap unit melihat ke arah jendela, ke arah Dery yang mereka anggap sudah gila.

Dery tidak berkata apa-apa saat diusir paksa ke luar kantor.Ia merasa jijik melihat kantor dihadapannya. Ia tahu persaingan dan kemunafikan yang menjadi wabah di dalamnya. Ia muak dengan semua itu. Ia merasa jijik dan mual luar biasa.

Kini, Dery sudah tidak memiliki penghasilan apapun. Ia memutuskan untuk mengembara entah kemana. Ia tidak mau mengikatkan diri kepada sebuah kewajiban. Ia mencintainya dirinya sendiri dan kesendiriannya.

 Ferry Fadillah. Kuta, Desember 2016.

, , ,

5 Comments

Renungan Zombie

Menjadi birokrat bagi sebagian orang adalah hal yang menyenangkan. Setiap tanggal satu mendapat gaji yang dilindungi peraturan pemerintah. Tanggal limanya mendapat tunjangan kinerja yang dilandasi keputusan menteri. Dan setiap hari mendapat uang makan yang diakumulasi setiap bulan. Belum lagi uang transport dan harian dari setiap perjalanan dinas yang sudah barang tentu dilaksanakan di hotel ternama.

Mungkin sebagian birokrat tidak setuju dengan gambaran umum serampangan di atas. Tidak usah sewot, toh itu hanya sebuah contoh kehidupan enak birokrat pada unit-unit tertentu. Dan ya satu lagi yaitu jaminan hari tua dan kepastian kerja yang stabil. Maka tidak salah jika setiap tahun lulusan unversitas berbondong-bondong untuk menjadi seorang birokrat.

Permasalahan muncul ketika para pemikir bebas diterima sebagai birokrat. Hari-harinya akan dikungkung oleh standar prosedur operasional, kode etik, peraturan disiplin, asas kesatuan komando dan   hierarki yang membuat gerak menjadi kaku. Belum lagi produk budaya berupa lagu dan apel pagi yang membosankan dengan isi ceramah yang itu-itu saja. Seorang pemikir bebas tentu akan kepayahan menerima itu semua.

Masalahnya, sejago-jagonya pemikir bebas ia juga perlu makan. Dan makanan  di era kapitalistik seperti sekarang hanya bisa dibeli dengan uang. Lama-kelamaan para pemikir bebas itu akan berpikir realistis. Ya menerima saja keadaan diri dan gaji setiap bulan tanpa berpikir dan bertindak neko-neko.

Maka selesailah para pemikir bebas itu menjadi orang kebanyakan. Yang hidup dalam gerak mekanik siklik tanpa mau memakai nalar dalam setiap tindakan. Ke-Aku-an nya sudah melebur menjadi visi dan misi organisasi. Tidak ada lagi manusia di sana. Yang ada adalah zombie-zombie lapar pengejar harta dan kedudukan yang banal.

Ferry Fadillah. Kuta, Desember 2016

,

Leave a comment

Akhir Hidup

 

I know you’re tired but come, this is the way

Jalaluddin Rumi

 

Masjid itu terletak di ujung Kantor Wilayah. Di sebelah utaranya berdiri Pura megah dengan ukiran artsitik. Di sebelah selatan berderet tanaman singkong yang ditata dengan apik. Masjid sederhana itu memiliki dua lantai. Lantai pertama dilengkapi karpet hijau mewah, rak buku dengan koleksi seadanya, mimbar polos tanpa sentuhan ukiran, dan beberapa mushaf ustmani yang sudah mulai menguning.

Pagi itu, kala mentari baru dua puluh menit terbit dari timur, Raden Taufik Wiralaga, yang kemudian disebut Taufik, bertafakur dalam kesendirian. Pandangannya kosong menghadap tempat sujud, posisi duduknya bersila, ada bekas-bekas air wudhu menetes ke kerah bajunya. Sesekali mulutnya mengucap sesuatu yang tidak jelas. Lebih menyerupai ceracau seorang mabuk.

“Ampun… Aduh.. Ampun.. Aduh.. Jangan..”

Air mata menganak sungai mebasahi pipinya. Suaranya semakin parau dan pandangannya semakin dalam. Komat-kamit semain tidak keruan. Badannya bergetar hebat, matanya kosong. Tiba-tiba, ia bisa mengusai dirinya sendiri dan berdzikir pelan, “Allah, Allah, Allah…”

Dzikirnya pelan seiring dengan kondisinya yang semakin tenang. Nafasnya mulai teratur. Taufik mulai menguasai dirinya, wajahnya kembali cerah dan aura lembut melingkupi tubuhnya.

“Allah..Allah..Allah”, ucapnya sambil menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan. Ia tidak mau menyelesaikan kalimat tahlil itu dalam dzikir karena takut malaikat maut mencabut nyawanya saat kalimat Laa terucap. Yang berarti penolakan atas keimananya.

Dzikirnya semakin hebat dan dalam. Ia merasakan dirinya semakin ringan. Sebuah berkas cahaya putih mendekatinya, masuk kedalam qalb nya. Ia merasakan dirinya mengembang memenuhi ruangan masjid. Membesar, membesar, membesar sampai ia kehilangan kesadaran dan memasuki dimensi lain.

Dalam dimensi itu, ia melihat latar belakang pohon pinus yang berderet di perbukitan. Di antara hutan itu sebuah danau biru dipenuhi ikan yang terlihat jelas dari pinggiran. Pasirnya hitam, airnya tidak beriak. Tidak ada angin, tidak ada kabut, tidak ada matahari dan langit dipenuhi gemintang. Sesuatu terjadi mendadak. Air danau tiba-tiba mengalami pasang. Pusarannya menghisap tubuh Taufik. Dalam, dalam, terus ke dalam dasarnya.

Tapi… Ia tidak menemukan dasar itu. Dalam pusaran itu Taufik diberi penglihatan ilahiah tentang masa hidupnya. Ia melihat wajah ibunya yang tersenyum saat ia masih bayi. Wajah bapaknya yang lelah selepas bekerja. Ia merasa rindu dengan mereka. Ia berusaha menggapai mereka, tapi mereka hanyalah bayang-bayang di antara air danau. Kemudian, ia melihat dirinya sewaktu kecil. Ia berlari ke sana ke mari dengan riang, tanpa beban, penuh semangat dan rasa ingin tahu. Bapak dan Ibunya selalu mengecup keningnya sebelum berangkat sekolah. Ia merasakan pengalaman itu begitu dekat, sangat dekat.

Lama-lama bayangan itu pudar. Ia kemudian melihat sosok remajanya sedang berduaan dengan seorang wanita di pojok kafe sebuah kota. Wajahnya cantik, tubuhnya langsing. Tapi, ia juga melihat kelakuan buruknya ketika berbohong kepada orang tuanya, pulang malam tanpa kabar, dan selalu meminta uang demi membelikan hadiah bagi sang kekasih. Ia juga melihat ibunya berdoa sambil menangis dalam tahajudnya. Ia merasa bersalah, “Bu, maafkan, Taufik, Bu..”, bisiknya lirih.

Tiba-tiba semua berubah hitam. Ada titik putih kecil dikejauhan yang mendekat. Taufik mendekati titik itu. Pemandangan mendadak berubah. Ia melihat dirinya sedang duduk dengan seragam berpangkat di depan komputer. Ia sadar bahwa ia sedang melihat dirinya lagi. Ia melihat perubahan tanda pangkatnya. Semakin lama semakin semarak. Di antara berubahan itu berseliweran pemandangan aneh. Wanita-wanita penghibur, botol wisky, kartu remi, asap rokok, perbicangan dengan tertawaan, anak buahnya yang pernah ia sakiti, istrinya yang menangis, anaknya yang kepergok merokok, orang tuanya dengan kain kafan, nisan, kemudian titik itu menghilang, gambaran itu pudar, semua kembali hitam.

Taufik terjebak dalam gelap itu. Ia tidak paham ia berada dimana dan akan menuju kemana. Ia tidak bisa merasakan tubuhnya. Ia tidak ingat lagi apa yang terakhir ia lakukan. Akhirnya ia berzikir, “Allah, Allah, Allah..” Gelap itu menghilang, Taufik merasakan cahaya putih membawanya terbang entah kemana.

Adzan Dzuhur berkumandang, masjid gempar, seorang pegawai ditemukan meninggal dalam persujudannya.

Oktober, 2016. Ferry Fadillah

, , ,

Leave a comment

Tugas Mengarang

Pada sebuah sekolah dasar negeri seorang guru wanita memasuki kelas yang berisi tiga puluh murid. Sekolah itu berdiri di atas tanah sengketa antara pemerintah daerah dengan keluarga menak yang mengklaimnya sebagai warisan turun temurun. Karena dalam status sengketa, seringkali murid-murid membolos karena ada segerombolan pria kekar yang menyegel paksa gerbang sekolah dengan kawat berduri dan papan kayu ala kadarnya.

Hari ini adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Guru wanita tadi duduk di meja dengan taplak bermotif kembang di pojok kanan ruang kelas. Saat lonceng berbunyi salah seorang murid berdiri dan berteriak lantang memberi komando,” Berdiri! Beeeriiiiii saaaaalam!” Kelas pecah oleh teriakan murid bocah yang cempreng menyambut Bu Guru, “Asssssalamualaykum warahmatullahi wabaraaaaaakaaaaaatuuuuuuh.” Ucapan itu terasa begitu lama dengan nada panjang tidak perlu di beberapa bagian. Begitulah bocah-bocah.

Tanpa memeriksa kehadiran, Bu Guru maju ke arah papan tulis hitam dengan debu kapur yang membuat TBC. Mistar besar di tangan kanan, Dia berdehem pendek dan memulai pelajaran. “Anak-anak, kesehatan ibu sedang tidak baik. Sekarang ibu kasih kalian tugas mengarang. Tolong siapkan secarik kertas kemudian tuliskan pengalaman bahagia kalian bersama keluarga. Selesaikan sekarang yah, nanti kalian maju satu per satu ke depan membacakan karya kalian.”

Murid-murid dengan sigap mengambil kertas dari tengah buku catatan. Kertas garis bermerek mirage itu dibagi dua dengan penggaris besi dan dibagi untuk dua orang. Ada murid yang langsung menulis dengan antusias. Ada juga yang menerawang ke langit-langit mencari inspirasi yang entah dimana. Beberapa melihat pekerjaan teman sebelahnya yang kemudian ditutup dengan telapak tangan sebagai bentuk resistensi. Ada juga yang izin ke kamar kecil, lama sekali entah apa yang dilakukannya di sana.

Tidak terasa satu jam sudah pekerjaan mengarang itu berlalu. Bu Guru kembali berdehem halus dan memberi instruksi, “Nah, sudah ya anak-anak. Sekarang tolong ketua kelas kumpulkan. Ibu mau periksa dulu. Nanti ibu panggil siapa yang membacakannya ke depan.”

Bu Guru memeriksa tulisan cakar ayam dengan noda tipp-ex pada beberapa kalimat itu. Dengan saksama ia meneliti kesalahan tulis, penggunaan kata yang kurang tepat dan tentu identitas murid. Setelah hampir setengah jam yang diakhiri dengan mata yang berkaca-kaca dan mulut yang mengatup lebar –tanda mengantuk- Bu Guru melihat tajam ke arah murid.

“Nah, yang pertama maju adalah Ainun. Ayo Ainun bacakan karya kamu ke depan!”

Ainun duduk di pojok belakang di bawah potret Pangeran Dipenogoro yang tirus karena sakit malaria. Ia belum pernah berbicara di depan kelas. Ia adalah anak yang pemalu. Setelah jam pelajaran usai ia tidak pernah bermain bola atau kelereng dengan teman sejawatnya atau anak-anak komplek. Dalam pikirannya hanya ada sekolah untuk belajar dan rumah untuk belajar. Belajar dan hanya belajar.

Saat berada di depan kelas Ainun berdiri kaku. Matanya berkunang-kunang. Denyut jantungnya bertambah kencang. Keringat mengalir membanjiri dahi dan telapak tangan. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian bercerita:

“Teman-teman. Aku akan bercerita hal yang paling membahagiakan bersama keluargaku. Liburan semester lalu, aku bersama ibu, ayah dan kakak jalan-jalan ke Eropa…”

Mendengar kata Eropa seluruh kelas menjadi riuh. Suara tepuk tangan bercampur dengan gemuruh cieeee cieeee cieeeee… Ainun semakin gugup.

“Anu… Anu… iya Eropa.. di sana aku berjalan-jalan ke Menara Eifel, makan di restoran abad pertengahan dan menemani ibu membeli baju dan tas banyaakkk sekali. Ayah tidak berbelanja, ia lebih banyak tersenyum saat menemani kami. Oh, iya terkadang ia juga melirik isi dompetnya dan roman wajahnya berubah pucat.”

Mendengar kepolosan itu, seisi ruangan kelas kembali gaduh. Tawa bahak beberapa siswa bertukar dengan teriakan histeris tanda riang. Bu Guru berusaha menenangkan dengan memberi isyarat tangan.

Mendengar  tawa temanya saat sedang berbicara, Ainun kehilangan kepercayaan diri. Keringat di tubuhnya semakin mengucur deras. Ia menjadi pucat dan pusing. Darah keluar dari hidungya. “Ainun! Kok kamu mimisan! Ketua kelas cepet bawa Ainun ke UKS.. cepat!”

Kegaduhan itu berhenti menjadi kengerian. Ketua kelas membopong Ainun bersama beberapa orang ke UKS. Setiap murid menunduk tanda bersalah. Bu Guru cepat-cepat mengambil alih kelas.

“Anak-anak yang saleh. Kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita. Jangan kita menertawakan kesalahan orang lain. Belum tentu kita lebih baik dari orang yang kita tertawakan. Tidak pernah ada manusia yang luput dari kesalahan. Paham anak-anak?”

“Pahammm.. Bu…” serempak mereka membalas dengan penuh penyesalan.

“Nah sekarang kita doakan Ainun lekas sembuh ya..” Bu Guru mengambil kertas hasil karangan para murid. Di ambilnya secara acak dari bagian tengah. Sebuah kertas kusam dengan garis berwarna biru yang tidak teratur mencuat. Bu Guru membacakan identias kertas itu. “Zulkifli, nah ini dia Ayo Zulkifli kamu maju ke depan bacakan untuk teman-temanmu yah..”

Zulkifli.. Oh Zulkifli.. anak ini terkenal sangat badung. Hampir setiap hari ia datang terlambat. Bajunya kusam, kerahnya kusut dan penampilannya urakan. Rambutnya dipotong tipis bagian pinggirnya sedangkan bagian tengahnya dibiarkan panjang disisir ke kiri menutupi matanya.

Dengan percaya diri penuh ia berdiri dan dengan riang menuju depan kelas. Begini ceritanya:

“Selamat Siang, kawan-kawan,” senyumnya mengembang matanya berbinar.

“Aku tidak mengerti apa itu keluarga yang bahagia. Aku tinggal dibantaran Sungai Cidurian. Hanya beberapa meter dari Borma Antapani. Ibuku adalah seorang buruh cuci yang dikenal oleh tetangga-tetangga. Hampir setiap hari ia menyuci dengan tangannya. Jika sekolah usai aku membantu mengantarkan cucian kepada para pelanggan. Sesekali pelanggan itu memberi aku uang tips. Aku sangat senang. Oh iya, Bapaku adalah seorang kontraktor yang tidak jelas bekerja dimana. Ia pergi bekerja pukul dua siang dan biasanya kembali keesokan lusanya tanpa membawa apa-apa. Iya, aku pernah memintanya untuk membelikan robot gundam tapi ia malah memakiku dengan kata-kata kasar. Kedua kalinya aku meminta dibawakan buah dan asbak dengan abu rokok melayang mengenai pelipisku. Ketiga kalinya aku menjadi takut untuk meminta sesuatu kepada Ayah. Musim layangan tiba. Aku memberanikan diri meminta ayah untuk dibelikan layangan dan gulungan benang gelasan. Ia diam beberapa detik kemudian menarik pergelangan tanganku; menyeretku ke kamar mandi dan menyiramku dengan air dingin sambil membentak penuh amarah. Sejak itu aku berhenti meminta kepada ayah.”

Bu Guru, Ainun dan semua murid tercekat mendengar kisah pilu yang diucapkan dengan nada tanpa kesedihan itu. Zulkifli melanjutkan:

“Suatu hari, ketika hujan deras, Sungai Cidurian meluap membawa sampah dari hulu,  aku sedang di kamar menyelesaikan tugas matematika. Ayahku datang tanpa mengetuk pintu ke ruang tamu. Bersamaan dengan suara petir, ibuku tiba-tiba membentak ayah. Aku masih ingat kalimatnya, “Anjing kamu! Suami babi! Udah miskin masih aja selingkuh! Kamu ga mikir apa, hah? Bukannya cari nafkah yang bener malah merek! “ Gelas-gelas kopi dengan motif  kembang sepatu berterbangan. Pecahannya terpencar ke bawah karpet, sofa dan keset. Aku hanya melihat diam-diam dari balik tembok yang rusak karena gempa. Ibu menangis. Mukanya merah. Sedangkan ayah hanya diam. Setelah makian kesekian kalinya, saat hujan mulai reda, ayah bangkit dari diamnya kemudian mengambil kunci motor yang tergantung di samping kulkas. Ibu membentaknya, bertanya hendak kemana. Ayah hanya diam dan berjalan lesu ke arah motor bebek satu-satuya itu. Ibu terus membentak sambil bertanya hendak kemana. Ayah hanya diam, tidak membalas dengan bentakan ataupun melirik. Ayah menyalakan mesin motor  dengan tenang dan ia pergi entah kemana. Itulah saat terakhir aku melihat ayah”.

Mendengar itu Bu Guru menjadi sangat bersalah. Selama ini ia paling getol memaki Zulkifli. Anak ga punya masa depan lah. Anak bodoh lah. Segala macam caci maki itu ia anggap sebagai dosa besar dalam hidupnya. Zulkifli melanjutkan ceritanya:

“Kemaren malam, saat sedang bermain sepeda di sekitar Braga aku melihat kerumuman orang. Dari balik kerumunan itu aku melihat sosok pria berambut gimbal yang bersimbah darah. Pakaiannya kotor penuh noda tanah. Ia hanya membawa karung berisi gelas-gelas plastik yang disusun sedemikian rupa. Aku melihat sosok itu dari dekat. Lekat sangat lekat. Aku melihat hidungnya yang mirip dengan hidungku. Aku kemudian teringat asbak yang menimpa pelipisku dan bentakan yang menyakitkan hatiku. Ya itu adalah ayahku.. itu adalah ayahku yang pergi entah kemana itu..”

Zulkifli berhenti berkisah. Wajahnya berubah sendu. Ia melihat ke arah jendela. Langit mendung dengan awan kelabu menutupi gunung-gunung hijau Kota Bandung. Ia tidak mempedulikan seiisi kelas. Ia tidak peduli dengan keberadaan Bu Guru, Ainun dan setiap murid. Ia diam seribu bahasa. Otaknya seperti berhenti berpikir. Jiwanya melayang-layang mengingat kisah indahnya bersama Ayah. Saat sang ayah masih seorang pegawai Bank, saat ia tinggal di komplek mewah sekitar Dago.

Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

pernah dimuat di birokreasi.com

,

Leave a comment

1984

Suatu malam di hari yang ganjil aku berjalan di antara deretan toko tua. Di bangun sebagai pengingat kepongahan bangsa di utara dunia. Namun, dari kepongahan itu, tersisa seni art deco yang menjadi ikon kota itu. Itulah Jalan Braga. Walaupun tidak setenar awal abad ke 19 lokasi ini masih menjadi favorit para pelancong asing.

Sejak Konfrensi Asia Afrika yang tinggal seremonial itu dilaksanakan untuk ke sekian kalinya Braga mempercantik diri. Trotoar usang pesing diubah bersih dan tertata. Bangku kayu dengan pegangan besi di bawah lampu gaya eropa menghiasi beberapa sudut jalan. Di antara bangku-bangku itu ada bola batu besar yang pernah tertancap bendera mini negara peserta KAA. Toko-toko disekitar pun ikut berbenah. Lumut yang menempel di pojokan tembok dibersihkan, cat putih kemudian menutupi dinding itu agar paripurna.

Jalan yang dilalui kendaraan bermotor tidak beralaskan aspal. Batuan dengan bentuk segi empat beranekaragam saling menyusun mencerminkan kesan eropa yang sekedarnya. Di beberapa bagian batu itu rusak tidak kuasa menahan beban kendaraan yang hilir mudik setiap hari.

Lelah berjalan. Aku berhenti sejenak di sebuah toko makanan. Sambil melihat interiornya yang boleh juga aku melihat menu makanan pada display yang ternyata berisi kuliner lokal sunda. Tanpa panjang pikir aku masuk dan mencari tempat duduk yang pas.

Tepat di meja nomor 3 dengan pemandangan jalan padat dan minimarket berwarna merah aku duduk. Setelah melihat-lihat menu yang banyak itu terpilihlah kopi bandrek sebagai teman duduk. Aku ambil buku yang sedari tadi terselip di ransel kecil. 1984 karangan George Orwell. Aku baru membacanya pada bagian ke tiga saat Watson dipergoki sedang bermesraan dengan wanita anggota partai oleh Polisi Pikiran.

Pesanan datang. Aku mengucapkan terimakasih dan dibalasnya dengan senyum tanpa kata-kata. Kopi itu mengeluarkan bebauan jahe yang khas. Warnanya hitam kecoklatan dengan gula putih yang belum sepenuhnya larut. Menunggu sekitar tiga menit aku menyeruput kopi itu sambil memejamkan mata. Pedasnya rasa bandrek dan tajamnya pahit kopi langsung merangsang sarafku untuk lebih terjaga. Setelah gelas itu diletakan pada tatakan, aku kembali membaca novel itu.

1984 adalah sebuah novel politis yang ditulis pada tahun 1949. Novel ini pada masanya merupakan sebuah wahyu prediksi akan kejadian politis di tahun 84’. Diceritakan bahwa dunia pada masa itu terbagi menjadi tiga kekuatan besar. Oceania dengan paham sosing-nya, Eurasia dengan paham neo-bolsevisme dan eastasia dengan pemujaan mati. Setiap negara bertempur memperubutkan kota-kota penyangga yang kaya dengan sumberdaya alam dan manusia. Setiap penguasa baru akan memakai sumber daya itu untuk pertempuran, sabotase dan spionase.

Menariknya adalah peperangan antara ketiga negara didesain tidak untuk dimenangkan. Perang adalah penyaluran surplus produksi domestik dan medium propaganda agar rakyat tidak memiliki kesempatan untuk mengkhayalkan kehidupan ideal. Rakyat dipengaruhi secara psikologis bahwa negara sedang dalam keadaan darurat. Setiap gerakan perlawanan dicap kontra revolusioner. Gerak-gerik warga dicurigai melalui alat bernama telescreen yang dapat mendengar suara dan memantau gerakan.

Winston Smith adalah tokoh utama dalam novel ini. Dia adalah tokoh partai yang memiliki kerja busuk untuk membohongi persepsi publik. Walaupun dia adalah tokoh partai namun hidupnya tidak bisa bebas. Setiap gerak geriknya selalu di awasi. Oleh telescreen, polisi pikiran, tetangganya atau bahkan pacarnya. Masyarakat tempatnya hidup dibuat saling mencurigai satu sama lain. Bahkan ada seorang orang tua yang ditangkap polisi pikiran karena dilaporkan anaknya sedang mengingau politik: turunkan Bung Besar, turunkan Bung Besar!

Bung Besar adalah pemimpin tertinggi negara Oceania. Setiap masyarakat diwasinya. Slogan partai yang dibentuknya adalah: perang ialah damai, kebebasan ialah perbudakan, kebodohan ialah kekuatan. Setiap warga negara harus mengabdikan waktu dan tenaga untuk Bung Besar. Buku-buku yang tidak sehaluan diberangus. Bahkan data statistika tentang produksi nasional dipoles agar tampak sukses padahal kebutuhan dasar seperti alat cukur sulit untuk didapat.

Lebih mengerikannya lagi adalah sekolompok gerakan anti seks yang memprogandakan kehidupan seks yang sepenuhnya demi penghambaan kepada partai. Seks sebagai rekreasi adalah terlarang. Seks harus diahadapi sebagai sesuatu yang luhur yakni menghasilkan anak demi  keberlangsungan negara. Menikmati seks adalah sebuah pelanggaran. Visinya adalah setiap warga negara memproduksi anak melalui serangkaian inseminasi buatan sehingga keluarga lebur dalam rumah besar bernama negara. Pikiran yang menggelikan sekaligus mengerikan.

Beberapa meter dari Jalan Braga, disamping gedung Asia Afrika ada sebuah taman dengan air mancur yang menyala setiap malam. Kursi-kursi dengan bangku kayu dipenuhi oleh banyak orang setiap malam. Beberapa diantara mereka membawa makanan dan bercengkrama bersama handai taulan. Setiap sabtu malam ada sekelompok pemuda menamai dirinya komunitas perpustakaan jalanan. Buku dilapak diatas koran dan dipajang agar dilirik orang yang mengunjungi taman. Beberapa pengunjung bahkan terlihat berdiskusi tentang berbagai topik. Suatu ketika, segerombolan tentara datang. Dengan murka  mereka membubarkan sekolompok pemuda itu. Sebagian buku di rampas. Suasana berubah tegang.

