Pegawai Gila

Pada sebuah kantor pemerintah tinggal seorang pegawai muda berpangkat pengatur muda golongan II/a. Tingginya seratus tujuh puluh satu senti. Beratnya enam puluh lima kilogram. Rambutnya ikal tertata rapih ke arah samping dengan bantuan pomade seharga dua ratus ribu dibeli online. Gaji bulanannya sebesar lima juta rupiah belum termasuk uang makan dan tunjangan kinerja cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sesekali beramal bagi sesama.

Orang-orang di kantor memanggil pegawai ini dengan nama Dery. Tanpa nama keluarga, marga atau embel-embel apapun. Kedua orang tuanya memberi nama itu sebelum meninggal akibat gusuran pemerintah daerah dua puluh lima tahun silam. Ia tidak pernah mengenal wajah kedua orang tuanya. Pengurus panti asuhan lah yang menyerahkan sertifikat lahir bernama dirinya dan menceritakan kisah pilu kedua orang tuanya.

Dery adalah pegawai tata usaha yang selalu datang tepat waktu. Ia akan berangkat sebelum pukul tujuh tiga puluh pagi hari. Menyapa kawan-kawan yang ia temui dengan senyum lebar penuh keceriaan. Setelah itu ia akan pergi ke kantin sejenak. Memesan nasi campur dengan sayur kacang panjang dan ikan cabai hijau ditemani segelas teh hangat cap orang tua. Tidak sampai tujuh menit makanan itu habis dan Dery bergegas ke meja kerja.

Tempat Dery bekerja cukup luas. Antara satu komputer dengan komputer lain dibatasi oleh partisi yang terbuat dari kaca setinggi pinggang. Komputer Dery berukuran besar bermerek HP. Sebelum memulai pekerjaan ia selalu menyalakan denting piano Frederic Chopin berjudul Nocturne No 2 Flat Major Op. 9 No.2 sambil menyeruput torabika yang sebelumnya ia seduh sendiri dengan air dispenser.

Pekerjaannya biasa saja. Tugasnya adalah melanjutkan disposisi Kepala Seksi. Bila disposisi berbunyi arsip, maka ia akan mengarsipnya. Bila disposisi berbunyi “buatkan nota dinas” maka ia akan segera membuat konsep dan menanti pekerjaannya dicoret-coret. Selain itu ia juga dibebani pekerjaan adminsitrasi surat masuk dan keluar, pengarsipan serta pengurusan dokumen pribadi pegawai. Semua pekerjaan ia kerjakan dengan tuntas tanpa pernah berkeluh kesah.

Pekerjaan kantor usai pukul lima sore. Ia juga selalu tepat waktu meninggalkan ruangan. Tidak peduli hujan dan badai, ia segera pergi ke indekost. Melepas sepatu dan tiduran bertelanjang dada. Sambil bermalas-malasan ia akan mengambil gawainya. Membuka aplikasi instagram,  memberi like kepada foto pemandangan, kemudian mencari-cari baju murah yang dijual dengan diskon atau penawaran khusus. Ia juga akan membuka whatsApp dengan jari-jemarinya. Ia akan membuka grup kontak satu per satu. Membaca setiap berita, sampah maupun penting. Pekerjaan itu memakan waktu dua jam sampai akhirnya ia teringat waktu shalat magrib.

Dery selalu bingung ketika memutuskan lokasi makan malam. Ia biasanya akan pindah dari satu tempat ke tempat lain setiap malam. Ia tidak pernah mengajak siapapun bersamanya. Makanan kesukaannya adalah masakan khas Bali yang asam dan pedas atau sop kambing dengan jeroan dan torpedo yang gagah perkasa. Sambil makan ia tidak pernah melepaskan pandangan dari gawai. Bergantian ia membuka aplikasi pertemanan. Facebook, twitter, WhasApp, Tumblr, kembali lagi ke Facebook, twitter, WhatssApp begitu seterusnya hingga potongan kambing terakhir habis.

Malam hari Dery akan tidur pukul sebelas malam dengan posisi gawai di sebelah kuping kanannya. Alarem diatur untuk berbunyi pukul enam pagi. Ia tidak pernah tidur mengenakan sehelai benang pun. Alasannya sederhana. Ia tidak mau membebani biaya laundry dengan baju yang kotor akibat keringat tidur. Tipikal pegawai yang sangat hemat sekaligus pelit.

Keteraturan Dery terus berlanjut. Ia bahkan menolak setiap ajakan kawan diluar agenda rutinnya. Ia hidup sendirian dan sepertinya menikmati kesendiriannya. Ia terbiasa makan sendiri, berdiskusi sendiri terkait pekerjaan dan membaca buku di café terdekat bertemankan caramel maciato. Lama kelamaan kebiasaannya itu membentuk dirinya menjadi keras kepala dan tidak mudah percaya kepada orang lain.

Buku-buku yang dibaca Dery bertemakan motivasi praktis yang ditulis oleh para motivator kondang. Ia selau bersemangat membaca buku-buku itu. Matanya menyala-nyala menyuarakan perubahan. Gagasan-gagasan segar memebuhi pikirannya. Saat pergi ke tempat kerja, ia harus memendam setiap gagasan-gagasan itu. Karena pekerjaannya menuntut kepatuhan mutlak dari atasan.

Entah mengapa Dery menjadi pecandu buku. Mungkin kesendirian mengantarnya untuk mencumbui buku. Hal murah yang dapat dilakukan dimanapun. Ia tidak lagi bersentuhan dengan buku motivasi. Kini ia menganggap buku-buku itu sebagai karya picisan yang mudah dicerna. Kamar sewanya dipenuhi buku-buku klasik karangan Plato, Aristoteles, Phytagoras dengan coretan tinta merah di marjin kanannya. Beberapa kertas warna-warni dengan catatan-catatan penting menyembul dari beberapa halaman. Ada juga buku-buku zaman romantik seperti Thus Spoke Zarahustra karya Frederic Nietzche yang ia tempatkan di rak khusus dengan taburan bunga segar yang selalu ia ganti setiap pagi. Buku sejarah dunia, kebudayaan dan mistisme juga tidak luput dari koleksi pribadi Dery.

Semua bacaannya itu membebani Dery dengan jutaan ide baru. Pikirannya selalu berputar dimanapun ia berada. Ia selalu memikirkan hal-hal kecil yang tidak terpikirkan orang lain. Mengapa aku hidup? Apakah aku berjiwa? Apakah jiwa itu? Dimana Tuhan? Apakah Tuhan ada? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui dirinya saat bekerja dan tidur. Kini ia tidak lagi bisa tertidur pulas. Sebelum tidur ia akan sibuk dengan sebuah bacaan kemudian menulis pada sebuah jurnal refleksi atas bacaan itu. Biasanya ide-ide dalam bacaan itu akan menghantuinya dalam tidur. Kadang menjadi sebuah mimpi menyeramkan yang menyiksa dirinya. Pernah suatu ketika ia bermimpi menjadi Tuhan. Bentukya seperti tiang putih yang bergerak cepat secara vertikal ke angkasa. Menembus awan, bintang, planet antar galaksi sebelum akhirnya ia terbangun dengan keringat dingin dan perasaan takut akan kutukan.

Karena kebiasaan barunya, Dery mengidap insomnia. Setiap ke kantor ia selalu merasa lemas. Walaupun bergelas-gelas kopi ia minum tetap saja rasa kantuk akan selalu menderanya. Wajahnya kini menjadi pucat. Darah seolah-olah berhenti mengalir ke otaknya. Jari jemarinya kaku dan ia mudah gelisah.

Pada tahun ke tiga puluh masa kerjanya di kantor itu. Dery merasakan kebosanan yang luar biasa. Ia diam di meja kantornya menghadap komputer yang melantunkan denting piano Chopin. Ia malas mengambil surat disposisi Kepala Seksinya. Ia merasa Kepala Seksinya tidak lebih pintar dari dirinya. Semua orang adalah salah dan dia adalah kebenaran itu sendiri.

Tiba-tiba ia berteriak ke semua orang yang berada di ruangan, “Hai, manusia-manusia membosankan yang mengerjakan hal membosankan tidakah kalian memiliki hidup alternatif selain yang kalian jalankan hari ini!”

Semua orang terbengong-bengong dibuatnya. Dery menjadi pusat perhatian saat itu juga.

“Kenapa kalian semua tidak menjawab? Aku bertanya kepada kalian? Apakah kalian pernah berpikir barang sejenak untuk meninggalkan kantor yang penuh kemunafikan ini. Apakah kalian rela diperintah oleh atasan dengan kemampuan di bawah kalian. Berkata ‘siap!’ untuk setiap perintah seperti anjing menyalak yang diberi daging oleh Tuannya!”

Perkataan itu membuat wajah beberapa pegawai merah. Sebelum mereka memikirkan pernyataannya, Dery melanjutkan…

“Hari ini aku katakan kepada atasanku dan atasan kalian. Anjing kalian semua, aku tidak mau lagi diperintah kalian dan bergabung dalam sistem kantor yang pengecut ini. Aku adalah diriku yang merdeka tidak bisa diperintah oleh siapapun. Aku adalah awal dari segala sesuatu kebenaran dari segala kebenaran. Kalian semua adalah anjing-anjing yang tidak berguna!”

Pidatonya ia tutup dengan tendangan keras ke arah komputer. Ia juga memukul lemari arsip yang terbuat dari kaca hingga luluh lantah memenuhi ruangan. Segera seorang pegawai memanggil petugas keamanan. Dery diapit oleh dua orang bertubuh tegap berkulit hitam. Ia tidak bisa berkutik. Kakinya terseret-seret menuju pintu keluar. Setiap orang di setiap unit melihat ke arah jendela, ke arah Dery yang mereka anggap sudah gila.

Dery tidak berkata apa-apa saat diusir paksa ke luar kantor.Ia merasa jijik melihat kantor dihadapannya. Ia tahu persaingan dan kemunafikan yang menjadi wabah di dalamnya. Ia muak dengan semua itu. Ia merasa jijik dan mual luar biasa.

Kini, Dery sudah tidak memiliki penghasilan apapun. Ia memutuskan untuk mengembara entah kemana. Ia tidak mau mengikatkan diri kepada sebuah kewajiban. Ia mencintainya dirinya sendiri dan kesendiriannya.

 Ferry Fadillah. Kuta, Desember 2016.

, , ,

5 Comments

Renungan Zombie

Menjadi birokrat bagi sebagian orang adalah hal yang menyenangkan. Setiap tanggal satu mendapat gaji yang dilindungi peraturan pemerintah. Tanggal limanya mendapat tunjangan kinerja yang dilandasi keputusan menteri. Dan setiap hari mendapat uang makan yang diakumulasi setiap bulan. Belum lagi uang transport dan harian dari setiap perjalanan dinas yang sudah barang tentu dilaksanakan di hotel ternama.

Mungkin sebagian birokrat tidak setuju dengan gambaran umum serampangan di atas. Tidak usah sewot, toh itu hanya sebuah contoh kehidupan enak birokrat pada unit-unit tertentu. Dan ya satu lagi yaitu jaminan hari tua dan kepastian kerja yang stabil. Maka tidak salah jika setiap tahun lulusan unversitas berbondong-bondong untuk menjadi seorang birokrat.

Permasalahan muncul ketika para pemikir bebas diterima sebagai birokrat. Hari-harinya akan dikungkung oleh standar prosedur operasional, kode etik, peraturan disiplin, asas kesatuan komando dan   hierarki yang membuat gerak menjadi kaku. Belum lagi produk budaya berupa lagu dan apel pagi yang membosankan dengan isi ceramah yang itu-itu saja. Seorang pemikir bebas tentu akan kepayahan menerima itu semua.

Masalahnya, sejago-jagonya pemikir bebas ia juga perlu makan. Dan makanan  di era kapitalistik seperti sekarang hanya bisa dibeli dengan uang. Lama-kelamaan para pemikir bebas itu akan berpikir realistis. Ya menerima saja keadaan diri dan gaji setiap bulan tanpa berpikir dan bertindak neko-neko.

Maka selesailah para pemikir bebas itu menjadi orang kebanyakan. Yang hidup dalam gerak mekanik siklik tanpa mau memakai nalar dalam setiap tindakan. Ke-Aku-an nya sudah melebur menjadi visi dan misi organisasi. Tidak ada lagi manusia di sana. Yang ada adalah zombie-zombie lapar pengejar harta dan kedudukan yang banal.

Ferry Fadillah. Kuta, Desember 2016

,

Leave a comment

Akhir Hidup

 

I know you’re tired but come, this is the way

Jalaluddin Rumi

 

Masjid itu terletak di ujung Kantor Wilayah. Di sebelah utaranya berdiri Pura megah dengan ukiran artsitik. Di sebelah selatan berderet tanaman singkong yang ditata dengan apik. Masjid sederhana itu memiliki dua lantai. Lantai pertama dilengkapi karpet hijau mewah, rak buku dengan koleksi seadanya, mimbar polos tanpa sentuhan ukiran, dan beberapa mushaf ustmani yang sudah mulai menguning.

Pagi itu, kala mentari baru dua puluh menit terbit dari timur, Raden Taufik Wiralaga, yang kemudian disebut Taufik, bertafakur dalam kesendirian. Pandangannya kosong menghadap tempat sujud, posisi duduknya bersila, ada bekas-bekas air wudhu menetes ke kerah bajunya. Sesekali mulutnya mengucap sesuatu yang tidak jelas. Lebih menyerupai ceracau seorang mabuk.

“Ampun… Aduh.. Ampun.. Aduh.. Jangan..”

Air mata menganak sungai mebasahi pipinya. Suaranya semakin parau dan pandangannya semakin dalam. Komat-kamit semain tidak keruan. Badannya bergetar hebat, matanya kosong. Tiba-tiba, ia bisa mengusai dirinya sendiri dan berdzikir pelan, “Allah, Allah, Allah…”

Dzikirnya pelan seiring dengan kondisinya yang semakin tenang. Nafasnya mulai teratur. Taufik mulai menguasai dirinya, wajahnya kembali cerah dan aura lembut melingkupi tubuhnya.

“Allah..Allah..Allah”, ucapnya sambil menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan. Ia tidak mau menyelesaikan kalimat tahlil itu dalam dzikir karena takut malaikat maut mencabut nyawanya saat kalimat Laa terucap. Yang berarti penolakan atas keimananya.

Dzikirnya semakin hebat dan dalam. Ia merasakan dirinya semakin ringan. Sebuah berkas cahaya putih mendekatinya, masuk kedalam qalb nya. Ia merasakan dirinya mengembang memenuhi ruangan masjid. Membesar, membesar, membesar sampai ia kehilangan kesadaran dan memasuki dimensi lain.

Dalam dimensi itu, ia melihat latar belakang pohon pinus yang berderet di perbukitan. Di antara hutan itu sebuah danau biru dipenuhi ikan yang terlihat jelas dari pinggiran. Pasirnya hitam, airnya tidak beriak. Tidak ada angin, tidak ada kabut, tidak ada matahari dan langit dipenuhi gemintang. Sesuatu terjadi mendadak. Air danau tiba-tiba mengalami pasang. Pusarannya menghisap tubuh Taufik. Dalam, dalam, terus ke dalam dasarnya.

Tapi… Ia tidak menemukan dasar itu. Dalam pusaran itu Taufik diberi penglihatan ilahiah tentang masa hidupnya. Ia melihat wajah ibunya yang tersenyum saat ia masih bayi. Wajah bapaknya yang lelah selepas bekerja. Ia merasa rindu dengan mereka. Ia berusaha menggapai mereka, tapi mereka hanyalah bayang-bayang di antara air danau. Kemudian, ia melihat dirinya sewaktu kecil. Ia berlari ke sana ke mari dengan riang, tanpa beban, penuh semangat dan rasa ingin tahu. Bapak dan Ibunya selalu mengecup keningnya sebelum berangkat sekolah. Ia merasakan pengalaman itu begitu dekat, sangat dekat.

Lama-lama bayangan itu pudar. Ia kemudian melihat sosok remajanya sedang berduaan dengan seorang wanita di pojok kafe sebuah kota. Wajahnya cantik, tubuhnya langsing. Tapi, ia juga melihat kelakuan buruknya ketika berbohong kepada orang tuanya, pulang malam tanpa kabar, dan selalu meminta uang demi membelikan hadiah bagi sang kekasih. Ia juga melihat ibunya berdoa sambil menangis dalam tahajudnya. Ia merasa bersalah, “Bu, maafkan, Taufik, Bu..”, bisiknya lirih.

Tiba-tiba semua berubah hitam. Ada titik putih kecil dikejauhan yang mendekat. Taufik mendekati titik itu. Pemandangan mendadak berubah. Ia melihat dirinya sedang duduk dengan seragam berpangkat di depan komputer. Ia sadar bahwa ia sedang melihat dirinya lagi. Ia melihat perubahan tanda pangkatnya. Semakin lama semakin semarak. Di antara berubahan itu berseliweran pemandangan aneh. Wanita-wanita penghibur, botol wisky, kartu remi, asap rokok, perbicangan dengan tertawaan, anak buahnya yang pernah ia sakiti, istrinya yang menangis, anaknya yang kepergok merokok, orang tuanya dengan kain kafan, nisan, kemudian titik itu menghilang, gambaran itu pudar, semua kembali hitam.

Taufik terjebak dalam gelap itu. Ia tidak paham ia berada dimana dan akan menuju kemana. Ia tidak bisa merasakan tubuhnya. Ia tidak ingat lagi apa yang terakhir ia lakukan. Akhirnya ia berzikir, “Allah, Allah, Allah..” Gelap itu menghilang, Taufik merasakan cahaya putih membawanya terbang entah kemana.

Adzan Dzuhur berkumandang, masjid gempar, seorang pegawai ditemukan meninggal dalam persujudannya.

Oktober, 2016. Ferry Fadillah

, , ,

Leave a comment

Tugas Mengarang

Pada sebuah sekolah dasar negeri seorang guru wanita memasuki kelas yang berisi tiga puluh murid. Sekolah itu berdiri di atas tanah sengketa antara pemerintah daerah dengan keluarga menak yang mengklaimnya sebagai warisan turun temurun. Karena dalam status sengketa, seringkali murid-murid membolos karena ada segerombolan pria kekar yang menyegel paksa gerbang sekolah dengan kawat berduri dan papan kayu ala kadarnya.

Hari ini adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Guru wanita tadi duduk di meja dengan taplak bermotif kembang di pojok kanan ruang kelas. Saat lonceng berbunyi salah seorang murid berdiri dan berteriak lantang memberi komando,” Berdiri! Beeeriiiiii saaaaalam!” Kelas pecah oleh teriakan murid bocah yang cempreng menyambut Bu Guru, “Asssssalamualaykum warahmatullahi wabaraaaaaakaaaaaatuuuuuuh.” Ucapan itu terasa begitu lama dengan nada panjang tidak perlu di beberapa bagian. Begitulah bocah-bocah.

Tanpa memeriksa kehadiran, Bu Guru maju ke arah papan tulis hitam dengan debu kapur yang membuat TBC. Mistar besar di tangan kanan, Dia berdehem pendek dan memulai pelajaran. “Anak-anak, kesehatan ibu sedang tidak baik. Sekarang ibu kasih kalian tugas mengarang. Tolong siapkan secarik kertas kemudian tuliskan pengalaman bahagia kalian bersama keluarga. Selesaikan sekarang yah, nanti kalian maju satu per satu ke depan membacakan karya kalian.”

Murid-murid dengan sigap mengambil kertas dari tengah buku catatan. Kertas garis bermerek mirage itu dibagi dua dengan penggaris besi dan dibagi untuk dua orang. Ada murid yang langsung menulis dengan antusias. Ada juga yang menerawang ke langit-langit mencari inspirasi yang entah dimana. Beberapa melihat pekerjaan teman sebelahnya yang kemudian ditutup dengan telapak tangan sebagai bentuk resistensi. Ada juga yang izin ke kamar kecil, lama sekali entah apa yang dilakukannya di sana.

Tidak terasa satu jam sudah pekerjaan mengarang itu berlalu. Bu Guru kembali berdehem halus dan memberi instruksi, “Nah, sudah ya anak-anak. Sekarang tolong ketua kelas kumpulkan. Ibu mau periksa dulu. Nanti ibu panggil siapa yang membacakannya ke depan.”

Bu Guru memeriksa tulisan cakar ayam dengan noda tipp-ex pada beberapa kalimat itu. Dengan saksama ia meneliti kesalahan tulis, penggunaan kata yang kurang tepat dan tentu identitas murid. Setelah hampir setengah jam yang diakhiri dengan mata yang berkaca-kaca dan mulut yang mengatup lebar –tanda mengantuk- Bu Guru melihat tajam ke arah murid.

“Nah, yang pertama maju adalah Ainun. Ayo Ainun bacakan karya kamu ke depan!”

Ainun duduk di pojok belakang di bawah potret Pangeran Dipenogoro yang tirus karena sakit malaria. Ia belum pernah berbicara di depan kelas. Ia adalah anak yang pemalu. Setelah jam pelajaran usai ia tidak pernah bermain bola atau kelereng dengan teman sejawatnya atau anak-anak komplek. Dalam pikirannya hanya ada sekolah untuk belajar dan rumah untuk belajar. Belajar dan hanya belajar.

Saat berada di depan kelas Ainun berdiri kaku. Matanya berkunang-kunang. Denyut jantungnya bertambah kencang. Keringat mengalir membanjiri dahi dan telapak tangan. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian bercerita:

“Teman-teman. Aku akan bercerita hal yang paling membahagiakan bersama keluargaku. Liburan semester lalu, aku bersama ibu, ayah dan kakak jalan-jalan ke Eropa…”

Mendengar kata Eropa seluruh kelas menjadi riuh. Suara tepuk tangan bercampur dengan gemuruh cieeee cieeee cieeeee… Ainun semakin gugup.

“Anu… Anu… iya Eropa.. di sana aku berjalan-jalan ke Menara Eifel, makan di restoran abad pertengahan dan menemani ibu membeli baju dan tas banyaakkk sekali. Ayah tidak berbelanja, ia lebih banyak tersenyum saat menemani kami. Oh, iya terkadang ia juga melirik isi dompetnya dan roman wajahnya berubah pucat.”

Mendengar kepolosan itu, seisi ruangan kelas kembali gaduh. Tawa bahak beberapa siswa bertukar dengan teriakan histeris tanda riang. Bu Guru berusaha menenangkan dengan memberi isyarat tangan.

Mendengar  tawa temanya saat sedang berbicara, Ainun kehilangan kepercayaan diri. Keringat di tubuhnya semakin mengucur deras. Ia menjadi pucat dan pusing. Darah keluar dari hidungya. “Ainun! Kok kamu mimisan! Ketua kelas cepet bawa Ainun ke UKS.. cepat!”

Kegaduhan itu berhenti menjadi kengerian. Ketua kelas membopong Ainun bersama beberapa orang ke UKS. Setiap murid menunduk tanda bersalah. Bu Guru cepat-cepat mengambil alih kelas.

“Anak-anak yang saleh. Kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita. Jangan kita menertawakan kesalahan orang lain. Belum tentu kita lebih baik dari orang yang kita tertawakan. Tidak pernah ada manusia yang luput dari kesalahan. Paham anak-anak?”

“Pahammm.. Bu…” serempak mereka membalas dengan penuh penyesalan.

“Nah sekarang kita doakan Ainun lekas sembuh ya..” Bu Guru mengambil kertas hasil karangan para murid. Di ambilnya secara acak dari bagian tengah. Sebuah kertas kusam dengan garis berwarna biru yang tidak teratur mencuat. Bu Guru membacakan identias kertas itu. “Zulkifli, nah ini dia Ayo Zulkifli kamu maju ke depan bacakan untuk teman-temanmu yah..”

Zulkifli.. Oh Zulkifli.. anak ini terkenal sangat badung. Hampir setiap hari ia datang terlambat. Bajunya kusam, kerahnya kusut dan penampilannya urakan. Rambutnya dipotong tipis bagian pinggirnya sedangkan bagian tengahnya dibiarkan panjang disisir ke kiri menutupi matanya.

Dengan percaya diri penuh ia berdiri dan dengan riang menuju depan kelas. Begini ceritanya:

“Selamat Siang, kawan-kawan,” senyumnya mengembang matanya berbinar.

“Aku tidak mengerti apa itu keluarga yang bahagia. Aku tinggal dibantaran Sungai Cidurian. Hanya beberapa meter dari Borma Antapani. Ibuku adalah seorang buruh cuci yang dikenal oleh tetangga-tetangga. Hampir setiap hari ia menyuci dengan tangannya. Jika sekolah usai aku membantu mengantarkan cucian kepada para pelanggan. Sesekali pelanggan itu memberi aku uang tips. Aku sangat senang. Oh iya, Bapaku adalah seorang kontraktor yang tidak jelas bekerja dimana. Ia pergi bekerja pukul dua siang dan biasanya kembali keesokan lusanya tanpa membawa apa-apa. Iya, aku pernah memintanya untuk membelikan robot gundam tapi ia malah memakiku dengan kata-kata kasar. Kedua kalinya aku meminta dibawakan buah dan asbak dengan abu rokok melayang mengenai pelipisku. Ketiga kalinya aku menjadi takut untuk meminta sesuatu kepada Ayah. Musim layangan tiba. Aku memberanikan diri meminta ayah untuk dibelikan layangan dan gulungan benang gelasan. Ia diam beberapa detik kemudian menarik pergelangan tanganku; menyeretku ke kamar mandi dan menyiramku dengan air dingin sambil membentak penuh amarah. Sejak itu aku berhenti meminta kepada ayah.”

Bu Guru, Ainun dan semua murid tercekat mendengar kisah pilu yang diucapkan dengan nada tanpa kesedihan itu. Zulkifli melanjutkan:

“Suatu hari, ketika hujan deras, Sungai Cidurian meluap membawa sampah dari hulu,  aku sedang di kamar menyelesaikan tugas matematika. Ayahku datang tanpa mengetuk pintu ke ruang tamu. Bersamaan dengan suara petir, ibuku tiba-tiba membentak ayah. Aku masih ingat kalimatnya, “Anjing kamu! Suami babi! Udah miskin masih aja selingkuh! Kamu ga mikir apa, hah? Bukannya cari nafkah yang bener malah merek! “ Gelas-gelas kopi dengan motif  kembang sepatu berterbangan. Pecahannya terpencar ke bawah karpet, sofa dan keset. Aku hanya melihat diam-diam dari balik tembok yang rusak karena gempa. Ibu menangis. Mukanya merah. Sedangkan ayah hanya diam. Setelah makian kesekian kalinya, saat hujan mulai reda, ayah bangkit dari diamnya kemudian mengambil kunci motor yang tergantung di samping kulkas. Ibu membentaknya, bertanya hendak kemana. Ayah hanya diam dan berjalan lesu ke arah motor bebek satu-satuya itu. Ibu terus membentak sambil bertanya hendak kemana. Ayah hanya diam, tidak membalas dengan bentakan ataupun melirik. Ayah menyalakan mesin motor  dengan tenang dan ia pergi entah kemana. Itulah saat terakhir aku melihat ayah”.

Mendengar itu Bu Guru menjadi sangat bersalah. Selama ini ia paling getol memaki Zulkifli. Anak ga punya masa depan lah. Anak bodoh lah. Segala macam caci maki itu ia anggap sebagai dosa besar dalam hidupnya. Zulkifli melanjutkan ceritanya:

“Kemaren malam, saat sedang bermain sepeda di sekitar Braga aku melihat kerumuman orang. Dari balik kerumunan itu aku melihat sosok pria berambut gimbal yang bersimbah darah. Pakaiannya kotor penuh noda tanah. Ia hanya membawa karung berisi gelas-gelas plastik yang disusun sedemikian rupa. Aku melihat sosok itu dari dekat. Lekat sangat lekat. Aku melihat hidungnya yang mirip dengan hidungku. Aku kemudian teringat asbak yang menimpa pelipisku dan bentakan yang menyakitkan hatiku. Ya itu adalah ayahku.. itu adalah ayahku yang pergi entah kemana itu..”

Zulkifli berhenti berkisah. Wajahnya berubah sendu. Ia melihat ke arah jendela. Langit mendung dengan awan kelabu menutupi gunung-gunung hijau Kota Bandung. Ia tidak mempedulikan seiisi kelas. Ia tidak peduli dengan keberadaan Bu Guru, Ainun dan setiap murid. Ia diam seribu bahasa. Otaknya seperti berhenti berpikir. Jiwanya melayang-layang mengingat kisah indahnya bersama Ayah. Saat sang ayah masih seorang pegawai Bank, saat ia tinggal di komplek mewah sekitar Dago.

Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

pernah dimuat di birokreasi.com

,

Leave a comment

1984

Suatu malam di hari yang ganjil aku berjalan di antara deretan toko tua. Di bangun sebagai pengingat kepongahan bangsa di utara dunia. Namun, dari kepongahan itu, tersisa seni art deco yang menjadi ikon kota itu. Itulah Jalan Braga. Walaupun tidak setenar awal abad ke 19 lokasi ini masih menjadi favorit para pelancong asing.

Sejak Konfrensi Asia Afrika yang tinggal seremonial itu dilaksanakan untuk ke sekian kalinya Braga mempercantik diri. Trotoar usang pesing diubah bersih dan tertata. Bangku kayu dengan pegangan besi di bawah lampu gaya eropa menghiasi beberapa sudut jalan. Di antara bangku-bangku itu ada bola batu besar yang pernah tertancap bendera mini negara peserta KAA. Toko-toko disekitar pun ikut berbenah. Lumut yang menempel di pojokan tembok dibersihkan, cat putih kemudian menutupi dinding itu agar paripurna.

Jalan yang dilalui kendaraan bermotor tidak beralaskan aspal. Batuan dengan bentuk segi empat beranekaragam saling menyusun mencerminkan kesan eropa yang sekedarnya. Di beberapa bagian batu itu rusak tidak kuasa menahan beban kendaraan yang hilir mudik setiap hari.

Lelah berjalan. Aku berhenti sejenak di sebuah toko makanan. Sambil melihat interiornya yang boleh juga aku melihat menu makanan pada display yang ternyata berisi kuliner lokal sunda. Tanpa panjang pikir aku masuk dan mencari tempat duduk yang pas.

Tepat di meja nomor 3 dengan pemandangan jalan padat dan minimarket berwarna merah aku duduk. Setelah melihat-lihat menu yang banyak itu terpilihlah kopi bandrek sebagai teman duduk. Aku ambil buku yang sedari tadi terselip di ransel kecil. 1984 karangan George Orwell. Aku baru membacanya pada bagian ke tiga saat Watson dipergoki sedang bermesraan dengan wanita anggota partai oleh Polisi Pikiran.

Pesanan datang. Aku mengucapkan terimakasih dan dibalasnya dengan senyum tanpa kata-kata. Kopi itu mengeluarkan bebauan jahe yang khas. Warnanya hitam kecoklatan dengan gula putih yang belum sepenuhnya larut. Menunggu sekitar tiga menit aku menyeruput kopi itu sambil memejamkan mata. Pedasnya rasa bandrek dan tajamnya pahit kopi langsung merangsang sarafku untuk lebih terjaga. Setelah gelas itu diletakan pada tatakan, aku kembali membaca novel itu.

1984 adalah sebuah novel politis yang ditulis pada tahun 1949. Novel ini pada masanya merupakan sebuah wahyu prediksi akan kejadian politis di tahun 84’. Diceritakan bahwa dunia pada masa itu terbagi menjadi tiga kekuatan besar. Oceania dengan paham sosing-nya, Eurasia dengan paham neo-bolsevisme dan eastasia dengan pemujaan mati. Setiap negara bertempur memperubutkan kota-kota penyangga yang kaya dengan sumberdaya alam dan manusia. Setiap penguasa baru akan memakai sumber daya itu untuk pertempuran, sabotase dan spionase.

Menariknya adalah peperangan antara ketiga negara didesain tidak untuk dimenangkan. Perang adalah penyaluran surplus produksi domestik dan medium propaganda agar rakyat tidak memiliki kesempatan untuk mengkhayalkan kehidupan ideal. Rakyat dipengaruhi secara psikologis bahwa negara sedang dalam keadaan darurat. Setiap gerakan perlawanan dicap kontra revolusioner. Gerak-gerik warga dicurigai melalui alat bernama telescreen yang dapat mendengar suara dan memantau gerakan.

Winston Smith adalah tokoh utama dalam novel ini. Dia adalah tokoh partai yang memiliki kerja busuk untuk membohongi persepsi publik. Walaupun dia adalah tokoh partai namun hidupnya tidak bisa bebas. Setiap gerak geriknya selalu di awasi. Oleh telescreen, polisi pikiran, tetangganya atau bahkan pacarnya. Masyarakat tempatnya hidup dibuat saling mencurigai satu sama lain. Bahkan ada seorang orang tua yang ditangkap polisi pikiran karena dilaporkan anaknya sedang mengingau politik: turunkan Bung Besar, turunkan Bung Besar!

Bung Besar adalah pemimpin tertinggi negara Oceania. Setiap masyarakat diwasinya. Slogan partai yang dibentuknya adalah: perang ialah damai, kebebasan ialah perbudakan, kebodohan ialah kekuatan. Setiap warga negara harus mengabdikan waktu dan tenaga untuk Bung Besar. Buku-buku yang tidak sehaluan diberangus. Bahkan data statistika tentang produksi nasional dipoles agar tampak sukses padahal kebutuhan dasar seperti alat cukur sulit untuk didapat.

Lebih mengerikannya lagi adalah sekolompok gerakan anti seks yang memprogandakan kehidupan seks yang sepenuhnya demi penghambaan kepada partai. Seks sebagai rekreasi adalah terlarang. Seks harus diahadapi sebagai sesuatu yang luhur yakni menghasilkan anak demi  keberlangsungan negara. Menikmati seks adalah sebuah pelanggaran. Visinya adalah setiap warga negara memproduksi anak melalui serangkaian inseminasi buatan sehingga keluarga lebur dalam rumah besar bernama negara. Pikiran yang menggelikan sekaligus mengerikan.

Beberapa meter dari Jalan Braga, disamping gedung Asia Afrika ada sebuah taman dengan air mancur yang menyala setiap malam. Kursi-kursi dengan bangku kayu dipenuhi oleh banyak orang setiap malam. Beberapa diantara mereka membawa makanan dan bercengkrama bersama handai taulan. Setiap sabtu malam ada sekelompok pemuda menamai dirinya komunitas perpustakaan jalanan. Buku dilapak diatas koran dan dipajang agar dilirik orang yang mengunjungi taman. Beberapa pengunjung bahkan terlihat berdiskusi tentang berbagai topik. Suatu ketika, segerombolan tentara datang. Dengan murka  mereka membubarkan sekolompok pemuda itu. Sebagian buku di rampas. Suasana berubah tegang.

Klarifikasi muncul setelah media sosial membahas sikap fasis itu. Tentara membela diri. Untuk apa membaca malam-malam dan buku-buku yang disebar dikhawatirkan menyebarkan paham yang dilarang, bela mereka. Tentara mulai masuk kehidupan sipil.

Pelarangan buku, diskusi yang dicurigai, perbedaan yang dianggap pembangkangan adalah warna yang terjadi di tahun 2016 ini. Usia negeri ini belum genap satu abad, namun tidak ada arah menuju keterbukaan pikiran. Rakyat diombang-ambing oleh opini prematur pejabat di televisi. Pilkada dipenuhi fanatisme sempit sektoral. Beberapa kepala daerah menjadi hamba pengembang. Penggusuran menjadi keseharian. Setiap wacana emansipasi dibius dengan doktrin sabar pangkal pahala. Namun, saya yakin dari karut marut ini akan muncul beberapa satria yang siap mencerahkan masyarakat. Dan mereka sadar, hal paling awal yang harus dimiliki masyarakat dan menjadi ampuh dalam melawan kebodohan hanyalah satu kata: baca!

Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

, , , ,

Leave a comment

Lelaki yang Mencela Hujan

Malaikat-malaikat turun dari langit. Jubah mereka putih bersih menutupi kepala hingga mata kaki. Sayap-sayapnya terbentuk dari bulu surgawi bercahaya yang sangat menyilaukan. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat mereka. Sebelum hujan. Mereka berkumpul di langit bumi. Berembuk beberapa saat kemudian berpencar ke empat penjuru mata angin.

Malaikat dengan jumlah sayap ganjil bertugas mengumpulkan uap air dan membentuknya menjadi awan kelabu.

Malaikat dengan jumlah sayah genap dengan peralatan surgawi yang tidak dimiliki manusia mulai memasang listrik ke dalam awan itu.

Malaikat lainnya beredar di permukaan bumi. Melihat manusia. Mencatat setiap ucapan  dan melaporkannya ke atasan mereka.

Di sebuah kluster mewah perumahan di kaki bukit seorang bapak dengan pakaian necis mengumpat, “Anijng, anjing, anjing, hujan mulu sih ah!”

Malaikat yang kebetulan lewat sana mendengarnya dan merubah warna sayapnya menjadi hitam, kelam, sangat gelap. Bergegas ia menulis dalam buku catatan dari kulit buraq itu dan kembali kepada atasannya di langit.

Esoknya, bapak itu hilang dari peredaran ruang dan waktu. Kantor berita heboh melaporkan: banjir bandang dengan material berat menyapu sebuah kluster mewah perumahan di kaki bukit sebuah kota.

Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

1 Comment

Waktu

Waktu tidak pernah mempan dibentak. Dia akan selalu berpacu dengan acuh. Membawamu bersamanya tanpa peduli perasaan.

Pada sebuah persimpangan jalan, waktu tidak pernah melihat ke kiri dan ke kanan. Dia tidak perlu risau dengan mati. Mati lah yang harus risau dengan waktu.

Bertahun-tahun sudah ras kita memampatkan waktu dalam bentuk konsep. Karena konsep maka Sang Waktu dapat dipahami dan dijadikan acuan. Tapi.. Bukankah ini hal yang absurd?

Waktu bekerja melampaui manusia. Tidak terikat presuposisi bentukan kultural. Dia adalah hantu yang menjelma di setiap abad. Di ambang pintu nafas ia akan menyaksikan ruh mu ditarik keluar. Di setiap revolusi akbar ia juga menontonnya dengan dingin.

Di dalam jiwa-jiwa yang lemah lamunan tentang masa kecil adalah hal yang surgawi. Kehidupan dewasa acapkali membelenggu dengan segala tuntutan yang menyesakan. “Wahai Sang Waktu bisakah kau kembalikan aku ke masa kecilku?”

Sang Waktu bergeming. Ia bukanlah Tuhan yang bisa mendengar. Sang Waktu itu tuli juga buta. Doa mu hanyalah serbuk gergaji tukang kayu yang tidak berharga.

Ingatlah manusia: Waktu akan terus berjalan dan belenggu dewasa itu akan semakin mengikat.

 Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

, , ,

Leave a comment

Bali

Bukan kali pertama aku mengunjungi Bali. Selama kurang lebih lima tahun aku bertugas di Bali. Selama itu juga aku melakukan kunjungan wisata ke beberapa tempat. Selama itu juga kekaguman selalu berkelibatan di hati melaui mata dan penciuman.

Akhir Agustus 2016 merupakan kunjunganku yang pertama setelah dua tahun belajar di Bintaro. Pukul 00.15 dini hari aku mendarat di Bandara Ngurah Rai. Perjalanan tidak semulus perkiraan. Entah akibat angin atau awan dengan masa jenis tertentu, pesawat berguncang selama satu jam lebih empat puluh lima menit. Alhamdulillah, jiwa dan raga masih bisa mencium udara pedupaan di pelataran bandara.

Aku tidak akan menceritakan detil perjalanan selama satu minggu. Untuk apa? Aku bukan siapa-siapa, hanya satu orang dari milyaran orang yang pernah mengunjungi Bali. Aku bukan apa-apa.

Bali selalu mengesankan. Pulau ini adalah perpaduan yang indah antara cipta budaya dan karya alam. Masyaraktnya bisa menerima perbedaan budaya dan agama. Pemeluk Hindu dan Islam dapat hidup perdampingan. Bahkan mengalami akulturasi pada aspek-aspek tertentu.

Banyak tempat wisata alam yang terawat dengan baik. Masyarakat Bali berhasil menggabungkan kearifan lokal, agama, tradisi dengan upaya pelestarian lingkungan. Gunung, sawah, laut, pantai, danau dan mata air adalah keseluruhan ciptaanNya yang harus dirawat dan diruwat. Konsep ini terangkum dalam termonologi Tri Hita Kirana.

Setiap liuk yang tergambar dalam peta Bali adalah keindahan ciptaan-Nya. Setiap tebing dan laut tanpa tepi, setiap matahari teggelam di uluwatu, setiap deburan ombak di nusa dua, setiap denting gamelan di puri ubud dan setiap mata air yang disucikan adalah gurat-gurat penciptaan yang begitu indah. Dia berbicara melalui ciptaanNya.

Sayangnya, ada sebagian orang dengan agama ekonomi berusaha untuk mengancurkan pemandangan itu. Apakah masih ada keindahan yang dapat terwujud dalam kredo dengan pengorbanan sekecil mungkin demi keuntungan sebesar mungkin? Agama ini mewujudkan tepian pantai yang dikuasai resort-resort privat, jalan-jalan macet yang menutup persawahan, pelecehan seksual, pergeseran moralitas, pencemaran laut, pengeringan air tanah dan perlawanan reklamasi.

Apakah turis-turis ke Bali datang untuk menyaksikan kemegahan bangunan manusia atau anugerah indah berupa alam yang tak tersentuh? Pertanyaan itu kiranya patut direnungkan bagi siapa pun yang mencintai Bali. Karena aku hanya melihat Tuhan dalam gurat alam yang tak tersentuh manusia.

Ferry Fadillah. 3 September 2016.

3 Comments

Refleksi Masa Kecil Melalui Kisah Le Petit Prince (1943)

“But tell me, my brothers, what the child can do, which even the lion

could not do? Why must the predatory lion still become a child?

Innocence is the child, and forgeting, a new beginning, a game, a selfpropelling

wheel, a first movement, a sacred Yes”

Friedrich Nitzche

 

Setiap orang dewasa di dunia ini pasti pernah mengalami menjadi seorang anak. Momen dimana diri begitu polos, lugu, dan bersih. Segala sesuatu sangat rentan dan tergantung oleh ulur tangan manusia. Meminjam istilah Sigmund Freud, anak-anak  memiliki dorongan Id begitu besar sehingga setiap benda dan momen dianggap sebagai kesenangan semata.

Jika kita lupa telah menjadi seorang anak karena kepelikan hidup, ada baiknya mengamati anak-anak disekitar lapangan atau sekolah dasar. Lihat! Mereka bermain dengan riang tanpa ada kekhawatiran di wajah. Mereka, terutama yang balita, berkawan dengan siapa saja; melihat lawan jenis terkadang langsung menciumnya tanpa permisi; melihat yang sejenis langsung mereka bersapaan dan menjadi teman. Di dunia dewasa tidak ada lagi hal itu. Wajah-wajah manusia dewasa selalu diliputi kekhawatiran. Entah itu cicilan rumah, uang muka gedung pernikahan, kontrakan atau kemacetan yang membunuh waktu. Di dalam bercinta dan berteman pun manusia jarang menjadi tulus. Mereka memikirkan prestise dibandingkan isi, permukaan dibandingkan kedalaman. Maka betebaranlah munafik-munafik di dunia orang dewasa.

Antoine de Saint-Exupéry melalui dongeng sederhananya berjudul “Le Petit Prince” kiranya bisa mengembalikan ingatan masa kecil orang-orang dewasa. Buku tipis dengan kalimat dan ilustrasi yang sederhana ini bisa dibilang kritik halus terhadap dunia orang dewasa. Dalam pembukanya Exupéry menekankan bahwa sasaran buku ini adakah anak-anak yang kemudian menjadi dewasa karena orang dewasa memahami segalanya termasuk buku untuk anak-anak.

Kisah dalam buku ini menggunakan kata ganti orang pertama. Seperti memoar; sebuah pengalaman pribadi penulis yang diberi bumbu fiksi. Pembukaan buku ini menarik karena menggambarkan keegoisan orang dewasa yang selalu menganggap bodoh imajinasi seorang anak berusia enam tahun:

Gambarku tidak melukiskan topi, tetapi ular sanca yang sedang mencernakan gajah. Maka aku menggambar bagian dalam ular sanca itu, supaya orang dewasa dapat mengerti. Mereka selalu membutuhkan penjelasan. Gambarku nomor dua seperti ini:

elephant.png

Orang dewasa memberi aku nasihat agar aku mengesampingkan gambar ular sanca terbuka atau tertutup, dan lebih banyak memperhatikan ilmu bumi, sejarah ilmu hitung dan tata bahasa. Demikianlah pada umur enam tahun aku meninggalkan sebuah karir cemerlang sebagai pelukis

Bukankah paragraf di atas sangat dimaksudkan menyindir kita sebagai orang dewasa –terutama yang sudah memiliki anak. Sering anak-anak bermain di tanah lapang berkubang di dalam lumpur dan orang tua melarangnya. Atau bermain dengan pensil warna mencoret tembok dan orang tua membetaknya. Atau bermain dengan anak tetangga yang karena terlihat kumal orang tua melarangnya. Orang tua komtemporer lebih memilih anaknya bermain gadget di rumah dan bisa mengawasinya sepanjang waktu. Padahal larangan-larangan itu hanya akan menghambat pencarian bakat anak-anak. Maka terjadilah yang harus terjadi: para remaja lulusan SMA yang gamang akan melanjutkan kuliah di jurusan apa.

Selanjutnya, tokoh “Aku” menceritakan pengalamannya terdampar di Gurun Sahara yang sunyi dan bertemu dengan sosok Pangeran Kecil. Kekaguman tokoh utama bertambah karena Pangeran Kecil memahami apa yang dia gambar dan selalu mempertanyakan hal-hal aneh. Baru kemudian ia sadar  bahwa Pangeran Kecil bukan berasal dari bumi. Bagian menarik dari pertemuan ini adalah percakapan mengenai kepercayaan:

Aku menceritakan semua detail mengenai Asteroid B 612 (tempat Pangeran Kecil tinggal) ini sampai menyebut nomornya, gara-gara orang-orang dewasa. Orang dewasa menyukai angka-angka…

Maka jika kalian berkata pada mereka, “Buktinya Pangeran Kecil itu ada, ialah ia sangat rupawan, ia tertawa dan ia menginginkan seekor domba. Bila seseorang menghendaki domba , itu buktinya ia ada”,  mereka akan mengangkat bahu dan mengatakan kalian hanya anak-anak. Tapi jika kalian berkata, “Planet asalnya adalah Asteroid B 612”,  baru mereka akan merasa yakin dan tidak akan melelahkan kalian dengan pertanyaan lain.

Mungkin tokoh aku salah, zaman sekarang orang dewasa tidak cukup dengan angka-angka untuk percaya, mereka pasti menanyakan gambar, video atau bukti-bukti lain yang menguatkan keyakinan. Paragraf di atas mirip dengan perdebatan antara Plato yang idealis dan Aristoteles yang materialis. Penulis mungkin berusaha untuk menyerang materialisme yang menjadi kiblat zaman itu. Kepercayaan tidak harus dimulai dari keberadaan benda-benda yang dapat dicerap oleh indra, cukup dengan adanya kehendak maka sesuatu itu ada. Hal ini diperkuat oleh percakapan Pangeran Kecil dengan Sang Rubah saat ia telah menjinakannya dan bermaksud untuk meninggalkannya:

“Selamat jalan,” kata rubah. “Inilah rahasiaku. Sangat sederhana: hanya dengan hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata.”

Kritik selanjutnya tergambar dalam perjalanan Pangeran Kecil ketika meninggalkan planetnya dan mengitari planet-planet di sekitarnya. Planet pertama dihuni oleh seorang Raja yang merasa memiliki keuasaan tanpa ada seorang rakyat yang dapat diperintahnya. Planet kedua ia bertemu dengan seorang sombong yang sangat senang dikagumi ketampanan dan kekakayaannya. Planet ketiga dihuni seorang pemabuk yang memiliki alasan tidak rasional atas perbuatannya. Planet keempat dihuni seorang pengusaha sibuk dan serius yang menghitung semua bintang yang dimilikinya. Planet kelima dihuni seorang penyulut lentera yang terlalu patuh kepada aturan sehingga merepotkan dirinya sendiri. Planet keenam dihuni seorang ahli bumi yang hanya mendengar pengetahuan dari para penjelajah tanpa mau mengobservasi langsung objek penelitiannya. Semua perjalanan ke planet itu, apabila dibaca secara saksama adalah kritik penulis terhadap kekuasaan, kesombongan, amoralitas, kapitalisme, birokrat dan para cendikiawan yang berkubang di menara gading.

Inti cerita dongeng ini adalah kisah cinta Pangeran Kecil dengan mawar di planet asalnya. Mawar di sini bukan nama samaran korban perkosaan tapi wujud bunga berwarna merah dengan duri di sekujur batangnya. Pangeran Kecil begitu mencintai mawar, merawat dan menjaganya. Tapi mawar begitu angkuh dan tidak berterimakasih atas semua kebaikan Pangeran Kecil. Maka mengembaralah Pangeran Kecil sampai ke bumi dan mendapati ada banyak mawar di sana. Ia kecewa ternyata mawar yang ia cintai tidaklah unik, satu-satunya di semesta, tapi mawar biasa seperti mawar-mawar lain di bumi. Tapi persepsinya berubah setelah Pangeran Kecil bertemu rubah dan memahami arti dari sebuah penjinakan:

“Aku mencari teman. Apa artinya jinak?

“Buatku, kamu masih seorang bocah saja, yang sama dengan seratus ribu bocah lain. Dan aku tidak membutuhkan kamu. Kamu juga tidak membutuhkan aku. Buat kamu, aku hanya seekor rubah yang sama dengan seratus ribu rubah lain. Tetapi kalau kamu menjinakan aku, kita akan saling membutuhkan. Kamu akan menjadi satu-satunya bagiku di dunia. Aku akan menjadi satu-satunya bagimu di dunia…”

“Aku paham”, kata Pangeran Kecil.

Setelah pencerahan itu pangeran kecil memiliki persepsi lain kepada mawar yang ditinggalnya. Baginya mawarnya adalah yang paling special, ia tidak tergantikan dan perasaan untuk bertemu sang mawar kembali menguat.

Bukankah ini sebuah pesan cinta yang begitu halus namun mengena? Berapa banyak kasus perceraian dan perselingkuhan akibat pasangan merasa bosan, jenuh, muak dengan omelan istri, gaji kecil suami dan lain sebagainya. Manusia dewasa sudah tidak lagi bisa memahami cinta menggunakan hatinya tapi berupaya menggunakan akalnya dengan logika untung-rugi yang begitu dangkal. Kiranya sebagai penutup perlu kita menyimak pesan terakhir Sang Rubah kepada Pangeran Kecil:

“Manusia telah melupakan kenyataan ini,” kata rubah.

“Tetapi kamu tidak boleh melupakannya. Kamu menjadi bertanggung jawab untuk selama-lamanya atas siapa yang telah kamu jinakan. Kamu bertanggung jawab atas mawarmu…”

 baobao

Referensi:

Exupéry, Antoine. 1943. Le Petit Prince. Terjemahan H. Chambert-Loir. 2016. Pangeran Cilik. Cetakan Kelima. Gramedia Pustaka Jaya: Jakarta.

Sumber gambar:

The Little Prince terjemahan Bahasa Inggris oleh Katherine Woods.

 

Ferry Fadillah. Juni, 2016.

 

 

 

 

, , , , , ,

Leave a comment

The Three Metamorphosis: Interpretasi Sederhana atas Wacana Zarathustra

Ini merupakan kali pertama saya mengenal Friedrich Nietzche melalui karyanya Also Sprach Zarathustra yang diterjemahkan dengan kurang baik ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Thus Spoke Zarathustra oleh H.B. Jassin, Ari Wijaya,dan Hartono Hadikusumo melalui Penerbit Narasi. Oleh karena kekurangan terjemahan itu maka saya harus membandingkan karya itu dengan terjemahan Bahasa Inggris yang ditulis oleh Bill Chapko sekaligus menandai kata yang ambigu di beberapa paragraf dan membuat terjemahan amatiran pada sisi kiri dan kanan buku.

 Secara umum buku ini berbicara mengenai teori Ubermensch yang diterjemahkan menjadi Manusia Unggul, superman, atau overman; sebuah istilah bagi manusia yang sudah melampaui manusia rata-rata. Teori mengenai Manusia Unggul ini banyak dibahas dalam Prolog dalam bentuk metaforis yang membingungkan. Pada intinya konsep Manusia Unggul menandakan sebuah kondisi dimana manusia memiliki kehendak bebas atas dirinya sendiri, menciptakan nilai-nilainya sendiri, tidak terikat konstruksi moral tertentu dan memiliki kreativitas tanpa batas.

Dalam ceramah pertama Zarathustra yang berjudul The Three Metamorphosis, Nietzche memberikan tahap-tahap spiritualitas untuk mencapai Manusia Unggul. Dalam wacana itu, dia menceritakannya dalam bentuk alegoris sehingga beberapa pembaca memiliki interpretasi yang beraneka ragam; sebagian melihatnya sebagai transformasi individu, sebagian lagi sebagai transformasi masyarakat. Dalam ulasan ini saya akan membahasnya dari segi individu.

Metamorfosis paling pertama dideskripsikan oleh Nitzhche sebagai seekor unta yang dituliskannya sebagai berikut:

“Apakah berat? Demikianlah bertanya si roh pemanggul beban demikianlah ia berlutut bagai unta, ingin dipunggah beban sepantasnya. Apakah hal yang paling berat, hai pahlawan, demikianlah bertanya si roh pemanggul beban (the spirit that would bear much), sehingga aku boleh memanggulnya dan bergembira dengan kekuatanku?”

Setelah kalimat ini Nietzche menjelaskan hal-hal yang dianggap berat oleh ruh tersebut. Salah satunya tergambarkan dalam ucapan ini:

“Ataukah hal ini: mencintai mereka yang memusuhi kita dan mengulurkan tangan kita kepada sang hantu ketika ia akan menakuti kita?”

Fase menjadi unta menandakan ketertundukan kepada aturan, norma, agama dan konstruksi eksternal yang menentukan cara pandang manusia. Hal ini dimetaforakan menjadi ruh yang berlutut seperti unta. Selain itu untuk mencapai dua tahap selanjutnya ruh harus merasakan derita, kegamangan, penderitaan, pengasingan agar memiliki kesiapan mental memasuki tahap selanjutnya.

Sang Unta kemudian berjalan sendiri menuju gurunnya sendiri. Sebuah fase yang menandakan kesadaran bahwa dengan penderitaan dalam hidup yang  dipanggulnya telah membedakannya dari manusia lain. Dalam kesendirian itu ia mempertanyakan segalanya: agama, norma, budaya, dan kesusilaan. Pada fase ini ia mendapati bahwa tidak ada kebenaran universal dan kebajikan adalah omong kosong. Biasanya dalam kondisi ini manusia merasakan bahwa hidupnya tidak memiliki makna dan memilih satu di antara dua jalan: bunuh diri atau menciptakan nilai/maknanya sendiri. Untuk menjadi Manusia Unggul ia harus menciptakan maknanya sendiri dan masuk ke fase berikutnya.

“Tetapi di gurun yang paling sunyi terjadi metamorphosis yang kedua: roh menjadi singa, ia ingin merdeka dan menjadi tuan di gurunnya sendiri. Ia mencari tuannya yang terakhir: ia akan melawannya dan Tuhan terakhirnya; untuk kemenangan yang akbar dia akan melawan Si Naga Besar. Siapakah Si Naga Besar yang tak lagi hendak dipanggil Tuan dan Tuhan ? “Engkau Harus (Thou shalt)” adalah nama Si Naga Besar. Tetapi roh si Singa berkata “Aku Hendak (I will)”

Dalam paragraf ini Nietzhe berusaha untuk mempertentangkan ruh Singa yang identik dengan sifat marah, liar, dan berani dengan Si Naga Besar yang menamai dirinya “Engkau Harus”. Pertentangan ini juga menandakan bahwa ruh pada fase kedua harus berani untuk menolak semua kebenaran universal (agama, budaya dsb) yang berusaha dicangkokan pihak eksternal untuk membentuk dirirnya. Untuk menolak ini tentu ruh tidak bisa berwujud menjadi unta yang penurut tapi harus menjelama menjadi singa yang berani. Setelah semua penolakan atas konstruk eksternal, ruh harus membuat nilai-nilainya sendiri –hal ini kemudian disebut dengan nihilisme.

Fase terakhir adalah menjadi anak-anak (child) karena:

“Si anak itu lugu dan pelupa, suatu awal baru, sebuah permainan, roda yang berputar sendiri suatu gerak pertama dan suatu “Ya” yang suci”

Mungkin Nietzche menyarankan agar ruh dalam wujud singa untuk melupakan fase-fase sebelumnya; seperti anak-anak yang polos dan ceria. Melupakan dalam artian tetap menjaga rasa penasaran dan pertanyaan kritis atas segala sesuatu sehingga temuan-temuan nilai baru dapat dilakukan melalui tahap-tahap metamorphosis. Pada fase inilah Manusia Unggul itu tercapai saat ruh mencapai kebebasan dan memiliki makna yang terbebas dari konstruksi eksternal.

Pertanyaan selanjutnya adalah apabila moralitas dikembalikan kepada subjeknya (nihilis) bagaimana menentukan suatu perbuatan itu salah atau benar (seperti pembunuhan, pemerkosaan dsb)? Sepertinya untuk memahami ini penulis harus banyak membaca lagi karya Nietzche lainnya.

Sekian.

Ferry Fadillah. Juni, 2016.

, , , ,

Leave a comment

Dangkal

Dia datang tepat pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Setelah melakukan registrasi elektronik di mesin absensi, ia melangkah santai menuju kantin, memesan segelas kopi dan gorengan hangat di piring kecil. Orang-orang belum berdatangan ke kantor. Hanya ada dia dan cleaning service  yang bersungut membersihkan debu di atas lemari arsip. Ia tidak peduli dengan para pesuruh itu. Sambil menyeruput secangkir kopi Toraja ia menyalakan personal computer dan mendengarkan gamelan Bali yang mengalun mistis. Ia memejamkan mata sejenak. Menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Saat membuka mata, wajahnya berseri. Ia buka ransel hadiah pelatihan komputer di Bandung tempo lalu, sebuah buku merah setebal 600 halaman dengan potret Tan Malaka berjudul “Materialisme, Dialektika dan Logika” siap untuk dibaca.

Dia sangat suka membaca, membaca apapun.  Majalah Menara Pengawal yang dibagikan Jemaat Saksi Yehowah yang diterimanya dipinggir jalan saat senja di ibu kota ditelannya habis. Jurnal kebudayaan yang diunduh dari laman sebuah situs universitas ternama luar negeri  ia lumat perlahan-lahan. Buku filsafar dari era Plato hingga Amartya Sen ia telaah dengan teliti. Bahkan tanda merek yang terdapat pada baju yang berisi informasi negara pembuat, bahan dan cara perawatan tidak luput dari matanya. Ia suka membaca apapun. Kali ini di kantor ia kembali melanjutkan membaca “Madilog” yang sempat tertunda karena padatnya pekerjaan.

Sambil mengarahkan telunjuk ke arah kalimat pada buku, ia membaca lirih, “Buat Hegel absolute idea ialah, yang membikin benda Realitat. Die Absolute Ide Macht die Gesichte….”

Ia menghentikan bacaannya. Dahinya berkernyit. Kedua jarinya memegang pelipis dengan tekanan yang kuat, ”Istilah apa itu?”

Tidak mau kalah sebelum bejuang, ia melanjutkan bacaan, “Absolute idea yang membikin sejarah, histori, dan membayang pada filsafat. Bukan filsafat yang membikin sejarah, katanya melainkan absolute idea “deren nachdrucklichen ausdruck. Die pilosohie ist”, yang tergambar nyata pada….

“Hei, Lif! Ngapain kok serius banget. Pagi bener dah datang ke kantor kaya anak kuliahan.” tegur teman satu kantornya menghentikan bacaannya.

“Emang gue biasa datang cepet kok,”  jawabnya datar tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang ia pegang.

Ah sombong lu, diajak ngomong nengok aja kaga!” balas kawannya kesal.

Alif menoleh kemudian memberi senyum sinis. Sebenarnya dia tidak seketus itu. Kali pertama bertemu dengan kawannya, ia menunjukan sikap persahabatan yang tulus. Percakapan bisa terjalin berjam-jam, kapan pun dan dimana pun. Tapi ini tahun ke tiga mereka bekerja di sana. Waktu yang cukup lama bagi seorang pegawai di tempat yang sama. Dia mulai muak dengan semua perbincangan. Menurutnya, tidak hanya kawannya itu tapi semua orang di kantor itu adalah pecinta kedangkalan. Mereka lebih suka membicarakan besaran gaji, kenaikan gaji, tunjangan tambahan, uang pensiun, biaya perjalanan dinas, uang lembur, cicilan mobil, uang muka rumah, botol arak, wanita penghibur, pernikahan, istri, atau tentang anaknya yang kebetulan baru bisa berjalan walau tertatih. Dia muak dengan semua itu. Muak. Ia rindu perbincangan filosofis. Ia rindu dengan percakapan tentang hidup, kematian, jiwa, keadilan, cinta, hukum, politik, ekonomi dan pengalaman ruhiyah semasa kuliah. Ia rindu bercakap berjam-jam sambil merenungkan berbagai hal di dunia. Ia rindu berbicang imajinatif dengan Aristoteles hingga Sigmund Freud tentang segalanya. Ia rindu itu semua. Momen itulah yang membuatnya selalu tampak ceria dan antusias. Tapi kantor ini dan orang-orangnya hanya menyuguhkan kedangkalan dan kebanalan,. Sejak itulah hidupnya murung dan ia jarang terlibat dalam percakapan.

Waktu menunjukan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Ruangan sempit bersekat itu sudah dipenuhi pegawai yang berpakaian necis. Karena pekerjaan belum terlalu banyak, mereka berkumpul di dekat mejanya dan terlibat dalam gelak tawa yang memekakan telinga. Dalam keriangan itu, Alif tetap dalam posisinya semula, tertunduk membaca buku.

Dia kembali membaca di dalam hati, “Madilog  bukanlah barang yang baru dan bukanlah….”

“Lif, ngapain sih lu. Sini gabung kita. Sombong dah!

Tanpa menoleh, ia meneruskan membaca, “…bukanlah barang yang baru dan bukanlah buah pikiran saya. Madilog adalah pusaka yang saya terima dari…”

Lu denger kaga? Cieee.. yang berasa paling pinter sekantor. Serius amat bacanya.. hahaha..”

Mendengar itu mukanya merah. Ia kehilangan fokus. Baginya deretan tulisan pada buku hanyalah penampakan tanpa arti. Pandangannya berputar dari kata ke kalimat, dari kalimat ke paragraf. Ia lupa dengan apa yang sudah dibacanya. Seketika juga otaknya berdenyut keras. Namun ia tetap dalam posisinya semula, tertunduk seolah-olah membaca.

Lif! Sini lu mah kok kaya kurang pergaulan gitu!”  salah satu kawannya menghampiri meja Alif. Mengangkat buku “Madilog” yang agung itu. Melihatnya terheran-heran kemudian melemparkannya ke meja sebelah namun terjatuh dan mendarat beberapa cm dari tempat sampah.

“Bangsat!” maki Alif.

Emosinya memuncak. Ia tahu amarahnya bisa menyulut konflik berkepanjangan. Tapi ia tidak rela waktu senggang yang biasa ia gunakan untuk membaca itu kini harus terampas. Pulang kerja pukul enam sore ia harus berjibaku dengan macetnya jalan ibu kota. Perjalan berpeluh keringat dengan motor bebek tahun dua ribuan itu mengantarnya sampai ke Tangerang Selatan pukul delapan malam. Setelah itu ia harus membersihkan tai anjing tetangga yang kerap mejeng  di teras rumah. Belum lagi membersihkan sisa bocor akibat hujan badai seminggu berturut-turut. Setelah itu minatnya untuk membaca pasti ambruk. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur dan menanti alarem handphone Oppo edisi selfie berdering di samping telinganya. Esoknya ia harus kerja lagi. Dan melakukan hal yang sama berulang. Maka sebuah waktu senggang untuk membaca buku adalah momen berharga baginya.

“Apa lu bilang?”

“Bangsat. Anjing. Babi. Ambil buku itu, njing!”

Tanpa banyak pikir kawannya melayangkan tinju ke arah hidung Alif. Namun, ia tidak mengelak. Tiga tahun ia habiskan untuk belajar Tae Kwon Do. Satu tahun Merpati Putih. Tiga bulan Kungfu Wing Chun. Ia melangkah dengan anggun, menyambut pukulan itu dengan tangan terbuka, mencengkeramnya dan menariknya ke arah telinga kiri sambil menyerang dengan sikut ke arah hidung lawan. Darah bercucuran di karpet. Semua orang terpengarah. Tapi ada senyum puas pada wajah Alif.

Ferry Fadillah. Juni, 2016.

, , , ,

Leave a comment

Ibu

People are asleep and when they die, they awaken

Hadith of the Prophet Muhammad

Know that you are imagination, and all that you perceive

And about which yous say “that’s not me”, is imagination.

So the whole existence is imagination within imagination

Ibn Arabi

 

 “Ah! Aku paling nggak suka kalau kamu terus suruh aku salat,” bentakku sambil memuntahkan kepalan ke lemari baju.

Dialah Aminah, ibu kandungku, yang selalu cerewet menyuruhku untuk salat, puasa dan segala ritus pra-ilmiah lainnya. Biasanya aku hanya berkata “ya” setiap ia mulai berceramah, sialnya kini aku sedang mendapat banyak masalah. Bentakan ini adalah puncak kekesalan itu.

“Alif…,” panggilnya lirih dengan air mata menetes, “Salat itu kewajiban, kalau kamu nggak salat apa bedanya kamu sama orang kafir. Allah perintahkan itu semua lewat Al-Quran. Kitab ini surat cinta dari Allah bagi manusia. Ibu nggak mau kamu nanti dapat adzab karena menyepelekan salat. Salat ya, Nak. Salat..”

Aku muntab dibuatnya. Aku tahu ia ibuku. Guru sekolah dasarku mengajariku untuk hormat dan berbakti padanya. Tapi hari ini.. Ah.. persetan!

“Udah ibu nggak usah ngurusin hidup Alif. Mau Alif salat, pindah agama, atau nggak percaya sama Al-Quran itu urusan Alif! Ini hidup Alif! Alif bebas untuk milih, Bu!” bentakku kasar sambil menunjuk tepat ke hidung ibuku.

Tanpa berbicara ibuku meninggalkan kamar. Jilbabnya basah oleh air mata. Setelah kepergiannya aku merasakan sesal menyeruak di dalam hati. Buru-buru aku menampiknya, “Kau benar Alif, kau benar.”

***

 Aku berjalan di sebuah hutan pinus. Sekitarku hampir semuanya berwarna merah. Di langit tidak ada satu pun bintang menggantung. Bahkan di waktu yang tidak jelas pukul berapa ini, tidak ada suara binatang apapun. Entah itu jangkrik atau nyamuk liar yang mencari darah.

Dari kejauhan aku melihat sebuah gubuk tua tidak terawat. Sebuah bangunan gaya kolonial dengan cat putih dan sulur yang menjalar menutupi tiang dan atap merahnya.

Ketika akan melangkahkan kaki ke gubuk itu, aku melihat sosok ibu. Samar. Tersembunyi dalam gelap dan pekat hutan yang berwarna darah. Ia berjalan cepat menuju gubuk yang sama.

“Ibu! Ibu mau kemana! Tunggu Alif, Ibu!”

Panggilanku tidak menghentikan langkah kakinya, bahkan ia semakin cepat meninggalkanku jauh dibelakang.

“Ibu tunggu Alif, Ibu. Tunggu…” jeritku semakin parau di tengah segala kebingungan.

Akhirnya aku sampai di gubuk itu. Nafasku terengah-engah. Aku mendapati sosok ibu duduk di sebuah meja usang dengan gelas dan piring di depannya. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Jilbabnya yang kusam dan kepalanya yang tertunduk membuatku bertanya-tanya, “benarkah ini ibuku?”

“Duduk.” serunya datar.

Aku mematuhi perintahnya. Kugeser kursi reyot itu. Sambil mengambil posisi duduk aku pandang lekat sosok ibu di hadapanku. Aku mulai ragu, apakah dia ibuku? Tapi kemudian aku mulai memberanikan diri untuk bertanya.

“Kita ada dimana, Bu? Kenapa ibu begitu pucat, kenapa ibu tidak kembali saat Alif panggil?”

Sosok ibuku terdiam lama. Aku mengulang pertanyaan yang sama namun ia tetap bergeming. Tidak ada angin, tidak ada suara nafas, tidak ada percakapan. Penantian ini adalah siksaan terberat dalam hidupku.

Tiba-tiba saja sosok ibu membuka percakapan.

“Ibu? Hahahaha.. Aku bukan ibumu. Aku bukan ibumu. Tidakah kau mengenal ibumu? Bukankah kau yang dilahirkannya, disapihnya, diberinya pengetahuan, didoakannya, tapi kau tidak mengenal ibumu. Hahahaha..”

Setelah tawa itu lepas ia terdiam. Kembali kepada sikap angker semula. Perlahan ia mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke arah kiri. Sontak mataku mengikuti arah telunjuknya. Sebuah kamar besar dengan pintu lebar. Di tengahnya ada kasur dengan kelambu nyamuk yang sudah berdebu. Sebuah lilin yang sudah tinggal seperempat adalah satu-satunya alat bantu penerangan. Dalam samar aku melihat sosok tubuh yang terbujur kaku.

“Siapa dia?”

“Kau lihat sendiri”, senyumnya terlihat ganjil.

Aku beranjak dari kursiku. Berjalan perlahan ke arah kasur itu. Di pintu kamar aku berusaha membersihkan sarang laba-laba yang menutupi jalan masuk. Saat berada di dalam kamar aku terkejut. Tiba-tiba dinding-dinding kamar berubah menjadi padang rumput yang luas.

Astagfirullah. Kemana rumah tadi. Aku ini dimana?”

Saat aku berbalik, aku tidak lagi melihat sosok wanita misterius tadi. Sepanjang mata hanyalah padang stepa tanpa ujung. Pada momen itu hanya ada aku dan sosok terbujur kaku di dalam kasur di tengah ruang waktu yang bahkan tidak aku pahami.

Di antara kengerian dan kebingungan itu aku lanjutkan perjalanan menuju kasur. Walaupun terlihat dekat namun langkah-langkahku terasa berat seperti tertahan oleh tangan-tangan imajiner.

Aku membuka kelambu itu sambil terbatuk-batuk. Debu masuk ke dalam hidung dan mataku. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Aku gosok mataku perlahan. Saat mataku jernih kembali, aku bisa jelas melihat tubuh itu. Aku terkejut. Bingung. Hampa.

“Ibu..! Ibu kenapa.. Ibu jangan ninggalin Alif. Ibu maafin Alif.. Ibuuu!”

Itu ibuku. Itu ibuku yang terbujur kaku. Wajahnya pucat. Ia tidak bernapas. Ia mati pikirku.

Ia mati dan aku sendiri.

***

“Suster! Ambil cepat alat kejut jantung!”

“Baik, dokter!”

Tubuh itu tidak berdaya. Luka bakar tampak memenuhi sekujur tubuhnya. Wajahnya rusak. Bentuknya sudah tidak lagi dikenali.

“Satu.. Dua.. Tiga..!”

Tubuh itu terangkat beberapa senti dari kasur. Tangannya bergerak tidak beraturan. Namun mesin di sebelah kepalanya belum menandakan adanya tanda kehidupan.

“Tambah lagi daya listriknya, Suster!”

“Satu.. Dua.. Tiga..!”

Tiba-tiba saja aku merasa tertarik dari semburat cahaya warna-wani yang tidak beraturan. Aku melihat fragmen-fragmen samar ingatan yang berkelibatan seperti film: rumah tua, wanita misterius, hutan pinus merah, padang luas dan ibuku yang terbujur kaku. Kesadaran mulai masuk ke dalam tubuhku. Perlahan-lahan aku membuka mata.

“Siapa kalian? Aku dimana? Dimana ibuku?”

“Tenang, Dek. Kamu belum sehat. Tidak perlu bertanya dulu.”

“Tolong Dok jelaskan semuanya, dimana aku, dimana ibuku?”

Dokter itu terdiam.

“Dok kenapa diam saja.. dimana aku? Dimana ibuku?”

Aku terus bertanya. Memaksa. Merajuk sambil meraung-raung.

“Dok kenapa diam saja.. dimana aku? Dimana ibuku?”

“Ibumu? Bukankah ibumu mati. Hahahaaha..”

Aku terkejut kenapa dokter itu tertawa memberitakan kematian ibuku. Sialnya ia terus tertawa sambil memperlihatkan gigi serinya yang berjarak. Ia terus tertawa sambil memegang perut dan menahan derai air mata. Ia terus tertawa.

Di tengah kebingungan itu, aku mengalihkan pandangan kepada sosok suster di sebelahnya. Ia tidak ikut tertawa dan tampak misterius. Saat aku perhatikan ia malah memalingkan muka. Tapi aku seperti mengenal wajah itu. Wajah yang sudah tidak asing lagi.

“Suster! Kenapa dokter gila ini tertawa. Dimana ibuku? Dimana aku?”

Tiba-tiba kepalanya berbalik tanpa membalikan tubuh. Seperti burung hantu di dahan pohon yang melihat tikus di semak belukar.

“Sudah ku bilang ibumu terbujur kaku di ranjang itu! Hahahaha..”

Aku merinding dibuatnya. Siapa dia? Kenapa semua mentertawakanku. Ruangan itu pecah oleh suara tawa yang lebih menyerupai jerit hantu dikuburan. Aku tidak bisa menerima ini semua. Aku coba duduk. Kucabut infus yang menempel di nadiku. Aku tabrak tubuh dokter itu. Tapi saat akan mencapai pintu, sebuah benda keras menghajar kepalaku. Aku kehilangan keseimbangan. Kemudian semuanya gelap belaka.

***

“Alifff.. Alifff.. bangun, Nak. Ibu sudah siapkan sarapan. Kamu kan sebentar lagi sekolah!”

Aku terbangun mendengar teriakan ibuku dan ketukan di pintu. Tiba-tiba air mata menganak sungai. Aku merasakan kebingungan yang luar biasa dan rindu kepada ibuku, “Ibu? Itu kah ibu?”

Ibu langsung membuka pintu. Saat mendapat anaknya dalam kebingungan ia mendekat. Wajahnya teduh dan menenangkan.

“Alif, kamu kenapa?”

Melihatnya mendekat tubuhku gemetar. Aku tidak lagi bisa berkata apa-apa. Aku langsung bersimpuh dan mencium kaki ibuku. Aku rangkul kaki ibuku sambil menundukan kepala. Tangisku pecah. Aku rindu ibuku. Aku ingin memeluknya dan tidak mau lagi mencelanya. Aku sayang ibuku.

Ibuku tidak berkata apa-apa. Ia melihatku lekat-lekat seperti seorang bocah yang terjatuh saat bermain layangan. Ia mengelus kepalaku perlahan. Aku merasakan kedamaian. Aku tenang. Aku hidup. Aku tercerahkan. Kemudian aku berdoa di dalam hati, “Ya Allah, semoga kenyataan ini bukan sebuah mimpi.”

“Say: Come. I will recite unto you that which your Lord has made a sacred duty for you; that you ascribe nothing as partner unto Him and that you do good to parents…” (Quran 6:151)


Ferry Fadillah, April 2016

tulisan ini pernah dikirim untuk lomba cerpen festival seni budaya Masjid Baitul Mal (2016), STAN, dan memperoleh peringkat ketiga

, , , , , , , ,

Leave a comment