Refleksi Masa Kecil Melalui Kisah Le Petit Prince (1943)

“But tell me, my brothers, what the child can do, which even the lion

could not do? Why must the predatory lion still become a child?

Innocence is the child, and forgeting, a new beginning, a game, a selfpropelling

wheel, a first movement, a sacred Yes”

Friedrich Nitzche

 

Setiap orang dewasa di dunia ini pasti pernah mengalami menjadi seorang anak. Momen dimana diri begitu polos, lugu, dan bersih. Segala sesuatu sangat rentan dan tergantung oleh ulur tangan manusia. Meminjam istilah Sigmund Freud, anak-anak  memiliki dorongan Id begitu besar sehingga setiap benda dan momen dianggap sebagai kesenangan semata.

Jika kita lupa telah menjadi seorang anak karena kepelikan hidup, ada baiknya mengamati anak-anak disekitar lapangan atau sekolah dasar. Lihat! Mereka bermain dengan riang tanpa ada kekhawatiran di wajah. Mereka, terutama yang balita, berkawan dengan siapa saja; melihat lawan jenis terkadang langsung menciumnya tanpa permisi; melihat yang sejenis langsung mereka bersapaan dan menjadi teman. Di dunia dewasa tidak ada lagi hal itu. Wajah-wajah manusia dewasa selalu diliputi kekhawatiran. Entah itu cicilan rumah, uang muka gedung pernikahan, kontrakan atau kemacetan yang membunuh waktu. Di dalam bercinta dan berteman pun manusia jarang menjadi tulus. Mereka memikirkan prestise dibandingkan isi, permukaan dibandingkan kedalaman. Maka betebaranlah munafik-munafik di dunia orang dewasa.

Antoine de Saint-Exupéry melalui dongeng sederhananya berjudul “Le Petit Prince” kiranya bisa mengembalikan ingatan masa kecil orang-orang dewasa. Buku tipis dengan kalimat dan ilustrasi yang sederhana ini bisa dibilang kritik halus terhadap dunia orang dewasa. Dalam pembukanya Exupéry menekankan bahwa sasaran buku ini adakah anak-anak yang kemudian menjadi dewasa karena orang dewasa memahami segalanya termasuk buku untuk anak-anak.

Kisah dalam buku ini menggunakan kata ganti orang pertama. Seperti memoar; sebuah pengalaman pribadi penulis yang diberi bumbu fiksi. Pembukaan buku ini menarik karena menggambarkan keegoisan orang dewasa yang selalu menganggap bodoh imajinasi seorang anak berusia enam tahun:

Gambarku tidak melukiskan topi, tetapi ular sanca yang sedang mencernakan gajah. Maka aku menggambar bagian dalam ular sanca itu, supaya orang dewasa dapat mengerti. Mereka selalu membutuhkan penjelasan. Gambarku nomor dua seperti ini:

elephant.png

Orang dewasa memberi aku nasihat agar aku mengesampingkan gambar ular sanca terbuka atau tertutup, dan lebih banyak memperhatikan ilmu bumi, sejarah ilmu hitung dan tata bahasa. Demikianlah pada umur enam tahun aku meninggalkan sebuah karir cemerlang sebagai pelukis

Bukankah paragraf di atas sangat dimaksudkan menyindir kita sebagai orang dewasa –terutama yang sudah memiliki anak. Sering anak-anak bermain di tanah lapang berkubang di dalam lumpur dan orang tua melarangnya. Atau bermain dengan pensil warna mencoret tembok dan orang tua membetaknya. Atau bermain dengan anak tetangga yang karena terlihat kumal orang tua melarangnya. Orang tua komtemporer lebih memilih anaknya bermain gadget di rumah dan bisa mengawasinya sepanjang waktu. Padahal larangan-larangan itu hanya akan menghambat pencarian bakat anak-anak. Maka terjadilah yang harus terjadi: para remaja lulusan SMA yang gamang akan melanjutkan kuliah di jurusan apa.

Selanjutnya, tokoh “Aku” menceritakan pengalamannya terdampar di Gurun Sahara yang sunyi dan bertemu dengan sosok Pangeran Kecil. Kekaguman tokoh utama bertambah karena Pangeran Kecil memahami apa yang dia gambar dan selalu mempertanyakan hal-hal aneh. Baru kemudian ia sadar  bahwa Pangeran Kecil bukan berasal dari bumi. Bagian menarik dari pertemuan ini adalah percakapan mengenai kepercayaan:

Aku menceritakan semua detail mengenai Asteroid B 612 (tempat Pangeran Kecil tinggal) ini sampai menyebut nomornya, gara-gara orang-orang dewasa. Orang dewasa menyukai angka-angka…

Maka jika kalian berkata pada mereka, “Buktinya Pangeran Kecil itu ada, ialah ia sangat rupawan, ia tertawa dan ia menginginkan seekor domba. Bila seseorang menghendaki domba , itu buktinya ia ada”,  mereka akan mengangkat bahu dan mengatakan kalian hanya anak-anak. Tapi jika kalian berkata, “Planet asalnya adalah Asteroid B 612”,  baru mereka akan merasa yakin dan tidak akan melelahkan kalian dengan pertanyaan lain.

Mungkin tokoh aku salah, zaman sekarang orang dewasa tidak cukup dengan angka-angka untuk percaya, mereka pasti menanyakan gambar, video atau bukti-bukti lain yang menguatkan keyakinan. Paragraf di atas mirip dengan perdebatan antara Plato yang idealis dan Aristoteles yang materialis. Penulis mungkin berusaha untuk menyerang materialisme yang menjadi kiblat zaman itu. Kepercayaan tidak harus dimulai dari keberadaan benda-benda yang dapat dicerap oleh indra, cukup dengan adanya kehendak maka sesuatu itu ada. Hal ini diperkuat oleh percakapan Pangeran Kecil dengan Sang Rubah saat ia telah menjinakannya dan bermaksud untuk meninggalkannya:

“Selamat jalan,” kata rubah. “Inilah rahasiaku. Sangat sederhana: hanya dengan hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata.”

Kritik selanjutnya tergambar dalam perjalanan Pangeran Kecil ketika meninggalkan planetnya dan mengitari planet-planet di sekitarnya. Planet pertama dihuni oleh seorang Raja yang merasa memiliki keuasaan tanpa ada seorang rakyat yang dapat diperintahnya. Planet kedua ia bertemu dengan seorang sombong yang sangat senang dikagumi ketampanan dan kekakayaannya. Planet ketiga dihuni seorang pemabuk yang memiliki alasan tidak rasional atas perbuatannya. Planet keempat dihuni seorang pengusaha sibuk dan serius yang menghitung semua bintang yang dimilikinya. Planet kelima dihuni seorang penyulut lentera yang terlalu patuh kepada aturan sehingga merepotkan dirinya sendiri. Planet keenam dihuni seorang ahli bumi yang hanya mendengar pengetahuan dari para penjelajah tanpa mau mengobservasi langsung objek penelitiannya. Semua perjalanan ke planet itu, apabila dibaca secara saksama adalah kritik penulis terhadap kekuasaan, kesombongan, amoralitas, kapitalisme, birokrat dan para cendikiawan yang berkubang di menara gading.

Inti cerita dongeng ini adalah kisah cinta Pangeran Kecil dengan mawar di planet asalnya. Mawar di sini bukan nama samaran korban perkosaan tapi wujud bunga berwarna merah dengan duri di sekujur batangnya. Pangeran Kecil begitu mencintai mawar, merawat dan menjaganya. Tapi mawar begitu angkuh dan tidak berterimakasih atas semua kebaikan Pangeran Kecil. Maka mengembaralah Pangeran Kecil sampai ke bumi dan mendapati ada banyak mawar di sana. Ia kecewa ternyata mawar yang ia cintai tidaklah unik, satu-satunya di semesta, tapi mawar biasa seperti mawar-mawar lain di bumi. Tapi persepsinya berubah setelah Pangeran Kecil bertemu rubah dan memahami arti dari sebuah penjinakan:

“Aku mencari teman. Apa artinya jinak?

“Buatku, kamu masih seorang bocah saja, yang sama dengan seratus ribu bocah lain. Dan aku tidak membutuhkan kamu. Kamu juga tidak membutuhkan aku. Buat kamu, aku hanya seekor rubah yang sama dengan seratus ribu rubah lain. Tetapi kalau kamu menjinakan aku, kita akan saling membutuhkan. Kamu akan menjadi satu-satunya bagiku di dunia. Aku akan menjadi satu-satunya bagimu di dunia…”

“Aku paham”, kata Pangeran Kecil.

Setelah pencerahan itu pangeran kecil memiliki persepsi lain kepada mawar yang ditinggalnya. Baginya mawarnya adalah yang paling special, ia tidak tergantikan dan perasaan untuk bertemu sang mawar kembali menguat.

Bukankah ini sebuah pesan cinta yang begitu halus namun mengena? Berapa banyak kasus perceraian dan perselingkuhan akibat pasangan merasa bosan, jenuh, muak dengan omelan istri, gaji kecil suami dan lain sebagainya. Manusia dewasa sudah tidak lagi bisa memahami cinta menggunakan hatinya tapi berupaya menggunakan akalnya dengan logika untung-rugi yang begitu dangkal. Kiranya sebagai penutup perlu kita menyimak pesan terakhir Sang Rubah kepada Pangeran Kecil:

“Manusia telah melupakan kenyataan ini,” kata rubah.

“Tetapi kamu tidak boleh melupakannya. Kamu menjadi bertanggung jawab untuk selama-lamanya atas siapa yang telah kamu jinakan. Kamu bertanggung jawab atas mawarmu…”

 baobao

Referensi:

Exupéry, Antoine. 1943. Le Petit Prince. Terjemahan H. Chambert-Loir. 2016. Pangeran Cilik. Cetakan Kelima. Gramedia Pustaka Jaya: Jakarta.

Sumber gambar:

The Little Prince terjemahan Bahasa Inggris oleh Katherine Woods.

 

Ferry Fadillah. Juni, 2016.

 

 

 

 

, , , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: