19 Januari…

Saya tidak pernah menyangka jika perjalanan Denpasar-Ubud dengan motor dinas bersamanya akan berujung kepada hal yang sangat serius: pernikahan. Selama perjalanan ia selalu bercerita tentang segala hal dengan nada positif. Bukan khas pekerja ibu kota yang muak dengan para atasan pembual dan jalanan yang ruwet. Berkali-kali ia mengunjungi Bali untuk menjalankan tugas kantor sembari menghubungi saya kalau-kalau ada waktu untuk menikmati jalanan berdua. Dan saya selalu siap untuk itu. Bali dan perbincangan yang hangat dengan wanita pecinta buku adalah candu.

Begitulah hari-hari itu berlalu hingga saya pindah dan menjalankan kehidupan rumah tangga di ibu kota. Kini sudah satu tahun lamanya. Waktu bergulir begitu cepat. Tapi perasaan yang sama saat saya dan dia berjalan di Bali masih saja terus hidup dan bertambah kuat. Pemicunya sepele saja. Sunset di tanah rawasari atau gerimis mendung di rawamangun.

***

Di hari ulang tahun pernikahan ini kebanyakan orang memberi hadiah besar kepada istrinya. Saya bukan tipikal orang romantis. Mengajak menikah saja seperti mengajak orang pergi ke pusat belanja. Datar dan spontan.

Ada sebuah hal yang patut direnungkan. Apakah hadiah yang berwujud selalu menjadi representasi dari perasaan-perasaan terdalam? Dalam hal ini saya setuju dengan Iksan Skuter, cinta itu kupu kupu yang memeluk bunga/ saling mengisi mengasihi saling melindungi/ cinta itu tak pernah banyak mulut dan kata/ tak terlihat dan slalu berkata kata dengan rasa.

Untunglah istri saya sederhana saja. Ia tidak meminta kemewahan. Pagi ini ia meminta segenggam puisi sebagai penanda waktu penting ini.

***

Puisi itu tercekat. Enggan keluar dari rongga mulut dan jari jemari.

Ia tertidur jauh di dalam. Bukankah puisi hiburan bagi kesedihan?

Kalu kesedihan itu sirna lalu apa guna puisi.

Bukankah pertemuan satu tahun yang lalu kini adalah cerita kebahagiaan semata?

Tidak ada setiap jengkal perbincangan yang tidak bermakna.

Walau tampak acuh, telinga selalu menyimak setiap detil yang terhambur keluar dari jiwa. Dari kisah-kisah itu makna terangkai.

Dan, dari segala jenis makhluk, hanya manusia yang tidak mampu hidup tanpa kebermaknaan.

Penyatuan ini bukanlah jasad semata yang terbingkai dalam rumah mungil di bilangan Jakarta Pusat.

Ini adalah kerajaan yang akan terus langgeng hingga ke surga.

Tidak ada kata akhir bagi ketulusan.

Mungkin pahit bisa saja mampir ke rumah.

Mengoyak segala kemapanan.

Apakah pahit itu abadi jika bertemu gula?

Apakah rela kita diombang-ambing oleh kepahitan -bahkan kebahagiaan.

Jejak-jejak selanjutnya akan selalu ditemui kerumitan.

Namun, bersama dirinya itu hanyalah petualangan semata.

Aku akan menjadi juru tulis dan ia akan selalu menceritakan kisahnya.

Ferry Fadillah. Januari, 2020

This slideshow requires JavaScript.

 

 

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: