Bali

Bukan kali pertama aku mengunjungi Bali. Selama kurang lebih lima tahun aku bertugas di Bali. Selama itu juga aku melakukan kunjungan wisata ke beberapa tempat. Selama itu juga kekaguman selalu berkelibatan di hati melaui mata dan penciuman.

Akhir Agustus 2016 merupakan kunjunganku yang pertama setelah dua tahun belajar di Bintaro. Pukul 00.15 dini hari aku mendarat di Bandara Ngurah Rai. Perjalanan tidak semulus perkiraan. Entah akibat angin atau awan dengan masa jenis tertentu, pesawat berguncang selama satu jam lebih empat puluh lima menit. Alhamdulillah, jiwa dan raga masih bisa mencium udara pedupaan di pelataran bandara.

Aku tidak akan menceritakan detil perjalanan selama satu minggu. Untuk apa? Aku bukan siapa-siapa, hanya satu orang dari milyaran orang yang pernah mengunjungi Bali. Aku bukan apa-apa.

Bali selalu mengesankan. Pulau ini adalah perpaduan yang indah antara cipta budaya dan karya alam. Masyaraktnya bisa menerima perbedaan budaya dan agama. Pemeluk Hindu dan Islam dapat hidup perdampingan. Bahkan mengalami akulturasi pada aspek-aspek tertentu.

Banyak tempat wisata alam yang terawat dengan baik. Masyarakat Bali berhasil menggabungkan kearifan lokal, agama, tradisi dengan upaya pelestarian lingkungan. Gunung, sawah, laut, pantai, danau dan mata air adalah keseluruhan ciptaanNya yang harus dirawat dan diruwat. Konsep ini terangkum dalam termonologi Tri Hita Kirana.

Setiap liuk yang tergambar dalam peta Bali adalah keindahan ciptaan-Nya. Setiap tebing dan laut tanpa tepi, setiap matahari teggelam di uluwatu, setiap deburan ombak di nusa dua, setiap denting gamelan di puri ubud dan setiap mata air yang disucikan adalah gurat-gurat penciptaan yang begitu indah. Dia berbicara melalui ciptaanNya.

Sayangnya, ada sebagian orang dengan agama ekonomi berusaha untuk mengancurkan pemandangan itu. Apakah masih ada keindahan yang dapat terwujud dalam kredo dengan pengorbanan sekecil mungkin demi keuntungan sebesar mungkin? Agama ini mewujudkan tepian pantai yang dikuasai resort-resort privat, jalan-jalan macet yang menutup persawahan, pelecehan seksual, pergeseran moralitas, pencemaran laut, pengeringan air tanah dan perlawanan reklamasi.

Apakah turis-turis ke Bali datang untuk menyaksikan kemegahan bangunan manusia atau anugerah indah berupa alam yang tak tersentuh? Pertanyaan itu kiranya patut direnungkan bagi siapa pun yang mencintai Bali. Karena aku hanya melihat Tuhan dalam gurat alam yang tak tersentuh manusia.

Ferry Fadillah. 3 September 2016.

  1. #1 by Rissaid on September 7, 2016 - 16:24

    Bali, rindu🙂

  2. #2 by Fad Arbian on September 17, 2016 - 12:31

    Bukannya buatan manusia juga salah satu campur tangan Tuhan? Masing-masing punya keindahannya. Semisal borobudur, buatan manusia atau tuhan?

    • #3 by Ferry Fadillah on October 10, 2016 - 13:44

      Nanti jatuhnya ke perdebatan: apa yang harus dipenuhi agar sesuatu dikatakan indah? hehe.. Borobudur dan jenis kesenian lain di abad pertengahan itu engga pakai logika kapitalisme. Seni bekerja sebagai sebuah mimesis. Peniruan atas kodrat alam. Makanya relief, stupa dsb dari corak borobudur itu meniru alam nyata dan alam relijius. Nah keindahan itu muncul saat seni bisa mengingatkan penikmatnya akan indahnya alam nyata dan hadirnya eksistensi besar alam adikodrati.

      Coba bayangkan dengan resort-resort dan budaya praktis yang menjamur di Bali. Mereka menciptakan seni untuk apa? Untuk akumulasi kapital. Maka tidak ada itu kedalaman d an refleksi estetika. Semua diciptakan dengan kedangkalan dan permukaan. Semakin dangkal semakin mudah di produksi. Semakin mudah di produksi semakin mudah diecerkan. Dari logika seperti itu seni berubah menjadi perkara kelamin dan perut belaka,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: