Lelaki yang Mencela Hujan

Malaikat-malaikat turun dari langit. Jubah mereka putih bersih menutupi kepala hingga mata kaki. Sayap-sayapnya terbentuk dari bulu surgawi bercahaya yang sangat menyilaukan. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat mereka. Sebelum hujan. Mereka berkumpul di langit bumi. Berembuk beberapa saat kemudian berpencar ke empat penjuru mata angin.

Malaikat dengan jumlah sayap ganjil bertugas mengumpulkan uap air dan membentuknya menjadi awan kelabu.

Malaikat dengan jumlah sayah genap dengan peralatan surgawi yang tidak dimiliki manusia mulai memasang listrik ke dalam awan itu.

Malaikat lainnya beredar di permukaan bumi. Melihat manusia. Mencatat setiap ucapan  dan melaporkannya ke atasan mereka.

Di sebuah kluster mewah perumahan di kaki bukit seorang bapak dengan pakaian necis mengumpat, “Anijng, anjing, anjing, hujan mulu sih ah!”

Malaikat yang kebetulan lewat sana mendengarnya dan merubah warna sayapnya menjadi hitam, kelam, sangat gelap. Bergegas ia menulis dalam buku catatan dari kulit buraq itu dan kembali kepada atasannya di langit.

Esoknya, bapak itu hilang dari peredaran ruang dan waktu. Kantor berita heboh melaporkan: banjir bandang dengan material berat menyapu sebuah kluster mewah perumahan di kaki bukit sebuah kota.

Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: