Archive for category FILSAFAT

Kerja, Hidup, Mati

Dengan mengabaikan setiap masalah. Manusia Indonesia pasti bisa tersenyum melihat sekelilingnya. Pusat perbelanjaan mewah berderet dengan baliho iklan yang megah. Apartemen mewah disekelilingnya berlomba menawarkan harga kepada pasang mata yang melewatinya. 200 juta, 300 juta, 500 juta, bonus smart phone, sudah full furnished pula. Seolah uang sembilan digit itu adalah daun kelor yang dengan mudah dipetik di pekarangan rumah. Mobil mewah, mobil menengah dan mobil umum bercampur di jalanan. Berderet memanjang menciptakan kepadatan. Isinya paling-paling satu atau dua orang. Menyisakan ruang kosong yang sia-sia. Tidak hanya itu. Polusi keluar dari knalpot. Menambah muram wajah atmosfer bumi yang sudah menua.

Mungkin senyum manusia Indonesia adalah sebuah ironi. Senyum pasrah karena tahu ada masalah namun bingung untuk melakukan apa. Ironi ini pun hadir di dunia maya.

Berkah teknologi sangat terasa sampai ke pelosok dukuh di pulau Jawa. Teknologi menjadikan yang jauh menjadi dekat. Memperpendek jarak. Mempermudah pengawasan. Sekaligus memperdalam kecemburuan sosial.

Dunia maya itu dunia tanpa sekat dan hierarki. Pejabat hingga pejahat; ustadz hingga pezinah; atau ilmuwan hingga pembual sah-sah saja beropini dan menyebarkan sesuatu yang mereka miliki. Tulisan, gambar, atau video.

Kini populer mengabadikan momen kehidupan di dunia mikroblog semisal twitter, facebook dan path. Makanan mewah yang akan disantap, difoto, di-upload. Hotel mewah yang baru dikunjungi, difoto, check in, diberi komentar, di-publish. Pacar cantik yang baru bertemu kemarin, di update-nya status hubungan di facebook, ditunggu-tunggunya komentar pujian, dibalasnya dengan emoticon ini itu. Begitu seterusnya entah sampai kapan.

Padahal di lain sisi, di dunia maya yang sama, namun di dunia nyata yang berbeda, kehidupan bisa sangat miris. Makanan mewah itu mungkin hanya bisa dinikmati beberapa kalangan dengan menabung upah bekerja selama satu tahun. Hotel mewah itu bisa jadi hanya impian anak kecil penghuni rumah kardus di bantaran sungai ciliwung. Pacar cantik itu juga sudah pasti barang langka bagi jomblowan jomblowati NKRI yang mulai kehilangan kemampuan komunikasi verbal karena terdegradasi komunikasi singkat ala social media. Bukankah ini semua mengundang iri dengki saudara kita di jagat maya dan nyata? Moga-moga saja santet dan teluh tidak bisa masuk melalui jalur komunikasi digital. Amin.

Hidup, Kerja, Mati

Hidup, kerja, mati. Siklus kehidupan yang harus dilalui semua manusia. Tapi apakah hanya untuk itu manusia hidup. Hanya kerja kemudian mati. Nothing special.

Ketimpangan sosial yang terjadi di dunia maya dan nyata telah menularkan virus pragmatis bagi semua kalangan. Kekayaan adalah panglima, caranya ditempuh dengan segala cara.

Sialnya media masa negeri ini bukan berusaha mengikis pemikiran itu malah memupuk liar dengan tontonan yang kurang mendidik. Kemewahan, kesenangan, kekonyolan dipertontonkan dari pagi hingga malam. Dari acara talkshow remeh temeh, gosip urusan ranjang hingga ceramah agama penuh banyolan disiarkan kepada 200-an juta pasang mata di nusantara. Dengan rendahnya tingkat literasi maka tontonan itu akan sangat cepat membentuk pola pikir kolektif. Sialnya pola pikir itu berwujud pragmatisme.

Bagi seorang pragmatis hidup itu yang untuk kerja, kerja ya untuk kaya, beli mobil nyicil, rumah nyicil, nikah ngutang, dan selesai –mati.

Kalau ada orang kritis bertanya ini itu tentang agama, tujuan kehidupan, siapa itu Tuhan, apa itu kerja, apa itu hidup, bagaimana itu ekonomi berjalan, tentu mereka akan acuh dan meneruskan pekerjaan praktis mereka. Pertanyaan itu hanya membunuh waktu yang bisa mereka pergunakan untuk bekerja dan memanen uang.

Padahal, sebelum memiliki keingininan akan makanan dan mainan, dahaga pertama manusia adalah menjawab segala pertanyaan hidup. Ketika kecil, manusia selalu bertanya akan setiap hal yang ia lihat dan rasa. Apa itu hidup. Apa itu sakit. Apa itu Tuhan. Apa itu mati. Kenapa harus hidup. Kenapa harus kerja. Kenapa harus mati. Kenapa budaya berbeda dll. Semua itu pertanyaan kanak-kanak yang berhenti manusia renungi ketika orang tua membentak karena lelah sepulang kerja. Atau dimarahi guru karena dianggap melawan. Dipelototi ustadz karena dikira kualat. Atau mulai terpengaruh pikiran pragmatis bahwa hidup itu ya yang penting cari uang.

Padahal pertanyaan itu akan membuat hidup manusia lebih bermakna. Manusia tidak lagi sekadar variable dari siklus produksi yang dapat dieleminir oleh pemilik perusahaan. Dipindah ke sana kemari tanpa ada daya upaya. Pertanyaan itu juga yang akan menuntun manusia kepada hal-hal pokok dan mengabaikan hal-hal remeh. Bekal yang penting di saat banyak manusia sibuk bertikai untuk hal-hal remeh dan lalim akan hal-hal pokok. Pertanyaan itu juga yang akan menciptakan rasa puas dalam pekerjaan karena didasari semangat dan kesadaran. Perasaan yang sangat penting ketika manusia modern merasa hampa melakukan rutinitas keseharian. Penuh harap akan hari jumat dan penuh cemas ketika perjumpa senin.

Seandainya boleh melamun melambung tinggi. Kiranya ada sebuah dunia. Dimana setiap manusia mendapat upah setara untuk setiap jenis pekerjaan. Pilihan pekerjaan didasari oleh keinginan dan kemampuan. Bukan paksaan atau faktor ekonomi. Produksi tidak kurang atau lebih karena didasari nilai guna bukan nilai tukar. Semua orang bahagia dan memiliki banyak waktu luang. Siang dipakai bekerja, malam dipakai apesiasi sastra.

Ah, imaji tinggalah imaji, selama nafsu masih di kandung badan pragmatisme adalah sebuah keniscayaan.

Ferry Fadillah

Cekungan Bandung, 27 Agustus 2015.

sumber gambar : http://www2.warwick.ac.uk
Advertisements

, , , ,

Leave a comment

Buku dan Gagasan

IMG_4364 (1)

sumber : dokumen pribadi

Dua ratus dua puluh sembilan. Jumlah buku yang saya miliki sejak tahun 2009 di Bali. Jumlah ini belum termasuk buku-buku yang saya kumpulkan sejak sekolah menengah dan saya tinggal begitu saja di Bandung, kampung halaman saya.

Saya memang mencintai buku dan gagasan besar yang para penulis tawarkan. Pemikiran kiri pernah saya nikmati dan turut terkagum dengan tokoh-tokohnya. Gagasan nasionalis pernah saya aminkan dan terpana pula dengan gagasan-gagasan besarnya. Pan-Islamisme pun masih memukau dan menggiring saya kepada pemikiran radikal (radic; akar. pemikiran mendalam sampai ke akar) Tarbiyah Jihadiyah Syeh Abdullah Al-Azzam. Tasawuf juga tidak kalah menarik, dengan tokoh-tokohnya yang mampu menggali jiwa sedalam mungkin dan mendekati Allah sedekat mungkin, hati ini tentram ketika membaca uraian-uraiannya. Jangan tanya filsafat, ia selalu ada sebagai pisau bedah analisis, maka saya berterima kasih kepada Tan Malaka atas Madilognya, Hegel atas filsafat sejarahnya dan Yasraf Amir Piliang dengan wacana cultural studies-nya yang mencerahkan.

Selain itu, ada banyak gagasan dari ratusan penulis lain bertaburan di kamar saya. Semua terangkum dalam kata yang dicetak dalam kertas olahan kayu. Isinya merupakan perenungan mendalam pemikir zaman purbakala hingga post-modern. Bukankah membaca gagasan-gagasan itu menyenangkan? Walaupun tubuh saya di Bintaro melanjutkan studi akuntansi namun pikiran saya dapat mengelana bebas. Memasuki  Yunani zaman purbakala, berbincang dengan Plato tentang filsafat materialisme dan idealisme. Menjelajah fenomena dari zaman ke zaman dan membedah kekuatan ekonomi politik yang berada dibaliknya. Meneliti kata dan struktur yang membangun peradaban manusia hingga pengaruhnya terhadap pembentukan struktur masyarakat. Atau sekadar menyapa almarhum Karl Max dan memberitahu pengaruh idenya terhadap revolusi proletar dunia.

Walaupun gagasan-gagasan itu berasal dari belahan bumi barat-timur; theis-atheis; moral-amoral  tapi saya yakin butir-butir hikmah akan bisa dipetik dari semua gagasan yang mereka tawarkan. Mengapa? Karena membaca buku itu seperti ruang samadhi. Kontemplasi adalah intinya. Ketika gagasan-gagasan di dalam buku masuk ke dalam pikiran sebagai hal asing, maka jiwa dan akal akan menimbang-nimbang dengan iman, logika, etika, dan estetika. Apakah ini benar? Apakah ada pertentangan di dalamnya? Apakah ini tepat jika diterapkan di negeri ini? Apakah ini sudah mencakup aspek keindahan atau hanya sekadar benar? Halal atau haramkah?

Pertanyaa-pertanyaan itu akan terus menjadi kebiasaan dalam memandang segala hal. Asumsi ekonomi, sudah mapankah? Teori sang ahli, apa ada variable yang terlewat? Pendapat pemuka agama, apa benar seperti itu? Tradisi, apakah bisa diubah? Agama, mana yang benar-benar dari Tuhan mana yang bukan? Tuhan, ah, apa benar-benar ada?!

Orang mungkin murka mendengar pertanyaan terakhir. Tapi bukankah itu sebuah kemajuan berpikir. Tentu apabila si penanya melanjutkan penyelidikan akan eksistensi Tuhan dengan tujuan yang baik. Dicarinya pemikiran filsafat seluruh dunia, dibukanya kitab-kitab segala agama, di timbangnya dengan akal dan nurani. Hasilnya? Tentu bisa berujung kepada kegelapan atau bahkan cahaya yang menuntunya kepada iman. Who knows!

Namun untuk apa khawatir. Tidak kurangkah orang pintar, sarjana besar di eropa sana yang setelah meneliti alam menemukan kalam ilahi di setiap ciptaan-Nya. Tidak kurangkah para filsuf bahkan di zaman purbakala yang  menimbang ulang kepercayaan dewa-dewi dan kembali kepada Tuhan satu yang menjadi sumber logos. Tidak kurangkah perintah Allah kepada umat manusia agar selalu menggunakan akal dan iqra (membaca) dalam melihat segala kejadian alam.

Janganlah terlalu khawatir dengan segala lintasan pertanyaan dan gagasan. Dengan harap rindu akan pertemuan kepadaNya, dan niat suci untuk mencari kebenaran maka jadikanlah pengembaraan intelektual lintas gagasan sebagai alat memperkuat cahaya nurani.

Dari gelap menuju terang. Semoga!

Ferry Fadillah

Bintaro, 19 Juni 2015

, , , ,

Leave a comment

Kontemplasi Pagi

Hampa. Kata yang pantas menggambarkan suatu perasaan. Yakni ketika makna dan arti alpa untuk hadir. Keramaian. Senda gurau. Pesta pora. Menawarkan pemenuhan kepuasan ragawi. Bahkan menurut beberapa orang merupakan surga itu sendiri. Libido dicurahkan. Hasrat dihormati. Badan dianakemaskan. Itulah fenomena yang telah menjadi tujuan; bahkan ilahi rabi bagi anak masa kini.

Dahulu, ditengah carut marut moral negeri arab, Sang Nabi menyepi ke gua nan jauh dari hiruk pikuk percakapan. Prosesi ini bukanlah titik antisosial. Hanya sebuah proses sementara untuk mendengar Dia –yang hadir lebih dekat dari urat leher itu. Sebuah kontemplasi. Mengukur diri dan menimbang-nimbang ini dan itu. Menyelaraskan kehendaknya agar sesuai dengan kehendakNya. Pada saat itulah Sang Ilahi berfirman : bacalah, bacalah, bacalah!

Membaca lekat dengan kontemplasi. Perenungan. Jalan flosofi. Dibawanya akal mendahului badan. Menjelajah jauh melewati bima sakti. Mendekat lekat kedalam unsur atom. Membedah misteri agar menjadi pengetahuan. Mengolah pengetahuan agar menjadi science .Membawa diri dari gelap menuju terang. Mengubah masyarakat dari taklid menjadi rasional.

Pada saat itulah hampa akan hilang. Akal asyik diberi makan ilmu. Jiwa asyik diberi minum hikmah. Kalau ada misteri, dipecahkannya hingga terang benderang. Kalau ada masalah, dihadapinya hingga bijaksana. Diri tenang pembawaan damai.

Kalau orang umum pasti banyak menduga-duga. Ah gila lah mereka dengan paham ini. Aduh, serius nian hidup Kau. Aih, bicaramu melangit tinggi, Bung. Tapi jiwa yang terang tidak pernah terusik. Ia selalu tersenyum, karena tahu akan menang. Apa menang itu? Coba awam tanya pasal mati, seringkala mereka menjawab :

“Mati? Ah, hanya sebuah keniscayaan yang harus dihadapi. Jiwa kita akan bebas. Untuk apa lagi risau”

Sebuah jawaban tegas nan tenang, dari pikiran yang dipenuhi ilmu dan jiwa yang diterangi hikmah.

Ferry Fadilah. Bintaro, Juni 2014.

, , , ,

Leave a comment

UJIAN

“Tuhan tidak akan membebani manusia dengan ujian yang melampaui kemampuan mereka”, tutur agamawan dan seperti yang khalayak sepakati bersama.

Ujian memiliki ragam rupa. Terkadang ia hadir sebagai harta yang menggiurkan. Atau, menghampiri kebanyak orang sebagai kemiskinan yang memilukan : rasa malas, kecerobohan dan kelemahan sebagai permulaannya. Atau, dalam kasus lain, ia hadir bersamaan, silih berganti, memaki, dan tanpa mampu memaknai, manusia hanya berkata, “..yang terjadi, terjadilah!”.

Kehidupan bukanlah rumus matematis yang begitu ritmis dan terencana sesuai agenda, tulis Mubarok dalam catatan bagi pementasan lakon berjudul ‘Loket’ di Denpasar beberapa tahun lalu. Suatu ketika manusia harus siap mengalami perubahan ekstrim dari tujuan hidup semula. Mungkin terlahir sebagai mulia dan berakhir sebagai nista, atau memulai usaha penuh nestapa dan berakhir sukses dengan bahagia. Begitulah, ujian dalam kehidupan, menawarkan kejutan-kejutan, sembari perlahan –atau mungkin cepat- kita berjalan menujuNya.

Bagaimana ujian dalam bentuk yang lumrah di benak akademisi? Tulis menulis yang menentukan nilai, kelulusan, bahkan kematian (ingatkah kisah seorang anak yang bunuh diri karena gagal ujian nasional ?). Logika “Tuhan tidak akan membani ujian melebihi kemampuan manusia” tidak lagi berlaku. Dosen atau guru adalah entitas yang terpisah dari Tuhan. Mereka –sebagaimana kita- memiliki rekam kejahatan di masa lalu, jauh ketika Adam dan Hawa diusir dari surga, kerajaan saling serang satu sama lain, dan bangsa kulit putih menjajah bangsa kulit berwarna. Walau mereka bukan aktor atas peristiwa sejarah itu, namun mereka –sekali lagi, sebagaimana kita- mewarisi gen keserakahan dan kecerobohan.

Ujian tulis menulis yang lumrah kita kenal, sebagai produk manusia, tidaklah lepas dari kesalahan-kesalahan : terlalu mudah atau terlalu sulit. Tuhan, entitas Agung Yang Maha Empati, tentu berbeda dengan dosen atau guru yang maha manusiawi. Adakah mereka mampu ber-empati atas isi kepala dan nurani ratusan siswa yang diajarnya?

Suatu saat, sebagai akademisi, mungkin pernah kita hadapi ujian tulis menulis itu. Kita siapkan catatan, rumus, hapalan dan literatur semalam suntuk. Tapi kadang kita dibuat terhenyak ketika ujian-ujian itu dibagikan di muka meja. Ujian itu begitu sulit, jauh dari apa yang diajarkan, begitu luhur, hingga yang ‘bodoh’ pun enggan untuk menyentuhnya. Seperti ketimpangan pada umumnya, majikan-buruh, tuan tanah-petani, dan kini, dosen-murid, ujian-ujian ini hanya akan melahirkan : P E R L A W A N A N.

Ferry Fadillah. 21 Februari 2015.

, , , , ,

Leave a comment

Sekedar Renungan (1)

Menyanyi. Menari. Tersenyum hadapi dunia, begitulah saran-saran motivator. Anggap saja mereka tidak punya latar belakang bisnis. Bersih, tanpa maksud buruk. Maka, kita telan bulat-bulat saja nasihat mereka.

Saya coba terapkan. Sejak pundi-pundi uang memenuhi Anjungan Tunai Mandiri. Menyanyi. Menari. Tersenyum hadapi dunia. Aneh, rasa-rasanya ada yang hilang.

“Suatu kata bermakna apabila dihadapkan dengan kata oposisinya”, kurang lebih itu yang saya ingat mengenai oposisi biner di dalam buku-buku Cultural Studies. Siang bermakna dengan adanya malam. Pria bermakna dengan adanya wanita. Baik terhadap buruk. Atas terhadap bawah. Jika Suka (cita) ada tanpa Duka, apakah Suka (cita) masih bermakna?

Mungkin, kita enggan melihat dunia ini bulat-bulat. Menghindar menuju dunia ‘imaji’ yang diinginkan. Dunia damai, tanpa perang, tanpa lapar.

Tapi apakah pernah ada dunia seperti itu. Sejak adam turun (dipaksa turun?) dari surga menuju Bumi, dan anak-anak mereka melakukan pembunuhan prasejarah , sejak itulah kita harus merasakan perihnya ‘neraka’ kecil ini : bumi.

Ferry Fadillah, Januari 2015

, , ,

Leave a comment

Kesalehan Tidak Berbanding Lurus dengan Kecerdasan

Kesimpulanku mulai keliru. Suatu saat aku pernah berkata, “ternyata kecerdasan itu tidak berbanding lurus dengan kesalehan”. Pernyataan ini terlontar setelah pengumuman kelulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Prodip Diploma III Khusus Tahun 2013.

Memang, kesimpulan ini terlalu subjektif dan terburu-buru. Namun aku mengambil logika seperti ini : dari 53 peserta yang lolos, aku coba ingat, siapa saja yang saleh dan siapa saja yang kurang saleh. Ternyata semua berkumpul dalam satu daftar. Jadi, saya pikir kesimpulan saya di awal tidak terlalu keliru.

Sejarah peradaban dunia pun berbicara hal yang sama. Zaman keemasan Islam dipenuhi tokoh bermental ilmu pengetahuan dan saleh sekaliber Ibnu Haitham, Ibnu Rush dan Ibnu Musa Al-Khawarizmi. Zaman keemasan eropa dipenuhi tokoh bermental relijius semisal Albert Eisntein, Ishaac Newton, Alexander Grahambel. Belum lagi ilmuwan-ilmuwan ateis, agnostik, gila seks dan psikopat di seantero dunia timur dan barat. Mereka semua mewarnai dunia ini dengan kecerdasan mereka, namun dengan ideologi yang berbeda.

Sehingga aku berpikir, apakah kecerdasan merupakan prioritas yang harus dikejar di dunia?

Banyak orang cerdas di negeri ini yang membuat sistem hukum sangat tajam ke bawah namun sangat tumpul ke atas. Banyak orang cerdas di negeri ini yang baru haji sekali saja sudah menganggap diri paling suci. Banyak orang cerdas di negeri ini yang sembunyi-sembunyi nyambi jadi tikus kantor di pemerintahan.

Banyak bangsa cerdas terdahulu yang dibenamkan oleh Allah ke tanah, disambar dengan petir, ditenggelamkan dengan air bah, dilipat di tengah laut merah bahkan diubah menjadi kera.

Lagi-lagi aku dipusingkan dengan fakta-fakta yang seolah-olah terpisah ini. Padahal satu padu dan menjalin sebuah hikmah. Apa itu?

Hikmah itu adalah Allah. Bagaimana kita menjadikan segala aktivitas kita di dunia berporoskan kepada Allah. Menjadikan tujuan pekerjaan kita hanya Allah. Sehingga kita selalu ingat Allah dalam keadaan miskin maupun kaya, sakit maupun sehat, susah maupun senang.

Bukankah cita-cita kita (muslim) adalah kematian? Bukankah yang kita bawa setelah kematian hanya tiga hal. Adakah yang kita bawa selain yang tiga itu :  ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya ?

Selain ketiga hal itu hanyalah debu yang bertebaran. Hilang begitu saja ketika angin dan hujan datang.

Ferry Fadillah
Badung, 5 Desember 2013

, , , , ,

Leave a comment

Romantika Remaja

Libur Idul Adha tahun ini saya habiskan di Bandung. Kota kelahiran dengan sejuta kenangan. Mendarat pada hari Jumat malam di Bandara Husein Sastra Negara, Hujan lebat menyambut saya. Beruntung, sisa-sisa hujan yang tersisa dipadu dengan gemerlap cahaya kota telah membuka kembali lembar ingatan. Tentang romantika di Paris van Java ini, tentang kisah kecil di bawah rintik hujan.

***

Lima tahun yang lalu, di SMA Negeri 20 Bandung, saya menganggap romantika adalah ‘hidangan’ yang harus dicoba selama SMA. Seolah-olah, kerugian paling besar di dunia ini adalah bagi mereka yang tidak mencicipi kehidupan SMA dengan romantika.

Tidak mau disebut orang merugi, ketika kelas dua SMA, saya memberanikan diri menyatakan perasaan kepada seorang wanita. Dan seperti yang sudah kita ketahui melalui layar sinetron. Pernyataan itu berlanjut kepada hubungan yang lebih kompleks : pacaran

Sebuah momen penuh kegairahan. Seolah waktu yang kita miliki dipadatkan hanya untuk kita berdua. Seolah dunia itu menyempit dan mudah untuk kita kendalikan. Seolah kita akan bersama selamanya.

Ada tangis, ada tawa, hal yang lumrah kata orang. Tertawa sendiri ketika melihat layar handphone, hal biasa kata orang. Melamun sendiri di meja belajar, sedang kasmaran kata orang. Semua dianggap lumrah, semua dianggap biasa. Media populer mendukung hal ini, lingkungan apalagi. Sehingga makin mantap saya untuk berpacaran, memenuhi dunia dengan bahasa aku dan dia.

Waktu berjalan, kedewasaan bertambah, pola pikir berubah dan hubungan kita harus terpisah jauh. Keberpisahan membuat saya memiliki banyak waktu untuk berkontemplasi. Sebuah pertanyaan sederhana mengusik hidup saya, “Apa manfaat saya pacaran?”

Saya sadar, pacaran telah menguras tenaga saya. Ketika  umur 21,  ilmuwan-ilmuwan muslim dapat mencerahan peradaban Arab dengan penemuan di bidang matematika dan fisika, saya hanya berkutat kepada rasa cemburu dan rindu. Ketika orang-orang belajar mengenai hal baru untuk mengubah dunia, saya hanya sibuk dengan diri sendiri, menciptakan diri yang lebih tampan dan fashionable. Ketika pemuda idealis sudah biasa berorasi di depan orang banyak, saya hanya bisa memenuhi handphone saya dengan kata-kata rayuan.

Saya sadar bahwa itu semua adalah sebuah kerugian. Kerugian yang sangat besar.

Ketika di Bali, bertemu Ustadz Hasan Basri, S.E., MBA., berkat kajian Syahadatain, saya  memiliki perspektif yang berbeda tentang Islam, khususnya tentang makna syahadat. Kalimat pertama syahadat, Laailahaillallaah, bermakna totalitas meng-illah-kan Allah.

Ilah (indonesia : Tuhan) bermakna : sesuatu yang amat dirindukan, sesuatu yang menenangkan, sesuatu yang melindungi, sesuatu tempat kembali. Jika melihat kehidupan saya ketika pacaran dulu, lengkap sudah, pacar saya telah bertransformasi menjadi Tuhan!

Pada saat berpacaran  tiada  waktu yang paling menenangkan melainkan berdua dengannya. Pada saat pacaran tiada hal yang paling dirindukan selain si dia. Ketika pacaran tidak ada tempat yang layak kecuali rumah dia.

Tragis. Kebodohan saya pada saat itu baru terpikir saat ini. Lantas kenapa media tidak membantu saya berpikir lurus? Mengapa lingkungan tidak membantu saya berkontemplasi? Ternyata mereka hanya mengedepankan senda gurau belaka, mengingkari kematian dan terlarut dalam tontonan. Padahal, hal terpenting dalam kehidupan ini, yang menjadi pondasi kita sebagai khalifah di bumi adalah kemampuan berpikir, berpikir, dan berpikir!

Ferry Fadillah
Bandung, 17 Oktober 2013

, ,

Leave a comment

Empati dalam Sketsa

1267586_10200546229520245_1103535134_oApakah ucapan empati dari seorang pejabat benar-benar menggambarkan situasi hatinya? Apakah pemberian sembako di tengah huru-hara sosial bisa disebut empati? Lantas apakah yang disebut dengan empati itu?

Wikipedia.com menjelaskan sebagai berikut :

Empati (dari Bahasa Yunani εμπάθεια yang berarti “ketertarikan fisik”) didefinisikan sebagai respons afektif dan kognitif yang kompleks pada distres emosional orang lain. Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain.

1265548_10200546230720275_1360494552_oKemudian tersebarlah di dunia ini, orang yang dikaruniai kemampuan otak kanan kompleks. Mereka mampu memahami emosi, pikiran dan jiwa orang lain. Salah satunya para seniman.

Seniman yang budiman mengedepankan empati dan perasaan. Darinyalah karya-karya emosional tercipta. Mengubah dunia dengan warna dan guratan. Semua terbaca dalam sebuah narasi kompleks dengan simplifikasi bernama : sketsa

Ferry Fadillah
17 September 2013

,

Leave a comment

Percintaan dan Persahabatan

Sulit bagi manusia untuk mejelaskan emosi-emosi yang terjadi pada jiwanya. Kita hanya bisa menjelaskan dengan perumpamaan-perumpaan yang justru menjauhkan penjelasan itu dari keadaan yang sebenarnya. Jelasnya, butuhkah perumpamaan-perumpamaan untuk menjelaskan segala gejala emosi?

Persahabatan. Percintaan. Dua entitas yang menjadi buah bibir manusia muda. Selalu berkembang dalam berbagai produk budaya : sastra, film, musik, drama bahkan agama. Keduanya memiliki daya magnet yang memikat; mungkin saya salah, namun, kini energi anak muda hanya terbatas kepada dua entitas tersebut. Untungnya, mereka dapat mengemas dengan semenarik mungkin, hingga, bisa jadi, kita lupa, bahwa produk budaya kini hanyalah pengulangan belaka.

Alih-alih seorang rasional yang berusaha menghindari kedua entitas tersebut mereka malah terjebak didalamnya. Persahabatan dan Percintaan bukanlah sesuatu yang irasional, namun sesuatu yang melampaui rasio, kita tidak mungkin menjabarnya dalam rumusan-rumusan.

Dalam satu titik, manusia sering merasakan tarik menarik antara keduanya. Tarik menarik yang begitu keras sehingga bisa meremukan sang pemilik jiwa : putus asa, rasa dihianati, putus cinta. Namun, seperti para sufi, begitulah hidup, dengan segala sukha dan dukha. Dalam percintaan dan persahabatan sukha dan dukha adalah hal yang niscaya.

Sebenarnya, sikap kita yang harus diutamakan dalam menanggapi hal ini. Sikap tidak melekat terhadap emosi. Bukan berarti kita menjadi robot tanpa jiwa dan emosi. Tapi menyeimbangkan kemanusiaan dan kerobotan kita adalah salah satu cabang dari kebahagiaan.

Ferry Fadillah
2 Juli 2013

 

,

Leave a comment

Aleph

“Aleph”

Aleph adalah huruf pertama dalam sistem bahasa Hebrew. Dalam Bahasa Arab sepadan dengan huruf alif. Aleph tidak hanya mengandung sesuatu yang materi yakni entitas terkecil dari sistem bahasa namun mengandung hal-hal transenden yang sulit diraba oleh manusia.

Aleph dibangun oleh tiga bentuk, yakni yod (10), yod (10) dan yov(6). Sehingga Aleph mengandung angka 26, sebuah angka sakral dalam kepercayaan Yahudi yang mengacu kepada Tuhan Yang Maha Esa : YHVE

Dalam bentuknya yang artistik, aleph menggambarkan dua dimensi. Pertama, dimensi ke-Tuhanan yang bersifat astral. Kedua, dimensi kemanusiaan yang bersifat materi. Keduanya dihubungkan oleh sebuah garis yang bermakna bahwa Tuhan dan manusia akan selalu berhubungan.

Paulo Coelho dalam novelnya ‘Aleph’ mendefinisikan aleph sebagai sebuah titik di dunia ini yang akan membawa jiwa kita kembali ke masa lalu, ke dalam kehidupan sebelum kini, melihat citra-citra yang berkelibatan dengan cepat untuk memahami keberadaan kita saat ini.

Aleph tidak lepas dari kepercayaan inkarnasi, de javu dan karma yang masih dipercaya beberapa kaum tradisionalis di dunia ini. Terlepas dari itu semua, saya akan merangkai hal-hal positif yang dapat diambil dari novel ini. Semua tentang kehidupan, perjalanan, tujuan dan akhir dari semua itu.

***

Apa yang kulaukan di sini, berusaha menjalankan tradisi spiritual yang berakar pada masa lampau yang sangat jauh dari tantangan masa kini? (halaman 14)

Ada semacam titik jenuh. Ritual yang seyogyanya ditujukan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan malah membuat penulis jauh dari Tuhan itu sendiri. Kemudian, penulis berpikir bahwa watu akan menuntun  kepada Tuhan. Namun, Sang Guru menjelaskan bawa waktu hanya akan membuat manusia lelah dan tua.

“Itu karena sama seperti semua orang lain di planet ini, kau percaya bahwa waktu akan mengajarimu cara mendekat pada Tuhan. Namun waktu tidak mengajari apa-apa; waktu hanya membuat kita merasa lelah dan bertambah tua”(halaman 19)

Maka, penulis mengadakan perjalanan. Menyusuri Rusia dengan kereta melalui jalur trans Siberia. Bertemu banyak orang, titik bernama aleph, hal-hal magis, yang membuatnya sadar bahwa kehidupan adalah ibarat kereta api. Ia bergerak dari satu titik awal menuju titik akhir. Yang bisa dilakukan adalah menikmati kekinian di meja makan bersama penumpang lain, daripada mengeluhkan guncangan yang pasti akan terjadi. Guncangan di sini didefinisikan sebagai masalah dalam kehidupan.

“…Bukan apa yang kaulakukan di masa lalu yang akan memengaruhi masa sekarang. Apa yang kau lakukan sekaranglah yang akan menebus masa lalu dan mengubah masa depan”(halaman 21)

Dalam hidup, banyak orang perpikir untuk mengubah nasib dengan cara mengubah masa lalu. Membayangkan mesin waktu atau aleph yang akan membawa kita ke kehidupan sebelum ini. Akan tetapi semua itu adalah sia-sia. Seperti yang dijelaskan kalimat di atas, apa yang kita lakukan sekaranglah yang akan menebus masa lalu dan mengubah masa kini.

Akhir kalam, dari novel ‘Aleph’ saya berlajar untuk menghargai masa kini.

Sebuah momen yang sedang dan pasti terjadi.

Selamat Membaca. Selamat menikmati kekinian.

Ferry Fadillah

Bandung, 9 Mei 2013

, , , , ,

Leave a comment

Sang Waktu

Di bawah atap di dalam rumah,

Aku berdiam tanpa bertingkah.

Di atas karpet di ruang tamu,

Aku melihat sebuah buku.

Di atas meja di dalam kamar,

Aku membaca dengan  samar.

 

Pada hari itu. Pada ruang dan waktu yang sama.

Aku membaca dan terus membaca.

Bahkan hingga membabi buta.

 

Mungkin khalayak nilai itu tiada guna

tapi sungguh, aku hanya ingin waktu bermakna.

Karena ketika hidup telah tiada,

waktu akan tertawa,

dan kita hanya bisa terpana.

Ferry Fadillah. Denpasar, 15 Desember 2012

***

Berulang kali orang menasihatiku untuk tidak terlalu tegang dan selalu rileks. Namun, mungkin karena bawaan, aku sulit menghilangkan itu semua. Prinsip-prinsip ku yang terkadang bertentangan dengan logika kesenangan, aku pahami, telah mengorbankan banyak hati. Karena dalam kamus hidupku, dunia ini adalah perjuangan, dan perjuangan menuntut pengorbanan.

Waktu berlalu dan ilmu bertambah. Aku merekonstruksi ulang prinsip-prinsip ku yang terlalu kaku. Aku mafhum, bahwa senang-senang adalah kecenderungan manusia; bahwa senang-senang adalah awal bahagia; bahwa senang-senang adalah awal dari persahabatan.

Prinsip kaku lawan prinsip kesenangan menghasilkan prinsip hybrid yang unik. Aku harus selalu senang, senang yang bermakna, tidak melulu tentang yang fana, tapi bagaimana menghargai sesama manusia. Anthroposentrisme. Itu kini prinsipku.

Dan semua itu disokong oleh pembelajaran berkelanjutan, yakni : membaca.

Iqro, kata Tuhan.

, , , , ,

Leave a comment

Ketersinggungan

Perbuatan seseorang terhadap kita, semenjak itu tidak menyinggung prinsip-prinsip transenden yang kita anut dan pegang teguh dengan pedang dan amunisi, adalah hal lumrah yang patut untuk dimaafkan. Perasaan kesal sebagai reaksi dari aksi fisik maupun mental yang kita terima, jika direnungi, hanyalah terjadi di ‘dunia lain’, dunia tidak terbatas di luar realita yang kendalinya berasal dari akal kita.

Sebutan hati, tidak selalu merujuk sebagai organ biologis yang memiliki fungsi penetralisir racun dalam tubuh, namun sebagai kondisi kebatinan, sesuatu yang tidak dapat dilihat namun keberadaannya nyata karena dapat dirasakan dan dimanifestasikan  dalam artifak-artifak kebudayaan yang memiliki referensi struktural terhadap suasana kebatinan/hati tertentu.

Ketersinggungan bermula dari hati yang terluka (saya rasa kita semua sepakat dengan hal ini), akan tetapi para pemikir mengemukakan bahwa hati adalah sesuatu yang irasional, transenden serta tidak memiliki kebenaran absolut, selalu berubah-ubah tergantung suasana sehingga kedudukan akal ialah superior dibanding hati dan dapat dengan otoriter mengendalikannya.

Fakta-fakta di atas adalah hal gamblang yang kurang dipahami masyarakat umum. Masyarakat dimana ekspresi dari batin/hati dengan mudah diluapkan atau diekspresikan dalam berbagai macam aksi dan artefak tanpa mempedulikan peran akal yang memiliki fungsi penyaring : baik/buruk, estetis/anarkis. Sehingga anarki sosial, demonstrasi kontra produktif, terorisme dan tawuran antar pelajar/kampung sering terjadi namun tidak pernah bisa kita cegah dan hilangkan.

Bukan berarti hati harus kita transformaskan menuju titik nol, kematian, ketidak beradaan (nothingness), tetapi menempatkan hati secara struktur di bawah akal sehingga segala ekspresi sosial sebagai akibat dari proses mekanis-psikologis dalam hati (ketersinggungan, kegalauan dsb) dapat berwujud lebih produktif dan konstruktif.

Akhirnya, ketersinggungan adalah sesuatu yang akan selalu terjadi dalam kehidupan sosial di dunia. Mereka yang anti-ketersinggungan hendaknya hengkang dari bumi dan mencari surga yang katanya penuh kesempurnaan dan keagungan. Menempatkan akal atas hati adalah satu-satunya solusi untuk segala macam problem sosial yang berhulu dari ketersinggungan.

Kedepan, apabila setiap individu memiliki kecenderungan berpikir kritis dan logis, saya yakin negeri ini akan lebih stabil dan harmonis.

Ferry Fadillah
14 Oktober 2012

 

, , , , , ,

Leave a comment