Archive for category PUISI

Pasopati

Ketika itu kau tiada, kemudian muncul dan menjadi
Ruh mu adalah harapan : warga kota yang ingin keteraturan
Tubuh mu adalah kebanggaan : ikon pariwisata bumi priyangan
Namun, ketika gelap datang, kau tidak bisa berbuat apa
 
Kau tahu penusukan tadi pagi?
Seorang Taruna Angkatan Udara Muda
Dipunggungnya ada harapan
Dikepalanya ada penghormatan,
tapi ia mati pagi tadi
 
Kau tahu perasaan ibunya?
Yang ingin melihat dia besar dan tegap,
melintas langit-langit katulistiwa
 
Nahas, harapan itu hilang
Tubuh itu lenyap
Jiwa itu kembali
di pasopati, pagi tadi

Ferry Fadillah. Bandung, 27 Desember 2013

Advertisements

, , , , ,

Leave a comment

Alam dan Kebebasan

"Pantai dengan bebatuan hitam, Amed, Desa Bunutan, Karangasem, Bali"

“Pantai dengan bebatuan hitam, Amed, Desa Bunutan, Karangasem, Bali”

Camera 360

“Seorang Ibu membawa ikan di atas kepalanya, Amed, Karangasem, Bali”

"Gunung Agung dilihat dari Tulamben, Karangasem, Bali"

“Gunung Agung dilihat dari Tulamben, Karangasem, Bali”

Ketika kita bekerja,

jiwa kita sepenuhnya bukan milik kita

jiwa kita terkurung oleh aturan dan norma yang mengekang.

Ketika kita liburan,

jiwa kita bebas

jiwa kita bisa melihat kembali mimpi-mimpi yang hampir menghilang ditelan rutinitas

 

Lalu, kemanakah liburan kita?

Perkotaan hanya menyisakan debu dan polusi yang menyiksa

Bapak-bapak tukang bangunan yang bermandi peluh

membangun café dan resort demi sang tuan kapitalis

Ibu-ibu gila uang mangkir di tempat porstitusi

menjajakan tetangga mudanya yang masih gadis

Anak-anak pemukiman kumuh berebut lahan bermain

melawan para teknokrat yan selalu berpikir ekonomis

 

Di sisi lain, Desa berjalan perlahan

Petani yang sederhana berjalan memakul pacul menuju sawah

Ibu-ibu membawa sajen di atas kepala  menuju Pura

Anak-anak bertelanjang ria bermain air di pinggi sungai

Dan saya yang kebetulan lewat berdecak kagum melihat kesederhanaan itu

 

Penduduk desa berusaha menyesuaikan diri dengan alam

Penduduk kota berusaha mengubah alam sekehendak mereka

 

Aku muslim, namun aku tahu nilai sakral sebuah Pura

Lalu mengapa pemerintah mau mengubah beberapa Pura sebagai kawasan pariwisata?

Aku bukan orang Bali, namun aku tahu moral dan etika universal

Lalu mengapa pemerintah mau mereklamasi perairan Benoa?

Ketika pekerjaan, Koran dan manusia di selatan Bali hanya membuat keruwetan

Aku berjalan jauh ke Timur Bali, menuju gunung Batur

Di Karangasem, aku menuju bukit-bukit gersang

Membelah jalan menuju Amed

Pantainya hitam

Bebatuan vulkanik dingin bertebaran

Itu tetap indah, kawan

Lautnya jernih

Aku masuk dan melihat-lihat

Memasukan air laut ke pori-pori, memadatkan cahaya matahari ke tulang-tulang

Lalu..

Aku menari bersama ikan-ikan

Satu jam..

Dua jam..

Tiga jam..

Aku bebas, aku bebas

Aku bebas kawan

Ferry Fadillah
Amed, Karangasem, 10 November 2013
 
 

, , , , , , ,

Leave a comment

Egalirte

France Revolution

Kita duduk tenang. Memasang wajah ramah.
Serentak menyambut, “Selamat Pagi !”
Begitulah prosedurnya, kata para teknokrat
Kita harus melatih keramahan kita
Walaupun kepada orang yang kita benci ?
Ya, walaupun kepada  orang yang kita benci, kata para teknokrat
 
Ketika melintas pejabat berpangkat bintang,
Kita terpaku sebentar, membungkukan badan seperti hamba sahaya.
Ketika berpapasan dengan rohaniawan,
Kita bergegas mencium tangannya, bahkan sampai ke kaki-kakinya.
Ketika mendengar perintah atasan,
Kita hanya berkata, “Siap, laksanakan!”
Ketika atasan berkeliling kantor,
Kita mengikutinya dari belakang,
bak anjing yang menanti perintah Tuannya
 
Serendah itu kah kita ?
Bukankah manusia diciptakan sama
Bukankah kita dan mereka setara
 
Kita merasa rendah karena mereka merasa lebih
Mereka merasa lebih karena kita merasa rendah
Maka merasa lebih lah daripada mereka
Borjuisme dalam tubuh segala institusi akan mati
Kita sambut lahirnya cita-cita itu kembali :
liberte, fraternite, egalirte
 
Ferry Fadillah
Badung, 4 September 2013

, , , , ,

1 Comment

Berjuta Jongos

Waktu itu hujan,

kau duduk malas di sana,

menghisap rokok mewah,

mengotak-atik gadget canggih.

Waktu itu hujan,

kau duduk sambil memerintah, “Tolong buatkan kopi!”.

Sambil melihat gadget, seolah aku itu tiada

Sial!

Waktu itu hujan. Kopi di dapur habis. Kau menggerutu

“Mana kopiku!”, bentakmu kasar.

Waktu itu hujan, tanpa mantel aku berlari

mencari apa yang dicari

mataku basah, entah hujan entah tangis

aku tidak peduli

yang aku tahu, aku harus mencari serbuk kopi

waktu itu hujan

aku kedinginan dalam hujan

kau duduk manis dalam ruangan

waktu itu hujan

aku berlari jauh

kau berdiam damai

waktu itu hujan

aku bumi yang damai

kau guntur yang memaki

waktu itu hujan telah berhenti..

aku adalah jongos, masyarakat teralienasi yang berjuta-juta

kau adalah pejabat, masyarakat borjuis yang sedikit itu

Badung, 18 Juni 2013.
Ferry Fadillah. Untuk Saudaraku yang teralienasi di negeri subur ini.
 

, , ,

Leave a comment

Mereka yang Naif

oleh Ferry Fadillah

Wahai kau yang naif di ruangan sana

yang bercokol dengan kertas-kertas itu

pernahkah kau dengar pekik merdeka?

tapi mengapa tidak sampai meresap kehatimu?

wahai kau yang naif diruangan sana

pernah kau dengar jerit tangis semesta rakyat

yang digilas pembangunan

dilinggis koorporasi

disetrika pemerintah sendiri

tentu tidak!

karena kau yang duduk di ruangan sana

hanya sibuk menunggu gaji di awal bulan

tunjangan sebelum tanggal sepuluh

uang makan di tengah bulan

wahai kau yang duduk diruangan sana

yang naif lagi buta

bangun, bangunlah!

 

, , , , ,

Leave a comment

Empati

ini sebuah bentuk empati
 
aku bukan mereka, namun
berinteraksi bersama mereka
 
dari rasa terangkai kata
dari kata tersusun bahasa
dari bahasa terpatri makna
aku pahami dan aku resapi
sesaat rasa itu datang : empati
 
teriakan aksara  begitu membara
dalam hati dan media masa
tetapi mengapa? dia hanya diam
seolah mereka tak berarti
seolah mereka telah mati
 
Demi hati nurani
mungkin kini mereka berani
membuang hormat pada Bapak Kami
karena bulat sudah kesimpulan :
Ia, tidak kunjung berempati
 
Oleh Ferry Fadillah (untuk CCPNS yang menunggu tanpa pasti)

, , , , , ,

Leave a comment

Karma

Bukan Tuhan-Tuhan itu yang kumau,

bukan Nabi-Nabi itu yang kutuju,

bukan orang suci itu yang kutahu.

Bumi Manusia

dari kumpulan pecinta raga

dari tiada menuju ada

dari hina menuju tahta

dari tahta menuju hina

dari ada menuju tiada

dan begitulah karma.

Ferry Fadillah, 2012

2 Comments

November

Siang di awal bulan

tanpa sebuah perlawanan.

Hidup terus mengalir,

tak terpikir akan tersingkir.

Namun, saya khawatir,

kita mengalir tanpa berpikir :

selokan,

comberan,

dan seketika terhinakan.

 (Ferry Fadillah, November 2012)

,

2 Comments

Hampa

Hampa.

Entah mengapa,

namun aku tahu

bahwa aku tidak akan pernah tahu.

 

Hampa.

Mungkin saja dia

tahu harus bagaimana.

Namun dimana dia?

Aku tidak tahu

dan aku tidak akan pernah tahu

 

Hampa.

Apa itu hampa?

Kosong tanpa makna

dan itu kini kurasa.

 

Ferry Fadillah
Sanur, 16 Oktober 2012

 

, , ,

1 Comment

Generasi Pembangkang

Keagungan, seperti yang diimpikan setiap insan
selalu memikat dan membuat terbuai.
Sosok gila dan bengis, antara hormat dan kekuasaan
darah dan ideologi
menjadi inspirasi bagi kehidupan sosial.
mendadak, ‘kami’ gila hormat
ingin disanjung bahkan disembah!
 
Ketika malam ‘kami’ sadar
Antrophos tidak akan bisa mengalahkan Theos
Tuhan belum mati!
dalam kalah ‘kami’ tercerahkan
sebuah kata selalu terngiang dalam benak
egaliterianisme
 
semua sama, semua sama, tidak beda!
Tidak peduli para pembuat struktur sosial yang berundak-undak itu
Tidak peduli para pembuat bahasa kromo yang bertingkat-tingkat itu
Titiknya manusia, kita manusia, semua untuk manusia, dari manusia, untuk manusia
Batas senior-junior, tua-muda, atas-bawah
Rombaklah! Bongkar sampai hancur berantakan
generasi pembangkang akan datang!
 
Si Tua khawatir, tetapi ‘kami’
dengan pongah tersenyum bahagia
walau diri menjadi korban pembangkangan
di tangan mereka sendiri.
 
Ferry Fadillah, Puri Dalem Sanur, dikeheningan malam bulan Oktober

Leave a comment

Muak Akan Cinta

Dimana letak urgensi memiliki seorang kekasih?

Lelah dan muak sudah saya dicekoki kisah cinta dan cucu cicitnya

Semua hanya permukaan tidak menyentuh titik esensi

Cinta itu universal, bebas, tidak terbatas

Kepada Tuhan ada cinta

Kepada Ibu ada cinta

Kepada Ayah ada cinta

Kepada Adik ada cinta

Kepada istri ada cinta

Kepada saudara ada cinta

Kepada sahabat ada cinta

Kepada manusia semesta ada cinta

Ferry Fadillah, 12 Juli 2012

5 Comments

Pikiran

Terus berputar dari satu titik ke titik lain

Berat! Bahkan hingga mataku terang benderang di gelapnya malam

Lantas bagaimana? Apa matikan saja dengan tidur?

Tidak! Semakin dipaksa semakin cepat ia berputar

Ah! Tumpahkan saja dalam kertas buram!

Ferry Fadillah, 2 Juli 2012

 
 

Leave a comment