Klarifikasi muncul setelah media sosial membahas sikap fasis itu. Tentara membela diri. Untuk apa membaca malam-malam dan buku-buku yang disebar dikhawatirkan menyebarkan paham yang dilarang, bela mereka. Tentara mulai masuk kehidupan sipil.

Pelarangan buku, diskusi yang dicurigai, perbedaan yang dianggap pembangkangan adalah warna yang terjadi di tahun 2016 ini. Usia negeri ini belum genap satu abad, namun tidak ada arah menuju keterbukaan pikiran. Rakyat diombang-ambing oleh opini prematur pejabat di televisi. Pilkada dipenuhi fanatisme sempit sektoral. Beberapa kepala daerah menjadi hamba pengembang. Penggusuran menjadi keseharian. Setiap wacana emansipasi dibius dengan doktrin sabar pangkal pahala. Namun, saya yakin dari karut marut ini akan muncul beberapa satria yang siap mencerahkan masyarakat. Dan mereka sadar, hal paling awal yang harus dimiliki masyarakat dan menjadi ampuh dalam melawan kebodohan hanyalah satu kata: baca!

Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

, , , ,

Leave a comment

Lelaki yang Mencela Hujan

Malaikat-malaikat turun dari langit. Jubah mereka putih bersih menutupi kepala hingga mata kaki. Sayap-sayapnya terbentuk dari bulu surgawi bercahaya yang sangat menyilaukan. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat mereka. Sebelum hujan. Mereka berkumpul di langit bumi. Berembuk beberapa saat kemudian berpencar ke empat penjuru mata angin.

Malaikat dengan jumlah sayap ganjil bertugas mengumpulkan uap air dan membentuknya menjadi awan kelabu.

Malaikat dengan jumlah sayah genap dengan peralatan surgawi yang tidak dimiliki manusia mulai memasang listrik ke dalam awan itu.

Malaikat lainnya beredar di permukaan bumi. Melihat manusia. Mencatat setiap ucapan  dan melaporkannya ke atasan mereka.

Di sebuah kluster mewah perumahan di kaki bukit seorang bapak dengan pakaian necis mengumpat, “Anijng, anjing, anjing, hujan mulu sih ah!”

Malaikat yang kebetulan lewat sana mendengarnya dan merubah warna sayapnya menjadi hitam, kelam, sangat gelap. Bergegas ia menulis dalam buku catatan dari kulit buraq itu dan kembali kepada atasannya di langit.

Esoknya, bapak itu hilang dari peredaran ruang dan waktu. Kantor berita heboh melaporkan: banjir bandang dengan material berat menyapu sebuah kluster mewah perumahan di kaki bukit sebuah kota.

Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

1 Comment

Waktu

Waktu tidak pernah mempan dibentak. Dia akan selalu berpacu dengan acuh. Membawamu bersamanya tanpa peduli perasaan.

Pada sebuah persimpangan jalan, waktu tidak pernah melihat ke kiri dan ke kanan. Dia tidak perlu risau dengan mati. Mati lah yang harus risau dengan waktu.

Bertahun-tahun sudah ras kita memampatkan waktu dalam bentuk konsep. Karena konsep maka Sang Waktu dapat dipahami dan dijadikan acuan. Tapi.. Bukankah ini hal yang absurd?

Waktu bekerja melampaui manusia. Tidak terikat presuposisi bentukan kultural. Dia adalah hantu yang menjelma di setiap abad. Di ambang pintu nafas ia akan menyaksikan ruh mu ditarik keluar. Di setiap revolusi akbar ia juga menontonnya dengan dingin.

Di dalam jiwa-jiwa yang lemah lamunan tentang masa kecil adalah hal yang surgawi. Kehidupan dewasa acapkali membelenggu dengan segala tuntutan yang menyesakan. “Wahai Sang Waktu bisakah kau kembalikan aku ke masa kecilku?”

Sang Waktu bergeming. Ia bukanlah Tuhan yang bisa mendengar. Sang Waktu itu tuli juga buta. Doa mu hanyalah serbuk gergaji tukang kayu yang tidak berharga.

Ingatlah manusia: Waktu akan terus berjalan dan belenggu dewasa itu akan semakin mengikat.

 Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

, , ,

Leave a comment