Archive for category SOSBUD

Soal Kematian

Ramai-ramai orang bicara tentang kematian. Biangnya media massa. Hukuman mati yang menjadi putusan akhir kurir narkoba mancanegara itu telah beranak pinak menjadi perbincangan yang seru, antara pro dan kontra.

Bicara kematian. Saya jadi teringat almarhum kakek, dari jalur Ayah yang tinggal di Ciamis. Waktu itu karena mengalami masalah dengan suhu, beliau memilih tinggal di Surabaya dengan cuaca yang lebih hangat. Tak disangka, di kota pahlawan itu beliau menderita pecah pembuluh darah otak. Segera, maut memeluknya. Ia terdiam kaku, diranjang kecil, di sekitaran Wonocolo.

Orang-orang menangis, termasuk saya. Padahal keberanian dan ketegaran sudah dipersiapkan. Kematian adalah kepastian, batinku. Namun tetap saja, entah reaksi hormon apa dalam tubuh, air mata menganak sungai tidak terbendung.

Kematian menandakan perpisahan. Kematian menandakan tapal batas, antara yang di sini dengan yang liyan. Kematian juga sebagai gerbang menuju keabadian, karena jasad akan menua sedangkan ruh tidak.

Orang Islam percaya, kematian hanyalah masa transisi menuju alam berikutnya. Kelak sesuai amal, manusia akan menuju tempat tinggal terakhir : surga atau neraka. Mungkin, bayang-bayang neraka lah yang kerap menjadi momok dalam menghadapi kematian. Atau, mungkin, alasan-alasan pragmatis, sang mayat adalah tulang punggung keluarga, jika ia pergi bagaimana menghidupi sekian banyak anak, sewa rumah dan bunga hutang yang melilit-lilit. Maka isak tangis itu, lebih menandakan kekhawatiran material dibanding spiritual.

Lantas, perbincangan hangat akan hukuman mati, apakah perbincangan antara pemikiran material atau spiritual? Saya kira pokok perdebatannya bukan di sini, tapi, apakah manusia berhak untuk menentukan ajal seseorang?

Mereka yang kontra berdalih bahwa kematian hanya dapat ditentukan oleh Allah. Sedangkan yang pro berdalih bahwa hukuman mati akan menciptakan efek jera bagi pengedar baru yang akan masuk di tanah air.

Saya pibadi bersebrangan dengan pendapat pertama. Hukuman mati bukanlah barang baru di peradaban ini. Raja-raja Eropa dan Timur Tengah masa lampau menjadikan hukuman mati sebagai tontonan massal untuk memberikan pelajaran; bahwa kejahatan ini atau itu jika dilakukan akan berkonsekuensi kematian.

Narkoba, korupsi, dan tindak kejahatan lain sebenarnya berhulu dari satu hal : lupa akan kematian. Pelaku pikir hidup ini akan lebih panjang lagi sehingga sebelum akhir Allah akan memaafkan segala dosa. Tapi seperti kematian itu sendiri, ia begitu mesteri, kita tidak pernah tahu kapan akan menghadapinya.

Hukuman mati berarti mengingatkan kita -yang baik, yang jahat, maupun yang abu-abu- bahwa kematian itu pasti. Kematian tidak akan menuntut kita untuk menjadi kaya raya. Semua sama di hadapannya. Seorang koruptor uang negara milyaran rupiah dengan vonis 5 tahun, atau seorang kakek miskin pencuri 50 gram merica dengan vonis 2 bulan 25 hari.

Ferry Fadillah. Bintaro, 17 Maret 2015

Advertisements

, , ,

Leave a comment

Dipenogoro

Musuh sengaja mengatur siasat

Untuk menangkap Dipenogoro secara khianat.

Demikianlah berita di tengah rakyat Magelang

Ketika ia di dalam masjid asyik sembahyang.

(Dipenogoro oleh Sitor Situmorang)

***

Pria berperawakan sedang berjubah putih dengan surban besar di atas kepala itu bukan ekstrimist garis keras yang ditakuti dunia kini. Dia putra raja, memilih bersama rakyat, melakukan revolusi, namun, miris, sejarah kelak menulisnya semata melawan karena patok di tanah leluhur belaka.

Rade Mas Antarwirya, begitulah pangeran kecil dipanggil, putra sulung Hamengkubuwono III, Raja Jawa di Yogyakarta1. Seperti Gautama, dia memilih meninggalkan gemerlap dunia istana. Menyendiri dari gua ke gua, belajar agama dari kiai ke kiai. Kebahagian baginya ialah berkumpul dengan santri miskin  dan mendengar penderitaan rakyat.

Dia tanggalkan pakaian Jawa. Menggantinya dengan pakaian Rasul serba putih. Baginya masyarakat jawa adalah masyarakat jahiliyah pra-islam. Seperti tugas rasul saat itu : menyempurnakan akhlak dan menata masyarakat Jawa menjadi Islami adalah tujuan utama.

Alkisah, Belanda semakin kurang ajar. Keraton sudah kehilangan wibawa. Pejabat Jawa lupa akan jati diri. Hedonisme dan pesta pora menjadi Tuhan baru. Tidak tanggung-tanggung, rakyat dibebani pajak-pajak yang tidak masuk akal. Bagi pejabat Jawa di keraton, menyenangkan hati kafir belanda adalah lebih penting dari nyawa rakyatnya sendiri.

Amarah memasuki jiwa Dipenogoro. Dia kumpulkan rakyat yang akan berjuang bersamanya. Para pejabat keraton yang memihak rakyat, dan petarung-petarung tangguh seantero  Jawa. Bagi Dipenogoro, haram baginya meniru-niru kafir belanda. Dia tiru model organisasi Jannisari dari Turki Ustamani sana. Pangkat militer tertinggi digelari Alibasah, membawahi pasukan infanteri dan kavaleri.

Rakyat dari desa ke desa semakin banyak mendukung perjuangan Dipenogoro. Bagi mereka ini bukan perjuangan menuntut keadilan, sandang, pangan belaka, namun perang sabil di jalan yang suci.

Kejam. Belanda tidak mau ambil pusing. Mereka bakar setiap desa yang mendukung Sang Pangeran. Ternak dan beras dijarah, penduduk tidak bedosa dibunuh. Namun, rakyat tidak pernah kehilangan nyali.

Sebagian besar wilayah kerajaan berhasil diduduki. Sayang, beberapa pasukan membelot. Lelah dengan perang bertahun-tahun, tergiur akan harta dan tahta. Namun, Dipenogoro tidak gentar. Pabrik-pabrik mesiu dibangun, perang gerilya terus dilancarkan. Benteng-benteng Belanda kewalahan menghadapi perlawanan mujahid. Mereka takjub : pasukan Dipenogoro bisa bertahan dengan logistik seadanya.

Perang terus menelan korban. Belanda semakin beringas, pasukan mujahid Dipenogoro tidak mau menyerah. Baginya, ini perang suci, nyawa hanya titipan Tuhan. Jika perang ini berhasil, sistem kerajaan Jawa akan dihapuskannya. Diganti dengan Kekhalifahan di Tanah Jawa. Dengan harap berkah dan makmur meliputi negeri  yang subur permai.

Bagi rakyat, perang menimbulkan penderitaan lahir batin. Bagi belanda, perang ini memakan biaya yang tidak sedikit. Genjatan senjata dimulai. Gegap gempita seantero negeri Jawa. Rakyat bisa kembali istirahat dengan tenang.

Penyerahan Pangeran Diponegoro (di kotak kiri) kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock (di kotak kanan) tanggal 28 Maret 1830 yang mengakhiri Perang Diponegoro (1825-1830).

Penyerahan Pangeran Diponegoro (di kotak kiri) kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock (di kotak kanan) tanggal 28 Maret 1830 yang mengakhiri Perang Diponegoro (1825-1830).

Bukan Belanda jika tidak licik. Dipenogoro diajak berunding, namun pasukan pribadinya dilucuti. Dipenogoro ditahan semena-mena. Babad berkisah 2:

Bab ing aprang kabeh sun kang luput yekti (mengenai perang, semua itu saya yang bersalah)

Kabeh apan darma (semua itu darma)

Anglakoni prentah mami (melaksanakan perintah saya)

Prang iki satanah jawa (perang di seluruh tanah Jawa)

Itulah keluhuran budinya, tidak ingin rakyat Jawa di bantai Belanda, maka semua kesalahan perang disematkan kepadanya

Kini, Dipenogoro dikenal sebagai pahlawan nasional. Pelajar se-Indonesia hapal betul tanggal lahir dan kapan terjadinya perang itu. Sayang, Negeri Islam yang dulu dicita-citakannya kini dicibir, oleh bangsanya sendiri.

Ferry Fadillah, 25 Januari 2014

Catatan :

  1. id.wikipedia.org
  2. Saleh As’ad Djamhari, Strategi Menjinakan Dipenogoro : Stesel Benteng 1827-1830, Komunitas Bambu, Depok, 2014, hal. 180

, , , ,

Leave a comment

Run (baca : lari)

Saya bukan seorang kritikus apalagi mahaguru. Namun, perkembangan budaya akhir-akhir ini, khususnya di kalangan muda-mudi, memancing saya untuk membahasnya.

Color Run. Light Run. Night Run. Seolah-olah menggambarkan jenis kegiatan yang berbeda-beda, padahal semua berada dalam satu rumpun yang sama yakni run (lari;Indonesia). Yang membedakan antara satu dan yang lain bukanlah atas kehendak run itu sendiri tapi manusia sebagai creator yang memang tidak memiliki rasa puas sejak Adam di kahyangan sana.

Manusia ditempatkan dalam Kingdom Animalia bukan tanpa alasan. Tipis. Manusia tanpa pikir, maka binatanglah ia. Begitu juga sebaliknya, binatang dengan pikir, maka manusialah ia. Dan yang mempertautkan antara manusia dengan binatang adalah libido atau hasrat (desire). Manusia dan Binatang memiliki hal yang sama.

Mula-mula ketika mood jelek, muda-mudi berpikir untuk mengkonsumsi coklat untuk menghilang penat. Kemudian, coklat tidak lagi memiliki efek. Ketika rasa gusar itu kembali datang, mungkin, ia akan mengkonsumsi ice cream mahal di mall terdekat. Sayang, ice cream itu lagi-lagi tidak memiliki efek. Maka, mereka akan terus mencari pemenuhan hasratnya. Makan di restoran mahal, belanja membabi buta, bercumbu dengan kekasih atau berganti-ganti pasangan sampai libido itu terpenuhi, padahal tidak mungkin terpenuhi.

***

Run, bisa dikategorikan sebagai meme yang menurut Mihaly Csikszentmihalyi, di dalam The Evolving Self : A Psycology for the Third Millenium, menggunakan istilah ini untuk menjelaskan unit informasi kultural, yang merupakan padanan dari istilah gen (gene). Istilah meme berkaitan dengan kata Yunani mimesis, yang berarti meniru. Meme adalah semacam pesan kultural yang berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui contoh-contoh dan imitasi1

Run sebagai meme pun demikian. Melalui dunia nyata yang dilipat dalam bit-bit televise dan media online, Run mengalami salinan (replica), kembaran (doubles), duplikat, ikonisme atau keserupaan (similitude). Sehingga kita bisa saksikan, perkembangannya yang memikat padahal hanya berkutat di masalah olaharaga belaka : lari.

Manusia sebagai puncak rantai makanan memang dikaruniai libido. Saya tidak pernah menyarankan siapa pun untuk menghilangkan libido itu seperti petapa yang mencari moksa di pedalaman hutan Kambodja. Masalah timbul ketika konsep masyarakat tontonan (Society of Spectacle) diperkenalkan . Yakni, masyarakat yang hampir segala kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan, dan menjadikannya sebagai rujukan nilai dan tujuan hidup. Pasif. Dikendalikan oleh media.

Libido. Meme. Society of Spectacle Semua muncul dalam ruang perbincangan budaya. Pertanyaanya bukanlah masalah mana yang baik-buruk, transenden-imanen, luhur-rendah, tapi sejauh mana peran kita sebagai muda-mudi. Penerus kehidupan di masa yang akan datang.

Terpengaruh oleh suatu meme kemudian dengan libido melakukan salinan atau kembaran dan meng-amin-kan diri sebagai masyarakat tontonan. Pasif. Tanpa perlawanan, tanpa daya cipta. Atau, menciptakan meme, membuat orang mempunyai libido untuk meneruskan pesan itu dan mengendalikan mereka sebagai masyarakat tontonan.

Ferry Fadillah

Note :

1. Yasraf A. Piliang, Semiotika dan Hiper Semiotika : Kode, Gaya dan Matinya Makna, Matahari, Bandung, 2012, hlm. 382

, , , , , ,

4 Comments

Matinya Intelektualitas

Aku memberi kesaksian,

Bahwa di dalam peradaban pejabat dan pegawai

Filsafat mati

Dan penghayatan kenyatataan dikekang

Diganti dengan bimbingan dan pedoman resmi.

Kepatuhan diutamakan,

Kesangsian dianggap durhaka.

Dan pertanyaan-pertanyaan

Dianggap pembangkangan.

Pembodohan bangsa akan terjadi

Karena nalar dicurigai dan diawasi.

Penggalan Syair W.S. Rendra berjudul Kesaksian Mastodon-Mastodon (1973)

***

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dipuja-puja, disanjung-sanjung, dieluk-elukan, kata orang, sekolah ini sekolah favorit, sekolah papan atas, incaran para lulusan sekolah menengah atas. Tunggu dulu? Apa yang mereka cari dari sekolah ini?

Jelas. Tujuan material adalah tujuan mereka. Sebab, konsekuensi lulus dari dari STAN adalah diangkatnya menjadi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan. Nasib mereka akan berubah. Tingkat pengangguran di Indonesia akan berkurang. Dan tentu bertambah juga kelas menengah  se-antero Indonesia. Masalahnya adalah, apakah lulusan STAN telah benar-benar insyaf akan dirinya sendiri dan kelak untuk siapa mereka bekerja (baca : berjuang)? Kita harus tilik kembali ke dalam kehidupan kampus dibilangan bintaro ini.

Matinya Intelektualitas

Sekolah para akuntan, pemungut pajak, penilai dan ekonom ini menawarkan subjek-subjek ilmu pengetahuan yang menarik. Ekonomi Mikro, Ekonomi Makro, Akuntansi, Ilmu Hukum, Keuangan Publik, Hukum Keuangan Negara dan puluhan ilmu pengetahuan lain yang berbeda di setiap prodi.

Saya yakin, semua Mahasiswa, berlomba-lomba untuk memahami itu semua. Mereka akan belajar keras menjelang ujian, berusaha untuk menghapal semua slide yang diberikan oleh dosen di kelas. Sayang, saya sempat kecewa –mohon maaf- ketika melontarkan kritik atas cara penyampaian seorang dosen ekonomi dihadapan teman sekelas. “Sudah, cara dosen menyampaikan materi tidak perlu digubris, yang penting dia baik memberi nilai”, celoteh seorang teman.

Miris. Apakah ini cara berpikir semua mahasiswa STAN? Saya harap hanya satu dua orang berpikir seperti ini. Kalau sampai semua anak STAN berpikir seperti ini, maka benar-benar intelektualitas telah mati di kampus yang katanya favorit ini.

Mereka yang Lupa

Saya bukan seorang pakar pendidikan, apalagi professor sebuah perguruan tinggi. Saya hanyalah mahasiswa yang rindu akan hingar bingar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang seharusnya mencetak mahasiswa menjadi kritis, progresif dan revolusioiner.

Mahasiswa kelak selalu mempertanyakan status quo. Mengapa ini seperti ini? Mengapa tidak seharusnya seperti itu? Pertanyaan yang berulang atas segala sesuatu yang orang awam anggap sebagai kewajaran adalah perlu untuk menciptakan inovasi-inovasi, perubahan dunia menuju kemapanan di segala bidang.

Ketika ilmu pengetahuan hanya dihapal kemudian dijadikan capital memperoleh ijazah agar kelak bekerja tenang di lingkungan pemerintahan, maka sesungguhnya mahasiswa telah melacurkan intelektualitas mereka sendiri.

Pola pikir pragmatis seperti ini hanya akan melahirkan birokrat muda yang sibuk mengisi kantongnya dengan pundi-pundi gaji. Mereka malas berpikir, yang terpenting adalah mengikuti instruksi atasan dan bermuka  manis atas setiap perintah dengan harapan pengharggaan berupa : kedudukan.

Saat ini semua terjadi, mahasiswa yang telah menjadi birokrat muda itu telah lupa bahwa mereka adalah bagian dari rakyat. Rakyat yang kesusahan setiap hari karena harus ditindih oleh kebijakan pemerintah yang mengakibatkan kemiskinan struktural. Rakyat yang terus meratap dan berdoa kemudian dinina bobokan dengan janji pahala kesabaran dan imbalan surga yang kemudian lupa untuk menuntuk hak-hak mereka atas hidup dan penghidupan.

Menjadi Intelektual

Intelektualitas berarti kita insyaf bahwa semua ilmu pengetahuan yang kita pelajari di bangku kuliah adalah untuk memperkuat daya kritis kita dan mensejahterakan mereka yang marjinal. Leon Trotsky pernah berkata, “The intellectual wants to rise above capitalist mental oppression, the academics are capitalist mental oppression”

Maka yang kita perlukan agar tetap berpihak kepada rakyat adalah mejadi seorang intelektual. Menjadikan ilmu pengetahuan yang kita dalami di kampus sebagai amunisi yang kelak membebaskan tetangga kita, orang satu daerah dengan kita, rakyat di tempat penempatan kelak, merdeka semerdek-merdekanya dengan membuka mata mereka akan hak-hak mereka dihadapan para penguasa.

Ketika filsafat hidup, dan penghayatan akan kenyataan dibebaskan, saya yakin mahasiswa STAN yang kelak menjadi birokrat muda, yang tersebar seantero Nusantara, yang jumlahnya beribu-ribu itu, dengan tegas dan gagah akan mengatakan tidak atas segala kelaliman siapapun juga.Ingat : Vox Populi Vox ‘Dei’!

Ferry Fadillah, dimuat dalam Warta Kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Edisi 27, Januari 2015.

, , , ,

Leave a comment

Refleksi Budaya Birokrat

Aku memberi kesaksian,

bahwa di dalam peradaban pejabat dan pegawai

Filsafat mati

dan penghayatan kenyataan dikekang

diganti dengan bimbingan dan pedoman resmi.

Kepatuhan diutamakan,

kesangsian dianggap durhaka.

Dan pertanyaan-pertanyaan

dianggap pembangkangan.

Pembodohan bangsa akan terjadi

karena nalar dicurigai dan diawasi.

 (W.S. Rendra dalam Kesaksian Tentang Mastodon-Mastodon. Jakarta, November 1973)

             Apakah yang melatarbelakangi sang “Burung Merak”, W.S. Rendra menulis puisi di atas pada tahun 1973? Apakah pada saat  itu peradaban pejabat dan pegawai, kemudian saya generalisasi sebagai birokrat, di negeri ini sedang dalam titik kritis : menuju kematian filsafat ? Apakah pada saat ini peradaban para birokrat sudah lebih baik atau malah menuju titik kehancuran?

 Refleksi Budaya Birokrat

            Pertanyaan-pertanyaan di atas selalu berputar di dalam otak saya. Apalagi, secara nyata-nyata, saya adalah bagian dari birokrasi itu sendiri.

            Sebagai birokrat, saya tidak asing mendengar eselonisasi, strukturisasi, hierarki, petunjuk pelaksanaan dan istilah formal lainnya. Dari semua istilah itu dapat dibayangkan bahwa kebudayaan/peradaban birokrat bersifat kaku, instruksi top-bottom, loyalitas dinomor satukan dan struktur adalah segala-galanya.

            Seorang Pejabat Eselon II, misalnya, memiliki beberapa bawahan Eselon III, Eselon IV dan Pelaksana. Apabila institusi birokrasi itu menganut sistem semi militer, apa yang dikatakan Pejabat Eselon II harus dilaksanakan oleh Pejabat dan Pelaksana di bawahnya. Tanpa kritik bahkan cela. Maka tidak jarang kita melihat tingkah laku para Pejabat yang menyebalkan orang awam dan merepotkan anak buahnya. Akhirnya, mereka hanya bisa curhat sesama pelaksana atau pejabat selevel tanpa berani mengritik pejabat dengan level di atasnya.

            Membaca kembali puisi W.S. Rendra di atas, kita tahu bahwa birokrat diprioritaskan sebagai orang-orang yang patuh. Misalnya, diadakan Pelatihan Kesamaptaan. Di sana birokrat ditempa dan didoktrin arti pentingnya korsa dan loyalitas. Bagaimana mematuhi perintah dengan cepat dan tepat, bagaimana menunjukan sifat hormat di depan atasan dan bagaimana merasakan penderitaan secara kolektif adalah makanan keseharian Diklat Kesamaptaan. Hasilnya? Birokrat-birokrat yang patuh, tunduk dan enggan untuk berinovasi. Karena, bisa jadi, inovasi, kesangsian, pertanyaan-pertanyaan menandakan pembangkangan.

            Jawaban untuk pembangkangan, seperti yang saya ketahui, adalah ancaman mutasi ke daerah antah berantah, dipindahkan ke bagian lain yang tidak sesuai dengan kompetensinya dan sanksi sosial berupa bullying. Sehingga tidak heran, para pelaksana di tingkat struktur paling rendah hanya bisa sabar dan berdoa ketika mengalami kesewenang-wenangan.

Memulai Titik Perubahan

            Semua kebobrokan itu bermula ketika birokrat berhenti menghidupkan filsafat. Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia yang terdiri dari kata philia (persahabatan, cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Sehingga, secara harafiah filsafat bermakna orang yang mencintai kebijaksanaan.

            Filsafat menekankan kepada cara berpikir kritis, menimbang-nimbang segala sesuatu; benar atau salah, melihat segala permasalahan dari perspektif yang lebih luas, meninggalkan taklid (tunduk buta) terhadap sebuah doktrin, ideologi bahkan agama. Jadi apa yang diharapkan dari hidupnya filsafat dalam kebudayaan birokrasi adalah munculnya birokrat-birokrat yang berjuang di jalan kebenaran, bukan birokrat-birokrat yang membela atasannya, seperti anjing membela tuannya.

            Konsekuensinya, institusi birokrasi harus berani menerima apabila ada salah satu anggotanya melaporkan kebobrokan institusinya kepada media masa ataupun Institusi Pengawasan (KPK, Inspektorat Jenderal dll). Institusi birokrasi harus berlapang dada terhadap itu semua dan berhenti saling melempar tanggung jawab. Berkontemplasi atas segala kesalahan dan mulai melakukan revolusi birokrasi secara radikal.

              Dimulai dari diri kita sendiri yang menghidupkan kembali filsafat di institusi masing-masing, saya kira birokrat-birokrat yang berfilsafat akan mengembalikan coreng muka negeri ini yang sudah kacau di mata media, nasional maupun internasional. Semoga.

Ferry Fadillah. Badung, 24 September 2013.

, , , , , , , ,

Leave a comment

Menuju Progresfitas Masjid Perkantoran

Adzan berkumandang. Masyarakat menghentikan aktivitasnya. Berduyun-duyun  masuk ke Masjid. Mengambil air wudhu, kemudian menghadap Allah dalam gerakan mulia bernama Shalat. Setelah itu, dalam diam, mereka mengingat Allah. Berdoa dalam harap.

Sayangnya, setelah ritual itu selesai, masjid kembali sepi. Pola pikir masyarakat terlalu terpaku bahwa masjid hanyalah tempat sholat belaka. Padahal, jika mengkaji secara sosio-historis, masjid selalu dipenuhi dengan pertemuan ragam pemikiran, ideologi, kepentingan dan pergerakan.

Maksimalisasi Peran Masjid Perkantoran

Umumnya, kantor-kantor pemerintah dan swasta memiliki masjid. Ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius yang selalu menempatkan masjid sebagai bagian penting dalam tata ruang perkantoran. Permasalahannya adalah, apakah masjid sudah menjadi pusat kegiatan dakwah di wilayah perkantoran?

Ada kecenderungan, relijiusitas hanya ditempatkan di dalam masjid, di luar itu relijiusitas selalu kalah dengan materialisme. Sehingga tidak jarang kita melihat pelaku karyawan yang kontradikitif dalam kehidupannya. Di masjid ia begitu sholeh, di luar kantor ia begitu liberal. Yasraf Amir Piliang, seorang sosiolog dan pengkaji cultural studies, melabeli orang seperti ini sebagai pengidap skizofrenia. Term ini merujuk kepada kepribadian yang ganda tidak hanya disebabkan faktor gen akan tetapi lemahnya prinsip yang ia pegang, sehingga ia selalu mengakomodir segala prinsip/isme-isme dalam kehidupannya. Isme-isme itu muncul dalam prilakunya tanpa ada filter dari prinsip utama.

Untuk menghilangkan ini semua, sebenarnya Masjid memiliki peran vital dalam melakukan pendidikan Islam yang kuat. Sehingga prinsip Islam dapat terpatri kuat dalam diri karyawan. Ujungnya, dihasilkan karyawan-karyawan yang Islami tanpa terjangkit gejala Skizofrenia.

Maksimalisasi Peran Takmir Profresif

Progresif memang cenderung digunakan dalam istilah politik. Progresif  memiliki definisi : ke arah kemajuan; berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang. Sehingga Takmir Progresif adalah kader-kader Islam dalam organisasi masjid yang senantiasa gerah dengan kemandekan/konservatisme dan berusaha untuk mengubah kondisi ini menuju keadaan ideal.

Oleh karena itu, takmir masjid harus diupayakan memiliki pengetahuan yang dalam tentang agama juga mengetahui perkembangan dunia yang sudah tidak moderen lagi (filsuf kontemporer mengkategorikan zaman sekarang sebagai post-moderenisme). Takmir masjid harus bisa menangkap isme-isme yang berkembang di daerahnya (kantor dsb) kemudian mengkajinya dari sudut Islam sehingga dihasilkanlah pehamanan jamaah yang lebih islami.

Daripada kita menuding sesat para liberalis, sekularis, feminis, orientalis dan sebagainya. Lebih baik kita mengkaji bahasa mereka, kemudian mewarnainya dengan semangat Islam.

Harapannya, Masjid dengan Ideologi Islam dapat menyatukan Umat Islam yang terkotak-kotak oleh segala Isme. Dan, hal ini perlu didukung oleh pergerakan Takmir Masjid yang progresif.

Ferry Fadillah
Badung, 3 September 2013

, , , , , , ,

Leave a comment

Memahami Feminisme (Feminisms)

Pada awalnya, wanita sebagai subjek maupun objek merupakan topik yang tidak menarik minta saya. Kemudian saya sadar, bahwa kehidupan sosial saya akan selalu dipengaruhi oleh wanita dan pemikiran-pemikiran yang mereka sebarkan secara langsung maupun tidak langsung. Ketika berada di dalam rahim, Ibu saya, yang tentu seorang wanita, dengan sabar memberi asupan gizi, membacakan lantunan ayat-ayat suci, berbisik dengan doa agar kelak saya lahir dengan selamat. Dari Ibu, saya belajar arti dari kesabaran. Ketika sudah lahir, saya diasuh oleh seorang Bidan di daerah Margahayu, Bandung. Bidan yang kesehariannya bekerja tanpa kenal lelah untuk merawat bayi-bayi yang baru lahir ke dunia. Dari Sang Bidan, saya belajar arti pengabdian. Beranjak remaja, saya melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada saat itulah, pertama kali saya mengenal yang namanya cinta, tentu cinta kepada wanita. Dari kekasih, saya belajar makna memahami, menghargai, menyayangi dan mengasihi. Dalam perjalanan hidup, saya menemukan pekerjaan sebagai abdi negara di Pulau Dewata.

Read the rest of this entry »

, , , , ,

Leave a comment

Zinah

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (Al Isra’ : 32)

Saya yakin semua agama dan budaya setuju jika praktik zinah adalah amoral, melawan kodrat sebagai manusia, asusila, bahkan perbuatan satanik yang dapat menjerumuskan kita ke neraka, dunia maupun akhirat. Namun saya yakin banyak masyarakat yang mulai lentur memandang praktik zinah, bahwa zinah adalah hal lumrah, bahkan komersialisasi praktik zinah melalu lembaga bernama lokalisasi tumbuh subur di kota-kota besar di Indonesia. Di antara kita bisa jadi terheran-heran, sayangnya membicarakan hal tersebut dengan nada bercanda, seolah fenomena ini merupakan pertunjukan lawak kolosal!

Di era post-modernisme, yang definisinya pun masih membingungkan, banyak manusia yang memiliki nihilisme nilai. Ini boleh, itu juga boleh. Zinah boleh, engga juga gak apa-apa, yang penting jangan ganggu privasi saya. Kasarnya. Bahayanya adalah semakin banyak generasi muda yang menganut nihilisme nilai ini, sehingga perzinahan seolah merupakan permasalahn individu bukan kolektif. Kalau sudah seperti ini, celakalah mereka yang tidak memiliki nalar kritis, meng-amini saja pandangan sesat ini , bahkan turut bagian dalam praktik zinah. Naudzubillah.

Saya sadar, bahwa saya bukanlah orang suci yang tidak pernah berbuat dosa. Bahkan dengan lugu saya mengaku, saya pun pernah berbuat dosa, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Tetapi untuk masalah yang satu ini –zinah- saya kira permasalahannya lebih kompleks. Ditilik tidak hanya dari sudut pandang Islam saja namun humanisme universal.

Manusia (human) yang diberi rasa dan akal tentu berbeda dengan hewan yang hanya memiliki hasrat. Terdengar klise memang. Namun pembeda yang jelas ini banyak dilupakan orang dengan jutaan pembenaran-pembenaran. Kita manusia lalu untuk apa bertindak tanduk seperti hewan. Hanya hewan yang melakukan hubungan seksual tanpa ritual transenden, bung! Apa iya kita mau disamakan dengan hewan?

Saya tidak mau menuduh mereka yang pro-zinah sebagai antek-antek setan, manusia iblistis atau hewan birahi berjalan. Masalah mereka pro atau kontra lalu menyematkan lema dosa setelahnya bukanlah hak saya sebagai penulis ngawur. Saya hanya ingin curhat bukan menggurui, melabeli apalagi memaki. Di akhir, satu permintaan saya, kepada segenap manusia tercinta dimanapun kalian berada : mari kita menjadi manusia sejati, sebenar-benarnya manusia.

 

Ferry Fadillah
9 Desember 2012

, , , , , , , , ,

Leave a comment

Menjaga Budaya ?

Malam minggu kemarin (1/11), Art Center Kota Denpasar tampak sangat berbeda. Paguyuban Mahasiswa Tanah Pasundan Bali (PAMANAHAN) menyelenggarakan Mini Karnival ke-2 yang bertajuk EUIS : Exicitement in Uniting Indonesia Sparks. Acara tersebut berisi rangkaian pertunjukan seni dari beberapa daerah, pameran fotografi dan pameran kuliner khas Sunda.

Pamanahan yang merupakan organisasi dibawah Badan Musyawarah Masyarakat Sunda (BAMMUS) berhasil mengkonsolidasikan sebuah acara seni budaya yang tidak saja secara ekslusif mempertontonkan keadiluhungan budaya Sunda, tetapi juga budaya-budaya dari daerah lain. Hal ini dapat terlihat dari format acara yang berisi pertunjukan seni dari Lisma Universitas Pasundan, Viking Bali, Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara, Ikatan Keluarga Makassar Indonesia dan Muda Mudi Karo Sirulo.

Menilik acara kesenian serupa di beberapa daerah. Saya percaya bahwa ada bahasa implisit yang berusaha disampaikan oleh penyelenggara. Secara klise kalimat itu selalu saja : demi menjaga budaya kita (budaya daerah/leluhur)

Menjaga Kebudayaan seolah menjadi jargon utama para pegiat budaya, dari lingkungan akademisi maupun umum. Semua yang memiliki hasrat budaya serupa pun biasanya mengekor dan –dalam contoh yang lebih ekstrim- berusaha untuk mengembalikan kedigdayaan budaya leluhur pada zaman moderen.

Apakah hal ini mungkin? Sitok Srengenge dalam esainya yang berjudul “Identitas” pernah berkata : “Karena setiap orang adalah pencipta sekaligus pelaku budaya, padahal setiap orang berbeda dan semua orang berubah; maka kebudayaan sungguh tak bisa dipahami sebagai sesuatu yang pasti, statis, baku apalagi baka”

Jadi konsekuensi logisnya adalah segala daya upaya menjaga budaya, apalagi mewujudkan budaya leluhur yang pure pada zaman moderen adalah kesia-siaan. Perubahan itu pasti dan kita tidak bisa melawannya. Seperti sebuah adagium Sunda : Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman. Yang artinya kurang lebih menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman tanpa tercerabut dari akar budayanya.

Oleh karena itu kata menjaga dan turunannya harus dirubah menjadi merevitalisasi, merekonstruksi bahkan mendekonstruksi agar budaya kembali ke alam aktualitas, tidak tercerabut dari alam aslinya –masa kini. Budaya menjadi lebih aplikatif, berguna bagi kesejahteraan pemiliknya. Budaya menjadi lebih filosofis, berguna bagi pencerahan penikmatnya. Budaya menjadi lebih dinamis, nilainya disesuaikan dengan kaidah-kaidah agama.

Akhir kata, daripada para tetua atau mereka yang melabeli diri penjaga budaya mengkritisi fenomena gangnam style dengan doktrin nasionalisme, sukuisme, atau provinsialisme. Hemat saya,  Biarlah gangnam style melesat dengan pangsa pasarnya sendiri, toh ia juga bagian dari kebudayaan, berasal dari manusia, Anthroposentrisme. Dengan mecekal secara langsung maupun tidak langsung sebuah kebudayaan apa bedanya kita dengan para anggora Lekra (Lembaga Kebudayaan di bawah naungan PKI) yang memasung kebebasan bereskpersi para seniman non-kiri.  Yang harus dan segera kita lakukan adalah memoles budaya daerah kita agar menarik di pasar nasional, regional sampai internasional, tentu tanpa menghilangkan sifat dasar dari budaya itu sendiri.

Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman. Begitulah!

Ferry Fadillah
Denpasar, 2 Desember 2012

, , , , , , , , , ,

1 Comment

Teater

Mencoba sesuatu yang baru merupakan kesenangan yang tak terhingga bagi saya. Apalagi, selama ini , lima kali dalam seminggu, saya selalu melakukan rutinitas membosankan yang saya yakini dapat melumpuhkan daya imajinasi dan kebebasan berpikir.

Oleh karena itu, siang kemarin (24/11), saya berkesempatan untuk menonton kompetisi pertunjukan teater di Gedung Dharma Wanita Lumintang, Denpasar. Kompetisi yang bertajuk “4th Equilibrium Theatre Competition” ini merupakan kompetisi teater SMA tingkat Nasional yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Tidak kalah gengsi, kompetisi ini digelar untuk memperebutkan piala Kementerian dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Siang itu saya baru sempat hadir pukul 14.00 WITA. Atmosfernya berbeda sekali. Di sana-sini yang saya lihat anak SMA dengan gayanya yang muda. Panitianya pun muda-muda. Hal yang jarang saya temukan selama bekerja dua tahun di Pulau Dewata.

Begitu masuk ke dalam gedung lampu sudah padam. Ternyata pertunjukan sudah setengah berjalan. Dengan santai saya berjalan ke depan dan duduk di lantai. Panas, sumpek, bau itulah yang membuat saya tidak merasa nyaman. Namun, cerita yang membingungkan di depan panggung  membuat saya rela untuk berdiam diri dan menerka-nerka apa pesan yang akan di sampaikan para tokoh.

“Teater”

Setiap SMA dengan komunitas teaternya unjuk gigi satu persatu. Waktu itu hanya ada tiga pertunjukan teater yang saya tonton. Yang paling berkesan adalah pertunjukan terakhir. Pertunjukan yang berjudul Out karya Putu Wijaya dibawakan oleh komunitas teater Angin dari Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Denpasar. Dengan latar tempat kantor kepala lingkungan/desa. Teater Angin mampu menyuguhkan sebuah pertunjukan seni yang kaya makna namun tidak terjebak dalam monotonisme. Buktinya banyak penonton tertawa terkekeh karena lelaku para tokoh yang sedikit nakal. Di lain sisi, mereka dapat memotret kelakuan aparat desa yang ada-ada saja walaupun tidak dengan bahasa sarkasme.

***

Teater menurut beberapa budayawan merupakan wadah dimana permainan di rayakan dan kepura-puraan dipertontonkan. Di sana para tokoh dituntut untuk menjadi orang lain selama pertunjukan, ber-gesture, bersuara bahkan berjiwa seperti orang lain. Akan tetapi hal ini tidak menjadikan para pemain teater berubah sifatnya –menjadi orang lain dalam arti sesungguhnya.

Saya hargai, untuk menjadi orang lain berarti dituntut kemauan keras untuk berempati terhadap jiwa orang lain. Dalam lingkup dunia seni teater berarti pemain harus bisa mendalami jiwa sang tokoh. Ketidakmampuannya untuk manunggal dengan sang tokoh akan mengakibatkan datarnya pertunjukan.

Oleh karena itu, saya yakin bahwa dari mereka –para seniman teater- negeri ini akan dipenuhi pemuda-pemudi yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Mereka sudah terbiasa untuk berempati, menyatu dengan jiwa para tokoh. Sehingga mungkin saja mereka bisa ‘menyatu’ dengan penderitaan para kelompok yang termarjinalkan di negeri ini. Dari kepedulian muncul perubahan. Dan itu dimulai dari sebuah panggung teater. Semoga.

Ferry Fadillah
25 November 202
 
sumber gambar :www. whutzups.net

, , , , , , ,

2 Comments

Secarik Syair pada Gerobak Bakso : Kepedulian Budaya Sunda Seorang Anonim

Sudah dua tahun lebih saya tinggal di Bali. Berinteraksi dan bersinggungan dengan budaya dan masyarakat sekitar. Dengan menghilangkan segala ego budaya asli saya -sunda- agar diperoleh kesan yang objektif dengan jujur saya katakan bahwa budaya Bali begitu beragam, berakar, berjiwa dan bernilai transenden.

Kekecewaan saya muncul ketika mendatangi kota kelahiran, Bandung. Kota yang dikoar-koarkan sebagai puseur budaya Pasundan ini telah berubah beberapa tahun terakhir. Menjadi sebuah kota metropolitan, julangan bangunan mega-struktur dimana-mana, persinggungan antar budayanya pun semakin beragam. Di tengah segala perubahan itu, saya perhatikan –berdasarkan pengalaman saya bergaul dengan kaula muda kontemporer- budaya sunda mulai terseok-seok mencari akar budayanya dan terengah-engah bergaul dalam aktualitas.

Dari percakapan-percakapan sederhana di warung kopi, cafe atau taman kota, mayoritas pemuda Bandung tidak tertarik untuk memperbincangkan budaya Sunda. Jangankan untuk sekedar diskusi budaya, mereka yang mayoritas asli Sunda atau campuran Sunda yang lahir di Bandung pun sering menghindari menggunakan bahasa Sunda yang baik dan benar. Tampaknya ragam bahasa gue dan elo lebih memikat. Lebih-lebih media populer semacam televisi dan radio dengan giat menyiarkan ragam bahasa ini.

Dari hal kecil ini saja kita sudah bisa memproyeksikan, akan menjadi apa budaya Sunda di masa depan? Jika hal-hal kecil saja, berupa alam pikir dan pola ucap yang sudah tidak nyunda, bagaimana nanti kita bisa mencari pemimpin Jawa Barat (sekelas Gubernur, Walikota, Bupati dsb) yang nyunda. Kini pemimpin –khususnya di tatar sunda- lebih ditekankan pada aspek nyantri dan nyakola saja. Padahal, hemat saya, nyantri, nyakola, dan nyunda adalah entitas yang tidak dapat dipisahkan, sebuah tritunggal kepemimpinan.

Pertanyaannya kemudian, setelah segala paparan saya di atas adalah, apakah masih ada orang yang peduli  dengan budaya Sunda? Apakah kepedulian sunda hanya terbatas pada orang yang berlabel budayawan sunda, aktivis ormas kasundaan atau orang desa di wilayah terpencil sana?

Jujur, saya tidak memiliki data-data statistik atau hasil penelitian kaya metode untuk menjawab semua pertanyaan ini. Akan tetapi ada sebuah syair yang membuat saya tergugah untuk menulis tulisan ini, memotivasi saya kembali untuk mengkomunikasikan Sunda kepada dunia, membangunkan saya dari keputusasaan akan hilangnya minat untuk ber-Sunda ria.

***

Sore itu, ketika kota Bandung diguyur hujan lebat, saya berteduh di sebuah kios rokok. Letaknya di Jalan Ciliwung. Pemilik kios berjualan bakso tepat di samping kios rokoknya. Sekilas tidak ada yang aneh dengan gerobak bakso itu. Namun ada sebuah kertas yang menarik saya. Kertas itu ditempel di bagian bawah gerobak. Berisi syair yang ditulis dengan tulisan tangan. Berikut isi syair itu :

Hitam kelam, hiasan langit mencekam

Cakrawala di tengah kota Pasundan.

Teriak menghempas keheningan,

Samar terdengar deru perahu

Pikir memasuki setiap lorong jiwa

Kesenangan, segenggam cemas

Akan hilangnya tradisi tanah lahir,

Kekecewaan menusuk dalam hati

Seorang Budaya. Simbol keserakahan

Di balik topeng-topeng bertahta!

Sudikah engkau wahai anak adam

Melihat semua harapan dan

Kesenangan yang dirampas dari

Tangan-tangan kecil yang menadah?

Titik balik menjelma

Bangkit! Bangkit! Pasundanku..

Syair ini benar-benar membuat saya merenung dan berpikir, sudahkah saya memajukan tanah pasundan? Tidak ingin terkurung dalam pikiran saya sendiri, segera saya tanyakan penulis syair di atas kepada pemilik kios. Sayang, jawabannya tidak tahu. Setahu beliau, penulis adalah seorang wanita, bekerja di cafe sebelah.

Ingin rasanya berbincang dengan penulis syair di atas. Jika memang ia memiliki keprihatinan yang sama dengan saya, berarti saya memiliki alasan untuk tetap peduli terhadap budaya Sunda. Karena saya tidak berjalan sendiri. Banyak tangan-tangan kecil yang peduli dengan keberadaan budaya Sunda namun mereka bersembunyi, tidak muncul dalam pergumulan organisasi-organisasi kebudayaan, perjuangan mereka bersifat lokal, dimulai dari diri sendiri kemudian keluarga lalu teman-teman terdekat.

Fenomena ini bukanlah hal yang harus disesalkan. Mungkin saja pada tahap berikutnya mereka akan bergerak bersama menuju perubahan. Berorganisasi dan bergotong-royong mengusik nurani orang Sunda yang mulai tidak nyunda.

Hal posotif yang dapat saya simpulkan adalah bawah –seperti syair lagu Imagine karya John Lenon- You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one, I hope someday you’ll join us. Semoga kita semua memiliki kepedulian yang sama terhadap budaya Sunda . Dan mulai mengubah lingkungan sekitar– dengan dimulai dari diri sendiri. Rahayu!

 Ferry Fadillah
Bandung, 17 November 2012

, , , , , , , ,

2 Comments

Fenomena Percenayangan

“Salah satu adegan dalam fim Dreed. Hakim Dredd (kanan) dalam pelaksanaan tugasnya memberantas kejahatan di Amerika dibantu seorang Hakim baru sekaligus cenayang bernama Cassandra Anderson (kanan). Hal ini merupakan salah satu media komunikasi agar dunia percenayangan dapat diterima dalam masyarakat tontonan”

Cenayang adalah pawang yang dapat berhubungan dengan makhluk halus, dukun yang dapat meminta bantuan atau mengusir jin (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Tim Prima Pena)

Dalam arti yang lebih luas –setelah melihat fenomena sosial yang ada- cenayang dapat juga dihubungkan dengan orang yang memiliki kemampuan khusus untuk melihat aura, mengetahui masa depan dan masa lalu, atau melihat peruntungan dan persialan.

Mereka tidak lagi diidentikan dengan dunia perdukunan yang pada umumnya dicirikan dengan penanda baju : hitam, tradisional, penuh atribut mistis. Kini mereka berbaur dengan masyarakat, hidup dengan fesyen populer seolah ingin menghilangkan sekat antara dunia percenayangan dengan masyarakat.

Ketika SMA dulu, di kota Bandung, saya menyaksikan sebuah pameran spiritual di daerah Dalem Kaum. Saya sangat terkejut. Ternyata para cenayang tidak sekonvensional yang saya kira. Mereka memiliki komunitas dengan struktur organisasi moderen. Mendapat izin dari pemerintah untuk buka praktik, bahkan memiliki jejaring solid antar negara!

Media promosi mereka pun semakin aktual. Sebut saja majalah Misteri yang selalu memberikan ruang untuk iklan percenayangan : jimat pengasihan, pelet sesama jenis, jual beli tuyul dan lain sebagainya. Beberapa malah menggunakan jejaring media sosial untuk lebih memudahkan promosi yang dapat menjangkau pasar anak muda. Dari usaha-usaha inilah jelas bahwa mereka –cenayang- berusaha untuk menghilangkan sekat dengan masyarakat, berbaur, manunggal dengan budaya populer.

Sebuah Kekhawatiran

Dari perspektif ekonomi, politik atau hukum tentu banyak orang merasa yang tertolong oleh bantuan mereka. Seperti keyakinan masyarakat kita bahwa : orang yang susah karirnya dengan jimat pengasihan dapat disayangi bos dan mendapat kedudukan tinggi di institusinya; orang yang akan kampanye pemilukada dengan rapelan mantra kuno dapat membuat orang terkagum-kagum atau tersihir; orang yang terlilit kasus korupsi dapat memerintahkan jin untuk menghilangkan berkas perkara di pengadilan dan lain sebagainya.

Terlepas dari benar atau tidaknya keyakinan itu. Masalahnya adalah -apalagi bagi saya yang beragama Islam dan cenderung kepada pengagungan akal-, hal ini dapat merusak cara berpikir masyarakat. Masyarakat jadi tercemari takhayul-takhayul yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Misalnya, saat seseorang sakit bukannya dibawa ke dokter malah menghubungi orang pinter karena diduga terkena ilmu hitam, saat seseorang sulit ekonomi bukannya belajar bagaimana menjadi wirausahawan malah mendatangi dukun untuk mendapat jimat tertentu.

Okelah jika atas nama semangat demokrasi hal ini dikategorikan kepercayaan lain yang harus dihormati. Namun semakin populernya dunia percenayangan melalui persebaran media populer dapat dikhawatirkan merusak para anak muda nusantara yang pada umumnya dikategorikan masyarakat tontonan. Masyarakat yang menjadikan tontonan sebagai dasar pemikiran, bahkan kebenaran. Karena di TV, maka aku ada! Sebuah klausa yang menggambarkan bagaimana tontonan menjadi poros penggerak budaya populer, sumber pengetahuan bahkan logos kebenaran.

Menanamkan Budaya Rasional

Jika dicermati, budaya percenayangan bermula dari lingkungan keluarga. Masih ingat dalam ingatan saya ketika kecil dulu. Aa, jangan main maghrib-maghrib nanti diculik kalong wewe; Jangan duduk di pintu nanti jodohnya nenek-nenek; Jangan lewat disitu tanpa permisi nanti kesambet. Padahal semua jenis larangan itu bisa dirasionalisasikan, misalnya : Jangan main  waktu maghrib, adzan sudah berkumandang, itu seruan bagi kita untuk segera sholat, Allah tidak ingin hambanya menunda-nunda pelaksanaan sholat. Jelas, rasional, mententramkan.

Lembaga pendidikan harusnya menjadi motor penggerak bagi proses penanaman budaya rasional kepada kawula muda. Perpustakaan di lembaga pendidikan sebisa mungkin mengadakan acara bedah buku secara rutin, nanti di forum tersebut panita berusaha mengupas buku-buku percenayangan dan membandingkannya dengan kaidah agama, moral maupun hukum alam. Agar budaya rasional lebih merasuk lebih dalam lagi, kalau bisa peserta didik diwajibkan untuk membaca karya sastra yang isinya mengajak pembaca berpikir rasional, cerdas dan mencerahkan.

Guru –sebagai sumber ilmu yang hidup- harus dapat memberikan penjelasan-penjelasan ilmiah dari setiap fenomena fisik maupun budaya. Jika ada pertanyaan yang sulit untuk dijawab, lebih baik guru mundur selangkah untuk mengumpulkan data kemudian menjawabnya di lain kesempatan, daripada menjawab asal dengan mengkambing hitamkan dunia ghaib. Misalnya, dikaitkannya adzab Tuhan dengan bencana yang terjadi di suatu daerah atau kecelakaan buruh bangunan pada sebuah proyek karena adanya dedemit yang minta tumbal.

Akhirnya, keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, bahkan negara harus bersinergi dalam menanamkan budaya rasional dengan segala otoritas yang dapat setiap komponen lakukan. Dengannya negeri ini akan terus maju menuju peradaban tinggi, peradaban yang lebih mementingkan perbaikan kualitas hidup daripada syak wasangkan terhadap dunia ghaib –yang jelas-jelas tidak dapat kita indera.

Ferry Fadillah
Bandung, 15 November 2012
 
sumber gambar : http://review.ghiboo.com/dreed-perjuangan-sang-hakim

, , , , ,

2 Comments