Jakarta (lagi)

Jakarta adalah lorong pengap yang jalin menjalin menjadi satu. Ia juga adalah beton-beton raksasa sisa kejayaan masa lalu. Jakarta adalah hitam air yang tercipta dari ketamakan korporasi. Hitam air itu mengalir dari gang-gang kumuh menuju pelabuhan. Di sini, orang-orang kerap bersitegang. Ketegangan yang timbul antar ojek online dengan ojek pangkalan; antar pengemudi taksi dengan busway; antar ibu dengan ayah tentang biaya sekolah yang kian membengkak.

Aku tidak sedang mencaci maki Jakarta. Bagiku kota ini adalah kawan lama. Tahun 90-an antara Tanah Abang dan Bekasi. Aku pergi bersama Ayah dengan kereta berkawan tukang gorengan dan para gelandang. Sesak, penuh, riweuh. Mau tak mau, kita berbagi tempat dengan masinis.

Bagiku, lain dulu, lain sekarang. Jakarta adalah masa depan. Ia bukan saja celah sempit pada mulut gang. Ia adalah cinta tulus para bapak ojek di jalanan gersang, jugas kasih para Ibu diantara keramaian pasar. Jakarta tidak layak dicela. Ia adalah awalan dan harapan; saksi berseminya cinta di Timur dan mekarnya kasih di Barat.

Jakarta adalah kita.

Ferry Fadillah. Jakarta, 5 Agustus 2018.

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: