Ubud

pada detik di meja kantor

orang pada menanti

“Kapan ini akan berhenti?”

yang sama selalu berulang

kau datang

lalu pulang

demi uang

(“Kantor. Maret, 2017)

 Hampir bisa dipastikan tidak ada seorang pegawai pun yang rela menghabiskan masa hidupnya di kantor. Itulah mengapa para karyawan bersorak ketika jumat datang dan bersedih saat senin menjelang. Itu semua manusiawi. Susunan fisiologis manusia memang diciptakan untuk bergerak dan melihat alam bebas, bukan duduk anteng dengan tumpukan dokumen di depan meja.

Bagi pegawai di wilayah Bali, saat-saat jenuh bekerja di kantor bisa diobati dengan berwisata bersama kerabat. Lari di tepian pantai Kuta, bersepeda di pantai Sanur atau mandi air hangat di bawah kaki Gunung Batur. Namun, seiring dengan meningkatnya arus wisatawan dalam dan luar negeri, dibeberapa titik pulau ini kepadatan dan keruwetan menjadi pemandangan jamak layaknya kota besar lain di Pulau Jawa.

Tapi jangan berkecil hati. Masih ada daerah yang bebas dari segala keruwetan itu. Salah satunya adalah Ubud. Berada di Kabupaten Gianyar, Ubud dapat ditempuh selama dua jam menggunakan sepeda motor dari Kecamatan Kuta. Waktu itu hari kamis, panas begitu terik menciptakan bayang-bayang di aspal jalan. Aku berkendaraan dengan motor sekitar pukul sepuluh pagi dengan membawa ransel berisi buku Sejarah Estetika dan baju ganti seadanya. Sepanjang jalan aku melihat rumah-rumah tradisional yang diubah menjadi showroom kesenian. Mereka menjual patung, relief, lukisan, ukiran kayu, meja, kerajinan tangan, kerajinan perak, buah-buahan, wayang, meja kayu dan produk kesenian lainnya.

Tiba di jalan utama Ubud aku langsung mengunjungi Museum Seni Neka. Museum ini terletak di daerah Campuhan. Pendiri dan pemiliknya adalah mantan guru, pecinta dan kolektor lukisan, Wayan Suteja Neka. Berdiri pada tanggal 7 Juli 1982 museum ini memilki enam buah bangunan pameran yang berarsitektur Bali. Pemajangan lukisan dikelompokan berdasarkan tema, gaya dan prestasi sang seniman.

Bangunan pada gedung pertama memajang karya-karya lukis yang dipamerkan secara historis. Diawali dari seni lukis tradisional wayang klasik yang diangkat dari epos Ramayana, Mahabrata dan legenda-legenda Jawa Bali. Lukisan tertua di ruangan ini bertajuk Gugurnya Abimanyu (akhir abad XIX). Lukisan terbaru adalah  karya Nyoman Mandra dengan tema kehidupan dalam beragama (1989).

Dua ruang lainnya dalam gedung ini memamerkan lukisan khas ubud yang sudah mendapat pengaruh barat. Pada tahun 1920-an Walter Spies dan Rudolf Bonnet tinggal di daerah ini dan memperkenalkan teknik estetis eropa tentang pencahayaan, bayangan, perspektif dan anatomi. Walau mendapat pengaruh eropa, pelukis lokal seperti I Gusti Ketut Kobot masih tetap mengangkat tema-tema tradisional begitu juga dengan Anak Agung Gde Sobrat, Ida  Bagus Made Dewa Putu Bedil dan Ida Bagus Rai yang mengangkat tema kehidupan sehari-hari dan upacara keagamaan.

Di ruangan terakhir adalah karya lukis para seniman daerah Batuan. Lukisan-lukisan yang kurang mendapat pengaruh barat ini bercirikan padatnya kanvas oleh figur dengan aktivitas yang beragam. Misalnya rombongan wanita yang berjejer menuju Pura, pria yang sedang adu ayam, petani yang berbincang dan para nelayan di sela-sela rimbunan hutan yang pekat. Lukisan yang dipajang adalah karya Ida Bagus Togog, Ida Bagus Wija, Made Budi dan Wayan Bendi.

Gedung selanjutnya adalah Paviliun Arie Smith yang dedikasikan sebagai penghargaan bagi jasa seniman kebangsaan Belanda ini. Gedung ketiga adalah ruang pameran foto tentang Bali pada tahun 1930-an dan awal 1940-an karya Robert Koke dari Amerika.

Paling menarik  adalah paviliun Gusti Nyoman Lempad. Pelukis legendaris Bali ini memiliki gaya khas yang berbicara melalui 18 karyanya. Lukisannya rata-rata bercerita tentang epos Ramayana, Mahabrata dan cerita budaya Bali.  Lukisan Lempad terasa sangat kuat dengan rincian para tokoh yang sangat memukau. Walau tidak kaya dengan warna, lukisannya memiliki aura mistis yang bergabung dengan erotisme dan kejenakaan. Salah satu karyanya berjudul Perang di Langkapura (1960) menggambarkan Anggada yang membantu Raja Rama untuk menyelamatkan Dewi Sita di Kerajaan Langkapura. Lukisan itu dipenuhi oleh sosok monster dan tentara kera dengan tonjolan alat kelamin yang menjadi sasaran perkelahian sekaligus senjata dalam mengalahkan musuh. Sepertinya tidak perlu diceritakan detil, aku takut pikiran pembaca terlalu melambung jauh menyentuh hal-hal banal. Biarlah lukisan ini yang berbicara sendiri.

Hari sudah sore, aku meliwati sepintas lalu dua gedung terakhir tanpa minat. Sebenarnya niatku berkunjung ke museum seni adalah mencoba pengetahuan estetika yang didapat dari buku Sejarah Estetika-nya Martin Suryajaya. Aku kira setelah membaca kitab itu jiwa seniku akan meningkat dan membuatku betah melihat segala macam lukisan. Ternyata minatku hanya terpaku pada lukisan-lukisan gaya Ubud yang menggambarkan alam, budaya, dan mitologi Bali dengan warna-warna redup yang menenangkan.

***

Beberapa meter dari Restauran The Bridge ada sebuah Pura yang terletak di lembah hijau dengan aliran sungai yang jernih. Di belakang Pura itu ada sebuah anak tangga dari batu yang mengarah kepada sebuah bukit. Orang sekitar menyebutnya Bukit Campuhan karena letaknya di Desa Campuhan. Bukit ini dikelilingi oleh semak hijau setinggi lutut orang dewasa. Di sebelah kanannya adalah lembah dengan kumpulan pohon kelapa, angsana, bayan dsb yang saling berebut tempat. Aku berjalan bersama serombongan orang asing yang begitu terperangah melihat keajaiban itu. Bukit yang hijau, langit cerah yang biru, angin yang membawa aroma daun dan lembah yang memesona.

Aku sudah sering ke tempat ini. Mengantarkan beberapa kerabat atau teman kantor. Pemandangan biasa bagiku yang berasal dari daerah pegunungan. Tapi Bali selalu beda, bukit ini tampak terawat. Tidak ada gubuk-gubuk pedagang jagung, pedagang pop mie dan penjual kacang  di jalurnya. Wisatawan dapat berlalu lalang tanpa perlu takut diganggu. Tampak gurat kebahagiaan terukir dalam wajah-wajah mereka.

***

Saat malam tiba, toko-toko di sepanjang jalan raya Ubud terlihat seperti serikat kunang-kunang eksotis di pekuburan tua. Pemiliknya memiliki cita seni yang tinggi. Barang-barang yang mereka jajakan dipasang pada sebuah display kaca dengan terang warna redup yang tidak menyilaukan mata. Orang-orang berjalan diatas bahu jalan yang ditata apik sambil sesekali melihat ke arah toko. Mereka yang tertarik memutuskan untuk masuk dan menambah pundi-pundi uang bagi warga Ubud.

Di perempatan pertama jalan raya itu ada sebuah Puri besar yang umurnya sudah sangat tua. Namanya Puri Saren Agung. Kediaman bagi keluarga Kerajaan Ubud. Dindingnya terbuat dari batu bata yang ditata rapih dengan gapura tua yang bertahtakan sosok-sosok mitologis.  Halaman utamanya cukup luas. Ada sebuah arena untuk kesenian di depan gapura besar lapis kedua yang dilengkapi dengan pintu kecil ukiran Bali. Pohon Kamboja dan Beringin dipadu dengan tembok yang coklat dan dipenuhi lumut membawa kesan angker dan mistis.

Pukul 19.30 para wisatawan bisa menikmati pentas kesenian di halaman puri. Harga tiketnya seratus ribu rupiah. Setiap hari jenis tarian yang disajikan berbeda. Kebetulan hari itu adalah Kamis dan aku menikmati sajian Legong Trance: Paradise Dance Programe yang dikelola oleh Panca Artha Group.

Kursi pelastik berwarna biru ditata mengelilingi arena tari dari segala penjuru. Di bagian paling depan disediakan karpet merah untuk wisatawan yang tidak kebagian kursi. Seorang nenek tua hilir mudik menawarkan bir atau air mineral. Logatnya Inggris rasa Bali. Langit mendung tidak memperlihatkan bintang. Hujan mulai turun rintik-rintik. Hebatnya ketika para barisan penabuh gamelan memasuki arena hujan seakan tertahan.

Dari sebuah pintu kecil di kanan gapura muncul seorang pendeta dengan pakaian serba putih membawa air suci. Dengan kuas yang terbuat dari tumbuhan sang pendeta memercikan air itu ke wajah setiap penabuh gamelan. Satu per satu dengan khidmat. Setelah itu sebagai pembuka para penabuh gamelan memainkan nada indah yang saling bersahutan. Selang beberapa menit seorang pendeta gemuk dengan pakaian putih datang membawa kemenyan dan genta. Pendeta itu diiringi dua wanita paruh baya yang membawa mahkota bertaburkan bunga kamboja. Di belakangnya ada dua orang gadis suci yang diangkat oleh empat pria dewasa. Gadis-gadis itu sangat cantik dengan pakaian anggun berwarna keemasan.

Diadakanlah prosesi doa yang ditandai dengan duduknya sang pendeta dihadapan mahkota bunga sembari membunyikan genta. Setelah itu mahkota tersebut dipakaikan kepada dua gadis perawan secara khidmat. Pendeta kembali memainkan genta ke arah gadis usai dipasangkan mahkota. Ritual selesai. Pendeta beserta para pengiring meninggalkan arena tari.

Kedua gadis itu sekarang menjadi pusat perhatian. Mereka mengawali gerakan mereka dengan memegang kipas yang terbuka dan mengatupkan kaki rapat sambil memejamkan mata. Alunan gamelan mulai bertaluan. Gadis-gadis itu menari diiringi gamelan dengan memejamkan mata. Mereka menari dengan anggun dengan gerakan tangan dan kaki yang rumit. Hebatnya, walaupun menutup mata mereka tidak pernah salah dalam bergerak atau bertabrakan saat berganti posisi. Semuanya sangat presisi dan indah. Mungkin sesuai dengan judul tariannya (Legong Trance), mereka dikuasai kekuatan adikodrati dengan cita seni yang tinggi. Setelah terkesima selama beberapa menit akhirnya gadis-gadis itu sontak membuka mata. Pandangannya begitu tajam dengan lirikan-lirikan sulit yang hanya bisa dicapai dengan disiplin latihan. Kini gerakan tari masih berlanjut namun diiringi juga dengan kelihaian memainkan kerlingan mata.

Tarian selesai, para gadis terengah-engah kembali ke posisi semula. Iringan pendeta datang kemudian melakukan ritual singkat. Mahkota dikembalikan kepada para wanita paruh baya dan para gadis dibawa oleh empat lelaki dewasa kembali ke pintu kanan gapura. Pertunjukan pertama usai, gemuruh tepuk tangan penonton membahana.

Pertunjukan kedua adalah Tari Jauk. Penarinya adalah seorang pria dengan topeng berwajah pucat bermulut lebar dengan kumis yang tebal. Tubuhnya tinggi tegap. Ia menggunakan jubah kebesaran dengan ornamen tradisional yang rumit. Sosok itu membawa keris besar di belakang punggungnya. Kukunya panjang mencuat dari sela-sela jari. Tarian ini menggambarkan sosok raksasa yang menikmati waktu bagi diri sendiri di hutan belantara. Ia menari mengikuti alunan gamelan ke sana kemari. Ia juga berinteraksi dengan penonton dan menentukan kapan alunan gamelan dimulai dan berhenti.

Hari sudah malam, tarian-tarian selanjutnya tidak aku perhatikan. Mungkin aku sudah bosan. Sudah sering aku ke Ubud menyaksikan tari-tarian. Mulai dari Fire Dance di Pura Desa Ubud hingga tarian Legong di Puri ini. Bagi wisatawan yang kali pertama datang tentu tari-tarian itu sangat mengagumkan, tapi bagi yang sudah sering barang tentu kehilangan minat. Ada satu tarian yang belum sempat aku lihat. Tarian Calon Arang namanya. Biasanya dilaksanakan di setra (kuburan) pada waktu-waktu tertentu. Menurut keterangan seorang kawan, tarian itu merupakan arena unjuk gigi bagi penganut ilmu Leak. Penonton harus hati-hati. Salah-salah bisa menjadi korban. Sebagai pecinta misteri lain kali aku tidak boleh melewatkan tarian Calon Arang.

***

Bagi wisatawan yang pertama kali mengunjungi Ubud, aku sarankan untuk menginap semalam di sana. Ubud menawarkan banyak akomodasi murah dan strategis. Di jalan-jalan kecil sekitar jalan utama, seperti Jalan Bisma, Jalan Kajeng, Jalan Suwata, Jalan Gotama, Jalan Sriwedari, Jalan Sandat, Jalan Tirta Tawar dsb, terdapat rumah warga yang dialihfungsikan menjadi homestay dengan harya antara Rp100.000 hingga Rp300.000 rupiah. Jika tidak memiliki kendaraan, lokasi ini bisa ditempuh dengan shuttle kura-kura jurusan Kuta-Puri Ubud dengan ongkos Rp80.000 sekali jalan.

Di pagi hari pengunjung bisa menyewa sepedah dan menikmati susunan pesawahan yang hijau di punggung bukit. Jika memiliki energi lebih, wisatawan bisa membawa sepeda naik turun tangga menuju bukit campuhan dan mengitari ubud dari satu bukit ke bukit lain. Pukul sembilan pagi toko-toko disekitar jalan utama sudah mulai bergeliat. Rata-rata mereka menjual makanan khas eropa, toko buku, pasar baju dan café-café unik. Setelah lelah bermain sepeda pembaca bisa santai sejenak memanjakan lidah.

Di siang hari wisatawan bisa mengunjung beberapa museum seni. Di antaranya Museum Antonio Blanco yang memamerkan lukisan erotis wanita Bali dengan tonjolan payudara yang menjadi cirinya. Beberapa meter dari sana juga ada Museum Puri Lukisan yang secara resmi buka pada tahun 1956. Museum ini memiliki koleksi lukisan wayang kuno yang terisnpirasi dari Kitab Mahabrata di atas kain tua. Selain itu dipajang juga karya-karya pelukis Bali lain seperti I Gusti Nyoman Lempad yang legendaris itu.

Selain museum lukisan wisatawan juga bisa mengunjung Monkey Forest. Sebenarnya ini adalah lokasi setra (kuburan) warga sekitar. Hutan rimbun dengan monyet yang memenuhi jalan keluar-masuk ini merupakan lokasi yang bagus untuk melihat harmoni antara hewan dan manusia. Hutan dijaga sediakala, hewan diberi makan hasil retribusi pengunjung sehingga tidak merusak pemukiman warga, dan warga sekitar mendapat keuntungan dari ramainya pengunjung.

Mungkin hanya itu yang bisa aku ceritakan dari Ubud. Terlalu banyak karunia Tuhan yang sulit diceritakan dengan kata-kata dan disuguhkan melalui citra fotografi. Aku yakin, ditengah-tengah tarik menarik antara kepentingan bisnis dan adat, Ubud akan selalu menjadi tujuan bagi pencari kedamaian. Seperti asal katanya. Ubud berarti Ubad (obat), bagi jiwa-jiwa yang dilipur lara.

Ferry Fadillah. 21 Maret 2017.

Advertisements

, , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: