Tumbuh

Menatap Bandung dari kejauhan seperti menyaksikan mimpi dalam tidur. Potongan-potongan masa lalu berkelindan membentuk lukisan-lukisan realis yang humoris sekaligus tragis. Ada saat tawa menjadi penganan kecil disela-sela pertemuan dengan secangkir kopi. Ada juga saat sedih menjadi mendung yang membanjiri jiwa dengan hujan air mata.

Di tahun 90-an, saat saya belum mimpi basah, Antapani adalah perumahan baru di tengah-tengah sawah para petani. Di pagi hari masih ada kabut yang menyelimuti jalanan. Dipadu temaram lampu jalanan, perjalanan ke sekolah di pagi hari adalah pengalaman yang mistik penuh ketenangan.

Dibelakang pemukiman penduduk, bocah-bocah ingusan berlarian bermain petak umpet. Bagi yang memiliki hobi layangan, pesawahan yang kering adalah tempat bermain yang mengasyikkan. Benda terbuat dari bilah bambu yang ditutup kertas minyak ini digerakkan benang dan dibantu angin, mereka menatap langit dan tertawa bersama kerabat.

Bagi yang suka bermain kotor, mereka akan mencari belut di sawah warga. Belut-belut itu dikumpulkan di ember untuk dikonsumsi atau dilepas kembali. Pematang menjadi arena  yang cocok untuk berpetualang. Ditengah hijau padi, angin yang berhembus menerpa wajah akan menenangkan hati dan pikiran.

Jalan-jalan kota bandung tidak dipenuhi padatnya kendaraan berasap seperti hari ini. Ruang terbuka, hijau tanpa rencana terdapat dimana-mana. Sebagian surga bagi anak-anak tersebut kini menjadi hunian eksklusif yang mengambil alih sawah-sawah warga. Pematang sawah tempat bermain layangan, sawah penuh belut diganti perumahan eksklusif dengan penjaga yang penuh curiga. Anak-anak kehilangan tempat bermain, sebagian masih menggunakan jalan sempit depan rumah sebagai arena bermain. Tapi tentu saja dengan caci maki dari pada tetangga yang merasa terganggu. Lama-lama anak-anak itu kehilangan minat bermain, ditemukannya handphone adalah seperti sebuah oase, kini anak-anak dapat menelusuri tempat yang jauh, mendengar ragam genre music, perang, bahkan menyaksikan adegan telanjang hanya dengan bantuan layar kaca di depan jari-jemarinya yang mungil.

Sebenarnya, perubahan ini adalah keniscayaan yang terjadi dimanapun. Setiap orang setuju, kalau perubahan adalah suatu kepastian tapi apakah perubahan harus selalu berakhir dengan kepahitan? Kalau kita identifikasi hal-hal heroik dari segala zaman, hari ini, saat setiap orang berlomba demi pertumbuhan, kiranya ada satu hal yang perlu dijawab “ya” untuk menandai aksi heroisme baru : Perlukah kita tumbuh?

Ferry Fadillah. Bandung, April 2017

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: