Kamu Dimana

Aku termenung pada sebuah ayunan berkarat di pinggiran taman pantai. Waktu itu waktu menunjukan pukul lima sore. Langit mendung bukan main. Angin menerpa pohon kelapa hingga nyaris runtuh. Aku menengadah ke langit. Sesekali memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam.

Dimanakah Dia? Aku melihat ke kiri dan ke kanan. Hanya ada segerombolan turis udik yang mengabadikan pemandangan sore itu dengan gawai buatan cina. Di hadapanku hanya ada kapal nelayan yang memaksa mesin kapal agar segera menepi. Aku tidak melihat apa-apa lagi selain itu.

Beberapa bulan lalu, saat sedang dalam perjalanan kereta Bandung-Jakarta, aku melihat pemandangan alam yang luar biasa. Gunung-gunung dengan pohon hijau berikut sawah-sawah penduduk. Sungai mengalir begitu jernihnya memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar. Aku memejamkan mata, menghirup udara yang bercampur bau rokok kemudian membuka mata dan melihat lekat ke jendela. Kemana Dia, kenapa aku tidak juga menemukannya?

Hujan gerimis di bilangan Jakarta. Aku sendiri ditemani kopi hangat. Aromanya menenangkan jiwa. Kemudian aku memesan lagi satu gelas kopi dengan caramel dan kue belanda. Aku siapkan bunga mawar putih di sebelah hidangan itu. Waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Aku sudah menanti lebih dari lima jam. Namun, Dia tidak datang ke tempat itu. Memberi tahu kealpaannya saja tidak. Aku sangat kecewa.

Pada suatu titik, aku sudah bosan mencari dan menunggu. Aku berhenti berusaha.

Dalam sebuah perjalanan malam di taman kota. Aku membeli burger ukuran besar dengan saus tomat dan minuman dingin. Aku duduk pada sebuah bangku gaya kolonial dibawah lampu temaram. Malam itu sangat cerah. Aku melihat gugusan bintang yang bersinar terang. Lamat-lamat aku menikmati burger itu. Saat sibuk dengan kunyahan ke enam ada seorang pria tua melintas.

Umurnya sekitar enam puluhan. Wajahnya tampak kusam dengan rambut putih di kepala dan dagunya. Saat itu ia mengenakan kemeja biru dengan membawa tumpukan koran di dalam ransel selempangan. Mungkin penjual Koran, batinku. Tapi kenapa malam-malam begini.

Aku tegur bapak itu. Kebetulan ada kentang yang belum kumakan. Selagi hangat kutawari bapak itu. Semula ia menolak. Setelah aku berkeras, ia menerima dengan gurat senyum yang mengembang dari wajahnya. Ia menepuk pundakku tiga kali dan mengucapkan rasa terimakasih berulang-ulang.

Kentang itu mulai habis. Sang Bapak mulai bercerita pengalamannya. Semuanya adalah perjalanan pedih dan penuh luka. Aku tidak menyangka ada cerita seperti itu. Maklum, aku adalah seorang pejabat pada sebuah instansi pemerintah. Gajiku cukup untuk menghidupi anak, istri dan  investasi saham di perusahaan syariah. Tidak pernah terpikir olehku untuk hidup susah. Semua sudah tersedia dengan mudah.

Hari makin malam, bapak itu terus bercerita. Tentang istri yang meninggalkannya karena kemiskinan. Tentang teman kantornya yang menipunya ratusan juta rupiah. Tentang rumahnya yang disita pengadilan negeri. Tentang penyakitnya yang sebentar lagi merengut satu-satunya harta: jiwanya.

Aku merasa iba namun tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa berkata iya dan menganggukan kepala. Sesekali aku harus membetulkan letak kacamata. Air yang menggenang pada mata membuat posisinya selalu tidak mengenakan. Dalam hati aku bersyukur, sangat bersyukur, bahwa hidupku jauh lebih beruntung. Aku tidak mau melupakan momen ini. Aku harus banyak berbagi dan berbicara dengan orang yang kurang beruntung.

Bapak itu pun akhirnya pergi meninggalkanku. Saat itu sudah pukul sebelas malam. Jalanan sudah sepi. Dan hanya ada Aku di taman. Aku memejamkan mata. Menghirup udara dalam-dalam dan lekas melihat lekat ke udara, “Engkau! Ah, disana rupanya selama ini..”

Ferry Fadillah. Kuta, Maret 2017.

Advertisements

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: