Hanya Tertawa Sedikit

Manusia terlempar di dunia ini bukan tanpa kehendak dirinya sendiri. Sebuah dunia yang dipenuhi penderitaan pada setiap satuan waktu dan ukuran ruang.

Setiap hari ada seorang ayah yang membanting tulang demi pendidikan putra-putrinya, beradu mulut dengan istri karena gaji yang didapat kurang, menyaksikan dengan mata kepala sendiri istri selingkuh dan meninggalkan dirinya saat kondisi ekonomi sedang sulit, bertahan dengan linangan air mata saat anak-anaknya memilih durhaka daripada berbakti, hidup dalam kesendirian di hari tua saat anak-anak menikmati hari libur mereka bersama kawan-kawan dan istri tercinta.

Ada juga seorang ibu yang harus berhutang ke sana ke mari demi tetap mengepulnya urusan dapur dan biaya pendidikan anak yang dari hari ke hari semakin tinggi, menahan batin ketika melihat suami malas di rumah tidak mencari nafkah, atau bebas membawa wanita lain masuk ke rumah dengan tenang dan enteng, belum lagi anak-anak mereka yang berkata ah! Saat dimintai tolong, dan seperti orang tua lain, bisa-bisa ketika di usia renta anak-anaknya melupakan dirinya dengan tertawa gembira bersama kawan-kawan belanja di luar negeri.

Ada juga petani yang tanahnya dihimpit perusahaan multinasional produsen air mineral dalam kemasan, mata air yang selama ini dapat diakses dengan gratis ternyata kering karena sumur bor yang terlalu dalam dari perusahaan, biaya input menjadi tinggi, petani menjual lahan tidak produktif mereka dengan harga murah untuk dijadikan real eastate oleh pengembang. Ia sendiri harus pindah ke ibu kota untuk menjadi buruh kasar dengan gaji musiman.

Ada juga buruh yang harus berdiri di depan mesin pabrik selama berjam-jam dengan gaji cukup memenuhi kebutuhan pokok, ketika berserikat untuk memperjuangkan hak-hak, perusahaan mengancam pemutusan hubungan kerja dan orang-orang dungu menuduh mereka sebagai komunis. Saat demo kenaikan UMR orang-orang nyinyir dan agamawan berkata: sabarlah, kiranya Tuhan bersama kalian.

Ada juga seorang pegawai negeri sipil rendahan pada sebuah kantor pemerintah. Dengan gaji seadanya ia harus membiayai kedua orang tua, adik dan bibi-bibinya yang kerap berhutang. Diatur pengeluaran dengan saksama karena pendapatan tidak bisa diotak-atik lagi kecuali mereka ingin berurusan dengan KPK. Hutang ke bank terjerat bunga yang meningkat dari tahun ke tahun. Hutang kepada kawan rusak silaturahmi karena enggan untuk bertemu. Belum lagi mutasi dari satu daerah ke daerah lain. Tenggelam dalam kapal patroli. Digebuk masa karena perintah atasan. Ditusuk fundamentalis karena dibilang thagut. Mati dalam dinas, hanya ada penghargaan kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi dan orang-orang yang berkabung sesaat untuk kemudian melupakannya karena sudah kembali dalam rutinitas masing-masing.

Ada juga orang-orang yang hidup di pusaran konflik. Setiap hari mereka mendengar desingan peluru dan runtuhan rumah akibat rudal dari pesawat musuh. Mayat-mayat dengan anggota badan tidak utuh adalah pemandangan jamak yang mengiris hati. Kekurangan sandang, pangan dan papan. Pindah dari satu negara ke negara lain. Menumpang perahu mengarungi lautan namun tumpas di pusaran air. Dianggap teroris, dirusak kehormatannya, menyaksikan anaknya ditiduri tentara dan orang tuanya dipenggal di alun-alun kota. Dari Afrika Tengah, Palestina, Siria, Banglades, Papua, Aceh, Amerika dari masa lampau hingga hari ini dan di masa depan sampai kedatangan sang mesiah.

Namun, orang-orang memilih untuk melupakan itu semua. Maka dicarilah pengalih dengan dalih agar mental tidak berubah gila. Acara musik, film, alkohol, rokok, ganja, seks bebas, novel, jalan-jalan, foto, instagram, olahraga dan hal-hal lain menjadi ladang bisnis industri moderen.

Jika boleh berandai-andai. Seandainya pengetahuan tentang penderitaan yang berlangsung saat bumi bagian barat disinari cahaya dan bumi bagian timur diliputi kegelapan, dari masa lalu, hari ini, hingga masa yang akan datang, tersingkap secara sadar maupun tidak sadar atas kuasa ilahi maka tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang sanggup tertawa lepas walau hanya sesaat.

Kamu banyak tertawa dan jarang menangis,

Dan kamu lengah darinya.

Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Allah.

(Tiga ayat terakhir Q.S. An-Najm)

Ferry Fadillah. September, 2017.

Advertisements

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: